[ Vol. 1 ] Ch. 2 – Adikku, Saigiri!

[ Edited (1) ]

Samar-samar dalam kabut malam perbukitan, kosong tanpa ada bayangan yang terlintas. Aku tidak mengerti dengan semua kejadian ini, cepat datangnya tapi lambat untuk menyudahinya.

Tanganku enggan menggenggam pedang serta kaki yang menolak untuk berjalan dan bahkan menopang tubuh pun tak mau.

“Apa yang akan kau lakukan selanjutnya? Monster itu mungkin akan segera menyerang mu lagi!”

Suara derap langkah kaki menyeret berjalan menghampiriku, wajahnya yang penuh dengan memar-memar membuatnya terlihat miris dan kasihan. Dia adalah Saigiri, adikku!

Dia kemudian menyandarkan tubuh kecilnya yang sedang terluka parah pada sebongkah batu.

“Apa yang kau lakukan di sini?! Cepat kembali ke Kamp! Di sini sangat berbahaya!" Aku menyuruhnya pergi dari sini. Namun, aku masih ingin menanyakan suatu hal lain padanya.

“Bagaimana keadaan ayah sekarang?”

Setelah terkena serangan Zardock, kondisi ayah sekarang memang sangat mengkhawatirkan, terakhir kali aku melihatnya terkapar mengenaskan dengan tubuh yang berlumuran darah. Tidak terkecuali dengan pasukan elf lainnya, hampir seluruhnya sekarang dalam keadaan kritis dan bahkan tidak sedikit pasukan yang tewas.

“Sampai sekarang ayah masih belum sadarkan diri. Terlebih lagi kita juga mulai kehabisan potion maupun obat-obatan lainnya, apa tidak sebaiknya kita bersembunyi dan menunggu bala bantuan terlebih dulu,” ajak Saigiri.

'Bersembunyi?! Tidak, sebelum aku mengalahkan monster itu. '

“—Tidak!” Jelas aku menolaknya.

"Tapi lihat dulu keadaanmu sekarang! Jangan memaksakan diri dan terlebih bagaimana dengan lukamu!”

“Bagiku ini hanya sebuah luka ringan, jadi kau tak perlu mengkhawatirkannya. Aku akan tetap melanjutkan pertarungan ini.” selaku bersandiwara seakan tidak ada luka yang berarti.

“Apa katamu, dengan keadaanmu yang sedemikian rupa kau masih ingin melanjutkannya? Ini bukan waktunya untuk bercanda, Kak. Apalagi dengan stamina mu yang telah banyak terkuras, mana mungkin kau bisa mengalahkan monster itu!”

Jika aku masih tetap bersikeras, pasti sebentar lagi dia akan mulai menangis, dan itu sangat merepotkan ku. Setidaknya aku harus sedikit mengalah untuk menenangkannya.

Saigiri menghirup napas dalam-dalam, raut wajahnya tampak merah pucat karena menahan rasa perih, langkahnya menyeret menghampiriku.

“Apa kau tega membiarkanku pulang ke rumah sendirian? Kau tahukan kalau aku sangat takut jika berjalan sendirian di dalam hutan apalagi dalam kegelapan malam, apa kau rela membiarkan adikmu ini berburu sendirian ketika ayah sedang bertugas, menghadapi hewan buas yang kiranya melindungi dirinya sendiri saja tak mampu, rela kah kau meninggalkanku sendirian Kak......!”

“Untuk kali ini tolong ijinkan aku untuk membantumu walau keadaanku sekarang yang tak lebih parah darimu, untuk kali ini saja biarkan aku sekali lagi bertarung di sampingmu, Kak!”

Sebuah kalimat mengeluh terucap dari bibir manisnya, tampak mata Saigiri mulai berkaca-kaca dan terhias kan oleh tetesan air mata.

“Baiklah Saigiri, aku janji..... Aku tidak akan kalah dari monster itu, aku akan terus-menerus menyerangnya... Hingga akhirnya monster itu lenyap dari muka bumi. Untuk kedua kalinya aku akan mengijinkan mu bertarung bersamaku. Tapi masih ingatkah kau dengan perkataan ku dulu, jangan sampai keadaanmu semakin memburuk, lalu merepotkan ku.”

“Aku tidak selemah dulu, malah sebaliknya kali ini aku akan melindungi mu dan bertarung dengan sekuat tenaga.” timpal Saigiri tersenyum kecut. Dia sama sekali tak mampu menyembunyikan rasa sakitnya.

