BAB 19: RUMAH YANG KOTOR

    Setelah Kakek Yan dan Nenek Kosen berpindah rumah, tidak lagi menjadi satu dengan anak bungsunya, Tuan Jono, tentunya mereka berdua tidak pernah lagi menengok ataupun mengurusi rumah utama yang kini ditempati oleh anak bersama istrinya tersebut. Nenek Kosen tidak pernah lagi menengok dapur yang ditinggalkannya. Bahkan peralatan dapur yang sangat banyak, yang ditinggalkan di dapur yang dulu sering ia pakai untuk memasak, kini tak pernah lagi disentuhnya, bahkan dilihat saja tidak.

    Demikian juga Kakek Yan, yang dulu setiap sore menyapu halaman rumah, membakar daun-daun kering di pojok pekarangan, kini tidak pernah disentuhnya lagi. Dan sapu lidi yang dulu selalu ia pakai untuk menyapu, sekarang ditaruh entah di mana, sudah tidak diurusi lagi.

    Di rumah yang baru, Kakek Yan sudah membuat sendiri sapu yang baru, dari lidi daun kelapa yang diambil dari pohon yang ada di pekarangan belakang rumah. Begitu juga Nenek Kosen yang setiap hari ke pasar untuk menjual dagangannya, setiap pulang dari pasar menyempatkan membeli perkakas dapur, agar peralatan masaknya lengkap.

    Sebenarnya Kakek Yan sudah tidak mempedulikan anak dan menantunya yang sudah diberi rumah sendiri. Kakek Yan lebih fokus untuk menata rumahnya yang baru. Setidaknya agar kekurangan-kekurangan bangunan rumahnya bisa segera dilengkapi. Sehingga rumahnya nampak bagus. Makanya terkadang masih ada tukang yang bekerja di rumah Kakek Yan untuk menyelesaikan kekurangannya.

    Namun saat Kakek Yan melintas di jalan depan rumah Jono, alangkah kecewanya dia. Kakek Yan menyaksikan, betapa kotornya halaman rumahnya yang dulu pernah ia tinggali, dan kini diwariskan kepada anaknya. Nampak sekali kalau rumah serta halaman dan pekarangannya tidak pernah disapu oleh anak maupun menantunya. Sehingga di pelataran itu menumpuk sampah daun-daun kering yang berserakan. Sangat kotor dan jorok. Tentu Kakek Yan langsung memanggil anaknya.

    "Jono! Jono! Jono!" teriak Kakek Yan di pelataran rumah yang kini ditempati oleh Jono bersama istrinya.

    "Jangan teriak-teriak! Mas Jono kerja. Belum pulang." jawab menantunya dari balik pintu dalam rumahnya, yang malah melarang mertua laki-lakinya berteriak memanggil Jono.

    Kakek Yan yang semula ingin memarahi anaknya, akhirnya tidak jadi, manakala yang terlihat dari rumah itu adalah Ciblek, istri anak bungsunya, yang memang tidak menghormati mertuanya. Entah ia tahu atau tidak kalau yang memanggil suaminya itu adalah ayah mertuanya, atau memang Ciblek itu perempuan yang tidak tahu unggah ungguh atau sopan santun. Kenyataannya, kata-kata yang terucap dari Ciblek itu menunjukkan kalau ia tidak mau disapa orang lain.

    Maka begitu Kakek Yan tahu kalau yang ada di rumah adalah menantunya, dan jawabannya tidak enak didengar telinga, Kakek Yan langsung membalikkan badan. Pergi meninggalkan pelataran rumah itu tanpa keluar sepatah kata pun. Ia tidak ingin lebih sakit sati kalau sampai nanti malah diusir menantunya.

    Mungkin Kakek Yan sudah jengkel dengan perempuan menantunya itu. Mungkin Kakek Yan sudah tidak mau memberikan nasehat untuk Ciblek. Dalam pemikiran Kakek Yan mengatakan, apa gunanya menyuruh atau menasehati orang yang dungu, berhati sekeras batu. Kalau pun menyuruh, pasti juga tidak akan dilaksanakan. Apalagi menasehati, masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Atau malah mungkin tidak didengarkan sama sekali.

    Walau Kakek Yan rasanya ingin marah, tetapi dia masih bisa mengendalikan diri. Masih bisa mengendalikan emosinya. Hanya wajahnya yang tampak memerah karena kesal dengan anak dan menantunya yang kenyataannya tidak sanggup menata rumah tangganya tersebut. Hal itu tentunya membuat Kakek Yan malu dengan para tetangga, yang melihat kotornya halaman rumah anaknya tersebut. Itu belum tahu dalamnya. Entah seperti apa rupa kamar dan dapurnya. Itu menunjukkan kalau anaknya adalah pemalas, tidak mau menyapu halaman dan pekarangan rumahnya. Padahal dulu, waktu rumah itu masih ditempati Kakek Yan, rumah itu selalu bersih. Tidak ada sampah yang tercecer.

    "Kenapa, Kek? Kok wajahnya mengkerut seperti itu?" tanya Nenek Kosen yang melihat suaminya masuk rumah dengan muka gelap, pertanda ada yang tidak berkenan.

    "Itu, rumah Jono. Kotor tidak karuan. Daun yang rontok tidak pernah disapu. Berserakan ke mana-mana, bahkan sudah memenuhi terasnya." jawab Kakek Yan yang langsung menyelonjorkan kakinya di bangku kayu yang ada di ruang depan rumahnya.

    "Yaaah. Mau apa lagi, Kek. Itulah kenyataan menantu kita. Pemalas, tapi selalu menuntut macam-macam. Sudah nasibnya Jono. Ibarat orang dadu, main judi. Jono itu kalah main tebakan dadu." kata Nenek Kosen, sambil memberikan minuman teh secangkir besar. Cangkir yang terbuat dari seng dengan cat warna putih lorek-lorek hijau, sebagai tempat minum khusus untuk Kakek Yan.

    "Halah. Nenek itu lho. Kok kayak tahu orang kalah dadu saja." sahut Kakek Yan yang tentunya menganggap istrinya itu mengada-ada, perempuan yang tidak tahu perjudian, apalagi dadu.

    "Lhah, iya lah Kek. Orang dadu itu kan waktu pasang taruhan menebak angka, dia yakin bakalan menang. Kalau tebakannya itu pas, tepat dan benar, maka ia akan mendapatkan uang yang banyak. Ia menang, dan pastinya senang karena akan jadi kaya raya. Tapi setelah tempurungnya dibuka oleh bandar, dadunya kelihatan. Nha. Pasangnya ternyata salah, keliru. Uang taruhannya ditarik oleh bandarnya. Ia kalah, bangkrut, uangnya habis. Tidak bisa apa-apa lagi." kata Nenek Kosen yang seakan paham betul tentang cara bermain dadu.

    "Ini hidup berumah tangga, Nek. Beda dengan dadu, beda dengan judi. Kalau orang judi itu jelas, hanya antara menang atau kalah. Tapi, kalau menikah itu tidak hanya siapa yang menang siapa yang kalah. Tetapi baik dan buruknya rumah tangga. Tentram dan bubrahnya keluarga. Aman dan nyamannya orang-orang yang ada dalam rumah itu." jelas Kakek Yan yang tidak mau disamakan antara pernikahan dengan pasang dadu.

    "Iya, Kek. Tapi kenyataannya. Sekarang kita tersingkir dari rumah kita sendiri. Kita diusir oleh menantu. Rumah yang mestinya memang haknya Jono, dipaksa harus diminta dan mengakibatkan kita pergi. Dan akhirnya? Keluarga Jono tidak karu-karuan. Memang Ciblek itu perempuan kurang ajar." sahut Nenek Kosen yang menegaskan keadaan keluarganya, dan tentunya menjadi emosi dengan tingkah menantunya sendiri.

    "Bukan diusir. Tetapi kita mengalah demi kebaikan keluarga anak." sahut Kakek Yan yang meluruskan kata-kata istrinya.

    "Alaaah. Sama saja!" sergah Nenek Kosen yang semakin jengkel.

    "Lhah, kemarin Nenek sudah setuju kalau kita pindah. Setuju kalau kita tinggal di rumah sendiri. Katanya biar Jono bisa mandiri." kata Kakek Yan yang mengingatkan istrinya.

    "Iya. Tapi kenyataannya. Kita memindah rumah saja Ciblek juga tidak ikut membantu. Padahal rumahnya dibongkar. Nongol keluar saja juga tidak. Dan Ciblek itu diomong oleh para tetangga." sahut Nenek Kosen yang pastinya kecewa.

    "Kan Ciblek baru hamil muda." sahut Kakek Yan.

    "Alasan!" gerutu Nenek Kosen.

    Memang Kakek Yan dan Nenek Kosen, pada akhirnya merasa bersalah saat memanjakan Jono. Walau kala itu Nenek Kosen sudah bersikeras untuk menolak perempuan calon menantu pilihan anaknya, dengan alasan "bibit, bebet, bobot" yang tidak sesuai dengan yang diharapkan orang tuanya. Namun kenyataannya Nenek Kosen akhirnya setuju, setelah berkali-kali Jono ngambek dan tidak pulang ke rumah. Sehingga kalau sekarang keluarga anaknya seperti itu, menantunya malas tidak mau menyapu halaman rumah, bahkan Jono sendiri juga tidak mendidik dan menuntun istrinya dengan baik, tentu itu semua karena Jono. Perempuan itu adalah pilihan Jono. Mestinya, Jono sebagai kepala keluarga, sebagai suami, harus bisa mengatur istrinya, harus bisa menyuruh istrinya, harus bisa membina istrinya. Bukan sebaliknya, kalau ada apa-apa, Jono selalu mengalah. Jono menuruti semua perintah istrinya. Bahkan seakan takut dengan istrinya. Jono seperti disetir oleh Ciblek. Sampai-sampai, mencuci pakaian ke sendang saja, Jono sendiri yang melakukannya.

    Maka tidak heran, kalau teman-teman seangkatan Jono di kampungnya, sering mengejek dirinya sebagai laki-laki ketuk, yaitu seorang suami yang tidak diperbolehkan keluar oleh istrinya. Laki-laki yang dikempit dalam ketiak istrinya. Atau ada juga yang mengejek kalau Jono itu sudah menjadi "suami pingitan" yaitu orang yang harus tinggal di rumah, tidak boleh keluar, tidak tahu keadaan di luar rumahnya. Termasuk para tetangganya, terutama kaum ibu, sering meledek pada Jono saat mencuci di sendang. yang katanya, "Wah, Mas Jono sekarang rajin mencuci. Mas Jono ini seorang bapak rumah tangga yang baik. Wah, kalau aku punya suami seperti Mas Jono, pasti senang, tidak repot dan santai." Padahal kata-kata itu adalah ejekan dari perempuan-perempuan yang tidak nyaman melihat Jono mencuci pakaian dalam istrinya.

    Kasihan memang si Jono. Begitu manjanya Ciblek, ah bukan manja, tapi galak, sehingga semua pekerjaan rumah tangga dikerjakan oleh Jono sendirian. Tidak hanya mencuci pakaian, tetapi juga masak dan mencuci perkakas dapur. Padahal kalau pagi, ia juga tergesa untuk berangkat kerja. Sehingga tentu, ia tidak sanggup untuk menyapu halaman, membersihkan pekarangan rumah, serta membakar sampah-sampah kering di pekarangannya. Sangat jauh dengan yang biasa dilakukan oleh bapaknya.

    "Jono! Jono! Bapak mau bicara sama kamu." begitu kata Kakek Yan, saat tahu anaknya baru saja pulang dari kerja. Mungkin Kakek Yan sudah memantau kepulangan anaknya. Sudah ditunggu kepulangan anaknya. Sengaja ia akan bicara dengan Jono.  Sebagai pegawai perangkat pemerintahan, tentu pulangnya sudah melewati siang hari.

    "Iya, Pak." jawab Jono yang belum sempat masuk rumah, masih di teras langsung membalikkan badan dan berjalan ke pelataran, hampir dekat di jalan, untuk menemui bapaknya.

    "Bapak mau bicara sebentar." kata Kakek Yan yang hanya berdiri di pinggir jalan masuk ke rumah Jono, di tepi pagar hidup dari tanaman pohon luntas yang kini semakin tidak karuan bentuknya, karena tidak pernah dipangkas dan tidak ada orang yang berani mengambil untuk dimasak.

    "Ada apa, Pak?" tanya Jono yang tentu ingin tahu.

    "Coba kamu lihat! Pekaranganmu itu kotorannya sudah tidak karuan. Bahkan sampah-sampahnya sudah sampai di teras rumah. Kenapa tidak pernah disapu?" kata Kakek Yan pada anaknya.

    "Anu, Pak. Anu..." kata Jono yang bingung untuk menjawabnya.

    "Kamu mau bilang tidak sempat, iya?!" tukas Kakek Yan.

    "Iya, Pak." jawab Jono sambil menundukkan kepalanya.

    "Suruh istrimu untuk menyapu! Kamu itu kepala keluarga! Kamu yang memimpin rumah tangga. Jadi suami itu jangan imbas-imbis. Masak suami tidak bisa mengatur istrinya. Suami macam apa kamu itu?! Apalagi kamu itu perangkat pemerintahan, harusnya bisa memberi contoh yang baik kepada warga! Bukannya malah menunjukkan keburukannya dengan rumah yang tidak pernah di sapu, sampahnya menumpuk. Payah!" suara Kakek Yan sangat keras, sehingga tentunya terdengar oleh para tetangganya. Tak heran, beberapa orang tetangga langsung keluar rumah dan menengok dan banyak yang mengintip Kakek Yan yang memarahi Jono.

    "Iya, Pak." Jono hanya bisa menunduk, dan tentunya sambil meneteskan air mata. Tentunya ia sangat memahami kata-kata bapaknya, dan juga menyesal dengan semua yang terjadi dalam keluarganya.

    Kakek Yan sadar diri, kalau suaranya itu sudah membuat para tetangganya menguping dan mengintip. Ia tidak mau keburukan anaknya diketahui banyak orang. Kakek Yan juga tidak ingin orang lain pada melihat dirinya yang memarahi anaknya. Maka Kakek Yan langsung berhenti marah. Ia langsung pergi meninggalkan Jono yang berada di halaman rumah. Kakek Yan pulang untuk menenangkan hatinya.

    Ya, bagi orang kampung, apalagi di Pademangan yang warga masyarakatnya homogin sebagai petani, sangat menjaga kebersamaan hidup. Biasanya kalau mendengar ada suara keras atau teriakan, maka mereka langsung berdatangan ingin tahu. Dan tentunya, dengan adanya Kakek Yan yang memarahi Jono di halaman rumahnya, maka orang sekampung langsung tahu persoalannya.

    Jono masuk rumah dengan menunduk. Hatinya remuk sudah dimarahi oleh bapaknya, dan dilihat oleh orang banyak. Jono pastinya sangat jengkel dengan istrinya yang tidak pernah mau memegang pekerjaan

    Yah, semua itu gara-gara Ciblek, istri Jono yang pemalas. Perempuan yang tidak tahu diri. Perempuan yang tidak mau mengerti urusan pekerjaan rumah tangga.

