BAB 6: MINTA PEMBANTU

    Jono yang sudah mendapat nasehat dari ibunya di pagi buta itu, hatinya mulai tergugah. Ia baru sadar, betapa beratnya pekerjaan seorang ibu, yang selama ini selalu ia bantah, selalu dia tentang pendapatnya. Jono juga sadar, kalau ternyata istrinya yang hanya tiga hari berada di rumahnya bersama orang tuanya itu, justru yang keliru. Aduan istrinya dirasa tidak ada benarnya. Jono yakin kalau kata-kata istrinya itu fitnah belaka. Karena memang kenyataannya banyak pekerjaan di rumah yang sama sekali tidak disentuh oleh tangan Ciblek. Bahkan istrinya itu hanya berbaring saja di dalam kamar, tidak mau membantu ibu mertuanya yang sibuknya bukan karuan. Bahkan juga tidak mau menyapu membersihkan halaman. Termasuk tidak mencuci pakaian kotor suaminya.

    Maka niatan Jono, siang setelah pulang kerja, ia ke rumah mertuanya, akan menjemput istrinya.

    "Permaisuriku yang cantik, ayo kita pulang. Kita tinggal di rumah kita, di Kampung Pademangan." bujuk Tuan Jono kepada istrinya. Tuan Jono merajuknya sambil berjongkok di depan istrinya, seperti layaknya seorang abdi dalem yang menghadap pada ratunya. Sebegitunya Tuan Jono sampai merendahkan dirinya di hadapan istrinya. Seolah istrinya adalah orang yang paling berkuasa sehingga Tuan Jono pun takluk pada Ciblek.

    Pasti Ciblek langsung pasang aksi. Menjadi jumawa. Merasa kalau suaminya tunduk pada dirinya.

    "Tidak!" jawab Ciblek dengan suara ketus. Menolak ajakan suaminya.

    "Hloh? Kenapa tidak mau? Kan dirimu sekarang sudah menjadi istriku, sudah menjadi permaisuriku. Masak seorang raja di rumah sendirian tanpa didampingi permaisuri?" kata Tuan Jono mendongakkan wajahnya menatap istrinya dengan penuh harap, kembali merayu untuk mengajak pulang Ciblek.

    "Tidak! Pokoknya Tidak!" dengan suara tegas kembali Ciblek menolak ajakan suaminya untuk pulang ke rumahnya.

    "Hloh?! Bagaimana sih ini? Kita kan sudah menikah. Kita sudah berumah tangga. Masak yang satu ada di sini, yang lainnya di tempat yang lain? Kan tidak asyik. Ayo, kita pulang, Sayangku." kembali Tuan Jono membujuk rayu istrinya.

    Sesaat Ciblek terdiam. Pandangannya jauh menerawang. Seakan sedang ada yang dipikirkannya. Tentunya ingin mencari alasan.

    "Mau, ya, Sayang. Ayo, kita pulang. Sudahlah, kamu mau minta apa. Nanti akan saya usahakan." kata Tuan Jono kembali, yang tentunya masih terus merayu istrinya agar mau diajak pulang.

    "Aku mau pulang, kalau di rumahmu sudah ada babu." kata Ciblek yang langsung mengulangi kemauannya, yaitu meminta ada pembantu rumah tangga, seperti yang dimintanya saat mau meninggalkan rumah mertuanya kemarin.

    Tuan Jono kembali teringat kata-kata ibunya. Rupanya istrinya memang pemalas, tidak mau mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah. Padahal di Kampung Pademangan tidak ada keluarga yang punya pembantu rumah tangga. Lazimnya tinggal di kampung, segala sesuatu dikerjakan sendiri.

    "Ya, Nak Jono! Kemarin memang Ciblek bilang ke saya. Dia mau pulang kalau di rumah kamu ada babu! Masak rumah besar seperti itu, pekerjaannya banyak, kok anak saya yang cantik ini disuruh kerja sendirian. Ciblek ini istri kamu, maka kamu harus menjaganya dan harus menuruti semua permintaannya! Dia itu istri yang harus dimanjakan, bukan untuk disuruh masak, nyapu dan nyuci. Kalau seperti itu sama halnya Nak Jono memperistri Ciblek untuk disuruh jadi babu!" tiba-tiba bapaknya Ciblek, mertuanya Jono, datang di depan Tuan Jono dan menimpali kata-kata anaknya dengan suara yang keras.

    "Babu". Sebutan yang kasar untuk seorang pembantu rumah tangga perempuan. Tentu Tuan Jono kaget mendengar kata-kata itu. Selama ini orang tuanya yang keadaan ekonominya jauh lebih baik saja tidak pernah menyebut orang yang membantu di rumah orang sebagai "babu". Bahkan dua remaja yang membantu mengurusi ternak bapaknya saja tidak pernah dikatakan sebagai "jongos", sebutan rendah untuk seorang pembantu laki-laki. Orang tuanya Jono, Kakek Yan dan Nenek Kosen, menganggap para perawat ternak, atau kalau di Kampung Pademangan disebut "pangon" dari kata pemuda tukang angon ternak, sebagai anak-anaknya sendiri. Semuanya disayang, diberi makan penuh, tidak dibeda-bedakan, sama seperti yang dimakan oleh pemiliknya. Bahkan kalau hari raya lebaran, para pangon itu dibelikan sarung dan pakaian baru.

    Maklum zaman itu ekonomi masih susah. Orang makan seadanya saja, dengan sayur dan lauk yang ada di pekarangan atau kebun. Nasinya saja kadang-kadang dicampur dengan jagung, atau juga nasi dari beras aking, yaitu sisa nasi yang dikeringkan kemudian dimasak lagi. Makan daging ayam itu hanya kalau hari raya lebaran. Demikian juga, mengenakan pakaian baru itu juga pada saat lebaran. Pastinya para pembantu pemelihara ternak di rumah Kakek Yan itu sangat senang.

    Tidak hanya yang membantu merawat ternak. Bahkan orang-orang kampung yang sering dimintai tolong oleh Kakek Yan ataupun Nenek Kosen untuk menggarap sawahnya, mengurusi ladangnya, baik itu yang bekerja mencangkul, menanam padi, menunggu sawah menghalau burung, sampai pada saat panen maupun menjemur hasil panen, semuanya diperlakukan dengan baik. Dianggap seperti saudara atau keluarganya sendiri. Tidak ada yang dianggap sebagau babu maupun jongos.

    Bahkan Jono sendiri, yang notabene sebagai anak orang kaya raya, anak tuan tanah, anak yang serba ada dan memiliki semuanya, tidak pernah menganggap para pekerja orang tuanya itu sebagai orang rendahan. Namun, begitu ia mendengar kata-kata yang keluar dari mulut istrinya, yang menyebut "babu" pada orang lain yang akan diminta untuk membantu pekerjaan rumahnya, termasuk bapaknya Ciblek, bapak mertuanya, juga menyebut "babu", tentu Jono sangat terkejut. Ia kaget mendengar sebutan serendah itu. Kata-kata yang sangat hina di telinganya.

    Tapi, Jono maklum dengan kata-kata istrinya itu. Demi membawa pulang kembali ke rumahnya, ia akan berusaha meyakinkan ibu dan bapaknya, untuk mencari orang yang bisa membantu pekerjaan rumahnya. Setidaknya Jono juga kepikiran, kasihan menyaksikan ibunya yang sudah bertambah tua kalau selalu pontang-panting masak, nyuci, nyapu, serta menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga sendirian. Kalau memang ibunya nanti mau fokus berjualan di pasar, biarlah urusan rumah tangga, urusan dapur serta sebangsanya, dikerjakan oleh istrinya bersama dengan pembantunya.

    "Baiklah, istriku sayang, Ciblek, permaisuriku yang cantik dan pintar. Saya akan carikan pembantu untuk mengurus pekerjaan rumah. Kalau begitu, mari kita pulang sekarang." kata Jono yang terpaksa luluh memenuhi permintaan istrinya. Itu demi istrinya mau diajak pulang.

