[ Vol. 1 ] Ch. 8 – Bevestiger! Sihir Pengikat!

[ Not Edited ]

“Sihir pengikat! «Bevestiger».” Seseorang dari kejauhan dengan lantang merapalkan sebuah mantra, dia adalah salah satu pasukan penyihir. Tampak sangat tua dengan rambut yang mulai memutih dan mata yang berwarnakan merah hati.

Muncul cahaya hitam yang tengah mengikat tubuhku, seketika aku merasa tertarik dan menghindari tusukan pedang Adellia.

“Terimakasih telah menyelamatkanku..... Kek?”

“Apa kau sudah selasai bermain dengannya? Sekarang kau bergabunglah dengan mereka di sana. Biar mereka menyembuhkan lukamu terlebih dahulu, setelah itu kau dapat bertarung kembali.” Ujarnya.

Aku melihat dari kejauhan ternyata Adellia juga sedang menyembuhkan lukannya. Beberapa pasukan lainnya juga mulai mendekat.

“Tunggu... Apa kalian sudah siap dengan serangan kombinasi?” Tanyaku.

“Pasrahkan saja ini pada kami duhai anak muda, lihat... Mereka telah datang.” Dengan jari telunjuk menunjuk ke arah pasukan lain di sebelah selatan.

Pasukan huru-hara telah datang, terlihat besar dan kuat, tanpa bersenjatakan apapun tapi mempunyai daya rusak yang teramat hebat, mereka adalah para golem dan rakshasa.

Aku tertegun melihat kegagahan mereka, bahkan aku merasa sangat kecil dibandingkan dengan mereka.

(Tapi... Bagaiamana dengan kecepatan mereka? Sekira dengan badan sebesar itu pasti gerakannya akan lambat, bagaimanapun juga kecepatan Zardock juga harus diperhitungkan....)

“Owh ya, apa Kakek tak tau akan kecepatan monster itu? Dan apa mereka dapat bergerak lincah dengan tubuhnya yang sangat besar?”

“Kau belum pernah lihat kombinasi serangan kami? Nanti perhatikanlah dengan saksama, jangan melewatkan sedetikpun duhai anak muda.” Ujar penyihir itu dengan menampakan senyum percaya diri dan aku sangat jengkel ketika dia berkali-kali menyebutku dengan sebutan duhai anak muda.

“Para penyihir kehormatan sekalian telah tiba waktunya bagi kita memancarkan cahaya kebesaran kita, keluarkan batu permata kalian, «Akik Steen». Gunakan kekuatan sihir kalian untuk menghancurkan monster itu dan dengan kekuatan batu ini kita... Kita semua pasti akan menang.” Ujar kakek tersebut dalam keheningan malam.

“HHOOAAHH!!” Teriakan keras para golem dan rakshasa, mereka semua mengepalkan tangannya lalu mengangkatnya, tanda bahwa pertempuran akan segera dimulai. Sementara para penyihir hanya meringis mendengar perkataan si kakek.

Sesaat kemudian Adellia menghampiri kami dengan luka dan tenaga yang telah pulih kembali.

Dia menghela nafas panjang serta merapikan baju zirahnya yang kelihatan lecek dan banyak penyok di bagian lengannya. Namun dari sorot matanya dia terlihat sangat santai atau mungkin sangat yakin akan kemenangan besar.

“Kau, perwakilan kaum elf, kalian tak akan tahu bagaimana kekuatan aliansi milik kami karena kalian sudah terlalu percaya diri akan kekuatan kalian yang teramat lemah. Sesudah pertempuran ini kau tolong katakan pada pemimpin kalian untuk segera bergabung pada markas pusat, sekarang sudah waktunya untuk bersatu kembali. Itupun kalau kalian ingin menghadapi semua kehancuran nanti dengan kekuatan kalian.” Sabda Adellia seraya menatapku dengan tatapan tajam.

“Apa maksudmu!? Kau bilang ras kami lemah!? Jangan asal berbicara.” Tuntasku.

