Adellia dan Kakek Hork menghampiriku. Mungkin mereka berdua mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Orang tadi. Sekiranya sekarang mereka pasti akan menanyakan hal tersebut. Aku tidak dapat menyembunyikan lagi.
"Namamu Tyaga Nasutionkan?” Tanya Kakek Hork.
“Iya Kek.” Jawabku singkat.
Kakek Hork memandangiku dari atas sampai bawah, sesekali mata kami saling berpapasan tajam. Bak barang langka, mata Kakek Hork dengan ganas memperhatikanku, tanpa secela bagian tubuhku yang tidak terlewatkan.
“Ada apa Kek? Ada yang salah denganku?” Gumamku.
“Apa tubuhmu baik-baik saja? Bagaimana dengan energi sihirmu?” Kali ini giliran Adellia yang mengajukan pertanyaan.
“Maksudmu? Tentu saja tubuhku tidak baik-baik saja, banyak luka disekujur tubuhku.” Memang seharusnya seperti itu, tidaklah mungkin dengan pertarungan dengan Zardock dan orang misterius itu tidak meninggalkan luka apapun, bahkan lebam dan luka menjadi suatu kewajiban dalam suatu peperangan. Bahkan tak jarang goresan, luka dalam, dan bekas tebasan bisa menjadi hadiah atau oleh-oleh rumah.
“Bukan itu maksudku.” Ucap Adellia.
“Melainkan apa tidak ada efek samping sama sekali setelah kau memegang dan menggunakan «Ganjur» milikku?” Imbuhnya.
“Oh... Tidak terjadi apa-apa kok. Memangnya kenapa?”
“Sungguh aneh... Pada umumnya jika ada seseorang yang bukan pemilik atau pemengang senjata jiwa yang keluar dari «Qua» pemiliknya, dan terlebih setidaknya memiliki tingkat petarung {Petarung Bumi Bintang Lima} senjata tersebut akan menyerap semua energi kehidupan dan sihir orang itu.” Tutur Kakek Hork.
“Tapi bukankah yang memiliki «Akik Steen» adalah Kakek, bukan Adellia?” Tanyaku.
“Benar, yang dapat mengendalikan senjata jiwa adalah pemilik «Qua», namun yang dapat mengeluarkan «Qua» tersebut dari dalam tubuh atau jiwa pemiliknya adalah «Akik Steen», dan yang dapat mengaktifkan «Akik Steen» hanyalah penyihir dengan tingkat minimal {Guru Penyihir Bintang Delapan}.” Jelas Kakek Hork.
“Heeeee?? Aku sama sekali tidak paham apa yang Kakek jelaskan dari tadi.” Bingungku sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Dasar orang pedalaman, hal dasar seperti ini saja tidak mengetahuinya.” Ejek Adellia, sepertinya energi kehidupan dan sihir hampir pulih kembali. Sekarang tubuhnya mulai membaik dan wajahnya tidak pucat lagi.
“Hey, apa maksudmu? Kau menantangku?”
“Dasar tak tahu diri! Sini aku layani.” Ucapnya.
“Sudah-sudah! Peperangan telah usai, sebaiknya kau suruh pasukanmu untuk mundur dan istirahat, dan kau juga, Tyaga. Kembalilah bersama kaummu dan jelaskan semua apa yang telah terjadi. Aku harap kau dapat membujuk ketua kaummu untuk kembali bergabung ke markas pusat untuk menyatukan kekuatan.” Sela Kakek Hork menengani perseteruan antara aku dan Adellia.
“Baiklah Kek. Aku akan kembali ke kamp. Biar aku dan beberapa pasukan di sini sebentar untuk membersihkan sisa pertempuran dan menyelediki mayat Zardock.” Ujar Adellia patuh.
“Ajak beberapa panyihir yang telah kupilih untuk melakukan penyelidikan.”
“Kakek, Adellia. Aku ijin undur diri untuk kembali ke kamp kaumku.” Ucapku.
“Iya...” Tukas Adellia. Setelah itu dia pergi meninggalkan aku dan Kakek Hork, menghampiri pasukan yang tersisa dan membaginya menjadi dua pasukan, satu pasukan yang terluka parah untuk segera kembali ke kamp dan yang masih mempunyai tenaga lebih mengikuti Adellia untuk membersikan sisa pertempuran.
Banyak mayat pasukan bala bantuan tergeletak layu, darah merah kental masih saja mengalir walau tubuh sudah menjadi bangkai. Bau gosong, debu, amis, bertaburan lepas di udara, menjadi aroma yang menyeramkan, tanda perang telah usai. Pedang, tombak, tongkat sihir, baju zirah, dan sampah-sampah perang lainnya menjadi barang-barang penghias bentala. Inilah seni yang dihasilkan oleh peperangan.
Kakek Hork perlahan-lahan mundur ke belakang sebuah pohon, dia merogoh saku baju penyihirnya bagian kiri. Kelihatannya itu hal yang aneh dan misterius. Matanya melirik ke kanan ke kiri seakan tengah menyembunyikan sesuatu dari hiruk pikuk pasukan bala bantuan.
“Wahai anak muda, mendekatlah ke sini.” Bisiknya lirih sambil memberi isyarat memanggil. Tanpa berpikir lama aku menghampirinya.
“Ada apa Kek? Bukannya tadi Kakek menyuruhku untuk segera kembali ke kamp?” Tanyaku lirih pula.
“Iya memang, tapi sebentar saja aku ingin menitipkan beberapa surat dan barang.” Ujarnya misterius.
“Surat dan barang buat siapa Kek?” Tanyaku penuh keingin tahuan.
“Sssttt... Jangan banyak bicara nanti bisa kedengaran orang lain. Surat dan barang ini sangat rahasia, sesampainya ke kamp kau harus langsung memberikannya ke kepala sukumu atau kalau bisa langsung ke tangan kepala kaummu, Kaum Elf.” Ujarnya seraya menyodorkan beberapa lembar kertas yang tergulung rapi dengan pengikat tali merah bertanda cap kerajaan pusat dan juga suatu dua bola kristal sekecil kelereng berwarna merah dan hijau.
“Bola kristal apa ini Kek?”
“Kau, jangan sekali-kali berani membuka surat-surat itu dan terlebih lagi jangan sampai dua bola kristal itu sampai hilang.” Pinta Kakek Hork.
“Lekaslah kembali ke kamp, jangan biarkan siapapun tahu akan surat-surat ini dan bola kristal itu. Aku sangat percaya kepadamu wahai anak muda, Tyaga Nasution.” Imbuhnya, menepuk-tepuk bahuku. Tetap saja dia memanggilku dengan sebutan “Wahai anak muda” padahal dia sudah mengetahui namaku.
“Baiklah Kek, akan kujaga dengan baik.” Tandasku penuh keyakinan.
“Oh tunggu! Aku ada satu surat lagi untukmu.”
“Apa lagi, Kek...” Ucapku lesu seakan capek akan omongannya.
“Berikan ini saat kau ingin memasuki akademi petarung atau penyihir di markas pusat. Untuk masalah kau yang seorang «Half-Elf» aku dapat mengerti akan keadaanmu, tapi sebaiknya kau menyembunyikan identitas tersebut.”
“Aku mengerti Kek. Terimakasih telah mengkhawatirkannya.” Ujarku seraya menampakkan senyuman lepas dan berjalan menjauh. Aku sangat bersyukur setelah semua peperangan ini telah usai ditambah lagi aku telah mendapatkan beberapa teman baru. Adellia, Kakek Hork, dan pasukan bala bantuan. Sepertinya Adellia tidak, dia mungkin akan aku masukkan ke dalam list rivalku.
“Atas nama keluarga Nasution, aku berjanji. Tak lama lagi aku akan segera menemui kalian lagi, dan saat itu pula aku akan meningkatkan kemampuanku lagi!” Dari kejauhan tampak Kakek Hork membalas senyumanku dan melambaikan tangan. Bibir tuanya seaakan mengatakan sesuatu.
“Aku akan menunggumu.” Mungkin itu yang dia ucapkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 133 Episodes
Comments
Honey
I'll be waiting. Waiting for u ....
(Kira-kira itu soundtrack lagunya.)
2020-07-04
0
San Jaya
Dialog tag "gumam" itu berbisik pelan, loh.
Ganti aja "tanyaku"
----
Penggunaan senjata jiwa belibet amat dah :v
----
Hmmm, informasi Kakek Hork kayaknya kurang banyak sejauh ini.
2020-07-04
0
rita ningsih
mantull bosaa
2020-05-05
2