[ Vol. 1 ] Ch. 10 – Tim yang Luar Biasa

[ Not Edited ]

“Sihir penambah kecepatan, «Snel»—”

“Sihir pelindung, «Beschermer»—”

“Sihir penambah kekuatan, «Accolade»—”

“Sihir penguat daya tahan, «Dragen»—”

Satu persatu mantera dirapalkan oleh para penyihir, tubuh kami semua memancarkan beberapa cahaya. Hijau, kuning, merah, biru, dan cahaya putih menyelimuti kami beberapa detik lalu memudar sedikit demi sedikit dan kami merasa tubuh kami ada yang berbeda.

Seakan kecepatan, ketahanan, serangan kami meningkat dratis, akupun merasakan hal yang sama.

“Inilah kekuatan kalian semua?” Tanyaku kepada penyihir yang sedang menyembuhkanku.

“Iya betul. Kalau kami telah bertarung bersama, tak ada yang dapat mengalahkan kami. Sekuat apapun musuh itu pasti akan kalah dengan strategi ini.”

“Bagaimana dengan lukaku, tuan? Apa sudah selesai?”

(Aku tak sabar untuk kembali ke garis depan, mencoba kekuatan ini...)

“Aku rasa cukup, ternyata penyembuhanmu berjalan lebih cepat dari yang kuduga.” Jawabnya, lalu mengangkat kedua tangannya dari punggungku.

“Terimakasih atas bantuannya tuan.”

Aku lantas berlari ke garis terdepan, di sana tampak para golem, rakshasa, dan kesatria menyebar tanpa menggunakan formasi apapun.

Di paling ujung depang Adellia yang tengah mengangkat «Ganjur»-nya. Akupun mendekatinya dan tepat berada di samping kirinya dengan pedang di tangan kanan.

Dia hanya menoleh sebentar tanpa sepatah katapun yang terucap dari bibirnya. Aku juga tak ingin menganggu kosentrasinya ataupun mengajaknya berbicara.

“Baiklah... Bersiaplah... Aku akan melepaskan mosnter ini dalam hitungan ketiga...” Kata Kakek Hork dari kejauhan.

“SATU!!!” Tampak semua siap dengan senjata mereka.

“DUA!!!” Tensi pertempuran semakin terasa berat.

“TIGA.....!!! Serang dia sekarang juga.” Ucap si kakek sembari berlari dengan cepat menjauh dari Zardock.

“HOAAHH!!” Lolongan keras para golem dan rakshasa, kemudian semua pasukan yang berada di garis depan mulai maju menyerang. Sementara itu kelompok kedua bersigap dengan serangan jarak jauh.

Kecepatan kami meningkat luar biasa, daya serang kami pula. Seakan Zardock bukanlah tandingan kami sekarang. kami semakin memojokan monster itu, hingga tak ada celah lagi baginya untuk kabur.

Keadaan semakin menarik, Zardock terkena serangan beruntun dari kami. Dari serangan jarak dekat yang sangat kuat para golem dan rakshaha, serangan cepat para kesatria, sampai serangan jarak jauh para penyihir. Semua ikut andil dalam mengalahkan monster itu.

“Serang terus monster itu, yah seperti itu....Bagus.... Hahahahaha.” Tawa Kakek Hork yang tampak sedang memulihkan kekuatannya.

“Dasar kakek sialan! Awas saja, nanti pasti akan kulaporkan kau pada ketua.” Sahut Adellia dari kerumunan pasukan bala bantuan.

“Wuahahahaha... Itu baru namanya semangat masa muda” Si kakek hanya membalasnya dengan tawa ria, dia pasti sangat yakin bahwa sekarang takkan ada masalah lagi dengan pertempuran ini.

(Yah.. Aku juga akan mencoba kekuatan ini, sepertinya sangat menyenangkan)

Aku berlari ke arah Zardock dengan pedang di tangan kanan, selayaknya angin kecepatanku meningkat drastis, lalu kutebaskan pedang dari bawah ke atas.

SRING!! Ajaib, kali ini dengan sekali seranganaku langsung dapat mengenainya. Berbeda dengan sebelumnya, pergerakan Zardock tampak lebih lambat dan mudah bagiku untuk menyerangnya. Tebasan pedangku terasa sangat kuat sehingga hanya dengan sekali tebasan membuatnya terhempas jauh.

Bagaiamana dengan «Shield Aura» miliknya!? Huh, bahkan pelindung itu sendiri hancur setelah terkena terjangan tombak Adellia, sekarang pertahanan dan serangan Zardock tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kekuatan kami.

WUSH!! Kilasan cahaya merah lewat di atas kepalaku, itu adalah sihir bola api. Serangan tersebut mengarah persis di tempat Zardock berada dan terciptalah sebuah ledakan besar.

Setelah terkena bertubi-tubi kondisi Zardock semakin melemah, bahkan tubuhnya sendiri sudah penuh dengan luka. Dengan kepungan dari berbagai penjuru membuatnya terpuruk dalam kekalahan. Tak ada gunanya lagi untuk kabur!

“«Bevistiger»—”. Dengan begitu dia tak dapat bergerak lagi. Kami mengepungnya dan tidak memberi celah sedikitpun untuk lari.

“Sekarang waktunya untuk mengakhiri ini semua, kau sudah tak berdaya lagi untuk melawan kita. Menyerah dan menghilanglah kau dari sini.” Cakap Adellia.

(Huft, akhirnya berakhir juga... Seusai ini semua, aku ingin ke pemandian air panas dan setelah itu tidur untuk beberapa hari.... )

“Enyalah kau!!!” Adellia menghunjam tombaknya tepat di jantung Zardock.

“ARRGGG!!!” Jeritannya meluap-meluap, dia memberontak tak karuan tapi tetap saja sihir pengikat sekarang jauh lebih kuat darinya.

Tombak Adellia menusuk semakin dalam, dan Zardock semakin meronta-ronta.

Tapi kami semua sama sekali tidak peduli dengan rintihannya, kami mungkin keji tapi dia lebih keji dari kami, membumi hanguskan sebuah desa dengan penduduknya yang tidak bersalah, apakah itu tidak termasuk keji?! Rasakan semua penderitaan yang telah kami lalui, rasakan itu semua!!

Aura hitam yang menyelimuti Zardock sedari menghilang dengan sendirinya, tubuhnya kembali mengecil. Bahkan tampangnya seperti sedia kala, sebelum terkena kutukan dan berubah menjadi menyeramkan.

“Inikah wujud asli monster itu?” Tanya Adellia.

“Iya dia adalah salah satu «Demi-Human» yang tinggal berdampingan dengan kami di Perbukitan Shamal. Dia berubah menjadi monster yang mengerikan seperti ini ketika adik tersayangnya meninggal karena sebuah kecelakaan, lalu terkena kutukan itu.”

“Oh jadi bagitu, seperti yang telah kami duga sebelumnya, tapi beberapa kasus yang kami tangani, sebelum korban terkena kutukan hitam tersebut pasti ada sebuah masalah besar yang telah melanda hidupnya.” Jelas Adellia.

Seketika datang seorang misterius yang muncul dari balik kabut hitam bayangan Zardock, tampak samar-samar dengan aura kegelapan di sekujur tubuhnya. Jangan-jangan dia adalah dalang dari semua ini!? Kamipun kembali memasang kuda-kuda seraya memperkuat pedang dan tinju kami.

“Ya ampun.... Lagi-lagi kalian yang selalu menggagalkan rencana manisku, apa kalian tidak bosan dengan sebuah pertarungan? Padahal sebentar lagi monster ini akan mencapai wujud terindah... Hufttt.... Apa boleh buat, monster ini sudah kalian kalahkan.”

“Jangan-jangan kau... !?” Suara Kakek Hork memecah keheningan, terlihat dia sangat terkejut dan teramat takut ketika melihat tampang dari orang itu hingga tanpa sadar mengucur deras membanjiri wajah yang penuh keriput.