(Secara tidak langsung dia menantangku untuk bertarung.... Tapi apa yang dia katakan memang ada benarnya, pamanku sampai sekarang belum menyetujui surat kerja sama dari markas pusat)

“Sudah-sudah, kalian berdua jangan bertengkar disaat seperti ini. Kalian adalah generasi penerus, jadi jangan ada perpecahan yang sempat kami perbuat dulu. Benar apa yang dikatakan olehnya, sudah waktunya bagi kita semua untuk kembali bersatu.... Mungkin beberapa tahun lagi, «Schaduw Van Duisternis» akan segera menyerang.” Si Kakek malah menjadi penengah kami.

“Baiklah, akan kujelaskan padamu nanti. Kek, tolong bantu aku untuk menyiapkan ritual «Qua».” Pinta Adellia.

“Oh... Ternyata kau akan menggunakan kekuatan itu, padahal kau belum sepenuhnya menguasai teknik itu.” Balas si kakek.

(«Qua»?! Aku tak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.... Apa mereka akan melakukan suatu hal yang luar biasa?)

“Turuti saja perkataanku.” Nada bicaranya sangat serius. “Cepat...!” Bentaknya.

“Hmm.... Tak salah jika ayahmu memilihmu menjadi pemimpin pasukan ini, bersiaplah....”

“«Akik Steen», tolong pinjamkan kekuatanmu, rebutlah semua jiwa yang telah diselimuti oleh kegelisahan, kuatkanlah raga dan pikiran jiwa yang kosong, tunjukanlah «Qua»-mu pada tuanmu, Adellia Monattlas.”

Seketika langit menjadi gelap dan sekumpulan awan menyatu di atas batu permata yang ada di jari tengah kakek. Segumpalan awan tadi mulai memutar dan membentuk sebuah lingkaran dengan pusat yang memancarkan sebuah cahaya biru seperti warna batu permata tadi.

“Keluarlah «Qua», masuklah ke dalam jiwa tuanmu, Adellia Monattlas.” Lanjut si kakek.

Pancaran cahaya biru semakin menggila dan turun ke daratan bagaikan sinar laser, lurus, cepat dan berbekas. Kemudian kakek mengarahkannya ke tubuh Adellia, menghentakannya dengan keras.

“Ciaahhh...!!” Pekik Adellia dengan keras.

(Keren....!!! Inikah yang disebut dengan «Qua»?!)

Semua pandangan tertuju ke arah Adellia, tak terkecual aku.

“Kakek! Bagaimana dengan Adellia, apa dia baik-baik saja?”

“Kau bahkan belum pernah melihat ini sebelumya?” Dia malah terlihat senang dan bangga, seperti tidak terjadi apa-apa.

Setelah ritual itu telah usai, kabut tebal muncul dan menyilmuti tubuh Adellia.

“Kau, kaum elf.... Rasakanlah perbandingan kekuatanmu dengan kekuatanku.” Suara Adellia terdengar dari balik kabut yang mulai memudar.

(Apa yang ada di tangan kanannya!? Apakah itu «Ganjur».....?!)

“Ka-kau Adellia Monattlas?!” Rambut serta irisnya berubah menjadi biru, sebiru tombak yang dia pegang.

“Iya.... Kau bersiaplah juga!” Cakap Adellia.

“Kaum penyihir, bersiaplah! Jangan lupa gunakan teknik booster, karena kecepatan dan kekuatan monster itu sangat luar biasa.” Si kakekpun memberikan sedikit arahan ke para penyihir.

Akupun tak mau kalah, tapi... Ah-uwaah.... tubuhku justru roboh dan tersungkur lemas di tanah.

(Ada apa denganku...?)

“Cepat bangun! Jangan malas-malasan.” Ucap Adellia seraya mengulurkan tangannya.

