BAB 4: MEMARAHI ANAK KESAYANGAN

    Malam itu, Kakek Yan memanggil anak laki-laki kesayangannya, Tuan Jono. Setelah siang harinya istri Tuan Jono minta diantar pulang ke rumah orang tuanya. Ciblek ngambek, marah meminta tuan Jono untuk mengantarkannya pulang ke rumah orang tuanya. Pasalnya, kata Ciblek istrinya itu, siang itu ia dimarahi oleh ibu mertuanya, ibu Tuan Jono, karena tidak menyiapkan masakan untuk keluarganya. Bahkan Ciblek juga mengadu kalau dirinya akan dihajar oleh dua orang mertuanya yang galak-galak itu. Bahkan Ciblek juga mengatakan kalau dirinya tidak mau bekerja akan di usir oleh mertuanya.

    Mendengar aduan istrinya seperti itu, pasti Tuan Jono naik darah. Ia marah. Dan ingin rasanya memarahi kedua orang tuanya. Tuan Jono menganggap kalau orang tuanya itu sangat jahat. Maka seketika itu, langsung terbersit rasa benci dalam hati Tuan Jono terhadap orang tuanya sendiri. Padahal semua kata-kata Ciblek itu adalah fitnah belaka. Itulah maka banyak orang bilang kalau fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Seperti halnya Tuan Jono yang langsung membenci orang tuanya yang sudah bersusah payah membesarkannya, bahkan menjadikan dirinya bisa menjadi pegawai.

    Dan malam itu, setidaknya Kakek Yan ingin menyelesaikan permasalahan yang dihadapi keluarga baru anaknya tersebut. Meski anak kesayangannya itu datang memenuhi panggilan orang tuanya dengan sikap yang tidak baik. Anak yang tidak menghormat orang tuanya.

    "Jono! Permasalahan-permasalahan kecil itu biasa terjadi dalam rumah tangga. Apalagi, kamu dan Ciblek adalah pengantin baru. Masih butuh penyesuaian, butuh adaptasi." kata Kakek Yan pada anaknya, yang duduk bertiga bersama ibunya di meja makan, sambil menikmati makan malam yang sudah disiapkan oleh ibunya. Meski Jono tidak mau menyentuh masakan ibunya.

    "Tapi, ini gara-gara Mamak. Mamak marah pada Ciblek." sahut Jono yang tentunya mengambil simpulan dari laporan istrinya.

    "Sudah, jangan ngomong mulu. Makan dahulu. Nanti keburu lauk dan sayurnya dingin. Ini tadi yang masak Mbakyu kamu." sahut Nenek Kosen yang menyuruh anak dan suaminya itu menikmati makan malam dulu.

    "Tidak! Saya tidak lapar!" sahut Jono ketus pada ibunya.

    Kakek Yan diam. Tidak jadi berkata-kata lagi. Ia langsung mengambil piring yang sudah diisi nasi oleh istrinya. Lantas Kakek Yan menambahi isi piringnya itu dengan mengambil sayur daun singkong dan lauk gimbal udang. Lantas memakannya dengan lahap. Beberapa kali matanya menatap ke arah anak laki-laki kesayangannya. Sebenarnya Kakek Yan kesal menyaksikan sikap anaknya itu. Tetapi ia berusaha untuk menahan emosinya. Makanya semua rasa kesal dan emosinya dilampiaskan dengan mengunyah makanan yang seolah terlihat makan secara lahap.

    Nenek Kosen juga menyerahkan piring berisi nasi kepada anak laki-laki kesayangannya itu.

    "Nih, sayur sama lauknya ambil sendiri." kata Nenek Kosen yang mengambilkan nasi anak kesayangannya itu, seperti kala Jono belum menikah.

    "Tidak! Saya tidak lapar Mak!" sahut Jono menolak makanan yang diberikan oleh ibunya.

    "Lho? Piye to iki?" Nenek Kosen jadi bingung karena nasi sepiring yang diberikan ke anaknya ditolak.

    "Sudah. Kalau Jono gak mau makan, jangan dipaksa." kata Kakek Yan yang tentunya agar Nenek Kosen tidak kecewa dengan penolakan anaknya itu.