Saigiri kemudian menghapus air matanya dan memasang wajah serius, akhirnya dapat aku pastikan bahwa kemenangan akan segera aku raih bersama dengan adikku sendiri, Saigiri.

***

“Bersiaplah Saigiri, dia mungkin akan segera menyerang.....!” ujarku setelah melihat Zardock sudah mulai bangkit dan menatap tajam ke arah kami.

“Aku yang akan menahannya, sementara itu kau buatlah perangkap di sana untuk berjaga-jaga jika seranganku dapat digagalkan lagi olehnya. Aku akan menggunakan strategi itu, seperti yang pernah kita gunakan dulu.”

Untuk kedua kalinya, kami akan kembali menggunakan strategi «Target and Trap». Aku yang akan menjadi ‘Target’, tugasku adalah menahan atau mungkin menyerang apabila ada kesempatan. Sedangkan Saigiri akan menjadi ‘Trap’, dia akan bersiap-siap di belakang seraya menyiapkan sebuah jebakan.

Dia mengangguk, kemudian mundur beberapa langkah dan mengecek kantung kecilnya.

“Bagaimana masih ada sisa tidak, Saigiri? Cepatlah sedikit, monster itu mulai mendekat!

“Masih ada satu Kak! «Shock Trap»!”

“Huh! Tapi tak apalah.....”

Sisa satu! Ini akan menjadi perangkap dan harapan terakhir kami, aku harus menggunakan strategi ini dengan baik, tapi jika gagal maka aku akan tetap bertarung dengannya sampai titik darah penghabisan.

“Baiklah, sudah waktunya untuk bersenang-senang! Kita akan menang kali ini, Saigiri.”

Aku sama sekali tidak memperdulikan rasa sakit ini dan terus berlari sekencang kilat, di belakang Saigiri juga mulai menyiapkan sebuah perangkap. Aku menyebut ini sebagai kombinasi serangan Adik-Kakak, bersiaplah kau Zardock.

Tapi tanpa kami sadari ternyata Zardock sendiri sedang mengumpulkan sebuah energi alam, semakin lama energinya semakin membesar. Tanah di sekeliling juga mulai retak dan terangkat.

Sungguh tekanan energi yang luar biasa. Raut wajahnya terlihat sangat marah setelah terkena serangan mutlakku, goresan panjang bekas tebasan pedang terpapar jelas di wajahnya.

Apakah dia akan kembali menggunakan «Brand Krassen»? Tidak, serangan tersebut tidak perlu pemusatan energi seperti ini.

Ataukah ini adalah serangan «Lasertall» yang telah menyebabkan ayah terluka parah? Tidak juga, memang terlihat mirip tapi energinya tak akan sebesar ini.

Energi tadi mulai membentuk bola pejal dengan cahaya merah mengkilap, sepertinya aku pernah melihat ini sebelumnya.

Aku ingat! ini adalah «Vuurbal Crush», sebuah serangan yang mempunyai kerusakan penghancur massal. Sampai-sampai daya ledaknya dapat menghancurkan satu desa dengan sekali serangan.

Tanpa memperdulikan bahaya dari serangan tersebut, aku lantas menyerangnya tanpa belas kasihan sedikitpun. Kuayunkan pedangku secara vertikal.

Seranganku tidak berhenti sampai di situ, aku bertubi-tubi mengayunkan pedang, kiri kemudian menyilang ke kanan. Dari posisi itu, aku berputar dan mengakhiri seranganku dengan menebaskan pedang memalang.

Dia masih tetap dalam posisinya, tapi masa bodoh aku akan terus menyerangnya tak peduli jika dia hanya terpaku dalam pengumpulan energi. Darah bercucuran dari tubuh besarnya karena sayatan-sayatan pedangku, tapi dia masih bertahan.

Bola energi mulai bergerak tidak karuan, tekanan kekuatan dari bola itu juga semakin menggila. Memancarkan cahaya merah yang sangat menyilaukan, apa mungkin sebentar lagi «Vuurbal Crush» akan meledak.

“A-APA!? Apa ini!? Apa yang sedang terjadi, pancaran cahaya apakah ini, apakah aku berhasil mengalahkannya?” tanyaku sambil menyipitkan mata karena pancaran cahaya itu terlalu silau.

“Kakak, menghindarlah sekarang juga. Lihat «Beachermee Aura» yang muncul di sekujur tubuhnya, mungkin dia sengaja tidak membalas seranganmu dan mengumpulkan energi lain untuk perlindungan. Dia kemudian akan meledakaan bola itu di dekatmu dam menghancurkanmu bersama dengan ledakan tersebut.” teriak Saigiri dari kejauhan.

Tapi aku tidak mungkin dapat menghindari serangan Zardock dengan jarak sedekat.

BUUMM!!!

Ledakan mahadahsyat akhirnya tidak bisa terelakkan lagi. Aku tak mempunyai waktu maupun ruang untuk menghadarinya.

Dugaanku ternyata benar, sebenarnya dari tadi dia memang sengaja membiarkan pertahanannya terbuka agar aku lebih leluasa menghajarnya, tapi setelah itu semua dia akan spontan meledakkan bola itu di dekatku dan langsung mengaktifkan pertahanannya yang mutlak, «Beschermde Aura» agar tubuhnya tidak ikut hancur bersama dengan ledakan tersebut.

"Aku akan mati..." gumamku pelan.

"Bagaimana dengan Saigiri?" aku melirik ke belakang, tampak bayangan Saigiri tengah berlari ke arahku.

'Apa yang kau lakukan? Pergilah menjauh, di sini sangat berbahaya, biarlah kakakmu ini menyusul Ibu dan teman-temannya.' ucapku lirih dalam hati.

Sudah tidak ada waktu lagi, aku akan mati.

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:

* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya

* Follow akun penulis

* Berkomentar yang baik dan bijak

* Always like and share in your social media

* Bintang limanya ya gaes

* Favorit (Ini yang paling penting wkwkwkwk)

Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D

# Terimakasih banyak gaes, see you on the next chapter.... ^_^

WA : 08973952193

IG : bayusastra20

email : bayu_sastra20@yahoo.co.id

Terpopuler

Comments

im3ld4

im3ld4

sip

2021-05-31

0

Honey

Honey

Kalau gak ada gambarnya, aku gak akan ngeh Saigiri itu cewek. Muehehe. Good.

Gak mungkin mati, aku yakin dia bakalan tetep hidup.

Btw, ada kalimat di awal yang kurang nendang. Ini: Suara derap langkah kaki menyeret berjalan menghampiriku ...

Apakah lebih baik begini?

Suara langkah kaki yang terseret-seret, menghampiriku ...

Kemudian, sial dialog tagnya.

"Bagaimana keadaan ayah sekarang?" Imbuhku.

>>>> "Bagaimana keadaan ayah sekarang?" imbuhku.



Itu saja. Aku suka nama Saigiri. Sai, Saigiri, hehe.

2020-07-01

0

San Jaya

San Jaya

Hmm, jadi sebelumnya yang ngelawan Zardock adalah Bapaknya pemeran utama?

Well, fokus ke chapter 2 ini... alurnya bagus, mulai pengenalan dua karakter baru. Saigiri dan..? Aku belum melihat ada nama karakter 'aku' terlihat, jadi agak kurang di situ.

Oh ya, ada satu typo yang kutemukan dan satu kesalahan pada dialog—kurang tanda petik dua (")

2020-06-17

4

lihat semua
Episodes
1 [ Vol. 1 ] Ch. 1 – Pertempuran yang Sia-sia
2 [ Vol. 1 ] Ch. 2 – Adikku, Saigiri!
3 [ Vol. 1 ] Ch. 3 – Terselamatkan, Bala Bantuan?
4 [ Vol. 1 ] Ch. 4 – Adellia Monattlas
5 [ Vol. 1 ] Ch. 5 – Putus Asa?
6 [ Vol. 1 ] Ch. 6 – Bertahan dan Menyerang
7 [ Vol. 1 ] Ch. 7 – Saigiri, Maaf
8 [ Vol. 1 ] Ch. 8 – Bevestiger! Sihir Pengikat!
9 [ Vol. 1 ] Ch. 9 – Pidato Kemenangan
10 [ Vol. 1 ] Ch. 10 – Tim yang Luar Biasa
11 [ Vol. 1 ] Ch. 11 – Munculnya Orang Misterius
12 [ Vol. 1 ] Ch. 12 – Tidak Dapat Bergerak!
13 [ Vol. 1 ] Ch. 13 – Ruimte Rusten, Sihir Penghenti Ruang
14 [ Vol. 1 ] Ch. 14 – Mati
15 [ Vol. 1 ] Ch. 15 – Kekuatan Penuh, Volle Kracth!
16 Chapter 16 : Kemenangankah?
17 Chapter 17 : Pesan Kakek Hork
18 Chapter 18 : Eloknya Pagi
19 Chapter 19 : Keadaan Desa
20 Chapter 20 : Tatapan Aneh
21 Chapter 21 : Aula Akademi Bunga Hijau
22 Chapter 22 : Raja Laiquendi
23 Chapter 23 : Tantang Tyaga
24 Chapter 24 : Sumpah Darah Suci
25 Chapter 25 : Tetua Agamemnon
26 Chapter 26 : Pesan Raja Achille
27 Chapter 27 : Parels van Spirit Bal
28 Chapter 28 : Mutiara Roh
29 Chapter 29 : Kekuatan Roh Carsten
30 Chapter 30 : Tiga Serangkai
31 Chapter 31 : Pemusatan Roh
32 Chapter 32 : Wadah Ranah Roh
33 Ch. 33 – Bukan Burung Dalam Sangkar
34 Ch. 34 – Praktek dan Petualangan
35 Ch. 35 – Lubang Cicin Energi Roh
36 Ch. 36 – Senjata Roh Jiwa I
37 Ch. 37 – Senjata Roh Jiwa II
38 Ch. 38 – Pengendalian Energi Roh
39 Ch. 39 – Balok Bata
40 Ch. 40 – Apakah Sebuah Konklusi?
41 Ch. 41 – Kekecewaan sang Raja
42 Ch. 42 – Penggambaran Jiwa
43 Ch. 43 – Kerbau Tanduk Sabit
44 Ch. 44 – Pilihan Carsten
45 Ch. 45 – Dual Sword
46 Ch. 46 – Hidup dan Mati
47 Ch. 47 – Tak Sadarkan Diri
48 Ch. 48 – Berhasil
49 Ch. 49 – Kepolosan Carsten
50 Ch. 50 – Efek Samping
51 Ch. 51 – Pertemuan di Hutan Kabut
52 Ch. 52 – Berbincang
53 Ch. 53 – Ada yang Berbeda
54 Ch. 54 – Bukan Hal yang Istimewa
55 Ch. 55 – Perdebatan Antar Saudara
56 Ch. 56 – Tidak Sesuai Harapan
57 Ch. 57 – Hari yang Melelahkan
58 Ch. 58 – Peleburan Energi Roh nan Aneh
59 Ch. 59 – Menyiapkan Barang
60 Ch. 60 – Latih Tanding
61 Ch. 61 – Tidak Ada Peningkatan
62 Ch. 62 – JANGAN BERCANDA!
63 Ch. 63 – Pulang
64 Ch. 64 – Perbincangan Sebelum Berangkat
65 Ch. 65 – Menunggu
66 Ch. 66 – Menunggu (2)
67 Ch. 67 – Tak Asing
68 Ch. 68 – Nona Adellia
69 Ch. 69 – Dimulai
70 Ch. 70 – Tiny Wolf
71 Ch. 71 – Kerabat Dekat
72 Ch. 72 – Buku Catatan
73 Ch. 73 – Penaklukan Tiny Wolf
74 Ch. 74 – Diskusi
75 Ch. 75 – Gemercik Aliran Sungai
76 Ch. 76 – Sepakat
77 Ch. 77 – Malam pun Tiba
78 Ch. 78 – Kemampuan dan Kekuatan
79 Ch. 79 – Aura Membunuh
80 Ch. 80 – Kau Pencuri!
81 Ch. 81 – Penyihir Kehormatan
82 Ch. 82 – Hans yang Ceroboh
83 Ch. 83 – Bahaya dan Salah
84 Ch. 84 – Makan Malam
85 Ch. 85 – Menggoda Adellia
86 Ch. 86 – Dua Lelaki Sejati
87 Ch. 87 – Melanjutkan Perjalanan
88 Ch. 88 – Gua Misterius
89 Ch. 89 – Majuu?
90 Ch. 90 – Kabut Tebal
91 Ch. 91 – Sial! Beribu Sial!
92 Ch. 92 – Hilangnya Kakek Hork
93 Ch. 93 – Sebongkah Batu
94 Ch. 94 – Skill Memasak
95 Ch. 95 – Mungkinkah?
96 Ch. 96 – Gelombang Pertama?!
97 Ch. 97 – Great Fire Ball
98 Ch. 98 – Efek Samping
99 Ch. 99 – Syukurlah
100 Ch. 100 – Kehabisan «Magen»
101 Ch. 101 – Tiga? Tidak, Ternyata Enam
102 Ch. 102 – Tidak, Masih Belum
103 Ch. 103 – Mencuri?
104 Ch. 104 – Kristal Sihir
105 Ch. 105 – Aku Tidak Bodoh
106 Ch. 106 – Tarian Pedang
107 Ch. 107 – Sebuah Parit Kematian
108 Ch. 108 – Tidur atau Menyerah?
109 Ch. 109 – Lagi-Lagi Adellia
110 Ch. 110 – «Viehoekige Beschermer»
111 Ch. 111 – Rencana Peningkatan Peforma
112 Ch. 112 – Terkendali
113 Ch. 113 – Mimpi
114 Ch. 114 – Waktunya Jaga
115 Ch. 115 – Pos Jaga
116 Ch. 116 – Zonics Archike
117 Ch. 117 – Barrier Pelindung
118 Ch. 118 – Majuu
119 Ch. 119 – Terimakasih
120 Ch. 120 – Keberangkatan
121 Ch. 121 – Tim Utama
122 Ch. 122 – Munculnya Kabut Aneh
123 Ch. 123 – Aku, Mati?
124 Ch. 124 – Kenapa?
125 !!!! EVENT BERHADIAH UANG TUNAI !!!!
126 Ch. 125 – Keluar?! Bodoh!
127 Ch. 126 – «Akik Steen» dan «Volle Kracth»
128 Ch. 127 – Dia Bukan Tyaga
129 Ch. 128 – Pasukan Adellia
130 Ch. 129 – Kehidupan
131 Ch. 130 – SON!
132 Ch. 131 – Heiler
133 [ END ] Ch. 132 – Akhir Penderitaan
Episodes

Updated 133 Episodes

1
[ Vol. 1 ] Ch. 1 – Pertempuran yang Sia-sia
2
[ Vol. 1 ] Ch. 2 – Adikku, Saigiri!
3
[ Vol. 1 ] Ch. 3 – Terselamatkan, Bala Bantuan?
4
[ Vol. 1 ] Ch. 4 – Adellia Monattlas
5
[ Vol. 1 ] Ch. 5 – Putus Asa?
6
[ Vol. 1 ] Ch. 6 – Bertahan dan Menyerang
7
[ Vol. 1 ] Ch. 7 – Saigiri, Maaf
8
[ Vol. 1 ] Ch. 8 – Bevestiger! Sihir Pengikat!
9
[ Vol. 1 ] Ch. 9 – Pidato Kemenangan
10
[ Vol. 1 ] Ch. 10 – Tim yang Luar Biasa
11
[ Vol. 1 ] Ch. 11 – Munculnya Orang Misterius
12
[ Vol. 1 ] Ch. 12 – Tidak Dapat Bergerak!
13
[ Vol. 1 ] Ch. 13 – Ruimte Rusten, Sihir Penghenti Ruang
14
[ Vol. 1 ] Ch. 14 – Mati
15
[ Vol. 1 ] Ch. 15 – Kekuatan Penuh, Volle Kracth!
16
Chapter 16 : Kemenangankah?
17
Chapter 17 : Pesan Kakek Hork
18
Chapter 18 : Eloknya Pagi
19
Chapter 19 : Keadaan Desa
20
Chapter 20 : Tatapan Aneh
21
Chapter 21 : Aula Akademi Bunga Hijau
22
Chapter 22 : Raja Laiquendi
23
Chapter 23 : Tantang Tyaga
24
Chapter 24 : Sumpah Darah Suci
25
Chapter 25 : Tetua Agamemnon
26
Chapter 26 : Pesan Raja Achille
27
Chapter 27 : Parels van Spirit Bal
28
Chapter 28 : Mutiara Roh
29
Chapter 29 : Kekuatan Roh Carsten
30
Chapter 30 : Tiga Serangkai
31
Chapter 31 : Pemusatan Roh
32
Chapter 32 : Wadah Ranah Roh
33
Ch. 33 – Bukan Burung Dalam Sangkar
34
Ch. 34 – Praktek dan Petualangan
35
Ch. 35 – Lubang Cicin Energi Roh
36
Ch. 36 – Senjata Roh Jiwa I
37
Ch. 37 – Senjata Roh Jiwa II
38
Ch. 38 – Pengendalian Energi Roh
39
Ch. 39 – Balok Bata
40
Ch. 40 – Apakah Sebuah Konklusi?
41
Ch. 41 – Kekecewaan sang Raja
42
Ch. 42 – Penggambaran Jiwa
43
Ch. 43 – Kerbau Tanduk Sabit
44
Ch. 44 – Pilihan Carsten
45
Ch. 45 – Dual Sword
46
Ch. 46 – Hidup dan Mati
47
Ch. 47 – Tak Sadarkan Diri
48
Ch. 48 – Berhasil
49
Ch. 49 – Kepolosan Carsten
50
Ch. 50 – Efek Samping
51
Ch. 51 – Pertemuan di Hutan Kabut
52
Ch. 52 – Berbincang
53
Ch. 53 – Ada yang Berbeda
54
Ch. 54 – Bukan Hal yang Istimewa
55
Ch. 55 – Perdebatan Antar Saudara
56
Ch. 56 – Tidak Sesuai Harapan
57
Ch. 57 – Hari yang Melelahkan
58
Ch. 58 – Peleburan Energi Roh nan Aneh
59
Ch. 59 – Menyiapkan Barang
60
Ch. 60 – Latih Tanding
61
Ch. 61 – Tidak Ada Peningkatan
62
Ch. 62 – JANGAN BERCANDA!
63
Ch. 63 – Pulang
64
Ch. 64 – Perbincangan Sebelum Berangkat
65
Ch. 65 – Menunggu
66
Ch. 66 – Menunggu (2)
67
Ch. 67 – Tak Asing
68
Ch. 68 – Nona Adellia
69
Ch. 69 – Dimulai
70
Ch. 70 – Tiny Wolf
71
Ch. 71 – Kerabat Dekat
72
Ch. 72 – Buku Catatan
73
Ch. 73 – Penaklukan Tiny Wolf
74
Ch. 74 – Diskusi
75
Ch. 75 – Gemercik Aliran Sungai
76
Ch. 76 – Sepakat
77
Ch. 77 – Malam pun Tiba
78
Ch. 78 – Kemampuan dan Kekuatan
79
Ch. 79 – Aura Membunuh
80
Ch. 80 – Kau Pencuri!
81
Ch. 81 – Penyihir Kehormatan
82
Ch. 82 – Hans yang Ceroboh
83
Ch. 83 – Bahaya dan Salah
84
Ch. 84 – Makan Malam
85
Ch. 85 – Menggoda Adellia
86
Ch. 86 – Dua Lelaki Sejati
87
Ch. 87 – Melanjutkan Perjalanan
88
Ch. 88 – Gua Misterius
89
Ch. 89 – Majuu?
90
Ch. 90 – Kabut Tebal
91
Ch. 91 – Sial! Beribu Sial!
92
Ch. 92 – Hilangnya Kakek Hork
93
Ch. 93 – Sebongkah Batu
94
Ch. 94 – Skill Memasak
95
Ch. 95 – Mungkinkah?
96
Ch. 96 – Gelombang Pertama?!
97
Ch. 97 – Great Fire Ball
98
Ch. 98 – Efek Samping
99
Ch. 99 – Syukurlah
100
Ch. 100 – Kehabisan «Magen»
101
Ch. 101 – Tiga? Tidak, Ternyata Enam
102
Ch. 102 – Tidak, Masih Belum
103
Ch. 103 – Mencuri?
104
Ch. 104 – Kristal Sihir
105
Ch. 105 – Aku Tidak Bodoh
106
Ch. 106 – Tarian Pedang
107
Ch. 107 – Sebuah Parit Kematian
108
Ch. 108 – Tidur atau Menyerah?
109
Ch. 109 – Lagi-Lagi Adellia
110
Ch. 110 – «Viehoekige Beschermer»
111
Ch. 111 – Rencana Peningkatan Peforma
112
Ch. 112 – Terkendali
113
Ch. 113 – Mimpi
114
Ch. 114 – Waktunya Jaga
115
Ch. 115 – Pos Jaga
116
Ch. 116 – Zonics Archike
117
Ch. 117 – Barrier Pelindung
118
Ch. 118 – Majuu
119
Ch. 119 – Terimakasih
120
Ch. 120 – Keberangkatan
121
Ch. 121 – Tim Utama
122
Ch. 122 – Munculnya Kabut Aneh
123
Ch. 123 – Aku, Mati?
124
Ch. 124 – Kenapa?
125
!!!! EVENT BERHADIAH UANG TUNAI !!!!
126
Ch. 125 – Keluar?! Bodoh!
127
Ch. 126 – «Akik Steen» dan «Volle Kracth»
128
Ch. 127 – Dia Bukan Tyaga
129
Ch. 128 – Pasukan Adellia
130
Ch. 129 – Kehidupan
131
Ch. 130 – SON!
132
Ch. 131 – Heiler
133
[ END ] Ch. 132 – Akhir Penderitaan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!