Tiada usaha yang menghianati hasil, itulah kata pepatah.
Kini usaha keluarga Zhia semakin lancar. Rian yang dulunya bekerja di pabrik sekarang membantu di rumah karena semakin banyaknya orderan.
Karena makanannya enak dan tempatnya nyaman dan higienis membuat pengunjung merasa puas.
Omset mereka selama beberapa bulan ini bahkan bisa menaikkan haji ibunya Zhia dan kedua orang tua Tia.
"Ini bayaran pesanan kuenya bos cantik," goda Iyas sambil memberikan uang kepada Zhia, pemuda ramah itu baru pulang setelah mengantarkan pesanan kue.
"Mas Iyas, duduk dulu biar aku buatin minuman yang segar ya!" ucap Zhia lembut.
Zhia bersyukur karena Iyas selalu membantu dia di saat tak ada jadwal kuliah.
"Baiklah," jawab Iyas tersenyum senang.
"Dek, Mas Rian juga ya," pinta Rian yang juga baru pulang dari mengantar pesanan.
"Siap!" jawab Zhia bersemangat.
Sedangkan Tia masih sibuk mengurus pelanggan yang makan di tempat.
Alifya sekarang juga sudah bisa berjalan, keponakan kecil Zhia itu sedang di ajak jalan-jalan sama saudaranya.
Melihat kesibukan kakak iparnya Zhia, Iyas langsung berdiri dan membantunya.
Gerakan Iyas sangat luwes, membuat pemuda tampan itu terlihat seperti pelayan.
Tiba-tiba ada mobil masuk ke pekarangan, lalu keluar wanita cantik memakai kaca mata hitam.
"Assalamu'alaikum," Salam Nindya.
"Wa'alaikum salam" jawab Zhia yang baru selesai meletakkan dua minuman es jeruk di atas meja.
Nindy duduk dan merasa senang melihat usaha Zhia yang sekarang lancar. Terakhir dia mampir ke sini lima dua bulan yang lalu.
"Wah! selamat ya, akhirnya impianmu terwujud," ucap Nindy ikutan senang.
"Iya, Nindy. Terimakasih banyak." jawab Zhia ikut duduk di depan kursi yang saling berhadapan dengan Nindy.
Rian yang baru minum sudah langsung pamit karena banyak pesanan, sedangkan Tia yang selesai menyapa Nindy juga langsung pamit ke dalam karena kerjaannya masih banyak.
Kemudian Iyas datang dan menawarkan minuman.
"Ini temannya Zhia ya? Mau minum apa? Zhia juga mau minum apa?" tanya Iyas ramah.
"Aku es jeruk,"jawab Nindy.
"Aku sama saja," jawab Zhia.
"Baiklah, Zhia. Kamu nyantai ngobrol sama temenmu dulu, sekalian istirahat. Biar urusan belakang aku yang mengerjakan," Kata Syauqi perhatian.
Kemudian pemuda itu langsung masuk kedalam.
"Hmm manisnya, bikin iri saja," Kata Nindy antusias.
Nindy kadang merasa iri karena Zhia mendapatkan pasangan yang sangat mencintainya sampai rela melakukan apapun juga. Sedangkan kisah cintanya sendiri selama ini pada Syauqi hanya sekedar penantian dan penantian yang tak berujung.
"Hey, kok melamun?" tanya Zhia membuat Nindy terkejut.
"Ahh tidak kok. Aku kesini punya dua kabar gembira," Kata Nindy tersenyum.
Kemudian Nindy mengeluarkan sepucuk surat undangan.
"Kamu mau nikah?" sela Zhia terkejut.
"Bukan..." jawab Nindy merasa lucu.
Kemudian undangan yan dia pegan diserwhkab kepada Zhia, dan setelah membacanya wajah Zhia tersenyum bahagia.
"Akhirnya... Kak Elly bisa membuka lembaran baru," ucap Zhia terharu sampai dia menitikkan air mata.
Iyas yang baru datang langsung terkejut melihat Zhia.
"Kenapa kamu menangis?"tanya Iyas panik.
Zhia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu tersenyum.
"Dia tersenyum bahagia, Iyas," jawab Nindy santai, karena usia Nindy diatas usianya Iyas.
"Eh, kamukan juga memiliki usaha sendiri, kenapa malah jadi pelayan disini?" tanya Nindy penasaran.
"Karyawanku kan banyak, kalau aku kerja ya kesenengen mereka dong. Lebih baik mbantu Calon istri di sini saja"jawab Iyas tertawa kecil.
Membuat Zhia hanya tersipu malu mendengar jawaban Iyas.
"itu mah modus, biar biasa ketemu Zhia terus," timpal Nindy mengejek.
Seketika membuat mereka tertawa bersama.
Kemudian Iyas pamit lagi kedalam lagi.
"Kok kamu nggak pakai pelayan, biar kamu bisa nyantai," tanya Nindy.
"Tidak perlu. Aku, Mbak Tia dan Mas Rian sudah cukup. Itupun Mas Iyas sering kesini datang membantu," jawab Zhia.
"Eh, aku dari tadi kok nggak melihat ibumu ya?" tanya Nindy.
Karena keluarga Zhia sangat ramah tamah, setiap ada tamu sesibuk apapun mereka selalu menyempatkan untuk menyapa.
"Oh... ibu lagi di Makkah bersama kedua orang tua mbak Tia. Setengah bulan lagi mereka sudah pulang" jawab Zhia.
"Wah! Kamu hebat ya bisa membahagiakan kedua orang tua," puji Nindy yang semakin salut dan kagum pada Zhia.
"Makanya aku dan kakakku sengaja tidak memakai pelayan, mending ditabungkan. Tadi katanya ada dua kabar berita, yang lainnya kabar apa?" tanya Zhia balik.
Seketika mata Nindy berbinar penuh semangat.
"Syauqi sudah pulang..." jawab Nindy heboh.
Sedangkan Zhia kaget dan termenung, ada perasaan nyeri di dada dan takut.
"Kamu kenapa?" tanya Nindy heran.
Nindy baru ingat kalau Zhia punya kenangan buruk dengan Syauqi. Nindy menjadi menyesal juga.
"Itukan kabar bagus buatmu sendiri," jawab Zhia kesal.
Nindy malah tertawa, karena ekspresi Zhia yang marah terlihat cantik.
"Ya sudah aku pamit dulu ya, masih banyak pekerjaan. Malam Minggu nanti aku jemput kamu, kita berangkat bersama," kata Nindy tak lupa berpamitan pada Iyas dan Tia di dapur.
Adzan Maghrib sudah berkumandang, pengunjung mulai sepi dan sebentar lagi ruko di tutup.
"Zhia itu undangan dari siapa?" tanya Iyas sehabis Sholat.
Iyas tampak ganteng dan manis apalagi rambutnya masih setengah basah.
"Dari Kak Elly, Mas Iyas," jawab Zhia tersenyum.
Wajah Zhia memang selalu tersenyum pada siapapun.
"Kapan?" tanya Iyas lagi penasaran.
"Malam Minggu ini, Mas Iyas," jawab Zhia,membuat Iyas mengkerutkan dahinya.
"Kamu kenapa, Mas Iyas?" tanya Zhia heran.
"Aku ingin sekali mengantarmu, tapi Sabtu pagi aku ada tugas kuliah. Kalau lancar pulangnya hari Selasa," jawab Iyas sedih.
"Nggak papa, Mas Iyas. Nindy katanya mau jemput aku" jawab Zhia menghibur hati Iyas.
"Kalau selama beberapa hari ini aku nggak bisa menghubungimu nggak papa ya?" kata Iyas.
"Iya, Mas Iyas. Aku mengerti kok" jawab Zhia tersenyum manis. Membuat Iyas merasa tak rela meninggalkannya.
"Aku tau, kamu tidak akan marah. Tapi kalau aku tak izin dulu pasti kamu akan kecewa dan menangis karena terlalu merindukanku," kata Iyas membuat Zhia tertawa.
"Ihh... Mas Iyas PD sekali" ejek Zhia.
"Biarin, kan emang kenyataannya begitu" jawab Iyas tak mau kalah yang membuat Zhia merasa malu.
Dan memang benar, Zhia bukan tipe wanita yang suka mengatur atau marah2 karena tidak dihubungi. Dia selalu mengerti dan mempercayai Iyas. Tapi jika mendengar kabar kalau ada yang mendekati Iyas dari temannya, diam-diam Zhia menangis.
"Sana mandi lalu Sholatnya di rumah saja, karena di musolla masih banyak orang. Biar nanti aku dan Mbak Tia yang menutup rukonya," kata Iyas.
Di samping tempat makan dibangun Musolla kecil dan kamar mandi.
Memang sengaja supaya bisa digunakan orang orang yang dalam perjalanan untuk melaksanakan sholat tepat waktu.
Mungkin hanya muat untuk lima dua puluh orang. Namun setiap saat selalu ada orang yang menumpang sholat dan mandi.
Zhia tidak menarif biaya, itu gratis untuk umum.
Masih teringat jelas dalam ingatannya, ketika Almarhum ayahnya masih ada, beliau yang tiada hentinya selalu berpesan.
"Nak jangan lupa bersedekah, karena bersedekah itu pahalanya sangat besar. Dengan bersedekah tidak menjadikan kita miskin justru Alloh akan menambah nikmat kita. Berupa riski lancar, kesehatan dan juga ketentraman hidup. Bersedekah juga tidak harus berupa harta, kalau kita belum mampu maka bersedekahlah dengan tenaga atau senyuman."
Pesan itu selalu diingat oleh Zhia sampai sekarang, setiap bulan tak lupa Zhia menyisihkan hasil penjualannya dibagikan pada anak yatim dan janda yang sudah renta di daerahnya.
Zhia bukan hanya terkenal karena kecantikannya. Namun kesucian dan kebaikan hatinyalah yang membuat semua orang menyayangi dan menghormati Zhia.
Terimakasih sudah berkenan membaca karya saya. Jangan lupa Like dan Vote ya🙏
Karena dukungan dari kalian semua sangat berarti bagi Author.
Mohon kritik sarannya juga, semoga novel CINTA YANG TERPAKSA bisa berkembang lebih baik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 285 Episodes
Comments
shani ramdhani
nama pemeran bolak balik, aga bingung bacanya
2022-02-13
0
Noer Anisa Noerma
seruuuu thooot
2021-12-19
0
Mega Nurhasanah
lima sampai dua puluh mungkin
2021-12-13
0