Suara adzan berkumandang memanggil umat muslim untuk menunaikan kewajibannya.
Dinginnya angin yang berhembus menusuk sampai kedalam tulang, membuat sebagian orang memilih bersembunyi di balik selimut yang tebal.
Namun Zhia sudah terbiasa disiplin bangun pagi sejak kecil, selesai sholat dia mengerjakan pekerjaan rumah sendirian, karena kakak iparnya sudah semakin besar perutnya.
Setelah semua selesai Zhia mandi dan bersiap siap karena ini hari pertamanya kerja.
"Assalamu'alaikum,"salam dari luar.
"Wa'alaikum salam,"jawab Zhia dan Tia yang sudah menunggu di meja makan.
Setiap malam Rian dan Zhia bergantian menjaga ibunya di rumah sakit, dan semalam giliran kakaknya.
"Mas, bagaimana keadaan ibu?" tanya Tia.
"Besok sudah diizinkan pulang, tapi seminggu sekali masih harus kontrol di rumah sakit,"
"Alhamdulillah," ucap Tia dan Zhia bersama, mereka bersyukur karena keadaan ibunya Zhia sudah membaik.
"Dek, besok Mas nggak bisa ikut jemput Ibu!Kamu bisa nggak jemput Ibu sendirian?" tanya Rian sedikit cemas.
"Tenang saja, Mas Rian! Serahkan semua pada Zhia," jawab Zhia meyakinkan, dia tahu jika kakaknya masuk kerja siang.
"Minta tolong dianterin Iyas saja, Dek! Supaya nanti ada yang bantuin bawa barang barangnya ibu," saran Tia.
"Iya, Mbak Tia. Nanti Zhia coba menghubungi Mas Iyas," jawab Zhia.
Semua keluarga Zhia mengenal Iyas, begitu juga sebaliknya, karena ayah mereka dulu bersahabat.
Jam setengah tujuh Zhia pamit kepada kedua kakaknya, perkiraannya perjalanan menuju rumah majikan barunya sekitar tiga puluh menit.
Sesampai di sana Zhia terpaku, melihat rumah besar megah, dengan desain yang unik dan elegan.
"Zhia ..." panggil Elly dari belakang, disampingnya ada pemuda yang... sangat tampan, mereka sepertinya pulang dari jogging.
"Iya, Kak Elly?"
Zhia langsung menundukkan pandangan kebawah.
Sementara Pemuda tadi menatap tajam wajah Zhia, beberapa detik kemudian dia masuk kerumah tanpa sepatah kata.
"Kenapa tadi nggak langsung masuk saja? Oh ya, yang barusan adiknya Kak Elly, namanya Syauqi. Zhia, apa kamu bisa memasak?" tanya Elly sambil menggandeng lengan Zhia masuk kedalam rumah.
"Saya bisa, Kak Elly" jawab Zhia mantap, dia percaya diri kalau urusan dapur, karena memasak adalah hobi dia.
"Maaf ya jadi ngrepotin, pembantu kakak sedang cuti. Yasudah, kak Elly mandi dulu. Nanti setelah sarapan kita langsung berangkat! " kata Elly berlalu pergi.
Zhia melihat isi di kulkas, sayuran habis semua. Hanya ada telur tapi bumbunya masih komplit.
Zhia memutuskan membuat nasi goreng dan telur dadar, ada beberap buah mangga dia buat jus sekalian.
Tak butuh waktu lama semua sudah selesai, karena meskipun memakai gamis tapi Zhia sangat cekatan.
Elly dan Syauqi turun dari tangga, mereka penasaran dengan bau harum yang membuat perut semakin lapar.
"Maaf, Kak Elly. Sayurnya habis semua, yang ada cuma telur," kata Zhia lembut.
"Nggak papa! Nanti kita belanja sekalian, ayo duduk sini sarapan bersama! "ajak Elly sebelum menikmati hidangannya.
"Tadi saya sudah sarapan dirumah,Kak Elly," jawab Zhia bergegas melepas celemek dan menaruh lagi didapur.
Elly dan Syauqi merasa puas dengan masakan Zhia, bumbunya terasa pas dilidah.
"Gimana rasanya Qi?" tanya Elly.
"Lumayan!" jawab Syauqi.
"Gimana kalau tiap pagi Kakak suruh Zhia buat sarapan ya?" tanya Elly antusias.
"Terserah kakak!" jawab Syauqi.
Mereka berdua memang kakak-beradik, tetapi sifat mereka berbeda.
Elly cenderung suka mengobrol dan ramah, sedangkan Syauqi sebaliknya.
"Zhia ayo berangkat! Biar nanti diberesin pak Slamet saja," kata Elly langsung menenteng tas mewahnya.
Dirumah sebesar itu pekerjanya hanya dua orang, mereka bertugas membersihkan rumah saja. Karena Syauqi dan Elly penggila kerja yang jarang pulang kerumah.
Zhia merasa lelah, karena dari tadi mengikuti majikannya bepergian mengecek butik - butiknya yang ada banyak.
Kini mereka sedang di butik utama, luasnya dua kali lipat lebih besar dari butik kemarin saat Zhia interviuw.
Di lantai dua justru malah terlihat seperti apartemen.
Zhia bertugas membantu Bosnya mengecek laporan-laporan yang menumpuk.
"capek ya?" tanya Elly.
Zhia hanya tersenyum.
"Zhia, kalau mau istirahat nggak papa! nyantai saja. Kak Elly memang lebih senang menyibukkan diri dari pada duduk termenung," timpal Elly menghentikan aktifitasnya.
Dia beralih menatap Zhia yang diam, entah mengapa Elly merasa jika Zhia memiliki aura penyejuk, saat di dekat dia terasa damai.
"Satu tahun yang lalu,sepulang makan malam terjadi kecelakaan. Papa, suamiku, dan putriku yang baru berumur dua tahun langsung meninggal. Hanya Kak Elly dan Syauqi yang selamat karena kita duduk dibelakang. Semenjak saat itu, Kak Elly sering bermimpi buruk, dan menyibukkan diri supaya bisa mengalihkan pikiran ," ucap Elly sambil menangis, kedua tangannya menutupi wajahnya yang sembab.
Zhia tak bisa berkata apa - apa, dia dapat merasakan betapa pedihnya kehilangan orang yang paling berarti.
Zhia hanya bisa memeluk Elly supaya tenang.
Elly merasa damai dalam pelukan Zhia, melihat Zhia yang memakai jilbab dan menutupi auratnya, membuat hati Elly tergerak.
Dia sadar selama ini jauh dari Alloh, mungkin ini saatnya dia lebih mendekatkan diri supaya bisa ikhlas, merelakan mereka yang sudah tiada.
"Zhia, ajari aku tentang agama! Ajari aku menjadi wanita sholichah sepertimu! Aku ingin memulai hidup baru," pinta Elly sungguh - sungguh.
"iya, Kak Elly. Dengan senang hati,"
Zhia merasa bahagia melihat secercah harapan di mata Elly, dia tak habis pikir di balik keceriaan dan kehangatan bosnya selama ini ada luka yang mendalam.
"Zhia tolong ambilkan air dingin!" perintah Elly sambil menghapus air matanya.
"Iya, Kak Elly."
Zhia bergegas ke dapur, dia sendiri heran baru dua hari kenal dengan bosnya tapi kenapa sudah merasa sangat dekat, apalagi ketika tadi mendengar ceritanya, Zhia sampai tak bisa membendung air matanya.
Jam lima sore Syauqi ke butik utama kakaknya, memang sengaja Elly yang menyuruh.
"Qi, kamu temenin Zhia belanja sayuran ya?beli banyak sekalian buat stok satu minggu. Kakak sedang tidak enak badan, mau istirahat dulu!"
Setelah berkata pada adiknya, Elly masuk menuju kamar pribadinya.
Tanpa sepatah katapun Syauqi keluar dari butik, Zhia merasa kikuk tapi tetap mengikutinya di belakang.
Ketika Zhia mau membuka pintu mobil belakang, Syauqi yang sudah di depan stir langsung berkata dingin, "duduk depan! Aku bukan sopirmu."
Deg... jantung Zhia berdetak kencang, dia merasa takut dan tangannya segera pindah membuka pintu depan.
Di dalam mobilpun hanya ada kesunyian, keduanya sama-sama diam.
Tiba-tiba ponsel Zhia berbunyi, Zhia langsung mengangkat dengan wajah cerah, terlihat jelas kebahagiaan diwajahnya.
Syauqi yang di sampingnya melirik Zhia, kemudian fokus menyetir lagi.
Syauqi hanya bisa mendengar suara Zhia.
"wa'alaikumsalam,"
"Alhamdulillah lancar,"
"Alhamdulillaah ibu besok malem sudah bisa pulang, apakah besok sibuk, Mas Iyas?"
"Benarkah? Terima kasih ya, Mas Iyas?"
"Nggak usah Mas, aku berangkat kerjanya bareng Kakakku, sekalian satu arah jalannya,"
"ya sudah terima kasih ya, Mas Iyas?"
"Wa'alaikumsalam,"
Zhia berasa bahagia hanya mendengar suara Iyas, dia adalah pemuda ramah yang selalu baik pada Zhia, baginya Iyas seperti dewa penolong.
Di supermarket Zhia sibuk memilih sayuran dan kebutuhan dapur.
Syauqi mengikuti di sampingnya, tanpa disadari kedua tangan mereka bersentuhan saat mengambil buah anggur.
"Astaghfirullah," pekik lirih Zhia, diapun melangkah maju mencari buah yang lainnya.
Syauqi merasa aneh dengan gadis yang terlihat jauh lebih muda darinya.
Dia bisa melihat jelas wajah Zhia yang memerah.
Baru bersentuhan tangan saja sudah begitu, Syauqi jadi membayangkan bagaimana jika dia mencium bibir mungil Zhia? Bagaimana reaksinya nanti?
Ah... Syauqi merasa lucu sendiri sampai dirinya membayangkan hal seperti itu. tanpa dia sadari ada senyuman kecil dari bibirnya.
Setelah semua belanjaan dibayar di kasir, mereka membawa belanjaannya kedalam bagasi mobil.
Mereka segera pulang, dalam perjalananpun mereka hanya diam.
Sesampai dirumah, mobil Elly sudah ada diparkiran.
Ketika mereka masuk, mereka kaget melihat penampilan Elly yang berbeda, dia memakai gamis dan hijab.
Syauqi tanpa berkomentar langsung menuju kamarnya di lantai dua.
"Bagaimana penampilan Kak Elly? tanya Elly riang.
"Cantik... justru semakin terlihat cantik," jawab Zhia, diapun langsung menaruh belanjaannya di dalam kulkas.
"Zhia, kamu mau nggak mulai sekarang juga bekerja sebagai juru masak? Membuat sarapan dan makan malam saja! Masakanmu enak! Bikin ketagihan. Nanti ada bonusnya sendiri," tutur Elly berharap.
"Siap, Kak Elly! Sekarang Zhia numpang holat Maghrib dulu ya?" pinta Zhia.
Di dalam hatinya Zhia bersyukur karena memiliki bos yang baik.
Diapun juga bersyukur bila bonus gajinya banyak, dia bisa membelikan kado untuk calon keponaan dan ibunya nanti.
"Zhia kita sholat jama'ah ya? ada musolla kecil dirumah Kakak," ajak Elly bersemangat.
Zhia mengangguk sambil tersenyum.
Syauqi keluar kamar mau mengambil ponsel yang ketinggalan di mobil, saat melewati musholla dia terkejut dan sedikit terharu, melihat Kakaknya yang sedang sholat di belakang Zhia.
Hanya dalam dua hari kedatangan Zhia mampu merubah suasana di rumahnya.
Selesai sholat Elly kembali kekamar, sedangkan Zhia mengerjakan tugasnya di dapur.
Tak sampai tiga puluh menit semua sudah tersaji di atas meja, Zhia memanggil bosnya untuk makan malam.
Aromanya membangkitkan selera, Elly dan Syauqi turun langsung menuju meja makan.
"Ayo Zhia makan malam bersama!" ajak Elly
"Terima kasih, Kak Elly. Zhia makan dirumah saja,"tolak Zhia sopan.
"Eh, nggak boleh menolak, mulai sekarang kamu sarapan dan makan malam disini saja!" bujuk Elly pada assistennya.
Zhia sungkan menolak lagi, diapun ikut makan bersama bosnya.
Zhia senang melihat Elly dan Syauqi sepertinya sangat menikmati masakan Zhia.
* Terimakasih sudah berkenan membaca karya saya, jangan lupa like, vote dan beri rating bintang 5. Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Authoor.
Mohon kritik dan sarannya juga, semoga kedepannya novel ini bisa lebih baik🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 285 Episodes
Comments
skyland city
lanjut
2022-06-16
0
Rosita Husin Zen
bagus juga certanya lanjuut
2022-04-11
0
Ardika Zuuly Rahmadani
bener" cerita ringan tpi menarik, gk tau kelanjutannya,
2021-12-20
0