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:

* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya

* Follow akun penulis

* Berkomentar yang baik dan bijak

* Always like and share in your social media

* Bintang limanya ya gaes

* Favorit (Ini yang paling penting wkwkwkwk)

Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D

# Terimakasih banyak gaes, see you on the next chapter.... ^_^

WA : 08973952193

IG : bayusastra20

email : bayu_sastra20@yahoo.co.id

Terpopuler

Comments

San Jaya

San Jaya

Dialog pembukanya sebaiknya diperbaiki, dibalik dengan narasi.

Koreksi: Dari kejauhan ada seseorang sedang merapalkan mantra dengan suara nyaring. "Sihir pengikat! Bevestiger."

----

Selebihnya kesalahan masih sama soal dialog tag atau elipsis

2020-07-03

0

Honey

Honey

Galfok ke Akik Steen. Inget musim batu akik yang pernah melanda negeri +62.

Adellia, duh. Apakah benih-benih cinta akan segera mereka tanam? Bersemi di tengah pertempuran. Jiaaahhhh.

2020-07-02

0

duta

duta

semangat

2020-05-08

2

lihat semua
Episodes
1 [ Vol. 1 ] Ch. 1 – Pertempuran yang Sia-sia
2 [ Vol. 1 ] Ch. 2 – Adikku, Saigiri!
3 [ Vol. 1 ] Ch. 3 – Terselamatkan, Bala Bantuan?
4 [ Vol. 1 ] Ch. 4 – Adellia Monattlas
5 [ Vol. 1 ] Ch. 5 – Putus Asa?
6 [ Vol. 1 ] Ch. 6 – Bertahan dan Menyerang
7 [ Vol. 1 ] Ch. 7 – Saigiri, Maaf
8 [ Vol. 1 ] Ch. 8 – Bevestiger! Sihir Pengikat!
9 [ Vol. 1 ] Ch. 9 – Pidato Kemenangan
10 [ Vol. 1 ] Ch. 10 – Tim yang Luar Biasa
11 [ Vol. 1 ] Ch. 11 – Munculnya Orang Misterius
12 [ Vol. 1 ] Ch. 12 – Tidak Dapat Bergerak!
13 [ Vol. 1 ] Ch. 13 – Ruimte Rusten, Sihir Penghenti Ruang
14 [ Vol. 1 ] Ch. 14 – Mati
15 [ Vol. 1 ] Ch. 15 – Kekuatan Penuh, Volle Kracth!
16 Chapter 16 : Kemenangankah?
17 Chapter 17 : Pesan Kakek Hork
18 Chapter 18 : Eloknya Pagi
19 Chapter 19 : Keadaan Desa
20 Chapter 20 : Tatapan Aneh
21 Chapter 21 : Aula Akademi Bunga Hijau
22 Chapter 22 : Raja Laiquendi
23 Chapter 23 : Tantang Tyaga
24 Chapter 24 : Sumpah Darah Suci
25 Chapter 25 : Tetua Agamemnon
26 Chapter 26 : Pesan Raja Achille
27 Chapter 27 : Parels van Spirit Bal
28 Chapter 28 : Mutiara Roh
29 Chapter 29 : Kekuatan Roh Carsten
30 Chapter 30 : Tiga Serangkai
31 Chapter 31 : Pemusatan Roh
32 Chapter 32 : Wadah Ranah Roh
33 Ch. 33 – Bukan Burung Dalam Sangkar
34 Ch. 34 – Praktek dan Petualangan
35 Ch. 35 – Lubang Cicin Energi Roh
36 Ch. 36 – Senjata Roh Jiwa I
37 Ch. 37 – Senjata Roh Jiwa II
38 Ch. 38 – Pengendalian Energi Roh
39 Ch. 39 – Balok Bata
40 Ch. 40 – Apakah Sebuah Konklusi?
41 Ch. 41 – Kekecewaan sang Raja
42 Ch. 42 – Penggambaran Jiwa
43 Ch. 43 – Kerbau Tanduk Sabit
44 Ch. 44 – Pilihan Carsten
45 Ch. 45 – Dual Sword
46 Ch. 46 – Hidup dan Mati
47 Ch. 47 – Tak Sadarkan Diri
48 Ch. 48 – Berhasil
49 Ch. 49 – Kepolosan Carsten
50 Ch. 50 – Efek Samping
51 Ch. 51 – Pertemuan di Hutan Kabut
52 Ch. 52 – Berbincang
53 Ch. 53 – Ada yang Berbeda
54 Ch. 54 – Bukan Hal yang Istimewa
55 Ch. 55 – Perdebatan Antar Saudara
56 Ch. 56 – Tidak Sesuai Harapan
57 Ch. 57 – Hari yang Melelahkan
58 Ch. 58 – Peleburan Energi Roh nan Aneh
59 Ch. 59 – Menyiapkan Barang
60 Ch. 60 – Latih Tanding
61 Ch. 61 – Tidak Ada Peningkatan
62 Ch. 62 – JANGAN BERCANDA!
63 Ch. 63 – Pulang
64 Ch. 64 – Perbincangan Sebelum Berangkat
65 Ch. 65 – Menunggu
66 Ch. 66 – Menunggu (2)
67 Ch. 67 – Tak Asing
68 Ch. 68 – Nona Adellia
69 Ch. 69 – Dimulai
70 Ch. 70 – Tiny Wolf
71 Ch. 71 – Kerabat Dekat
72 Ch. 72 – Buku Catatan
73 Ch. 73 – Penaklukan Tiny Wolf
74 Ch. 74 – Diskusi
75 Ch. 75 – Gemercik Aliran Sungai
76 Ch. 76 – Sepakat
77 Ch. 77 – Malam pun Tiba
78 Ch. 78 – Kemampuan dan Kekuatan
79 Ch. 79 – Aura Membunuh
80 Ch. 80 – Kau Pencuri!
81 Ch. 81 – Penyihir Kehormatan
82 Ch. 82 – Hans yang Ceroboh
83 Ch. 83 – Bahaya dan Salah
84 Ch. 84 – Makan Malam
85 Ch. 85 – Menggoda Adellia
86 Ch. 86 – Dua Lelaki Sejati
87 Ch. 87 – Melanjutkan Perjalanan
88 Ch. 88 – Gua Misterius
89 Ch. 89 – Majuu?
90 Ch. 90 – Kabut Tebal
91 Ch. 91 – Sial! Beribu Sial!
92 Ch. 92 – Hilangnya Kakek Hork
93 Ch. 93 – Sebongkah Batu
94 Ch. 94 – Skill Memasak
95 Ch. 95 – Mungkinkah?
96 Ch. 96 – Gelombang Pertama?!
97 Ch. 97 – Great Fire Ball
98 Ch. 98 – Efek Samping
99 Ch. 99 – Syukurlah
100 Ch. 100 – Kehabisan «Magen»
101 Ch. 101 – Tiga? Tidak, Ternyata Enam
102 Ch. 102 – Tidak, Masih Belum
103 Ch. 103 – Mencuri?
104 Ch. 104 – Kristal Sihir
105 Ch. 105 – Aku Tidak Bodoh
106 Ch. 106 – Tarian Pedang
107 Ch. 107 – Sebuah Parit Kematian
108 Ch. 108 – Tidur atau Menyerah?
109 Ch. 109 – Lagi-Lagi Adellia
110 Ch. 110 – «Viehoekige Beschermer»
111 Ch. 111 – Rencana Peningkatan Peforma
112 Ch. 112 – Terkendali
113 Ch. 113 – Mimpi
114 Ch. 114 – Waktunya Jaga
115 Ch. 115 – Pos Jaga
116 Ch. 116 – Zonics Archike
117 Ch. 117 – Barrier Pelindung
118 Ch. 118 – Majuu
119 Ch. 119 – Terimakasih
120 Ch. 120 – Keberangkatan
121 Ch. 121 – Tim Utama
122 Ch. 122 – Munculnya Kabut Aneh
123 Ch. 123 – Aku, Mati?
124 Ch. 124 – Kenapa?
125 !!!! EVENT BERHADIAH UANG TUNAI !!!!
126 Ch. 125 – Keluar?! Bodoh!
127 Ch. 126 – «Akik Steen» dan «Volle Kracth»
128 Ch. 127 – Dia Bukan Tyaga
129 Ch. 128 – Pasukan Adellia
130 Ch. 129 – Kehidupan
131 Ch. 130 – SON!
132 Ch. 131 – Heiler
133 [ END ] Ch. 132 – Akhir Penderitaan
Episodes

Updated 133 Episodes

1
[ Vol. 1 ] Ch. 1 – Pertempuran yang Sia-sia
2
[ Vol. 1 ] Ch. 2 – Adikku, Saigiri!
3
[ Vol. 1 ] Ch. 3 – Terselamatkan, Bala Bantuan?
4
[ Vol. 1 ] Ch. 4 – Adellia Monattlas
5
[ Vol. 1 ] Ch. 5 – Putus Asa?
6
[ Vol. 1 ] Ch. 6 – Bertahan dan Menyerang
7
[ Vol. 1 ] Ch. 7 – Saigiri, Maaf
8
[ Vol. 1 ] Ch. 8 – Bevestiger! Sihir Pengikat!
9
[ Vol. 1 ] Ch. 9 – Pidato Kemenangan
10
[ Vol. 1 ] Ch. 10 – Tim yang Luar Biasa
11
[ Vol. 1 ] Ch. 11 – Munculnya Orang Misterius
12
[ Vol. 1 ] Ch. 12 – Tidak Dapat Bergerak!
13
[ Vol. 1 ] Ch. 13 – Ruimte Rusten, Sihir Penghenti Ruang
14
[ Vol. 1 ] Ch. 14 – Mati
15
[ Vol. 1 ] Ch. 15 – Kekuatan Penuh, Volle Kracth!
16
Chapter 16 : Kemenangankah?
17
Chapter 17 : Pesan Kakek Hork
18
Chapter 18 : Eloknya Pagi
19
Chapter 19 : Keadaan Desa
20
Chapter 20 : Tatapan Aneh
21
Chapter 21 : Aula Akademi Bunga Hijau
22
Chapter 22 : Raja Laiquendi
23
Chapter 23 : Tantang Tyaga
24
Chapter 24 : Sumpah Darah Suci
25
Chapter 25 : Tetua Agamemnon
26
Chapter 26 : Pesan Raja Achille
27
Chapter 27 : Parels van Spirit Bal
28
Chapter 28 : Mutiara Roh
29
Chapter 29 : Kekuatan Roh Carsten
30
Chapter 30 : Tiga Serangkai
31
Chapter 31 : Pemusatan Roh
32
Chapter 32 : Wadah Ranah Roh
33
Ch. 33 – Bukan Burung Dalam Sangkar
34
Ch. 34 – Praktek dan Petualangan
35
Ch. 35 – Lubang Cicin Energi Roh
36
Ch. 36 – Senjata Roh Jiwa I
37
Ch. 37 – Senjata Roh Jiwa II
38
Ch. 38 – Pengendalian Energi Roh
39
Ch. 39 – Balok Bata
40
Ch. 40 – Apakah Sebuah Konklusi?
41
Ch. 41 – Kekecewaan sang Raja
42
Ch. 42 – Penggambaran Jiwa
43
Ch. 43 – Kerbau Tanduk Sabit
44
Ch. 44 – Pilihan Carsten
45
Ch. 45 – Dual Sword
46
Ch. 46 – Hidup dan Mati
47
Ch. 47 – Tak Sadarkan Diri
48
Ch. 48 – Berhasil
49
Ch. 49 – Kepolosan Carsten
50
Ch. 50 – Efek Samping
51
Ch. 51 – Pertemuan di Hutan Kabut
52
Ch. 52 – Berbincang
53
Ch. 53 – Ada yang Berbeda
54
Ch. 54 – Bukan Hal yang Istimewa
55
Ch. 55 – Perdebatan Antar Saudara
56
Ch. 56 – Tidak Sesuai Harapan
57
Ch. 57 – Hari yang Melelahkan
58
Ch. 58 – Peleburan Energi Roh nan Aneh
59
Ch. 59 – Menyiapkan Barang
60
Ch. 60 – Latih Tanding
61
Ch. 61 – Tidak Ada Peningkatan
62
Ch. 62 – JANGAN BERCANDA!
63
Ch. 63 – Pulang
64
Ch. 64 – Perbincangan Sebelum Berangkat
65
Ch. 65 – Menunggu
66
Ch. 66 – Menunggu (2)
67
Ch. 67 – Tak Asing
68
Ch. 68 – Nona Adellia
69
Ch. 69 – Dimulai
70
Ch. 70 – Tiny Wolf
71
Ch. 71 – Kerabat Dekat
72
Ch. 72 – Buku Catatan
73
Ch. 73 – Penaklukan Tiny Wolf
74
Ch. 74 – Diskusi
75
Ch. 75 – Gemercik Aliran Sungai
76
Ch. 76 – Sepakat
77
Ch. 77 – Malam pun Tiba
78
Ch. 78 – Kemampuan dan Kekuatan
79
Ch. 79 – Aura Membunuh
80
Ch. 80 – Kau Pencuri!
81
Ch. 81 – Penyihir Kehormatan
82
Ch. 82 – Hans yang Ceroboh
83
Ch. 83 – Bahaya dan Salah
84
Ch. 84 – Makan Malam
85
Ch. 85 – Menggoda Adellia
86
Ch. 86 – Dua Lelaki Sejati
87
Ch. 87 – Melanjutkan Perjalanan
88
Ch. 88 – Gua Misterius
89
Ch. 89 – Majuu?
90
Ch. 90 – Kabut Tebal
91
Ch. 91 – Sial! Beribu Sial!
92
Ch. 92 – Hilangnya Kakek Hork
93
Ch. 93 – Sebongkah Batu
94
Ch. 94 – Skill Memasak
95
Ch. 95 – Mungkinkah?
96
Ch. 96 – Gelombang Pertama?!
97
Ch. 97 – Great Fire Ball
98
Ch. 98 – Efek Samping
99
Ch. 99 – Syukurlah
100
Ch. 100 – Kehabisan «Magen»
101
Ch. 101 – Tiga? Tidak, Ternyata Enam
102
Ch. 102 – Tidak, Masih Belum
103
Ch. 103 – Mencuri?
104
Ch. 104 – Kristal Sihir
105
Ch. 105 – Aku Tidak Bodoh
106
Ch. 106 – Tarian Pedang
107
Ch. 107 – Sebuah Parit Kematian
108
Ch. 108 – Tidur atau Menyerah?
109
Ch. 109 – Lagi-Lagi Adellia
110
Ch. 110 – «Viehoekige Beschermer»
111
Ch. 111 – Rencana Peningkatan Peforma
112
Ch. 112 – Terkendali
113
Ch. 113 – Mimpi
114
Ch. 114 – Waktunya Jaga
115
Ch. 115 – Pos Jaga
116
Ch. 116 – Zonics Archike
117
Ch. 117 – Barrier Pelindung
118
Ch. 118 – Majuu
119
Ch. 119 – Terimakasih
120
Ch. 120 – Keberangkatan
121
Ch. 121 – Tim Utama
122
Ch. 122 – Munculnya Kabut Aneh
123
Ch. 123 – Aku, Mati?
124
Ch. 124 – Kenapa?
125
!!!! EVENT BERHADIAH UANG TUNAI !!!!
126
Ch. 125 – Keluar?! Bodoh!
127
Ch. 126 – «Akik Steen» dan «Volle Kracth»
128
Ch. 127 – Dia Bukan Tyaga
129
Ch. 128 – Pasukan Adellia
130
Ch. 129 – Kehidupan
131
Ch. 130 – SON!
132
Ch. 131 – Heiler
133
[ END ] Ch. 132 – Akhir Penderitaan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!