Episodes
1 BAB I: PERNIKAHAN TUAN JONO
2 BAB 2: NGUNDUH MANTU
3 BAB 3: TINGGAL BERSAMA MERTUA
4 BAB 4: MEMARAHI ANAK KESAYANGAN
5 BAB 5: PENYESALAN
6 BAB 6: MINTA PEMBANTU
7 BAB 7: PUNYA PEMBANTU
8 BAB 8: PUNYA PEMBANTU
9 BAB 9: PEMBANTU BARU
10 BAB 10: CERITA SAAT MENCUCI
11 BAB 11: PEMBANTU MINTA PULANG
12 BAB 12: DIMARAHI ORANG TUA
13 BAB 13: NGAMBEK LAGI
14 BAB 14: KEMBALI MEMINTA SYARAT
15 BAB 15: MEMINTA RUMAH
16 BAB 16: MEMINDAH RUMAH
17 BAB 17: RUMAH YANG BUTUH KERAMAIAN
18 BAB 18: PENGGEMBALA CILIK
19 BAB 19: RUMAH YANG KOTOR
20 BAB 20: BERONTAK
21 BAB 21: KEGUGURAN
22 BAB 22: RUMAH POHON
23 BAB 23: MENJADI ANAK KAKEK DAN NENEK
24 BAB 24: ANAK PINTAR
25 BAB 25: PENCURI KAYU BAKAR
26 BAB 26: ANAK PERTAMA
27 BAB 27: PERUBAHAN ZAMAN
28 BAB 28: MURID TELADAN
29 BAB 29: SEKOLAH FAVORIT
30 BAB 30: BERAS DIMAKAN GERANDONG
31 BAB 31: MENYINGKIRKAN KELUARGA MERTUA
32 BAB 32: ADIK NAKAL
33 BAB 33: ANAK PINTAR
34 BAB 34: MEMBUKA WARUNG
35 BAB 35: INTERKOM
36 BAB 36: HARUS OPNAM
37 BAB 37: TELAH HILANG GIGI EMAS
38 BAB 38: DICARIKAN PACAR
39 BAB 39: PENCURI WARUNG
40 BAB 40: MAKLAR TANAH
41 BAB 41: MOTOR BARU
42 BAB 42: RUMAH GEDUNG
43 BAB 44: MINTA MOBIL
44 BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
45 BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
46 BAB 43: JIMAT PENUNGGU RUMAH
47 BAB 44: MINTA MOBIL
48 BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
49 BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
50 BAB 47: JADI GURU
51 BAB 48: SAYANG NENEK
52 BAB 49: PAMER GELANG
53 BAB 50: BERUBAH SIFAT
54 BAB 51: WATAK PUN BERUBAH
55 BAB 52: NAIK HAJI
56 BAB 53: PULANG HAJI
57 BAB 54: HAJI MABRUR
58 BAB 55: AGAMIS
59 BAB 56: KELUH KESAH SEORANG NENEK
60 BAB 57: PUSAKA LELUHUR
61 BAB 58: SEMAKIN MENYIMPANG
62 BAB 59: SEMUANYA BISA
63 BAB 60: JIKA ADA UANG JADI GAMPANG
64 BAB 61: PENGUSAHA HEBAT
65 BAB 62: PENGUSAHA GAGAL
66 BAB 63: JADI DOKTER
67 BAB 64: WANITA PELENGKAP
68 BAB 65: DEMO
69 BAB 66: NENEK SAKIT
70 BAB 67: KEHILANGAN ORANG-ORANG TERCINTA
71 BAB 68: SEMUA MENUNGGU
72 BAB 69: PENSIUNAN MENYUSAHKAN
73 BAB 70: TETAP MERASA HEBAT
74 BAB 71: MEMBAGI WARISAN
75 BAB 72: MENUNTUT LEBIH
76 BAB 73: SERANGAN JANTUNG
77 BAB 74: DOKTER SOMBONG
78 BAB 75: BAYANG HITAM
79 BAB 76: TUAN JONO MENINGGAL
80 BAB 77: LEBARAN KELABU
81 BAB 78: ORANG-ORANG SERAKAH
82 BAB 79: IKHLAS
83 BAB 80: INNA MA'AL USRI YUSRA
84 BAB 81: WARISAN TERKUTUK
85 BAB 82: KATA-KATA MENYAKITKAN
86 BAB 83: PENJAGA ITU TERNYATA ADA
87 BAB 84: TEROR PERTAMA
88 BAB 85: SIAPA YANG TIDAK PERCAYA HANTU?
89 BAB 86: TEROR KEDUA
90 BAB 87: PERINGATAN DOSA
91 BAB 88: PENANTANG SETAN
92 BAB 89: JANGAN GEGABAH
93 BAB 90: BANASPATI
94 BAB 91: DUKUN SAKTI
95 BAB 92: TAK PERNAH JERA
96 BAB 93: KEHILANGAN KAKI
97 BAB 94: MENANTANG SETAN
98 BAB 95: KEMARAHAN ISTRI
99 BAB 96: ANCAMAN ULAR
100 BAB 97: TATO KULIT ULAR
101 BAB 98: IKATAN NAGA GINI
Episodes

