Chapter 17 : Pesan Kakek Hork

Adellia dan Kakek Hork menghampiriku. Mungkin mereka berdua mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Orang tadi. Sekiranya sekarang mereka pasti akan menanyakan hal tersebut. Aku tidak dapat menyembunyikan lagi.

"Namamu Tyaga Nasutionkan?” Tanya Kakek Hork.

“Iya Kek.” Jawabku singkat.

Kakek Hork memandangiku dari atas sampai bawah, sesekali mata kami saling berpapasan tajam. Bak barang langka, mata Kakek Hork dengan ganas memperhatikanku, tanpa secela bagian tubuhku yang tidak terlewatkan.

“Ada apa Kek? Ada yang salah denganku?” Gumamku.

“Apa tubuhmu baik-baik saja? Bagaimana dengan energi sihirmu?” Kali ini giliran Adellia yang mengajukan pertanyaan.

“Maksudmu? Tentu saja tubuhku tidak baik-baik saja, banyak luka disekujur tubuhku.” Memang seharusnya seperti itu, tidaklah mungkin dengan pertarungan dengan Zardock dan orang misterius itu tidak meninggalkan luka apapun, bahkan lebam dan luka menjadi suatu kewajiban dalam suatu peperangan. Bahkan tak jarang goresan, luka dalam, dan bekas tebasan bisa menjadi hadiah atau oleh-oleh rumah.

“Bukan itu maksudku.” Ucap Adellia.

“Melainkan apa tidak ada efek samping sama sekali setelah kau memegang dan menggunakan «Ganjur» milikku?” Imbuhnya.

“Oh... Tidak terjadi apa-apa kok. Memangnya kenapa?”

“Sungguh aneh... Pada umumnya jika ada seseorang yang bukan pemilik atau pemengang senjata jiwa yang keluar dari «Qua» pemiliknya, dan terlebih setidaknya memiliki tingkat petarung {Petarung Bumi Bintang Lima} senjata tersebut akan menyerap semua energi kehidupan dan sihir orang itu.” Tutur Kakek Hork.

“Tapi bukankah yang memiliki «Akik Steen» adalah Kakek, bukan Adellia?” Tanyaku.

“Benar, yang dapat mengendalikan senjata jiwa adalah pemilik «Qua», namun yang dapat mengeluarkan «Qua» tersebut dari dalam tubuh atau jiwa pemiliknya adalah «Akik Steen», dan yang dapat mengaktifkan «Akik Steen» hanyalah penyihir dengan tingkat minimal {Guru Penyihir Bintang Delapan}.” Jelas Kakek Hork.

“Heeeee?? Aku sama sekali tidak paham apa yang Kakek jelaskan dari tadi.” Bingungku sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Dasar orang pedalaman, hal dasar seperti ini saja tidak mengetahuinya.” Ejek Adellia, sepertinya energi kehidupan dan sihir hampir pulih kembali. Sekarang tubuhnya mulai membaik dan wajahnya tidak pucat lagi.

“Hey, apa maksudmu? Kau menantangku?”

“Dasar tak tahu diri! Sini aku layani.” Ucapnya.

“Sudah-sudah! Peperangan telah usai, sebaiknya kau suruh pasukanmu untuk mundur dan istirahat, dan kau juga, Tyaga. Kembalilah bersama kaummu dan jelaskan semua apa yang telah terjadi. Aku harap kau dapat membujuk ketua kaummu untuk kembali bergabung ke markas pusat untuk menyatukan kekuatan.” Sela Kakek Hork menengani perseteruan antara aku dan Adellia.

“Baiklah Kek. Aku akan kembali ke kamp. Biar aku dan beberapa pasukan di sini sebentar untuk membersihkan sisa pertempuran dan menyelediki mayat Zardock.” Ujar Adellia patuh.

“Ajak beberapa panyihir yang telah kupilih untuk melakukan penyelidikan.”

“Kakek, Adellia. Aku ijin undur diri untuk kembali ke kamp kaumku.” Ucapku.

“Iya...” Tukas Adellia. Setelah itu dia pergi meninggalkan aku dan Kakek Hork, menghampiri pasukan yang tersisa dan membaginya menjadi dua pasukan, satu pasukan yang terluka parah untuk segera kembali ke kamp dan yang masih mempunyai tenaga lebih mengikuti Adellia untuk membersikan sisa pertempuran.

Banyak mayat pasukan bala bantuan tergeletak layu, darah merah kental masih saja mengalir walau tubuh sudah menjadi bangkai. Bau gosong, debu, amis, bertaburan lepas di udara, menjadi aroma yang menyeramkan, tanda perang telah usai. Pedang, tombak, tongkat sihir, baju zirah, dan sampah-sampah perang lainnya menjadi barang-barang penghias bentala. Inilah seni yang dihasilkan oleh peperangan.

Kakek Hork perlahan-lahan mundur ke belakang sebuah pohon, dia merogoh saku baju penyihirnya bagian kiri. Kelihatannya itu hal yang aneh dan misterius. Matanya melirik ke kanan ke kiri seakan tengah menyembunyikan sesuatu dari hiruk pikuk pasukan bala bantuan.

“Wahai anak muda, mendekatlah ke sini.” Bisiknya lirih sambil memberi isyarat memanggil. Tanpa berpikir lama aku menghampirinya.

“Ada apa Kek? Bukannya tadi Kakek menyuruhku untuk segera kembali ke kamp?” Tanyaku lirih pula.

“Iya memang, tapi sebentar saja aku ingin menitipkan beberapa surat dan barang.” Ujarnya misterius.

“Surat dan barang buat siapa Kek?” Tanyaku penuh keingin tahuan.

“Sssttt... Jangan banyak bicara nanti bisa kedengaran orang lain. Surat dan barang ini sangat rahasia, sesampainya ke kamp kau harus langsung memberikannya ke kepala sukumu atau kalau bisa langsung ke tangan kepala kaummu, Kaum Elf.” Ujarnya seraya menyodorkan beberapa lembar kertas yang tergulung rapi dengan pengikat tali merah bertanda cap kerajaan pusat dan juga suatu dua bola kristal sekecil kelereng berwarna merah dan hijau.

“Bola kristal apa ini Kek?”

“Kau, jangan sekali-kali berani membuka surat-surat itu dan terlebih lagi jangan sampai dua bola kristal itu sampai hilang.” Pinta Kakek Hork.

“Lekaslah kembali ke kamp, jangan biarkan siapapun tahu akan surat-surat ini dan bola kristal itu. Aku sangat percaya kepadamu wahai anak muda, Tyaga Nasution.” Imbuhnya, menepuk-tepuk bahuku. Tetap saja dia memanggilku dengan sebutan “Wahai anak muda” padahal dia sudah mengetahui namaku.

“Baiklah Kek, akan kujaga dengan baik.” Tandasku penuh keyakinan.

“Oh tunggu! Aku ada satu surat lagi untukmu.”

“Apa lagi, Kek...” Ucapku lesu seakan capek akan omongannya.

“Berikan ini saat kau ingin memasuki akademi petarung atau penyihir di markas pusat. Untuk masalah kau yang seorang «Half-Elf» aku dapat mengerti akan keadaanmu, tapi sebaiknya kau menyembunyikan identitas tersebut.”

“Aku mengerti Kek. Terimakasih telah mengkhawatirkannya.” Ujarku seraya menampakkan senyuman lepas dan berjalan menjauh. Aku sangat bersyukur setelah semua peperangan ini telah usai ditambah lagi aku telah mendapatkan beberapa teman baru. Adellia, Kakek Hork, dan pasukan bala bantuan. Sepertinya Adellia tidak, dia mungkin akan aku masukkan ke dalam list rivalku.

“Atas nama keluarga Nasution, aku berjanji. Tak lama lagi aku akan segera menemui kalian lagi, dan saat itu pula aku akan meningkatkan kemampuanku lagi!” Dari kejauhan tampak Kakek Hork membalas senyumanku dan melambaikan tangan. Bibir tuanya seaakan mengatakan sesuatu.

“Aku akan menunggumu.” Mungkin itu yang dia ucapkan.

Terpopuler

Comments

Honey

Honey

I'll be waiting. Waiting for u ....

(Kira-kira itu soundtrack lagunya.)

2020-07-04

0

San Jaya

San Jaya

Dialog tag "gumam" itu berbisik pelan, loh.

Ganti aja "tanyaku"

----

Penggunaan senjata jiwa belibet amat dah :v

----

Hmmm, informasi Kakek Hork kayaknya kurang banyak sejauh ini.

2020-07-04

0

rita ningsih

rita ningsih

mantull bosaa

2020-05-05

2

lihat semua
Episodes
1 [ Vol. 1 ] Ch. 1 – Pertempuran yang Sia-sia
2 [ Vol. 1 ] Ch. 2 – Adikku, Saigiri!
3 [ Vol. 1 ] Ch. 3 – Terselamatkan, Bala Bantuan?
4 [ Vol. 1 ] Ch. 4 – Adellia Monattlas
5 [ Vol. 1 ] Ch. 5 – Putus Asa?
6 [ Vol. 1 ] Ch. 6 – Bertahan dan Menyerang
7 [ Vol. 1 ] Ch. 7 – Saigiri, Maaf
8 [ Vol. 1 ] Ch. 8 – Bevestiger! Sihir Pengikat!
9 [ Vol. 1 ] Ch. 9 – Pidato Kemenangan
10 [ Vol. 1 ] Ch. 10 – Tim yang Luar Biasa
11 [ Vol. 1 ] Ch. 11 – Munculnya Orang Misterius
12 [ Vol. 1 ] Ch. 12 – Tidak Dapat Bergerak!
13 [ Vol. 1 ] Ch. 13 – Ruimte Rusten, Sihir Penghenti Ruang
14 [ Vol. 1 ] Ch. 14 – Mati
15 [ Vol. 1 ] Ch. 15 – Kekuatan Penuh, Volle Kracth!
16 Chapter 16 : Kemenangankah?
17 Chapter 17 : Pesan Kakek Hork
18 Chapter 18 : Eloknya Pagi
19 Chapter 19 : Keadaan Desa
20 Chapter 20 : Tatapan Aneh
21 Chapter 21 : Aula Akademi Bunga Hijau
22 Chapter 22 : Raja Laiquendi
23 Chapter 23 : Tantang Tyaga
24 Chapter 24 : Sumpah Darah Suci
25 Chapter 25 : Tetua Agamemnon
26 Chapter 26 : Pesan Raja Achille
27 Chapter 27 : Parels van Spirit Bal
28 Chapter 28 : Mutiara Roh
29 Chapter 29 : Kekuatan Roh Carsten
30 Chapter 30 : Tiga Serangkai
31 Chapter 31 : Pemusatan Roh
32 Chapter 32 : Wadah Ranah Roh
33 Ch. 33 – Bukan Burung Dalam Sangkar
34 Ch. 34 – Praktek dan Petualangan
35 Ch. 35 – Lubang Cicin Energi Roh
36 Ch. 36 – Senjata Roh Jiwa I
37 Ch. 37 – Senjata Roh Jiwa II
38 Ch. 38 – Pengendalian Energi Roh
39 Ch. 39 – Balok Bata
40 Ch. 40 – Apakah Sebuah Konklusi?
41 Ch. 41 – Kekecewaan sang Raja
42 Ch. 42 – Penggambaran Jiwa
43 Ch. 43 – Kerbau Tanduk Sabit
44 Ch. 44 – Pilihan Carsten
45 Ch. 45 – Dual Sword
46 Ch. 46 – Hidup dan Mati
47 Ch. 47 – Tak Sadarkan Diri
48 Ch. 48 – Berhasil
49 Ch. 49 – Kepolosan Carsten
50 Ch. 50 – Efek Samping
51 Ch. 51 – Pertemuan di Hutan Kabut
52 Ch. 52 – Berbincang
53 Ch. 53 – Ada yang Berbeda
54 Ch. 54 – Bukan Hal yang Istimewa
55 Ch. 55 – Perdebatan Antar Saudara
56 Ch. 56 – Tidak Sesuai Harapan
57 Ch. 57 – Hari yang Melelahkan
58 Ch. 58 – Peleburan Energi Roh nan Aneh
59 Ch. 59 – Menyiapkan Barang
60 Ch. 60 – Latih Tanding
61 Ch. 61 – Tidak Ada Peningkatan
62 Ch. 62 – JANGAN BERCANDA!
63 Ch. 63 – Pulang
64 Ch. 64 – Perbincangan Sebelum Berangkat
65 Ch. 65 – Menunggu
66 Ch. 66 – Menunggu (2)
67 Ch. 67 – Tak Asing
68 Ch. 68 – Nona Adellia
69 Ch. 69 – Dimulai
70 Ch. 70 – Tiny Wolf
71 Ch. 71 – Kerabat Dekat
72 Ch. 72 – Buku Catatan
73 Ch. 73 – Penaklukan Tiny Wolf
74 Ch. 74 – Diskusi
75 Ch. 75 – Gemercik Aliran Sungai
76 Ch. 76 – Sepakat
77 Ch. 77 – Malam pun Tiba
78 Ch. 78 – Kemampuan dan Kekuatan
79 Ch. 79 – Aura Membunuh
80 Ch. 80 – Kau Pencuri!
81 Ch. 81 – Penyihir Kehormatan
82 Ch. 82 – Hans yang Ceroboh
83 Ch. 83 – Bahaya dan Salah
84 Ch. 84 – Makan Malam
85 Ch. 85 – Menggoda Adellia
86 Ch. 86 – Dua Lelaki Sejati
87 Ch. 87 – Melanjutkan Perjalanan
88 Ch. 88 – Gua Misterius
89 Ch. 89 – Majuu?
90 Ch. 90 – Kabut Tebal
91 Ch. 91 – Sial! Beribu Sial!
92 Ch. 92 – Hilangnya Kakek Hork
93 Ch. 93 – Sebongkah Batu
94 Ch. 94 – Skill Memasak
95 Ch. 95 – Mungkinkah?
96 Ch. 96 – Gelombang Pertama?!
97 Ch. 97 – Great Fire Ball
98 Ch. 98 – Efek Samping
99 Ch. 99 – Syukurlah
100 Ch. 100 – Kehabisan «Magen»
101 Ch. 101 – Tiga? Tidak, Ternyata Enam
102 Ch. 102 – Tidak, Masih Belum
103 Ch. 103 – Mencuri?
104 Ch. 104 – Kristal Sihir
105 Ch. 105 – Aku Tidak Bodoh
106 Ch. 106 – Tarian Pedang
107 Ch. 107 – Sebuah Parit Kematian
108 Ch. 108 – Tidur atau Menyerah?
109 Ch. 109 – Lagi-Lagi Adellia
110 Ch. 110 – «Viehoekige Beschermer»
111 Ch. 111 – Rencana Peningkatan Peforma
112 Ch. 112 – Terkendali
113 Ch. 113 – Mimpi
114 Ch. 114 – Waktunya Jaga
115 Ch. 115 – Pos Jaga
116 Ch. 116 – Zonics Archike
117 Ch. 117 – Barrier Pelindung
118 Ch. 118 – Majuu
119 Ch. 119 – Terimakasih
120 Ch. 120 – Keberangkatan
121 Ch. 121 – Tim Utama
122 Ch. 122 – Munculnya Kabut Aneh
123 Ch. 123 – Aku, Mati?
124 Ch. 124 – Kenapa?
125 !!!! EVENT BERHADIAH UANG TUNAI !!!!
126 Ch. 125 – Keluar?! Bodoh!
127 Ch. 126 – «Akik Steen» dan «Volle Kracth»
128 Ch. 127 – Dia Bukan Tyaga
129 Ch. 128 – Pasukan Adellia
130 Ch. 129 – Kehidupan
131 Ch. 130 – SON!
132 Ch. 131 – Heiler
133 [ END ] Ch. 132 – Akhir Penderitaan
Episodes

Updated 133 Episodes

1
[ Vol. 1 ] Ch. 1 – Pertempuran yang Sia-sia
2
[ Vol. 1 ] Ch. 2 – Adikku, Saigiri!
3
[ Vol. 1 ] Ch. 3 – Terselamatkan, Bala Bantuan?
4
[ Vol. 1 ] Ch. 4 – Adellia Monattlas
5
[ Vol. 1 ] Ch. 5 – Putus Asa?
6
[ Vol. 1 ] Ch. 6 – Bertahan dan Menyerang
7
[ Vol. 1 ] Ch. 7 – Saigiri, Maaf
8
[ Vol. 1 ] Ch. 8 – Bevestiger! Sihir Pengikat!
9
[ Vol. 1 ] Ch. 9 – Pidato Kemenangan
10
[ Vol. 1 ] Ch. 10 – Tim yang Luar Biasa
11
[ Vol. 1 ] Ch. 11 – Munculnya Orang Misterius
12
[ Vol. 1 ] Ch. 12 – Tidak Dapat Bergerak!
13
[ Vol. 1 ] Ch. 13 – Ruimte Rusten, Sihir Penghenti Ruang
14
[ Vol. 1 ] Ch. 14 – Mati
15
[ Vol. 1 ] Ch. 15 – Kekuatan Penuh, Volle Kracth!
16
Chapter 16 : Kemenangankah?
17
Chapter 17 : Pesan Kakek Hork
18
Chapter 18 : Eloknya Pagi
19
Chapter 19 : Keadaan Desa
20
Chapter 20 : Tatapan Aneh
21
Chapter 21 : Aula Akademi Bunga Hijau
22
Chapter 22 : Raja Laiquendi
23
Chapter 23 : Tantang Tyaga
24
Chapter 24 : Sumpah Darah Suci
25
Chapter 25 : Tetua Agamemnon
26
Chapter 26 : Pesan Raja Achille
27
Chapter 27 : Parels van Spirit Bal
28
Chapter 28 : Mutiara Roh
29
Chapter 29 : Kekuatan Roh Carsten
30
Chapter 30 : Tiga Serangkai
31
Chapter 31 : Pemusatan Roh
32
Chapter 32 : Wadah Ranah Roh
33
Ch. 33 – Bukan Burung Dalam Sangkar
34
Ch. 34 – Praktek dan Petualangan
35
Ch. 35 – Lubang Cicin Energi Roh
36
Ch. 36 – Senjata Roh Jiwa I
37
Ch. 37 – Senjata Roh Jiwa II
38
Ch. 38 – Pengendalian Energi Roh
39
Ch. 39 – Balok Bata
40
Ch. 40 – Apakah Sebuah Konklusi?
41
Ch. 41 – Kekecewaan sang Raja
42
Ch. 42 – Penggambaran Jiwa
43
Ch. 43 – Kerbau Tanduk Sabit
44
Ch. 44 – Pilihan Carsten
45
Ch. 45 – Dual Sword
46
Ch. 46 – Hidup dan Mati
47
Ch. 47 – Tak Sadarkan Diri
48
Ch. 48 – Berhasil
49
Ch. 49 – Kepolosan Carsten
50
Ch. 50 – Efek Samping
51
Ch. 51 – Pertemuan di Hutan Kabut
52
Ch. 52 – Berbincang
53
Ch. 53 – Ada yang Berbeda
54
Ch. 54 – Bukan Hal yang Istimewa
55
Ch. 55 – Perdebatan Antar Saudara
56
Ch. 56 – Tidak Sesuai Harapan
57
Ch. 57 – Hari yang Melelahkan
58
Ch. 58 – Peleburan Energi Roh nan Aneh
59
Ch. 59 – Menyiapkan Barang
60
Ch. 60 – Latih Tanding
61
Ch. 61 – Tidak Ada Peningkatan
62
Ch. 62 – JANGAN BERCANDA!
63
Ch. 63 – Pulang
64
Ch. 64 – Perbincangan Sebelum Berangkat
65
Ch. 65 – Menunggu
66
Ch. 66 – Menunggu (2)
67
Ch. 67 – Tak Asing
68
Ch. 68 – Nona Adellia
69
Ch. 69 – Dimulai
70
Ch. 70 – Tiny Wolf
71
Ch. 71 – Kerabat Dekat
72
Ch. 72 – Buku Catatan
73
Ch. 73 – Penaklukan Tiny Wolf
74
Ch. 74 – Diskusi
75
Ch. 75 – Gemercik Aliran Sungai
76
Ch. 76 – Sepakat
77
Ch. 77 – Malam pun Tiba
78
Ch. 78 – Kemampuan dan Kekuatan
79
Ch. 79 – Aura Membunuh
80
Ch. 80 – Kau Pencuri!
81
Ch. 81 – Penyihir Kehormatan
82
Ch. 82 – Hans yang Ceroboh
83
Ch. 83 – Bahaya dan Salah
84
Ch. 84 – Makan Malam
85
Ch. 85 – Menggoda Adellia
86
Ch. 86 – Dua Lelaki Sejati
87
Ch. 87 – Melanjutkan Perjalanan
88
Ch. 88 – Gua Misterius
89
Ch. 89 – Majuu?
90
Ch. 90 – Kabut Tebal
91
Ch. 91 – Sial! Beribu Sial!
92
Ch. 92 – Hilangnya Kakek Hork
93
Ch. 93 – Sebongkah Batu
94
Ch. 94 – Skill Memasak
95
Ch. 95 – Mungkinkah?
96
Ch. 96 – Gelombang Pertama?!
97
Ch. 97 – Great Fire Ball
98
Ch. 98 – Efek Samping
99
Ch. 99 – Syukurlah
100
Ch. 100 – Kehabisan «Magen»
101
Ch. 101 – Tiga? Tidak, Ternyata Enam
102
Ch. 102 – Tidak, Masih Belum
103
Ch. 103 – Mencuri?
104
Ch. 104 – Kristal Sihir
105
Ch. 105 – Aku Tidak Bodoh
106
Ch. 106 – Tarian Pedang
107
Ch. 107 – Sebuah Parit Kematian
108
Ch. 108 – Tidur atau Menyerah?
109
Ch. 109 – Lagi-Lagi Adellia
110
Ch. 110 – «Viehoekige Beschermer»
111
Ch. 111 – Rencana Peningkatan Peforma
112
Ch. 112 – Terkendali
113
Ch. 113 – Mimpi
114
Ch. 114 – Waktunya Jaga
115
Ch. 115 – Pos Jaga
116
Ch. 116 – Zonics Archike
117
Ch. 117 – Barrier Pelindung
118
Ch. 118 – Majuu
119
Ch. 119 – Terimakasih
120
Ch. 120 – Keberangkatan
121
Ch. 121 – Tim Utama
122
Ch. 122 – Munculnya Kabut Aneh
123
Ch. 123 – Aku, Mati?
124
Ch. 124 – Kenapa?
125
!!!! EVENT BERHADIAH UANG TUNAI !!!!
126
Ch. 125 – Keluar?! Bodoh!
127
Ch. 126 – «Akik Steen» dan «Volle Kracth»
128
Ch. 127 – Dia Bukan Tyaga
129
Ch. 128 – Pasukan Adellia
130
Ch. 129 – Kehidupan
131
Ch. 130 – SON!
132
Ch. 131 – Heiler
133
[ END ] Ch. 132 – Akhir Penderitaan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!