[ Edited (1) ]
Samar-samar dalam kabut malam perbukitan, kosong tanpa ada bayangan yang terlintas. Aku tidak mengerti dengan semua kejadian ini, cepat datangnya tapi lambat untuk menyudahinya.
Tanganku enggan menggenggam pedang serta kaki yang menolak untuk berjalan dan bahkan menopang tubuh pun tak mau.
“Apa yang akan kau lakukan selanjutnya? Monster itu mungkin akan segera menyerang mu lagi!”
Suara derap langkah kaki menyeret berjalan menghampiriku, wajahnya yang penuh dengan memar-memar membuatnya terlihat miris dan kasihan. Dia adalah Saigiri, adikku!
Dia kemudian menyandarkan tubuh kecilnya yang sedang terluka parah pada sebongkah batu.
“Apa yang kau lakukan di sini?! Cepat kembali ke Kamp! Di sini sangat berbahaya!" Aku menyuruhnya pergi dari sini. Namun, aku masih ingin menanyakan suatu hal lain padanya.
“Bagaimana keadaan ayah sekarang?”
Setelah terkena serangan Zardock, kondisi ayah sekarang memang sangat mengkhawatirkan, terakhir kali aku melihatnya terkapar mengenaskan dengan tubuh yang berlumuran darah. Tidak terkecuali dengan pasukan elf lainnya, hampir seluruhnya sekarang dalam keadaan kritis dan bahkan tidak sedikit pasukan yang tewas.
“Sampai sekarang ayah masih belum sadarkan diri. Terlebih lagi kita juga mulai kehabisan potion maupun obat-obatan lainnya, apa tidak sebaiknya kita bersembunyi dan menunggu bala bantuan terlebih dulu,” ajak Saigiri.
'Bersembunyi?! Tidak, sebelum aku mengalahkan monster itu. '
“—Tidak!” Jelas aku menolaknya.
"Tapi lihat dulu keadaanmu sekarang! Jangan memaksakan diri dan terlebih bagaimana dengan lukamu!”
“Bagiku ini hanya sebuah luka ringan, jadi kau tak perlu mengkhawatirkannya. Aku akan tetap melanjutkan pertarungan ini.” selaku bersandiwara seakan tidak ada luka yang berarti.
“Apa katamu, dengan keadaanmu yang sedemikian rupa kau masih ingin melanjutkannya? Ini bukan waktunya untuk bercanda, Kak. Apalagi dengan stamina mu yang telah banyak terkuras, mana mungkin kau bisa mengalahkan monster itu!”
Jika aku masih tetap bersikeras, pasti sebentar lagi dia akan mulai menangis, dan itu sangat merepotkan ku. Setidaknya aku harus sedikit mengalah untuk menenangkannya.
Saigiri menghirup napas dalam-dalam, raut wajahnya tampak merah pucat karena menahan rasa perih, langkahnya menyeret menghampiriku.
“Apa kau tega membiarkanku pulang ke rumah sendirian? Kau tahukan kalau aku sangat takut jika berjalan sendirian di dalam hutan apalagi dalam kegelapan malam, apa kau rela membiarkan adikmu ini berburu sendirian ketika ayah sedang bertugas, menghadapi hewan buas yang kiranya melindungi dirinya sendiri saja tak mampu, rela kah kau meninggalkanku sendirian Kak......!”
“Untuk kali ini tolong ijinkan aku untuk membantumu walau keadaanku sekarang yang tak lebih parah darimu, untuk kali ini saja biarkan aku sekali lagi bertarung di sampingmu, Kak!”
Sebuah kalimat mengeluh terucap dari bibir manisnya, tampak mata Saigiri mulai berkaca-kaca dan terhias kan oleh tetesan air mata.
“Baiklah Saigiri, aku janji..... Aku tidak akan kalah dari monster itu, aku akan terus-menerus menyerangnya... Hingga akhirnya monster itu lenyap dari muka bumi. Untuk kedua kalinya aku akan mengijinkan mu bertarung bersamaku. Tapi masih ingatkah kau dengan perkataan ku dulu, jangan sampai keadaanmu semakin memburuk, lalu merepotkan ku.”
“Aku tidak selemah dulu, malah sebaliknya kali ini aku akan melindungi mu dan bertarung dengan sekuat tenaga.” timpal Saigiri tersenyum kecut. Dia sama sekali tak mampu menyembunyikan rasa sakitnya.
Saigiri kemudian menghapus air matanya dan memasang wajah serius, akhirnya dapat aku pastikan bahwa kemenangan akan segera aku raih bersama dengan adikku sendiri, Saigiri.
***
“Bersiaplah Saigiri, dia mungkin akan segera menyerang.....!” ujarku setelah melihat Zardock sudah mulai bangkit dan menatap tajam ke arah kami.
“Aku yang akan menahannya, sementara itu kau buatlah perangkap di sana untuk berjaga-jaga jika seranganku dapat digagalkan lagi olehnya. Aku akan menggunakan strategi itu, seperti yang pernah kita gunakan dulu.”
Untuk kedua kalinya, kami akan kembali menggunakan strategi «Target and Trap». Aku yang akan menjadi ‘Target’, tugasku adalah menahan atau mungkin menyerang apabila ada kesempatan. Sedangkan Saigiri akan menjadi ‘Trap’, dia akan bersiap-siap di belakang seraya menyiapkan sebuah jebakan.
Dia mengangguk, kemudian mundur beberapa langkah dan mengecek kantung kecilnya.
“Bagaimana masih ada sisa tidak, Saigiri? Cepatlah sedikit, monster itu mulai mendekat!
“Masih ada satu Kak! «Shock Trap»!”
“Huh! Tapi tak apalah.....”
Sisa satu! Ini akan menjadi perangkap dan harapan terakhir kami, aku harus menggunakan strategi ini dengan baik, tapi jika gagal maka aku akan tetap bertarung dengannya sampai titik darah penghabisan.
“Baiklah, sudah waktunya untuk bersenang-senang! Kita akan menang kali ini, Saigiri.”
Aku sama sekali tidak memperdulikan rasa sakit ini dan terus berlari sekencang kilat, di belakang Saigiri juga mulai menyiapkan sebuah perangkap. Aku menyebut ini sebagai kombinasi serangan Adik-Kakak, bersiaplah kau Zardock.
Tapi tanpa kami sadari ternyata Zardock sendiri sedang mengumpulkan sebuah energi alam, semakin lama energinya semakin membesar. Tanah di sekeliling juga mulai retak dan terangkat.
Sungguh tekanan energi yang luar biasa. Raut wajahnya terlihat sangat marah setelah terkena serangan mutlakku, goresan panjang bekas tebasan pedang terpapar jelas di wajahnya.
Apakah dia akan kembali menggunakan «Brand Krassen»? Tidak, serangan tersebut tidak perlu pemusatan energi seperti ini.
Ataukah ini adalah serangan «Lasertall» yang telah menyebabkan ayah terluka parah? Tidak juga, memang terlihat mirip tapi energinya tak akan sebesar ini.
Energi tadi mulai membentuk bola pejal dengan cahaya merah mengkilap, sepertinya aku pernah melihat ini sebelumnya.
Aku ingat! ini adalah «Vuurbal Crush», sebuah serangan yang mempunyai kerusakan penghancur massal. Sampai-sampai daya ledaknya dapat menghancurkan satu desa dengan sekali serangan.
Tanpa memperdulikan bahaya dari serangan tersebut, aku lantas menyerangnya tanpa belas kasihan sedikitpun. Kuayunkan pedangku secara vertikal.
Seranganku tidak berhenti sampai di situ, aku bertubi-tubi mengayunkan pedang, kiri kemudian menyilang ke kanan. Dari posisi itu, aku berputar dan mengakhiri seranganku dengan menebaskan pedang memalang.
Dia masih tetap dalam posisinya, tapi masa bodoh aku akan terus menyerangnya tak peduli jika dia hanya terpaku dalam pengumpulan energi. Darah bercucuran dari tubuh besarnya karena sayatan-sayatan pedangku, tapi dia masih bertahan.
Bola energi mulai bergerak tidak karuan, tekanan kekuatan dari bola itu juga semakin menggila. Memancarkan cahaya merah yang sangat menyilaukan, apa mungkin sebentar lagi «Vuurbal Crush» akan meledak.
“A-APA!? Apa ini!? Apa yang sedang terjadi, pancaran cahaya apakah ini, apakah aku berhasil mengalahkannya?” tanyaku sambil menyipitkan mata karena pancaran cahaya itu terlalu silau.
“Kakak, menghindarlah sekarang juga. Lihat «Beachermee Aura» yang muncul di sekujur tubuhnya, mungkin dia sengaja tidak membalas seranganmu dan mengumpulkan energi lain untuk perlindungan. Dia kemudian akan meledakaan bola itu di dekatmu dam menghancurkanmu bersama dengan ledakan tersebut.” teriak Saigiri dari kejauhan.
Tapi aku tidak mungkin dapat menghindari serangan Zardock dengan jarak sedekat.
BUUMM!!!
Ledakan mahadahsyat akhirnya tidak bisa terelakkan lagi. Aku tak mempunyai waktu maupun ruang untuk menghadarinya.
Dugaanku ternyata benar, sebenarnya dari tadi dia memang sengaja membiarkan pertahanannya terbuka agar aku lebih leluasa menghajarnya, tapi setelah itu semua dia akan spontan meledakkan bola itu di dekatku dan langsung mengaktifkan pertahanannya yang mutlak, «Beschermde Aura» agar tubuhnya tidak ikut hancur bersama dengan ledakan tersebut.
"Aku akan mati..." gumamku pelan.
"Bagaimana dengan Saigiri?" aku melirik ke belakang, tampak bayangan Saigiri tengah berlari ke arahku.
'Apa yang kau lakukan? Pergilah menjauh, di sini sangat berbahaya, biarlah kakakmu ini menyusul Ibu dan teman-temannya.' ucapku lirih dalam hati.
Sudah tidak ada waktu lagi, aku akan mati.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:
* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya
* Follow akun penulis
* Berkomentar yang baik dan bijak
* Always like and share in your social media
* Bintang limanya ya gaes
* Favorit (Ini yang paling penting wkwkwkwk)
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D
# Terimakasih banyak gaes, see you on the next chapter.... ^_^
WA : 08973952193
IG : bayusastra20
email : bayu_sastra20@yahoo.co.id
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 133 Episodes
Comments
im3ld4
sip
2021-05-31
0
Honey
Kalau gak ada gambarnya, aku gak akan ngeh Saigiri itu cewek. Muehehe. Good.
Gak mungkin mati, aku yakin dia bakalan tetep hidup.
Btw, ada kalimat di awal yang kurang nendang. Ini: Suara derap langkah kaki menyeret berjalan menghampiriku ...
Apakah lebih baik begini?
Suara langkah kaki yang terseret-seret, menghampiriku ...
Kemudian, sial dialog tagnya.
"Bagaimana keadaan ayah sekarang?" Imbuhku.
>>>> "Bagaimana keadaan ayah sekarang?" imbuhku.
Itu saja. Aku suka nama Saigiri. Sai, Saigiri, hehe.
2020-07-01
0
San Jaya
Hmm, jadi sebelumnya yang ngelawan Zardock adalah Bapaknya pemeran utama?
Well, fokus ke chapter 2 ini... alurnya bagus, mulai pengenalan dua karakter baru. Saigiri dan..? Aku belum melihat ada nama karakter 'aku' terlihat, jadi agak kurang di situ.
Oh ya, ada satu typo yang kutemukan dan satu kesalahan pada dialog—kurang tanda petik dua (")
2020-06-17
4