[ Not Edited ]
“«Akik Steen»!! «Volle Kracth», kekuatan penuh!” Lolongan keras Kakek Hork terdengar nyaring di gendang telingaku, walau jaraknya nan jauh di sana.
“«Akik Steen», tolong pinjamkan kekuatanmu, rebutlah semua jiwa yang telah diselimuti oleh kegelisahan, kuatkanlah raga dan pikiran jiwa yang kosong, tunjukanlah «Qua»-mu pada tuanmu, Hork De Kallismet.”
Sebuah pola kalimat yang sama merebak sempurna dengan gelap dan seketika sekumpulan awan menyatu di atas batu permata yang ada di jari tengah kakek. Segumpalan awan tadi mulai memutar dan membentuk sebuah lingkaran dengan pusat yang memancarkan sebuah cahaya biru. Menerjang ke bawah bak kilasan laser.
” «Qua»!! Angkatlah tanah, retakkanlah bentala, buatlah daratan ini berguncang! «Gebarsten Grond»!!” Ucap Kakek Hork dengan penuh semangat.
Seketika itu pula tanah bergetar tidak menentu, retak nan menghiasi bentala, guncangan hebat menggelegar dalam masing-masing jiwa yang masih hidup. Dalam benak aku kembali bertanya-tanya, mungkinkah? Bukannya «Akik Steen» dapat mengeluarkan «Qua» dalam bentuk senjata suci saja? Kenapa ini Kakek Hork dalam menggunakan kekuatan «Akik Steen» dalam bentuk sihir?
Tak sampai disitu saja, tanah yang tadi retak sekarang sekarang menyemburkan sebuah batuan atau mungkin lebih tepatnya adalah tanah kering yang menjulang tinggi ke atas hampir berbentuk runcing. Pergerakkan bebatuan yang terangkat tersebut terus mengikuti arah Orang Misterius itu.
“Hoi-hoi-hoi, apa ini?! Apa yang telah kalian lakukan?” Ucapnya seraya menghindari semua terjangan bebatuan runcing yang terus mengikutinya. Dia melompat ke kiri kanan, dan ketika serbuan itu semakin ganas dan menjadi-jadi. Dia dengan kekuatan bayangnya melompat tinggi ke udara hingga ujung runcing dari serangan Kakek Hork tidak mampu mencapainya.
Sementara, akhirnya kami semua terbebas dari jeratan bayang orang itu. Adellia tampak terengah-engah, mengatur nafanya yang tersengal-sengal seraya memegangi lehernya. Akupun menghampirinya.
“Ada apa Adellia? Apa kau baik-baik saja?” Tanyaku.
“Entah apa yang telah terjadi padaku, ta-tapi rasanya aku tengah dicekik begitu kuat oleh tangan yang teramat besar dan itu sangat menyesakkan.” Ujarnya patah-patah.
“Wajahmu tampak pucat sekali.”
“Dasar bodoh! Aku memang hampir mati, bagaimana tidak kalau wajahku tampak pucat.”
“Adellia!!!—” Bentak Kakek Hork berlari terbirit-birit menghampiri kita berdua.
“—Sekarang waktunya!!! Hancurkan manusia menjijikkan itu dengan «Ganjur»-mu!!! Aku tidak dapat mengendalikan sihir «Qua» ini terlalu lama lagi.” Imbuh Kakek dengan nafas terekeh-ekeh.
“Tapi Kek, tubuhku masih tidak dapat digerakkan sama sekali.” Ujar Adellia.
“Apakah kau belum terbebas dari jeratan sihir «Ruimte Rusten» miliknya? Bagaimana dengan dirimu wahai anak muda?”
“Aku sudah dapat bergerak sekarang Kek.” Jawabku.
“Bukan begitu maksudku Kek, aku tidak dapat bergerak bukan karena sihirnya, melainkan tubuhku sekarang lemas dan tidak berdaya. Tidak ada energi sedikitpun dalam ragaku.”
“Mungkinkah dia telah menyerap semua energi sihir serta energi kehidupanmu. Apa tanganya sempat menyentuhmu?” Tanya Hork.
Adellia hanya terdiam menahan semua kelesuan dan energi yang terkuras teramat banyak.
“Kalau menyentuh sekiranya tidak Kek, tapi Adellia sempat terkena tamparan darinya.” Jawabku.
“Khh! Terus bagaimana sekarang cara menghancurkannya. Dia hanya dapat dibunuh dengan kekuatan sihir yang kuat, seperti senjata suci «Ganjur» milik Adelllia.” Sabda Kakek Hork.
“Ti-tidak mungkin Kek. Walaupun aku kuat mengangkat senjata ini, namun aku tak yakin dapat melemparkan tombak ini tepat mengenainya.” Sanggah seorang perempuan dengan zirah yang sudah penuh pesok dan retak. Wajahnya yang tadi masih seputih salju, kini kian pucat dan lesu tak berdaya.
"Sial!!—" Umpat Kakek Hork.
"Kakek! Adellia! Jangan terlalu membelit-belitkan suasana, tinggal melemparkan tombak ini ke arahnya sajakan?!" Pungkasku, sampai kapan mereka akan berdebat.
"Iya memang, tapi tak semudah itu wahai anak muda." Jawab Kakek Hork.
"Apanya yang tidak semudah itu, kita juga berlatih melempar tombak. Aku juga salah satu prajurit terbaik milik kaum Elf, melempar tombak sudah menjadi latihan rutinku tiap hari. Jadi tidak masalahkan kalau aku saja yang melemparnya!
Tanpa berbasa-basi lagi aku lantas berjalan mendakati «Ganjur» milik Adellia, tampak biru padam sebab tidak mendapat asupan energi sihir sama sekali dari pemiliknya, Adellia. Terpampang gagah menghujam bentala dengan gagang tongkatnya sesekali mengeluarkan aura biru muda, tampak malu-malu namun kuat.
"Hey! Apa yang akan kau lakukan!" Bentak Adellia.
"Bukannya sudah jelas? Biar aku saja yang menghancurkannya!" Ucapku polos.
"Jangan macam-macam wahai Anak Muda!" Seru Kakek Hork mencoba menghentikanku. Namun apa yang dia lakukan sia-sia, kini tombak «Ganjur» telah berada di tanganku.
"Dasar bodoh!!!" Teriak Adellia.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:
* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya
* Follow akun penulis
* Berkomentar yang baik dan bijak
* Always like and share in your social media
* Bintang limanya ya gaes
* Favorit (Ini yang paling penting wkwkwkwk)
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D
# Terimakasih banyak gaes, see you on the next chapter.... ^_^
WA : 08973952193
IG : bayusastra20
email : bayu_sastra20@yahoo.co.id
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 133 Episodes
Comments
San Jaya
Dialog tag "lolongan" nggak cocok dipake buat orang, mending ganti "teriakan" atau "seruan"
----
Chapter ini masih sibuk di lingkup lepas sihirnya Guardian itu, ya.
Hmm, terlalu panjang sih :v
2020-07-04
0
Honey
Yeahhh. I think he can do that. Come on!
2020-07-03
0
rita ningsih
tambah 1 dadi 15
2020-05-05
2