    "Ya sudah kalau tidak mau. Saya makan sendiri." kata Nenek Kosen agak kecewa.

    Lantas piring itu ditambahi sayur dan lauk, dan diletakkan di atas mejanya. Kemudian Nenek Kosen mengangkat kaleng roti yang mereknya sampai zaman sekarang masih ada, lantas membukanya, yang isinya adalah kerupuk gendar yang dibuat sendiri dari sisa nasi yang dimanfaatkan dan diolah kembali jadi kerupuk.

    Ini, Kek. Kerupuk gendar." Nenek Kosen menyodorkan kaleng roti itu pada suaminya.

    "Ya." sahut Kakek Yan, yang lantas mengambil beberapa kerupuk gendar tersebut dan menaruhnya di atas piring makannya.

    "Kamu sekalian, Jono. Nih, ambil kerupuknya. Digado buat cemilan." kata Nenek Kosen yang menyodorkan kaleng yang masih terbuka tutupnya berisi kerupuk gendar itu kepada anaknya.

   Tuan Jono diam. Tidak mengambil kerupuk bikinan ibunya itu. Bahkan melirik pun tidak. Ia masih menyimpan kemarahan pada ibunya. Jengkel dengan sikap dan perbuatan ibunya yang berani mengusir istrinya. Padahal sebenarnya sejak siang ia belum makan. Bahkan saat sampai di rumah mertuanya, saat mengantarkan istrinya yang ngambek minta pulang, ia juga tidak makan. Karena di rumah mertuanya juga tidak ada makanan apa-apa. Maka sebenarnya ia sangat kelaparan. Tetapi kemarahan pada ibunya itu membuat ia tidak ingin memakan masakan ibunya. Tuan Jono sangat jengkel.

   Ibu dan bapaknya yang mengamati anaknya itu melenggong. Keheranan dengan sikap dan tabiat anaknya yang berubah. Bukan lagi sebagai anak yang penurut, tetapi justru menolak semua yang akan diberikan oleh orang tuanya. Bahkan raut wajahnya juga tampak aneh. Tidak segar. Tidak seperti biasanya sebagai anak yang hormat dan takut dengan orang tuanya.

    "Jono. Kamu bener masih kenyang? Tadi sudah makan?" tanya ibunya.

    Tuan Jono diam saja. Tidak menjawab pertanyaan ibunya.

    Beberapa saat suasana hening. Tidak ada suara. Namun tiba-tiba, "Jono! Kamu itu ditanyai ibumu. Jawab!" Kakek Yan agak membentak pada Jono.

    Tentu Tuan Jono kaget dengan suara bapaknya yang agak keras tadi. Itu pertanda bapaknya marah.

    "Iya, Pak. Sudah Mak." Jono langsung menjawab karena ketakutan dengan bapaknya.

    "Kamu itu kenapa? Disuruh makan tidak mau makan. Ditanyai tidak menjawab. Aneh kamu itu. Kalau ada masalah itu bilang! Jangan membesar-besarkan masalah kecil, tapi segera diselesaikan agar tidak jadi masalah besar! Orang sudah dewasa. Sudah menikah. Kok masih kayak anak kecil." Kakek Yan masih dengan nada agak tinggi memarahi Jono.

    "Iya, Pak. Kata Ciblek." belum selesai Tuan Jono bicara langsung terputus oleh ibunya.

    "Tapi kenapa? Ciblek bilang apa??" ibunya langsung menanya pada anaknya.

    "Mamak memarahi Ciblek." jawab Jono sambil menundukkan kepalanya.

    "We, alah. Jono, Jono." ibunya mendorongkan jari telunjuknya di jidat anak kesayangannya itu. Lantas lanjutnya, "Istrimu mengadu ke kamu?! Terus kamu mau membela dia?! Bilang apa dia? Lapor apa sama kamu?"

    "Ciblek bilang, ia dimarahi Mamak." jawab Jono masih agak ragu, takut kalau ibunya semakin marah.

    "Jono, Jono. Kamu itu sudah menikah. Kamu itu sudah mulai berumah tangga. Mestinya kamu harus tahu istrimu itu seperti apa? Kamu harus tahu istrimu itu ngapain saja. Jangan cuman setuju kalau menerima laporan. Bagaimanapun juga, Ciblek itu istri kamu. Kamu harus bertanggung jawab terhadap sikap dan tingkah laku istri kamu. Tidak hanya ertanggung jawab terhadap keselamatan dan senangnya istri saja. Tetapi kamu berkewajiban menafkahi istri kamu. Termasuk kamu yang berkewajiban untuk membina, membimbing, dan mengajari istri kamu dalam membagun rumah tangga baru. Setidaknya istri kamu bisa mengurusi rumah tangga!" kata Nenek Kosen yang justru berbalik marah dan menasehati anaknya.

    "Iya. Betul itu. Kamu harus ngajari istri kamu menjadi perempuan yang bisa mengurusi rumah tangga. Masak orang perempuan tidak bisa masak, tidak bisa nyapu, tidak bisa mencuci. Bagaimana mau membangun rumah tangga yang tentram dan nyaman?" timpal Kakek Yan, yang tentunya juga ingin mengajari anaknya untuk bisa hidup berumah tangga dengan baik.

    "Tetapi, Mak?" lagi-lagi Tuan Jono ingin mengungkapkan aduan istrinya, namun kembali dipotong ibunya.

    "Tapi apa? Dari kecil kamu sudah saya didik untuk menjadi orang baik. Kenapa sekarang berani membantah orang tua?" Nenek Kosen mengingatkan anak kesayangannya.

    "Tapi Mak. Kata Ciblek, Mamak sudah mengusirnya." lanjut Jono.

    "Apa?!" sontak kedua orang tuanya kaget mendengar kata-kata anaknya itu.

    "Siapa yang bilang kalau saya mengusir istrimu?!" tentu Nenek Kosen marah mendengar kata-kata anaknya itu.

    "Jono! Jangan pernah memfitnah orang! Jangan pernah menuduh orang tanpa bukti! Itu pekerjaan setan, tahu! Kamu sudah berdosa besar! Kamu akan menderita, Jono! Kamu akan masuk neraka!" Kakek Yan juga ikut memarahi anaknya. Karena kata-kata anaknya itu sebenarnya sudah menyakiti hati orang tuanya, dengan menuduh dan memfitnahnya.

    Ya, anak yang berani dengan orang tua pasti akan mengalami celaka. Apalagi sampai menuduh orang tuanya yang tidak bersalah. Memfitnah yang tidak baik. Itu termasuk dosa besar yang tidak terampuni.

    Jono diam saja. Ia menundukkan kepalanya, memandangi meja yang ada di bawah matanya. Ia sangat takut dengan kemarahan orang tuanya. Pastinya ia merasa salah. Dan ia sadar kalau orang tuanya malam itu sangat marah pada dirinya. Tapi Jono juga bingung, mana yang benar, kata-kata istrinya apa orang tuanya? Benarkah itu hanya fitnah?

    "Harusnya kamu itu tahu, Jono! Selama istrimu di sini, dia itu sudah melakukan apa? Apa dia sudah memasakkan kamu? Sudah menyiapkan sarapan dan teh hangat untuk suaminya? Apa sudah masak untuk makan siang? Bahkan pakaianmu saja tidak ada yang mencuci. Apa kalau kamu sudah punya istri, pakaian kamu masih dicucikan Mamak? Hah?! Yang ngasih makan buat kamu juga Mamak? Hah?! Sekarang malah menuduh Mamak yang tidak benar." kata Nenek Kosen yang marah pada anaknya.

    Jono diam saja, ia menyadari kata-kata ibuya itu benar, dan istrinya belum becus untuk hidup membina rumah tangga baru. Istrinya tidak bisa masak, tidak bisa mencuci, apalagi mengurus rumahnya. Dan tentunya, Jono merasa bersalah karena sudah memilih perempuan yang ternyata tidak becus mengurusi urusan rumah tangga. Istri yang hanya bisa tiduran dan bermalas-malasan di kamar.

