MISTERI MEREBUT WARISAN
Siapa orangnya yang tidak ingin hidup kaya? Siapa orang yang tidak ingin hidup bahagia? Siapapun manusia di muka bumi ini, tentunya mengharapkan hidup kaya raya dengan bergelimang harta kemewahan, hidup yang menyenangkan, hidup yang serba tercukupi semua kebutuhannya, tidak kekurangan suatu apapun, hidup yang bahagia. Dan bila perlu tidak hanya bahagia di dunia, tetapi juga bahagia di akhirat. Ya, itulah konsep hidup manusia yang umumnya memang seperti itu. Bahkan ada yang membuat jargon "muda kaya raya, tua leha-leha, mati masuk surga".
Seperti halnya keluarga Tuan Jono, yang dari pertama kali membangun rumah tangga, memang sudah berasal dari keluarga yang kaya raya. Modal hidup keluarga Tuan Jono memang berasal dari keturunan orang yang berada, dari keturunan orang yang serba memiliki apa saja yang dibutuhkan dalam hidupnya. Ya, Tuan Jono memang memiliki peninggalan harta kekayaan yang cukup berlimpah dari orang tuanya.
Oleh sebab itulah dalam kehidupannya yang serba berkelimpahan harta kekayaan, Tuan Jono bersama istrinya, dan tentu bersama dengan anak-anaknya, menanamkan cara hidup yang serba mewah. Tiga orang anaknya, yaitu Eni, Moko dan Manto, sejak kecil sudah dimanja dengan harta benda dan kekayaan yang tidak terhitung jumlahnya. Tentu anak-anaknya sangat senang bisa menikmati kemewahan dalam hidupnya, meski itu harta dari orang tuanya. Apalagi istrinya, Nyonya Ciblek, yang tentunya sangat menikmati kekayaan suaminya.
Keluarga Tuan Jono merupakan keluarga yang sangat terpandang di kampung halamannya. Bahkan tidak hanya orang-orang sekampungnya, tetapi juga kampung-kampung di sekelilingnya. Bahkan boleh dikatakan, orang satu kecamatan kenal dengan orang yang bernama Tuan Jono. Keluarga Tuan Jono sangat disegani oleh para tetangga. Keluarga Tuan Jono sangat dihormati, bahkan mendapat tempat tersendiri dalam posisi kehidupan bermasyarakat, yaitu sebagai orang terpandang, orang yang berada di kelompok atas dalam sebuah kehidupan bermasyarakat. Ya, itulah enaknya menjadi orang kaya, selalu mendapatkan best position atau special place di masyarakat.
Sebenarnya Tuan Jono bukanlah satu-satunya keturunan dari orang tuanya, yaitu pasangan Kakek Yan dan Nenek Kosen. Tetapi Tuan Jono masih punya saudara kakak perempuan yang bernama Rose. Namun kakak perempuan dari Tuan Jono ini setelah menikah ikut serta bersama suaminya tinggal di tempat lain yang agak jauh dari orang tuanya. Memang, biasanya seorang perempuan kalau sudah menikah, apalagi sebagai anak pertama yang masih punya adik, ia akan tinggal bersama suaminya, ikut suaminya. Setidaknya ke tempat tinggal yang baru yang disiapkan oleh suaminya.
Memang biasanya seorang laki-laki yang menikah dengan perempuan dari keluarga yang masih memliki adik dan adiknya belum menikah, akan memilih untuk tinggal di tempat yang baru atau berpindah dari rumah mertuanya. Tentu hal itu karena mereka berpendapat tidak mau dianggap hanya bergantung pada mertua. Setidaknya seorang laki-laki akan membawa istrinya untuk membangun rumah tangganya sendiri tanpa mengganggu mertuanya atau orang tua dari istrinya. Orang-orang di kampung Kakek Yan dan Nenek Kosen, akan menganggap laki-laki yang berani menikah dan memberi rumah baru pada istrinya, akan dikatakan sebagai laki-laki yang bertanggung jawab, laki-laki yang hebat, laki-laki yang akan membahagiakan istri dan keluarganya.
