Permintaan Ciblek untuk dapat tinggal sendiri bersama suaminya, dengan berumah tangga sendiri tanpa ada orang tua atau mertua yang ikut campur dalam rumah tangganya, terutama Ciblek tidak ingin tinggal jadi satu rumah bersama mertuanya, tentu sangat berat untuk disampaikan oleh Tuan Jono kepada orang tuanya. Itu sama halnya dengan melawan orang tua. Tuan Jono dianggap sebagai anak yang tidak berbakti. Bahkan Tuan Jono pasti akan dianggap sebagai anak durhaka, anak yang tidak hormat kepada orang tua.
Tetapi, jika ia tidak melakukan hal itu, tentu istrinya akan selalu ngambek dan bahkan mungkin tidak mau tinggal di rumahnya lagi. Dengan berat hati Jono harus menyampaikan permintaan istrinya itu kepada orang tuanya.
"Mak, anu." kata Jono saat pagi hari menemui ibunya yang sedang memasak di dapur.
"Anu-anu, apa?" tanya ibunya yang tentunya masih sibuk.
"Anu, Mak. Ciblek." kata Jono lagi, yang tentunya dengan rasa takut untuk menyampaikan permintaan istrinya.
"Ciblek ngapa? Istrimu kenapa? Mau membantu masak? Atau mau mencuci? Apa mau menyapu halaman rumah? Ya, disuruh saja." sahut ibunya yang tetap menyiapkan masakannya, tanpa memperhatikan anaknya yang mengajak bicara. Maklum, memang pada pagi hari Nenek Kosen selalu sibuk dengan urusan dapur.
"Bukan, Mak." sahut Jono.
"Kalau bukan, ya sudah, sana minggir. Apa kamu tidak melihat Mamak sedang sibuk menyiapkan sarapan?" kata ibunya yang rupanya tidak mau diganggu.
Jono diam. Tidak berani lagi mengganggu ibunya. Maklum, memang ibunya yang sedang menyiapkan makan, pasti sangat repot. Karena makanan itu tidak hanya untuk bapak dan ibunya, atau ditambah dirinya dan istrinya. Tetapi juga untuk dua orang pangon, anak-anak yang menggembalakan ternak. Semua makan di rumahnya, dan yang memasak hanya Nenek Kosen sendiri, tanpa ada yang membantu.
Dan tentu Nenek Kosen juga tergesa untuk menyelesaikan masakannya, karena harus segera berangkat ke pasar. Sebab kalau sudah kesiangan, dagangannya sudah tidak ada yang membeli, dikarenakan para pembeli atau orang yang berbelanja sudah pada pulang. Maka Nenek Kosen pun tidak begitu menggubris apa yang akan dikatakan oleh anaknya.
Akhirnya, pagi itu Jono gagal untuk menyampaikan permasalahan kepada ibunya. Ia tidak berani mengatakan permintaan istrinya kepada ibunya. Tentu Tuan Jono takut dimarahi oleh ibunya.
Malam hari, saat bapak dan ibunya kumpul di tempat makan, maka Jono ikut nimbrung makan bersama, walau istrinya tetap tidak mau makan bersama mertuanya. Di kesempatan itu, Jono ingin menyampaikan niatnya, ingin menyampaikan kemauan istrinya.
"Pak, Mak, mohon maaf sebelumnya. Bukannya saya kurang ajar, tetapi saya ingin menyampaikan kemauan Ciblek, istri saya." kata Jono mengawali pembicaraannya.
Kakek Yan hanya melirik sebentar. Lantas melanjutkan makannya. Tentu tidak mau diganggu saat menikmati makan, karena malam itu Nenek Kosen memasak sup yuyu, kepiting sawah yang pada musim-musim tertentu sangat banyak. Biasanya orang-orang kampung pada mencari kepiting sawah itu dan dijual ke pasar. Termasuk Nenek Kosen yang ikut membeli untuk dimasak sup. Masaknya gampang, kepiting sawah yang sudah dicuci bersih kemudian dipotong jadi empat belah. Hanya ditambah ditambah rajangan daun kubis, onclang dan sledri, ditambahi bumbu bawang merah bawang putih, merica, garam dan gula pasir sedikit. Oleh Nenek Kosen ditambah empat butir cabai yang dipenggal jadi dua untuk menambah selera pedasnya. Airnya yang dibanyaki. Sedap dan segar, menggugah selera makan. Ya, Kakek Yan dan Nenek Kosen yang sedang makan sup kepiting sawah itu, pastinya lebih asyik menikmati makanan malamnya daripada mendengar kata-kata anaknya.
Demikian juga dengan Nenek Kosen, yang lebih asyik mengambili daging kepiting yang pada menempel pada capit kaki kepiting, daripada memperhatikan anaknya yang sudah dewasa dan bahkan sudah berumah tangga tersebut. Meskipun mendengar kata-kata anaknya yang sudah duduk di hadapannya, tetapi Nenek Kosen tidak menoleh sama sekali. Membiarkan anaknya yang mau bicara, dan lebih fokus pada makan sup kepiting yang ada di piringnya.
"Mak, Pak. Saya mau bicara." kata Jono kembali, setelah tahu kalau orang tuanya lebih asyik menikmati makanannya. Memang terlihat sangat menyegarkan. Bahkan sebenarnya Jono sendiri juga ingin ikut makan.
"Ngomong saja. Saya masih bisa dengar. Gitu kok repot." sahut ibunya yang tetap tidak memperhatikan anaknya.
"Anu, Pak, Mak." Jono terdiam sejenak. Sulit untuk meneruskan kata-katanya. Takut kalau sampai membuat kenikmatan makan orang tuanya berubah jadi tidak enak.
Bapaknya sama ibunya tetap asyik menikmati makanannya. Kini dua orang tua itu bahkan tidak ada yang menoleh ke arah anaknya. Memang menu sup yuyu atau kepiting sawah, butuh waktu ekstra untuk menikmatinya. Dibutuhkan ketelatenan untuk mengupas dagingnya. Bagi dua orang tua itu, mungkin lebih penting menikmati makannya daripada memperhatikan kata-kata anaknya yang akhir-akhir ini sering menyakitkan. Apalagi kalau ada kaitannya dengan masalah istrinya.
Dan memang, setelah beberapa kali Ciblek ngambek, bahkan juga mendengar bentakan-bentakan kemarahannya, atau mungkin bahasa kata-katanya yang tidak sopan dan tidak enak didengar di telinga, Nenek Kosen sudah tidak respek lagi dengan menantunya yang dikatakan orang cantik itu. Nenek Kosen hatinya sudah jengkel, orang di Kampung Pademangan menyebut dengan istilah "pegel atine". Maka ia sudah tidak lagi menganggap menantunya itu sebagai kesatuan keluarga di rumahnya.
Bagaimana tidak, yang namanya menantu perempuan, ia tidak pernah membantu masak, tidak pernah membantu isah-isah (mencuci perkakas dapur), tidak pernah membantu menyapu halaman. Kerjaannya hanya tiduran di kamar. Kalau mau keluar pun cuman duduk jegrang di kursi tamu. Menurut Nenek Kosen, seakan hal itu tidak pantas dilakukan oleh seorang menantu perempuan yang tinggal di rumah mertuanya. Padahal sementara itu, ibu mertuanya maupun bapak mertuanya, pontang-panting sibuk mengurusi pekerjaan rumah. Sungguh sangat keterlaluan kelakuan menantu perempuan seperti itu. Itulah sebabnya, maka Nenek Kosen sudah hilang jengkelnya dan menganggap menantu itu sebagai orang tak berguna.
"Pak, Mak. Kami mau minta rumah sendiri." kata Jono yang sudah berkali-kali mau mengatakan, tetapi tidak diperhatikan oleh orang tuanya.
"Gleghtk! Ahughtk!" Kedua orang tuanya langsung tersedak. Tentu mereka langsung menghentikan makannya, dan seketika itu juga memandangi anaknya dengan mata melotot. Kaget mendengar kata-kata anaknya itu.
"Apa?! Kamu mau minta rumah sendiri?!" Kakek Yan langsung berkata keras. Mungkin kagetnya langsung membuat dirinya emosi. Padahal biasanya Kakek Yan itu orangnya penyabar dan lebih banyak diam. Tapi kali ini kelihatan sekali kalau ia marah. Tidak suka mendengar kata-kata yang diucapkan oleh anaknya. Bahkan mukanya terlihat memerah dan kaku.
"Apa saya tidak salah dengar, itu?!" ibunya juga bertanya, tentunya mendengar kata-kata aneh, seakan itu bukanlah kata-kata yang keluar dari mulut anaknya yang dulunya dianggap sebagai anak yang penurut pada orang tuanya.
"Iya, Pak. Betul, Mak." jawab Jono sambil menundukkan kepala. Pasti ia merasa takut. Dan ia pun yakin kalau orang tuanya pasti akan marah pada dirinya.
"Maksud kamu itu apa, hah?!" kembali Kakek Yan menanyai dengan nada keras, jengkel dengan kata-kata anaknya.
"Begini, Pak. Ciblek tidak bisa hidup satu rumah dengan Bapak dan Mamak. Dia minta dibuatkan rumah sendiri." Jono yang masih dengan menunduk, tidak berani memandangi kedua orang tuanya, paling hanya berani melirik, mencoba menjelaskan niatannya.
"Memangnya orang buat rumah itu gampang?! Kamu pikir bikin rumah itu biayanya murah?!" bentak Kakek Yan yang tentu ingin memberikan pengertian pada anaknya.
"Iya, Jono. Orang membuat rumah itu biayanya besar. Tidak sedikit! Apalagi uangnya sudah habis untuk mantu kamu kemarin." tambah ibunya.
"Saya tahu, Pak, Mak. Tapi mertua saya bilang, itu yang harus dilakukan. Kami berumah tangga sendiri mestinya tinggal di rumah sendiri, tidak jadi satu dengan Bapak dan Mamak." kata Jono yang lagi-lagi menyampaikan alasan keinginannya minta rumah.
"Apa?! Mertua kamu ikut campur dalam urusan keluarga saya! Kurang ajar! Kalau memang mertua kamu menghendaki kamu punya rumah sendiri, sana. Kamu minta dibuatkan rumah mertua kamu! Saya akan melihat, apa mertua kamu bisa!" bentak Kakek Yan yang tentunya sangat emosi dan marah berat ketika tahu kalau besannya ikut campur membujuk anaknya minta rumah.
"Jono, kamu itu kan anak ragil. Anak yang digadang-gadang akan merawat orang tuamu kelak kalau kami sudah renta. Kok malah mau minta dibuatkan rumah sendiri. Itu berarti besok kalau Emak dan Bapak sudah tidak bisa apa-apa, kamu tidak mau menolong, begitu kan?!" Nenek Kosen menambahi.
"Dasar anak durhaka!" kembali Kakek Yan membentak.
Begitu dibentak seperti itu, Jono langsung diam. Ia sadar kalau dirinya salah. Bahkan ia juga tahu kalau dirinya itu keliru besar. Ia juga sadar kalau dirinya sudah durhaka kepada orang tuanya. Permintaannya itu terlalu mengada-ada. Bahkan sempat dikatakan oleh orang tuanya, dan sudah umum yang biasa terjadi di kampungnya, kalau rumah yang kini ditempati itu, kelak akan menjadi warisannya. Dan sebenarnya tidak perlu membuat rumah baru, karena sudah mendapat warisan rumah yang ditempati orang tuanya saat ini.
Kakek Yan menghentikan makannya yang belum habis. Padahal itu makanan enak yang sangat menyegarkan tubuh. Tapi gara-gara Jono meminta dibuatkan rumah itu, selera makannya langsung hilang. Bahkan Kakek Yan sudah bangkit dan meninggalkan tempat makan. Ia pergi keluar dari rumah. Pasti karena jengkelnya merasakan kedurhakaan anaknya. Biasanya Kakek Yan kalau marah akan meninggalkan orang yang dimarahi. Setidaknya untuk mengendalikan emosinya.
"Tuh! Tahu, kan! Bapak kamu marah!" kata Nenek Kosen yang juga langsung meninggalkan meja makan begitu saja. Tanpa membersihkan sisa, tanpa menata kembali tempat-tempat makanan.
Malam itu, Jono sudah melukai kembali hati kedua orang tuanya. Jono yang tinggal sendirian di tempat makan, menundukkan kepalanya, dan terlihat punggungnya sudah bergerak naik turun. Jono menangis. Tangis penyesalan dari seorang anak yang selama ini dimanja, tetapi kini justru membalas dengan kedurhakaan. Entah laknat apa yang kelak akan diberikan oleh Tuhan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments