Hallo semuanya,, di episode ini sampai episode Terungkap itu masih satu bagian ya.
Flash back awal itu berakhirnya bersamaan dengan selesainya episode Terungkap yaa.
Selamat membacaa 😊😊😊
---------------
Qania berjalan mendekati mereka dengan rasa penasarannya, bagaimana bisa ia mendapati Arkana tengah asyik mengobrol dengan kedua orang tuanya. Qania mendudukkan dirinya disebelah papanya yang berhadapan dengan Arkana, tatapannya seolah memberitahukan bahwa ia ingin mendapat penjelasan tentang apa yang mereka lakukan sedari tadi hingga terlihat akrab.
“Jadi, apa yang membawamu kemari Arkana?” Tanya Qania to the point yang membuat semua mata disana tertuju padanya.
“Huss, kurang sopan bertanya pada tamu seperti itu sayang” tegur papanya.
“Maaf pa, habisnya Qania kaget saja kenapa dia ada disini. Ngobrol sama mama papa pula” kata Qania.
“Biar kalian berdua saja yang menyelesaikan urusan kalian. Sebaiknya kita ke kamar saja pa” kata mama Qania dengan senyuman ramahnya.
“Iya ma. Kalau ada sesuatu tinggal panggil mama sama papa saja” sambung papanya.
“Iya pa” jawab Qania dan Arkana hanya tersenyum mengangguk tanda setuju.
Setelah kedua orang tua Qania masuk ke dalam kamar mereka, Arkana beranjak duduk di samping Qania sambil menggenggam tangan Qania dan sontak sang empunya terkejut dan sensasi itu datang lagi.
“Dingin ya, pasti degdegan nih sekarang” bisik Arkana di dekat telinga Qania dengan maksud menggoda, yang membuat Qania menarik paksa tangannya. Arkana tertawa melihat ekspresi kesal Qania,.
“Dasar kamu ya suka senaknya, kemarin cium dahi aku sekarang pegang tangan aku juga. Aku aduin kamu sama papa aku” kesal Qania karena Arkana memang tahu Qania akan merasakan degdegan serta tangannya akan terasa dingin saat jaraknya dekat dengan Arkana.
“Maaf Qania, maafin aku” lirih Arkana.
Qania terdiam dengan perasaan bingung, kenapa tiba-tiba saja Arkana meminta maaf dengan nada penyesalan yang begitu tulus. Ia ingin membiarkan Arkana melanjutkan kata-katanya.
“Maafin aku Qania untuk kesalahan yang membuat kamu meninggalkan aku waktu itu. Kesalahan yang tidak ku sengaja sungguh aku sama sekali tidak tahu waktu itu Renata mengambil ponselku dan mengatakan yang tidak-tidak kepadamu, maafkan aku Qania, maafkan aku” ungkap Arkana dengan suara parau menahan tangis. Ia menundukkan kepalanya, tangannya meremas celananya.
“Renata itu siapa?” Tanya Qania hati-hati.
“Renata itu salah satu anggota di timku balapan motor. Jadi waktu aku keluar kota saat itu dia juga turut serta. Aku awalnya tidak tahu apa-apa soal dia yang menjawab telepon darimu dan mengatakan yang bukan-bukan terhadapmu, aku baru tahu setelah aku sampai di rumah dan itu pun Rizal yang memberitahukanku karena di mendengar Renata berbicara padamu waktu itu” ungkap Arkana sambil mengingat kembali kejadian waktu itu
Flashback on……………..
Arkana tengah duduk bersandar di atas tempat tidurnya di sebuah hotel berbintang di kota P. Ia tertawa sambil memandang handphonenya yang selalu bergetar karena sms dari Qania yang tiap menit dikirimnya. Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk.
“Ka, boleh aku masuk?” suara wanita dari luar.
“Silahkan, nggak gue kunci kok” teriak Arkana masih tak begeming.
Pintunya terbuka menampilkan sosok wanita dengan postur bak model, kulitnya putih mulus, rambut panjangnya terurai mencapai pinggangnya. Pakaian mini yang dikenakannya membuatnya terlihat sangat seksi, cantik adalah kata yang mewakili untuk wanita yang bernama Renata itu. Namun Arkana tidak melihat itu semua, baginya cantik hanya untuk Qania Salsabila.
“Loe sudah beres-beres Ka?” Tanya Renata saat mendudukkan dirinya di atas tempat tidur Arkana.
“Iya sudah” jawab Arkana singkat.
“Oh gue kira belum, gue mau bantuin soalnya. Loe pasti capek banget” lanjutnya.
Arkana tidak mengatakan apa-apa, karena ia hanya focus pada pesan-pesan yang masuk dari Qania. Ia tersenyum manis dan tentu saja membuat wanita di sebelahnya merasa kesal.
“Oh iya Ka, boleh gue pinjam hp loe?” pintanya. “Hp gue lagi di charg, gue mau minta tolong Rizal buat beliin sesuatu. Dia lagi di luar soalnya” lanjutnya.
Arkana menoleh kearah Renata, ia sangat berat untuk memberikan ponselnya karena ia sedang asyik dengan pesan masuk dari kekasihnya itu. Namun ia juga tidak tega dan tidak ingin disangka pelit.
“Baiklah, gue juga mau mandi” kata Arkana sambil menyodorkan ponselnya.
“Makasih Ka, gue keluar dulu ya. Loe mandi aja, ini sudah malam loh” kata Renata seraya berjalan ke arah pintu kamar Arkana. Ia tersenyum semanis mungkin sebelum menutup pintu kamar Arkana.
Setelah kepergian Renata, Arkana bergegas mengambil handuk yang tergantung di dekat tempat tidurnya dan berjalan kearah kamar mandi. Sedangkan Renata yang sudah duduk di dalam kamarnya segera memeriksa pesan masuk di ponsel Arkana. Ia tidak berniat menghubungi Rizal, karena rasa penasarannya ia berbohong demi mendapatkan pnsel Arkana. Ia sangat kesal mendapati pesan masuk yang begitu banyak dari Qania. Disana tertulis nama pengirim “Malaikat tak bersayap”, hal itu membuat rasa kesal dan cemburu yang berlebihan menguasai Renata. Ia segera menelepon Qania.
“Eh loe ini siapa sih, gue muak tau nggak dari tadi hp cowok gue bunyi cuma loe doang yang ngirim sms. Asal loe tahu loe ngeganggu banget, dasar cewek genit, loe mau apa dari pacar gue hah? Awas aja loe ya kalau masih gangguin pacar gue, hidup loe nggak akan tenang” maki Renata kemudian langsung mengakhiri panggilan tersebut dengan rasa puas dan tersenyum licik. Ia langsung menghapus daftar panggilan tersebut agar Arkana tidak curiga kepadanya.
Setelah ia rasa cukup, kemudian ia pergi untuk mengembalikan ponsel Arkana. Disana ada teman-teman Arkana kecuali Rizal, mereka tengah asyik makan malam. Fero mengajak Renata untuk turut serta, namun ia menolak dengan alasan sudah kenyang. Kemudian Renata meninggalkan kamar Arkana dan langsung menuju kamarnya.
Sesuai kesepakatan mereka akan pulang tepat jam tujuh pagi, semuanya sudah bersiap di parkiran khusus sepeda motor . setelah check out dari hotel tersebut Arkana berhenti sejenak di lobi. Ia mengirimkan pesan kepada Qania.
“Aku udah mau berangkat, doain ya selamat sampai disana” isi pesan Arkana.
“Kita putus, jangan pernah hubungi aku lagi, jangan balas sms ini dan anggap saja kita tidak saling kenal” balasan pesan dari Qania.
Arkana terkejut dan segera menghubingi nomor Qania namun panggilannya tidak bisa terhubung.
“Arghhhhhhh” teriak Arkana sambil membanting ponselnya. Perasaannya kini kacau, tiba-tiba saja diputuskan oleh Qania dan tanpa penjelasan.
Seorang gadis kecil berumur sekitar tujuh tahun yang tengah melintas di sampingnya mengambil ponsel yang sudah hancur tersebut dan memberikannya kepada Arkana.
”Kakak ponselnya jatuh” katanya seraya menyodorkan ponsel tersebut.
Arkana meraihnya dan mengucapkan terima kasih, dan bocah itu pun pergi disusul oleh Rizal yang datang dari arah luar berjalan tergesah-gesah.
“Hei bro lama amat sih. Gue jamuran tahu nungguin elo dari tadi” gerutu Rizal ketika berhenti tepat di depan Arkana, namun ia malah berlalu begitu saja meninggalkan Rizal yang mematung menyaksikan Arkana berjalan dengan sikap dinginnya yang jarang ia tunjukkan.
Rizal berlari mengejar Arkana sampai di parkiran sepeda motor. Ada rasa penasaran menghinggapinya, entah apa yang terjadi hingga sahabatnya itu tiba-tiba saja menjadi sedingin es.
“Loe yang bawa motor ya, gue lagi nggak bisa focus soalnya” kata Arkana seraya menyerahkan kunci motornya.
“Loe kenapa? Lagi ada masalah?” Tanya Rizal sambil meraih kunci motor tersebut.
Namun yang di tanya hanya diam saja membuat Rizal yang berinisiatif menghidupkan motor Arkana dan di ikuti olehnya naik di belakang Rizal. Baru saja Rizal ingin menarik gas motor tersebut, Renata memanggilnya dari belakang sambil berjalan menghampiri mereka, ia baru saja keluar dari dalam hotel.
“Loh kok elo sih Zal yang bawa motor Arkana?” Tanya Renata. “Terus gue sama siapa dong?” lanjutnya.
“Loe bisa sama Fero atau yang lainnya. Kan loe kemari juga sama Fero” sanggah Arkana. “Udah Zal kita lanjut saja” kata Arkana menepuk bahu Rizal dan sontak membuatnya kaget dan langsung menjalankan motor tersebut meninggalkan Renata yang menatap mereka dengan penuh amarah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 365 Episodes
Comments