Tentu sangat berbeda dengan Tuan Jono. Sebagai anak ragil atau anak bungsu dari keluarga Kakek Yan dan Nenek Kosen, walaupun dia seorang laki-laki, tetapi menurut adat setempat, ia berhak menempati rumah warisan dari orang tuanya. Anak bungsu diharapkan akan menemani orang tuanya di saat renta. Anak bungsu yang tinggal bersama di rumah warisan itu, akan merawat kedua orang tuanya jika orang tuanya sakit atau sudah tidak sanggup apa-apa lagi. Setidaknya, anak bungsu inilah yang diharapkan bisa menopang hidup orang tuanya, saat kedua orang tuanya sudah tidak bisa apa-apa lagi.
Itulah sebabnya, maka Tuan Jono kelak berhak mendapatkan banyak warisan dari orang tuanya. Pastinya, Kakek Yan dan Nenek Kosen yang kala hidupnya sangat jaya dengan berbagai macam usaha, memiliki harta kekayaan yang tidak sedikit jumlahnya, sebagai orang yang kaya raya, dan itu semua akan diberikan kepada Tuan Jono sebagai pewaris kekayaannya.
Lebih enaknya lagi, Tuan Jono ini tidak hanya mewarisi tanah-tanah warisan yang diberikan oleh orang tuanya, melainkan juga mendapat kemudahan dalam bekerja di pemerintahan sebagai seorang pegawai negeri. Ya, setidaknya Kakek Yan kala itu masih memiliki pengaruh dan dipercaya oleh para pejabat di daerahnya. Maka tidak heran kalau Kakek Yan menitipkan Tuan Jono yang saat itu masih muda dan belum berumah tangga, untuk bisa diterima sebagai pegawai negeri. Dan waktu itu, sekitar lima puluh tahun yang lalu, untuk menjadi pegawai negeri masih mudah. Setidaknya saingannya tidak terlalu banyak. Paling-paling hanya dibutuhkan ijazah yang sesuai dengan posisinya. Kalaupun Kakek Yan harus mengeluarkan uang sebagai ucapan terima kasih, pastinya tidak terlalu banyak. Bagi Kakek Yan itu semua sangat gampang.
Dan kenyataannya, kala itu, Tuan Jono yang masih muda dan belum berumah tangga, langsung menjadi pegawai di pemerintahan. Tentu itu menjadi kebanggaan, tidak hanya bagi Tuan Jono yang masih lajang, tetapi juga bagi Kakek Yan dan Nenek Kosen. Bahkan bagi saudara-saudara dari keluarga Kakek Yan yang tentunya senang ada salah satu keluarganya yang menjadi pegawai negeri. Ya, setidaknya Kakek Yan sudah bisa menempatkan anaknya menjadi seorang pegawai di pemerintahan, sehingga Tuan Jono tidak lagi menjadi pemuda yang lontang-lantung.
Hingga akhirnya, Tuan Jono yang masih muda itu harus menikah. Ia harus memilih perempuan untuk mendampingi hidupnya. Tuan Jono muda itu harus mencari gadis untuk dijadikan istrinya dalam melangsungkan hidup berumah tangga. Tentu seleranya tidak rendahan. Dasar anak orang kaya dan sudah menjadi pegawai di pemerintahan, maka ia pun akan mencari gadis tercantik untuk dijadikan pendamping dalam hidupnya. Tuan Jono berkeliling ke kampung-kampung tetangga, untuk mencari gadis yang cocok untuk dijadikan pendamping hidupnya.
Kampung Pademangan, tempat tinggal Kakek Yan dan Nenek Kosen bersama dengan anaknya, pada tahun 1970 masih merupakan perkampungan yang jauh dari perkotaan dan sangat jauh dari kemajuan zaman. Tidak aneh kalau kampung yang mayoritas penduduknya adalah petani itu masih sangat ketinggalan. Bahkan kehidupannya masih boleh dikatakan primitif. Namun anehnya, jika ada berita sekecil apapun, orang se kampung langsung mendengar dan mengetahuinya. Termasuk berita kalau Tuan Jono Muda itu ingin mencari gadis yang akan dijadikan pendaping hidupnya.
Anak polah bopo kepradah. Pepatah bahasa Jawa yang mengibaratkan kalau seorang anak menginginkan sesuatu maka bapaknya harus menuruti keinginan anaknya itu. Ketika anak meminta untuk dinikahkan, maka orang tuanya pun harus menuruti apa yang menjadi kehendak anaknya. Tuan Jono muda sudah mendapatkan gadis idaman. Walau sebenarnya ibunya sudah menyodorkan beberapa gadis yang oleh orang tuanya dipandang cocok untuk mendampingi Tuan Jono, namun pilihan Tuan Jono dipandang yang paling cocok untuk dirinya. Sedangkan pilihan orang tuanya, banyak saja alasan dari tuan Jono untuk menolak gadis yang ditawarkan. Bahkan Tuan Jono harus marah untuk menolak calon istri yang disodorkan oleh ibunya.
Untuk menghindari kemarahan Tuan Jono, tentu orang tuanya mengalah. Maka, Tuan Jono muda itu pun langsung dilamarkankan dengan perempuan yang ditaksirnya. Gadis dari kampung sebelah. Pernikahan pun segera dilangsungkan. Pesta pernikahan pun sangat ramai dan meriah.
Tidak sekedar ramai dengan hiburan wayang kulit semalam suntuk, tetapi para pengiring pengantin kala itu benar-benar sangat meriah. Orang satu kampung ikut mengarak pengantin, dari rumah Kakek Yan menuju ke kediaman mempelai wanita. Kala itu, mengiring pengantin belum naik mobil atau kendaraan karena memang belum ada orang di kampungnya yang punya mobil atau motor, tetapi jalan kaki dari rumah pengantin pria menuju ke rumah mempelai wanita.
Pengantin laki-laki dirias dengan mengenakan pakaian beskap kebesaran serta mahkota, seperti layaknya seorang raja, dan dinaikkan kuda. Kuda pengantin itu pun juga dirias, setidaknya ada hiasan kembang manggar di kepala kuda, serta roncean bunga warna-warni di badan kuda itu. Kuda yang dinaiki pengantin pria dengan dandanan ala seorang raja itu pun berjalan paling depan yang dituntun oleh pemilik kuda.
Lantas di belakang pengantin pria yang diikuti oleh Kakek Yan dan Nenek Kosen, berbaris kerabat keluarganya serta pengiring perempuan, yang rata-rata masih muda, kalau pun ada yang sudah berumah tangga pasti masih ibu muda, yang jumlahnya sangat banyak. Para perempuan ini berdandan semua, memakai kain kebaya dan dirias oleh para perias pengantin. Pasti kelihatan cantik-cantik. Namun tentunya, para perempuan yang berjalan itu tidak sekadar berjalan mengiring pengantin saja, tetapi mereka semua membawa barang-barang bawaan sebagai tanda mata dan penghormatan bagi sang besan ataupun pengantin wanita.
Ya, barang-barang yang dibawa itu macam-macam. Memang biasanya banyaknya dan macamnya barang-barang itu tergantung dari kemampuan pihak keluarga laki-laki. Tetapi kali ini yang membesan adalah keluarga Kakek Jani, yang terkenal kaya raya. Maka pastinya, Kakek Janitidak mau malu dengan orang-orang di kampungnya atau pun di kampung-kampung sebelah yang dilalui oleh arak-arakan pengiring pengantin tersebut. Keluarga Kakek Janiakan memberikan yang terbaik. Karena barang bawaan itu adalah lambang kehormatan, lambang kelas sosial, lambang yang menempatkan kedudukan dan kekayaan seseorang. Tentu Kakek Janitidak mau pelit untuk membawa barang bawaannya tersebut. Barang-barang yang dibawa itu meliputi seperangkat pakaian wanita lengkap, dari atas kepala hingga ujung kaki. Mulai kerudung, baju, kain jarit, kain untuk bahan pakaian, aneka pakaian dalam, sendal hingga tas wanita. Termasuk ada perlengkapan rias wajah dan tubuh. Bahkan tampak juga perempuan yang berada paling depan, membawa berbagai perhiasan dari emas permata. Ada kalung, gelang, anting-anting dan cincin. Semuanya terlihat indah. Masing-masing barang itu dibawa oleh perempuan yang nampak cantik dengan senyum riangnya.
Kemudian di bagian belakang perempuan yang membawa perhiasan dan perlengkapan pakaian itu, masih ada perempuan-perempuan yang membawa aneka jajanan. Ada yang membawa jenang, wajik, jadah, berbagai macam makanan tradisional, dan juga roti atau kue-kue. Pastinya semua itu akan diserahkan kepada pihak keluarga pengantin perempuan.
Selanjutnya, di belakang barisan perempuan itu, tampak sekitar sepuluh orang laki-laki perkasa. Mereka juga membawa barang-barang bawaan . Tetapi tentunya barang yang dibawa bebannya lebih berat. Ya, ada yang memikul bekawah, istilah kuno dari sebuah tatanan barang yang berisi perlangkapan rumah tangga, khususnya perkakas dapur. Isinya ada gelas, piring, sendok, siwur, irus, panci, dandang, ceret, ember, wajan dan lain sebagainya. Barang-barang itu ditata sedemikian eloknya pada pikulan bambu, hingga terlihat sangat menarik. Yah, itu jaman lima puluh tahun yang lalu. Kalau untuk saat ini, mungkin akan terlihat aneh di mata anak-anak jaman sekarang.
Tidak hanya perabot rumah tangga yang dibawa dengan pikulan. Tetapi ada lagi, dua orang bergotongan mengusung buah kelapa yang ditata rapi, ditumpuk-tumpuk hingga menyerupai gunungan. Jumlahnya ada lebih dari seratus buah kelapa.
Ada juga jodang, berupa kotak besar yang terbuat dari kayu, yang tentunya sangat berat. Maka jodang itu harus dipikul oleh dua orang laki-laki. Isinya berupa aneka macam makanan jajanan orang mantu. Tentunya semakin banyak jajanan yang dibawa, semakin banyak jodang yang dipikul.
Di belakang orang-orang yang memikul kotak kayu besar itu, rombongan laki-laki dengan pakaian adat muslim, mebawa terbang atau rebana. Suara rebana yang ditabuh para penerbang itu, serta lagu-lagu solawatan, terdengar bertalu-talu mengiringi perjalanan orang-orang yang mengarak pengantin.
Di sela-sela barisan itu, tentu anak-anak ikut berbaur memeriahkan arak-arakan pengantin. Empat orang laki-laki gagah, membawa tiang bambu yang di bagian atasnya terdapat hiasan kembang manggar, yaitu hiasan dari kertas warna-warni yang dililitkan pada lidi daun kelapa. Berkali-kali orang yang membawa kembang manggar itu merendahkan tiangnya, lantas kembang manggarnya menjadi rebutan orang-orang yang menonton.
Selanjutnya ada laki-laki dengan pakaian serba hitam serta mengenakan ikat kepala kain yang warnanya hitam. Ia menggendong ayam jago dengan selendang wulung. Dan yang berjalan paling belakang adalah dua orang laki-laki separo baya. Mereka menuntun dua ekor kambing yang juga dihias dengan berbagai pernak-pernik yang sangat menarik. Kambing itu pun tak luput menjadi perhatian warga yang menontonnya.
Pastinya, di kanan kiri jalan, sangat ramai orang yang menonton arak-arakan pengantin tersebut. Warga masyarakat dari kampung yang dilaluinya, pada menyaksikan kebolehan Kakek Yan menikahkan anaknya, yaitu Tuan Jono. Kemeriahan mengarak pengantin itu, merupakan bagian dari penilaian kelas sosial di masyarakat. Ramainya arak-arakan itu menunjukkan kalau keluarga Kakek Yan adalah keluarga yang sangat kaya raya.
Ya, orang kaya selalu menjadi sorotan warga masyarakat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments