Arkana menghentikan motornya di parkiran kemudian melepaskan helmetnya, menatap Qania yang juga sudah turun dan berdiri disampingnya.
“Qania Salsabila” panggil Arka sangan lembut, membuat sang pemilik nama menoleh.
“Ada apa Arkana Wijaya?” Tanya Qania yang masih sedikit kaku karena berdiri disebelah sang pemilik hati sejak dulu.
Arka tak menjawab pertanyaan Qania, ia menggenggam tangan Qania dan otomatis membuat empunya kaget bercampur gugup. Arka membawa Qania duduk di bangku taman Bundaran Cengkeh tersebut.
“Ingat nggak kita pertama kali ketemunya disini” Tanya Arka dengan pandangan lurus dengan pikiran yang melayang pada awal mula pertemuannya dengan Qania hamper satu tahun yang lalu.
“Aku nggak mungkin lupa dengan hal yang nggak ingin aku lupain seumur hidup” Jawab Qania tanpa sadar karena pikirannya pun sama seperti Arka. Arka yang dengan jelas mendengar ucapan Qania merasa terbang dan langsung menggenggam tangan Qania. Sementara sang gadis yang perasaannya tidak dapat di tahan lagi langsung menyambut tangan lelaki yang selama ini masih menjadi nomor satu di hatinya.
Flashback on…..
Seorang gadis nampak sedang bosan dalam ruang aula salah satu hotel berbintang. Bagaimana tidak, dekan yang mengatakan bahwa di hotel itu diadakan seminar yang sangat penting untuk mahasiswa teknik nyatanya seluruh mahasiswa di kampus itu juga turut hadir, parahnya lagi pembahasan seminar itu ditujukan pada mahasiswa dengan bidang pendidikan keguruan.
“Qania, kamu masih mau disini? Yang lain satu persatu sudah keluar diam-diam loh. Mereka nungguin kita di lantai bawah” bisik Baron.
“Ya ampun dari tadi aku tuh emang udah mau keluar dari sini. Awas ya pak dekan, berani-beraninya ngerjain kita” kata Qania yang sedikit kesal terhadap dekannya.
“Ya udah ayo ikut, kita lewat pintu belakang, kamu minta izin sama pak dekan bilang aja kamu mau ke toilet setelah itu baru aku yang keluar” Baron mulai berjalan pelan mendekati dekannya mencoba meminta izin untuk menerima telepon dari ibunya, dan Qania langsung saja masuk ke toilet, tapi bukan toilet melainkan pintu keluar di sebelah toilet.
Qania dan teman-temannya bergegas pergi dengan mengendarai sepeda motor. Kebetulan pada saat itu masuk waktu sholat ashar, jadi mereka berniat berhenti di bundaran kota cengkeh, salah satu ikon kota mereka. Karena Qania sedang kedatangan tamu bulanannya, jadi ia memutuskan untuk menunggu di bundaran sambil menikmati jajanan yang ada disana. Ketika waktu sudah memasuki sore hari memang banyak pedagang keliling yang berjualan disana, mulai dari pentolan, cilok bakar dan basah, sate dan lain-lain. Tak jauh dari situ juga ada beberapa kafe dan rumah makan.
Qania duduk di salah satu bangku yang masih kosong. Sebenarnya disana ada sebuah jacket namun mungkin saja itu tertinggal piker Qania. Dia pun segera duduk dan menyingkirkan jacket itu ke tanah.
“Hei nona, beraninya kamu mengambil bangku saya dan membuang jacket saya. Kamu tahu itu mahal dan limited edition, disini tidak ada” tiba-tiba seorang pria seusianya datang dan memarahi Qania yang tak lain adalah Arkana.
“Heh jangan asal marah-marah ya. Siapa suruh kamu tinggalin ini disini. Ini bukan tempat jacket tuan, tetapi tempat duduk you know” Qania pun tak mau kalah.
“Eh eh, sudah salah tidak tahu minta maaf ya. Ganti rugi atau kamu cuci itu tujuh kali dan besok antar lagi ke tempat ini” perintahnya dengan senyuman aneh, sepertinya ia tengah memikirkan sesuatu.
“Enak saja main suruh-suruh saya. Itu tidak kotor kok, Cuma tanah doing kan, sok steril banget sih” cibir Qania.
“Ambil atau saya teriak maling” tandas Arkana itu.
“Oke oke, dasar licik. Saya akan cuci ini dan akan saya kembalikan besok disini kepada tuan muda yang terhormat sok steril padahal dekil” kata Qania sambil memunguti jacket itu.
“Oh kamu menghina saya ya. Kalau saya tidak ada urusan mendadak, saya akan proses kamu. Ingat besok jam lima disini nona” katanya sambil tersenyum kemenangan. “Gadis manis, tunggu gue besok ya. Akan ku buat kau menjadi gadisku” batin Arka, ia pun segera pergi menaiki motornya.
Qania mendengus kesal, masih dalam posisi duduk, ia jadi tidak berminat menghabiskan jajanannya. Untung saja teman-temannya sudah datang dan langsung memintanya pulang.
Keesokan harinya mereka bertemu dan betapa terkejutnya Qania melihat pria dekil sok steril itu sangat tampan dan terlihat cool. Qania tidak tahu saja kalau Arkana sudah jatuh cinta pada pandangan pertama kemarin dan jacket itu membantunya melancarkan niatnya untuk memiliki Qania.
Qania tak ingin berbicara dan ingin langsung pulang setelah memberikan jacket itu, namun dicegah Arkana. Dia berkata dengan sopan hingga Qania pun mencoba berdamai. Ia memanggil Yani untuk menemaninya dan itulah awal mereka berkenalan hingga menjadi kekasih lalu menjadi mantan kekasih.
Flashback off..
Keduanya hanyut dalam perasaan masing-masing, Qania tak melerai saat Arkana terus menggenggam tangannya. Hingga teleponnya berbunyi dan itu dari Winda. Winda meneleponnya karena ini sudah larut dan kafe akan tutup. Mereka pun bergegas pergi dan sebelumnya Arkana meminta nomor ponsel Qania, karena saat mereka putus Qania pun kehilangan ponselnya.
Arkana mengantar Qania dan Winda hingga di depan rumah Qania, ia tidak ingin membiarkan mereka pulang berdua. Setelah Qania masuk, Arkana menemani Winda sampai di depan rumahnya yang tak jauh dari rumah Qania, kemudian Arkana pamit pulang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 365 Episodes
Comments
❣️Lyla❣️
next like
2021-11-14
0
nanara
cakep
2021-09-29
0
Tita Dewahasta
like 5. ditunggu feedbacknya di karyaku Jiwa Jiwa Yang Suci ya🙏semangattt
2021-03-29
1