(Siapakah dia......!? Apakah muncul masalah baru......!?)

Terpopuler

Comments

Martina Krista

Martina Krista

Hai thor...
aq boomlike + 5rate spy tmbah semangat...
jangan lupa feedback ke novelku
- de luminous
- the second throne
mari saling mendukung...

2020-07-11

0

San Jaya

San Jaya

... tubuh kami ada yang berbeda.

Seakan ...

Mending digabung aja, jangan dipisah.

----

Untuk alurnya, bagian ini sama sebelumnya menurutku terlalu filler atau diisi sesuatu yang sebenarnya nggak perlu dijelaskan panjang lebar, sih. CMIIW

2020-07-04

0

Honey

Honey

Yeaaah! I love this part!

Aku mulai tertantang lagi. Beginilah harusnya sebuah cerita. Buat pembaca merasa penasaran di akhir bab.

2020-07-02

1

lihat semua
Episodes
1 [ Vol. 1 ] Ch. 1 – Pertempuran yang Sia-sia
2 [ Vol. 1 ] Ch. 2 – Adikku, Saigiri!
3 [ Vol. 1 ] Ch. 3 – Terselamatkan, Bala Bantuan?
4 [ Vol. 1 ] Ch. 4 – Adellia Monattlas
5 [ Vol. 1 ] Ch. 5 – Putus Asa?
6 [ Vol. 1 ] Ch. 6 – Bertahan dan Menyerang
7 [ Vol. 1 ] Ch. 7 – Saigiri, Maaf
8 [ Vol. 1 ] Ch. 8 – Bevestiger! Sihir Pengikat!
9 [ Vol. 1 ] Ch. 9 – Pidato Kemenangan
10 [ Vol. 1 ] Ch. 10 – Tim yang Luar Biasa
11 [ Vol. 1 ] Ch. 11 – Munculnya Orang Misterius
12 [ Vol. 1 ] Ch. 12 – Tidak Dapat Bergerak!
13 [ Vol. 1 ] Ch. 13 – Ruimte Rusten, Sihir Penghenti Ruang
14 [ Vol. 1 ] Ch. 14 – Mati
15 [ Vol. 1 ] Ch. 15 – Kekuatan Penuh, Volle Kracth!
16 Chapter 16 : Kemenangankah?
17 Chapter 17 : Pesan Kakek Hork
18 Chapter 18 : Eloknya Pagi
19 Chapter 19 : Keadaan Desa
20 Chapter 20 : Tatapan Aneh
21 Chapter 21 : Aula Akademi Bunga Hijau
22 Chapter 22 : Raja Laiquendi
23 Chapter 23 : Tantang Tyaga
24 Chapter 24 : Sumpah Darah Suci
25 Chapter 25 : Tetua Agamemnon
26 Chapter 26 : Pesan Raja Achille
27 Chapter 27 : Parels van Spirit Bal
28 Chapter 28 : Mutiara Roh
29 Chapter 29 : Kekuatan Roh Carsten
30 Chapter 30 : Tiga Serangkai
31 Chapter 31 : Pemusatan Roh
32 Chapter 32 : Wadah Ranah Roh
33 Ch. 33 – Bukan Burung Dalam Sangkar
34 Ch. 34 – Praktek dan Petualangan
35 Ch. 35 – Lubang Cicin Energi Roh
36 Ch. 36 – Senjata Roh Jiwa I
37 Ch. 37 – Senjata Roh Jiwa II
38 Ch. 38 – Pengendalian Energi Roh
39 Ch. 39 – Balok Bata
40 Ch. 40 – Apakah Sebuah Konklusi?
41 Ch. 41 – Kekecewaan sang Raja
42 Ch. 42 – Penggambaran Jiwa
43 Ch. 43 – Kerbau Tanduk Sabit
44 Ch. 44 – Pilihan Carsten
45 Ch. 45 – Dual Sword
46 Ch. 46 – Hidup dan Mati
47 Ch. 47 – Tak Sadarkan Diri
48 Ch. 48 – Berhasil
49 Ch. 49 – Kepolosan Carsten
50 Ch. 50 – Efek Samping
51 Ch. 51 – Pertemuan di Hutan Kabut
52 Ch. 52 – Berbincang
53 Ch. 53 – Ada yang Berbeda
54 Ch. 54 – Bukan Hal yang Istimewa
55 Ch. 55 – Perdebatan Antar Saudara
56 Ch. 56 – Tidak Sesuai Harapan
57 Ch. 57 – Hari yang Melelahkan
58 Ch. 58 – Peleburan Energi Roh nan Aneh
59 Ch. 59 – Menyiapkan Barang
60 Ch. 60 – Latih Tanding
61 Ch. 61 – Tidak Ada Peningkatan
62 Ch. 62 – JANGAN BERCANDA!
63 Ch. 63 – Pulang
64 Ch. 64 – Perbincangan Sebelum Berangkat
65 Ch. 65 – Menunggu
66 Ch. 66 – Menunggu (2)
67 Ch. 67 – Tak Asing
68 Ch. 68 – Nona Adellia
69 Ch. 69 – Dimulai
70 Ch. 70 – Tiny Wolf
71 Ch. 71 – Kerabat Dekat
72 Ch. 72 – Buku Catatan
73 Ch. 73 – Penaklukan Tiny Wolf
74 Ch. 74 – Diskusi
75 Ch. 75 – Gemercik Aliran Sungai
76 Ch. 76 – Sepakat
77 Ch. 77 – Malam pun Tiba
78 Ch. 78 – Kemampuan dan Kekuatan
79 Ch. 79 – Aura Membunuh
80 Ch. 80 – Kau Pencuri!
81 Ch. 81 – Penyihir Kehormatan
82 Ch. 82 – Hans yang Ceroboh
83 Ch. 83 – Bahaya dan Salah
84 Ch. 84 – Makan Malam
85 Ch. 85 – Menggoda Adellia
86 Ch. 86 – Dua Lelaki Sejati
87 Ch. 87 – Melanjutkan Perjalanan
88 Ch. 88 – Gua Misterius
89 Ch. 89 – Majuu?
90 Ch. 90 – Kabut Tebal
91 Ch. 91 – Sial! Beribu Sial!
92 Ch. 92 – Hilangnya Kakek Hork
93 Ch. 93 – Sebongkah Batu
94 Ch. 94 – Skill Memasak
95 Ch. 95 – Mungkinkah?
96 Ch. 96 – Gelombang Pertama?!
97 Ch. 97 – Great Fire Ball
98 Ch. 98 – Efek Samping
99 Ch. 99 – Syukurlah
100 Ch. 100 – Kehabisan «Magen»
101 Ch. 101 – Tiga? Tidak, Ternyata Enam
102 Ch. 102 – Tidak, Masih Belum
103 Ch. 103 – Mencuri?
104 Ch. 104 – Kristal Sihir
105 Ch. 105 – Aku Tidak Bodoh
106 Ch. 106 – Tarian Pedang
107 Ch. 107 – Sebuah Parit Kematian
108 Ch. 108 – Tidur atau Menyerah?
109 Ch. 109 – Lagi-Lagi Adellia
110 Ch. 110 – «Viehoekige Beschermer»
111 Ch. 111 – Rencana Peningkatan Peforma
112 Ch. 112 – Terkendali
113 Ch. 113 – Mimpi
114 Ch. 114 – Waktunya Jaga
115 Ch. 115 – Pos Jaga
116 Ch. 116 – Zonics Archike
117 Ch. 117 – Barrier Pelindung
118 Ch. 118 – Majuu
119 Ch. 119 – Terimakasih
120 Ch. 120 – Keberangkatan
121 Ch. 121 – Tim Utama
122 Ch. 122 – Munculnya Kabut Aneh
123 Ch. 123 – Aku, Mati?
124 Ch. 124 – Kenapa?
125 !!!! EVENT BERHADIAH UANG TUNAI !!!!
126 Ch. 125 – Keluar?! Bodoh!
127 Ch. 126 – «Akik Steen» dan «Volle Kracth»
128 Ch. 127 – Dia Bukan Tyaga
129 Ch. 128 – Pasukan Adellia
130 Ch. 129 – Kehidupan
131 Ch. 130 – SON!
132 Ch. 131 – Heiler
133 [ END ] Ch. 132 – Akhir Penderitaan
Episodes

Updated 133 Episodes

1
[ Vol. 1 ] Ch. 1 – Pertempuran yang Sia-sia
2
[ Vol. 1 ] Ch. 2 – Adikku, Saigiri!
3
[ Vol. 1 ] Ch. 3 – Terselamatkan, Bala Bantuan?
4
[ Vol. 1 ] Ch. 4 – Adellia Monattlas
5
[ Vol. 1 ] Ch. 5 – Putus Asa?
6
[ Vol. 1 ] Ch. 6 – Bertahan dan Menyerang
7
[ Vol. 1 ] Ch. 7 – Saigiri, Maaf
8
[ Vol. 1 ] Ch. 8 – Bevestiger! Sihir Pengikat!
9
[ Vol. 1 ] Ch. 9 – Pidato Kemenangan
10
[ Vol. 1 ] Ch. 10 – Tim yang Luar Biasa
11
[ Vol. 1 ] Ch. 11 – Munculnya Orang Misterius
12
[ Vol. 1 ] Ch. 12 – Tidak Dapat Bergerak!
13
[ Vol. 1 ] Ch. 13 – Ruimte Rusten, Sihir Penghenti Ruang
14
[ Vol. 1 ] Ch. 14 – Mati
15
[ Vol. 1 ] Ch. 15 – Kekuatan Penuh, Volle Kracth!
16
Chapter 16 : Kemenangankah?
17
Chapter 17 : Pesan Kakek Hork
18
Chapter 18 : Eloknya Pagi
19
Chapter 19 : Keadaan Desa
20
Chapter 20 : Tatapan Aneh
21
Chapter 21 : Aula Akademi Bunga Hijau
22
Chapter 22 : Raja Laiquendi
23
Chapter 23 : Tantang Tyaga
24
Chapter 24 : Sumpah Darah Suci
25
Chapter 25 : Tetua Agamemnon
26
Chapter 26 : Pesan Raja Achille
27
Chapter 27 : Parels van Spirit Bal
28
Chapter 28 : Mutiara Roh
29
Chapter 29 : Kekuatan Roh Carsten
30
Chapter 30 : Tiga Serangkai
31
Chapter 31 : Pemusatan Roh
32
Chapter 32 : Wadah Ranah Roh
33
Ch. 33 – Bukan Burung Dalam Sangkar
34
Ch. 34 – Praktek dan Petualangan
35
Ch. 35 – Lubang Cicin Energi Roh
36
Ch. 36 – Senjata Roh Jiwa I
37
Ch. 37 – Senjata Roh Jiwa II
38
Ch. 38 – Pengendalian Energi Roh
39
Ch. 39 – Balok Bata
40
Ch. 40 – Apakah Sebuah Konklusi?
41
Ch. 41 – Kekecewaan sang Raja
42
Ch. 42 – Penggambaran Jiwa
43
Ch. 43 – Kerbau Tanduk Sabit
44
Ch. 44 – Pilihan Carsten
45
Ch. 45 – Dual Sword
46
Ch. 46 – Hidup dan Mati
47
Ch. 47 – Tak Sadarkan Diri
48
Ch. 48 – Berhasil
49
Ch. 49 – Kepolosan Carsten
50
Ch. 50 – Efek Samping
51
Ch. 51 – Pertemuan di Hutan Kabut
52
Ch. 52 – Berbincang
53
Ch. 53 – Ada yang Berbeda
54
Ch. 54 – Bukan Hal yang Istimewa
55
Ch. 55 – Perdebatan Antar Saudara
56
Ch. 56 – Tidak Sesuai Harapan
57
Ch. 57 – Hari yang Melelahkan
58
Ch. 58 – Peleburan Energi Roh nan Aneh
59
Ch. 59 – Menyiapkan Barang
60
Ch. 60 – Latih Tanding
61
Ch. 61 – Tidak Ada Peningkatan
62
Ch. 62 – JANGAN BERCANDA!
63
Ch. 63 – Pulang
64
Ch. 64 – Perbincangan Sebelum Berangkat
65
Ch. 65 – Menunggu
66
Ch. 66 – Menunggu (2)
67
Ch. 67 – Tak Asing
68
Ch. 68 – Nona Adellia
69
Ch. 69 – Dimulai
70
Ch. 70 – Tiny Wolf
71
Ch. 71 – Kerabat Dekat
72
Ch. 72 – Buku Catatan
73
Ch. 73 – Penaklukan Tiny Wolf
74
Ch. 74 – Diskusi
75
Ch. 75 – Gemercik Aliran Sungai
76
Ch. 76 – Sepakat
77
Ch. 77 – Malam pun Tiba
78
Ch. 78 – Kemampuan dan Kekuatan
79
Ch. 79 – Aura Membunuh
80
Ch. 80 – Kau Pencuri!
81
Ch. 81 – Penyihir Kehormatan
82
Ch. 82 – Hans yang Ceroboh
83
Ch. 83 – Bahaya dan Salah
84
Ch. 84 – Makan Malam
85
Ch. 85 – Menggoda Adellia
86
Ch. 86 – Dua Lelaki Sejati
87
Ch. 87 – Melanjutkan Perjalanan
88
Ch. 88 – Gua Misterius
89
Ch. 89 – Majuu?
90
Ch. 90 – Kabut Tebal
91
Ch. 91 – Sial! Beribu Sial!
92
Ch. 92 – Hilangnya Kakek Hork
93
Ch. 93 – Sebongkah Batu
94
Ch. 94 – Skill Memasak
95
Ch. 95 – Mungkinkah?
96
Ch. 96 – Gelombang Pertama?!
97
Ch. 97 – Great Fire Ball
98
Ch. 98 – Efek Samping
99
Ch. 99 – Syukurlah
100
Ch. 100 – Kehabisan «Magen»
101
Ch. 101 – Tiga? Tidak, Ternyata Enam
102
Ch. 102 – Tidak, Masih Belum
103
Ch. 103 – Mencuri?
104
Ch. 104 – Kristal Sihir
105
Ch. 105 – Aku Tidak Bodoh
106
Ch. 106 – Tarian Pedang
107
Ch. 107 – Sebuah Parit Kematian
108
Ch. 108 – Tidur atau Menyerah?
109
Ch. 109 – Lagi-Lagi Adellia
110
Ch. 110 – «Viehoekige Beschermer»
111
Ch. 111 – Rencana Peningkatan Peforma
112
Ch. 112 – Terkendali
113
Ch. 113 – Mimpi
114
Ch. 114 – Waktunya Jaga
115
Ch. 115 – Pos Jaga
116
Ch. 116 – Zonics Archike
117
Ch. 117 – Barrier Pelindung
118
Ch. 118 – Majuu
119
Ch. 119 – Terimakasih
120
Ch. 120 – Keberangkatan
121
Ch. 121 – Tim Utama
122
Ch. 122 – Munculnya Kabut Aneh
123
Ch. 123 – Aku, Mati?
124
Ch. 124 – Kenapa?
125
!!!! EVENT BERHADIAH UANG TUNAI !!!!
126
Ch. 125 – Keluar?! Bodoh!
127
Ch. 126 – «Akik Steen» dan «Volle Kracth»
128
Ch. 127 – Dia Bukan Tyaga
129
Ch. 128 – Pasukan Adellia
130
Ch. 129 – Kehidupan
131
Ch. 130 – SON!
132
Ch. 131 – Heiler
133
[ END ] Ch. 132 – Akhir Penderitaan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!