Tidak selamanya gelap itu menakutkan, seperti bulan dan bintang yang hanya terlihat bersinar di malam hari.
Begitu pula dengan kehidupan, selalu ada hikmah yang tersembunyi di balik sebuah cobaan.
Itulah keyakinan Zhia selama ini, meskipun putus kuliah akan tetapi dia bisa bekerja dengan gaji yang lumayan, sehingga pengobatan ibunya tidak pernah telat biaya.
Tiga bulan bekerja jadi asisten pribadi membuat tabungan Zhia lumayan banyak.
Zhia sekarang memiliki cita-cita baru, yaitu dia ingin sekali memiliki warung makan dan toko kue, dia berencana setelah satu tahun bekerja halaman rumahnya yang cukup luas bisa dijadikan tempat usaha kecil-kecilan.
Letak rumahnya Zhia di pinggir jalan yang lumayan ramai, kakak iparnya pun sering mendapat pesanan makanan dan kue-kue saat ada acara.
Jadi Zhia yakin suatu saat jika dia tekun pasti sukses.
Zhia mulai berfikir jika bekerja ikut orang itu capek.
Walaupun gajinya banyak dia tidak memiliki waktu pribadi, seperti menghadiri acara pernikahan dan acara lainnya.
Seandainya dia punya usaha sendiri dengan kakak iparnya di rumah, pasti dia mempunyai waktu bebas untuk kepentingannya sendiri.
Malam ini Zhia masih belum bisa tidur karena bingung bagaimana besuk mengantar ibunya cek kerumah sakit.
Kakaknya sedang berada dirumah istrinya.
Sedangkan Zhia sendiri besok juga ada jadwal keluar kota.
Tiba-tiba ponsel Zhia berkedip tanda ada pesan masuk.
From: Mas Iyas
"sudah bobok calon istriku?"
To: Mas Iyas
"Belum bisa Mas Iyas."
Beberapa detik kemudian Iyas menelpon Zhia,
"Assalamu'alaikum," sapa Iyas.
"Wa'alaikumsalam. Kenapa malam-malam begini telpon, Mas Iyas?" tanya Zhia lirih, takut membangunkan ibunya yang sudah tidur dari tadi dikamar sebelah.
"Kangen saja, lama kita tidak bertemu. bagaimana kabar ibuk?" tanya balik Iyas, dia memang selalu peka dengan apa yang dirasakan Zhia, mungkin ini yang namanya ikatan batin.
"Alhamdulillah, Mas Iyas. Besok tinggal cek yang terakhir," jawab Zhia.
"Alhamdulillah,aku ikut senang mendengarnya. Lalu sama siapa? bukankah mas Rian katanya sedang menginap dirumah orang tuanya mbak Tia?" tanya Iyas lagi.
"Itu yang bikin aku bingung, sedangkan kerjaanku nggak bisa ditinggalin," jawab Zhia.
"Sudahlah, tenangkan pikiranmu! Besok siang aku nggak ada jadwal kuliah biar ibuk aku yang mengantar. Sekarang kamu tidur dulu ya! Besok biar semangat kerjanya," bujuk Iyas perhatian.
Sebenarnya mereka hanya selisih beberapa bulan, tetapi dari kecil Zhia menghormatinya dengan sebutan 'mas.'
"Terimakasih banyak ya, Mas Iyas. Aku bersyukur ada Mas Iyas yang selalu membantuku saat aku kesusahan," kata Zhia tersenyum lega.
Iyas sudah bisa membayangkan senyum sumringah dari wajah cantiknya Zhia,
"iya, sama-sama. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." jawab Zhia.
Kini dia merasa tenang dan bisa tidur.
Bagi Iyas kebahagian Zhia adalah segalanya, dari kecil Iyas selalu melakukan apapun untuknya.
Iyas sangat mengenal sifat Zhia, meskipun dia gadis yang tegar dan penyabar tapi dia juga perempuan penakut.
Apalagi dengan lelaki, karena dulu pernah ketika memasuki SMP banyak cowok yang menggodanya, bahkan ada kakak kelas yang ingin mengenalnya dengan paksa.
Iyas tak terima jika ada yang mengganggu orang yang paling disayanginya.
Sering kali Iyas berkelahi demi melindungi Zhia,
Karena dari kecil Iyas belajar pencak silat, mudah baginya untuk mengalahkan tiga orang sekaligus. Semenjak itu, semua orang mengira mereka sepasang kekasih dan tak ada lagi yang berani mengganggu Zhia.
Malam semakin larut, mengantarkan insan mulia ini terlelap.
Iyas berharap semoga bisa bertemu dengan Zhia di dalam mimpi indahnya.
***************************************
Di pagi yang buta, embun-embun masih bergelayut manja di pucuk dedaunan.
Hari masih gelap namun Zhia sudah terbangun menyelesaikan segala rutinitasnya,
"Zhia minta maaf ya, Bu. Hari ini Zhia tidak bisa mengantar Ibu kerumah sakit. Nanti yang mengantarkan adalah Mas Iyas," kata Zhia lembut sambil memijit pundak ibunya.
"Iya nggak papa, Zhia. Sama saja. Kapan mas sama mbak mu pulang?" tanya Ibunya yang sudah merasa rindu karena seminggu tidak bertemu, apalagi dengan cucu pertamanya yang sudah mulai mengoceh.
"Katanya Mas Rian, nanti malam baru sampai rumah, Bu" jawab Zhia.
Jarak rumah kakak iparnya memang jauh, butuh waktu empat jam naik kereta, kalau naik bus bisa sampai enam jam.
Mereka sengaja menginap cukup lama mumpung liburan kerja akhir tahun.
Karena semenjak hamil Tia juga belum pernah pulang kampung.
Zhia melirik ke jam dinding yang menunjukkan pukul 06.00.
Dia segera bersiap berangkat kerja.
Sampai di sana Zhia langsung ke dapur membuat sarapan.
Tepat jam tujuh hidangannya sudah tersaji di atas meja.
Selesai sarapan bersama majikannya, Zhia ikut majikannya berangkat ke butik.
Kali ini Syauqi juga ikut dan dialah yang menyetir mobil.
Sedangkan Zhia duduk di belakang menemani Elly.
Hari ini ada acara peresmian butik baru di dekat wilayah rumah pamannya Syauqi.
Karena ini adalah acara resmi, Zhia dituntut berganti baju dan memakai make up.
Syauqi yang melihat penampilan Zhia semakin terpikat dengan kecantikannya.
Jam 09.00 acara dimulai.
Dari salam penghormatan, sambutan, dan berakhir dengan pemotongan tali pita sebagai partanda butik resmi dibuka.
Semua tamu undangan bertepuk tangan dan menikmati pesta hidangan sambil mengobrol satu sama lain.
Sampai siang acara masih berlangsung.
Elly sengaja membuat lomba dan berbagi hadiah menarik supaya pestanya lebih meriah.
Saat Zhia asyik menonton ponselnya bergetar, dia langsung keluar ruangan.
Syauqi yang melihat Zhia keluar segera mengikuti dari belakang, samar-samar Syauqi bisa mendengar suara Zhia,
"Wa'alaikum salam,"
"Bagaimana,Mas Iyas? Apa ibu sudah diantar ke rumah sakit?"
"Terimakasih banyak ya, Mas. Aku juga masih di luar kota. Peresmian butik cabang."
"Mas Iyas memang yang terbaik."
"iya, Siap. Nanti malam aku traktir makan malam kesukaan Mas Iyas deh."
"Kalau begitu aku tutup dulu. Acaranya masih berlangsung dan banyak kerjaan yang menunggu. Assalamu'alaikum." pamit Zhia sambil menutup telepon, dari tadi dia tidak berhenti tersenyum saat berbicara dengan Iyas lewat telepon.
Syauqi menatap tajam kearah Zhia.
'Mas Iyas memang yang terbaik'
kata-kata Zhia tadi terus terngiang di telinga Syauqi.
Meskipun itu kenyataanya tapi dia merasa kesal.
Syauqi masih melihat ke arah Zhia yang sudah berbalik masuk ke dalam aula, namun di depan pintu dia terjatuh karena bertabrakan dengan seorang wanita yang lebih tinggi darinya.
Syauqi Seperti anak panah yang melesat, dia segera membantu Zhia berdiri.
Namun Zhia menolak karena takut mereka bersentuhan.
"Gadis kecil ini..." pikir Syauqi yang merasa geregetan.
"Hei, awas ya kalau sampai ponselku rusak!" bentak Wanita tadi sambil mengambil ponselnya yang terjatuh.
"Apa kau tidak malu? Matamu sendiri yang sibuk menatap ponsel," balas Syauqi, nadanya langsung menusuk tajam membuat siapapun yang mendengar menjadi ciut nyalinya.
"Sudahlah, Mas Syauqi. " bujuk Zhia menenangkan Syauqi.
"Maafkan aku ya, Mbak? Tadi memang aku yang salah," Zhia meminta maaf dengan tulus, kemudian pergi meninggalkan wanita cantik yang usianya terlihat lebih dewasa darinya.
Wanita tadi menatap kepergian Syauqi sampai tak terlihat dari pandangannya.
Syauqi sebenarnya masih merasa marah, dia tak habis pikir kenapa masih ada wanita yang penyabar seperti Zhia.
"Dia memang gadis yang istimewa," batin Syauqi.
Acara masih terus berlanjut hingga jam empat sore.
Zhia masih banyak pekerjaan untuk membagi tugas karyawan-karyawan baru. Karena besok butik sudah beroperasi.
Jam 20.00 Zhia baru sampai di rumah bosnya, dia segera berpamitan untuk pulang.
Syauqi merasa penasaran dengan apa yang akan dilakukan Zhia, secara diam-diam Syauqi mengikuti motor Zhia dari belakang.
Rupanya Zhia bertemu Iyas untuk makan bersama. melihat mereka berdua terlihat akrab membuat emosi Syauqi naik.
Syauqi langsung membanting stir dan melesat menuju club, padahal sudah hampir tiga bulan dia meninggalkan dunia malam.
Namun melihat Zhia bersama cowok lain, dia sangat frustasi.
Amarahnya seperti seorang suami yang memergoki istrinya berselingkuh.
Sambil menyetir dengan kecepatan penuh, dia mengambil ponselnya.
"Don, temani aku minum di tempat biasa!"
perintah Syauqi pada seseorang lewat ponselnya.
* Terimakasih sudah berkenan membaca karya saya, jangan lupa like, vote dan beri rating bintang 5. Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Authoor.
Mohon kritik dan sarannya juga, semoga kedepannya novel ini bisa lebih baik🙏*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 285 Episodes
Comments
Tati Suwarsih Prabowi
bknnya sadar malah menjadi2 syauqi
2023-02-01
0
🍀 chichi illa 🍒
😂😂😂😂
2022-12-27
0
Ahzran Ruslin
cemburu berlebihan
2022-05-02
0