“Ya Allah yang maha segala-galanya, bantu aku melupakannya, bantu aku tak mengingatnya karena aku tahu Engkau tak membiarkan aku bersama orang yang tak pantas untukku. Maka dari itu, ajarilah aku caranya melupakan dia dan mengganti cinta ini sepenuhnya mencintai-Mu. Jadikanlah aku pribadi kecintaan-Mu dan bimbinglah aku selalu berda dijalan-Mu. Dekaplah hatiku dengan pelukan hangat-Mu, rangkullah aku selalu dengan tangan suci-Mu. Hanya Engkaulah pengharapanku. Aamiin ya rabbil alamin” doa Qania ketika mengakhiri sholat Isya’nya. Seperti biasa, setelah sholat Isya’ Qania langsung tidur.
Sinar mentari begitu terasa hingga ketulang, namun karena libur kuliah Qania menghabiskan waktu dikamar membaca buku dan sholat serta mengaji. Tak terasa seminggu berlalu rutinitas Qania hanya itu itu saja. Tak pernah sedikitpun kakinya menyentuh tanah. Mama Qania senang namun bercampur sedih melihat kegundahan hati puterinya itu yang hanya mengurung diri dikamar meskipun ia tahu Qania sedang memperbaiki diri namun tak seceria dulu.
“Sayang, kamu nggak keluar buat jalan-jalan?” tanya mamanya ketika Qania mengambil air minum.
“Ngapain ma, buang-buang waktu aja dan kayanya lebih aman di rumah deh ma” jawab Qania simpel.
“Kamu bahkan nggak nginjak tanah sudah seminggu ini loh Qan, masa nggak bosan di kamar terus” sambung mamanya.
“kan lagi libur ma, jadi di rumah aja Qanianya” jawab Qania setelah meneguk air.
“Libur itu nggak mesti ngurung diri dirumah juga kan, jalan-jalan lebih bagus, sekalian freshin otak kamu kan tugasnya abis numpuk tuh” saran sang mama.
“Qania malas ma, maunya di rumah aja ya, Qania ke kamar dulu” kata Qania sambil berjalan menuju kamarnya.
Mama Qania terus menatapinya hingga masuk kedalam kamar. Tak habis pikir anak yang selalu membuat keributan kini menjadi diam seribu bahasa karena ditimpa perihnya cinta. Ia pun memutuskan untuk menelepon Winda, sepupu Qania yang sebaya dengan Qania.
“Win, bisa ke rumah sebentar malam?” tanya mama Qania ketika Winda menjawab teleponnya.
“Bisa tante, emang ada apa sih?” tanya Winda sedikit heran.
“Tante mau kamu ajak Qania jalan-jalan” jawab mama Qania.
“Baiklah tante, asal ada uang jajannya, hehe” .
“Itu gampang, ya sudah tante masak dulu”.
“Oke tante, bye”.
Winda membuka pintu kamar Qania dan dilihatnya Qania sedang sholat Isya’, membuatnya kembali menutup pintu kamar itu dan berbincang bersama sang tante di ruang tamu.
“Qania kenapa tante?” tanya Winda.
“Kayanya dia sedang galau berat pasca putus dengan Fandy” jawab sang tante sedikit cemas.
“Itu obatnya mesti keluar tante, jalan-jalan, senang-senang dan cari pacar baru tentunya” tukas Winda.
“Makanya tante minta kamu kemari buat ngajak Qania jalan-jalan. Kamu tahu nggak, Qania udah seminggu nggak nginjak tanah” cerita tantenya.
“Hah, seminggu tante?” kata Winda dengan ekspresi terkejut.
“Iya, seminggu”
“Wah, parah nih tan. Qania pasti galau berat nih, makanya kaya gitu” sambung Winda.
“Itu yang bikin tante cemas Win, bisa saja psikologinya terganggu. Kamu ajak dia jalan-jalan ya” tutur sang tante.
“Siap tante, sepupu aku paling cantik dan super cerdas itu nggak bisa galau gini, rugi banget” tandas Winda.
Sambil merogoh kantong celananya dan mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribu, mama Qania langsung menyodorkan ke Winda.
“Nih uang jajan buat kalian, tapi jangan beli yang tidak tidak ya” kata tantenya sambil menyodorkan uang itu.
Dengan cepat Winda menyambut uang itu, “Tante tenang aja, nggak kok. Paling aku beliin makanan, nggak liat badan aku bulat gini” jawab Winda.
“Hahaha, kamu makin bulat Qania makin lurus” tawa tantenya diikuti oleh Winda. “Ayo kita ke kamar Qania, pasti dia sudah selesai sholat” kata mama Qania sambil berjalan kearah kamar Qania.
