Malam itu, Kakek Yan memanggil anak laki-laki kesayangannya, Tuan Jono. Setelah siang harinya istri Tuan Jono minta diantar pulang ke rumah orang tuanya. Ciblek ngambek, marah meminta tuan Jono untuk mengantarkannya pulang ke rumah orang tuanya. Pasalnya, kata Ciblek istrinya itu, siang itu ia dimarahi oleh ibu mertuanya, ibu Tuan Jono, karena tidak menyiapkan masakan untuk keluarganya. Bahkan Ciblek juga mengadu kalau dirinya akan dihajar oleh dua orang mertuanya yang galak-galak itu. Bahkan Ciblek juga mengatakan kalau dirinya tidak mau bekerja akan di usir oleh mertuanya.
Mendengar aduan istrinya seperti itu, pasti Tuan Jono naik darah. Ia marah. Dan ingin rasanya memarahi kedua orang tuanya. Tuan Jono menganggap kalau orang tuanya itu sangat jahat. Maka seketika itu, langsung terbersit rasa benci dalam hati Tuan Jono terhadap orang tuanya sendiri. Padahal semua kata-kata Ciblek itu adalah fitnah belaka. Itulah maka banyak orang bilang kalau fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Seperti halnya Tuan Jono yang langsung membenci orang tuanya yang sudah bersusah payah membesarkannya, bahkan menjadikan dirinya bisa menjadi pegawai.
Dan malam itu, setidaknya Kakek Yan ingin menyelesaikan permasalahan yang dihadapi keluarga baru anaknya tersebut. Meski anak kesayangannya itu datang memenuhi panggilan orang tuanya dengan sikap yang tidak baik. Anak yang tidak menghormat orang tuanya.
"Jono! Permasalahan-permasalahan kecil itu biasa terjadi dalam rumah tangga. Apalagi, kamu dan Ciblek adalah pengantin baru. Masih butuh penyesuaian, butuh adaptasi." kata Kakek Yan pada anaknya, yang duduk bertiga bersama ibunya di meja makan, sambil menikmati makan malam yang sudah disiapkan oleh ibunya. Meski Jono tidak mau menyentuh masakan ibunya.
"Tapi, ini gara-gara Mamak. Mamak marah pada Ciblek." sahut Jono yang tentunya mengambil simpulan dari laporan istrinya.
"Sudah, jangan ngomong mulu. Makan dahulu. Nanti keburu lauk dan sayurnya dingin. Ini tadi yang masak Mbakyu kamu." sahut Nenek Kosen yang menyuruh anak dan suaminya itu menikmati makan malam dulu.
"Tidak! Saya tidak lapar!" sahut Jono ketus pada ibunya.
Kakek Yan diam. Tidak jadi berkata-kata lagi. Ia langsung mengambil piring yang sudah diisi nasi oleh istrinya. Lantas Kakek Yan menambahi isi piringnya itu dengan mengambil sayur daun singkong dan lauk gimbal udang. Lantas memakannya dengan lahap. Beberapa kali matanya menatap ke arah anak laki-laki kesayangannya. Sebenarnya Kakek Yan kesal menyaksikan sikap anaknya itu. Tetapi ia berusaha untuk menahan emosinya. Makanya semua rasa kesal dan emosinya dilampiaskan dengan mengunyah makanan yang seolah terlihat makan secara lahap.
Nenek Kosen juga menyerahkan piring berisi nasi kepada anak laki-laki kesayangannya itu.
"Nih, sayur sama lauknya ambil sendiri." kata Nenek Kosen yang mengambilkan nasi anak kesayangannya itu, seperti kala Jono belum menikah.
"Tidak! Saya tidak lapar Mak!" sahut Jono menolak makanan yang diberikan oleh ibunya.
"Lho? Piye to iki?" Nenek Kosen jadi bingung karena nasi sepiring yang diberikan ke anaknya ditolak.
"Sudah. Kalau Jono gak mau makan, jangan dipaksa." kata Kakek Yan yang tentunya agar Nenek Kosen tidak kecewa dengan penolakan anaknya itu.
"Ya sudah kalau tidak mau. Saya makan sendiri." kata Nenek Kosen agak kecewa.
Lantas piring itu ditambahi sayur dan lauk, dan diletakkan di atas mejanya. Kemudian Nenek Kosen mengangkat kaleng roti yang mereknya sampai zaman sekarang masih ada, lantas membukanya, yang isinya adalah kerupuk gendar yang dibuat sendiri dari sisa nasi yang dimanfaatkan dan diolah kembali jadi kerupuk.
Ini, Kek. Kerupuk gendar." Nenek Kosen menyodorkan kaleng roti itu pada suaminya.
"Ya." sahut Kakek Yan, yang lantas mengambil beberapa kerupuk gendar tersebut dan menaruhnya di atas piring makannya.
"Kamu sekalian, Jono. Nih, ambil kerupuknya. Digado buat cemilan." kata Nenek Kosen yang menyodorkan kaleng yang masih terbuka tutupnya berisi kerupuk gendar itu kepada anaknya.
Tuan Jono diam. Tidak mengambil kerupuk bikinan ibunya itu. Bahkan melirik pun tidak. Ia masih menyimpan kemarahan pada ibunya. Jengkel dengan sikap dan perbuatan ibunya yang berani mengusir istrinya. Padahal sebenarnya sejak siang ia belum makan. Bahkan saat sampai di rumah mertuanya, saat mengantarkan istrinya yang ngambek minta pulang, ia juga tidak makan. Karena di rumah mertuanya juga tidak ada makanan apa-apa. Maka sebenarnya ia sangat kelaparan. Tetapi kemarahan pada ibunya itu membuat ia tidak ingin memakan masakan ibunya. Tuan Jono sangat jengkel.
Ibu dan bapaknya yang mengamati anaknya itu melenggong. Keheranan dengan sikap dan tabiat anaknya yang berubah. Bukan lagi sebagai anak yang penurut, tetapi justru menolak semua yang akan diberikan oleh orang tuanya. Bahkan raut wajahnya juga tampak aneh. Tidak segar. Tidak seperti biasanya sebagai anak yang hormat dan takut dengan orang tuanya.
"Jono. Kamu bener masih kenyang? Tadi sudah makan?" tanya ibunya.
Tuan Jono diam saja. Tidak menjawab pertanyaan ibunya.
Beberapa saat suasana hening. Tidak ada suara. Namun tiba-tiba, "Jono! Kamu itu ditanyai ibumu. Jawab!" Kakek Yan agak membentak pada Jono.
Tentu Tuan Jono kaget dengan suara bapaknya yang agak keras tadi. Itu pertanda bapaknya marah.
"Iya, Pak. Sudah Mak." Jono langsung menjawab karena ketakutan dengan bapaknya.
"Kamu itu kenapa? Disuruh makan tidak mau makan. Ditanyai tidak menjawab. Aneh kamu itu. Kalau ada masalah itu bilang! Jangan membesar-besarkan masalah kecil, tapi segera diselesaikan agar tidak jadi masalah besar! Orang sudah dewasa. Sudah menikah. Kok masih kayak anak kecil." Kakek Yan masih dengan nada agak tinggi memarahi Jono.
"Iya, Pak. Kata Ciblek." belum selesai Tuan Jono bicara langsung terputus oleh ibunya.
"Tapi kenapa? Ciblek bilang apa??" ibunya langsung menanya pada anaknya.
"Mamak memarahi Ciblek." jawab Jono sambil menundukkan kepalanya.
"We, alah. Jono, Jono." ibunya mendorongkan jari telunjuknya di jidat anak kesayangannya itu. Lantas lanjutnya, "Istrimu mengadu ke kamu?! Terus kamu mau membela dia?! Bilang apa dia? Lapor apa sama kamu?"
"Ciblek bilang, ia dimarahi Mamak." jawab Jono masih agak ragu, takut kalau ibunya semakin marah.
"Jono, Jono. Kamu itu sudah menikah. Kamu itu sudah mulai berumah tangga. Mestinya kamu harus tahu istrimu itu seperti apa? Kamu harus tahu istrimu itu ngapain saja. Jangan cuman setuju kalau menerima laporan. Bagaimanapun juga, Ciblek itu istri kamu. Kamu harus bertanggung jawab terhadap sikap dan tingkah laku istri kamu. Tidak hanya ertanggung jawab terhadap keselamatan dan senangnya istri saja. Tetapi kamu berkewajiban menafkahi istri kamu. Termasuk kamu yang berkewajiban untuk membina, membimbing, dan mengajari istri kamu dalam membagun rumah tangga baru. Setidaknya istri kamu bisa mengurusi rumah tangga!" kata Nenek Kosen yang justru berbalik marah dan menasehati anaknya.
"Iya. Betul itu. Kamu harus ngajari istri kamu menjadi perempuan yang bisa mengurusi rumah tangga. Masak orang perempuan tidak bisa masak, tidak bisa nyapu, tidak bisa mencuci. Bagaimana mau membangun rumah tangga yang tentram dan nyaman?" timpal Kakek Yan, yang tentunya juga ingin mengajari anaknya untuk bisa hidup berumah tangga dengan baik.
"Tetapi, Mak?" lagi-lagi Tuan Jono ingin mengungkapkan aduan istrinya, namun kembali dipotong ibunya.
"Tapi apa? Dari kecil kamu sudah saya didik untuk menjadi orang baik. Kenapa sekarang berani membantah orang tua?" Nenek Kosen mengingatkan anak kesayangannya.
"Tapi Mak. Kata Ciblek, Mamak sudah mengusirnya." lanjut Jono.
"Apa?!" sontak kedua orang tuanya kaget mendengar kata-kata anaknya itu.
"Siapa yang bilang kalau saya mengusir istrimu?!" tentu Nenek Kosen marah mendengar kata-kata anaknya itu.
"Jono! Jangan pernah memfitnah orang! Jangan pernah menuduh orang tanpa bukti! Itu pekerjaan setan, tahu! Kamu sudah berdosa besar! Kamu akan menderita, Jono! Kamu akan masuk neraka!" Kakek Yan juga ikut memarahi anaknya. Karena kata-kata anaknya itu sebenarnya sudah menyakiti hati orang tuanya, dengan menuduh dan memfitnahnya.
Ya, anak yang berani dengan orang tua pasti akan mengalami celaka. Apalagi sampai menuduh orang tuanya yang tidak bersalah. Memfitnah yang tidak baik. Itu termasuk dosa besar yang tidak terampuni.
Jono diam saja. Ia menundukkan kepalanya, memandangi meja yang ada di bawah matanya. Ia sangat takut dengan kemarahan orang tuanya. Pastinya ia merasa salah. Dan ia sadar kalau orang tuanya malam itu sangat marah pada dirinya. Tapi Jono juga bingung, mana yang benar, kata-kata istrinya apa orang tuanya? Benarkah itu hanya fitnah?
"Harusnya kamu itu tahu, Jono! Selama istrimu di sini, dia itu sudah melakukan apa? Apa dia sudah memasakkan kamu? Sudah menyiapkan sarapan dan teh hangat untuk suaminya? Apa sudah masak untuk makan siang? Bahkan pakaianmu saja tidak ada yang mencuci. Apa kalau kamu sudah punya istri, pakaian kamu masih dicucikan Mamak? Hah?! Yang ngasih makan buat kamu juga Mamak? Hah?! Sekarang malah menuduh Mamak yang tidak benar." kata Nenek Kosen yang marah pada anaknya.
Jono diam saja, ia menyadari kata-kata ibuya itu benar, dan istrinya belum becus untuk hidup membina rumah tangga baru. Istrinya tidak bisa masak, tidak bisa mencuci, apalagi mengurus rumahnya. Dan tentunya, Jono merasa bersalah karena sudah memilih perempuan yang ternyata tidak becus mengurusi urusan rumah tangga. Istri yang hanya bisa tiduran dan bermalas-malasan di kamar.
Ya, Ciblek rupanya bukanlah perempuan ideal yang sempat ia bayangkan saat tertarik, saat jatuh cinta dengan perempuan itu. Ciblek hanya terlihat cantik dari jasmaniahnya saja. Tetapi dari keterampilan dalam mengurusi rumah tangga, nol sama sekali. Tentunya ibunya kecewa dengan menantunya itu. Tapi benarkah kata-kata Ciblek yang disampaikan ke dirinya? Apakah tega ibunya mengusir Ciblek?
"Tapi, Pak. Tapi, Mak...." Jono ingin bicara, tetapi terputus.
"Tapi apa?! Kenyataannya sudah ketahuan. Yang namanya perempuan itu, dimana-mana ia harus bisa mencuci, ia harus bisa memasak, ia harus bisa bersih-bersih rumah. Dan yang penting, ia harus bisa meladani suaminya. Tidak cuman tiduran saja. Tidak cuman duduk jegrang saja, tapi urusan rumah tangga tidak pernah dikerjakan. Perempuan macam apa istrimu itu?!" kata Nenek Kosen yang tentunya jengkel dengan menantunya itu, dan kini dilampiaskan kepada anaknya sendiri.
"Sudah lah, Nek. Jangan dimarahi anakmu ini." kata Kakek Yan yang tidak tega melihat anaknya dimarahi.
"Iya, Mak. Saya yang salah. Tapi, Ciblek itu penginnya punya pembantu, yang mengerjakan semua urusan rumah tangga kita." kata Jono yang menuturkan keinginan istrinya.
Ucapan Jono itu, tentu membuat ibunya kaget. Dan pasti Nenek Kosen langsung naik pitam.
"Apa?! Ingin punya pembantu?! Kere tidak tahu diri. Beruntung dia itu jadi istri kamu. Hidupnya langsung berubah drastis. Sekarang merasa jadi istri orang kaya, istri pegawai, jadi menantu orang kaya, inginnya kayak bendoro saja. Terus, kalau punya pembantu, dia mau jegrang nyuruh-nyuruh pembantunya, gitu?! Enak saja. Ketahui, ya Jono. Selama ini saya, Bapak kamu, bahkan Mbakyu kamu, tidak pernah punya pembantu. Untuk urusan rumah, kita kerjakan sendiri. Bahkan untuk urusan ternak, meski sudah ada dua orang yang ngurusi, Bapak kamu tetap ikut membantu, ikut ngurusi. Kamu lihat sendiri, kan? Bagamana Bapak dan Mamak kamu pontang-panting ngurusi rumah tangga? Mentang-mentang istrimu itu cantik, terus tidak mau bekerja? Dasar perempuan pemalas. Makanya hidupnya jadi kere!" kata Nenek Kosen yang tentu sangat marah pada anaknya itu dan pasti emosinya .
"Sudah lah, Nek. Jangan berkata-kata kasar seperti itu. Tidak baik." Kakek Yan berusaha menenangkan istrinya. Terutama agar Nenek Kosen tidak berkata-kata yang menyinggung masalah kemiskinan dari keluarga menantunya.
"Ya, tidak bisa lah, Kek. Ciblek itu sangat keterlaluan! Memfitnah orang semaunya. Dan sekarang malah minta macam-macam. Istri macam apa itu?" sahut Nenek Kosen yang masih emosi.
Memang, siapa orangnya yang tidak jengkel, jika mendengar seorang menantu perempuan yang tidak mau bekerja mengurusi rumah tangga, tetapi justru meminta yang aneh-aneh. Dan kala itu, belum ada rumah tangga di Kampung Pademangan yang punya pembantu rumah tangga. Bahkan Pak Lurah yang boleh dikatakan pekerjaan rumah tangganya banyak, ia juga tidak punya pembantu. Tetapi entah dari siapa ide itu, tiba-tiba saja Ciblek menuntut suaminya untuk mendatangkan pembantu rumah tangga untuk mengurusi pekerjaan rumahnya.
"Maafkan saya, Mak. Tapi kata Ciblek, kalau di rumah ini tidak ada pembantu, dia tidak mau ke sini lagi. Dia mau pulang ke orang tuanya." kata si Jono yang tentu kebingungan.
"Tobil tobil, anak kadal. Keterlaluan sekali istrimu itu. Orang kere kok macem-macem. Kalau memang tidak mau tinggal di sini, ya sudah, tidak usah diurusi! Biar saja tinggal di rumahnya yang reyot kayak kandang itu, yang tidak ada pekerjaannya yang harus dilakukan, bisa ongkang-ongkang. Dasar perempuan kurang ajar!" Tentu Nenek Kosen semakin kesal mendengar ancaman menantunya itu.
"Tapi, Mak...." kata Jono yang langsung dipotong ibunya.
"Tapi apa lagi?! Tidak perlu khawatir. Perempuan masih banyak. Kalau dia minta cerai, malah kebeneran! Saya memang tidak suka dengan istrimu itu!" bentak ibunya ketus sambil memalingkan kepala.
"Nek, jangan berkata seperti itu. Tidak baik. Nanti kalau ada setan lewat, bahaya." sergah Kakek Yan yang terus berusaha menenangkan istrinya agar tidak marah-marah.
Tuan Jono Diam. Tetapi ia langsung berdiri, berbalik tubuh. Lantas masuk ke kamarnya. Itu pertanda bahwa anak laki-laki kesayangan Nenek Kosen itu juga ikut-ikutan ngambek. Dan benar, sampai di kamar, si Jono langsung membanting pintunya.
"Dueeerrr!" suara pintu kamar Tuan Jono yang ditutup secara keras, sebagai pertanda ia marah.
Ibunya pasti kaget. Demikian juga bapaknya. Pastinya mereka agak menyesal, karena anaknya tidak bisa dinasehati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments