BAB 15: MEMINTA RUMAH

    Permintaan Ciblek untuk dapat tinggal sendiri bersama suaminya, dengan berumah tangga sendiri tanpa ada orang tua atau mertua yang ikut campur dalam rumah tangganya, terutama Ciblek tidak ingin tinggal jadi satu rumah bersama mertuanya, tentu sangat berat untuk disampaikan oleh Tuan Jono kepada orang tuanya. Itu sama halnya dengan melawan orang tua. Tuan Jono dianggap sebagai anak yang tidak berbakti. Bahkan Tuan Jono pasti akan dianggap sebagai anak durhaka, anak yang tidak hormat kepada orang tua.

    Tetapi, jika ia tidak melakukan hal itu, tentu istrinya akan selalu ngambek dan bahkan mungkin tidak mau tinggal di rumahnya lagi. Dengan berat hati Jono harus menyampaikan permintaan istrinya itu kepada orang tuanya.

    "Mak, anu." kata Jono saat pagi hari menemui ibunya yang sedang memasak di dapur.

    "Anu-anu, apa?" tanya ibunya yang tentunya masih sibuk.

    "Anu, Mak. Ciblek." kata Jono lagi, yang tentunya dengan rasa takut untuk menyampaikan permintaan istrinya.

    "Ciblek ngapa? Istrimu kenapa? Mau membantu masak? Atau mau mencuci? Apa mau menyapu halaman rumah? Ya, disuruh saja." sahut ibunya yang tetap menyiapkan masakannya, tanpa memperhatikan anaknya yang mengajak bicara. Maklum, memang pada pagi hari Nenek Kosen selalu sibuk dengan urusan dapur.

    "Bukan, Mak." sahut Jono.

    "Kalau bukan, ya sudah, sana minggir. Apa kamu tidak melihat Mamak sedang sibuk menyiapkan sarapan?" kata ibunya yang rupanya tidak mau diganggu.

    Jono diam. Tidak berani lagi mengganggu ibunya. Maklum, memang ibunya yang sedang menyiapkan makan, pasti sangat repot. Karena makanan itu tidak hanya untuk bapak dan ibunya, atau ditambah dirinya dan istrinya. Tetapi juga untuk dua orang pangon, anak-anak yang menggembalakan ternak. Semua makan di rumahnya, dan yang memasak hanya Nenek Kosen sendiri, tanpa ada yang membantu.

    Dan tentu Nenek Kosen juga tergesa untuk menyelesaikan masakannya, karena harus segera berangkat ke pasar. Sebab kalau sudah kesiangan, dagangannya sudah tidak ada yang membeli, dikarenakan para pembeli atau orang yang berbelanja sudah pada pulang. Maka Nenek Kosen pun tidak begitu menggubris apa yang akan dikatakan oleh anaknya.

    Akhirnya, pagi itu Jono gagal untuk menyampaikan permasalahan kepada ibunya. Ia tidak berani mengatakan permintaan istrinya kepada ibunya. Tentu Tuan Jono takut dimarahi oleh ibunya.

    Malam hari, saat bapak dan ibunya kumpul di tempat makan, maka Jono ikut nimbrung makan bersama, walau istrinya tetap tidak mau makan bersama mertuanya. Di kesempatan itu, Jono ingin menyampaikan niatnya, ingin menyampaikan kemauan istrinya.

    "Pak, Mak, mohon maaf sebelumnya. Bukannya saya kurang ajar, tetapi saya ingin menyampaikan kemauan Ciblek, istri saya." kata Jono mengawali pembicaraannya.

    Kakek Yan hanya melirik sebentar. Lantas melanjutkan makannya. Tentu tidak mau diganggu saat menikmati makan, karena malam itu Nenek Kosen memasak sup yuyu, kepiting sawah yang pada musim-musim tertentu sangat banyak. Biasanya orang-orang kampung pada mencari kepiting sawah itu dan dijual ke pasar. Termasuk Nenek Kosen yang ikut membeli untuk dimasak sup. Masaknya gampang, kepiting sawah yang sudah dicuci bersih kemudian dipotong jadi empat belah. Hanya ditambah ditambah rajangan daun kubis, onclang dan sledri, ditambahi bumbu bawang merah bawang putih, merica, garam dan gula pasir sedikit. Oleh Nenek Kosen ditambah empat butir cabai yang dipenggal jadi dua untuk menambah selera pedasnya. Airnya yang dibanyaki. Sedap dan segar, menggugah selera makan. Ya, Kakek Yan dan Nenek Kosen yang sedang makan sup kepiting sawah itu, pastinya lebih asyik menikmati makanan malamnya daripada mendengar kata-kata anaknya.

    Demikian juga dengan Nenek Kosen, yang lebih asyik mengambili daging kepiting yang pada menempel pada capit kaki kepiting, daripada memperhatikan anaknya yang sudah dewasa dan bahkan sudah berumah tangga tersebut. Meskipun mendengar kata-kata anaknya yang sudah duduk di hadapannya, tetapi Nenek Kosen tidak menoleh sama sekali. Membiarkan anaknya yang mau bicara, dan lebih fokus pada makan sup kepiting yang ada di piringnya.

    "Mak, Pak. Saya mau bicara." kata Jono kembali, setelah tahu kalau orang tuanya lebih asyik menikmati makanannya. Memang terlihat sangat menyegarkan. Bahkan sebenarnya Jono sendiri juga ingin ikut makan.

    "Ngomong saja. Saya masih bisa dengar. Gitu kok repot." sahut ibunya yang tetap tidak memperhatikan anaknya.

    "Anu, Pak, Mak." Jono terdiam sejenak. Sulit untuk meneruskan kata-katanya. Takut kalau sampai membuat kenikmatan makan orang tuanya berubah jadi tidak enak.

    Bapaknya sama ibunya tetap asyik menikmati makanannya. Kini dua orang tua itu bahkan tidak ada yang menoleh ke arah anaknya. Memang menu sup yuyu atau kepiting sawah, butuh waktu ekstra untuk menikmatinya. Dibutuhkan ketelatenan untuk mengupas dagingnya. Bagi dua orang tua itu, mungkin lebih penting menikmati makannya daripada memperhatikan kata-kata anaknya yang akhir-akhir ini sering menyakitkan. Apalagi kalau ada kaitannya dengan masalah istrinya.

    Dan memang, setelah beberapa kali Ciblek ngambek, bahkan juga mendengar bentakan-bentakan kemarahannya, atau mungkin bahasa kata-katanya yang tidak sopan dan tidak enak didengar di telinga, Nenek Kosen sudah tidak respek lagi dengan menantunya yang dikatakan orang cantik itu. Nenek Kosen hatinya sudah jengkel, orang di Kampung Pademangan menyebut dengan istilah "pegel atine". Maka ia sudah tidak lagi menganggap menantunya itu sebagai kesatuan keluarga di rumahnya.

    Bagaimana tidak, yang namanya menantu perempuan, ia tidak pernah membantu masak, tidak pernah membantu isah-isah (mencuci perkakas dapur), tidak pernah membantu menyapu halaman. Kerjaannya hanya tiduran di kamar. Kalau mau keluar pun cuman duduk jegrang di kursi tamu. Menurut Nenek Kosen, seakan hal itu tidak pantas dilakukan oleh seorang menantu perempuan yang tinggal di rumah mertuanya. Padahal sementara itu, ibu mertuanya maupun bapak mertuanya, pontang-panting sibuk mengurusi pekerjaan rumah. Sungguh sangat keterlaluan kelakuan menantu perempuan seperti itu. Itulah sebabnya, maka Nenek Kosen sudah hilang jengkelnya dan menganggap menantu itu sebagai orang tak berguna.

    "Pak, Mak. Kami mau minta rumah sendiri." kata Jono yang sudah berkali-kali mau mengatakan, tetapi tidak diperhatikan oleh orang tuanya.

    "Gleghtk! Ahughtk!" Kedua orang tuanya langsung tersedak. Tentu mereka langsung menghentikan makannya, dan seketika itu juga memandangi anaknya dengan mata melotot. Kaget mendengar kata-kata anaknya itu.

    "Apa?! Kamu mau minta rumah sendiri?!" Kakek Yan langsung berkata keras. Mungkin kagetnya langsung membuat dirinya emosi. Padahal biasanya Kakek Yan itu orangnya penyabar dan lebih banyak diam. Tapi kali ini kelihatan sekali kalau ia marah. Tidak suka mendengar kata-kata yang diucapkan oleh anaknya. Bahkan mukanya terlihat memerah dan kaku.

    "Apa saya tidak salah dengar, itu?!" ibunya juga bertanya, tentunya mendengar kata-kata aneh, seakan itu bukanlah kata-kata yang keluar dari mulut anaknya yang dulunya dianggap sebagai anak yang penurut pada orang tuanya.

    "Iya, Pak. Betul, Mak." jawab Jono sambil menundukkan kepala. Pasti ia merasa takut. Dan ia pun yakin kalau orang tuanya pasti akan marah pada dirinya.

    "Maksud kamu itu apa, hah?!" kembali Kakek Yan menanyai dengan nada keras, jengkel dengan kata-kata anaknya.

    "Begini, Pak. Ciblek tidak bisa hidup satu rumah dengan Bapak dan Mamak. Dia minta dibuatkan rumah sendiri." Jono yang masih dengan menunduk, tidak berani memandangi kedua orang tuanya, paling hanya berani melirik, mencoba menjelaskan niatannya.

    "Memangnya orang buat rumah itu gampang?! Kamu pikir bikin rumah itu biayanya murah?!" bentak Kakek Yan yang tentu ingin memberikan pengertian pada anaknya.

    "Iya, Jono. Orang membuat rumah itu biayanya besar. Tidak sedikit! Apalagi uangnya sudah habis untuk mantu kamu kemarin." tambah ibunya.

    "Saya tahu, Pak, Mak. Tapi mertua saya bilang, itu yang harus dilakukan. Kami berumah tangga sendiri mestinya tinggal di rumah sendiri, tidak jadi satu dengan Bapak dan Mamak." kata Jono yang lagi-lagi menyampaikan alasan keinginannya minta rumah.

    "Apa?! Mertua kamu ikut campur dalam urusan keluarga saya! Kurang ajar! Kalau memang mertua kamu menghendaki kamu punya rumah sendiri, sana. Kamu minta dibuatkan rumah mertua kamu! Saya akan melihat, apa mertua kamu bisa!" bentak Kakek Yan yang tentunya sangat emosi dan marah berat ketika tahu kalau besannya ikut campur membujuk anaknya minta rumah.

    "Jono, kamu itu kan anak ragil. Anak yang digadang-gadang akan merawat orang tuamu kelak kalau kami sudah renta. Kok malah mau minta dibuatkan rumah sendiri. Itu berarti besok kalau Emak dan Bapak sudah tidak bisa apa-apa, kamu tidak mau menolong, begitu kan?!" Nenek Kosen menambahi.

    "Dasar anak durhaka!" kembali Kakek Yan membentak.

    Begitu dibentak seperti itu, Jono langsung diam. Ia sadar kalau dirinya salah. Bahkan ia juga tahu kalau dirinya itu keliru besar. Ia juga sadar kalau dirinya sudah durhaka kepada orang tuanya.  Permintaannya itu terlalu mengada-ada. Bahkan sempat dikatakan oleh orang tuanya, dan sudah umum yang biasa terjadi di kampungnya, kalau rumah yang kini ditempati itu, kelak akan menjadi warisannya. Dan sebenarnya tidak perlu membuat rumah baru, karena sudah mendapat warisan rumah yang ditempati orang tuanya saat ini.

    Kakek Yan menghentikan makannya yang belum habis. Padahal itu makanan enak yang sangat menyegarkan tubuh. Tapi gara-gara Jono meminta dibuatkan rumah itu, selera makannya langsung hilang. Bahkan Kakek Yan sudah bangkit dan meninggalkan tempat makan. Ia pergi keluar dari rumah. Pasti karena jengkelnya merasakan kedurhakaan anaknya. Biasanya Kakek Yan kalau marah akan meninggalkan orang yang dimarahi. Setidaknya untuk mengendalikan emosinya.

    "Tuh! Tahu, kan! Bapak kamu marah!" kata Nenek Kosen yang juga langsung meninggalkan meja makan begitu saja. Tanpa membersihkan sisa, tanpa menata kembali tempat-tempat makanan.

    Malam itu, Jono sudah melukai kembali hati kedua orang tuanya. Jono yang tinggal sendirian di tempat makan, menundukkan kepalanya, dan terlihat punggungnya sudah bergerak naik turun. Jono menangis. Tangis penyesalan dari seorang anak yang selama ini dimanja, tetapi kini justru membalas dengan kedurhakaan. Entah laknat apa yang kelak akan diberikan oleh Tuhan.

Episodes
1 BAB I: PERNIKAHAN TUAN JONO
2 BAB 2: NGUNDUH MANTU
3 BAB 3: TINGGAL BERSAMA MERTUA
4 BAB 4: MEMARAHI ANAK KESAYANGAN
5 BAB 5: PENYESALAN
6 BAB 6: MINTA PEMBANTU
7 BAB 7: PUNYA PEMBANTU
8 BAB 8: PUNYA PEMBANTU
9 BAB 9: PEMBANTU BARU
10 BAB 10: CERITA SAAT MENCUCI
11 BAB 11: PEMBANTU MINTA PULANG
12 BAB 12: DIMARAHI ORANG TUA
13 BAB 13: NGAMBEK LAGI
14 BAB 14: KEMBALI MEMINTA SYARAT
15 BAB 15: MEMINTA RUMAH
16 BAB 16: MEMINDAH RUMAH
17 BAB 17: RUMAH YANG BUTUH KERAMAIAN
18 BAB 18: PENGGEMBALA CILIK
19 BAB 19: RUMAH YANG KOTOR
20 BAB 20: BERONTAK
21 BAB 21: KEGUGURAN
22 BAB 22: RUMAH POHON
23 BAB 23: MENJADI ANAK KAKEK DAN NENEK
24 BAB 24: ANAK PINTAR
25 BAB 25: PENCURI KAYU BAKAR
26 BAB 26: ANAK PERTAMA
27 BAB 27: PERUBAHAN ZAMAN
28 BAB 28: MURID TELADAN
29 BAB 29: SEKOLAH FAVORIT
30 BAB 30: BERAS DIMAKAN GERANDONG
31 BAB 31: MENYINGKIRKAN KELUARGA MERTUA
32 BAB 32: ADIK NAKAL
33 BAB 33: ANAK PINTAR
34 BAB 34: MEMBUKA WARUNG
