[ Vol. 1 ] Ch. 15 – Kekuatan Penuh, Volle Kracth!

[ Not Edited ]

“«Akik Steen»!! «Volle Kracth», kekuatan penuh!” Lolongan keras Kakek Hork terdengar nyaring di gendang telingaku, walau jaraknya nan jauh di sana.

“«Akik Steen», tolong pinjamkan kekuatanmu, rebutlah semua jiwa yang telah diselimuti oleh kegelisahan, kuatkanlah raga dan pikiran jiwa yang kosong, tunjukanlah «Qua»-mu pada tuanmu, Hork De Kallismet.”

Sebuah pola kalimat yang sama merebak sempurna dengan gelap dan seketika sekumpulan awan menyatu di atas batu permata yang ada di jari tengah kakek. Segumpalan awan tadi mulai memutar dan membentuk sebuah lingkaran dengan pusat yang memancarkan sebuah cahaya biru. Menerjang ke bawah bak kilasan laser.

” «Qua»!! Angkatlah tanah, retakkanlah bentala, buatlah daratan ini berguncang! «Gebarsten Grond»!!” Ucap Kakek Hork dengan penuh semangat.

Seketika itu pula tanah bergetar tidak menentu, retak nan menghiasi bentala, guncangan hebat menggelegar dalam masing-masing jiwa yang masih hidup. Dalam benak aku kembali bertanya-tanya, mungkinkah? Bukannya «Akik Steen» dapat mengeluarkan «Qua» dalam bentuk senjata suci saja? Kenapa ini Kakek Hork dalam menggunakan kekuatan «Akik Steen» dalam bentuk sihir?

Tak sampai disitu saja, tanah yang tadi retak sekarang sekarang menyemburkan sebuah batuan atau mungkin lebih tepatnya adalah tanah kering yang menjulang tinggi ke atas hampir berbentuk runcing. Pergerakkan bebatuan yang terangkat tersebut terus mengikuti arah Orang Misterius itu.

“Hoi-hoi-hoi, apa ini?! Apa yang telah kalian lakukan?” Ucapnya seraya menghindari semua terjangan bebatuan runcing yang terus mengikutinya. Dia melompat ke kiri kanan, dan ketika serbuan itu semakin ganas dan menjadi-jadi. Dia dengan kekuatan bayangnya melompat tinggi ke udara hingga ujung runcing dari serangan Kakek Hork tidak mampu mencapainya.

Sementara, akhirnya kami semua terbebas dari jeratan bayang orang itu. Adellia tampak terengah-engah, mengatur nafanya yang tersengal-sengal seraya memegangi lehernya. Akupun menghampirinya.

“Ada apa Adellia? Apa kau baik-baik saja?” Tanyaku.

“Entah apa yang telah terjadi padaku, ta-tapi rasanya aku tengah dicekik begitu kuat oleh tangan yang teramat besar dan itu sangat menyesakkan.” Ujarnya patah-patah.

“Wajahmu tampak pucat sekali.”

“Dasar bodoh! Aku memang hampir mati, bagaimana tidak kalau wajahku tampak pucat.”

“Adellia!!!—” Bentak Kakek Hork berlari terbirit-birit menghampiri kita berdua.

“—Sekarang waktunya!!! Hancurkan manusia menjijikkan itu dengan «Ganjur»-mu!!! Aku tidak dapat mengendalikan sihir «Qua» ini terlalu lama lagi.” Imbuh Kakek dengan nafas terekeh-ekeh.

“Tapi Kek, tubuhku masih tidak dapat digerakkan sama sekali.” Ujar Adellia.

“Apakah kau belum terbebas dari jeratan sihir «Ruimte Rusten» miliknya? Bagaimana dengan dirimu wahai anak muda?”

“Aku sudah dapat bergerak sekarang Kek.” Jawabku.

“Bukan begitu maksudku Kek, aku tidak dapat bergerak bukan karena sihirnya, melainkan tubuhku sekarang lemas dan tidak berdaya. Tidak ada energi sedikitpun dalam ragaku.”

“Mungkinkah dia telah menyerap semua energi sihir serta energi kehidupanmu. Apa tanganya sempat menyentuhmu?” Tanya Hork.

Adellia hanya terdiam menahan semua kelesuan dan energi yang terkuras teramat banyak.

“Kalau menyentuh sekiranya tidak Kek, tapi Adellia sempat terkena tamparan darinya.” Jawabku.

“Khh! Terus bagaimana sekarang cara menghancurkannya. Dia hanya dapat dibunuh dengan kekuatan sihir yang kuat, seperti senjata suci «Ganjur» milik Adelllia.” Sabda Kakek Hork.

“Ti-tidak mungkin Kek. Walaupun aku kuat mengangkat senjata ini, namun aku tak yakin dapat melemparkan tombak ini tepat mengenainya.” Sanggah seorang perempuan dengan zirah yang sudah penuh pesok dan retak. Wajahnya yang tadi masih seputih salju, kini kian pucat dan lesu tak berdaya.

"Sial!!—" Umpat Kakek Hork.

"Kakek! Adellia! Jangan terlalu membelit-belitkan suasana, tinggal melemparkan tombak ini ke arahnya sajakan?!" Pungkasku, sampai kapan mereka akan berdebat.

"Iya memang, tapi tak semudah itu wahai anak muda." Jawab Kakek Hork.

"Apanya yang tidak semudah itu, kita juga berlatih melempar tombak. Aku juga salah satu prajurit terbaik milik kaum Elf, melempar tombak sudah menjadi latihan rutinku tiap hari. Jadi tidak masalahkan kalau aku saja yang melemparnya!

Tanpa berbasa-basi lagi aku lantas berjalan mendakati «Ganjur» milik Adellia, tampak biru padam sebab tidak mendapat asupan energi sihir sama sekali dari pemiliknya, Adellia. Terpampang gagah menghujam bentala dengan gagang tongkatnya sesekali mengeluarkan aura biru muda, tampak malu-malu namun kuat.

"Hey! Apa yang akan kau lakukan!" Bentak Adellia.

"Bukannya sudah jelas? Biar aku saja yang menghancurkannya!" Ucapku polos.

"Jangan macam-macam wahai Anak Muda!" Seru Kakek Hork mencoba menghentikanku. Namun apa yang dia lakukan sia-sia, kini tombak «Ganjur» telah berada di tanganku.

"Dasar bodoh!!!" Teriak Adellia.

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:

* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya

* Follow akun penulis

* Berkomentar yang baik dan bijak

* Always like and share in your social media

* Bintang limanya ya gaes

* Favorit (Ini yang paling penting wkwkwkwk)

Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D

# Terimakasih banyak gaes, see you on the next chapter.... ^_^

WA : 08973952193

IG : bayusastra20

email : bayu_sastra20@yahoo.co.id

Terpopuler

Comments

San Jaya

San Jaya

Dialog tag "lolongan" nggak cocok dipake buat orang, mending ganti "teriakan" atau "seruan"

----

Chapter ini masih sibuk di lingkup lepas sihirnya Guardian itu, ya.

Hmm, terlalu panjang sih :v

2020-07-04

0

Honey

Honey

Yeahhh. I think he can do that. Come on!

2020-07-03

0

rita ningsih

rita ningsih

tambah 1 dadi 15

2020-05-05

2

lihat semua
Episodes
1 [ Vol. 1 ] Ch. 1 – Pertempuran yang Sia-sia
2 [ Vol. 1 ] Ch. 2 – Adikku, Saigiri!
3 [ Vol. 1 ] Ch. 3 – Terselamatkan, Bala Bantuan?
4 [ Vol. 1 ] Ch. 4 – Adellia Monattlas
5 [ Vol. 1 ] Ch. 5 – Putus Asa?
6 [ Vol. 1 ] Ch. 6 – Bertahan dan Menyerang
7 [ Vol. 1 ] Ch. 7 – Saigiri, Maaf
8 [ Vol. 1 ] Ch. 8 – Bevestiger! Sihir Pengikat!
9 [ Vol. 1 ] Ch. 9 – Pidato Kemenangan
10 [ Vol. 1 ] Ch. 10 – Tim yang Luar Biasa
11 [ Vol. 1 ] Ch. 11 – Munculnya Orang Misterius
12 [ Vol. 1 ] Ch. 12 – Tidak Dapat Bergerak!
13 [ Vol. 1 ] Ch. 13 – Ruimte Rusten, Sihir Penghenti Ruang
14 [ Vol. 1 ] Ch. 14 – Mati
15 [ Vol. 1 ] Ch. 15 – Kekuatan Penuh, Volle Kracth!
16 Chapter 16 : Kemenangankah?
17 Chapter 17 : Pesan Kakek Hork
18 Chapter 18 : Eloknya Pagi
19 Chapter 19 : Keadaan Desa
20 Chapter 20 : Tatapan Aneh
21 Chapter 21 : Aula Akademi Bunga Hijau
22 Chapter 22 : Raja Laiquendi
23 Chapter 23 : Tantang Tyaga
24 Chapter 24 : Sumpah Darah Suci
25 Chapter 25 : Tetua Agamemnon
26 Chapter 26 : Pesan Raja Achille
27 Chapter 27 : Parels van Spirit Bal
28 Chapter 28 : Mutiara Roh
29 Chapter 29 : Kekuatan Roh Carsten
30 Chapter 30 : Tiga Serangkai
31 Chapter 31 : Pemusatan Roh
32 Chapter 32 : Wadah Ranah Roh
33 Ch. 33 – Bukan Burung Dalam Sangkar
34 Ch. 34 – Praktek dan Petualangan
35 Ch. 35 – Lubang Cicin Energi Roh
36 Ch. 36 – Senjata Roh Jiwa I
37 Ch. 37 – Senjata Roh Jiwa II
38 Ch. 38 – Pengendalian Energi Roh
39 Ch. 39 – Balok Bata
40 Ch. 40 – Apakah Sebuah Konklusi?
41 Ch. 41 – Kekecewaan sang Raja
42 Ch. 42 – Penggambaran Jiwa
43 Ch. 43 – Kerbau Tanduk Sabit
44 Ch. 44 – Pilihan Carsten
45 Ch. 45 – Dual Sword
46 Ch. 46 – Hidup dan Mati
47 Ch. 47 – Tak Sadarkan Diri
48 Ch. 48 – Berhasil
49 Ch. 49 – Kepolosan Carsten
50 Ch. 50 – Efek Samping
51 Ch. 51 – Pertemuan di Hutan Kabut
52 Ch. 52 – Berbincang
53 Ch. 53 – Ada yang Berbeda
54 Ch. 54 – Bukan Hal yang Istimewa
55 Ch. 55 – Perdebatan Antar Saudara
56 Ch. 56 – Tidak Sesuai Harapan
57 Ch. 57 – Hari yang Melelahkan
58 Ch. 58 – Peleburan Energi Roh nan Aneh
59 Ch. 59 – Menyiapkan Barang
60 Ch. 60 – Latih Tanding
61 Ch. 61 – Tidak Ada Peningkatan
62 Ch. 62 – JANGAN BERCANDA!
63 Ch. 63 – Pulang
64 Ch. 64 – Perbincangan Sebelum Berangkat
65 Ch. 65 – Menunggu
66 Ch. 66 – Menunggu (2)
67 Ch. 67 – Tak Asing
68 Ch. 68 – Nona Adellia
69 Ch. 69 – Dimulai
70 Ch. 70 – Tiny Wolf
71 Ch. 71 – Kerabat Dekat
72 Ch. 72 – Buku Catatan
73 Ch. 73 – Penaklukan Tiny Wolf
74 Ch. 74 – Diskusi
75 Ch. 75 – Gemercik Aliran Sungai
76 Ch. 76 – Sepakat
77 Ch. 77 – Malam pun Tiba
78 Ch. 78 – Kemampuan dan Kekuatan
79 Ch. 79 – Aura Membunuh
80 Ch. 80 – Kau Pencuri!
81 Ch. 81 – Penyihir Kehormatan
82 Ch. 82 – Hans yang Ceroboh
83 Ch. 83 – Bahaya dan Salah
84 Ch. 84 – Makan Malam
85 Ch. 85 – Menggoda Adellia
86 Ch. 86 – Dua Lelaki Sejati
87 Ch. 87 – Melanjutkan Perjalanan
88 Ch. 88 – Gua Misterius
89 Ch. 89 – Majuu?
90 Ch. 90 – Kabut Tebal
91 Ch. 91 – Sial! Beribu Sial!
92 Ch. 92 – Hilangnya Kakek Hork
93 Ch. 93 – Sebongkah Batu
94 Ch. 94 – Skill Memasak
95 Ch. 95 – Mungkinkah?
96 Ch. 96 – Gelombang Pertama?!
97 Ch. 97 – Great Fire Ball
98 Ch. 98 – Efek Samping
99 Ch. 99 – Syukurlah
100 Ch. 100 – Kehabisan «Magen»
101 Ch. 101 – Tiga? Tidak, Ternyata Enam
102 Ch. 102 – Tidak, Masih Belum
103 Ch. 103 – Mencuri?
104 Ch. 104 – Kristal Sihir
105 Ch. 105 – Aku Tidak Bodoh
106 Ch. 106 – Tarian Pedang
107 Ch. 107 – Sebuah Parit Kematian
108 Ch. 108 – Tidur atau Menyerah?
109 Ch. 109 – Lagi-Lagi Adellia
110 Ch. 110 – «Viehoekige Beschermer»
111 Ch. 111 – Rencana Peningkatan Peforma
112 Ch. 112 – Terkendali
113 Ch. 113 – Mimpi
114 Ch. 114 – Waktunya Jaga
115 Ch. 115 – Pos Jaga
116 Ch. 116 – Zonics Archike
117 Ch. 117 – Barrier Pelindung
118 Ch. 118 – Majuu
119 Ch. 119 – Terimakasih
120 Ch. 120 – Keberangkatan
121 Ch. 121 – Tim Utama
122 Ch. 122 – Munculnya Kabut Aneh
123 Ch. 123 – Aku, Mati?
124 Ch. 124 – Kenapa?
125 !!!! EVENT BERHADIAH UANG TUNAI !!!!
126 Ch. 125 – Keluar?! Bodoh!
127 Ch. 126 – «Akik Steen» dan «Volle Kracth»
128 Ch. 127 – Dia Bukan Tyaga
129 Ch. 128 – Pasukan Adellia
130 Ch. 129 – Kehidupan
131 Ch. 130 – SON!
132 Ch. 131 – Heiler
133 [ END ] Ch. 132 – Akhir Penderitaan
Episodes

Updated 133 Episodes

1
[ Vol. 1 ] Ch. 1 – Pertempuran yang Sia-sia
2
[ Vol. 1 ] Ch. 2 – Adikku, Saigiri!
3
[ Vol. 1 ] Ch. 3 – Terselamatkan, Bala Bantuan?
4
[ Vol. 1 ] Ch. 4 – Adellia Monattlas
5
[ Vol. 1 ] Ch. 5 – Putus Asa?
6
[ Vol. 1 ] Ch. 6 – Bertahan dan Menyerang
7
[ Vol. 1 ] Ch. 7 – Saigiri, Maaf
8
[ Vol. 1 ] Ch. 8 – Bevestiger! Sihir Pengikat!
9
[ Vol. 1 ] Ch. 9 – Pidato Kemenangan
10
[ Vol. 1 ] Ch. 10 – Tim yang Luar Biasa
11
[ Vol. 1 ] Ch. 11 – Munculnya Orang Misterius
12
[ Vol. 1 ] Ch. 12 – Tidak Dapat Bergerak!
13
[ Vol. 1 ] Ch. 13 – Ruimte Rusten, Sihir Penghenti Ruang
14
[ Vol. 1 ] Ch. 14 – Mati
15
[ Vol. 1 ] Ch. 15 – Kekuatan Penuh, Volle Kracth!
16
Chapter 16 : Kemenangankah?
17
Chapter 17 : Pesan Kakek Hork
18
Chapter 18 : Eloknya Pagi
19
Chapter 19 : Keadaan Desa
20
Chapter 20 : Tatapan Aneh
21
Chapter 21 : Aula Akademi Bunga Hijau
22
Chapter 22 : Raja Laiquendi
23
Chapter 23 : Tantang Tyaga
24
Chapter 24 : Sumpah Darah Suci
25
Chapter 25 : Tetua Agamemnon
26
Chapter 26 : Pesan Raja Achille
27
Chapter 27 : Parels van Spirit Bal
28
Chapter 28 : Mutiara Roh
29
Chapter 29 : Kekuatan Roh Carsten
30
Chapter 30 : Tiga Serangkai
31
Chapter 31 : Pemusatan Roh
32
Chapter 32 : Wadah Ranah Roh
33
Ch. 33 – Bukan Burung Dalam Sangkar
34
Ch. 34 – Praktek dan Petualangan
35
Ch. 35 – Lubang Cicin Energi Roh
36
Ch. 36 – Senjata Roh Jiwa I
37
Ch. 37 – Senjata Roh Jiwa II
38
Ch. 38 – Pengendalian Energi Roh
39
Ch. 39 – Balok Bata
40
Ch. 40 – Apakah Sebuah Konklusi?
41
Ch. 41 – Kekecewaan sang Raja
42
Ch. 42 – Penggambaran Jiwa
43
Ch. 43 – Kerbau Tanduk Sabit
44
Ch. 44 – Pilihan Carsten
45
Ch. 45 – Dual Sword
46
Ch. 46 – Hidup dan Mati
47
Ch. 47 – Tak Sadarkan Diri
48
Ch. 48 – Berhasil
49
Ch. 49 – Kepolosan Carsten
50
Ch. 50 – Efek Samping
51
Ch. 51 – Pertemuan di Hutan Kabut
52
Ch. 52 – Berbincang
53
Ch. 53 – Ada yang Berbeda
54
Ch. 54 – Bukan Hal yang Istimewa
55
Ch. 55 – Perdebatan Antar Saudara
56
Ch. 56 – Tidak Sesuai Harapan
57
Ch. 57 – Hari yang Melelahkan
58
Ch. 58 – Peleburan Energi Roh nan Aneh
59
Ch. 59 – Menyiapkan Barang
60
Ch. 60 – Latih Tanding
61
Ch. 61 – Tidak Ada Peningkatan
62
Ch. 62 – JANGAN BERCANDA!
63
Ch. 63 – Pulang
64
Ch. 64 – Perbincangan Sebelum Berangkat
65
Ch. 65 – Menunggu
66
Ch. 66 – Menunggu (2)
67
Ch. 67 – Tak Asing
68
Ch. 68 – Nona Adellia
69
Ch. 69 – Dimulai
70
Ch. 70 – Tiny Wolf
71
Ch. 71 – Kerabat Dekat
72
Ch. 72 – Buku Catatan
73
Ch. 73 – Penaklukan Tiny Wolf
74
Ch. 74 – Diskusi
75
Ch. 75 – Gemercik Aliran Sungai
76
Ch. 76 – Sepakat
77
Ch. 77 – Malam pun Tiba
78
Ch. 78 – Kemampuan dan Kekuatan
79
Ch. 79 – Aura Membunuh
80
Ch. 80 – Kau Pencuri!
81
Ch. 81 – Penyihir Kehormatan
82
Ch. 82 – Hans yang Ceroboh
83
Ch. 83 – Bahaya dan Salah
84
Ch. 84 – Makan Malam
85
Ch. 85 – Menggoda Adellia
86
Ch. 86 – Dua Lelaki Sejati
87
Ch. 87 – Melanjutkan Perjalanan
88
Ch. 88 – Gua Misterius
89
Ch. 89 – Majuu?
90
Ch. 90 – Kabut Tebal
91
Ch. 91 – Sial! Beribu Sial!
92
Ch. 92 – Hilangnya Kakek Hork
93
Ch. 93 – Sebongkah Batu
94
Ch. 94 – Skill Memasak
95
Ch. 95 – Mungkinkah?
96
Ch. 96 – Gelombang Pertama?!
97
Ch. 97 – Great Fire Ball
98
Ch. 98 – Efek Samping
99
Ch. 99 – Syukurlah
100
Ch. 100 – Kehabisan «Magen»
101
Ch. 101 – Tiga? Tidak, Ternyata Enam
102
Ch. 102 – Tidak, Masih Belum
103
Ch. 103 – Mencuri?
104
Ch. 104 – Kristal Sihir
105
Ch. 105 – Aku Tidak Bodoh
106
Ch. 106 – Tarian Pedang
107
Ch. 107 – Sebuah Parit Kematian
108
Ch. 108 – Tidur atau Menyerah?
109
Ch. 109 – Lagi-Lagi Adellia
110
Ch. 110 – «Viehoekige Beschermer»
111
Ch. 111 – Rencana Peningkatan Peforma
112
Ch. 112 – Terkendali
113
Ch. 113 – Mimpi
114
Ch. 114 – Waktunya Jaga
115
Ch. 115 – Pos Jaga
116
Ch. 116 – Zonics Archike
117
Ch. 117 – Barrier Pelindung
118
Ch. 118 – Majuu
119
Ch. 119 – Terimakasih
120
Ch. 120 – Keberangkatan
121
Ch. 121 – Tim Utama
122
Ch. 122 – Munculnya Kabut Aneh
123
Ch. 123 – Aku, Mati?
124
Ch. 124 – Kenapa?
125
!!!! EVENT BERHADIAH UANG TUNAI !!!!
126
Ch. 125 – Keluar?! Bodoh!
127
Ch. 126 – «Akik Steen» dan «Volle Kracth»
128
Ch. 127 – Dia Bukan Tyaga
129
Ch. 128 – Pasukan Adellia
130
Ch. 129 – Kehidupan
131
Ch. 130 – SON!
132
Ch. 131 – Heiler
133
[ END ] Ch. 132 – Akhir Penderitaan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!