    Ciblek kalah janji. Saat Jono mengatakan setuju untuk mencarikan pembantu rumah tangga, secara otomatis, mau tidak mau ia harus ikut suaminya. Dan sore itu pun, mereka berdua berjalan bersama, melintasi jalan desa untuk pulang ke Kampung Pademangan. (Sekali lagi, saat itu tahun 1970, belum ada kendaraan di Kampung Pademangan).

    Selepas terbenamnya matahari, bahkan sudah agak larut, Jono bersama istrinya sampai di rumah. Saat itu, bapak dan ibunya sudah menunggu kepulangan anaknya, untuk diajak makan malam bersama. Kakek Yan sengaja menanti kedatangan anak bungsunya itu. Walau sudah berkali-kali Nenek Kosen meminta agar suaminya itu makan dahulu, tetapi Kakek Yan tetap tidak mau. Ia merasa kurang nyaman kalau anaknya belum pulang. Tentunya kepikiran, anaknya pasti belum makan.

    "Pak, Mak, Jono pulang. Ini saya bersama Ciblek, menantu kesayangan Mamak." kata Jono yang sampai di rumah.

    "Syukurlah, Jono. Kamu pulang juga. Malah beserta dengan istri kamu. Ayo sini duduk, kita makan bersama. Ini bapakmu tidak mau makan kalau kamu belum pulang." kata Nenek Kosen yang tentu sangat senang menyaksikan kedatangan anaknya bersama menantunya.

    "Iya, Mak. Maaf pulangnya agak larut malam." jawab Jono yang langsung duduk di kursi yang mengelilingi meja makan, dan tentunya berdampingan dengan istrinya.

    "Tidak apa-apa. Ayo, kita makan bareng-bareng." sahut bapaknya yang pastinya sudah sangat lapar.

    "Iya, Pak. Masakannya banyak sekali, Mak?" kata Jono yang tentu setengah heran dengan masakan yang cukup banyak tersaji di meja makan itu dan menunya menarik.

    "Iya. Itu tadi Mbakyu kamu yang memasak. Dan ini anak-anak yang ngurusi ternak juga belum makan. Nunggu kamu." jawab ibunya.

    "Lhoh, Mbakyu Ani ke sini? Sama Totok? Mana?" tanya Jono yang tentu ingin tahu.

    "Iya, tadi siang. Sekarang sudah pulang. Engkongnya sebenarnya tidak mengizinkan Totok pulang. Tapi Kakak Ipar kamu yang tadi datang menjemput Mbakyu Ani dan Totok. Diboncengkan sepeda." jawab ibunya.

    "Mas Amin punya sepeda? Wuah, hebat." tanya Jono.

    "Hooh. Sepeda Royal, made in Holland. Bagus." sahut Kakek Yan yang menggebu ingin memberi tahu kalau menantunya yang pertama itu punya sepeda.

    Ya, memang waktu itu yang namanya sepeda ontel, bisa dijadikan sebagai lambang kekayaan dan kehormatan seseorang. Zaman itu masih sangat jarang orang yang punya sepeda ontel. Sehingga kalau ada yang bisa beli atau punya sepeda, ia tergolong sebagai orang yang terpandang di kampungnya. Dan sepeda kala itu, pasti barang impor yang harganya tinggi. Yang terkenal biasanya bikinan Eropa, atau semurah-murahnya made in RRT.

    Demikian halnya seperti Amin, suami Ani, menantu Kakek Yan, yang bisa menjemput istri dan anaknya dengan menaiki sepeda, pasti orang-orang sangat segan dan menaruh hormat. Siapa lagi kalau bukan menantu Kakek Yan.

    "Auch!Jono kaget. Kakinya diinjak oleh istrinya.

    Ia pun langsung menengok ke istrinya yang memandanginya sambil memoncongkan bibirnya, pertanda ada sesuatu yang tidak disenangi. Atau mungkin ada yang membuatnya jengkel dan kesal.

    "Eeeh. Ayo, makan." kata Nenek Kosen pada anaknya.

    "Ambilkan nasi, Nek. Sekalian sama sayur dan lauknya." kata Kakek Yan.

    Nenek Kosen pun meladeni suaminya, mengambilkan nasi yang kemudian dikasih sayur daun singkong dioblok-oblok sama kelapa muda, lauknya ikan asin dan diberi sambal korek. Di atas nasinya itu dikasih kerupuk gendar bikinan Nenek Kosen sendiri.

    Demikian juga Jono, yang mengambil nasi sendiri. Tidak diladeni oleh ibunya maupun istrinya. Bahkan malah kebalikannya, Jono yang mengambilkan nasi untuk istrinya.

    "Eeh, Ciblek. Seharusnya kamu yang meladeni suamimu. Kok malah suami kamu yang meladeni kamu. Istri itu harus meladeni suami. Besok jangan di ulang. Nanti kuwalat, lho." kata Nenek Kosen yang mengingatkan menantunya.

    Ciblek langsung menundukkan wajahnya, tidak mau melihat ibu mertuanya yang menegurnya itu. Pastinya ia tidak suka ditegur seperti itu. Hatinya dongkol. Ingin marah rasanya mendengar kata-kata mertua perempuannya itu.

    "Iya, Mak. Besok, Ciblek yang meladeni saya." kata Jono yang berusaha menutupi kesalahan istrinya, dan tidak ingin istrinya itu marah lagi lantaran ditegur mertuanya.

    Mereka pun makan bersama-sama secara nikmat. Namun tentunya, seenak apapun masakan itu, bagi Ciblek tetap terasa tidak enak, karena perasaannya seperti sedang makan di atas api neraka.

