Perjalanan dari kota P sampai ke kota mereka memakan waktu kurang lebih delapan jam jika ditempuh dengan sepeda motor. Namun, karena Arkana meminta Rizal mengendarai motor dengan kecepatan agak lambat maka perjalanan itu ditempuh mereka menjadi sepuluh jam. Teman-teman yang lain termasuk Renata mungkin saja sudah beristirahat di rumahnya masing-masing karena Arkana meminta mereka untuk pulang lebih dulu.
Senja hampir berlalu, Arkana dan Rizal memasuki halaman rumah mewah Arkana. Masih saja sama, Arkana tetap diam hingga mereka memasuki kamar Arkana. Rizal berjalan di belakang Arkana dan ketika masuk kamar Arkana langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Rizal yang baru saja menutup pintu kamar tersebut langsung berjalan dan duduk di sebelah Arkana.
“Loe kok nggak pulang sih?” Tanya Arkana yang masih memejamkan matanya.
“Gue nggak mungkin pulang kalau gue nggak tahu kenapa loe seharian ini diamin gue. Ada apa?” ucap Rizal yang menatap lurus ke arah dinding berwarna abu-abu itu.
“Loe nggak salah kok. Gue Cuma lagi nggak mood aja” jawabnya singkat.
“Nggak mungkin, gue tahu elo dari kita masih bocah wahai Arkana” sanggah Rizal sambil terkekeh ironi.
“Hmm, entahlah Zal. Tiba-tiba aja gue diputusin sama Qania” kata Arkana yang kemudian bangkit duduk bersandar pada sandaran tempat tidurnya sambil memeluk guling.
Rizal menoleh kearah Arkana dengan ekspresi tak percaya, pantas saja sahabatnya itu uring-uringan sedari pagi.
“Loe serius Ka? Kok bisa sih?” Tanya Rizal masih tak percaya, ditatapnya lekat mata Arkana berusaha mencari kebenaran dari sorot mata tersebut dan ia menemukannya.
“Ya itu gue juga nggak tahu, tadi pagi gue smsin dia bilang kalau gue udah mau jalan eh gue malah dapat balasan yang menyakitkan. Mana kontak gue diblokir lagi arrggggg” teriak Arkana gusar sambil mengacak-acak rambutnya.
Rizal bangkit dari duduknya dan berjalan kearah Arkana sambil menarik kursi yang ada di dekat ranjang tersebut kemudian ia duduk sambil memperhatikan sang sahabat, ada raut wajah kesal dan juga kesedihan disana.
“Semalam gue baik-baik aja sama dia. Ya gue nggak balas sms dia karena abis makan gue langsung tidur” lanjut Arkana mengingat kejadian semalam.
“Apa loe mungkin lupa sesuatu atau loe salah ucap atau apa gitu” terka Rizal.
“Nggak Zal, gue semalam nggak ada masalah apa-apa. Qania juga terakhir smsin gue sebelum Renata minjam hp gue dan sampai gue tidur dia udah nggak smsin gue lagi” cerita Arkana.
“Renata minjam hp loe? Buat apa?” Tanya Rizal terkejut.
“Ya buat nelepon elo lah katanya mau nitip sesuatu” timpal Arkana kesal.
“Nggak, dia nggak nelepon gue semalam dan gue juga nggak kemana-mana semalam, gue di kamar teleponan sama Gea” bantah Rizal yang memang semalam hanya berada di dalam kamar sambil teleponan dengan pacarnya.
“Tapi katanya loe lagi di luar semalam” kata Arkana pelan hampir tak terdengar.
“Jam berapa? Gue semalam sempat keluar kamar mau nyari petugas di hotel yang bisa dimintai tolong, soalnya pulsa gue udah mau habis tapi Gea masih ingin ngobrol dan untung saja ada anak SMK yang lagi magang disana yang gue mintai tolong” cerita Rizal. “Terus gue dengar sih Renata lagi teleponan gitu” lanjut Rizal.
“Jam setengah delapan gitu. Emang dia teleponannya sama siapa kalau bukan sama loe?” Tanya Arkana mulai penasaran.
Rizal memangku sebelah kakinya dan bersandar pada sandaran kursi tersebut sambil mengingat kejadian semalam.
Flashback on……
“Tunggu ya sayang aku mau minta tolong seseorang buat beliin pulsa, sabar ya” kata Rizal dan dijawab iya oleh Gea di seberang saluran telepon.
Rizal keluar dari kamarnya dan ia melihat dua orang lelaki muda dengan seragam yang sama berjalan kearahnya.
“Permisi, apakah kalian bekerja disini?” Tanya Rizal dengan lembut.
“Iya kak kami siswa magang disini, ada yang bisa kami bantu?” Tanya salah satu dari mereka dengan ramah.
“Saya ingin membeli pulsa tapi saya sedang tidak bisa keluar, bolehkah kalian menolong saya membelikan pulsa?” kata Rizal agak canggung.
“Oh kebetulan kak, kami juga ingin keluar beli cemilan sama nasi bungkus kak. Apakah ada lagi yang ingin dititip?” jawabnya .
Dengan cepat Rizal menggeleng kepalanya dengan senyuman yang merekah. Setelah menuliskan nomor ponselnya pada ponsel salah satu dari siswa magang tersebut dan menyebutkan nominal pulsanya, Rizal menyerahkan selembar uang seratus ribu.
“Sisanya buat kalian ya, sebagai ucapan terima kasih” kata Rizal.
“Terima kasih kak, kami permisi” kata keduanya dengan gembira kemudian berlalu pergi.
Ketika Rizal ingin kembali masuk ke kamarnya ia tak sengaja mendengar seseorang sedang marah-marah di telepon, dan suara itu berasal dari kamar Renata yang berhadapan dengan kamarnya.
“Eh loe ini siapa sih, gue muak tau nggak dari tadi hp cowok gue bunyi cuma loe doang yang ngirim sms. Asal loe tahu loe ngeganggu banget, dasar cewek genit, loe mau apa dari pacar gue hah? Awas aja loe ya kalau masih gangguin pacar gue, hidup loe nggak akan tenang” kata Renata dari dalam kamar.
Rizal yang mendengarnya hanya geleng-geleng kepala dan tak ingin ikut campur urusan Renata. Ia berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Flashback off…….
“Sialan pantas saja Qania sudah tidak mengirimi gue pesan. Dasar wanita kurang ajar. Awas saja dia” Arkana sangat marah, sorot matanya seperti elang yang ingin menerkam mangsanya.
“Biar gue beresin tuh anak dan loe selesaiin masalah loe sama Qania. Kan gini gue udah tenang dan bisa pulang ke rumah. Oh iya pinjam motor ya” kata Rizal yang sedikit lega setelah mengetahui inti dari masalah sahabatnya tersebut.
“Iya bawa saja, dan makasih banyak ya. Kalau bukan loe gue nggak tahu yang sebenarnya” kata Arkana mulai meredam emosinya.
Rizal tersenyum dan berpamitan pulang pada Arkana dengan perasaan lega.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 365 Episodes
Comments