Matahari tenggelam di ufuk barat.
Syahdunya Senja mulai menemani hati yang kesepian.
Lembut sang Bayu menerpa tubuh gadis berwajah ayu, jilbab yang dikenakannya berkibar secara perlahan.
Zhia memandang ke langit, bibirnya sedari tadi tak berhenti mengucapkan puji syukur.
"Betapa besarnya keagungan Mu, memberi hamba kesempatan untuk melihat pemandangan yang indah ini."
Zhia sedang berdiri di teras lantai dua, menikmati keindahan di sore hari sambil menunggu alunan merdu Adzan Maghrib.
"Permisi, Mbak Zhia. Ada tamu yang ingin bertemu dengan Anda," kata seorang karyawan.
Usianya sebaya dengan Zhia. Namun semua karyawan di butik sangat menghormati dan menyukai Zhia.
"Iya, Mari... " jawab Zhia sambil berjalan keruang kerja.
Dia merasa pernah melihat wanita yang duduk berhadapan dengannya, namun dia masih belum mengingat di mana.
"Ini mbak Zhia yaaa? Karyawan kak Elly?"tanya wanita tersebut.
"Ya, Benar. Dengan siapa ini? Ada yang bisa saya bantu?"tanya Zhia,
"Perkenalkan nama saya, Nindya. Saya adalah desainer baru di butik ini," jawab Nindy penuh percaya diri.
Sekilas terlihat jika dia dari golongan wanita yang berkelas.
"Oh iya, Selamat datang di butik kejora. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik ke depannya," kata Zhia tersenyum ramah.
Zhia kemudian melihat lembaran-lembaran kertas yang diberikan padanya.
'desainer lulusan dari Perancis'
"Maaf, Mbak Zhia. Sebelumnya kita pernah bertemu dalam situasi yang kurang mengenakkan," ucap Nindya.
Setelah mendengar pernyataan dari Nindy, Zhia baru ingat pernah bertemu dengannya di mana.
"iya iya, saya baru ingat. Maafkan saya juga ya, mbak Nindy. Dan mulai sekarang panggil saya Zhia saja, karena usia saya lebih muda dari mbak Nindy." kata Zhia lembut.
"Kalau begitu panggil saya Nindy saja. Dan jangan menggunakan bahasa formal supaya kita cepat akrab. Semoga kita bisa menjadi teman baik" jawab Nindy penuh semangat.
"Baiklah," ucap Zhia senang mendapat senang teman baru.
"Kata Kak Elly kamu tinggal di sini yaa?" tanya Nindy, dengan bahasa santai karena mulai sekarang mereka sepakat menjadi teman.
"iya, kamu tinggal di mana?" Zhia balik bertanya.
"Saya baru pindah dari kota ini. sebenarnya Kak Elly menyuruhku tinggal di sini untuk menemanimum, tapi aku sungkan dengan dengan pacarmu... takut mengganggu," kata Nindy sambil matanya berkedip sebelah,
Zhia yang memang gadis lugu tidak tau apa yang dimaksud Nindy.
"Sepertinya kamu salah paham. Aku tidak pernah pacaran, karena dilarang dalam agama,"" jawab Zhia polos.
Nindy mendengar jawaban Zhia langsung berbinar matanya, hatinya bahagia.
"Kamu saudaranya Kak Elly, ya?"tanya Zhia penasaran.
"Bukan... kakakku sahabat kak elly. Dulu kita bertetanggaan sewaktu kak Elly masih di rumah suaminya. Namun setelah kecelakaan itu kak Elly tak pernah pulang ke sana," jawab Nindya.
"Mungkin terlalu banyak kenangan bersama suami dan anaknya disana, jadi akan membuat kak Elly sakit jika teringat tentang mereka,"ucap Zhia lirih.
Mata Zhia berubah nanar, dia tak bisa membayangkan bagaimana pedihnya kehilangan orang yang dicintai.
"Apa benar kamu tidak memiliki hubungan dengan Syauqi?"tanya Nindy pelan-pelan, membuat Zhia tersadar dari lamunannya.
"Tentu saja tidak. Aku sudah bilang tidak pernah pacaran. Tapi kalau orang yang aku suka ada, dia sahabat masa kecil," cerita Zhia Zhia jujur.
"Benarkah? Manis sekali..."kali ini Nindy tak bisa menyembunyikan kebahagiannya.
"Oh maaf... sudah hampir telat. Aku pamit sholat Maghrib dulu, ngobrolnya dilanjutin nanti" Zhia nampak cemas.
"Iyaa silahkan... aku juga mau mengambil barang-barang dimobil dulu,"kata Nindy.
"Kamarmu di ujung sana yaa... dekat tempat kerjamu, kamar sebelahku Milik Kak Elly yang kadang ditempati Mas Syauqi.
"ok!"kata Zhia setengah berteriak, karena dia sudah berjalan menuruni anak tangga.
Selesai menunaikan Sholat maghrib Zhia langsung menuju dapur membuat makan malam. Tak lupa dia juga membagikan pada keryawan di bawah.
"Aku bahagia sekali semenjak ada Mbak Zhia, setiap hari busa makan enak,"
"huu... jelas bahagia. gratisss,"
Zhia hanya tersenyum mendengar candaan mereka
"Mbak Zhia, kenapa tidak membuka usaha tempat makan saja? kan masakannya mbak Zhia sangat enak pasti laris manis,"tanya salah satu dari mereka.
"Iya insyaalloh, semoga nanti impianku bisa terwujud. Sekarang mencari modal dulu...."kata Zhia senang.
"Amin..." kata mereka bersama sama.
"Ya sudah, silahkan kalian makan yang banyak ya... biar punya energi full untuk bekerja dan kuliah, Aku kematas dulu masih banyak kerjaan, Assalamu'alaikum"kata Zhia
"Wa'alaikumsalammm..."jawab mereka bersamaan.
Tak lama kemudian Syauqi datang ke butik, dia tersenyum bahagia bertemu dengan Zhia,
Melihat Syauqi yang mendekati meja makan Zhia langsung berdiri dan berjalan ke kamar teman barunya.
"Nindy, Ayo makan malam bersama," teriak Zhia.
"Oke... sebentar lagi aku nyusul," jawab Nindi.
Nindy langsung bercermin memastikan penampilannya sempurna sebelum keluar dari kamar.
Saat Nindy menghampiri Zhia dan Syauqi. Adik bosnya itu merasa heran.
"Ngapain kamu kesini?" kata Syauqi ketus.
Syauqi masih kesal jika mengingat jelas dengan kejadian yang lalu. Nindi hanya berdiri mematung dan merasa salah tingkah.
"Ayo duduk sini?"Zhia menarik lembut tangan Nindy dan menyuruhnya duduk di sebelahnya.
"Mas Syauqi, dia namanya Nindy. Desainer barunya kak Elly, dia juga tinggal disini di suruh Kak Elly menemaniku..." Zhia mencoba mencairkan suasa yang tadi sempat tegang.
"Oh," Syauqi tampang wajah cuek seolah tak perduli.
Membuat Nindy kecewa.
"Jangan diambil hati ya, Nin. Mas Syauqi memang gitu, kelihatannya sadis. Tapi sebenarnya baik kalau sudah kenal dekat dengannya," kata Zhia menghibur.
Dulu Zhia pernah merasakan takut juga saat awal bertemu dengan Syauqi.
Mendengar ucapan Zhia, wajah Nayla langsung cerah.
Saat makanponsel Zhia berbunyi. Segera Zhia berdiri dan mengambil ponselnya yang masih tergeletak d atas meja kerja.
Syauqi dan Nindy yang tengah makan mendengarkan suara Zhia.
"Wa'alaikumsalam."
"Alhamdulillah sudah, bagaimana dengan Mas iyas? Sudah makan belum?"
"Mungkin masih 5 hari lagi pulangnya, nunggu kabar dari Kak Elly dulu."
"Iyakah? Jalan-jalan ke mana, Mas Iyas?"
"Pasti ibu dan keponakanku senang sekali."
"Ya, wa'alaikumsalam."
Zhia tersenyum bahagia setelah mendengar suara Iyas. Jujur saya dia juga merindukan Iyas, karena sudah lama tak bertemu.
Karena kesibukan masing-masing telephon pun jarang.
Syauqi merasa kesal, setelah berhenti makan dan dia lengsung masuk ke kamar tidur.
"Mana Mas Syauwi?" tanya Zhia heran.
Karena di piring milik Syauqi masih ada separuh nasi. Biasanya ludes tanpa tersisa.
"Masuk ke kamar tidur," jawab Nindy sambil menikmati makan.
Nindy bisa menangkap jika Syauqi menyukai Zhia, namun Zhia tak menyadarinya karena dia terlalu polos.
Zhia merasa khawatir karena Syauqi tak pernah seperti ini. Dia ingin memastikan jika Syauqi baik baik saja.
"Mas Syauqi, Kenapa makannya tidak dihabiskan? Nanti mubadzir" kata Zhia sambil mengetuk pintu.
"Masuklah... tidak ku kunci pintunya," jawab Syauqi datar.
Zhia melihat Syauqi sedang berbaring di tempat tidur.
"Apa Mas Syauqi baik-baik saja?" tanya Zhia setelah membuka pintu. Namun dia tak berani masuk ke dalam kamar.
"Hanya sedikit pusing," jawab Syauqi.
"Kubelikan obat di Apotik depan ya?" Zhia menutup pintu lagi dan segera keluar.
Namun Syauqi langsung bangkit menyusul Zhia.
"Biar aku temani, bahaya gadis cantik berjalan malam-malam sendirian," kata Syauqi perhatian.
"Tidak usah, Mas Syauqi," tolak Zhia halus.
"Zhia, biar aku yang temani ya?" kata Nindy bersemangat.
Namun ketika dia mau berdiri sudah di hentikan dengan kata Syauqi.
"Nggak usah, biar aku yang menemani." kata Syauqi tegas.
Kalau Syauqi sudah seperti itu, Zhia tidak berani membantah lagi.
Selama perjalanan Syauqi seperti banyak pikiran, tatapan matanya terlihat kosong seperti tak bernyawa.
Zhia merasa ada sesuatu yang aneh.
"Mas Syauqi, kenapa dari tadi murung?" tanya Zhia lembut.
"Tadi kak Elly telephon, katanya Mama sakit" jawab Syauqi.
Ada perasaan lega di hatinya setelah dari tadi seperti ada yang mengganjal.
Syauqi termasuk lelaki yang tak bisa mengungkapkan perasaanya pada orang lain.
"Kenapa Mas Syauqi tidak menyusul ke Jerman? Aku yakin Mamanya Mas Syauqi sangat mengharapkan," tutur Zhia lembut.
"Entahlah... "jawab Syauqi mulai dingin,membuat Zhia takut berkata kata lagi.
Syauqi membeli obat sakit kepala juga vitamin penjaga daya tahan tubuh.
Setelah kembali ke butik, meja makan sudah rapi dibersihkan.
Nindya sekarang sedang merapikan ruangan kerja barunya. Letaknya berseberang dengan ruangan kerja Zhia.
Ditengah-tengahnya ada sofa dan Tv besar kusus menerima tamu.
Zhia langsung menyuruh Syauqi minum obat dulu dan Syauqi Syauqi langsung menurutinya.
"Kamu juga minum ini, biar daya tahan tubuhmu kuat" kata Syauqi sambil menyodorkan vitamin.
Zhia dengan senang hati menerimanya, rasanya manis seperti permen jeruk.
Kemudian Zhia pamit untuk menyelesaikan pekerjaannya yang banyak.
Sedangkan Syauqi ikut duduk di depannya sambil memeriksa berkas.
"Mas Syauqi sebaiknya tidur saja! Biar aku sendiri yang mengerjakan. Kalau sakit jangan di paksakan bekerja," kali ini Zhia sedikit marah, tapi Syauqi malah tersenyum senang merasa diperhatikan.
"Baiklah, aku akan istirahat di sini."
Syauqi langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa.
Baru beberapa menit Syauqi sudah tertidur pulas, mungkin efek dari minum obat.
Melihat Syauqi yang dalam sekejap sudah tertidur pulas Zhia tersenyum sendiri.
Terimakasih sudah berkenan membaca karya saya. Jangan lupa Like dan Vote ya🙏
Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author.
Mohon kritik sarannya juga, semoga novel CINTA YANG TERPAKSA ini bisa lebih baik lagi kedepannya🤗🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 285 Episodes
Comments
amanda
tapi itu khusus untuk kamu aja
2023-01-27
0
❤️k_thv_❤️
firasat gue gak enak Ama si nindi
2022-05-16
0
Rosita Husin Zen
Thor beri hidup zia kebahagian hati dan perasaannya selama2nya ya Thor aaamiin ..saya suka dan senang banget sama gadis Sholeha baik seperti Zia jangan sakiti hati dan perasaannya ya Thor
2022-04-11
0