Setelah Kakek Yan dan Nenek Kosen berpindah rumah, tidak lagi menjadi satu dengan anak bungsunya, Tuan Jono, tentunya mereka berdua tidak pernah lagi menengok ataupun mengurusi rumah utama yang kini ditempati oleh anak bersama istrinya tersebut. Nenek Kosen tidak pernah lagi menengok dapur yang ditinggalkannya. Bahkan peralatan dapur yang sangat banyak, yang ditinggalkan di dapur yang dulu sering ia pakai untuk memasak, kini tak pernah lagi disentuhnya, bahkan dilihat saja tidak.
Demikian juga Kakek Yan, yang dulu setiap sore menyapu halaman rumah, membakar daun-daun kering di pojok pekarangan, kini tidak pernah disentuhnya lagi. Dan sapu lidi yang dulu selalu ia pakai untuk menyapu, sekarang ditaruh entah di mana, sudah tidak diurusi lagi.
Di rumah yang baru, Kakek Yan sudah membuat sendiri sapu yang baru, dari lidi daun kelapa yang diambil dari pohon yang ada di pekarangan belakang rumah. Begitu juga Nenek Kosen yang setiap hari ke pasar untuk menjual dagangannya, setiap pulang dari pasar menyempatkan membeli perkakas dapur, agar peralatan masaknya lengkap.
Sebenarnya Kakek Yan sudah tidak mempedulikan anak dan menantunya yang sudah diberi rumah sendiri. Kakek Yan lebih fokus untuk menata rumahnya yang baru. Setidaknya agar kekurangan-kekurangan bangunan rumahnya bisa segera dilengkapi. Sehingga rumahnya nampak bagus. Makanya terkadang masih ada tukang yang bekerja di rumah Kakek Yan untuk menyelesaikan kekurangannya.
Namun saat Kakek Yan melintas di jalan depan rumah Jono, alangkah kecewanya dia. Kakek Yan menyaksikan, betapa kotornya halaman rumahnya yang dulu pernah ia tinggali, dan kini diwariskan kepada anaknya. Nampak sekali kalau rumah serta halaman dan pekarangannya tidak pernah disapu oleh anak maupun menantunya. Sehingga di pelataran itu menumpuk sampah daun-daun kering yang berserakan. Sangat kotor dan jorok. Tentu Kakek Yan langsung memanggil anaknya.
"Jono! Jono! Jono!" teriak Kakek Yan di pelataran rumah yang kini ditempati oleh Jono bersama istrinya.
"Jangan teriak-teriak! Mas Jono kerja. Belum pulang." jawab menantunya dari balik pintu dalam rumahnya, yang malah melarang mertua laki-lakinya berteriak memanggil Jono.
Kakek Yan yang semula ingin memarahi anaknya, akhirnya tidak jadi, manakala yang terlihat dari rumah itu adalah Ciblek, istri anak bungsunya, yang memang tidak menghormati mertuanya. Entah ia tahu atau tidak kalau yang memanggil suaminya itu adalah ayah mertuanya, atau memang Ciblek itu perempuan yang tidak tahu unggah ungguh atau sopan santun. Kenyataannya, kata-kata yang terucap dari Ciblek itu menunjukkan kalau ia tidak mau disapa orang lain.
Maka begitu Kakek Yan tahu kalau yang ada di rumah adalah menantunya, dan jawabannya tidak enak didengar telinga, Kakek Yan langsung membalikkan badan. Pergi meninggalkan pelataran rumah itu tanpa keluar sepatah kata pun. Ia tidak ingin lebih sakit sati kalau sampai nanti malah diusir menantunya.
Mungkin Kakek Yan sudah jengkel dengan perempuan menantunya itu. Mungkin Kakek Yan sudah tidak mau memberikan nasehat untuk Ciblek. Dalam pemikiran Kakek Yan mengatakan, apa gunanya menyuruh atau menasehati orang yang dungu, berhati sekeras batu. Kalau pun menyuruh, pasti juga tidak akan dilaksanakan. Apalagi menasehati, masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Atau malah mungkin tidak didengarkan sama sekali.
Walau Kakek Yan rasanya ingin marah, tetapi dia masih bisa mengendalikan diri. Masih bisa mengendalikan emosinya. Hanya wajahnya yang tampak memerah karena kesal dengan anak dan menantunya yang kenyataannya tidak sanggup menata rumah tangganya tersebut. Hal itu tentunya membuat Kakek Yan malu dengan para tetangga, yang melihat kotornya halaman rumah anaknya tersebut. Itu belum tahu dalamnya. Entah seperti apa rupa kamar dan dapurnya. Itu menunjukkan kalau anaknya adalah pemalas, tidak mau menyapu halaman dan pekarangan rumahnya. Padahal dulu, waktu rumah itu masih ditempati Kakek Yan, rumah itu selalu bersih. Tidak ada sampah yang tercecer.
"Kenapa, Kek? Kok wajahnya mengkerut seperti itu?" tanya Nenek Kosen yang melihat suaminya masuk rumah dengan muka gelap, pertanda ada yang tidak berkenan.
"Itu, rumah Jono. Kotor tidak karuan. Daun yang rontok tidak pernah disapu. Berserakan ke mana-mana, bahkan sudah memenuhi terasnya." jawab Kakek Yan yang langsung menyelonjorkan kakinya di bangku kayu yang ada di ruang depan rumahnya.
"Yaaah. Mau apa lagi, Kek. Itulah kenyataan menantu kita. Pemalas, tapi selalu menuntut macam-macam. Sudah nasibnya Jono. Ibarat orang dadu, main judi. Jono itu kalah main tebakan dadu." kata Nenek Kosen, sambil memberikan minuman teh secangkir besar. Cangkir yang terbuat dari seng dengan cat warna putih lorek-lorek hijau, sebagai tempat minum khusus untuk Kakek Yan.
"Halah. Nenek itu lho. Kok kayak tahu orang kalah dadu saja." sahut Kakek Yan yang tentunya menganggap istrinya itu mengada-ada, perempuan yang tidak tahu perjudian, apalagi dadu.
"Lhah, iya lah Kek. Orang dadu itu kan waktu pasang taruhan menebak angka, dia yakin bakalan menang. Kalau tebakannya itu pas, tepat dan benar, maka ia akan mendapatkan uang yang banyak. Ia menang, dan pastinya senang karena akan jadi kaya raya. Tapi setelah tempurungnya dibuka oleh bandar, dadunya kelihatan. Nha. Pasangnya ternyata salah, keliru. Uang taruhannya ditarik oleh bandarnya. Ia kalah, bangkrut, uangnya habis. Tidak bisa apa-apa lagi." kata Nenek Kosen yang seakan paham betul tentang cara bermain dadu.
"Ini hidup berumah tangga, Nek. Beda dengan dadu, beda dengan judi. Kalau orang judi itu jelas, hanya antara menang atau kalah. Tapi, kalau menikah itu tidak hanya siapa yang menang siapa yang kalah. Tetapi baik dan buruknya rumah tangga. Tentram dan bubrahnya keluarga. Aman dan nyamannya orang-orang yang ada dalam rumah itu." jelas Kakek Yan yang tidak mau disamakan antara pernikahan dengan pasang dadu.
"Iya, Kek. Tapi kenyataannya. Sekarang kita tersingkir dari rumah kita sendiri. Kita diusir oleh menantu. Rumah yang mestinya memang haknya Jono, dipaksa harus diminta dan mengakibatkan kita pergi. Dan akhirnya? Keluarga Jono tidak karu-karuan. Memang Ciblek itu perempuan kurang ajar." sahut Nenek Kosen yang menegaskan keadaan keluarganya, dan tentunya menjadi emosi dengan tingkah menantunya sendiri.
"Bukan diusir. Tetapi kita mengalah demi kebaikan keluarga anak." sahut Kakek Yan yang meluruskan kata-kata istrinya.
"Alaaah. Sama saja!" sergah Nenek Kosen yang semakin jengkel.
"Lhah, kemarin Nenek sudah setuju kalau kita pindah. Setuju kalau kita tinggal di rumah sendiri. Katanya biar Jono bisa mandiri." kata Kakek Yan yang mengingatkan istrinya.
"Iya. Tapi kenyataannya. Kita memindah rumah saja Ciblek juga tidak ikut membantu. Padahal rumahnya dibongkar. Nongol keluar saja juga tidak. Dan Ciblek itu diomong oleh para tetangga." sahut Nenek Kosen yang pastinya kecewa.
"Kan Ciblek baru hamil muda." sahut Kakek Yan.
"Alasan!" gerutu Nenek Kosen.
Memang Kakek Yan dan Nenek Kosen, pada akhirnya merasa bersalah saat memanjakan Jono. Walau kala itu Nenek Kosen sudah bersikeras untuk menolak perempuan calon menantu pilihan anaknya, dengan alasan "bibit, bebet, bobot" yang tidak sesuai dengan yang diharapkan orang tuanya. Namun kenyataannya Nenek Kosen akhirnya setuju, setelah berkali-kali Jono ngambek dan tidak pulang ke rumah. Sehingga kalau sekarang keluarga anaknya seperti itu, menantunya malas tidak mau menyapu halaman rumah, bahkan Jono sendiri juga tidak mendidik dan menuntun istrinya dengan baik, tentu itu semua karena Jono. Perempuan itu adalah pilihan Jono. Mestinya, Jono sebagai kepala keluarga, sebagai suami, harus bisa mengatur istrinya, harus bisa menyuruh istrinya, harus bisa membina istrinya. Bukan sebaliknya, kalau ada apa-apa, Jono selalu mengalah. Jono menuruti semua perintah istrinya. Bahkan seakan takut dengan istrinya. Jono seperti disetir oleh Ciblek. Sampai-sampai, mencuci pakaian ke sendang saja, Jono sendiri yang melakukannya.
Maka tidak heran, kalau teman-teman seangkatan Jono di kampungnya, sering mengejek dirinya sebagai laki-laki ketuk, yaitu seorang suami yang tidak diperbolehkan keluar oleh istrinya. Laki-laki yang dikempit dalam ketiak istrinya. Atau ada juga yang mengejek kalau Jono itu sudah menjadi "suami pingitan" yaitu orang yang harus tinggal di rumah, tidak boleh keluar, tidak tahu keadaan di luar rumahnya. Termasuk para tetangganya, terutama kaum ibu, sering meledek pada Jono saat mencuci di sendang. yang katanya, "Wah, Mas Jono sekarang rajin mencuci. Mas Jono ini seorang bapak rumah tangga yang baik. Wah, kalau aku punya suami seperti Mas Jono, pasti senang, tidak repot dan santai." Padahal kata-kata itu adalah ejekan dari perempuan-perempuan yang tidak nyaman melihat Jono mencuci pakaian dalam istrinya.
Kasihan memang si Jono. Begitu manjanya Ciblek, ah bukan manja, tapi galak, sehingga semua pekerjaan rumah tangga dikerjakan oleh Jono sendirian. Tidak hanya mencuci pakaian, tetapi juga masak dan mencuci perkakas dapur. Padahal kalau pagi, ia juga tergesa untuk berangkat kerja. Sehingga tentu, ia tidak sanggup untuk menyapu halaman, membersihkan pekarangan rumah, serta membakar sampah-sampah kering di pekarangannya. Sangat jauh dengan yang biasa dilakukan oleh bapaknya.
"Jono! Jono! Bapak mau bicara sama kamu." begitu kata Kakek Yan, saat tahu anaknya baru saja pulang dari kerja. Mungkin Kakek Yan sudah memantau kepulangan anaknya. Sudah ditunggu kepulangan anaknya. Sengaja ia akan bicara dengan Jono. Sebagai pegawai perangkat pemerintahan, tentu pulangnya sudah melewati siang hari.
"Iya, Pak." jawab Jono yang belum sempat masuk rumah, masih di teras langsung membalikkan badan dan berjalan ke pelataran, hampir dekat di jalan, untuk menemui bapaknya.
"Bapak mau bicara sebentar." kata Kakek Yan yang hanya berdiri di pinggir jalan masuk ke rumah Jono, di tepi pagar hidup dari tanaman pohon luntas yang kini semakin tidak karuan bentuknya, karena tidak pernah dipangkas dan tidak ada orang yang berani mengambil untuk dimasak.
"Ada apa, Pak?" tanya Jono yang tentu ingin tahu.
"Coba kamu lihat! Pekaranganmu itu kotorannya sudah tidak karuan. Bahkan sampah-sampahnya sudah sampai di teras rumah. Kenapa tidak pernah disapu?" kata Kakek Yan pada anaknya.
"Anu, Pak. Anu..." kata Jono yang bingung untuk menjawabnya.
"Kamu mau bilang tidak sempat, iya?!" tukas Kakek Yan.
"Iya, Pak." jawab Jono sambil menundukkan kepalanya.
"Suruh istrimu untuk menyapu! Kamu itu kepala keluarga! Kamu yang memimpin rumah tangga. Jadi suami itu jangan imbas-imbis. Masak suami tidak bisa mengatur istrinya. Suami macam apa kamu itu?! Apalagi kamu itu perangkat pemerintahan, harusnya bisa memberi contoh yang baik kepada warga! Bukannya malah menunjukkan keburukannya dengan rumah yang tidak pernah di sapu, sampahnya menumpuk. Payah!" suara Kakek Yan sangat keras, sehingga tentunya terdengar oleh para tetangganya. Tak heran, beberapa orang tetangga langsung keluar rumah dan menengok dan banyak yang mengintip Kakek Yan yang memarahi Jono.
"Iya, Pak." Jono hanya bisa menunduk, dan tentunya sambil meneteskan air mata. Tentunya ia sangat memahami kata-kata bapaknya, dan juga menyesal dengan semua yang terjadi dalam keluarganya.
Kakek Yan sadar diri, kalau suaranya itu sudah membuat para tetangganya menguping dan mengintip. Ia tidak mau keburukan anaknya diketahui banyak orang. Kakek Yan juga tidak ingin orang lain pada melihat dirinya yang memarahi anaknya. Maka Kakek Yan langsung berhenti marah. Ia langsung pergi meninggalkan Jono yang berada di halaman rumah. Kakek Yan pulang untuk menenangkan hatinya.
Ya, bagi orang kampung, apalagi di Pademangan yang warga masyarakatnya homogin sebagai petani, sangat menjaga kebersamaan hidup. Biasanya kalau mendengar ada suara keras atau teriakan, maka mereka langsung berdatangan ingin tahu. Dan tentunya, dengan adanya Kakek Yan yang memarahi Jono di halaman rumahnya, maka orang sekampung langsung tahu persoalannya.
Jono masuk rumah dengan menunduk. Hatinya remuk sudah dimarahi oleh bapaknya, dan dilihat oleh orang banyak. Jono pastinya sangat jengkel dengan istrinya yang tidak pernah mau memegang pekerjaan
Yah, semua itu gara-gara Ciblek, istri Jono yang pemalas. Perempuan yang tidak tahu diri. Perempuan yang tidak mau mengerti urusan pekerjaan rumah tangga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments