Tiada yang tahu jika sedari tadi Zhia juga duduk bersandar pada pintu kamar. Dia juga mendengar semua percakapan antara kakak iparnya dan orang yang paling dicintainya.
Sesungguhnya tanpa Iyas menjelaskan dia sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun dirinyalah yang merasa malu dan merasa tidak pantas walau hanya sebatas bertemu.
Zhia bisa mendengar Mas Rian berbicara pada Iyas.
"Bangunlah Iyas, biarlah Zhia berpikir jernih dulu, nanti jika dia sudah tenang pasti akan bisa mengerti," suara besar Rian penuh wibawa.
Iyas berdiri lunglai dan berpamitan pada kedua kakaknya Zhia.
Kemudian Rian juga mengetuk pintu kamar Zhia.
"Dek, Mas Rian tahu kamu sedang punya masalah dan bersedih. Tapi jika kamu seperti ini terus semua orang akan ikut bersedih. Keluarlah! kamu juga masih punya kewajiban sebagai umat muslim, sebentar lagi waktu Dzuhur sudah habis."
Kata-kata Rian memang persis seperti suara almarhum ayahnya. Zhia selalu patuh tak berani melawan.
Zhia keluar disambut senyum kelembutan dari wajah Tia.
"Ayo wudhu dan Sholat, kemudian makan," lembut Tia mengiringi Zhia sampai ke kamar mandi.
Zhia bisa merasakan kasih sayang mereka, Zhia semakin takut jika mereka mengetahui kejadian yang sesungguhnya.
Karena apa yang terjadi akan menjadi aib keluarga yang akan menghancurkan nama baik semua orang termasuk ibunya yang masih naik haji di makkah.
Setelah sholat Zhia makan hanya beberapa sendok.
Begitulah seterusnya... Zhia hanya keluar kamar jika mandi,sholat dan makan.
selebihnya dia habiskan waktunya merenung di dalam kamar.
Setiap hari Iyas dan Syauqi bergantian ingin menemui Zhia, tapi dengan bijaksana Rian menyuruh mereka pulang untuk membiarkan Zhia merasa tenang.
Sepuluh hari kemudian Zhia mulai berani keluar rumah. Dia merindukan hangatnya mentari pagi dan harumnya bunga melati yang tengah mekar.
Dia melihat kerukonya yang mulai ramai pembeli.
Sekarang sudah ada sepasang suami istri yang ikut membantu melayani pelanggan.
Zhia merasa menyesal, karena keegoisannya
membuat kedua kakaknya khawatir dan sampai kerepotan melayani pelanggan, belum lagi mbak Tia yang juga selalu memperhatikan Zhia dan merawat anaknya.
Zhia menghampiri kakak iparnya yang sedang membuat pesanan kue.
"Sebaiknya jangan bekerja dulu! wajahmu masih pucat begini. Tidak perlu khawatir sekarang sudah ada dua orang yang membantu," kata Tia lembut.
Tiba-tiba muncul anak keponakan kecilnya.
"Bibi... Alifya kangen mainan sama bibi," rengek gadis cilik sambil bergelayut di kaki Zhia.
Alifya baru berumur 1,5 tahun. Namun sudah pandai berbicara dan bisa berjalan.
"Baiklah, ayo kita main di kursi sana," kata Zhia mulai bisa tersenyum.
Tia ikut merasa bahagia melihat adik iparnya bisa tersenyum.
Buah anggur yang bergelantungan mulai ada yang masak. Alifya loncat-loncat ingin meraihnya tapi tidak bisa.
"biii...bibiii.... tolong petikkan buah anggul di atas," pinta Alifya dengan bahasa yang masih cedal...
Zhia hanya tertawa mendengarnya. Dia berdiri di atas kursi supaya bisa memetik buah anggurnya. Namun masih ada sebagian buah yang masihkecil, jadi Zhia memilih yang besar besar satu-persatu.
Dari depan ruko Iyas menatap Zhia yang tengah berdiri di atas kursi.
Iyas merasa bahagia dan lega akhirnya selama sepuluh hari ini bisa melihatnya lagi.
Iyas sangat merindukan senyuman indah itu.
Zhia tak menyadari kedatangan Iyas, dia merasa kaget dan terjatuh saat Iyas mengucapkan salam.
Dengan sigap Iyas langsung menangkap Zhia.
Mata keduanya saling berpandangan.
Keduanya saling terdiam haru. Rindu...
Hanya satu kata yang bisa menggambarkan perasaan mereka.
Namun Zhia segera melepaskan diri ketika dia mulai sadar.
Mereka sama sama malu dan canggung.
"Assalamu'alaikum"sapa Iyas lagi.
"Wa'alaikum salam" jawab Zhia tertunduk malu, dia ingin melarikan diri namun sudah terlanjur.
Untuk beberapa saat mereka saling terdiam,
Zhia merasa sudah tak pantas lagi untuk Iyas, sedangkan Iyas merasa Zhia masih marah padanya.
"Apa kamu masih marah?" tanya Iyas.
"Aku tak pernah marah padamu, Mas Iyas! Tanpa kamu menjelaskan aku sudah percaya padamu," jawab Zhia mencoba tegar dan menghadapi kenyataan.
"Lalu kenapa kamu menghindari ku selama ini?" tanya Iyas tak mengerti.
Zhia hanya diam,dia bingung mau menjawab apa.
Namun Zhia memberanikan diri untuk mengatakan apa yang sebenarnya, baginya lebih baik jujur meskipun pahit dari pada berbohong namun pada akhirnya membuat orang yang dicintainya kecewa.
"Aku tidak pernah bermaksud menghindarimu, Mas Iyas. aku hanya merasa tidak pantas lagi mengharap kasih sayangmu. Aku bukan Zhia yang seperti dulu lagi, aku hanyalah bunga layu yang pantas untuk di buang."
Zhia mulai menitikkan air matanya.
Iyas hanya diam mencoba berpikir dan mencerna ucapan Zhia barusan.
Alifya yang masih kecil tidak bisa menangkap perkataan bibinya, keponakan Zhia itu hanya tahu jika bibinya menangis. Alifya berlari dan mengadu pada ibunya.
Tia menyuruh Alifya untuk menemani ayahnya, Tia hanya ingin membiarkan Iyas dan Zhia saling berbicara agar masalah mereka segera terselesaikan.
"Aku tidak akan kecewa jika Mas Iyas meninggalkanku. Akuu hanya ingin Mas Iyas bahagia dan menemukan seseorang yang lebih pantas untukmu. Terimakasih banyak Mas Iyas, semenjak aku kecil sudah menyanyangiku, melindungiku, berkorban untukku dan selalu membahagiakan aku.
Maafkanlah aku... "
Zhia hanya menunduk menahan kepedihan di hatinya.
Dalam waktu sepuluh hari ini air matanya sudah terkuras, Zhia kini menjadi seseorang yang lebih kuat dan tangguh. Apapun yang terjadi, terjadilah.
"Aku sangat mencintaimu, Zhia. Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkanmu, apapun yang terjadi padamu aku akan menerima apa adanya. Yang terpenting hatimu tak pernah berubah hanya untukku.Aku mohon..... jangan ada yang berubah diantara kita dan apa yang telah terjadi denganmu lupakanlah. Anggap saja itu hanya mimpi buruk dan aku juga berjanji tidak akan pernah mengungkitnya. Kamu adalah belahan jiwaku, dirimu sudah sejak lama kuanggap sebagai tubuhku sendiri. Dan mungkin ini hanyalah cobaan, kita harus bisa melaluinya, aku yakin setelah ini kita bisa bahagia bersama," kata Iyas sungguh-sungguh.
Zhia malah mulai terisak lagi mendengar perkataan tulus Iyas.
Hatinya menjerit,
"Ya Alloh... hambamu ini sangat mencintai Mas Iyas, tetapi kenapa harus diuji dengan cobaan yang sebesar ini."
Iyas kini memahami apa yang dirasakan wanita yang dicintainya. Antara malu, takut, dan marah.
Iyas sangat mengenal Zhia, dia adalah gadis yang sangat halus dan baik. Bagaimana mungkin ada orang kejam yang berani melakukan hal keji padanya.
Bahkan serindu-rindunya Iyas pada Zhia dia takkan berani menyentuh tangannya.
"Jangan bersedih lagi! Karena itu membuatku sakit. Mulai sekarang jangan khawatir karena tidak ada yang berubah diantara kita, kamu tetap Zhiaku yang paling berharga."
Iyas mencoba bersikap biasa supaya Zhia tidak merasa rendah diri lagi.
"Ibu pulangnya kapan?" tanya Iyas mengalihkan percakapannya.
"Mungkin sekitar tiga hari lagi," jawab Zhia mulai tenang.
Dari dulu setiap Zhia bersama Iyas dia selalu merasa aman, karena Iyas sosok yang mengayomi dan perhatian.
Zhia bersyukur... karena Alloh telah menghadirkan Iyas dalam hidupnya, kini cintanya pada Iyas semakin bertambah besar.
"Setelah ibu pulang aku akan melamarmu bersama keluarga ku dan tidak ada alasan lagi kamu menolakku.. kita harus secepatnya menikah,aku ingin bisa melindungimu seutuhnya" ucap Iyas mantap.
Zhia mengangguk dan tersenyum bahagia.
Iyas juga merasakan kebahagiaan yang sama, karena sesuatu yang Iyas nantikan selama ini terwujud juga
"Zhia kamu jangan salah paham ya, aku hanya ingin tahu saja. Siapa iblis itu? Aku hanya ingin memastikan setelah ini dia tidak akan berani melihatmu lagi,"
tanya Iyas penasaran dengan si brengsek itu.
"Mas.... Syauqi," jawab Zhia gugup.
Sejak awal Iyas sudah curiga, karena Syauqi selalu memandang Zhia dengan tatapan yang berbeda.
Iyas justru menyalahkan diri sendiri yang tidak bisa menjaga Zhia, dia menyesal kenapa kemarin tidak mengantar Zhia saat acara pesta pernikahan kak Elly.
"Sudah jangan bersedih lagi, mulai sekarang hanya boleh mengingat wajah tampanku saja ya agar kamu bahagia! "kata Iyas menghiburnya.
Iyas berpamitan dengan alasan ada jadwal kuliah.
Namun setelah masuk mobil Iyas tak bisa menahan amarah.
Dia sangat mencintai Zhia bagaimanapun keadaannya. Namun dia tak memaafkan ada orang yang berani menyakiti Zhia sampai Zhia frustasi seperti itu.
Dengan kecepatan penuh Iyas melajukan mobilnya menuju rumah Syauqi.
"Kamu harus membayar apa yang sudah kamu lakukan..."
Terimakasih sudah berkenan membaca karya saya. Jangan lupa Like dan Vote ya🙏
Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author.
Mohon kritik dan sarannya semoga novel CINTA YANG TERPAKSA bisa berkembang lebih baik lagi🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 285 Episodes
Comments
Budi Yono
semangat kk
2021-12-22
0
Noer Anisa Noerma
iyas sangat marah'
2021-12-19
0
Edy Endang
i like it
2021-12-05
0