35 BAB 35: INTERKOM
36 BAB 36: HARUS OPNAM
37 BAB 37: TELAH HILANG GIGI EMAS
38 BAB 38: DICARIKAN PACAR
39 BAB 39: PENCURI WARUNG
40 BAB 40: MAKLAR TANAH
41 BAB 41: MOTOR BARU
42 BAB 42: RUMAH GEDUNG
43 BAB 44: MINTA MOBIL
44 BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
45 BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
46 BAB 43: JIMAT PENUNGGU RUMAH
47 BAB 44: MINTA MOBIL
48 BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
49 BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
50 BAB 47: JADI GURU
51 BAB 48: SAYANG NENEK
52 BAB 49: PAMER GELANG
53 BAB 50: BERUBAH SIFAT
54 BAB 51: WATAK PUN BERUBAH
55 BAB 52: NAIK HAJI
56 BAB 53: PULANG HAJI
57 BAB 54: HAJI MABRUR
58 BAB 55: AGAMIS
59 BAB 56: KELUH KESAH SEORANG NENEK
60 BAB 57: PUSAKA LELUHUR
61 BAB 58: SEMAKIN MENYIMPANG
62 BAB 59: SEMUANYA BISA
63 BAB 60: JIKA ADA UANG JADI GAMPANG
64 BAB 61: PENGUSAHA HEBAT
65 BAB 62: PENGUSAHA GAGAL
66 BAB 63: JADI DOKTER
67 BAB 64: WANITA PELENGKAP
68 BAB 65: DEMO
69 BAB 66: NENEK SAKIT
70 BAB 67: KEHILANGAN ORANG-ORANG TERCINTA
71 BAB 68: SEMUA MENUNGGU
72 BAB 69: PENSIUNAN MENYUSAHKAN
73 BAB 70: TETAP MERASA HEBAT
74 BAB 71: MEMBAGI WARISAN
75 BAB 72: MENUNTUT LEBIH
76 BAB 73: SERANGAN JANTUNG
77 BAB 74: DOKTER SOMBONG
78 BAB 75: BAYANG HITAM
79 BAB 76: TUAN JONO MENINGGAL
80 BAB 77: LEBARAN KELABU
81 BAB 78: ORANG-ORANG SERAKAH
82 BAB 79: IKHLAS
83 BAB 80: INNA MA'AL USRI YUSRA
84 BAB 81: WARISAN TERKUTUK
85 BAB 82: KATA-KATA MENYAKITKAN
86 BAB 83: PENJAGA ITU TERNYATA ADA
87 BAB 84: TEROR PERTAMA
88 BAB 85: SIAPA YANG TIDAK PERCAYA HANTU?
89 BAB 86: TEROR KEDUA
90 BAB 87: PERINGATAN DOSA
91 BAB 88: PENANTANG SETAN
92 BAB 89: JANGAN GEGABAH
93 BAB 90: BANASPATI
94 BAB 91: DUKUN SAKTI
95 BAB 92: TAK PERNAH JERA
96 BAB 93: KEHILANGAN KAKI
97 BAB 94: MENANTANG SETAN
98 BAB 95: KEMARAHAN ISTRI
99 BAB 96: ANCAMAN ULAR
100 BAB 97: TATO KULIT ULAR
101 BAB 98: IKATAN NAGA GINI
Episodes

Updated 101 Episodes

1
BAB I: PERNIKAHAN TUAN JONO
2
BAB 2: NGUNDUH MANTU
3
BAB 3: TINGGAL BERSAMA MERTUA
4
BAB 4: MEMARAHI ANAK KESAYANGAN
5
BAB 5: PENYESALAN
6
BAB 6: MINTA PEMBANTU
7
BAB 7: PUNYA PEMBANTU
8
BAB 8: PUNYA PEMBANTU
9
BAB 9: PEMBANTU BARU
10
BAB 10: CERITA SAAT MENCUCI
11
BAB 11: PEMBANTU MINTA PULANG
12
BAB 12: DIMARAHI ORANG TUA
13
BAB 13: NGAMBEK LAGI
14
BAB 14: KEMBALI MEMINTA SYARAT
15
BAB 15: MEMINTA RUMAH
16
BAB 16: MEMINDAH RUMAH
17
BAB 17: RUMAH YANG BUTUH KERAMAIAN
18
BAB 18: PENGGEMBALA CILIK
19
BAB 19: RUMAH YANG KOTOR
20
BAB 20: BERONTAK
21
BAB 21: KEGUGURAN
22
BAB 22: RUMAH POHON
23
BAB 23: MENJADI ANAK KAKEK DAN NENEK
24
BAB 24: ANAK PINTAR
25
BAB 25: PENCURI KAYU BAKAR
26
BAB 26: ANAK PERTAMA
27
BAB 27: PERUBAHAN ZAMAN
28
BAB 28: MURID TELADAN
29
BAB 29: SEKOLAH FAVORIT
30
BAB 30: BERAS DIMAKAN GERANDONG
31
BAB 31: MENYINGKIRKAN KELUARGA MERTUA
32
BAB 32: ADIK NAKAL
33
BAB 33: ANAK PINTAR
34
BAB 34: MEMBUKA WARUNG
35
BAB 35: INTERKOM
36
BAB 36: HARUS OPNAM
37
BAB 37: TELAH HILANG GIGI EMAS
38
BAB 38: DICARIKAN PACAR
39
BAB 39: PENCURI WARUNG
40
BAB 40: MAKLAR TANAH
41
BAB 41: MOTOR BARU
42
BAB 42: RUMAH GEDUNG
43
BAB 44: MINTA MOBIL
44
BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
45
BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
46
BAB 43: JIMAT PENUNGGU RUMAH
47
BAB 44: MINTA MOBIL
48
BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
49
BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
50
BAB 47: JADI GURU
51
BAB 48: SAYANG NENEK
52
BAB 49: PAMER GELANG
53
BAB 50: BERUBAH SIFAT
54
BAB 51: WATAK PUN BERUBAH
55
BAB 52: NAIK HAJI
56
BAB 53: PULANG HAJI
57
BAB 54: HAJI MABRUR
58
BAB 55: AGAMIS
59
BAB 56: KELUH KESAH SEORANG NENEK
60
BAB 57: PUSAKA LELUHUR
61
BAB 58: SEMAKIN MENYIMPANG
62
BAB 59: SEMUANYA BISA
63
BAB 60: JIKA ADA UANG JADI GAMPANG
64
BAB 61: PENGUSAHA HEBAT
65
BAB 62: PENGUSAHA GAGAL
66
BAB 63: JADI DOKTER
67
BAB 64: WANITA PELENGKAP
68
BAB 65: DEMO
69
BAB 66: NENEK SAKIT
70
BAB 67: KEHILANGAN ORANG-ORANG TERCINTA
71
BAB 68: SEMUA MENUNGGU
72
BAB 69: PENSIUNAN MENYUSAHKAN
73
BAB 70: TETAP MERASA HEBAT
74
BAB 71: MEMBAGI WARISAN
75
BAB 72: MENUNTUT LEBIH
76
BAB 73: SERANGAN JANTUNG
77
BAB 74: DOKTER SOMBONG
78
BAB 75: BAYANG HITAM
79
BAB 76: TUAN JONO MENINGGAL
80
BAB 77: LEBARAN KELABU
81
BAB 78: ORANG-ORANG SERAKAH
82
BAB 79: IKHLAS
83
BAB 80: INNA MA'AL USRI YUSRA
84
BAB 81: WARISAN TERKUTUK
85
BAB 82: KATA-KATA MENYAKITKAN
86
BAB 83: PENJAGA ITU TERNYATA ADA
87
BAB 84: TEROR PERTAMA
88
BAB 85: SIAPA YANG TIDAK PERCAYA HANTU?
89
BAB 86: TEROR KEDUA
90
BAB 87: PERINGATAN DOSA
91
BAB 88: PENANTANG SETAN
92
BAB 89: JANGAN GEGABAH
93
BAB 90: BANASPATI
94
BAB 91: DUKUN SAKTI
95
BAB 92: TAK PERNAH JERA
96
BAB 93: KEHILANGAN KAKI
97
BAB 94: MENANTANG SETAN
98
BAB 95: KEMARAHAN ISTRI
99
BAB 96: ANCAMAN ULAR
100
BAB 97: TATO KULIT ULAR
101
BAB 98: IKATAN NAGA GINI

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!