Syauqi yang tertidur nyenyak merasa kesulitan bernapas karena bantal yang menutupi seluruh wajahnya.
Dia langsung merebut bantal itu dan membuangnya.
"Mau membunuhku?" tanya Syauqi dengan senyuman menggoda.
Zahia langsung memalingkan wajahnya karena sangat membenci dengan pemuda yang telah menodainya.
Zhia beranjak pergi masih dengan berbalut Selimut. Dia mencari pakaiannya tapi tak ketemu juga.
Mau tak mau akhirnya Zhia bertanya pada Syauqi.
"Di mana bajuku?" tanya Zhia dingin menahan amarah.
"Semalam waktu melepas pakaianmu sangat sulit, jadi aku gunting saja," jawab Syauqi santai sambil menghempaskan tubuhnya sendiri di atas ranjang.
"Kamu gila ya?" teriak Zhia, kini dia sampai melupakan sopan santun pada Syauqi.
"Ya... benar, aku memang sudah tergila-gila padamu," jawab Syauqi tersenyum manis.
Zhia semakin merasa muak.
"Mandilah dulu! nanti biar aku Carikan sesuatu untuk dipakai," timpal Syauqi sambil bangun dan keluar dari kamar.
Syauqi hanya memakai celana pendek dan kaos santai.
Jika wanita lain yang melihatnya pasti langsung rela menyerahkan dirinya sendiri.
Zhia lalu mengambil kemeja putih milik Syauqi yang tergeletak di atas lantai. segera dia ke kamar mandi.
Di bawah air yang mengalir Zhia menggosok seluruh tubuhnya. Namun bayangan Syauqi yang mencumbu dan menggerayanginya semalam terus hadir dalam ingatan Zhia.
Dia teringat almarhum ayahnya, yang dulu selalu mengingatkan tentang kehormatan perempuan.
Zhia juga teringat Iyas, yang selama ini sudah menyayangi dan melindunginya.
Zhia mulai menangis lagi walaupun sesungguhnya air matanya sudah mengering.
*******************************
Hampir setengah jam Zhia belum keluar dari kamar mandi, membuat Syauqi merasa khawatir.
Syauqi langsung menerobos masuk menyusul Zhia.
Syauqi melihat punggung mulus Zhia yang tengah duduk memeluk lututnya, membuat Syauqi bernafsu lagi.
Syauqi segera mendekap tubuh Zhia dari belakang. Mereka berdua kini sudah basah karena tetesan air yang dari tadi mengalir seperti hujan.
"Aku mencintaimu Zhia, menikahlah segera denganku," bisik Syauqi di telinga Zhia.
Sedangkan Zhia sama sekali tak merespon.
Syauqi mulai melakukan aksinya, dia mencium leher Zhia yang basah.
Zhia mendorong wajah Syauqi perlahan.
"Sudah cukup! Jangan menambah beban dosa lagi. Antarkan aku pulang sekarang sebelum keluargaku merasa khawatir," pinta Zhia dengan suara dingin tanpa ekspresi.
Entah kenapa Syauqi sangat takut ketika Zhia berkata dengan ekspresi seperti itu, rasanya lebih menakutkan dari sebuah kematian.
Kemudian Zhia keluar dari kamar mandi hanya memakai kemeja putih milik Syauqi yang terlihat kedodoran sampai di paha.
Sesungguhnya Zhia sangatlah malu, terlihat dari pipi dan kupingnya yang merona.
Syauqi tak berhenti berkedip melihat pemandangan yang luar biasa menggoda.
Rambut Zhia yang setengah basah, bibir ranum, paha mulus, dan lehernya Zhia yang masih dipenuhi bekas kecupan membuat wanita yang dicintai tampak sangat sexi.
Birahi Syauqi naik lagi. Namun di hatinya tak tega menyakiti Zhia yang masih tampak kesakitan saat berjalan.
"Kemarilah! segera pakai pakaian ini kemudian sarapan dulu. Setelah ini baru kuantar pulang," bujuk Syauqi lembut dan perhatian.
Namun Zhia seperti cahaya bintang yang meredup, wajahnya tak ada sinar kehidupan.
"Keluarlah! Aku mau pakai baju dulu" kata Zhia dingin.
Syauqi merasa bingung, kenapa harus malu?Bukankah Syauqi sudah melihat seluruh lekuk tubuh Zhia, akan tetapi Syauqi juga tak berani membantah... Syauqi keluar juga.
Zhia membuka tas plastik yang berisi pakaian muslim lengkap dengan jilbabnya.
Warna bajunya hijau muda dengan motif bunga-bunga.
Syauqi sangat tahu selera Zhia. Namun Zhia berpikir alangkah senangnya jika barang ini dari Iyas.
Beberapa saat kemudian Syauqi mengetuk pintu.
"Sudah belum? Ayo segeralah makan," bujuk Syauqi setengah memaksa.
Setelah Zhia keluar dari kamar, Syauqi semakin takjub dengan penampilan Zhia.
Ternyata pilihannya sangat cocok sekali dengan tubuh Zhia, Syauqi langsung tersenyum puas.
Zhia meringis setiap kali melangkah. Membuat Syauqi merasa khawatir.
"Masih sakitkah? Aku gendong ya?" kata Syauqi menawarkan diri, Namun tangannya langsung di tepis Zhia dengan kasar.
"Diamlah!" bentak Zhia.
Syauqi malah merasa lega karena Zhia masih memiliki tenaga untuk marah, dari pada hanya diam tanpa ekspresi.
Syauqi berjalan di belakang Zhia, kemudian dia teringat kejadian semalam.
Syauqi senyum-senyum sendiri, karena baru pertama kali ini Syauqi merasa kenikmatan yang tiada tara.
Namun di sisi lain dia juga kasihan karena Zhia juga masih perawan sedangkan miliknya besar dan panjang, tentu terasa sangat sakit.
Tapi Syauqi semakin tak bisa menahan senyumnya, dia berpikir jika sudah menikah ingin melakukan lagi setiap malam dengan Zhia.
Di atas meja sudah terhidang susu dan makanan.
Syauqi memang semalam pesan lewat online supaya pakaian dan makanan diantar jam tujuh pagi.
Syauqi sejak kecil sudah terbiasa merencanakan segala sesuatu secara detail dan akurat, makanya dalam dunia bisnis pun dia sangat sukses.
Syauqi mulai melahab makanannya dengan semangat, karena dia perlu mengisi energi semalam yang terkuras habis.
Namun Zhia hanya termenung tanpa menyentuh makanan sedikitpun.
"Makanlah! Kalau tidak aku tak akan mengantarmu pulang," ancam Syauqi dengan nada lembut.
Zhia pun menuruti dan memaksakan diri untuk makan.
Selesai makan Syauqi mengajak Zhia keluar rumah. Zhia tak mengenali tempat ini.
Namun dihati kecilnya Zhia mengakui vila kalau pemandangan di sekitar vila sangat indah.
"Ayo segera pulang!" kata Zhia dingin.
Sebenarnya Syauqi ingin mengajak Zhia jalan- jalan sebentar.
Namun dia tak ingin memaksakan kehendak Zhia, kemudian diantarnya sang pujaan hati kerumah.
************************************
Sesampainya di rumah Zhia langsung masuk ke kamar tanpa menyapa kedua kakaknya yang sibuk di melayani para pelanggan.
Dari pagi sampai sekarang Zhia juga tak keluar dari kamarnya.
Tia hanya mengira jika Zhia kelelahan.
Tiba-tiba Iyas tergopoh gopoh masuk kerumah sampai lupa salam.
"Zhia di mana, Mbak Tia?" tanya syauqi cemas.
"Masih tiduran di kamar, dari pagi belum keluar juga" jawab Tia.
Iyas semakin khawatir, pemuda alim itumengetuk pintu perlahan.
"Zhia... apa kamu sudah bangun? Keluarlah! aku mohon, aku akan menjelaskan semuanya. Apa yang kamu lihat semalam hanyalah salah paham," bujuk Iyas.
Namun Zhia sama sekali tak mau keluar. Iyas sampai bersimpuh di depan pintu, kekasih Zhia itu menangis menyesali kenapa sampai terjadi sesuatu yang tidak dia inginkan.
Tia yang menyusul ke dalam rumah merasa heran kenapa Iyas seperti itu.
"Bangunlah Iyas, kamu ini kenapa? Ada apa dengan kalian?" tanya Tia yang juga ikut khawatir.
Karena Zhia dan Iyas selama ini tak pernah bertengkar walau hanya sekali.
"Tolong bujuk Zhia, Mbak Tia. Katakanlah padanya jika aku hanya mencintainya. Tentang foto semalam aku hanya dijebak," kata Iyas tak kuasa menahan tangis, hatinya merasa nyeri dan sakit.
"Coba ceritakanlah dari awal! "pinta Tia.
"Semalam aku tidur di tenda dengan teman lelaki. Di tengah malam aku terbangun karena ada salah satu teman perempuan yang merayuku.Tapi demi Alloh mbak, aku langsung mengusirnya. Namun ketika ku buka ponsel ada gambar yang dikirimkan ke Zhia. Aku menelfon Zhia beberapa kali tapi tak diangkat, aku takut Zhia salah paham.
Namun aku juga tak bisa kembali karena tidak ada kendaraan di tengah malam. Pagi tadi aku langsung naik kereta dan baru saja sampai, aku langsung kesini."
Iyas menjelaskan secara jujur apa yang terjadi, pemuda itu sudah tak memikirkan tugas kuliahnya karena takut Zhia menangis dan bersedih. Bagianya Zhia adalah segalanya.
Iyas mengira Zhia marah padanya, Iyas terus meneteskan air mata dan masih mencoba mengetuk pintu Zhia.
"Zhia aku tahu kamu tidak tidur, bukalah pintunya! Aku mohon... lebih baik kamu marah padaku, pukul aku dari pada kamu diamkan aku seperti ini."
Iyas mengiba dan dia duduk bersandar di pintu kamar Zhia.
Tia sampai menangis melihat Iyas dan Zhia seperti ini.
Sampai dua jam Iyas masih dengan posisi yang sama,Tia menjadi sangat khawatir...
"Iyas, bangunlah dulu, tentu kamu belum makan dari pagi," kata Tia yang sudah menyiapkan makanan diatas meja.
"Dek Zhia, Ayo keluarlah. Bicarakan semuanya secara baik-baik. Jangan menyiksa diri kalian sendiri. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya," bujuk Tia sambil mengetuk pintu.
Tapi Zhia masih diam membisu.
Terimakasih sudah berkenan membaca karya saya. Jangan lupa Like dan Vote ya🙏
Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author.
Mohon kritik dan sarannya semoga novel CINTA YANG TERPAKSA bisa berkembang lebih baik lagi🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 285 Episodes
Comments
Ayudhiapink
aduh sedih aq
2022-01-17
0
DenMasHerryGrp
author kanji
2022-01-11
0
Dan Nusri
aku menangis. 😭😭😭😭😭
2021-12-21
0