Episodes
1 BAB I: PERNIKAHAN TUAN JONO
2 BAB 2: NGUNDUH MANTU
3 BAB 3: TINGGAL BERSAMA MERTUA
4 BAB 4: MEMARAHI ANAK KESAYANGAN
5 BAB 5: PENYESALAN
6 BAB 6: MINTA PEMBANTU
7 BAB 7: PUNYA PEMBANTU
8 BAB 8: PUNYA PEMBANTU
9 BAB 9: PEMBANTU BARU
10 BAB 10: CERITA SAAT MENCUCI
11 BAB 11: PEMBANTU MINTA PULANG
12 BAB 12: DIMARAHI ORANG TUA
13 BAB 13: NGAMBEK LAGI
14 BAB 14: KEMBALI MEMINTA SYARAT
15 BAB 15: MEMINTA RUMAH
16 BAB 16: MEMINDAH RUMAH
17 BAB 17: RUMAH YANG BUTUH KERAMAIAN
18 BAB 18: PENGGEMBALA CILIK
19 BAB 19: RUMAH YANG KOTOR
20 BAB 20: BERONTAK
21 BAB 21: KEGUGURAN
22 BAB 22: RUMAH POHON
23 BAB 23: MENJADI ANAK KAKEK DAN NENEK
24 BAB 24: ANAK PINTAR
25 BAB 25: PENCURI KAYU BAKAR
26 BAB 26: ANAK PERTAMA
27 BAB 27: PERUBAHAN ZAMAN
28 BAB 28: MURID TELADAN
29 BAB 29: SEKOLAH FAVORIT
30 BAB 30: BERAS DIMAKAN GERANDONG
31 BAB 31: MENYINGKIRKAN KELUARGA MERTUA
32 BAB 32: ADIK NAKAL
33 BAB 33: ANAK PINTAR
34 BAB 34: MEMBUKA WARUNG
35 BAB 35: INTERKOM
36 BAB 36: HARUS OPNAM
37 BAB 37: TELAH HILANG GIGI EMAS
38 BAB 38: DICARIKAN PACAR
39 BAB 39: PENCURI WARUNG
40 BAB 40: MAKLAR TANAH
41 BAB 41: MOTOR BARU
42 BAB 42: RUMAH GEDUNG
43 BAB 44: MINTA MOBIL
44 BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
45 BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
46 BAB 43: JIMAT PENUNGGU RUMAH
47 BAB 44: MINTA MOBIL
48 BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
49 BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
50 BAB 47: JADI GURU
51 BAB 48: SAYANG NENEK
52 BAB 49: PAMER GELANG
53 BAB 50: BERUBAH SIFAT
54 BAB 51: WATAK PUN BERUBAH
55 BAB 52: NAIK HAJI
56 BAB 53: PULANG HAJI
57 BAB 54: HAJI MABRUR
58 BAB 55: AGAMIS
59 BAB 56: KELUH KESAH SEORANG NENEK
60 BAB 57: PUSAKA LELUHUR
61 BAB 58: SEMAKIN MENYIMPANG
62 BAB 59: SEMUANYA BISA
63 BAB 60: JIKA ADA UANG JADI GAMPANG
64 BAB 61: PENGUSAHA HEBAT
65 BAB 62: PENGUSAHA GAGAL
66 BAB 63: JADI DOKTER
67 BAB 64: WANITA PELENGKAP
68 BAB 65: DEMO
69 BAB 66: NENEK SAKIT
70 BAB 67: KEHILANGAN ORANG-ORANG TERCINTA
71 BAB 68: SEMUA MENUNGGU
72 BAB 69: PENSIUNAN MENYUSAHKAN
73 BAB 70: TETAP MERASA HEBAT
74 BAB 71: MEMBAGI WARISAN
75 BAB 72: MENUNTUT LEBIH
76 BAB 73: SERANGAN JANTUNG
77 BAB 74: DOKTER SOMBONG
78 BAB 75: BAYANG HITAM
79 BAB 76: TUAN JONO MENINGGAL
80 BAB 77: LEBARAN KELABU
81 BAB 78: ORANG-ORANG SERAKAH
82 BAB 79: IKHLAS
83 BAB 80: INNA MA'AL USRI YUSRA
84 BAB 81: WARISAN TERKUTUK
85 BAB 82: KATA-KATA MENYAKITKAN
86 BAB 83: PENJAGA ITU TERNYATA ADA
87 BAB 84: TEROR PERTAMA
88 BAB 85: SIAPA YANG TIDAK PERCAYA HANTU?
89 BAB 86: TEROR KEDUA
90 BAB 87: PERINGATAN DOSA
91 BAB 88: PENANTANG SETAN
92 BAB 89: JANGAN GEGABAH
93 BAB 90: BANASPATI
94 BAB 91: DUKUN SAKTI
95 BAB 92: TAK PERNAH JERA
96 BAB 93: KEHILANGAN KAKI
97 BAB 94: MENANTANG SETAN
98 BAB 95: KEMARAHAN ISTRI
99 BAB 96: ANCAMAN ULAR
100 BAB 97: TATO KULIT ULAR
101 BAB 98: IKATAN NAGA GINI
Episodes

Updated 101 Episodes

1
BAB I: PERNIKAHAN TUAN JONO
2
BAB 2: NGUNDUH MANTU
3
BAB 3: TINGGAL BERSAMA MERTUA
4
BAB 4: MEMARAHI ANAK KESAYANGAN
5
BAB 5: PENYESALAN
6
BAB 6: MINTA PEMBANTU
7
BAB 7: PUNYA PEMBANTU
8
BAB 8: PUNYA PEMBANTU
9
BAB 9: PEMBANTU BARU
10
BAB 10: CERITA SAAT MENCUCI
11
BAB 11: PEMBANTU MINTA PULANG
12
BAB 12: DIMARAHI ORANG TUA
13
BAB 13: NGAMBEK LAGI
14
BAB 14: KEMBALI MEMINTA SYARAT
15
BAB 15: MEMINTA RUMAH
16
BAB 16: MEMINDAH RUMAH
17
BAB 17: RUMAH YANG BUTUH KERAMAIAN
18
BAB 18: PENGGEMBALA CILIK
19
BAB 19: RUMAH YANG KOTOR
20
BAB 20: BERONTAK
21
BAB 21: KEGUGURAN
22
BAB 22: RUMAH POHON
23
BAB 23: MENJADI ANAK KAKEK DAN NENEK
24
BAB 24: ANAK PINTAR
25
BAB 25: PENCURI KAYU BAKAR
26
BAB 26: ANAK PERTAMA
27
BAB 27: PERUBAHAN ZAMAN
28
BAB 28: MURID TELADAN
29
BAB 29: SEKOLAH FAVORIT
30
BAB 30: BERAS DIMAKAN GERANDONG
31
BAB 31: MENYINGKIRKAN KELUARGA MERTUA
32
BAB 32: ADIK NAKAL
33
BAB 33: ANAK PINTAR
34
BAB 34: MEMBUKA WARUNG
35
BAB 35: INTERKOM
36
BAB 36: HARUS OPNAM
37
BAB 37: TELAH HILANG GIGI EMAS
38
BAB 38: DICARIKAN PACAR
39
BAB 39: PENCURI WARUNG
40
BAB 40: MAKLAR TANAH
41
BAB 41: MOTOR BARU
42
BAB 42: RUMAH GEDUNG
43
BAB 44: MINTA MOBIL
44
BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
45
BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
46
BAB 43: JIMAT PENUNGGU RUMAH
47
BAB 44: MINTA MOBIL
48
BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
49
BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
50
BAB 47: JADI GURU
51
BAB 48: SAYANG NENEK
52
BAB 49: PAMER GELANG
53
BAB 50: BERUBAH SIFAT
54
BAB 51: WATAK PUN BERUBAH
55
BAB 52: NAIK HAJI
56
BAB 53: PULANG HAJI
57
BAB 54: HAJI MABRUR
58
BAB 55: AGAMIS
59
BAB 56: KELUH KESAH SEORANG NENEK
60
BAB 57: PUSAKA LELUHUR
61
BAB 58: SEMAKIN MENYIMPANG
62
BAB 59: SEMUANYA BISA
63
BAB 60: JIKA ADA UANG JADI GAMPANG
64
BAB 61: PENGUSAHA HEBAT
65
BAB 62: PENGUSAHA GAGAL
66
BAB 63: JADI DOKTER
67
BAB 64: WANITA PELENGKAP
68
BAB 65: DEMO
69
BAB 66: NENEK SAKIT
70
BAB 67: KEHILANGAN ORANG-ORANG TERCINTA
71
BAB 68: SEMUA MENUNGGU
72
BAB 69: PENSIUNAN MENYUSAHKAN
73
BAB 70: TETAP MERASA HEBAT
74
BAB 71: MEMBAGI WARISAN
75
BAB 72: MENUNTUT LEBIH
76
BAB 73: SERANGAN JANTUNG
77
BAB 74: DOKTER SOMBONG
78
BAB 75: BAYANG HITAM
79
BAB 76: TUAN JONO MENINGGAL
80
BAB 77: LEBARAN KELABU
81
BAB 78: ORANG-ORANG SERAKAH
82
BAB 79: IKHLAS
83
BAB 80: INNA MA'AL USRI YUSRA
84
BAB 81: WARISAN TERKUTUK
85
BAB 82: KATA-KATA MENYAKITKAN
86
BAB 83: PENJAGA ITU TERNYATA ADA
87
BAB 84: TEROR PERTAMA
88
BAB 85: SIAPA YANG TIDAK PERCAYA HANTU?
89
BAB 86: TEROR KEDUA
90
BAB 87: PERINGATAN DOSA
91
BAB 88: PENANTANG SETAN
92
BAB 89: JANGAN GEGABAH
93
BAB 90: BANASPATI
94
BAB 91: DUKUN SAKTI
95
BAB 92: TAK PERNAH JERA
96
BAB 93: KEHILANGAN KAKI
97
BAB 94: MENANTANG SETAN
98
BAB 95: KEMARAHAN ISTRI
99
BAB 96: ANCAMAN ULAR
100
BAB 97: TATO KULIT ULAR
101
BAB 98: IKATAN NAGA GINI

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!