Buih ombak bergemuruh melanda pasir putih.
Pohon bakau yang berjajar di sepanjang pantai membuat pemandangan semakin terlihat menyegarkan mata.
Zhia sengaja tanpa alas kaki berjalan berkeliling menikmati liburan yang singkat ini.
Zhia tersenyum manis melihat ibunya sedang bermain dengan cucu pertamanya,mereka berteduh di bawah pohon dan duduk santai di atas tikar.
Sedangkan Rian dan Tia tengah mengantri panjang di depan penjual es kelapa muda.
"Terima kasih banyak ya, mas Iyas. Karena udah mengajak keluargaku pihnik bersama," ucap Zhia pada Iyas.
"Iya, kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga," jawab Iyas kalem, kakinya yang menyeker memainkan air di pinggiran pantai.
"Bagaimana dengan kuliahmu, Mas Iyas?" tanya Zhia.
"Alhamdulillah lancar. Zhia... kapan kamu berencana masuk kuliah lagi?" tanya Syauqi balik, karena dia tahu ibunya Zhia sudah sembuh dan tak memerlukan biaya pengobatan lagi.
"Hem, sepertinya aku punya mimpi baru. Bekerja ikut orang rasanya capek dan tak punya waktu pribadi," jawab Zhia, sembari tangannya membenarkan jilbab yang berkibar diterpa angin laut.
"Kalau menjadi istriku kamu tak perlu bekerja. hanya mengurusku saja," kata Iyas serius.
Zhia tertawa lirih, menanggapi ucapan Iyas barusan sebagai candaan karena dia berpikir mereka masih terlalu muda.
"Kenapa tertawa? Aku serius, Kamu pikir aku ini hanya main-main?" timpal Iyas.
"Bukan begitu, aku masih punya mimpi yang belum terwujud," jawab Zhia lembut.
"Apa?" tanya Syauqi penasaran, dia berdiri tepat di depan Zhia.
"Setelah tabunganku cukup, aku ingin membuka usaha sendiri di depan rumah. Membuka tempat makan dan kue bersama Mbak Tia," jawab Zhia tersenyum riang.
"Kalau kamu ingin seperti itu, biar aku yang kasih modal. Aku punya tabungan banyak jadi berhentilah bekerja. Aku tak tega melihatmu kerja dari pagi sampai malam," Iyas mencoba membujuk Zhia namun Zhia masih berada di pendiriannya.
"Aku ingin sukses dengan hasil jerih payahku sendiri. Aku ingin membuat Ayah dan Ibuku bangga," jawab Zhia memberi pengertian.
"Baiklah... kalau tidak mau di bantu aku hanya bisa mendo'akanmu dan menyemangatimu. Tapi ingat! setelah mimpimu terwujud aku akan melamarmu secara resmi bersama keluargaku," kata Iyas tegas.
Iyas tidak pernah memaksakan kehendak Zhia, dia akan selalu mendukung apapun keputusan Zhia asalkan dia bahagia.
"Terimakasih, Mas iyas."
Zhia tersenyum, alangkah bahagianya Zhia memiliki seseorang seperti Iyas. Baginya Iyas adalah sosok sempurna suami idamannya, hanya saja dia memang belum siap untuk menikah.
"Zhia, pejamkan matamu dan ulurkan jarimu!" perintah Iyas lembut.
"Aku terlalu menyayangimu dan aku takut kehilanganmu, aku ingin kita bisa bersama selamanya," kata Iyas sambil melingkarkan cincin di jari Zhia.
Zhia terkejut dan menangis bahagia....
"Hei, kenapa menangis? Aku tidak memaksamu menikah sekarang," ucap Iyas cemas.
zhia tersenyuman sambil menganggukkan kepalanya dua kali.
Saking bahagianya Zhia sampai tak bisa berkata-kata.
Kemudian mereka berdua memandang lautan biru di depannya.
Berharap semoga cinta mereka bisa berlayar mulus sampai di Dermaga.
Teriakan Rian menyadarkan lamunan Zhia dan Iyas. Mereka berdua segera menyusul ke Rian.
Tidak sia-sia Rian dan Tia mengantri panjang, di tikar sudah ada kelapa muda siap makan dan beberapa cemilan.
"Ehem..." goda Tia ketika Iyas dan Zhia datang.
Semua fokus pada jari manis Zhia, dia pun tersipu malu.
"Ibu hanya bisa mendoakan, semoga Alloh meridhoi kalian," tutur ibunya Zhia.
"Aminn..." semuanya mengamini dan ikut merasa bahagia.
"Kalian kapan berencana menikah?"tanya Rian penasaran.
Zhia hanya tertunduk malu sambil meminum es kelapa mudanya.
"Sebenarnya aku ingin bisa secepatnya menikah, Mas Rian. Namun Zhia katanya belum siap dan masih ingin menggapai mimpinya," sindir Iyas melirik kearah Zhia, membuat Zhia semakin memerah.
"Alahkah cantiknya Zhia ketika tersipu malu seperti itu," batin Syauqi.
Semua hanya tersenyum.
Iyas melirik jam tangannya, sudah hampir jam sembilan siang.
Iyas mengajak semuanya siap-siap supaya Zhia tepat waktu kembali ke butik.
Meskipun pihnik singkat namun semuanya merasa berkesan dan bahagia.
Ketika mereka mau beranjak pulang, datang seorang fotografer keliling.
"Ayo mas foto keluarga, tak ada lima menit langsung jadi. Nanti dapat figura juga,"
kata bapak tua itu menawarkan jasanya.
"Iya, Pak. Ayo semuanya kumpul!" kata Iyas,
Selesai di foto Iyas menyusuri semuanya kembali ke mobil duluan, sedangkan dia sendiri ikut bapak itu untuk menunggu fotonya jadi,
Iyas meminta fotonya jadi tiga, ukuran 10 R.
"ini uangnya, Pak. Terimakasih ya," ucap Iyasyas sambil mengambil tiga bingkai foto.
"Mas ini kelebihan banyak,"kata orang tua tersebut.
"Tidak papa, bonus buat Bapak," jawab Iyas.
Iyas segera berlari menuju mobil. samar- samar dia mendengar bapak yang tadi mengucapkan terima kasih.
Iyas merasa hari ini adalah hari terindah dalam hidupnya.
"Lo, kok ada tiga?" tanya Rian.
"Satu aku, satu buat ibu, dan satunya lagi untuk Zhia" jawab Iyas sambil membagikan bingkai fotonya.
"indahnya..." ucap Zhia.
Dengan pemandangan pantai, dari pojok kanan Rian, Tia menggendong anaknya, ibuk, Zhia, dan Iyas.
"Kok aku nggak kebagian?"tanya Rian.
"Ini sama saja, nanti ditaruh di ruang tamu," jawab ibunya Zhia.
Sepuluh lebih awal mereka sampai di butik.
"Ada ada acara apa, Mbak Zhia,?" tanya salah satu pegawai.
"pihnik keluarga, aku keatas dulu ya" jawab Zhia kemudian langsung naik kelantai dua.
Nindy sedang sibuk ngobrol dengan dua tukang jahit, sedangkan Syauqi masih sibuk di ruang kerja.
"Assalamu'alaikum, mas Syauqi," salam Zhia.
"Wa'alaikumsalam, kok pulang cepat?"Syauqi menghentikan pekerjaannya.
"Kasian mas Syauqi kalau lama-lama," Zhia meletakkan bingkai foto di atas meja kerjanya.
Syauqi melihat dan matanya berhenti dijari manis Zhia.
"cincin itu... apakah mereka sudah bertunangan?" bisik Syauqi di hatinya.
Gejolak amarahnya seperti bom yang mau meledak, ingin rasanya Syauqi membanting foto di depannya dan melahap habis bibir Zhia. Namun itu hanya angan-angannya saja. Dia tidak bisak berkutik sedikitpun karena menyadari posisinya bukan siapa-siapanya Zhia.
"Aku berangkat kerja," Syauqi langsung keluar dan mengemudi mobil dengan kecepatan yang tinggi.
Zhia tak menyadari bagaimana hancurnya perasaan Syauqi.
*******************************
Di kantor suasana hati Syauqi sangat buruk, membuat semua karyawan jadi ketakutan karena serba salah.
"Kamu ini kenapa?" tanya Dony yang merasakan ada keanehan dalam diri Syauqi.
Biasanya semarah apapun Syauqi dulu hanya diam dan bersikap dingin. Namun kali ini dia meluapkan segala amarahnya.
Bruakk...
Semua barang yang ada di meja kerja di lempar Syauqi.
"Tenanglah.... semua masalah pasti ada jalan keluarnya" bujuk Dony menenangkan Syauqi.
"Lalu apa? Aku mau gila melihat cincin di jari manis Zhia," bentak Syauqi.
Dony langsung diam, Karena permasalahan itu menyangkut perasaan yang sulit baginya mencari celah.
Semenjak kejadian itu Syauqi sudah tiga hari tidak mampir ke butik lagi.
Di sisi lain Zhia tidak menyadari tentang penyebab kemarahan Syauqi.
Berbeda dengan Nindy yang sudah menyadari jika Syauqi marah karena cemburu.
Zhia memang terlalu polos dan lugu, dia tak menyadari jika Syauqi diam-diam mencintainya.
"Kak Elly besok pagi pulang"kata Zhia.
"iya, barusan aku juga dapat pesan," jawab Nindy.
"Akhirnya... aku bisa tidur di rumah lagi," ucap Zhia senang.
"Kenapa tidak di sini saja?" tanya nindi lagi.
"Tidak, aku merindukan suara tangisan keponakanku dan pelukan hangat ibuku. Aku juga ingin membantu kakak iparku karena dia sering mendapat pesanan kue," jawab Zhia.
"kamu memang gadis yang baik," puji Nindy.
Nindy sadar, Zhia memang berbeda dari yang lain.
Ketika gadis lain sibuk mengurus kecantikan wajah,Zhia justru tidak memperdulikannya.
mengenal Zhia membuat Nindy yakin, kecantikan yang sesungguhya ada didalam hati, bukan hanya polesan di luar.
************************
Setia malam Syauqi menghabiskan waktunya dengan minum-minum di Club'.
Dony sebagai sahabatnya selalu menemani dia, karena dia takut jika Syauqi marah maka di sekitarnya menjadi sasarannya.
"Kenapa kau menjadi seperti ini, Syauqi?" Ucap Dony.
"Zhia... aku merindukanmu..."
rintih Syauqi yang sudah mabuk berat,dia menangis.
Terimakasih sudah berkenan membaca karya saya. Jangan lupa Like dan Vote ya🙏
Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author.
Mohon kritik dan sarannya juga, semoga novel CINTA YANG TERPAKSA bisa berkembang lebih baik lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 285 Episodes
Comments
skyland city
lanjut thor sangat suka ceritanya 🙂
2022-06-16
0
Rosita Husin Zen
shauqi klo emng bener2 tulus suka senang dan sayang sama zhia knp ga trusterang / jujur aja sih ..jangan menyakiti diri sendiri atuh shauqi
2022-04-11
0
Nacita
ksihan juga ya s syauqi 😂
2022-03-17
0