Sang mama membuka pintu kamar, dilihatnya Qania sudah menyelimuti tubuhnya di atas tempat tidur.
“Qania, ada Winda nih” kata mamanya sambil duduk di kursi belajarnya.
Qania membalikkan tubuhnya dan membuka matanya. “Kenapa Win?” tanya Qania pelan.
“Jalan yuk Qan, udah lama nggak jalan nih” ajak Winda sambil duduk di atas tempat tidur Qania.
“Kamu pasti disuruh mama” serga Qania.
“Udah ayo bangun” tarik Winda.
“Tapi aku malas Win, nggak mood” jawab Qania yang sudah terduduk karena ditarik Winda.
“Nggak ada alasan Qania, cepat berdiri ganti baju kita go” pinta Winta.
“Malas Win” jawab Qania kembali merebahkan tubuhnya sambil menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Mamanya dan Winda saling bertatapan.
“Masa nggak ngehargain kedatangan Winda sih Qan, setahu mama kamu orangnya friendly loh, apalagi sama sepupu sendiri. Sebenaranya iya mama yang nyuruh Winda datang buat ngajak kamu jalan. Mama khawatir sama kamu yang mendadak jadi pendiam gini, jangan jadikan kegalauan itu sabagai pemicu kebungkaman kamu sayang” tutur sang mama sambil membelai selimut yang menutupi tubuh Qania.
“Anak papa yang hebat ini masa galau sih, anak papa kan kuat kaya baja dan beton. Katanya makannya semen dan kawat, masa Cuma karena putus cinta udah kalah. Itu bukan anak papa tapi anak cememen alias cemen” sambung papanya yang beridiri dipintu kamar Qania.
Qania tertawa tanpa suara dalam selimutnya, perlahan ia membuka selimut dan mencari sang papa.
“Papa ini ah, Qania bukan anak cememen pa” sanggah Qania lembut.
“Kalau bukan anak cememen papa mau liat Qania semangat kaya dulu” tantang sang papa.
“Baiklah, ayo Win kita jalan. Kalau perlu kita pulang pagi” kata Qania sambil menuruni ranjangnya.
“Semangat sih semangat, tapi nggak pulang pagi juga kali” serga Winda kemudian mereka semua tertawa.
“Ya sudah, ayo Win” kata Qania sambil berjalan ke arah sang papa.
“Kamu nggak ganti pakaian dulu Qan?” tanya Winda yang masih duduk di ranjang.
“Pa, Qania udah cantikkan kaya gini?” tanya Qania.
“Iya anak cememen, kamu udah cantik dan mulus kaya aci, hehe” ledek sang papa.
“Ihh papa muji atau ngehina sih”
“Udah cantik kok sayang. Winda ayo ajak Qania berpetualang malam ini” kata sang papa.
“Siap om, ayo Qan” kata Qania yang beranjak dari tempat tidur. Mereka berempat berjalan keluar rumah .
“Hati-hati ya, jangan pulang larut” kata mama Qania.
“Siap boss” jawab keduanya bersamaan.
Winda menstater motornya dan berlalu diikuti oleh kedua orang tua Qania masuk ke dalam rumah sambil sang papa menutup pintu.
Mereka sampai di Taman Kota dan tempat itu terlihat sangat ramai. Terlihat ada atraksi balapan pemuda-pemuda yang memang biasanya balapan di tempat ini.
“Qan, lihat deh cowok itu” kata Winda sambil menunjuk salah satu cowok yang sedang siap-siap balapan.
“Kenapa dia?” tanya Qania santai.
“Keren plus ganteng banget” jawab Winda.
“Ganteng gimana itu tertutup helm” sanggah Qania.
“Loe lihat dia pasti juga bilang ganteng” tukas Winda.
“Emang kamu udah lihat dia sebelumya?” tanya Qania dengan ekspresi cuek.
“Tiap malam minggu gue disini Qan, jadi gue sering lihat dia Cuma malu kenalan, habisnya banyak cewek di dekatnya. Lah gue nggak ada apa-apanya dengan tu cewek-cewek” jelas Winda.
“Oh gitu” sahut Qania.
“Ih rese, hahaha” kata Winda sambil mencubit tangan Qania dan membuat keduanya tertawa.
Balapan dimulai, Winda tegang menyaksikannya namun Qania bersikap biasa saja. Tempat itu menjadi sangat ramai oleh sorakan-sorakan penonton balap liar itu. Dan akhirnya cowok yang di sukai Winda menjadi juaranya.
“Yeeeeeeeeee” teriak Winda membuat Qania kaget.
“Kamu ngagetin aku aja nih Win” ketus Qania.
“Sorry Qan, eh gue kesana ya” kata Winda sambil berlalu meninggalkan Qania.
Semua wanita berkumpul mengelilingi sang juara kecuali Qania. Qania menatap tajam pemenang itu namun tak mengentarai wajahnya karena sedikit gelap. Ditengah banyaknya wanita pemujanya, sang juara menatap kearah Qania yang merupakan satu-satunya cewek yang tak mendekatinya. Ia berjalan kearah Qania, sambil mengarahkan tangannya isyarat bahwa tak ada yang boleh mengikutinya. Qania masih tetap menatapnya yang semakin dekat.
“Loe anak baru disini ya?” tanya si cowok.
“Yaa” jawab Qania singkat.
“Jutek amat sih loe” tandasnya.
“Itulah saya” jawab Qania.
Si cowok geleng-geleng kepala kemudian membuka helmnya, ketika itu lampu taman menjadi semakin terang. Keduanya bertatapan dan sama-sama memasang ekspresi kaget.
“Qania” kata si cowok.
“Arkana Wijaya” jawab Qania.
“Hm, kamu kok disini Qan?” tanya Arka dengan penuh senyuman.
“Di ajak sepupu Arka” jawab Qania yang sudah gemetar.
“Sepupu kamu mana?” tanya Arka lagi.
“Lagi ngejar kamu” jawab Qania singkat.
Arka memalingkan pandangannya kearah wanita pemujanya sambil melemparkan senyuman.
“Arka sayang, sini dong” teriak salah satu cewek.
“Di panggil tuh sama pacarnya” serga Qania.
“Oh, hehe iya tuh. Tapi biarin aja, aku masih ingin disini sama kamu. Momen langkah” tandas Arka.
“Masa sih?” kata Qania datar.
“Iya mantan tersayang” jawab Arka.
“Pacar kamu tuh Ka, nanti aku dikira cewek PHO” tukas Qania.
“Aku rindu kamu malaikat tak bersayapku” ungkap Arka sambil menatap tajam mata Qania dan membuat Qania semakin gemetar jantungnya berdebar kencang. “Kalau aku boleh megang tangan kamu pasti dingin kaya es, dan kalau aku bisa lebih dekat di jantung kamu pasti degdegan banget ya” sambung Arka yang masih menatap Qania.
“Kamu tahu itu Arka” jawab Qania lembut.
“Kamu masih sayang dong sama aku” serga Arka.
“Sayang?” kata Qania kaget.
“Iya, itu buktinya masih kaya dulu kita pacaran” jawab Arka.
“Kamu apa sih. Pacar kamu tuh urusin” kata Qania mengalihkan pandangannya.
“Hehe, bercanda kali Qan. Kamu nggak berubah ya masih tetap jutek” kata Arka sambil menatap Qania santai.
“Ya sudah aku mau pulang” sambung Qania.
“Kamu masih jadi cewek yang nggak pernah suka cowok pembalap ya. Padahal aku kan mantan paling di sayang” ujar Arka.
“Ngawur. Win ayo pulang” teriak Qania yang membuat Winda segera menghampiri Qania.
Winda menstater motornya sambil terus menatap Arka dan Qania menaiki motor itu.
“Masih belum bisa mengendarai motor ya Qan?” ledek Arka.
“Arkaaaa aku mulai murka nih” teriak Qania.
“Hehehe jangan deh, aku takut kalau kamu murka kaya nenek sihir” ledek Arka.
“Kamu pernah lihat sepatu melayang ke kepala pembalap?” dengus Qania.
“Hehehea, maaf Qan. Ya sudah take care on the way ya mantanku sayang” kata Arka sambil membelai rambut Qania.
Qania tersenyum manis ke Arka dan Arka membalasnya. Semuanya terdiam termasuk Winda yang terkejut melihat sang sepupu dan sang idola sangat akrab.
“Daa Arka” kata Winda.
“Daa” jawab Arka sambil memandang mereka yang kini sudah tak terlihat.
“Loe kenal dia ya Qan?” tanya Winda.
“Mantan aku” jawab Qania.
“Hah, mantan Loe Qan. Arka si pembalap idola gue itu” rengek Winda.
“Iya kita pacaran tahun lalu, putus dari dia aku pacaran sama Fandy” cerita Qania.
“Berarti belum lama dong loe putus dari dia” kata Winda.
“Iya” jawab Qania.
Mereka telah sampai dirumah. Setelah Qania membuka pintu rumahnya Winda pulang dan Qania masuk kerumah langsung ke kamarnya dan merbahkan tubuhnya diikuti selimut yang menutupi hingga lehernya.
“Arkana Wijaya” desah Qania sambil senyum senyum.
Di tempat berbeda Arka juga menyebut nama Qania Salsabila sambil tersenyum.
Qania menutup matanya sambil tersenyum membayangkan Arka dan Arka meneguk kopi sambil membayangkan wajah Qania.
“Tadi itu Qania kan?” tanya Rizal
“Iya” jawab Arka kembali meneguk kopi, mereka sedang merayakan kemenangan Arka di cafe.
“Makin cantik ya setelah putus dari loe Ka” sambung Ifan.
“Cantik banget malaikat tak bersayap gue itu” ujar Arka.
“Susan ingat woy” serga Fero.
“Qania itu seratus kali lipat lebih waw dari pada Susan” jawab Arka.
“Susan bisa ngasih kebutuhan bokep loe, Qania emang cantik tapi nggak bisa loe sentuh” kata Rizal.
“Justru itu kelebihan Qania dari semua mantan gue Zal” tukas Arka.
“Qania buat gue boleh?” serga Ifan.
“Anjing loe” maki Arka sambil menatap tajam Ifan.
“Santai bro, bercanda gue”
“Kalau loe mau ngambil Susan silahkan, tapi perlu loe semua ingat jangan ada yang dekatin Qania titik” tegas Arka dengan suara lantang.
“Kita semua juga tahu kalau Qania cewek terbaik yang pernah loe pacari Arkana Wijaya” sahut Ifan.
“Gue juga pernah dekat banget sama dia, dan rasanya nyaman banget” sambung Fero.
“Gue bahkan udah dianggap adik sama Qania” kata Rizal tak mau kalah.
“Loe semua tahu kan Qania orangnya kaya gimana dan kalau dia pacaran sama loe semua nih, sangat nggak pantas dan bertolak belakang” tukas Arka.
“Persis loe nggak kaya kita-kita” tandas Fero.
“Yaa kita semua sama, tapi yang pernah pacaran kan gue” jawab Arka dengan bangganya.
“Ssstt, Susan datang noh” serga Rizal.
“Sayang, tadi tuh cabe-cabean darimana sih?” tanya Susan sambil duduk disebelah Arka.
“Susan, loe nggak sadar kalau cabe-cabean itu sebenarnya kamu. Jangan pernah bilang dia cabe-cabean, gue bunuh loe” kata Arka yang terlihat sangat marah.
“Loe kenapa Ka?” tanya Susan sedikit ketakutan.
“Dia Qania, mantan gue. Dia mantan terindah, terbaik, teralim, tercantik, terwaw dan sempurna buat gue, puas” jelas Arka.
“Masa sih, lebih cantik dan sexy gue” tukas Susan.
“Qania ribuan kali lipat lebih baik dari kamu, pergi sana” bentak Arka yang membuat teman-temannya dan semua pengunjung terdiam menatap kearah keduanya.
“Arka loe tega banget sih. Ya udah kita putus dan loe pasti bakalan nyesal dan cari gue lagi” sambung Susan dengan menatap tajam pada mata Arka.
“Nggak bakalan” jawab Arka singkat dan kembali duduk santai.
Susan menatap dalam Arka dengan sorotan mata yang penuh kebencian dan segera berlari keluar sambil menangis.
“Gila tuh cewek, hidupnya hancur gitu tapi jago banget hina orang, nggak sadar sama diri sendiri” gerutu Arka sambil meneguk minumannya.
“Santai bro, cewek kaya gitu loe ladenin” tukas Rizal.
“Sebaiknya kita pulang, sudah jam tiga subuh nih” sambung Ifan.
Semuanya berpandangan sambil mengenakan helmet masing-masing lalu pergi beriringan ke rumah mereka.
Pagi yang begitu cerah membuat mata Qania kembali terpejam mengingat pertemuannya dengan Arka yang tak disangka-sangka.
“Arka makin cakep ya” gumam Qania sambil memeluk boneka hello kitty pemberian Arka . “Dia bahkan masih ingat gimana rasanya kalau ketemu dia. Dasar anak jalanan yang paling aku sayang” sambung Qania yang kemudian berdiri lalu bergegas mandi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 365 Episodes
Comments
Luluk Luk
kalau emang cinta sama cwe,cwo gk perlu rusak masa depannya cwe ya tor,sayang sekali fandy gk sadar hal itu,lebih mentingin nafsunya aja.
2023-05-26
1
Nyai💔
next
2021-12-20
0
❣️Lyla❣️
👍
2021-11-14
0