[ Not Edited ]
“Sihir pengikat! «Bevestiger».” Seseorang dari kejauhan dengan lantang merapalkan sebuah mantra, dia adalah salah satu pasukan penyihir. Tampak sangat tua dengan rambut yang mulai memutih dan mata yang berwarnakan merah hati.
Muncul cahaya hitam yang tengah mengikat tubuhku, seketika aku merasa tertarik dan menghindari tusukan pedang Adellia.
“Terimakasih telah menyelamatkanku..... Kek?”
“Apa kau sudah selasai bermain dengannya? Sekarang kau bergabunglah dengan mereka di sana. Biar mereka menyembuhkan lukamu terlebih dahulu, setelah itu kau dapat bertarung kembali.” Ujarnya.
Aku melihat dari kejauhan ternyata Adellia juga sedang menyembuhkan lukannya. Beberapa pasukan lainnya juga mulai mendekat.
“Tunggu... Apa kalian sudah siap dengan serangan kombinasi?” Tanyaku.
“Pasrahkan saja ini pada kami duhai anak muda, lihat... Mereka telah datang.” Dengan jari telunjuk menunjuk ke arah pasukan lain di sebelah selatan.
Pasukan huru-hara telah datang, terlihat besar dan kuat, tanpa bersenjatakan apapun tapi mempunyai daya rusak yang teramat hebat, mereka adalah para golem dan rakshasa.
Aku tertegun melihat kegagahan mereka, bahkan aku merasa sangat kecil dibandingkan dengan mereka.
(Tapi... Bagaiamana dengan kecepatan mereka? Sekira dengan badan sebesar itu pasti gerakannya akan lambat, bagaimanapun juga kecepatan Zardock juga harus diperhitungkan....)
“Owh ya, apa Kakek tak tau akan kecepatan monster itu? Dan apa mereka dapat bergerak lincah dengan tubuhnya yang sangat besar?”
“Kau belum pernah lihat kombinasi serangan kami? Nanti perhatikanlah dengan saksama, jangan melewatkan sedetikpun duhai anak muda.” Ujar penyihir itu dengan menampakan senyum percaya diri dan aku sangat jengkel ketika dia berkali-kali menyebutku dengan sebutan duhai anak muda.
“Para penyihir kehormatan sekalian telah tiba waktunya bagi kita memancarkan cahaya kebesaran kita, keluarkan batu permata kalian, «Akik Steen». Gunakan kekuatan sihir kalian untuk menghancurkan monster itu dan dengan kekuatan batu ini kita... Kita semua pasti akan menang.” Ujar kakek tersebut dalam keheningan malam.
“HHOOAAHH!!” Teriakan keras para golem dan rakshasa, mereka semua mengepalkan tangannya lalu mengangkatnya, tanda bahwa pertempuran akan segera dimulai. Sementara para penyihir hanya meringis mendengar perkataan si kakek.
Sesaat kemudian Adellia menghampiri kami dengan luka dan tenaga yang telah pulih kembali.
Dia menghela nafas panjang serta merapikan baju zirahnya yang kelihatan lecek dan banyak penyok di bagian lengannya. Namun dari sorot matanya dia terlihat sangat santai atau mungkin sangat yakin akan kemenangan besar.
“Kau, perwakilan kaum elf, kalian tak akan tahu bagaimana kekuatan aliansi milik kami karena kalian sudah terlalu percaya diri akan kekuatan kalian yang teramat lemah. Sesudah pertempuran ini kau tolong katakan pada pemimpin kalian untuk segera bergabung pada markas pusat, sekarang sudah waktunya untuk bersatu kembali. Itupun kalau kalian ingin menghadapi semua kehancuran nanti dengan kekuatan kalian.” Sabda Adellia seraya menatapku dengan tatapan tajam.
“Apa maksudmu!? Kau bilang ras kami lemah!? Jangan asal berbicara.” Tuntasku.
(Secara tidak langsung dia menantangku untuk bertarung.... Tapi apa yang dia katakan memang ada benarnya, pamanku sampai sekarang belum menyetujui surat kerja sama dari markas pusat)
“Sudah-sudah, kalian berdua jangan bertengkar disaat seperti ini. Kalian adalah generasi penerus, jadi jangan ada perpecahan yang sempat kami perbuat dulu. Benar apa yang dikatakan olehnya, sudah waktunya bagi kita semua untuk kembali bersatu.... Mungkin beberapa tahun lagi, «Schaduw Van Duisternis» akan segera menyerang.” Si Kakek malah menjadi penengah kami.
“Baiklah, akan kujelaskan padamu nanti. Kek, tolong bantu aku untuk menyiapkan ritual «Qua».” Pinta Adellia.
“Oh... Ternyata kau akan menggunakan kekuatan itu, padahal kau belum sepenuhnya menguasai teknik itu.” Balas si kakek.
(«Qua»?! Aku tak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.... Apa mereka akan melakukan suatu hal yang luar biasa?)
“Turuti saja perkataanku.” Nada bicaranya sangat serius. “Cepat...!” Bentaknya.
“Hmm.... Tak salah jika ayahmu memilihmu menjadi pemimpin pasukan ini, bersiaplah....”
“«Akik Steen», tolong pinjamkan kekuatanmu, rebutlah semua jiwa yang telah diselimuti oleh kegelisahan, kuatkanlah raga dan pikiran jiwa yang kosong, tunjukanlah «Qua»-mu pada tuanmu, Adellia Monattlas.”
Seketika langit menjadi gelap dan sekumpulan awan menyatu di atas batu permata yang ada di jari tengah kakek. Segumpalan awan tadi mulai memutar dan membentuk sebuah lingkaran dengan pusat yang memancarkan sebuah cahaya biru seperti warna batu permata tadi.
“Keluarlah «Qua», masuklah ke dalam jiwa tuanmu, Adellia Monattlas.” Lanjut si kakek.
Pancaran cahaya biru semakin menggila dan turun ke daratan bagaikan sinar laser, lurus, cepat dan berbekas. Kemudian kakek mengarahkannya ke tubuh Adellia, menghentakannya dengan keras.
“Ciaahhh...!!” Pekik Adellia dengan keras.
(Keren....!!! Inikah yang disebut dengan «Qua»?!)
Semua pandangan tertuju ke arah Adellia, tak terkecual aku.
“Kakek! Bagaimana dengan Adellia, apa dia baik-baik saja?”
“Kau bahkan belum pernah melihat ini sebelumya?” Dia malah terlihat senang dan bangga, seperti tidak terjadi apa-apa.
Setelah ritual itu telah usai, kabut tebal muncul dan menyilmuti tubuh Adellia.
“Kau, kaum elf.... Rasakanlah perbandingan kekuatanmu dengan kekuatanku.” Suara Adellia terdengar dari balik kabut yang mulai memudar.
(Apa yang ada di tangan kanannya!? Apakah itu «Ganjur».....?!)
“Ka-kau Adellia Monattlas?!” Rambut serta irisnya berubah menjadi biru, sebiru tombak yang dia pegang.
“Iya.... Kau bersiaplah juga!” Cakap Adellia.
“Kaum penyihir, bersiaplah! Jangan lupa gunakan teknik booster, karena kecepatan dan kekuatan monster itu sangat luar biasa.” Si kakekpun memberikan sedikit arahan ke para penyihir.
Akupun tak mau kalah, tapi... Ah-uwaah.... tubuhku justru roboh dan tersungkur lemas di tanah.
(Ada apa denganku...?)
“Cepat bangun! Jangan malas-malasan.” Ucap Adellia seraya mengulurkan tangannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo sobatt pembaca sekalian!! yang sudah membaca novel ini maupun sekadar mampir, saya sebagai author mengucapkan banyak terimakasih jika kalian memberikan dukungan dengan cara di bawah ini:
* Dukung penulis dengan memberikan tips / vote seadanya
* Follow akun penulis
* Berkomentar yang baik dan bijak
* Always like and share in your social media
* Bintang limanya ya gaes
* Favorit (Ini yang paling penting wkwkwkwk)
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan dapat menambah semangat author dalam melanjutkan cerita ini!! Dukung terus ya gaesss.... :D
# Terimakasih banyak gaes, see you on the next chapter.... ^_^
WA : 08973952193
IG : bayusastra20
email : bayu_sastra20@yahoo.co.id
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 133 Episodes
Comments
San Jaya
Dialog pembukanya sebaiknya diperbaiki, dibalik dengan narasi.
Koreksi: Dari kejauhan ada seseorang sedang merapalkan mantra dengan suara nyaring. "Sihir pengikat! Bevestiger."
----
Selebihnya kesalahan masih sama soal dialog tag atau elipsis
2020-07-03
0
Honey
Galfok ke Akik Steen. Inget musim batu akik yang pernah melanda negeri +62.
Adellia, duh. Apakah benih-benih cinta akan segera mereka tanam? Bersemi di tengah pertempuran. Jiaaahhhh.
2020-07-02
0
duta
semangat
2020-05-08
2