Pagi yang dingin membuat Qania mengurungkan niatnya untuk keluar kamar dan mandi. Matanya masih bengkak dan napasnya masih terasa sesak, hatinya hancur dan perasaannya begitu perih.
“Ternyata ini bukan mimpi” desah Qania.
Qania memberanikan dan menguatkan dirinya untuk bangkit dari tempat tidur dengan sebuah senyuman.
“Ayolah Qania, kamu gadis kuat, mahasiswi teknik lagi. Malu dong kalau lemah dan nggak bisa move on. Semangat Qania” ungkapnya mencoba menyemangati dirinya sendiri.
Qania memutuskan untuk mandi, namun ketika ia melangkah menuju kamar mandi ia tak sengaja melirik photonya bersama Fandy. Ia melemparkan sebuah senyuman manis pada photo itu. Kemudian ia melangkah masuk kedalam kamar mandinya.
“Qan, kamu dimana? Lagi mandi ya?” teriak Elin, sahabatnya dan tetangganya yang sudah berada di dalam kamar Qania. “Nggak jawab lagi” kata Elin yang melangkah ke arah kamar mandi. “Ohh lagi mandi rupanya” kata Elin yang kembali berjalan dan duduk diatas tempat tidur Qania sambil mengutak-atik handphonenya.
Tak lama kemudian Qania keluar dari dalam kamar mandi dan terkejut melihat Elin yang sedang duduk di atas tempat tidurnya.
“Loh, Elin. Sudah lama ya disini? Kok nggak bilang-bilang sih mau kemari” kata Qania sambil tersenyum.
“Bosan dirumah. Kalau sama kamu aku nggak pernah bosan. Abis kamu orangnya nyenengin banget haha” jawab Elin. “Kamu ganti pakaian dulu” serga Elin.
“Oke. Jangan ngintip” ledek Qania.
“Ya ampun Qania, punya kita sama kali” kata Elin yang membalikkan badan. “Udah belum?” tanya Elin yang mulai tak nyaman.
“Udah sayong” kata Qania sambil menyisir rambutnya.
“Qan, aku lihat ada yang aneh deh” kata Elin yang melihat Qania dari cermin.
“Apa yang aneh Lin?” tanya Qania sedikit penasaran.
“Mata kamu kenapa bengkak banget Qan?” tanya Elin sambil terus menatap ke arah cermin.
Qania berhenti menyisir rambutnya dan menatap Elin dari cermin. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia berdiri dan duduk di samping Elin.
“Semalam aku putus sama Fandy” cerita Qania yang menahan air mata.
“What, putus?” Elin terkejut dan menatap Qania dengan rasa tak percaya.
“Iyah Lin, putus” jawab Qania.
“Tapi kemarin kan kamu ulang tahun Qania” bahtah Elin.
“Dan tanpa ucapan dari Fandy, yang ada malah kita harus putus tanpa pikir hari itu aku sedang bahagia” tukas Qania masih menahan air matanya.
“Kok bisa Qan? Kamu cerita deh sama aku” pinta Elin.
“Semalam ada cewek nama Adel inbox aku di facebook, katanya Fandy nggak setia, dia pacar Fandy juga katanya. Nih kamu baca saja sendiri” kata Qania sambil menyerahkan handphonenya pada Elin.
Elin membaca semuanya dan diam tanpa kata. “Terus kamu percaya sama inbox ini?” tanya Elin sambil menyerahkan handphone Qania.
“Iyah aku percaya” jawabnya datar.
“Bisa saja dia ngarang Qan” pikir Elin.
“Lin, itu nomor handphone Fandy, masa ia dia ngarang kaya gitu. Sudahlah aku mau move on nih. Tolong nggak usah bahas dia yah Lin” pinta Qania dengan nada rendah.
“Sabar ya Qan. Aku pasti bantu kamu move on, dan kamu nggak usah ingat-ingat dia lagi. Kamu manis, cerdas dan menarik, pasti kamu bakalan dapat yang lebih baik dari Fandy” kata Elin menyemangati Qania.
“Aamiin. Makasih yah Lin” kata Qania yang mulai tersenyum lagi.
“Iyah sama-sama” kata Elin yang bangkit dan berjalan mengambil photo Qania dan Fandy.
“Qan, kamu izinin aku kan buat sobek-sobek photo ini?” tanya Elin.
“Silahkan” jawab Qania.
Elin dengan semangat merusak photo itu. Setelah photo itu masuk kedalam tempat sampah di kamar Qania, Elin langsung membuka akun facebook Qania dari laptop Qania.
“Kamu mau ngapain Lin?” tanya Qania mendekati Elin yang duduk di tempat Qania belajar.
“Mau hapus semua photo kamu dengan Fandy di facebook Qan” jawab Elin.
“Ihh jangan dong” larang Qania yang meraih laptopnya.
“Aku mau kamu move on Qan, aku nggak mau kamu nantinya flashback lewat photo-photo ini” tukas Elin.
“Biar aku saja yang hapus” pinta Qania.
“Yaa sudah lakuin aja sekarang Qan”
Qania mulai membuka album facebooknya bersama Fandy. Ada banyak photo mereka yang membuat Qania teringat kembali masa-masa bersama Fandy.
“Udah, tunggu apalagi Qan, delete aja” serga Elin.
“Kayanya nggak usah di delete deh Lin, ini kenang-kenangan aku sama Fandy. Kalau suatu saat aku kangen dia banget dan aku pengen lihat dia, gimana? Kan kalau photo ini ada aku bisa lihat disini” pinta Qania mulai meneteskan air matanya membuat Elin menjadi tak tega. “aku masih sayang banget sama Fandy. Aku tahu aku hancur banget karena ulah Fandy ngeduain aku. Aku udah ngertiin dia, aku rubah sikapku seperti yang dia mau, tapi tetap saja aku nggak bisa nahan dia. Namun, kamu harus tetap ingat Lin, aku punya kenangan indah waktu bareng dia, aku pengen nyimpan kenangan itu yang suatu saat nanti kalau aku betul-betul rindu sama Fandy, aku bisa lihat photo-photo ini. Jadi please Lin, untuk yang kali ini nggak perlu. Ini masalah hatiku Lin, maaf” pinta Qania yang sudah mulai tak kuasa membendung air matanya.
“Sorry Qan, aku nggak maksud buat kamu nangis. Maaf banget, aku hanya coba agar kamu bisa benar-benar lupain Fandy. Aku pikir dengan menghilangkan semua yang berhubungan sama Fandy, kamu bisa fokus dan lebih mudah buat ngelupain dia” tukas Elin yang matanya mulai berkaca-kaca.
“Iyah Lin, aku ngerti maksud kamu. Tapi aku mohon ya, untuk yang ini jangan di hilangkan. Aku masih ingin melihat masa laluku bersama Fandy lewat photo-photo ini” sambung Qania.
“Iyah Qan, aku nggak bakalan maksa kamu kok buat hapus ini, aku ngerti kamu” jawab Elin.
Qania mulai menghapus air matanya dan berusaha melemparkan senyum, karena seperti itulah dia. Di saat sesedih apapun dan bagaimanapun sakit yang ia rasakan, mottonya tetap memberikan senyum setidaknya untuk membuatnya semangat dan tetap ceria.
“Sudah, kita keluar yuk. Kita masak atau nonton bareng diluar” ajak Elin sambil merangkul Qania.
Qania menatap Elin sangat dalam dan Elin seolah mengerti bahwa sang sahabat membutuhkan dirinya saat ini. Sorotan matanya memperjelas kerapuhan dan kepedihannya saat ini. Sembari tersenyum, Qania berdiri bersama Elin dan berjalan beriringan keluar.
“Qan, Fadly tahu kamu sama Fandy putus?” tanya Elin saat mereka asyik menonton FTV pagi.
“Kayanya tahu, mereka kan saudara kembar” jawab Qania datar dan pandangannya masih tetuju ke layar tv.
“Kalau begitu aku smsin Fadly dulu yah, aku mau tanya sama dia” sambung Elin.
“Terserah kamu Lin” sahut Qania datar.
Elin langsung mengirimkan sms kepada Fadly yang isinya menanyakan apakah Fadly tahu bahwa Qania dan Fandy telah putus hubungan. Tak berapa lama, handphone Qania berdering. Sebuah panggilan masuk yang membuat Qania sedikit bingung, namun segera menjawab panggilan itu.
“Loe putus sama Fandy, Qan?” tanya Fadly tanpa basa-basi.
“Iyah kak Ly” jawab Qania datar dan menatap ke arah Elin.
“Kapan? Kok bisa, gue pikir loe berdua aman-aman aja” serga Fadly tak percaya.
“Semalam kak Ly” jawab Qania singkat.
“Kok gue nggak tahu ya, padahal semalam gue kira dia bareng loe, kan loenya ulang tahun kemarin” sambung Fadly.
“Mungkin Fandy belum cerita soal itu sama kak Ly” sambung Qania.
“Iya sih, gue masih di rumah Rizky nih, belum pulang ke rumah. Tapi gue masih nggak nyangka, pasangan alay tingkat provinsi kok putus” kata Fadly sambil garuk-garuk kepala.
“Mungkin kita nggak ditakdirkan untuk sama-sama alias belum jodoh, hahaha” kata Qania diiringi tawa.
“Hmm, pasti ada sesuatunya nih, tapi sabar ya Qan” cetus Fadly.
“Aku nggak tahu kak Ly. Sebaiknya kak Ly tanya sajalah sama saudara kembar kakak itu, kalian kan selalu barengan dan pasti bisa saling terbuka. Kan Upin Ipin, hehehe”
“Loe nih ya, lagi berusaha nutupin kegalauan loe yang sebenarnya kentara banget. Tapi gue salut sama loe, tetap semangat walaupun udah sakit banget ya, pasti sakit dong, hahaha” ledek Fadly namun berniat membuat Qania tertawa.
“Hahah, sakit bangeeeet. Sakitnya tuh disini disini disini, hahaha” kata Qania yang mulai merasa semangat.
“Hahaha, kasian banget sih loe, hahaha. Sabar Qan” ujar Fadly yang mulai menghentikan lelucon mereka.
“Iyah kak Ly. Aku selalu sabar dan makasih untuk ledekannya tadi, aku jadi terhibur” jawab Qania dengan nada bicara yang seperti biasanya, datar.
“Iya, jangan masukin dihati yaa Qan, gue Cuma bercanda biar loe nggak galau” sambung Fadly.
“Iya kak Ly, aku tahu aku tahu, aku kan genius, hahaha” tawa Qania kini memang lepas tanpa dibuat-buat.
“Heh, lama-lama gue bicara sama loe, gue bisa gila. Sudah dulu ya Qan, gue mau lanjut smsan sama my honey Elin, salam sama dia ya.” Kata Fadly yang sedikit menggeleng-gelengkan kepala. “Eh Jery sama Rizky pengen ketemu sama loe nanti kalau loenya ada waktu” sambung Fadly.
“Oh iya kak Ly, nanti aku sms ya kalau aku punya kesempatan, salam aja sama mereka” sahut Qania.
“Iyah Qania Salsabila Einstein, hahaha” jawab Fadly.
“Ibih, itu nama facebook aku” sambung Qania sedikit membesarkan suara.
“Emang, sudah dulu ya Qan, jangan lupa salam gue sama Elin” kata Fadly.
“Iya. Lin salamnya kak Fadly nih” teriak Qania, karena Elin sedang mengambil air minum di dapur.
“Emang Elin disitu?” tanya Fadly cengengesan.
“Iya kak Ly” jawab Qania manja.
“Loe kenapa nggak bilang dari tadi sih Qania Salsabila Einstein” tandas Fadly.
“Ih, kak Ly nggak tanya” serga Qania.
“Oh iya juga sih. Ya sudah bye” kata Fadly sedikit menahan tawa.
“Bye” balas Qania kemudia mematikan teleponnya.
“Fadly?” tanya Elin yang kembali duduk menonton.
“Iya, salam buat kamu katanya” jawab Qania.
“Haha, hmm” tawa hambar keluar dari mulut Elin.
“Kamu kenapa Lin?” tanya Qania keheranan.
“Bagaimana aku bisa sama Fadly sementara kamu udah nggak sama Fandy Qan?” tutur Elin.
“Elin, aku sama Fandy nggak ada hubungannya sama kamu dan Fadly. Kamu harus tetap jalani hubungan kalian, jangan karena aku hubungan kalian juga ikut-ikutan padam. Jangan ya Lin” pinta Qania sambil menatap Elin dengan penuh pengharapan.
Sambil tersenyum, Elin mengangguk pelan yang membuat hati Qania lega.
“oh iya, aku pulang dulu ya Qan, udah mau magrib nih” kata Elin sambil melirik jam tangannya.
“Yaa, hmm iya deh” kata Qania.
Sambil terus membalas sms dari Fadly, Elin berjalan keluar dari rumah Qania.
“Galau lagi nih kalau sepi gini” tukas Qania ketika menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidurnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 365 Episodes
Comments
Chika£Hiats
next, semangat Thor 💪
2021-12-28
1
Nyai💔
semngt
2021-12-20
1
❣️Lyla❣️
lanjut
2021-11-14
1