Suasana menjadi hening seketika setelah Arkana menceritakan kejadian itu pada Qania. Keduanya tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Hingga akhirnya Qania merasa harus memecah kesunyian tersebut, karena ia masih belum sepenuhnya percaya pada Arkana meski pun hatinya ingin.
"Lalu bagaimana dengan Renata itu?" tanya Qania mengejutkan Arkana.
"Entahlah, aku sudah tidak pernah melihatnya lagi semenjak Rizal memberinya pelajaran dan mengeluarkannya dari timku" jawab Arkana sambil memandang Qania.
"Memangnya kamu tidak pernah ada hubungan sama dia? Atau jangan-jangan aku orang ketiga dihubungan kalian?" selidik Qania sambil menatap tajam ke arah Arkana.
Dengan cepat Arkana menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku sama sekali tidak pernah berhubungan dengannya, apalagi sampai menjadikanmu orang ketiga, sungguh" katanya sambil membalas tatapan Qania.
Pandangan keduanya saling beradu, terlihat jelas bahwa tidak ada kepura-puraan di mata Arkana yang membuat senyum Qania tiba-tiba mengembang.
"Lalu kalau tidak seperti itu, mengapa kamu tidak datang padaku dan menjelaskan semuanya hah?" timpal Qania sambil membuang napas kasar.
"Aku awalnya marah padamu karena kamu memutuskanku sepihak tanpa mau mendengarkan penjelasanku" jawab Arkana berterus terang. Ia menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
"Kenapa baru sekarang? Kenapa tidak dari saat kamu tahu Arkana? Aku tidak akan menunggumu selama ini dengan rasa benciku" Qania meluapkan emosinya.
"Itu karena dengan mudahnya kamu mendapatkan penggantiku" jawab Arkana kesal.
"Kamu tahu darimana?" tanya Qania merasa malu.
"Apa yang tidak aku ketahui Qania. Aku bahkan selalu mengawasimu dari dulu. Kamu kemana, dengan siapa, sedang apa, semua aku tahu. Termasuk saat kamu jalan dengannya, saat kamu tertawa dengannya dan saat kamu disakiti olehnya aku tahu semua dan aku ada disana" ungkap Arkana sambil menahan rasa sakit hatinya.
"Bagaimana bisa? Aku tak pernah melihatmu berada di dekatku selama ini" Qania semakin terkejut atas apa yang diungkapkan Arkana.
"Bagaimana bisa katamu! Aku bahkan sudah seperti seorang kriminal yang selalu menguntit wanita kesana-sini hanya untuk menjagamu, dan bodohnya aku sampai membiarkanmu disakiti olehnya, haaaahhh" Arkana mengacak-acak rambutnya karena kesal akan sesuatu yang tiba-tiba diingatnya.
"Aku bahkan tahu bagaimana lelaki sialan itu menyakitimu. Aku tahu dengan siapa dia bercumbu saat tidak bersamamu. Aku tahu Qania" lanjut Arkana.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku jika kamu mengetahuinya? Kamu bahkan membiarkanku menanggung rasa sakit ini" isak Qania saat mendengar pernyataan Arkana yang membuat luka lamanya terbuka lagi.
"Memangnya saat aku datang dan memberitahukan itu padamu kamu lantas langsung mempercayaiku?" timpal Arkana yang membuat Qania terdiam.
"Mungkin saja" jawab Qania lirih kemudian menundukkan kepalanya menahan rasa sesak dan rasa bersalah.
"Hahaha mana ada orang yang sedang jatuh cinta langsung begitu saja menerima keburukan pasangannya. Apalagi yang datang memberitahukan adalah orang yang pernah menyakiti, mungkin saja hanya akan dianggap sebagai perusak hubungan orang. Bukan begitu Qania?" Arkana mengangkat dagu Qania dengan lembut dan membuat wajah mereka begitu dekat kemudian melepaskan sentuhan jarinya dari dagu Qania.
Tidak ada kata-kata, suasananya menjadi hening. Tatapan keduanya kembali beradu. Terlihat mata Qania mulai berkaca-kaca namun ia tetap berusaha agar tidak menangis di depan Arkana dan secepatnya mengalihkan pandangannya agar Arkana tidak menyadarinya.
"Aku berusaha menunggumu sampai kamu tahu dengan sendirinya. Aku bukan lelaki yang dengan teganya mengambil kesempatan untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. Aku membiarkanmu merasakan bahagia dan sakit itu sendiri bukan karena aku tidak peduli padamu. Justru aku membiarkanmu karena aku ingin disaat kamu sudah tenang dan aku datang kamu sudah siap untuk memulai lagi. Bukan menjadikanku pelampiasan nantinya tentu saja" ucap Arkana panjang lebar sambil menatap lurus ke depan.
Namun betapa terkejutnya Arkana saat wanita yang duduk di sampingnya itu tiba-tiba saja memeluknya sambil menumpahkan tangisnya. Pelukan Qania sangat erat membuat Arkana sedikit kesulitan bernapas. Kemudian Arkana pun membalas pelukan tersebut. Bajunya basah dengan air mata Qania.
"Andai saja kamu mengatakan itu sejak dulu, andai saja kamu datang menjelaskan semuanya dari awal, andai saja kamu menceritakan tentang apa yang dilakukannya di belakangku, andai saja andai saja. haaaah" Qania mengeluh masih dalam pelukan Arkana. Tangisannya semakin pecah saat mengatakan itu semua.
"Andai saja kamu memberitahukanku, aku tidak akan selama ini menunggumu kembali datang padaku. Aku tidak akan membiarkan diriku jatuh kepada pria sepertinya dan membagi hatiku untuk yang lain. Tahu kah kamu Arkana Wijaya, di hati ini masih kamu yang menempati meski bersama siapapun aku. Kamu tetap menjadi pemiliknya meski aku bersamanya, aku tetap menyempatkan waktuku untuk mengingat dan menunggumu" Lanjut Qania yang masih terus menangis.
Arkana tidak ingin mengucapkan apapun, ia membiarkan Qania menumpahkan segala keluh kesahnya dalam pelukannya. Arkana mengelus lembut punggung Qania berusaha menenangkan gadis kesayangannya itu. Dalam hati ia tersenyum senang mendengar penuturan Qania tersebut.
Qania yang merasakan kasih sayang Arkana mulai menghentikan tangisnya dan melepaskan pelukannya setelah itu ia menghapus sisa air matanya yang ada di pipi putih mulusnya tersebut.
"Kok dilepas sih? Aku kan masih ingin dipeluk" Arkana terkekeh dan Qania langsung mencubit lengan Arkana membuatnya meringis karena sakit. Wajah Qania memerah merasa malu, ia pun kembali tersenyum.
"Lama tahu nunggu kamu putus dengannya. Capek Qan terus menguntitmu, seperti orang bodoh terus saja menunggumu yang tengah bahagia waktu itu" tutur Arkana menyandarkan kepalanya di bahu Qania.
"Sama aku juga capek nungguin kamu datang kembali" timpal Qania yang kemudian mengacak rambut Arkana membuat si pemilik mengangkat kepalanya yang tengah menikmati sandaran tersebut.
Arkana menggenggam tangan Qania dan keduanya saling bertatapan. Kemudian Arkana menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Penantianmu sudah usai dan kamu pun sudah lama mengistirahatkan hatimu" kata Arkana terjeda karena mencoba menahan rasa gugupnya. "Mau kah kamu memulai lagi bersamaku Qania Salsabila? Mau kah kamu menyerahkan hatimu lagi pada Arkana Wijaya?" tanya Arkana masih terus menatap dan menggenggam erat tangan Qania.
Qania yang terkejut mendengar ucapan Arkana barusan lantas menggelengkan kepalanya karena ia masih belum percaya. Namun secepat kilat ia tersenyum dan membalikkan telapak tangannya agar jari-jarinya bertautan dengan jari-jari Arkana.
"Aku akan menyerahkan hatiku padamu lagi dan tolong jangan sakiti lagi" ucap Qania sambil tersenyum manis pada Arkana.
Arkana yang mendengar ucapan Qania langsung tersenyum lebar, sebelah tangannya langsung mengelus rambut halus Qania.
"Aku tidak ingin membuat janji yang aku tak tahu apakah bisa ku penuhi. Aku akan melakukannya dengan tindakan bukan dengan kata-kata janji. Terima kasih Qania, aku sangat mencintaimu" ucap Arkana sunggu-sungguh.
Setelah beberapa lama tenggelam dalam perasaan masing-masing akhirnya mereka kembali mengobrol biasa dan sesekali terdengar tawa dari keduanya.
Orang tua Qania yang sedari tadi mendengar obrolan mereka dari ruang keluarga yang bersebelahan dengan ruang tamu tersebut ikut tersenyum bahagia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 365 Episodes
Comments
AlaNa🍇
hadir kk tinggalkan jejak
2021-12-20
0