    Ya, Ciblek rupanya bukanlah perempuan ideal yang sempat ia bayangkan saat tertarik, saat jatuh cinta dengan perempuan itu. Ciblek hanya terlihat cantik dari jasmaniahnya saja. Tetapi dari keterampilan dalam mengurusi rumah tangga, nol sama sekali. Tentunya ibunya kecewa dengan menantunya itu. Tapi benarkah kata-kata Ciblek yang disampaikan ke dirinya? Apakah tega ibunya mengusir Ciblek?

    "Tapi, Pak. Tapi, Mak...." Jono ingin bicara, tetapi terputus.

    "Tapi apa?! Kenyataannya sudah ketahuan. Yang namanya perempuan itu, dimana-mana ia harus bisa mencuci, ia harus bisa memasak, ia harus bisa bersih-bersih rumah. Dan yang penting, ia harus bisa meladani suaminya. Tidak cuman tiduran saja. Tidak cuman duduk jegrang saja, tapi urusan rumah tangga tidak pernah dikerjakan. Perempuan macam apa istrimu itu?!" kata Nenek Kosen yang tentunya jengkel dengan menantunya itu, dan kini dilampiaskan kepada anaknya sendiri.

    "Sudah lah, Nek. Jangan dimarahi anakmu ini." kata Kakek Yan yang tidak tega melihat anaknya dimarahi.

    "Iya, Mak. Saya yang salah. Tapi, Ciblek itu penginnya punya pembantu, yang mengerjakan semua urusan rumah tangga kita." kata Jono yang menuturkan keinginan istrinya.

    Ucapan Jono itu, tentu membuat ibunya kaget. Dan pasti Nenek Kosen langsung naik pitam.

    "Apa?! Ingin punya pembantu?! Kere tidak tahu diri. Beruntung dia itu jadi istri kamu. Hidupnya langsung berubah drastis. Sekarang merasa jadi istri orang kaya, istri pegawai, jadi menantu orang kaya, inginnya kayak bendoro saja. Terus, kalau punya pembantu, dia mau jegrang nyuruh-nyuruh pembantunya, gitu?! Enak saja. Ketahui, ya Jono. Selama ini saya, Bapak kamu, bahkan Mbakyu kamu, tidak pernah punya pembantu. Untuk urusan rumah, kita kerjakan sendiri. Bahkan untuk urusan ternak, meski sudah ada dua orang yang ngurusi, Bapak kamu tetap ikut membantu, ikut ngurusi. Kamu lihat sendiri, kan? Bagamana Bapak dan Mamak kamu pontang-panting ngurusi rumah tangga? Mentang-mentang istrimu itu cantik, terus tidak mau bekerja? Dasar perempuan pemalas. Makanya hidupnya jadi kere!" kata Nenek Kosen yang tentu sangat marah pada anaknya itu dan pasti emosinya .

    "Sudah lah, Nek. Jangan berkata-kata kasar seperti itu. Tidak baik." Kakek Yan berusaha menenangkan istrinya. Terutama agar Nenek Kosen tidak berkata-kata yang menyinggung masalah kemiskinan dari keluarga menantunya.

    "Ya, tidak bisa lah, Kek. Ciblek itu sangat keterlaluan! Memfitnah orang semaunya. Dan sekarang malah minta macam-macam. Istri macam apa itu?"  sahut Nenek Kosen yang masih emosi.

    Memang, siapa orangnya yang tidak jengkel, jika mendengar seorang menantu perempuan yang tidak mau bekerja mengurusi rumah tangga, tetapi justru meminta yang aneh-aneh. Dan kala itu, belum ada rumah tangga di Kampung Pademangan yang punya pembantu rumah tangga. Bahkan Pak Lurah yang boleh dikatakan pekerjaan rumah tangganya banyak, ia juga tidak punya pembantu. Tetapi entah dari siapa ide itu, tiba-tiba saja Ciblek menuntut suaminya untuk mendatangkan pembantu rumah tangga untuk mengurusi pekerjaan rumahnya.

    "Maafkan saya, Mak. Tapi kata Ciblek, kalau di rumah ini tidak ada pembantu, dia tidak mau ke sini lagi. Dia mau pulang ke orang tuanya." kata si Jono yang tentu kebingungan.

    "Tobil tobil, anak kadal. Keterlaluan sekali istrimu itu. Orang kere kok macem-macem. Kalau memang tidak mau tinggal di sini, ya sudah, tidak usah diurusi! Biar saja tinggal di rumahnya yang reyot kayak kandang itu, yang tidak ada pekerjaannya yang harus dilakukan, bisa ongkang-ongkang. Dasar perempuan kurang ajar!" Tentu Nenek Kosen semakin kesal mendengar ancaman menantunya itu.

    "Tapi, Mak...." kata Jono yang langsung dipotong ibunya.

    "Tapi apa lagi?! Tidak perlu khawatir. Perempuan masih banyak. Kalau dia minta cerai, malah kebeneran! Saya memang tidak suka dengan istrimu itu!" bentak ibunya ketus sambil memalingkan kepala.

    "Nek, jangan berkata seperti itu. Tidak baik. Nanti kalau ada setan lewat, bahaya." sergah Kakek Yan yang terus berusaha menenangkan istrinya agar tidak marah-marah.

    Tuan Jono Diam. Tetapi ia langsung berdiri, berbalik tubuh. Lantas masuk ke kamarnya. Itu pertanda bahwa anak laki-laki kesayangan Nenek Kosen itu juga ikut-ikutan ngambek. Dan benar, sampai di kamar, si Jono langsung membanting pintunya.

    "Dueeerrr!" suara pintu kamar Tuan Jono yang ditutup secara keras, sebagai pertanda ia marah.

    Ibunya pasti kaget. Demikian juga bapaknya. Pastinya mereka agak menyesal, karena anaknya tidak bisa dinasehati.

Episodes
1 BAB I: PERNIKAHAN TUAN JONO
2 BAB 2: NGUNDUH MANTU
3 BAB 3: TINGGAL BERSAMA MERTUA
4 BAB 4: MEMARAHI ANAK KESAYANGAN
5 BAB 5: PENYESALAN
6 BAB 6: MINTA PEMBANTU
7 BAB 7: PUNYA PEMBANTU
8 BAB 8: PUNYA PEMBANTU
9 BAB 9: PEMBANTU BARU
10 BAB 10: CERITA SAAT MENCUCI
11 BAB 11: PEMBANTU MINTA PULANG
12 BAB 12: DIMARAHI ORANG TUA
13 BAB 13: NGAMBEK LAGI
14 BAB 14: KEMBALI MEMINTA SYARAT
15 BAB 15: MEMINTA RUMAH
16 BAB 16: MEMINDAH RUMAH
17 BAB 17: RUMAH YANG BUTUH KERAMAIAN
18 BAB 18: PENGGEMBALA CILIK
19 BAB 19: RUMAH YANG KOTOR
20 BAB 20: BERONTAK
21 BAB 21: KEGUGURAN
22 BAB 22: RUMAH POHON
23 BAB 23: MENJADI ANAK KAKEK DAN NENEK
24 BAB 24: ANAK PINTAR
25 BAB 25: PENCURI KAYU BAKAR
26 BAB 26: ANAK PERTAMA
27 BAB 27: PERUBAHAN ZAMAN
28 BAB 28: MURID TELADAN
29 BAB 29: SEKOLAH FAVORIT
30 BAB 30: BERAS DIMAKAN GERANDONG
31 BAB 31: MENYINGKIRKAN KELUARGA MERTUA
32 BAB 32: ADIK NAKAL
33 BAB 33: ANAK PINTAR
34 BAB 34: MEMBUKA WARUNG
35 BAB 35: INTERKOM
36 BAB 36: HARUS OPNAM
37 BAB 37: TELAH HILANG GIGI EMAS
38 BAB 38: DICARIKAN PACAR
39 BAB 39: PENCURI WARUNG
40 BAB 40: MAKLAR TANAH
41 BAB 41: MOTOR BARU
42 BAB 42: RUMAH GEDUNG
43 BAB 44: MINTA MOBIL
44 BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
45 BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
46 BAB 43: JIMAT PENUNGGU RUMAH
47 BAB 44: MINTA MOBIL
48 BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
49 BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
50 BAB 47: JADI GURU
51 BAB 48: SAYANG NENEK
52 BAB 49: PAMER GELANG
53 BAB 50: BERUBAH SIFAT
54 BAB 51: WATAK PUN BERUBAH
55 BAB 52: NAIK HAJI
56 BAB 53: PULANG HAJI
57 BAB 54: HAJI MABRUR
58 BAB 55: AGAMIS
59 BAB 56: KELUH KESAH SEORANG NENEK
60 BAB 57: PUSAKA LELUHUR
61 BAB 58: SEMAKIN MENYIMPANG
62 BAB 59: SEMUANYA BISA
63 BAB 60: JIKA ADA UANG JADI GAMPANG
64 BAB 61: PENGUSAHA HEBAT
65 BAB 62: PENGUSAHA GAGAL
66 BAB 63: JADI DOKTER
67 BAB 64: WANITA PELENGKAP
68 BAB 65: DEMO
69 BAB 66: NENEK SAKIT
70 BAB 67: KEHILANGAN ORANG-ORANG TERCINTA
71 BAB 68: SEMUA MENUNGGU
72 BAB 69: PENSIUNAN MENYUSAHKAN
73 BAB 70: TETAP MERASA HEBAT
74 BAB 71: MEMBAGI WARISAN
75 BAB 72: MENUNTUT LEBIH
76 BAB 73: SERANGAN JANTUNG
77 BAB 74: DOKTER SOMBONG
78 BAB 75: BAYANG HITAM
79 BAB 76: TUAN JONO MENINGGAL
80 BAB 77: LEBARAN KELABU
81 BAB 78: ORANG-ORANG SERAKAH
82 BAB 79: IKHLAS
83 BAB 80: INNA MA'AL USRI YUSRA
84 BAB 81: WARISAN TERKUTUK
85 BAB 82: KATA-KATA MENYAKITKAN
86 BAB 83: PENJAGA ITU TERNYATA ADA
87 BAB 84: TEROR PERTAMA
88 BAB 85: SIAPA YANG TIDAK PERCAYA HANTU?
89 BAB 86: TEROR KEDUA
90 BAB 87: PERINGATAN DOSA
91 BAB 88: PENANTANG SETAN
92 BAB 89: JANGAN GEGABAH
93 BAB 90: BANASPATI
94 BAB 91: DUKUN SAKTI
95 BAB 92: TAK PERNAH JERA
96 BAB 93: KEHILANGAN KAKI
97 BAB 94: MENANTANG SETAN
98 BAB 95: KEMARAHAN ISTRI
99 BAB 96: ANCAMAN ULAR
100 BAB 97: TATO KULIT ULAR
101 BAB 98: IKATAN NAGA GINI
Episodes

Updated 101 Episodes

1
BAB I: PERNIKAHAN TUAN JONO
2
BAB 2: NGUNDUH MANTU
3
BAB 3: TINGGAL BERSAMA MERTUA
4
BAB 4: MEMARAHI ANAK KESAYANGAN
5
BAB 5: PENYESALAN
6
BAB 6: MINTA PEMBANTU
7
BAB 7: PUNYA PEMBANTU
8
BAB 8: PUNYA PEMBANTU
9
BAB 9: PEMBANTU BARU
10
BAB 10: CERITA SAAT MENCUCI
11
BAB 11: PEMBANTU MINTA PULANG
12
BAB 12: DIMARAHI ORANG TUA
13
BAB 13: NGAMBEK LAGI
14
BAB 14: KEMBALI MEMINTA SYARAT
15
BAB 15: MEMINTA RUMAH
16
BAB 16: MEMINDAH RUMAH
17
BAB 17: RUMAH YANG BUTUH KERAMAIAN
18
BAB 18: PENGGEMBALA CILIK
19
BAB 19: RUMAH YANG KOTOR
20
BAB 20: BERONTAK
21
BAB 21: KEGUGURAN
22
BAB 22: RUMAH POHON
23
BAB 23: MENJADI ANAK KAKEK DAN NENEK
24
BAB 24: ANAK PINTAR
25
BAB 25: PENCURI KAYU BAKAR
26
BAB 26: ANAK PERTAMA
27
BAB 27: PERUBAHAN ZAMAN
28
BAB 28: MURID TELADAN
29
BAB 29: SEKOLAH FAVORIT
30
BAB 30: BERAS DIMAKAN GERANDONG
31
BAB 31: MENYINGKIRKAN KELUARGA MERTUA
32
BAB 32: ADIK NAKAL
33
BAB 33: ANAK PINTAR
34
BAB 34: MEMBUKA WARUNG
35
BAB 35: INTERKOM
36
BAB 36: HARUS OPNAM
37
BAB 37: TELAH HILANG GIGI EMAS
38
BAB 38: DICARIKAN PACAR
39
BAB 39: PENCURI WARUNG
40
BAB 40: MAKLAR TANAH
41
BAB 41: MOTOR BARU
42
BAB 42: RUMAH GEDUNG
43
BAB 44: MINTA MOBIL
44
BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
45
BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
46
BAB 43: JIMAT PENUNGGU RUMAH
47
BAB 44: MINTA MOBIL
48
BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
49
BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
50
BAB 47: JADI GURU
51
BAB 48: SAYANG NENEK
52
BAB 49: PAMER GELANG
53
BAB 50: BERUBAH SIFAT
54
BAB 51: WATAK PUN BERUBAH
55
BAB 52: NAIK HAJI
56
BAB 53: PULANG HAJI
57
BAB 54: HAJI MABRUR
58
BAB 55: AGAMIS
59
BAB 56: KELUH KESAH SEORANG NENEK
60
BAB 57: PUSAKA LELUHUR
61
BAB 58: SEMAKIN MENYIMPANG
62
BAB 59: SEMUANYA BISA
63
BAB 60: JIKA ADA UANG JADI GAMPANG
64
BAB 61: PENGUSAHA HEBAT
65
BAB 62: PENGUSAHA GAGAL
66
BAB 63: JADI DOKTER
67
BAB 64: WANITA PELENGKAP
68
BAB 65: DEMO
69
BAB 66: NENEK SAKIT
70
BAB 67: KEHILANGAN ORANG-ORANG TERCINTA
71
BAB 68: SEMUA MENUNGGU
72
BAB 69: PENSIUNAN MENYUSAHKAN
73
BAB 70: TETAP MERASA HEBAT
74
BAB 71: MEMBAGI WARISAN
75
BAB 72: MENUNTUT LEBIH
76
BAB 73: SERANGAN JANTUNG
77
BAB 74: DOKTER SOMBONG
78
BAB 75: BAYANG HITAM
79
BAB 76: TUAN JONO MENINGGAL
80
BAB 77: LEBARAN KELABU
81
BAB 78: ORANG-ORANG SERAKAH
82
BAB 79: IKHLAS
83
BAB 80: INNA MA'AL USRI YUSRA
84
BAB 81: WARISAN TERKUTUK
85
BAB 82: KATA-KATA MENYAKITKAN
86
BAB 83: PENJAGA ITU TERNYATA ADA
87
BAB 84: TEROR PERTAMA
88
BAB 85: SIAPA YANG TIDAK PERCAYA HANTU?
89
BAB 86: TEROR KEDUA
90
BAB 87: PERINGATAN DOSA
91
BAB 88: PENANTANG SETAN
92
BAB 89: JANGAN GEGABAH
93
BAB 90: BANASPATI
94
BAB 91: DUKUN SAKTI
95
BAB 92: TAK PERNAH JERA
96
BAB 93: KEHILANGAN KAKI
97
BAB 94: MENANTANG SETAN
98
BAB 95: KEMARAHAN ISTRI
99
BAB 96: ANCAMAN ULAR
100
BAB 97: TATO KULIT ULAR
101
BAB 98: IKATAN NAGA GINI

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!