Jono yang sudah mendapat nasehat dari ibunya di pagi buta itu, hatinya mulai tergugah. Ia baru sadar, betapa beratnya pekerjaan seorang ibu, yang selama ini selalu ia bantah, selalu dia tentang pendapatnya. Jono juga sadar, kalau ternyata istrinya yang hanya tiga hari berada di rumahnya bersama orang tuanya itu, justru yang keliru. Aduan istrinya dirasa tidak ada benarnya. Jono yakin kalau kata-kata istrinya itu fitnah belaka. Karena memang kenyataannya banyak pekerjaan di rumah yang sama sekali tidak disentuh oleh tangan Ciblek. Bahkan istrinya itu hanya berbaring saja di dalam kamar, tidak mau membantu ibu mertuanya yang sibuknya bukan karuan. Bahkan juga tidak mau menyapu membersihkan halaman. Termasuk tidak mencuci pakaian kotor suaminya.
Maka niatan Jono, siang setelah pulang kerja, ia ke rumah mertuanya, akan menjemput istrinya.
"Permaisuriku yang cantik, ayo kita pulang. Kita tinggal di rumah kita, di Kampung Pademangan." bujuk Tuan Jono kepada istrinya. Tuan Jono merajuknya sambil berjongkok di depan istrinya, seperti layaknya seorang abdi dalem yang menghadap pada ratunya. Sebegitunya Tuan Jono sampai merendahkan dirinya di hadapan istrinya. Seolah istrinya adalah orang yang paling berkuasa sehingga Tuan Jono pun takluk pada Ciblek.
Pasti Ciblek langsung pasang aksi. Menjadi jumawa. Merasa kalau suaminya tunduk pada dirinya.
"Tidak!" jawab Ciblek dengan suara ketus. Menolak ajakan suaminya.
"Hloh? Kenapa tidak mau? Kan dirimu sekarang sudah menjadi istriku, sudah menjadi permaisuriku. Masak seorang raja di rumah sendirian tanpa didampingi permaisuri?" kata Tuan Jono mendongakkan wajahnya menatap istrinya dengan penuh harap, kembali merayu untuk mengajak pulang Ciblek.
"Tidak! Pokoknya Tidak!" dengan suara tegas kembali Ciblek menolak ajakan suaminya untuk pulang ke rumahnya.
"Hloh?! Bagaimana sih ini? Kita kan sudah menikah. Kita sudah berumah tangga. Masak yang satu ada di sini, yang lainnya di tempat yang lain? Kan tidak asyik. Ayo, kita pulang, Sayangku." kembali Tuan Jono membujuk rayu istrinya.
Sesaat Ciblek terdiam. Pandangannya jauh menerawang. Seakan sedang ada yang dipikirkannya. Tentunya ingin mencari alasan.
"Mau, ya, Sayang. Ayo, kita pulang. Sudahlah, kamu mau minta apa. Nanti akan saya usahakan." kata Tuan Jono kembali, yang tentunya masih terus merayu istrinya agar mau diajak pulang.
"Aku mau pulang, kalau di rumahmu sudah ada babu." kata Ciblek yang langsung mengulangi kemauannya, yaitu meminta ada pembantu rumah tangga, seperti yang dimintanya saat mau meninggalkan rumah mertuanya kemarin.
Tuan Jono kembali teringat kata-kata ibunya. Rupanya istrinya memang pemalas, tidak mau mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah. Padahal di Kampung Pademangan tidak ada keluarga yang punya pembantu rumah tangga. Lazimnya tinggal di kampung, segala sesuatu dikerjakan sendiri.
"Ya, Nak Jono! Kemarin memang Ciblek bilang ke saya. Dia mau pulang kalau di rumah kamu ada babu! Masak rumah besar seperti itu, pekerjaannya banyak, kok anak saya yang cantik ini disuruh kerja sendirian. Ciblek ini istri kamu, maka kamu harus menjaganya dan harus menuruti semua permintaannya! Dia itu istri yang harus dimanjakan, bukan untuk disuruh masak, nyapu dan nyuci. Kalau seperti itu sama halnya Nak Jono memperistri Ciblek untuk disuruh jadi babu!" tiba-tiba bapaknya Ciblek, mertuanya Jono, datang di depan Tuan Jono dan menimpali kata-kata anaknya dengan suara yang keras.
"Babu". Sebutan yang kasar untuk seorang pembantu rumah tangga perempuan. Tentu Tuan Jono kaget mendengar kata-kata itu. Selama ini orang tuanya yang keadaan ekonominya jauh lebih baik saja tidak pernah menyebut orang yang membantu di rumah orang sebagai "babu". Bahkan dua remaja yang membantu mengurusi ternak bapaknya saja tidak pernah dikatakan sebagai "jongos", sebutan rendah untuk seorang pembantu laki-laki. Orang tuanya Jono, Kakek Yan dan Nenek Kosen, menganggap para perawat ternak, atau kalau di Kampung Pademangan disebut "pangon" dari kata pemuda tukang angon ternak, sebagai anak-anaknya sendiri. Semuanya disayang, diberi makan penuh, tidak dibeda-bedakan, sama seperti yang dimakan oleh pemiliknya. Bahkan kalau hari raya lebaran, para pangon itu dibelikan sarung dan pakaian baru.
Maklum zaman itu ekonomi masih susah. Orang makan seadanya saja, dengan sayur dan lauk yang ada di pekarangan atau kebun. Nasinya saja kadang-kadang dicampur dengan jagung, atau juga nasi dari beras aking, yaitu sisa nasi yang dikeringkan kemudian dimasak lagi. Makan daging ayam itu hanya kalau hari raya lebaran. Demikian juga, mengenakan pakaian baru itu juga pada saat lebaran. Pastinya para pembantu pemelihara ternak di rumah Kakek Yan itu sangat senang.
Tidak hanya yang membantu merawat ternak. Bahkan orang-orang kampung yang sering dimintai tolong oleh Kakek Yan ataupun Nenek Kosen untuk menggarap sawahnya, mengurusi ladangnya, baik itu yang bekerja mencangkul, menanam padi, menunggu sawah menghalau burung, sampai pada saat panen maupun menjemur hasil panen, semuanya diperlakukan dengan baik. Dianggap seperti saudara atau keluarganya sendiri. Tidak ada yang dianggap sebagau babu maupun jongos.
Bahkan Jono sendiri, yang notabene sebagai anak orang kaya raya, anak tuan tanah, anak yang serba ada dan memiliki semuanya, tidak pernah menganggap para pekerja orang tuanya itu sebagai orang rendahan. Namun, begitu ia mendengar kata-kata yang keluar dari mulut istrinya, yang menyebut "babu" pada orang lain yang akan diminta untuk membantu pekerjaan rumahnya, termasuk bapaknya Ciblek, bapak mertuanya, juga menyebut "babu", tentu Jono sangat terkejut. Ia kaget mendengar sebutan serendah itu. Kata-kata yang sangat hina di telinganya.
Tapi, Jono maklum dengan kata-kata istrinya itu. Demi membawa pulang kembali ke rumahnya, ia akan berusaha meyakinkan ibu dan bapaknya, untuk mencari orang yang bisa membantu pekerjaan rumahnya. Setidaknya Jono juga kepikiran, kasihan menyaksikan ibunya yang sudah bertambah tua kalau selalu pontang-panting masak, nyuci, nyapu, serta menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga sendirian. Kalau memang ibunya nanti mau fokus berjualan di pasar, biarlah urusan rumah tangga, urusan dapur serta sebangsanya, dikerjakan oleh istrinya bersama dengan pembantunya.
"Baiklah, istriku sayang, Ciblek, permaisuriku yang cantik dan pintar. Saya akan carikan pembantu untuk mengurus pekerjaan rumah. Kalau begitu, mari kita pulang sekarang." kata Jono yang terpaksa luluh memenuhi permintaan istrinya. Itu demi istrinya mau diajak pulang.
Ciblek kalah janji. Saat Jono mengatakan setuju untuk mencarikan pembantu rumah tangga, secara otomatis, mau tidak mau ia harus ikut suaminya. Dan sore itu pun, mereka berdua berjalan bersama, melintasi jalan desa untuk pulang ke Kampung Pademangan. (Sekali lagi, saat itu tahun 1970, belum ada kendaraan di Kampung Pademangan).
Selepas terbenamnya matahari, bahkan sudah agak larut, Jono bersama istrinya sampai di rumah. Saat itu, bapak dan ibunya sudah menunggu kepulangan anaknya, untuk diajak makan malam bersama. Kakek Yan sengaja menanti kedatangan anak bungsunya itu. Walau sudah berkali-kali Nenek Kosen meminta agar suaminya itu makan dahulu, tetapi Kakek Yan tetap tidak mau. Ia merasa kurang nyaman kalau anaknya belum pulang. Tentunya kepikiran, anaknya pasti belum makan.
"Pak, Mak, Jono pulang. Ini saya bersama Ciblek, menantu kesayangan Mamak." kata Jono yang sampai di rumah.
"Syukurlah, Jono. Kamu pulang juga. Malah beserta dengan istri kamu. Ayo sini duduk, kita makan bersama. Ini bapakmu tidak mau makan kalau kamu belum pulang." kata Nenek Kosen yang tentu sangat senang menyaksikan kedatangan anaknya bersama menantunya.
"Iya, Mak. Maaf pulangnya agak larut malam." jawab Jono yang langsung duduk di kursi yang mengelilingi meja makan, dan tentunya berdampingan dengan istrinya.
"Tidak apa-apa. Ayo, kita makan bareng-bareng." sahut bapaknya yang pastinya sudah sangat lapar.
"Iya, Pak. Masakannya banyak sekali, Mak?" kata Jono yang tentu setengah heran dengan masakan yang cukup banyak tersaji di meja makan itu dan menunya menarik.
"Iya. Itu tadi Mbakyu kamu yang memasak. Dan ini anak-anak yang ngurusi ternak juga belum makan. Nunggu kamu." jawab ibunya.
"Lhoh, Mbakyu Ani ke sini? Sama Totok? Mana?" tanya Jono yang tentu ingin tahu.
"Iya, tadi siang. Sekarang sudah pulang. Engkongnya sebenarnya tidak mengizinkan Totok pulang. Tapi Kakak Ipar kamu yang tadi datang menjemput Mbakyu Ani dan Totok. Diboncengkan sepeda." jawab ibunya.
"Mas Amin punya sepeda? Wuah, hebat." tanya Jono.
"Hooh. Sepeda Royal, made in Holland. Bagus." sahut Kakek Yan yang menggebu ingin memberi tahu kalau menantunya yang pertama itu punya sepeda.
Ya, memang waktu itu yang namanya sepeda ontel, bisa dijadikan sebagai lambang kekayaan dan kehormatan seseorang. Zaman itu masih sangat jarang orang yang punya sepeda ontel. Sehingga kalau ada yang bisa beli atau punya sepeda, ia tergolong sebagai orang yang terpandang di kampungnya. Dan sepeda kala itu, pasti barang impor yang harganya tinggi. Yang terkenal biasanya bikinan Eropa, atau semurah-murahnya made in RRT.
Demikian halnya seperti Amin, suami Ani, menantu Kakek Yan, yang bisa menjemput istri dan anaknya dengan menaiki sepeda, pasti orang-orang sangat segan dan menaruh hormat. Siapa lagi kalau bukan menantu Kakek Yan.
"Auch!Jono kaget. Kakinya diinjak oleh istrinya.
Ia pun langsung menengok ke istrinya yang memandanginya sambil memoncongkan bibirnya, pertanda ada sesuatu yang tidak disenangi. Atau mungkin ada yang membuatnya jengkel dan kesal.
"Eeeh. Ayo, makan." kata Nenek Kosen pada anaknya.
"Ambilkan nasi, Nek. Sekalian sama sayur dan lauknya." kata Kakek Yan.
Nenek Kosen pun meladeni suaminya, mengambilkan nasi yang kemudian dikasih sayur daun singkong dioblok-oblok sama kelapa muda, lauknya ikan asin dan diberi sambal korek. Di atas nasinya itu dikasih kerupuk gendar bikinan Nenek Kosen sendiri.
Demikian juga Jono, yang mengambil nasi sendiri. Tidak diladeni oleh ibunya maupun istrinya. Bahkan malah kebalikannya, Jono yang mengambilkan nasi untuk istrinya.
"Eeh, Ciblek. Seharusnya kamu yang meladeni suamimu. Kok malah suami kamu yang meladeni kamu. Istri itu harus meladeni suami. Besok jangan di ulang. Nanti kuwalat, lho." kata Nenek Kosen yang mengingatkan menantunya.
Ciblek langsung menundukkan wajahnya, tidak mau melihat ibu mertuanya yang menegurnya itu. Pastinya ia tidak suka ditegur seperti itu. Hatinya dongkol. Ingin marah rasanya mendengar kata-kata mertua perempuannya itu.
"Iya, Mak. Besok, Ciblek yang meladeni saya." kata Jono yang berusaha menutupi kesalahan istrinya, dan tidak ingin istrinya itu marah lagi lantaran ditegur mertuanya.
Mereka pun makan bersama-sama secara nikmat. Namun tentunya, seenak apapun masakan itu, bagi Ciblek tetap terasa tidak enak, karena perasaannya seperti sedang makan di atas api neraka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments