[ Not Edited ]
“Sihir penambah kecepatan, «Snel»—”
“Sihir pelindung, «Beschermer»—”
“Sihir penambah kekuatan, «Accolade»—”
“Sihir penguat daya tahan, «Dragen»—”
Satu persatu mantera dirapalkan oleh para penyihir, tubuh kami semua memancarkan beberapa cahaya. Hijau, kuning, merah, biru, dan cahaya putih menyelimuti kami beberapa detik lalu memudar sedikit demi sedikit dan kami merasa tubuh kami ada yang berbeda.
Seakan kecepatan, ketahanan, serangan kami meningkat dratis, akupun merasakan hal yang sama.
“Inilah kekuatan kalian semua?” Tanyaku kepada penyihir yang sedang menyembuhkanku.
“Iya betul. Kalau kami telah bertarung bersama, tak ada yang dapat mengalahkan kami. Sekuat apapun musuh itu pasti akan kalah dengan strategi ini.”
“Bagaimana dengan lukaku, tuan? Apa sudah selesai?”
(Aku tak sabar untuk kembali ke garis depan, mencoba kekuatan ini...)
“Aku rasa cukup, ternyata penyembuhanmu berjalan lebih cepat dari yang kuduga.” Jawabnya, lalu mengangkat kedua tangannya dari punggungku.
“Terimakasih atas bantuannya tuan.”
Aku lantas berlari ke garis terdepan, di sana tampak para golem, rakshasa, dan kesatria menyebar tanpa menggunakan formasi apapun.
Di paling ujung depang Adellia yang tengah mengangkat «Ganjur»-nya. Akupun mendekatinya dan tepat berada di samping kirinya dengan pedang di tangan kanan.
Dia hanya menoleh sebentar tanpa sepatah katapun yang terucap dari bibirnya. Aku juga tak ingin menganggu kosentrasinya ataupun mengajaknya berbicara.
“Baiklah... Bersiaplah... Aku akan melepaskan mosnter ini dalam hitungan ketiga...” Kata Kakek Hork dari kejauhan.
“SATU!!!” Tampak semua siap dengan senjata mereka.
“DUA!!!” Tensi pertempuran semakin terasa berat.
“TIGA.....!!! Serang dia sekarang juga.” Ucap si kakek sembari berlari dengan cepat menjauh dari Zardock.
“HOAAHH!!” Lolongan keras para golem dan rakshasa, kemudian semua pasukan yang berada di garis depan mulai maju menyerang. Sementara itu kelompok kedua bersigap dengan serangan jarak jauh.
Kecepatan kami meningkat luar biasa, daya serang kami pula. Seakan Zardock bukanlah tandingan kami sekarang. kami semakin memojokan monster itu, hingga tak ada celah lagi baginya untuk kabur.
Keadaan semakin menarik, Zardock terkena serangan beruntun dari kami. Dari serangan jarak dekat yang sangat kuat para golem dan rakshaha, serangan cepat para kesatria, sampai serangan jarak jauh para penyihir. Semua ikut andil dalam mengalahkan monster itu.
“Serang terus monster itu, yah seperti itu....Bagus.... Hahahahaha.” Tawa Kakek Hork yang tampak sedang memulihkan kekuatannya.
“Dasar kakek sialan! Awas saja, nanti pasti akan kulaporkan kau pada ketua.” Sahut Adellia dari kerumunan pasukan bala bantuan.
“Wuahahahaha... Itu baru namanya semangat masa muda” Si kakek hanya membalasnya dengan tawa ria, dia pasti sangat yakin bahwa sekarang takkan ada masalah lagi dengan pertempuran ini.
(Yah.. Aku juga akan mencoba kekuatan ini, sepertinya sangat menyenangkan)
Aku berlari ke arah Zardock dengan pedang di tangan kanan, selayaknya angin kecepatanku meningkat drastis, lalu kutebaskan pedang dari bawah ke atas.
SRING!! Ajaib, kali ini dengan sekali seranganaku langsung dapat mengenainya. Berbeda dengan sebelumnya, pergerakan Zardock tampak lebih lambat dan mudah bagiku untuk menyerangnya. Tebasan pedangku terasa sangat kuat sehingga hanya dengan sekali tebasan membuatnya terhempas jauh.
Bagaiamana dengan «Shield Aura» miliknya!? Huh, bahkan pelindung itu sendiri hancur setelah terkena terjangan tombak Adellia, sekarang pertahanan dan serangan Zardock tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kekuatan kami.
WUSH!! Kilasan cahaya merah lewat di atas kepalaku, itu adalah sihir bola api. Serangan tersebut mengarah persis di tempat Zardock berada dan terciptalah sebuah ledakan besar.
Setelah terkena bertubi-tubi kondisi Zardock semakin melemah, bahkan tubuhnya sendiri sudah penuh dengan luka. Dengan kepungan dari berbagai penjuru membuatnya terpuruk dalam kekalahan. Tak ada gunanya lagi untuk kabur!
“«Bevistiger»—”. Dengan begitu dia tak dapat bergerak lagi. Kami mengepungnya dan tidak memberi celah sedikitpun untuk lari.
“Sekarang waktunya untuk mengakhiri ini semua, kau sudah tak berdaya lagi untuk melawan kita. Menyerah dan menghilanglah kau dari sini.” Cakap Adellia.
(Huft, akhirnya berakhir juga... Seusai ini semua, aku ingin ke pemandian air panas dan setelah itu tidur untuk beberapa hari.... )
“Enyalah kau!!!” Adellia menghunjam tombaknya tepat di jantung Zardock.
“ARRGGG!!!” Jeritannya meluap-meluap, dia memberontak tak karuan tapi tetap saja sihir pengikat sekarang jauh lebih kuat darinya.
Tombak Adellia menusuk semakin dalam, dan Zardock semakin meronta-ronta.
Tapi kami semua sama sekali tidak peduli dengan rintihannya, kami mungkin keji tapi dia lebih keji dari kami, membumi hanguskan sebuah desa dengan penduduknya yang tidak bersalah, apakah itu tidak termasuk keji?! Rasakan semua penderitaan yang telah kami lalui, rasakan itu semua!!
Aura hitam yang menyelimuti Zardock sedari menghilang dengan sendirinya, tubuhnya kembali mengecil. Bahkan tampangnya seperti sedia kala, sebelum terkena kutukan dan berubah menjadi menyeramkan.
“Inikah wujud asli monster itu?” Tanya Adellia.
“Iya dia adalah salah satu «Demi-Human» yang tinggal berdampingan dengan kami di Perbukitan Shamal. Dia berubah menjadi monster yang mengerikan seperti ini ketika adik tersayangnya meninggal karena sebuah kecelakaan, lalu terkena kutukan itu.”
“Oh jadi bagitu, seperti yang telah kami duga sebelumnya, tapi beberapa kasus yang kami tangani, sebelum korban terkena kutukan hitam tersebut pasti ada sebuah masalah besar yang telah melanda hidupnya.” Jelas Adellia.
Seketika datang seorang misterius yang muncul dari balik kabut hitam bayangan Zardock, tampak samar-samar dengan aura kegelapan di sekujur tubuhnya. Jangan-jangan dia adalah dalang dari semua ini!? Kamipun kembali memasang kuda-kuda seraya memperkuat pedang dan tinju kami.
“Ya ampun.... Lagi-lagi kalian yang selalu menggagalkan rencana manisku, apa kalian tidak bosan dengan sebuah pertarungan? Padahal sebentar lagi monster ini akan mencapai wujud terindah... Hufttt.... Apa boleh buat, monster ini sudah kalian kalahkan.”
“Jangan-jangan kau... !?” Suara Kakek Hork memecah keheningan, terlihat dia sangat terkejut dan teramat takut ketika melihat tampang dari orang itu hingga tanpa sadar mengucur deras membanjiri wajah yang penuh keriput.
(Siapakah dia......!? Apakah muncul masalah baru......!?)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 133 Episodes
Comments
Martina Krista
Hai thor...
aq boomlike + 5rate spy tmbah semangat...
jangan lupa feedback ke novelku
- de luminous
- the second throne
mari saling mendukung...
2020-07-11
0
San Jaya
... tubuh kami ada yang berbeda.
❌
Seakan ...
Mending digabung aja, jangan dipisah.
----
Untuk alurnya, bagian ini sama sebelumnya menurutku terlalu filler atau diisi sesuatu yang sebenarnya nggak perlu dijelaskan panjang lebar, sih. CMIIW
2020-07-04
0
Honey
Yeaaah! I love this part!
Aku mulai tertantang lagi. Beginilah harusnya sebuah cerita. Buat pembaca merasa penasaran di akhir bab.
2020-07-02
1