Detik terus berputar berganti hari, meninggalkan sejuta cerita dalam memori.
Ada yang menghilang ada yang hadir, ada yang gugur ada pula yang tumbuh, begitulah kehidupan.
Tiada terasa satu bulan genap Zhia bekerja, dan dia sudah mendapatkan gaji yang jika dibandingkan dengan pekerjaan lamanya mungkin butuh waktu tiga bulan.
Zhia bersyukur disetiap kesulitan Alloh selalu memberi kemudahan.
Zhia sudah berencana sepulang kerja mau membeli hadiah untuk keponakan perempuan yang baru lahir tadi pagi, dia juga ingin membeli beberapa hadiah untuk keluarganya, Bu Dewi dan Mas Iyas, sebagai wujud terimakasih atas do'a mereka selama ini.
Zhia menyetir dengan kecepatan sedang, tiba-tiba roda belakang bejalan tidak stabil.
Zhia menghentikan motornya dan mengecek, ternyata bannya sobek beberapa senti karena terkena sayatan benda tajam.
Zhia melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul tujuh, Zhia menoleh ke kanan kiri namun jalanan sepi.
Rintik air hujan mulai turun semakin deras, Zhia menyelamatkan barang-barang yang barusan dibeli, dia tutupi pakai mantel supaya tidak basah.
Dia berpikir lebih baik dirinya yang kehujanan, dari pada kue-kue yang tadi dibeli hanya terbungkus kardus.
Zhia menepi di bawah pohon rindang, dengan terburu-buru dia mengambil ponselnya,
"Mas Iyas, tolong jemput aku! Ban motorku bocor, aku kehujanan di Jalan Cempaka," tanpa melihat layar ponselnya Zhia menutup teleponnya dan buru - buru memasukkan ponselnya kedalam tas takut basah.
Hanya berselang beberapa menit ada mobil yang berhenti di samping motor Zhia, mobil itu bukan milik iyas.
Zhia hanya menatap diam cukup lama, akhirnya orang yang berada di dalam mobil habis kesabaran, dia keluar dan tanpa basa-basi menyeret tangan Zhia, memaksanya masuk kemobil.
"Sebentar, belanjaanku," Zhia mau keluar tapi langsung ditutup oleh orang itu yang ternyata adalah Syauqi Malik.
Zhia hanya melihat Syauqi yang dengan cekatan menaruh semua barangnya di mobil belakang, kemudian dia masuk dan duduk di samping Zhia.
"Kok, Mas Syauqi ..."
"Buka ponselmu! Dan lihat panggilan keluar!" sela Syauqi, bahkan Zhia belum selesai bertanya.
"Astaghfirullah, aku keliru memanggil kak Elly, pasti mas Syauqi langsung dipaksa untuk kesini," batin Zhia, dia merasa teramat malu.
"Terus bagaimana dengan motorku?" Zhia bingung.
"Tenang, sebentar lagi ada montir yang mengambil," jawab Syauqi.
Dan benar saja, lima menit kemudian datang mobil pick up langsung membawa motor Zhia pergi.
Syauqi sudah memperkirakan semuanya sejak awal, diapun melajukan mobilnya pelan.
"Bukannya Mas Syauqi di Singapura ?" tanya Zhia penasaran.
"Baru saja pulang, kamu tau sendiri kan Kak Elly bagaimana?" tutur Syauqi dengan nada suara yang mencair, membuat Zhia merasa tidak enak.
Apalagi Zhia tahu, kalau Syauqi orang yang cuek dan gak perduli. Meskipun begitu dia selalu menurut pada kakaknya.
Padahal sebenarnya tadi Syauqi yang baru pulang kerumah, sedang duduk dimeja makan.
Kemudian saat kakaknya mengambil minum di dapur, ponsel kakaknya berbunyi.
Tak sengaja Syauqi melihat nama Zhia yang tertera di layar, diapun langsung mengangkat karena penasaran sudah seminggu tak mendengar suaranya.
Sebenarnya Syauqi juga tahu jika Zhia salah sambung, karena tadi memanggil dengan sebutan Mas Iyas.
Antara kesal dan kasihan dia langsung bergegas keluar rumah dan menjemput Zhia.
"Yang dibelakang apa saja kenapa banyak?" tanya Syauqi datar.
"Hadiah buat anak kakakku yang baru lahir, buat keluargaku, Bu Dewi dan Mas Iyas" jawab Zhia senang, terlebih sikap Syauqi yang mulai berubah sedikit, karena dulu awal dia bekerja Syauqi sangat sinis nggak pernah mau bicara.
Mendengar kata Mas iyas membuat raut wajah Syauqi kembali jutek, namun Zhia tak menyadarinya.
"Jalannya arah mana?" tanya Syauqi, karena dia belum tahu alamat rumah Zhia.
"Lurus saja, Mas Syauqi! Nanti kalau ada belokan saya kasih tau," jawab Zhia sambil kedua tangannya bersedekap, dia kedinginan karena tadi kehujanan.
Syauqi melirik ke arah Zhia... Astaga... Hatinya berdesir keras melihat baju Zhia yang basah kuyup, karena bagian dadanya yang biasa ditutupi jilbab itu terlihat memuncak indah, bentuk pinggangnya terlihat ramping bagai biola Spanyol.
"Sialan..." lirih Syauqi.
"Apa, Mas Syauqi?" tanya Zhia yang seperti mendengar sesuatu.
"oh, ambilkan jaket yang ada di belakang kursiku!" perintah Syauqi, rupanya dia tak tega juga melihat Zhia menggigil kedinginan.
Zhia berdiri dan berbalik mengambil jaket di kursi belakang, karena letaknya agak jauh terpaksa kedua lutut Zhia bertumpu pada kursi, dan dia menghadap belakang, Zhia merasa agak kesulitan mengambilnya.
Syauqi melirik Zhia dengan posisi seperti itu, membuat pikiran waras nya menjadi kacau, karena lekukan tubuh Zhia yang menggoda membuat dia ingin memeluk dan menggumulinya.
Syauqi adalah pria normal yang mempunyai nafsu tinggi, namun selama ini dia selalu berhasil menahan diri.
Syauqi segera menghentikan mobilnya dan dia mengambil sendiri jaket yang berada tepat di belakang kursinya.
"Nih tutupin tubuhmu!," perintah Syauqi sambil melempar jaketnya kearah Zhia.
Seperti yang sudah Syauqi duga, wajah Zhia langsung memerah begitu dia menyadari jika lekukan tubuhnya terlihat jelas.
Zhia meras malu sekali, seakan Zhia ingin lari jauh.
Syauqi hanya tersenyum kecil melihat Zhia yang tingkahnya sangat menggemaskan.
Jam setengah sembilan Zhia baru sampai di rumah, hujan sudah reda dan di teras ada ibu Zhia yang menanti.
Zhia langsung keluar dari mobil.
"Kenapa Ibu berdiri diluar? Ayo masuk nanti kesinginan," tegur Zhia cemas,
"Ibu nggak bisa tenang kalau kamu belum pulang, siapa dia nak?" tanya ibunya Zhia, dia terpana melihat ketampanan pemuda yang berada di samping putrinya.
"Ini Mas Syauqi, adiknya Kak Elly! Tadi dijalan ban motor Zhia bocor, lalu ditolong Mas Syauqi" kata Zhia menjelaskan.
Ibunya Zhia langsung menyuruh mereka masuk, tak lupa Zhia mengambil barang- barang yang masih di dalam mobil.
Syauqi sudah berganti pakaian, dia memakai baju koko dan sarung milik Kakaknya Zhia, dia merasa sungkan menolak permintaan ibunya Zhia.
Ternyata seluruh keluar Zhia memakai pakaian muslim termasuk Kakaknya Zhia, dia hanya memakai celana panjang saat bekerja karena kewajiban berseragam.
Zhia masih mandi, sedangkan Syauqi duduk termenung menyaksikan keluarga sederhana Zhia yang sangat bahagia.
Apalagi ketika mereka membuka hadiah dari Zhia semuanya terlihat senang sekali.
Syauqi merasakan nyaman dengan kehangatan mereka, membuat dia betah berlama-lama berada disana.
Kemudian terdegar dering dari ponselnya, setelah dilihat ternyata kakaknya, dia tahu jika kakaknya pasti khawatir, karena tadi Syauqi menghilang tanpa pamit.
"Buk, saya pamit dulu, sudah malam," ucap Syauqi sopan.
"Iya, Nak Syauqi. Hati-hati di jalan ya?" balas ibu Zhia ramah.
"Terimakasih sudah menolong adik saya, Mas Syauqi," timpal Kakaknya Zhia.
Syauqi hanya mengangguk tersenyum pada kakak zhia dan Istrinya yang memangku bayi kecil, diapun melirik sekilas kearah Zhia yang juga tersenyum manis.
Zhia baru kali ini melihat Syauqi tersenyum tulus, membuat ketampanannya bertambah.
Tapi bagi Zhia fisik bukanlah yang utama, keimanan dan ketaqwaan adalah yang paling penting. dia jadi teringat Iyas...
"Oh iya, aku harus menghubungi mas Iyas dulu". batin Zhia.
Zhia mencium keponakan kecil kecil terlebih dahulu, dia masih belum tidur membuat semua orang ikutan begadang. kemudian Zhia pamit tidur pada keluarganya,
"Assalamu'alaikum," sapa Zhia lewat ponsel.
"Wa'alaikum salam, tumben menghubungi duluan, kangen aku ya?" goda Iyas manis.
"Tidak, besok Mas Iyas bisa nggak nganterin aku kerja jam enam pagi?" tanya Zhia tertawa lirih.
"Sangat bisa," jawab Iyas penuh semangat.
"Ya sudah, besok aku tunggu ya? Sekarang aku mau istirahat dulu, sudah malam," pamit Zhia.
"iya, calon istriku. Selamat bobok, Mimpi indah ya? Assalamu'alailkum" ucap Iyas penuh perhatian.
"Wa'alaikumsalam" jawab Zhia tertawa kecil, Iyas memang sering becanda tapi sangat sopan.
Zhia segera bersiap-siap tidur dan tak lupa membaca do'a dulu.
Jam enam pagi Iyas sudah datang dirumah Zhia, dia membawa oleh-oleh martabak manis dua kotak besar.
Setelah pamit Zhia dan Iyas masuk ke mobil.
Di sepanjang perjalanan Zhia menceritakan dengan jujur kenapa motornya masuk bengkel.
"Aku cemburu," Iyas mendengus kesal. namun gaya marahnya Iyas tetap manis.
"Ya Alloh, Mas Syauqi, itukan salah pencet, niatnya semalem mau nelpon Mas Iyas" terang Zhia sedih.
Iyas langsung tersenyum karena dia tak pernah tega membuat Zhia bersedih.
"iya iya... aku mengerti kok," jawab Iyas menghibur.
wajah Zhia menjadi cerah kembali.
"Ini buat Mas Iyas, yang satunya nitip buat Bu Dewi, nanti tolong di berikan saat bertemu di kampus," kata Zhia.
"cie, yang baru gajian," ledek Iyas.
Hatinya pun senang mendapat hadiah dari pujaan hatinya.
Zhia membelikan Iyas jam tangan,sedangkan Bu Dewi Jilbab.
Sampai di depan rumah bosnya Zhia turun, tak lupa mereka selalu mengucapkan salam.
Selepas kepergian Iyas, Zhia langsung menuju ke dapur memasak dulu.
Tepat jam tujuh hidangan sudah siap di atas meja makan, biasanya Elly jogging bersama adiknya, tetapi kini sendirian.
"Aku mandi dulu, Zhia. kamu tolong bangunin Syauqi ya!" perintah Elly.
"baik, Kak Elly."
Zhia melepas celemek yang melekat pada tubuhnya, kemudian dia naik kelantai dua menuju kamar Syauqi.
Pintunya tidak dikunci, tapi Syauqi dipanggil - panggil tidak menyahut.
Zhia masuk kedalam kamar yang luasnya lima kali lipat dibanding kamarnya sendiri. Zhia terkejut melihat wajah Syauqi yang pucat.
Selama ini Zhia takut menyentuh kulit lelaki yang bukan muhrim, tapi karena keadaanya genting diapun menyentuh pelan kening Syauqi.Panas Zhia langsung memanggil majikannya.
Elly sangat khawatir melihat adiknya sakit, segera dia menelpon dokter untuk datang kerumah.
"Tolong buatin bubur ya, Zhia!" perintah Elly, dia sangat cemas.
Tanpa menjawab Zhia langsung turun kedapur membuat bubur. Lima belas menit kemudian bubur sudah matang, Zhia segera mematikan kompornya.
"Kita sarapan dulu, Zhia!" ajak Elly yang ada di belakangnya.
"Terimakasih, Kak Elly!" kata Zhia menyusul bosnya duduk di meja makan.
Mereka makan tergesa-gesa supaya cepat selesai, karena pagi ini Elly ada pertemuan penting diluar kota.
"Mas Syauqi demam, badannya terlalu kecapean dan kehujanan. Jangan sampai telat makan dan minum obatnya! Supaya cepat sembuh," kata dokter pada Elly.
"Iya Dok, terimakasih banyak ," jawab Elly.
dokter tadi pun pamit pulang.
"Zhia, hari ini bik inah libur. Sebaiknya kamu di sini saja jagain Syauqi! Kasihan kalau dia nanti butuh apa-apa," pinta Elly berharap pada Zhia,
"Baiklah, Kak Elly," Zhia langsung menyetui, karena dia sadar, Syauqi sakit gara-gara menolong dia semalam.
* Terimakasih sudah berkenan membaca karya saya, jangan lupa like, vote dan beri rating bintang 5. Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Authoor.
Mohon kritik dan sarannya juga, semoga kedepannya novel ini bisa lebih baik🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 285 Episodes
Comments
Yantie
udah baca ini beberapa kali pertama baca tahun 2019 tapi kenapa baru ngeh Iyas bawa martabak manis jam enam pagi emg ada yah yg jualan martabak pagi pagi
2023-10-14
1
skyland city
lanjut thor
2022-06-16
0
Say Yang ,sama2
siapa cepat,,,dia yang dapat,,,
2022-04-26
0