Syauqi merasa resah karena sudah seminggu ini gadis muda yang dicintainya belum masuk kerja.
Aku merindukan masakannya...
Aku merindukan senyumnya...
Aku merindukan lembut suaranya...
Apakah aku sudah keterlaluan padanya?
Apakah dia akan menerima permintaan maafku?
Ahh tidak! Jangankan untuk memberi maaf, melihatku saja pasti tak Sudi.
Aku harus bagaimana?"
Syauqi tak bisa konsentrasi bekerja.
Dikantornya dia hanya melamun dan wajahnya terlihat suram.
Dony merasa kasihan juga terhadap sahabatnya, karena baru kali ini dia beneran merasa sayang pada orang tapi perasaannya bertepuk sebelah tangan.
"Mungkin alangkah baiknya jika kamu kerumahnya, aku yakin Zhia pasti akan memaafkanmu karena dia gadis baik, bahkan terlalu baik" Dony menasihati Syauqi.
"Benar Don, setidaknya aku harus berusaha,"
jawab Syauqi.
Siang ini Syauqi sudah bertekad bulat untuk kerumah Zhia dan meminta maaf.
Namun sesampainya di rumah Zhia hanya ada kakaknya iparnya.
"Dua jam yang lalu Zhia pergi bersama ibu dan Iyas, katanya mau ambil motor di butik" ucap Tia ramah.
Mendengar nama Iyas sudah membuat Syauqi merasa terpuruk tak berdaya.
"Ya sudah, saya pamit dulu, Mbak Tia."
Syauqi menahan kecewa, tapi dia tidak akan menyerah.
Ketika Syauqi berjalan mendekati mobilnya, Zhia datang dengan membonceng ibunya.
Melihat kedatangan Syauqi membuat Zhia merasa campur aduk, jantungnya berdetak kencang dan salah tingkah. Namun gadis itu mencoba tenang karena ada ibunya.
"Mari masuk, Nak Syauqi," kata ibu Zhia tersenyum ramah.
"Terima kasih, Bu. Saya di sini saja," tolak Syauqi sopan.
"Baiklah kalau mau berbicara dengan Zhia di luar, ibu masuk ke dalam dulu ya."
Setelah berpamitan Ibunya Zhia masuk ke dalam rumah.
Syauqi mengajak Zhia berbicara di bangku kayu yang terletak di bawah pohon anggur yang di bentuk seperti atap.
Zhia hanya diam saja membuat Syauqi merasa tegang.
"Maafkan aku, Zhia. Aku memang pantas dibenci" ucap Syauqi lemah.
Zhia memang marah, tapi dia tidak ingin kemarahan merusak dirinya sendiri.
Zhia menarik nafas perlahan dan memikirkan kata-kata yang tepat untuk Syauqi.
"Aku tidak membencimu, tapi aku membenci kelakuanmu yang merendahkan aku.
Aku perempuan muslimah yang tidak bisa kau sentuh sembarangan karena kita bukan muhrim. Aku berterima kasih karena kamu telah menyayangi aku dengan sebesar ini. Tapi sebelum aku bertemu denganmu aku sudah mempunyai seseorang. Aku juga meminta maaf karena tak bisa membalas perasaanmu.jadi kumohon mulai sekarang jangan ganggu aku lagi," jawab Zhia tegas dan menggunakan bahasa yang tidak formal.
"Terimakasih, Zhia. Sekarang aku pulang dulu."
Syauqi merasa sedih karena meskipun Zhia memaafkannya tapi dia tau apa maksud perkataan Zhia barusan.
Namun baru beberapa langkah Syauqi pergi, dia sudah kembali lagi di hadapan Zhia.
"Zhia... aku hanya ingin bilang jika aku sangat mencintaimu, mulai sekarang aku akan menjauh dari kehidupanmu. Tapi ingat, kepergianku bukan karena aku ingin melupakanmu. Aku hanya ingin membuat hidup orang yang aku cintai tenang dan bahagia."
Setelah berkata seperti itu Syauqi langsung masuk ke mobil.
"Don, sekarang pesankan aku tiket ke Jepang!"
perintah Syauqi lewat ponsel.
Sebelum pulang ke rumah Syauqi mampir ke butik dulu.
"Kak Tia, aku ada urusan pekerjaan di Jepang. Mungkin butuh waktu lama di sana," pamit Syauqi pada kakak perempuannya.
"Iya, jaga dirimu baik baik ya!"
Elly langsung memeluk adiknya.
Nindy yang mendengar perbincangan kakak beradik itu menjadi sedih.
Karena niat awal Nindy bekerja di butik ini demi Syauqi.
*****************************
Zhia masih menenangkan dirinya sendiri di bangku taman. Merasa bersalah karena melukai banyak orang, termasuk Syauqi sendiri.
Tiba-tiba Zhia tersadar dari lamunannya karena kedatangan Kakak iparnya yang membawa minuman dan kue.
"Lo, mana Syauqi?" tanya Tia.
"Sudah pergi, Mbak Tia," jawab Zhia lemah.
"Kamu kenapa sejak pulang ke rumah menjadi murung terus, dek?" tanya Tia yang memang sudah curiga dengan keanehan sikap adil iparnya.
"Ceritakanlah! biar hatimu lega," bujuk Tia lembut.
Zhia menundukkan kepalanya, tak terasa air matanya meleleh dan jatuh ke pangkuannya.
"Mas Syauqi menyatakan cinta padaku, Mbak. Tapi aku menolak karena aku sudah memiliki Mas Iyas," ucap Zhia bersedih.
Tia tersenyum, benar seperti dugaanya. pertama kali melihat Syauqi ada tatapan cinta yang besar untuk Zhia.
"Siapa yang kamu cintai?" tanya Tia.
"Mas Iyas"jawab Zhia yakin.
"Sudahkah kamu bilang pada Syauqi jika kamu mencintai iyas?" tanya Tia lagi.
"Sudah, Mbak Tia," jawab Zhia.
"Lalu bagaimana tanggapan Syauqi?" tanya Tia semakin penasaran.
"Dia bilang akan pergi dari hidupku bukan karena ingin melupakanku, tapi supaya aku hidup bahagia dan tenang" ucap Zhia mulai merasa tenang.
"Itu berarti Syauqi sudah merelakan kamu dengan Iyas, dan berharap kalian bahagia," tutur Tia menghibur Zhia.
"Tapi..." Zhia tak bisa melanjutkan kata- katanya.
"Kamu juga menyayangi Syauqi?" sela Tia.
Zhia yang langsung menggelengkan kepalanya.
"Aku hanya menyayangi Mas Iyas, dialah satu-satunya suami idamanku," jawab Zhia yakin.
Dari dulu memang Zhia selalu curhat apapun dengan Kakak iparnya, karena dengan sesama wanita dia merasa lebih bebas.
"Kalau begitu apa yang masih membuat kamu bersedih lagi, Dek Zhia?" tanya Tia yang tak bisa menebak hati Zhia.
Tia tak tega melihat adik iparnya bersedih. Baginya Zhia adalah adik kandung sendiri. Karena tia tak memiliki seorang adik, hanya punya kakak lelaki yang juga sudah menikah.
"Syauqi memang orang cuek, angkuh dan menyebalkan. Namun semakin aku mengenalnya ada sisi baik dalam dirinya yang tak dimiliki orang lain. Aku memang mencintai Mas Iyas, tapi aku juga merasa sakit ketika harus menyakiti perasaan Mas Syauqi," jawab Zhia jujur.
Tia hanya tersenyum mendengar pengakuan Zhia.
"itu karena kamu gadis yang terlalu baik. Mbak Tia masih ingat, dulu saat masih jadi pengantin baru, ada seeokor kucing yang tertabrak motor dijalan depan rumah. Kemudian kamu berlari sambil menangis menolongnya, kamu mengobatinya, merawatnya sampai sembuh. Hatimu terlalu lembut untuk menyakiti hewan sekalipun," tutur Tia.
Perkataan Kakak iparnya membuat Zhia mengerti, semua itu hanya perasaan iba seperti saat Zhia melihat seekor anak kucing yang tertabrak motor.
Perasaan Zhia mulai lega dan dia bisa tersenyum kembali.
"Terimakasih, Mbak Tia. Sekarang sebaiknya kita membicarakan bisnis saja. Aku tadi sudah mengundurkan diri sari pekerjaan. Majikan aku memberiku gaji dan bonus yang besar karena beberapa hari ini aku lembur menggantikan tugasnya."
Membicarakan bisnis membuat Zhia kembali bersemangat.
"Lalu apa rencanamu sekarang?" tanya Tia senang melihat Zhia yang ceria lagi.
"Aku ingin menyuruh orang menebang benerapa pohon besar di depan rumah. Kemudian membangun tempat makan dan toko kue. Kita juga bisa menerima pesanan," ucap Zhia.
"Rencana bagus, Mbak Tia juga ada sedikit tabungan. Semenjak kamu bekerja semua kebutuhan kamu yang beli, jadi hasil dari Mbak Tia jualan kue dan sisa gaji dari Mas Rian di tabung," jawab Tia tak kalah semangat.
Mereka mulai merencanakan membuat usaha sendiri, mereka yakin jika berusaha keras dan berdoa suatu saat kehidupan mereka akan berubah membaik.
Terimakasih sudah berkenan membaca karya saya. Jangan lupa Like dan Vote ya🙏
Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author.
Mohon kritik sarannya juga, semoga Novel CINTA YANG TERPAKSA ini bisa berkembang lebih baik lagi🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 285 Episodes
Comments
amanda
woo ke Jepang?kenapa bukan saja ke Mekkah gituuu loohhh
2023-01-30
0
mur ciyu...ah
kasian sauki...
2022-08-23
0
Rosita Husin Zen
klo udah takdir Tuhan ga ada manusia yg biasa menolak termasuk jodoh nya zhia ..semogah bahagia senang dan nyaman ya zhia takdir/ jodoh yg Alloh berikan gadis baik yg Sholeha
2022-04-11
0