Qania dan Arkana tengah asyik mengobrol di ruang tamu entah sudah berapa lama mereka saling menceritakan kisah masing-masing. Obrolan tersebut barulah terhenti saat bi Eti mengajak keduanya untuk makan siang.
"Wah sudah jam makan siang ternyata" tutur Qania seraya berdiri dan menarik tangan Arkana. "Ayo Arkana kita makan siang bersama" lanjutnya.
"Iya ya. Saking asyiknya mengobrol sampai lupa waktu. Hmm memangnya boleh aku ikut makan bareng keluarga kamu?" tanya Arkana masih enggan berdiri.
"Ya ampun Arkana apaan sih. Tentu saja boleh, ayooo" kata Qania menyeret Arkana.
Keduanya berjalan menuju ruang makan, disana sudah ada mama dan papa Qania dan juga adik Qania. Mereka yang berada disana langsung melirik ke arah tangan Qania yang menggenggam tangan Arkana.
"Ekhmmm" deheman dari papa Qania membuat keduanya sontak melepaskan genggaman tangannya.
Qania tersipu malu, pipinya merona. Sedangkan Arkana menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena canggung. Sementara papa Qania malah tertawa geli dalam hati.
"Apakah kalian ingin makan atau berdiri saja disana?" tegur papa Qania dan sontak membuat keduanya bergegas duduk. Mama Qania menyikut pelan lengan suaminya karena merasa bahwa suaminya sudah membuat gugup keduanya.
"Ayo nak Arkana makan dan jangan sungkan-sungkan. Anggap saja rumah sendiri tapi jangan dijual ya" gurau papa Qania saat akan menyendokkan nasi ke mulutnya.
Mama Qania yang hendak menyuap nasi ke mulutnya langsung tertawa mendengar ucapan suaminya tersebut. Begitu pun dengan Qania yang terkekeh saat sedang mengambilkan lauk pauk untuk Arkana. Sementara Arkana sendiri hanya tersenyum karena terlalu canggung untuk tertawa di depan orang tua Qania.
"Huss papa ini, lihat tuh calon mantu jadi grogi gitu" tegur mama Qania dengan maksud menggoda keduanya.
Perkataan mama Qania membuat Qania merasa semakin malu. "Huuh mama mah malu-maluin aja. Aku kan jadi canggung" umpat batin Qania.
"Wah calon mantu, berarti udah dapat lampu hijau nih dari orang tua Qania. Asyiiiikk" batin Arkana bersorak.
"Mama juga apaan sih, tuh lihat mereka bukannya makan malah membatin. Ayo makan dulu setelah itu baru dilanjutkan perbincangannya" ucap papa Qania seolah tahu jika keduanya sedang berbicara dalam hati.
Setelahnya suasana menjadi hening, hanya ada suara dentingan alat makan yang terdengar di ruangan itu. Namun masing-masing dari mereka larut dalam pikirannya.
Sementara Arkana yang sebenarnya sangat menikmati makan siang tersebut tetap saja merasa canggung dan bahkan ia menerka-nerka apakah calon ayah mertuanya tersebut bisa membaca pikiran orang sehingga dia tahu bahwa dirinya sedang membatin. Jika benar begitu maka habislah ia seandainya tiba-tiba ia berpikiran aneh-aneh atau lainnya.
"Hihh seram juga kalau begitu" Batin Arkana bergidik ngeri saat memikirkannya.
____________________
Kini semuanya sudah berkumpul di ruang keluarga kecuali Syaquile, meskipun dia sudah duduk di bangku SMA, tapi kesehariannya hanya bersama ponselnya untuk ngegame dan mengurung diri di kamarnya bahkan bisa seharian. Ia juga cuek dengan sekitar, kecuali dengan keluarganya. Bahkan hampir tiap saat di rumah dia dan Qania selalu saja bertengkar, tapi kalau jauh selalu saling mencari. Hal tersebut membuat mama papa mereka kadang pusing memikirkan keduanha.
"Jadi setelah ini apa yang ingin kalian lakukan?" tanya papa Qania sambil menatap ke arah tv yang saat itu sedang menayangkan berita.
Lagi dan lagi papa Qania bertanya to the point, sepertinya dia yang paling antusias dengan kisah cinta anaknya, hihihi.
"Seperti apa yang tadi saya katakan pada om dan tante bahwa saya datang kesini tujuannya ingin memberitahukan bahwa saya menyayangi anak kalian. Dan selain itu saya juga ingin meminta izin kepada om dan tante untuk menyayangi dan mencintai anak kalian, karena izin dari kalian yang akan menentukan nasib hubungan kami kedepannya. Karena percuma saja jika saya dan Qania saling menyayangi dan memiliki hubungan namun tanpa izin dari orang tua" ucap Arkana dengan lancar dan sangat serius, padahal ia sendiri sedang berusaha melawan rasa gugupnya.
Setelah Arkana mengatakan maksudnya tersebut tiba-tiba suasana menjadi hening. Qania yang mendengarnya merasa melambung tinggi ke angkasa sekaligus degdegan menunggu reaksi dari orang tuanya.
"Hei anak muda jujur saja saya sangat salut dengan apa yang tadi kamu ucapkan. Memang benar bahwa restu kedua orang tua adalah hal terpenting dalam menentukan sebuah hubungan. Dan saya akui bahwa kamu sangat berani dalam hal ini. Ada banyak di luar sana hubungan yang terjadi tanpa sepengetahuan orang tua dan berakhir dengan kepahitan bahkan membuat malu orang tua karena kebablasan tanpa kontrol dari orang tua. Banyak yang menyalahkan orang tua padahal justru sang anak lah yang tidak mau terbuka sehingga orang tua yang harus menanggung resikonya" kata papa Qania panjang lebar sambil menatap lekat kedua pasangan tersebut secara bergantian.
"Jadi gimana menurut mama? Diizinkan atau tidak?" lanjut papa Arkana yang tersenyum menanyai istrinya.
"Yah mama sih setuju saja, asalkan jangan sampai terjadi seperti yang papa katakan tadi" jawab mama Qania tersenyum ramah namun tetap mengingatkan. "Nah kalau papa gimana?" lanjut mama Qania bertanya.
"Ehmmmm, kalau papa sih yes" jawabnya diselingi canda membuat sang istri tertawa.
Arkana dan Qania langsung berpandangan dan menampilkan senyuman terbaik mereka. Ingin rasanya Qania berteriak saking senangnya. Dan Arkana apalagi, ia langsung berbalik ke arah papa Qania dan meraih tangannya kemudian ia mencium tangan papa Qania.
"Terima kasih om atas restunya" ucap Arkana sangat bahagia.
Qania pun langsung memeluk mamanya dan mengucapkan terima kasih.
"Tapi ingat pesan yang tadi saya ucapkan kepada kalian berdua. Jangan sampai karena kami memberi izin lalu kalian seenaknya menyalahgunakan hal tersebut" wanti wanti papa Qania.
"Saya akan selalu mengingatnya om. Sekali lagi terima kasih om, tante" jawab Arkana yang dibalas anggukan oleh papa Qania.
Kini mereka mengobrol biasa sambil bercanda ria. Hingga akhirnya Arkana memutuskan untuk pamit pulang karena sudah cukup lama bertamu, waahh.
"Yah sudah mau pulang saja, emangnya nggak ada rencana mau jalan gitu? Kan baru baikan" goda papa Qania.
"Sebenarnya sore nanti kalau bisa saya ingin meminta izin untuk mengajak Qania jalan om. Sekarang saya pamit dulu karena ini waktu istirahat. Saya sudah lama bertamu jadi tidak enak mengganggu waktu istirahat tuan rumah" jawab Arkana. "Lagi pula sepertinya ada seseorang yang harus mandi dulu, karena dari pagi sepertinya dia belum mandi" ucap Arkana melirik Qania dengan senyuman meledek
"Ooh pantas saja ya dari tadi mama mencium bau bau kecut gitu" sambung mama Qania yang juga turut meledek.
"Iiihh nyebelin ngeselin" gerutu Qania sambil menatap Arkana dengan mode murka 😄😄
"Ya sudah sekarang kamu mandi dan istirahat, Arkananya pulang dulu. Nanti sebentar dia datang lagi" kata papa Qania yang melihat anaknya mulai kesal.
Setelah Arkana pulang kedua orang tua Qania masuk ke kamar begitupun dengan Qania. Namun ia tidak langsung mandi malahan langsung saja terlelap. Dia berpikir bahwa lebih baik mandinya sekalian sore saja. Hehehe dasar Qania.
______
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 365 Episodes
Comments