Tanpa terasa waktu bergulir begitu cepat. Suasana kampus sudah terasa stelah sebulan libur. Waktu yang berlalu tak banyak memberi kesan indah dalam hidup Qania. Suasana kampus yang begitu ramai membuat Qania dan teman-temannya memilih kantin sebagai tempat tongkrongan terbaik siang ini.
“Qan, sama siapa nih sekarang?” tanya Rey yang membuat Qania tersedak ketika meminum jus jeruk.
“Nggak sama siapa-siapa Rey” jawab Qania santai.
“Bagaimana kalau kita taruhan?” usul Rey.
“Taruhan apa?” Qania berhenti minum.
“Taruhan nggak pacaran semester ini” tukas Rey.
“Konsekwuensinya?” tanya Qania mulai tertarik.
“Kalau loe kalah, loe mesti ngerjain tugas besar gue” kata Rey sambil cengengesan.
“Kalau aku menang?” tanya Qania.
“Loe mau gue ngapain, ya asal jangan nyuruh gue ngerjain tugas besar. Loe kan tahu gue nggak tahu” tandas Rey.
Qania berpikir panjang dan mulai tersenyum-senyum membuat Rey menjadi heran dan mengagetkan Qania yang sedang melamun sambil senyam-senyum.
“Jadi loe mau gue ngapain?” tanya Rey.
“Kamu balikan sama Puput” jawab Qania.
“Gila loe Qan. Cewek alay sok kecakepan padahal muka pas-pasan gitu loe suruh balikan sama gue, ogah” ketus Rey.
“Gimana sih kamu Rey, kamu kira gampang ngerjain tugas besar?” timpal Qania.
“Yang lain dong Qan” pinta Rey.
“Nggak ada” jawab Qania sambil tertawa kecil.
“Okay, deal” kata Rey sambil mengulurkan tangannya.
“Deal” tutur Qania menyambut tangan Rey.
“Tapi Qan, tetap bantuin gue ya ngerjain tugas” sambung Rey.
“Pasti Rey. Ayo kita masuk, dosen udah dalam ruangan tu” ajak Qania sambil menarik tangan Rey yang sedang menghabiskan minumannya.
“Iya iya Qania sayang, nggak usah buru-buru amat” kata Rey mengambil tasnya dan berdiri, mereka berjalan menuju Laboraturium Sipil yang tak jauh dari kantin.
Malam yang dingin membuat Qania terinspirasi untuk menulis. Suasana hening membuat Qania semakin mendapatkan berbagai inspirasi, namun puisi-puisi yang kini dirangkaainya masih tetap menggambarkan suasana hatinya yang teramat sakit ditinggal Fandy.
“Loh, kok aku malah buat puisi-puisi sedih sih? Kan akunya nggak lagi galau” gerutu Qania. “Tapi nggak bisa bohongin hati ini, rasanya masih sama, masih sangst-sangat sakit, Fandy kamu tega” Qania mulai teringat kembali kenangan bersama mantannya itu, sesekali ia menghela napas dan menghembuskannya sedikit kasar. Kenangan yang susah payah ia hapus namun masih saja bertamu di lamunannya. Setelah merasa lelah, kini kantukpun merasukinya hingga ia menghentikan kegiatannya dan mulai mengatur posisinya untuk menuju ke alam mimpi.
Pagi itu Qania terburu-buru ke kamar mandi karena ia bengun kesiangan dan pada saat itu ada mata kuliah yang masuk sangat pagi menurut mahasiswa teknik yaitu 08.30. Qania keluar dari kamar mandi dan meraih handphonenya bermaksud untuk mengirim sms kepada Yani menanyakan apakah ia sudah di kampus, namun ia kaget dengan sms dari pengirim tak diketahui dengan pesan :
“Selamat pagi”.
Qania penasaran dan langsung membalas pesan itu, “Siapa?”
“Wahyu, kamu?”
“Kamu ngirim sms ke orang yang kamu nggak kenal?” balas Qania sambil merapikan jilbabnya.
“Kamu Qania?”
“Iya”
“Kamu pacarnya Fandy?”
“Udah bukan”
“Aku kira kamu pacarnya”
“Oh”
“Jutek amat”
“Terserah saya dong” balas Qania yang kemudian keluar kamar dan segera menaiki motor yang sedari tadi dipanaskan mamanya.
“Gue ceweknya Fandy”
“Nggak nanya dan nggak penting juga” balas Qania di perjalanan.
“Jutek amat loe, pantesan aja Fandy ninggalin loe dan milih gue”
“Selamat yaa” balas Qania.
“Loe nggak marah, nggak cemburu atau apa gitu?”
“Nggak” balas Qania sambil berjalan masuk ke ruangan.
“Loe jadi cewek jutek amat”
“Oh” balas Qania sambil mengambil binder dan menyimpan handphonenya tanpa memperdulikan balasan sms dari pacar Fandy.
“Kamu kenapa sayang?” tanya Yani
“Nih ada pacar Fandy smsin aku, pake acara manas-manasin gitu, tapi akunya santai aja, biarin dia capek sendiri, hehehe” Qania tertawa kecil bersama Yani karena takut ketahuan dosen yang sedang menjelaskan karena saat itu mereka duduk di tengah dan karena mereka berdua bisa digolongkan pendek, jadi tidak begitu kelihatan oleh dosen.
“Bagus Qan, biar dia capek sendiri. Dia nggak tahu kalau dia sedang berhadapan dengan si cewek jutek amat, hehehe” kata Yani yang membuat mereka kembali tertawa kecil.
Tiba-tiba sang dosen berhenti menjelaskan dan berteriak “Qania, Yani apa yang sedang kalian tertawakan?” tanya pak dosen kepada keduanya.
“Maaf pak, itu wajah bapak penuh spidol, kalau nggak percaya ini cermin pak” jawab Qania sambil menyerahkan cerminnya dari dalam tasnya.
Sang dosen segera mengambil cermin itu,
“Astaga ini spidol darimana?” teriak pak dosen dengan kagetnya.
Teman-teman beserta Qania dan Yani tertawa kemudian segera diam sejenak karena teringat itu adalah dosen mereka.
“Siapa yang ada tissue?” tanya pak dosen.
“Saya pak, mau tissue basah ada tissue kering juga ada pak” jawab Qania sambil mengambil kedua tissue dari dalam tasnya dan memberikannya kepada sang dosen.
“Ini tissue sama cermin kamu. Terima kasih sudah diberitahu saya, hampir saja saya malu diluar sana” kata sang dosen sambil menyerahkan ketiga benda itu.
“Kembali kasih pak” jawab Qania sambil meraih tissue dan cerminya.
“Lebaaaaaaaaaayyyyyyyyyy” teriak teman-teman sekelasnya yang membuat Qania tertawaa, Qania memang orangnya selain jutek juga sangat lebay.
“Eh sudah sudah, sekarang kita lanjutkan materi kita” serga pak dosen yang kembali duduk.
“Oh yaa pak, maaf ya sudah menertawakan bapak” sambung Qania.
“Iyaa Qania manis” jawab sang dosen Dosen mereka bernama pak Gunawan ST M.Eng, meskipun gelar master, beliau masih sangat muda yaitu 25 tahun dan tampangnya keren beserta memiliki wajah yang tampan.
“Ciee Qania manis” teriak teman-teman sekelasnya lagi membuat Qania kembali tertawa.
“Memang kenyataan kok dia manis” sambung pak Gunawan sambil tersenyum pada Qania.
“Terima kasih pak, tapi sebaiknya kita kembali ke materi” serga Qania sambil tersenyum.
“Ciee mengalihkan” teriak Baron yang merupakan teman dekat Qania dan Yani.
“Sudah sudah, berhenti menggoda Qania. Ayo kita lanjut materi” sambung pak Gunawan yang langsung menyambung penjelasan yang sempat terpotong.
“Ciee sepertinya pak Gunawan ada hati tu sama kamu” bisik Rey yang duduk dibelakang Qania.
“Sepertinya tu Rey” sambung Yani.
“Apaan sih kalian, nggak ah” sanggah Qania.
“Mau aja loe Qan, supaya loe kalah taruhan gitu, hehehe” sambung Rey lagi.
“Kalian lagi taruhan?” tanya Yani penasaran.
“Iya, kita taruhan buat nggak pacaran sampai satu semester” jelas Qania.
“Wah, sepertinya kalian berdua nggak akan sanggup nih, secara Rey playboy dan Qania paling nggak bisa kalau nggak ada yang manjain dan sayang-sayangin dia” kata Yani.
“Aku sanggup kok Yan, lihat saja nanti” sanggah Qania dengan sombongnya.
“Gue juga sanggup” serga Rey tak mau kalah.
“Kalau kalian berdua nggak sanggup, traktir Yani yaa” ledek Yani.
“Kita pasti sanggup” jawab Rey.
“Rey sayang, Cuma Qania yang sanggup, kamu pasti nggak sanggup” tandas Qania.
“Apaan sih loe Qan” sanggah Rey, kemudian dengan lantangnya ia berkata “Gue sanggup Qania” dan seketika pak Gunawan dan teman-teman lainnya melihat kearah Yani, Rey dan Qania.
“Oh jadi sekarang bertiga lagi ngegosip. Kamu sanggup apa Rey, kamu mau menikahi Qania?” ujar pak Gunawan.
“E..enggak kok pak, maaf kelepasan” jawab Rey terbata-bata karena gugup.
“Kalian lagi kalian lagi. Bisa diam tidak kalian haa?” tukas pak Gunawan dengan sedikit emosi.
“Tidak pak” jawab ketiganya bersamaan, lalu mereka berpandangan dan kembali berkata “Bisa pak”.
“Sekali lagi kalian ribut, saya pastikan nilai kalian error” tegas pak Gunawan.
“Aduh jangan dong pak, kita minta maaf pak. Kita janji nggak akan ribut lagi” serga Qania.
“Iya pak, maafin kita pak. Kita janji nggak akan ngulangin lagi, ya kan guys” sambung Yani dengan wajah penuh permohonan.
“Iya guys” sambung Rey. Spontan Rey langsung membekap mulutnya dan matanya membelalak karena salah bicara. “Maksudnya iya pak, kita nggak akan ulangi kejadian seperti ini pak” sambung Rey dengan rasa takut.
“Sekali lagi maaf ya pak” lanjut Qania.
Pak Gunawan menghela napas panjang sambil melirik kearah mata Qania yang penuh ketulusan.
“Iya iya, tapi ini kali terakhir kalian bersikap seperti ini, besok besok saya tidak akan mentolerir hal seperti ini lagi” tukas pak Gunawan.
“Terima kasih pak Gunawan” kata ketiganya besamaan dengan raut wajah legah.
Pak Gunawan hanya melebarkan senyum dan kembali duduk di kursinya seraya merapikan buku-buku yang dibawanya kemudian dimasukkan kedalam tasnya.
“Baik saudara-saudara sekalian, perkuliahan hari ini cukup sekian, terima kasih atas perhatianya. Assalamu’alaikum dan selamat pagi” ucap pak Gunawan sambil menggandeng tasnya.
Setelah mereka menjawab salam dari sang dosen, dosen terebut pun berlalu.
“Kamu sih Rey pake acara kelepasan, jadinya kita udah dapet peringatan tuh dari pak Gunawan” ketus Yani.
“Sorry guys, itu diluar kehendak gue” jawab Rey sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Iya iya nggak perlu diperpanjang, nanti kalian berantem terus musuhan lagi” serga Qania.
Ketiganya berjalan menuju kantin sambil diselingi candaan yang membuat Yani tak kuasa menahan tawanya begitu pula Rey dan Qania. Qania menatap handphonenya dengan raut wajah yang begitu emosi.
“Loe kenapa Qan?” tanya Rey yang sedang memperhatikan mimik wajah Qania.
“Ini nih pacar Fandy nggak henti-hentinya ngirim sms” jelas Qania.
“Yailah Qan, nggak usah di tanggapi kali” sambung Yani.
“Iya guys kalian tenang aja” jawab Qania sambil meraih gelas yang berisi cappucino.
“Eh, kita pulang yuk” ajak Baron yang masuk ke kantin.
Qania, Rey dan Yani berdiri namun Qania masih memegangi gelasnya dan berusaha menghabiskan minumannya.
“Ya ampun Qania manis kata pak Gunawan, gelasnya udah boleh di lepas kali” sambung Baron yang sedikit tertawa melihat sahabatnya itu menghabiskan minumannya.
“Mubazir tau” jawab Qania dengan polosnya sambil meletakkan gelasnya dan berjalan keluar bersama ketiga sahabatnya menuju parkiran.
Baron menghentikan motornya tepat di depan pagar rumah Qania, setelah say goodbye Qania masuk kedalam rumahnya dan Baron pun berlalu meninggalkan Qania.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 365 Episodes
Comments
❣️Lyla❣️
like
2021-11-14
1
Tita Dewahasta
like 3
2021-03-29
2