Akhirnya, setelah pernikahan Tuan Jono dengan Ciblek dapat dua bulan, Ciblek pun hamil. Tentu Tuan Jono senang, istrinya akan memberikan keturunan untuknya. Ya, harapan dari seseorang saat menikah, pastilah istrinya segera hamil dan melahirkan anak sebagai ahli waris, penerus keturunannya.
Namun tentunya, kehamilan Ciblek ini sangat memberi pengaruh pada kelakuannya. Kalau kemarin-kemarin hari, dalam keadaan sehat perempuan itu tidak mau bekerja apa-apa, semua pekerjaan dipasrahkan pembantunya. Apalagi sekarang, saat ia telah hamil, bawaannya marah-marah dan membentak-bentak melulu. Katanya gawan bayen. Bawaan sang bayi. Tentu yang menjadi sasaran adalah Siti, pembantu rumah tangganya yang terus dibentak dan dimarahi. Sedikit-sedikit berteriak memanggil pembantunya itu. Meski hanya sekedar mau minum, suaranya membentak menyuruh Siti agar segera diambilkan minum itu. Padahal tempatnya sangat dekat. Tetapi tentu memanfaatkan kesempatan agar bisa membentak orang lain.
"Siti! Ambilkan saya minum!" selalu begitu teriaknya. Ciblek tidak mau melangkahkan kakinya sedikit pun. Dasar perempuan pemalas yang sok bergaya jadi tukang pemerintah.
Berkali-kali Siti mengambilkan minum untuk majikan perempuannya. Padahal gelas yang ada di kamar Ciblek masih ada sisa minumannya yang tadi. Bahkan air segelas baru berkurang sedikit. Otomatis Siti juga berkali-kali harus mengambil gelas-gelas yang ada di kamar majikannya, yang tentu juga mencuci gelas majikannya itu terus menerus.
Kemanjaan dan keranjingannya Ciblek terlalu amat sangat menjengkelkan. Bahkan sempat hanya gara-gara kain selimut yang lepas dari kakinya, Ciblek berteriak keras memanggil Siti. Hal itu tentu membuat jengkel pada pembantunya, walau tentunya Siti tidak berani mengatakannya. Ia takut dengan perempuan yang galak itu.
Tak salah, kalau Siti mengadu hal itu pada Nenek Kosen. Tentu karena Siti juga merasa kalau majikan perempuannya itu sangat keterlaluan. Walau sebagai pembantu rumah tangga, yang oleh Ciblek dipanggil dengan sebutan "babu", Siti belum pernah dibentak-bentak maupun dimarahi oleh orang tuanya. Itu menandakan kalau Siti adalah anak yang baik. Tapi begitu bekerja di rumah Ciblek, rasanya ia justru menjadi sasaran kemarahan majikannya. Apa-apa serba salah dan tidak ada benarnya. Dibentak-bentak dan selalu dimarahi.
"Nenek Kosen, Rasa-rasanya besok tanggal baru saya mau balik ke kampung." kata Siti pada Nenek Kosen pada saat mencuci bersama di sendang. Tentu di tempat itu tidak ada orang yang mendengar. Karena yang melakukan aktifitas mencuci hanya Siti dan Nenek Kosen.
"Ooo, mau pulang. Mau ngasihkan uang bayaran ke bapakmu." sahut Nenek Kosen yang belum tahu persis alasan Siti akan pulang.
"Iya, Nek. Tapi saya tidak balik lagi ke sini." sahut Siti.
"Lhoh? Kenapa? Apa padinya sudah harus ditunggu?" tanya Nenek Kosen yang tentu ingin tahu alasannya.
"Saya tidak betah jadi babu di sini, Nek." jawab Siti.
"Hah?! Kenapa?! Ada Apa?!" tentu si nenek itu terkejut mendengar jawaban Siti yang mengatakan tidak betah.
"Saya dimarahi terus sama Nyonya Ciblek. Saya takut. Saya mau pulang saja. Hukhuhu." jawab Siti yang langsung terlihat ketakutan, dan tiba-tiba menangis.
"Walah. Kok seperti itu?! Kok saya tidak pernah dengar? Kamu dimarahi bagaimana?" tanya Nenek Kosen yang tentunya kaget dan penasaran dengan aduan Siti tersebut.
"Iya Nek. Saat di rumah tidak ada orang, saya selalu dibentak-bentak dan dimarahi Nyonya Ciblek. Padahal saya sudah kerja dan tidak menganggur. Tapi kalau Nenek sudah pulang, Nyonya Ciblek tidak membentak-bentak. Tapi kalau tidak ada siapa-siapa, saya dimarah-marahi melulu, dibentak-bentak. Sampai kadang-kadang saya menangis ketakutan." jawab Siti.
"Walah. Keterlaluan sekali perempuan itu. Kok tega-teganya memarahi bocah yang sudah membantu mengurusi rumah. Kok tidak punya rasa kalau dirinya itu tidak bekerja apa-apa. Semua pekerjaan rumah yang mengerjakan pembantunya, anak sudah rajin dan pontang-panting mengerjakan semua pekerjaan rumah, kok masih dimarahi. Sungguh keterlaluan." tentu Nenek Kosen sebagai mertuanya, nenggerutu dan jengkel dengan sikap menantunya yang sangat keterlaluan itu.
"Katanya mengidam. Bawaan bayi yang ada dalam kandungannya. Katanya bayinya yang galak, sukanya marah-marah." sahut Siti yang meneruskan alasan majikan perempuannya.
"Halaah. Alasan saja. Dasar perempuan kere, pemalas, sukanya berlagak saja. Sudah tidak mau bekerja apa-apa, masih marah-marah. Memangnya yang punya rumah di sini itu dia?!" sahut Nenek Kosen yang tentunya bertambah tidak senang dengan Ciblek.
"Nek." kata Siti.
"Ya." sahut Nenek Kosen.
"Besok, uang bayaran saya tolong dimintakan ya, Nek. Saya tidak berani memintanya." kata Siti yang meminta tolong agar gajinya dimintakan. Tentu kalau harus meminta uang bayaran, lantas berpamitan pulang, pasti Ciblek akan marah-marah, dan ujung-ujungnya uang bayaran Siti malah tidak diberikan.
"Ya. Nanti malam saya sampaikan ke Tuan Jono. Biar nanti dikasih uang bayaran sama Tuan Jono. Kan yang membayar Siti, Tuan Jono. Ciblek mana mungkin punya uang. Uang dari mana?" sahut Nenek Kosen yang pasti bersedia membantu bocah yang sudah dianggap sebagai cucunya sendiri itu.
"Tapi jangan bilang ke Tuan Jono, kalau saya tidak mau kerja lagi gara-gara dimarahi Nyonya Ciblek, ya Nek." pesan Siti agar aduannya tidak dilaporkan. Tentu Siti juga takut kalau sampai dimarahi oleh Tuan Jono.
Hingga malam, saat makan malam bersama, Nenek Kosen, Kakek Yan bersama Tuan Jono ada di meja makan. Kecuali Ciblek yang tidak keluar dari kamar dan tidak mau makan bersama mertuanya. Katanya perutnya mual-mual, tidak ingin mengganggu selera makan orang-orang. Tapi bagi Nenek Kosen malah kebetulan. Lebih leluasa untuk menyampaikan terkait dengan Siti, pembantu rumah tangganya yang akan minta bayaran dan mau pulang.
"Jono." kata Nenek Kosen yang sambil mengangkat bakul, mengambilkan nasi untuk Kakek Yan.
"Iya, Mak. Ada apa?" tanya Jono yang dipanggil oleh ibunya, yang pasti akan ada sesuatu yang mau disampaikan.
"Istri kamu, hamil ya?" tanya ibunya.
"Iya, Mak. Ciblek sudah hamil. Makanya dia tidak makan bersama kita. Khawatir nanti mualnya jadi muntah."
"Syukurlah. Istrimu cepat punya momongan. Semoga saja sehat dan bisa merubah suasana." kata ibunya.
"Terima kasih, Mak." sahut Jono.
"Tapi, si Siti, bocah pembantu kamu itu, besok habis bulan, dia mau pulang. Tolong bayarannya disiapkan." kata ibunya.
"Waduh? Kok mau pulang? Tapi hanya sebentar, kan Mak?" benar, Jono kaget mendengar kalau pembantunya akan pulang.
"Dia bilang mau menunggui padi di sawah orang tuanya. Walau di sini jadi pembantu, Siti itu sebenarnya anaknya orang kaya. Sawahnya luas. Kerbau dan kambingnya banyak. Katanya padinya sudah meratak, sudah keluar bulir padinya, sudah dikeroyok burung. Makanya ia harus membantu orang tuanya untuk menghalau burung di sawah." jawab Nenek Kosen dengan suara agak keras, agar didengar menantunya yang mendekam di kamar terus, agar menantunya tahu kalau Siti pembantunya itu anak orang kaya, bukan dari keluarga miskin. Harapan Nenek Kosen agar Ciblek tersentak perasaannya. Meski demikian tentunya Nenek Kosen tetap merahasiakan alasan Siti. Nenek Kosen tidak mau membuka aib menantunya. Walau sebenarnya, ingin rasanya Nenek Kosen itu mau memarahi Jono, anaknya sendiri yang sudah salah memilih istri. Tetapi semuanya sudah terjadi, untuk apa dipersoalkan. Toh itu semua sudah jadi pilihan anaknya.
"Lhah, terus?! Besok yang mengurusi pekerjaan rumah, siapa? Yang masak, menyapu, mencuci, siapa?" kata Jono yang tentunya sangat kecewa.
"Ya, biar Mamak yang memasak. Biar Bapak kamu yang menyapu rumah dan halaman. Kan dari dulu sebelum ada pembantu, yang mengerjakan pekerjaan rumah itu semua, ya Mamak sama Bapak kamu, kan." sahut Nenek Kosen santai, seolah tidak ada masalah dengan menantunya. Tetapi suara Nenek Kosen masih dikeraskan volumenya, tentunya biar Ciblek yang ada di dalam kamar itu mendengar. Siapa tahu dengan nada suara yang keras itu bisa merubah watak perilaku menantunya.
"Kasihan Mamak." timpal Jono yang mulai pikir-pikir.
"Tidak perlu dikasihani. Dari dahulu Mamak sama Bapak kamu itu kan selalu bekerja mengurusi rumah, kenapa baru sekarang kamu bilang kasihan?!" kata Nenek Kosen yang masih berkeras suaranya, dan tentu menusuk telinga anaknya serta menantunya.
"Maafkan saya, Mak." kata Jono dengan suara lirih dan langsung menunduk, pertanda merasa bersalah dan sangat malu dengan ibunya.
"Sudah. Makan dulu. Jangan ribut melulu." kata Kakek Yan yang mencoba menghentikan amarah istrinya. Tentunya Kakek Yan tahu, kalau kata-kata istrinya yang nadanya tinggi itu, sebenarnya memang ditujukan untuk menyindir menantunya.
Walau Kakek Yan itu diam, dan tidak pernah mengucap kata-kata dengan nada keras atau marah, tetapi sebenarnya Kakek Yan juga tahu akar permasalahan itu. Setidaknya, Kakek Yan pernah mendengar teriakan istri Jono yang sering memanggil dan membentak pembantunya. Maklum, Kakek Yan yang ada di rumah, meski berada di kandang, suara keras atau teriakan Ciblek, pasti kedengaran. Dan itu tidak dikatahui oleh menantunya. Termasuk Kakek Yan juga pernah menyaksikan Siti menangis di dapur. Dan memang, Kakek Yan tidak mau mencampuri urusan rumah tangga anaknya. Takut kalau nanti salah atau keliru, malah menyebabkan timbulnya hal yang tidak diinginkan. Kasihan kalau sampai rumah tangga anaknya bubrah.
"Sitiiiii!" tiba-tiba terdengar teriakan keras dari mulut Ciblek yang memanggil pembantunya.
"Helghtk."
Tiga orang yang mendengar teriakan itu, Kakek Yan, Nenek Kosen, dan Jono, yang masih menikmati makan malam, langsung terhentak kaget. Terutama Nenek Kosen, sang ibu yang belum pernah mendengar teriakan seperti itu dari keluarganya, tentu heran tidak kepalang. Kalau Kakek Yan, sudah berkali-kali mendengarnya, tetapi diam. Sehingga ia tidak begitu kaget.
Jono langsung bangkit berdiri, beranjak dari kursi makannya, dan langsung membuka pintu kamarnya. Ia tidak hanya kaget, tetapi juga heran, kenapa istrinya berteriak kencang seperti itu?
"Ada apa, Sayang?" tanya Jono pada istrinya dari pintu kamarnya.
"Mana Siti?! Sitiiiii!" jawab istrinya yang menanyakan Siti, dan kembali berteriak memanggil Siti.
"Iya, Nyonya." Siti yang barusan datang langsung menongolkan kepala di sela tubuh Tuan Jono yang masih berdiri di pintu kamar.
"Babu dipanggil tidak segera datang! Ngapain saja, kamu?!" kata Ciblek yang marah kepada Siti.
"Duegh."
Jono kaget mendengar kata-kata istrinya. Dadanya seperti dihantam martil seberat sepuluh kilo. Seakan membuat jantungnya hampir terlepas. Sungguh keterlaluan, istrinya menganggap pembantunya itu sebagai babu dan membentak-bentak memarahinya. Ini adalah perilaku yang tidak baik. Kata-kata dari orang yang tidak beradab.
Tidak hanya Tuan Jono yang kaget. Nenek Kosen juga terperangah menyaksikan watak menantunya itu. Kasihan Siti yang sudah bekerja sampai kecapaian, masih dibentak-bentak dengan kata-kata yang kasar.
"Iya, Nyonya. Maaf, saya ada di dapur. Ada yang bisa saya kerjakan. Nyonya?" kata Siti yang pasrah.
"Maap, maap. Babu itu kalau dipanggil harus cepet datang! Kamu itu di sini dibayar!" Ciblek masih saja marah pada Siti.
"Sudah, Sayang. Kamu itu mau apa? Kepingin apa? Kan ada saya. Tidak harus Siti. Saya juga bisa membantu." kata Jono yang tentu ingin istrinya tidak marah-marah. Dalam hati Jono, kalau Siti mau pulang, pasti ada kaitannya dengan istrinya yang membentak-bentak itu.
Ciblek justru diam tidak menjawab, dengan mulut mencucu panjang ke depan. Pertanda marah karena kemauannya dihalang-halangi.
Nenek Kosen baru sadar. Baru tahu kebenarannya. Apa yang diceritakan oleh Siti tadi siang di sendang, ternyata adalah kenyataan. Pantas kalau pembantunya itu tidak betah tinggal di situ. Syukurlah kalau Siti mau pulang. Setidaknya, hati kecil Siti yang masih anak-anak itu, tidak digores dengan kemarahan-kemarahan majikannya yang tidak baik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments