Jam enam pagi Zhia sudah bersiap-siap berangkat kerja, karena mulai sekarang dia juga bekerja memasak di rumah majikannya.
Zhia sengaja tidak membawa motor sendiri, karena nanti pulangnya dijemput Iyas, sekalian mampir kerumah sakit menjemput ibunya.
Setelah turun dari motor Kakaknya, tak lupa Zhia berpamitan, setelah itu dia langsung masuk kerumah bosnya.
Di dalam ada seorang wanita separuh baya, mungkin dia pembantu yang kemarin cuti.
"Assalamu'alaikum," salam Zhia.
"Wa'alaikumsalam. Oh, ini pasti neng Zhia ya? Nyonya Elly masih jogging sama Tuan Syauqi," tutur ibu didepannya.
"Terimakasih, Bu," jawab Zhia tersenyum ramah.
"Jangan panggil saya Bu ! Tapi Bik Inah saja!" timpal bik Inah senang.
"Baiklah, Bik Inah. Sekarang Zhia masak dulu ya?" pamit Zhia.
"Biar Bik Inah bantuin ya? ," tawar Bik Inah.
"Tidak usah Bik! Saya sudah terbiasa masak kok. Pasti Bilk inah kerjaannya masih banyak, mending diselesaikan dulu "tolak Zhia lembut.
"Ya sudah neng, Bik inah beresin kamar Nyonya Elly dulu ya?" pamit Bik Inah.
Zhia hanya menjawab dengan senyuman manisnya.
Mulai hari ini Zhia ikut sarapan bersama bosnya.
Setelah itu dia siap-siap mengikuti bosnya keluar rumah menuju parkiran.
Di sana juga ada Syauqi yang masih berada di mobil miliknya sendiri.
"Qi, jangan lupa jam satu siang kamu kebutik utama Kakak, kita berangkat bersama!" kata Elly.
"Iya, Kak Elly!" balas Syauqi singkat,lalu langsung melajukan mobilnya.
"hem... tu anak,memang seperti itu sifatnya," kata Elly pada Zhia.
Zhia hanya tersenyum menanggapi majikannya.
Jam dua belas siang, Elly menyuruh Zia ganti baju sesuai pilihannya, dan dia juga memakaikan make up pada wajah Zhia, saat natural saja sudah sangat cantik, apalagi setelah dirias.
"Sempurna!" Elly berdecak kagum dengan hasil karya sendiri.
"Kita mau kemana, Kak Elly? kenapa aku juga mesti dandan dulu?" tanya Zhia penasaran, karena Elly juga memakai baju yang sama hanya beda warna.
"Acara pernikahan saudara," jawab Elly.
Tak lama kemudian muncul Syauqi, dengan sepatu, celana dan jas putih yang juga penampilannya terlihat sempurna.
Dia memandang Kakaknya yang memakai jilbab dan gamis warna kuning kunyit, kemudian matanya beralih ke Zhia yang berwarna serba putih.
Tanpa disadarinya mata Syauqi tak bisa berpindah, dia terus menatap Zhia yang sangat mempesona. Apalagi setelah wajahnya dipoles make up, Syauqi mengakui baru kali ini melihat wanita seanggun dan secantik Zhia.
"Hem ...kapan kita berangkat?" goda Elly, namun Syauqi cuek, dia langsung berbalik dan berjalan keluar.
Zhia sebenarnya sangat malu ditatap Syauqi seperti tadi, apalagi mereka memakai baju yang warnanya sama.
Zhia mengakui Syauqi sangat tampan, badannya bagus dan tinggi, hanya sayang Zhia kurang suka dengan sifatnya yang terlihat sombong dan angkuh.
Saat perjalananpun Mata Syauqi masih tak bisa berhenti melirik spion di atasnya, lewat sana terlihat jelas Kakaknya yang sibuk main ponsel dan Zhia yang melamun menatap jendela,
Syauqi merasa aneh, dia bingung kenapa jantungnya berdetak lebih kencang, padahal selama ini Syauqi sudah kenal berbagai jenis wanita dari kalangan atas yang jauh lebih sexi,namun kenapa pesona mereka tidak semenarik Zhia.
Memang sudah beberapa kali Syauqi sempat memiliki kekasih, bahkan sudah merasakan bibir mereka, namun hanya beberapa bulan saja bertahan, karena Syauqi tak benar benar menginginkannya. Syauqi melirik lagi ke kaca spion,
"Bibir itu, ingin sekali rasanya aku menciumnya," bisik Syauqi dalam hati.
"Qi..." sapa Elly membuat Syauqi terkejut, dia takut ketahuan kalau dari tadi diam - diam mengintip lewat kaca spion.
"Hem... " balas Syauqi dingin.
"Kamu siap-siap ya? Nanti kata paman mau dikenalin sama anak temannya," kata Elly.
"huh," Syauqi hanya mendengus kesal.
Syauqi sudah berusia dua puluh delapan tahun, tapi dia tak pernah memikirkan hubungan yang serius.
Padahal banyak wanita yang mendekatinya namun berujung diabaikan.
Hanya beberapa yang pernah membuat Syauqi tertarik, namun hubungannya tak bisa bertahan lebih dari tiga bulan.
Dia tak suka wanita yang posesif dan yang merepotkan.
Karena Syauqi menyukai kebebasan dan suka seenaknya sendiri.
Pesta pernikahan saudara bos Zhia diadakan dirumah mereka sendiri, sangat megah dan mewah.
Zhia berjalan beriringan dengan Elly, Zhia merasa malu karena sepertinya jadi pusat perhatian banyak orang.
Tiba - tiba tangannya digenggam erat oleh Syauqi, Zhia tersentak kaget dan mencoba melepaskan tangan Syauqi, namun tak bisa karena genggaman tangan Syauqi sangat erat.
"Diamlah!" bisik Syauqi tepat ditelinga Zhia yang tertutupi jilbab.
Seketika Zhia merasa merinding seluruh tubuhnya, wajahnya memerah.
Elly hanya tersenyum menyaksikan adegan di sampingnya.
"oh ... keponakan kesayangan Paman sudah datang ya?" sapa seorang lelaki tua sekitar umur 55 tahun, dia adik dari almarhum Papanya Syauqi. Wajah mereka juga hampir mirip.
"Bagaimana kabar paman,?"sapa Elly sambil tersenyum hormat.
"Baik... gadis itu siapa?"lirik Pamannya kearah Zhia.
"Nyonya Syauqi," jawab Elly melirik kemata adiknya.
"Kau berhutang padaku Qi," batin Elly.
Dia sangat mengenal adiknya, Syauqi merasa jengah tiap kali berkunjung kerumah pamannya pasti selalu mau dijodohkan.
Kali ini dia sengaja membawa Zhia supaya pamannya berhenti mencari gadis untuk dijodohkan dengan adiknya, karena Elly ingin adiknya bersama pilihannya sendiri,
Berharap dalam hatinya suatu saat Zhia menjadi adik iparnya beneran, Elly sangat menyukai dengan kepribadiannya Zhia yang cantik luar dalam dan pintar memasak.
Acara berlangsung cukup lama, selepas sholat Maghrib Zia di make up lagi sama bosnya, karena pesta belum selesai.
"Zhia Paman melarang kita pulang, apa kamu nggak papa menginap disini?" tanya Elly.
"Maaf, Kak Elly. Aku tidak bisa, setelah ini saya mau menjemput ibu di rumah sakit.
Saya nanti bisa pulang sendiri naik taxi,"
tolak Zhia lembut.
"Baiklah, nggak papa. nanti pulangnya sama Syauqi saja! Dia dari dulu nggak pernah mau berkumpul bersama saudara," ucap Elly.
Zhia jadi teringat kejadian tadi, rasanya tak rela tangannya digenggam erat oleh adik bosnya.
Iyas yang bertahun - tahun sudah mengenalnya saja belum pernah berani menyentuh tangan Zhia.
Tapi Zhia juga sadar dirinya hanya dijadikan alasan supaya pamannya berhenti mengenalkan wanita pada Syauqi.
Dalam perjalanan mereka berdua hanya diam, sedangkan Zhia sibuk memegang ponsel.
Dia menyuruh Iyas satu jam lagi menjemput di rumah Bos.
"Kamu marah tadi aku pegang tangannya?"
tanya Syauqi memecah keheningan.
Zhia sempat terkejut mendengar Syauqi mau berbicara,
"Tidak, hanya saja terkejut" Zhia mengelak,
"mana berani aku mengakuinya."
"Memang belum pernah dipeluk kekasihmu?" tanya Syauqi penasaran.
Zhia mendengar pertanyaan itu wajahnya langsung merona, Syauqi menikmati reaksi gadis disampingnya.
"Bukan muhrim dilarang bersentuhan kulit," jawab Zhia polos.
What...?
Syauqi merasa kesal hampir lima belas menit mengantri di pom bensin, dia melirik gadis di sampingnya yang sudah tertidur.
Ponsel yang dari tadi dia pegang sampai tergeletak diatas pangkuannya, Syauqi terus menatap Zhia, semakin lama semakin cantik...membuat jantung Syauqi berdetak kencang,tanpa sadar cupp Syauqi mengecup lembut bibir Zhia.
Untung saja gadis itu tidak terbangun.
Syauqi merasa aneh melakukan hal konyol itu tapi dia juga tidak menyesal, dia yakin pasti ini ciuman pertama bagi Zhia.Syauqi membayangkan bagaimana reaksinya kalau Zhia sampai tau?
Syauqi merasa penasaran ada seseorang di depan rumahnya, pemuda itu menyender di samping mobil.
"Sudah sampai?" tanya Zhia yang baru terbangun, dia sambil melihat dari luar jendela, melihat siapa yang sedang menunggunya.
Zhia langsung keluar dari mobil menemui Iyas.
Syauqi langsung memarkirkan mobilnya kemudian masuk ke kamarnya, entah kenapa ada perasaan kesal di hatinya.
"Sudah lama Mas Iyas menunggu?"
"Enggak, cuma sekitar lima belas menit," sindir Iyas sambil tertawa bersama Zhia.
Bersama Iyas, Zhia selalu merasa aman, karena dia sangat manis, hangat, dan selalu ada saat Zhia butuh.
"Yang barusan itu Syauqi ya?"tanya Iyas menyelidik, namun matanya fokus menatap jalan.
"iya..." jawab Zhia.
"Sangat tampan ya?"goda Iyas.
"Iyaa... eh, maksudku semua laki-laki pasti tampan," sergah Zhia, dia tau ada nada kecemburuan dari pertanyaan Iyas.
"Kamu menyukainya?"Selidik Iyas.
"hmm, bagaimana ya?" gurau Zhia sengaja mempermainkan Iyas, setelah puas kemudian dia Zhia tertawa.
"Di hatiku sudah ada seseorang,"ungkap Zhia dengan mimik serius.
"Siapa, Aku?"tebak Iyas semangat.
"ye... Anda terlalu percaya diri," sergah Zhia tertawa lagi.
Iyas yakin jika yang dimaksud adalah dirinya, karena selama ini lelaki yang dekat dengannya hanya Iyas, karea Zhia selalu menjauh bila ada lelaki yang minta kenalan. Mengenai Syauqi pun pasti karna tuntutan kerjaan.
Setelah menjemput ibunya Zhia di rumah sakit, mereka langsung pulang.
Iyas sangat perhatian pada ibunya Zhia, membuat Zhia semakin kagum padanya.
Ibunya Juga menyukai Iyas, dia yakin jika suatu saat anaknya menikah dengan Iyas pasti mereka bahagia.
"Nak, apakah kamu menyukai Iyas?"tanya ibunya Zhia, sedangkan Zhia hanya tersenyum malu lalu memeluk ibunya yang berbaring istirahat di kamar.
"Dia memang pemuda baik, dari pancaran matanya terlihat dia sangat menyayangimu,"kata ibunya,tangannya mengelus elus kepala Zhia.Zhia hanya diam dan terlelap dalam mimpi indah.
* Terimakasih sudah berkenan membaca karya saya, jangan lupa like, vote dan beri rating bintang 5. Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Authoor.
Mohon kritik dan sarannya juga, semoga kedepannya novel ini bisa lebih baik🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 285 Episodes
Comments
Ayu Nuraini
jodoh g ada yg tau Bu...
2024-03-23
0
Aysana Shanim
Heyy heeyyy dilarang cap cip cup ke gadis sholeha yaa.. 😳
Main sosor aja syauqi nih
2023-01-16
0
Lasmi Kasman
Main cium aja sysqi
2022-03-15
0