Updated 101 Episodes

1
BAB I: PERNIKAHAN TUAN JONO
2
BAB 2: NGUNDUH MANTU
3
BAB 3: TINGGAL BERSAMA MERTUA
4
BAB 4: MEMARAHI ANAK KESAYANGAN
5
BAB 5: PENYESALAN
6
BAB 6: MINTA PEMBANTU
7
BAB 7: PUNYA PEMBANTU
8
BAB 8: PUNYA PEMBANTU
9
BAB 9: PEMBANTU BARU
10
BAB 10: CERITA SAAT MENCUCI
11
BAB 11: PEMBANTU MINTA PULANG
12
BAB 12: DIMARAHI ORANG TUA
13
BAB 13: NGAMBEK LAGI
14
BAB 14: KEMBALI MEMINTA SYARAT
15
BAB 15: MEMINTA RUMAH
16
BAB 16: MEMINDAH RUMAH
17
BAB 17: RUMAH YANG BUTUH KERAMAIAN
18
BAB 18: PENGGEMBALA CILIK
19
BAB 19: RUMAH YANG KOTOR
20
BAB 20: BERONTAK
21
BAB 21: KEGUGURAN
22
BAB 22: RUMAH POHON
23
BAB 23: MENJADI ANAK KAKEK DAN NENEK
24
BAB 24: ANAK PINTAR
25
BAB 25: PENCURI KAYU BAKAR
26
BAB 26: ANAK PERTAMA
27
BAB 27: PERUBAHAN ZAMAN
28
BAB 28: MURID TELADAN
29
BAB 29: SEKOLAH FAVORIT
30
BAB 30: BERAS DIMAKAN GERANDONG
31
BAB 31: MENYINGKIRKAN KELUARGA MERTUA
32
BAB 32: ADIK NAKAL
33
BAB 33: ANAK PINTAR
34
BAB 34: MEMBUKA WARUNG
35
BAB 35: INTERKOM
36
BAB 36: HARUS OPNAM
37
BAB 37: TELAH HILANG GIGI EMAS
38
BAB 38: DICARIKAN PACAR
39
BAB 39: PENCURI WARUNG
40
BAB 40: MAKLAR TANAH
41
BAB 41: MOTOR BARU
42
BAB 42: RUMAH GEDUNG
43
BAB 44: MINTA MOBIL
44
BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
45
BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
46
BAB 43: JIMAT PENUNGGU RUMAH
47
BAB 44: MINTA MOBIL
48
BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
49
BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
50
BAB 47: JADI GURU
51
BAB 48: SAYANG NENEK
52
BAB 49: PAMER GELANG
53
BAB 50: BERUBAH SIFAT
54
BAB 51: WATAK PUN BERUBAH
55
BAB 52: NAIK HAJI
56
BAB 53: PULANG HAJI
57
BAB 54: HAJI MABRUR
58
BAB 55: AGAMIS
59
BAB 56: KELUH KESAH SEORANG NENEK
60
BAB 57: PUSAKA LELUHUR
61
BAB 58: SEMAKIN MENYIMPANG
62
BAB 59: SEMUANYA BISA
63
BAB 60: JIKA ADA UANG JADI GAMPANG
64
BAB 61: PENGUSAHA HEBAT
65
BAB 62: PENGUSAHA GAGAL
66
BAB 63: JADI DOKTER
67
BAB 64: WANITA PELENGKAP
68
BAB 65: DEMO
69
BAB 66: NENEK SAKIT
70
BAB 67: KEHILANGAN ORANG-ORANG TERCINTA
71
BAB 68: SEMUA MENUNGGU
72
BAB 69: PENSIUNAN MENYUSAHKAN
73
BAB 70: TETAP MERASA HEBAT
74
BAB 71: MEMBAGI WARISAN
75
BAB 72: MENUNTUT LEBIH
76
BAB 73: SERANGAN JANTUNG
77
BAB 74: DOKTER SOMBONG
78
BAB 75: BAYANG HITAM
79
BAB 76: TUAN JONO MENINGGAL
80
BAB 77: LEBARAN KELABU
81
BAB 78: ORANG-ORANG SERAKAH
82
BAB 79: IKHLAS
83
BAB 80: INNA MA'AL USRI YUSRA
84
BAB 81: WARISAN TERKUTUK
85
BAB 82: KATA-KATA MENYAKITKAN
86
BAB 83: PENJAGA ITU TERNYATA ADA
87
BAB 84: TEROR PERTAMA
88
BAB 85: SIAPA YANG TIDAK PERCAYA HANTU?
89
BAB 86: TEROR KEDUA
90
BAB 87: PERINGATAN DOSA
91
BAB 88: PENANTANG SETAN
92
BAB 89: JANGAN GEGABAH
93
BAB 90: BANASPATI
94
BAB 91: DUKUN SAKTI
95
BAB 92: TAK PERNAH JERA
96
BAB 93: KEHILANGAN KAKI
97
BAB 94: MENANTANG SETAN
98
BAB 95: KEMARAHAN ISTRI
99
BAB 96: ANCAMAN ULAR
100
BAB 97: TATO KULIT ULAR
101
BAB 98: IKATAN NAGA GINI

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!