Di perjalan menuju Akademi Bunga Hijau, kami membicarakan banyak hal. Tetapi kami hanya membicarakan hal-hal yang menyenangkan saja, aku dan Saigiri telah berjanji tidak akan mengungkit lagi hal-hal yang menyedihkan. Tidak baik untuk terus terpuruk dalam kesedihan, sudah sebaiknya kita berbenah dan terus berusaha untuk meningkatkan kekuatan.
“Oh ya ngomong-ngomong siapa saja yang bakal dikirim ke Akademi Teratai Ungu?”
“Kata Guru Sanjati, hanya beberapa murid yang berbakat yang dikirim. Mungkin murid-murid yang berperingkat tinggi.” Jawab Saigiri.
“Jadi sepertinya aku dan kau akan ikut dikirim juga?”
“Pastilah, Kakakkan memang berbakat apalagi tahun ini baru saja merebut peringkat 1 di Akademi Bunga Hijau. Tapi bakatku juga tak kalah jauh denganmu kok, Kak.” Candanya, tawa kecil menghiasi bibirnya.
“Dengan kemampuanmu itu tidak menempati peringkat 3 pasti lucu lah, tapi kalau kau lebih giat berlatih lagi mungkin kau bisa merebut peringkat 2 dari senior Hans.”
“Bagaimana dengan tugasku sebagai sekretaris Himpunan Murid, terlebih lagi Sekte Aliran Nasution di Akademi Bunga Hijau juga sedang krisis keuangan. Jadi tidak ada banyak waktu untuk berlatih.”
“Hahahaha, itu semua merepotkan. Sebab itu aku tidak ingin masuk ke Sekte Aliran Nasution, terlebih lagi kalau ikut organisasi akademi.” Kataku.
Kamipun beradu tawa kecil, sesekali dia memukul pelan perutku dengan sikut. Aku bersyukur telah melewati masa-masa sulit, walaupun teman-teman dan ibuku telah meninggal. Tetapi aku tetap sangat bersyukur dengan kondisi sekarang. Tetap bisa melewati pagi denga canda tawa bersama Saigiri.
Di sepanjang jalan, banyak puing-puing bangunan yang tersisa sehabis dihancurkan oleh Zardock. Namun beberapa warga juga tetap ingin tinggal di rumahnya dan memperbaikinya. Adapula yang sedang mengais sisa-sisa barang peninggalan atau kenangan dari keluarganya yang mungkin ikut terbunuh. Selain itu, wajah yang terpampang dari warga desa bukanlah wajah yang sedih memilukan, melainkan mereka tetap bersyukur dan tetap berusaha melanjutkan hidup.
“Selamat pagi Dik Tyaga, Dik Saigiri.” Salam salah satu warga desa. Tampak kusang sehabis mengais tanah dan mamanggul sebongkah kayu.
“Selamat pagi. Bapak mau ke mana?” Jawabku tersenyum ramah.
“Selamat pagi juga Pak.” Saigiri di samping kiriku juga ikut membalas salamnya.
“Ini dik Tyaga, saya ingin memperbaiki rumah. Banyak kenangan yang terjadi dalam rumah itu. Ngomong-ngomong Dik Tyaga dan Saigiri sendiri mau ke mana pagi-pagi begini?” Ujarnya.
“Oh ini, saya dan Kakak ingin ke Akademi Bunga Hijau. Sebentar lagi ada pelepasan murid.” Jawab Saigiri.
“Iya Pak, murid-murid itu akan menempuh pelajaran di akademi markas pusat.” Imbuhku.
“Hati-hati di jalan ya, semoga kelak kalian semua dapat kembali ke desa dengan tampang yang berbeda dan dapat mengembalikan kedaiman dunia.”
“Terimakasih atas do’anya Pak.” Tuntasku.
“Kami pamit duluan ya Pak.” Ucap Saigiri.
“Iya Dik, silahkan.” Kamipun melanjutkan perjalan menuju Akademi Bunga Hijau.
Selang beberapa menit akhirnya kami berdua sampai di gerbang pintu Akademi Bunga Hijau. Sesuai namanya akademi ini berhiaskan tanaman-tanaman dengan dinding dan ornamen yang berwarnakan beraneka warna hijau. Tampak luas namun sederhana, di sinilah tempat bagi pemuda-pemudi desa untuk menimbah ilmu, entah itu ilmu politik, ilmu berdagang, ilmu sosial, dan bahkan ilmu perang diajarkan di sini.
Sudah hampir 3 tahun ini aku dan Saigiri belajar di sini, dan baru tahun ini aku dapat merebut peringkat 1, sedangkan Saigiri sendiri bertengger di peringkat ketiga. Adapun sistem peringkat di akademi ini di adakan tiap setahun sekali dengan melewati beberapa pos dan dalam pos-pos tersebut pasti ada rintangan dan tantangan yang menghadang.
Pos-pos tersebut berguna untuk menyeleksi murid-murid yang pantas untuk mendapatkan peringkat di Akademi Bunga Hijau. Setelah itu untuk mengetahui atau mendapatkan peringkat tertinggi setiap murid mendapatkan jatah 3 kali untuk melawan murid yang mempunyai peringkat di atasnya. Waktu itu aku dengan berani menantang Senior Hans yang berperingkat 1 dua tahun berturut-turut itu dan berakhir dengan kemenanganku
Sungguh lucu dan mengagumkan, padahal pada tahun sebelumnya aku tidak mengikuti Acara Uji Peringkat dan baru pertama kalinya aku mengikutinya. Berakhir dengan kemenangan dan mendapatkan peringkat 1. Walaupun dalam pertarunganku dengan Senior Hans bukanlah pertarungan yang mudah. Kekuatan dan kecepatannya sungguh luar biasa, pantas saja dia dapat mempertahankan peringkatnya. Namun salah satu kelemahnya adalah banyak berpikir dalam pertarungan dan terlalu memperhitungkan gerakannya serta lawannya.
Sementara Saigiri hanya menggunakan satu kesempatan saja untuk melawan peringkat 3, Son Hallins. Pertarungannya juga sengit, namun Saigiri adalah tipekal pertarung yang sangat cerdik, sehingga Son Hallins dapat dikalahkannya dengan telak. Dengan parasnya yang menawan dan kecerdikkannya, dia membuat murid-murid lainnya enggan untuk menantang.
Pada akhirnya posisi 5 besar tahun ini di isi oleh aku, Tyaga Nasution peringkat 1, Hans Balaputra peringkat 2, Saigiri Nasution sebagai peringkat 3, Son Hallins peringkat 4, dan Aalisha Abellone.
“Kakak mari kita masuk. Pasti ayah sudah menunggu kita dari tadi.” Ucap Saigiri.
Aku membalasnya dengan senyuman dan dia menarik lenganku, mengajakku untuk masuk.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 133 Episodes
Comments
San Jaya
Koreksi: Di perjalanan ke akademi Bunga Hijau, aku dan Saigiri mengobrol banyak hal menyenangkan.
Paragraf pertama sebenarnya sesimpel itu.
----
Dialognya Tyaga sama Saigiri sama-sama pake "terlebih lagi", mending direvisi.
----
Ahhh, di bagian ketemu orang di jalan itu sebenarnya nggak usah diperpanjang. Buat aja narasi pendek atau langsung skip sampe ke tempatnya.
----
Peringkat 5 siapa?
2020-07-05
0
Honey
Hoho, you're the first, the one and only!!!!
Eakkkkk.
2020-07-04
0
rita ningsih
suwi suwi buka jasa komen aku
2020-05-05
2