BAB 10: CERITA SAAT MENCUCI

    Matahari sudah mulai lengser ke langit barat. Siti pergi ke sendang bersama Nenek Kosen. Tentunya akan mencuci pakaian majikannya, yang jumlahnya sangat banyak. Sehingga tidak muat saat dimasukkan ke dalam ember. Mungkin itu pakaian kotor satu minggu yang ditumpuk di kamar Ciblek. Maka Siti harus membawa dunak keranjang milik Nenek Kosen yang lumayan besar sebagai wadahnya. Dunak berisi pakaian kotor itu pun ia gendong di punggungnya. Sedangkan tangan kanannya menyangking ember yang berisi sabun colek serta handuk dan pakaian ganti untuk dirinya.

    Demikian juga Nenek Kosen, selain mengantar dan menunjukkan sendang sebagai tempat mandi dan mencuci kepada Siti, ia juga akan mencuci dan sakalian mandi. Yang tentunya membawa ember dan dunak, seperti halnya Siti. Namun cucian Nenek Kosen hanya sedikit. Paling satu stel pakaian Kakek Yan dan satu stel pakaian Nenek Kosen sendiri. Dan di embernya yang dicangking, juga terdapat sabun colek yang masih baru, tempatnya berupa gelas. Biasa, promosi perusahaan sabun colek agar laris, maka diberi hadiah gelas sebagai tempat kemasannya. Ya, orang desa pasti senang dengan hadiah gelas dan semacamnya, karena memang sangat bermanfaat.

    Dua orang yang ibaratnya seperti nenek dan cucunya itu pun mulai melaksanakan tugasnya masing-masing, mencuci pakaian di sendang. Kebetulan sendangnya masih sepi, belum banyak orang berdatangan untuk mandi. Maka Nenek Kosen dan Siti bisa santai dan leluasa mencuci di sendang.

    "Kalau di rumah, kamu juga sering mencuci pakaian?" tanya Nenek Kosen pada Siti.

    "Iya, Nek. Mencuci pakaian Pak-e, Simbok-e, dan adik-adik. Nyucinya juga di belik seperti ini. Seperti sendang tetapi kecil." jawab Siti yang tentu sudah terbiasa melaksanakan kewajibannya di rumah.

    "Weh. Berarti Siti ini memang anak rajin dan pinter. Kamu kok kerja di sini, apa tidak sekolah?" tanya Nenek Kosen lagi.

    "Tidak, Nek. Di kampung kami, sekolah itu paling-paling sampai kelas tiga SD. Saya juga sudah selesai kelas tiga. Yang penting bisa membaca dan menulis. Karena untuk kelas yang tinggi, harus pergi ke kampung lain. Tempatnya jauh. Sehingga hanya anak laki-laki yang melanjutkan sekolah ke kampung yang ada sekolahnya. Sedangkan anak perempuan membantu orang tuanya bekerja. Paling tidak ikut masak di dapur." jawab Siti yang mengisahkan sekolah di kampungnya.

    Ya, zaman itu yang namanya sekolah memang masih terbatas di tempat-tempat tertentu. Biasanya untuk sekolah filial, memang ada di beberapa kampung. Namun hanya sampai di kelas tiga SD saja. Itu pun sekolahnya mendompleng di rumah perangkat desa. Ada yang sekolah di rumah Pak Lurah, Pak Carik, Pak Bekel, maupun di tempat warga yang punya rumah besar. Untuk melanjutkan ke kelas yang lebih tinggi, maka anak yang mau sekolah itu harus ke sekolah induk, yang terdapat di kampung yang agak dekat dengan kecamatan. Untuk lima atau enam desa, paling-paling hanya ada satu sekolah induk yang bisa meluluskan sampai kelas enam SD. Biasanya yang mau melanjutkan hanya anak-anak dari keluarga mampu, yang orang tuanya tidak terlalu menuntut anaknya membantu pekerjaannya di ladang atau sawah, seperti anaknya Pak Lurah, Pak Carik, Pak Bayan dan orang yang kaya.

    Seperti halnya Siti, anak perempuan dari keluarga biasa saja, maka orang tuanya pasti lebih memilih kalau anaknya lebih baik membantu pekerjaan orang tuanya daripada harus sekolah ke tempat yang jauh. Dan umumnya, anak perempuan saat itu, memang tidak melanjutkan sekolah. Kata orang-orang tua, percuma nersekolah tinggi-tinggi. Karena kelak kalau sudah besar, anak perempuannya pasti akan dilamar orang, diambil istri orang, dan hanya bertugas mengurusi rumah. Katanya, tidak ada gunanya sekolah tinggi-tinggi. Yang penting bisa masak dan mengurus anak.

    "Lhah, bapak kamu kerja apa?" tanya Nenek Kosen kembali, yang pastinya juga ingin tahu keadaan orang tuanya Siti.

    "Mencangkul." jawab Siti lugas.

    "Mencangkul sawah apa ladang?" Nenek Kosen penasaran.

    "Ya, kadang-kadang sawah. Kadang-kadang ladang. Biasanya kalau habis tanam di sawah, habis itu menanam jagung atau kacang, atau singkong di ladang. Kalau pulang sambil membawa rambanan, untuk makan kambing." jawab Siti menjelaskan pekerjaan ayahnya. Rambanan itu daun-daunan pakan kambing.

    "Walah. Berarti sawah bapak kamu luas. Ladangnya juga luas. Kambingnya berapa?" tanya Nenek Kosen lagi.

    "Kata Pak-e, yang penting bisa untuk makan keluarga. Kalau kambingnya ada lima ekor." jawab Siti yang tentunya sangat jujur. Itulah sifat orang desa. Kejujuran itu penting. Tidak mau berbohong, apalagi hanya untuk menutupi kekurangan.

    "Lhah, ini kamu kok malah cari kerja di sini, apa tidak membantu orang tua kamu menunggu padi di sawah?" tanya Nenek Kosen yang ingin tahu alasannya.

    "Sawahnya baru saja selesai tanam. Nanti kalau sudah mratak (istilah padi mulai keluar buahnya) saya akan pulang, membantu orang tua menunggu padi sampai menuai padi. Ini saya ikut kerja daripada menganggur di rumah, makanya saat diajak teman yang katanya bekerja di kota, saya ikut teman kerja jadi babu di sini." jawab Siti polos.

    "Ooo, jadi kamu ini hanya memanfaatkan waktu menganggur saja, to." sahut Nenek Kosen.

    "Iya, Nek. Semua orang di kampung saya, begitu. Kalau habis tanam padi, mereka semua pada cari rezeki di luar daerah. Banyak yang ke kota. Lumayan dapat uang." kata Siti yang menceritakan kebiasaan orang-orang di kampungnya.

    "Bagus, itu. Jadi orang itu jangan pemalas. Tidak mau bekerja. Maunya menganggur. Ongkang-ongkang duduk jigrang. Harapannya dapat uang segudang. Padahal yang namanya rezeki, uang, harta, kekayaan, itu semua harus dicari dengan usaha, dengan kerja keras, dengan banting tulang peras keringat. Itu saja kadang-kadang dapatnya cuman sedikit. Bagamana kalau ia tidak mau bekerja? Apa yang akan didapat? Begitu kok minta jadi orang kaya. Mana mungkin bisa kaya? Kecuali ngrampok." kata Nenek Kosen yang sebenarnya melampiaskan kekesalannya terhadap menantunya yang pemalas itu.

    "Ih, Nenek. Ngrampok itu dilarang Tuhan, Nek. Tidak boleh. Dosa." sahut Siti yang juga tahu tentang ajaran agama.

    "Iya. Kamu itu anak baik. Besok kalau kamu dapat uang, ditabung. Kalau sudah banyak, dibuat beli kerbau, atau dibuat beli tanah. Jangan untuk foya-foya, nanti uangnya musnah tanpa dapat apa-apa. Tidak ada gunanya." kata Nenek Kosen yang menasehati Siti.

    "Iya, Nek. Katanya Pak-e, nanti kalau sudah punya uang untuk membuat gandok belakang, sama buat kandang. Katanya Pak-e mau beli kerbau." jawab Siti.

    "Wah, bagus itu. Bapak kamu pinter. Pasti Bapak kamu itu orangnya rajin bekerja. Besok bisa jadi orang kaya." sahut Nenek Kosen.

    "Engkong sama Nenek ya orang kaya. Kerbaunya banyak. Sapinya banyak. Kambingnya juga banyak. Yang membantu jadi penggembala saja ada dua orang. Sawah dan kebun Nenek juga luas, ya?" kata Siti yang tentu juga memuji Nenek Kosen yang kaya raya itu.

    "Itu usaha keras Kakek Yan." jawab si nenek.

    "Nenek juga masih jualan di pasar. Pasti uangnya banyak." tambah Siti.

    "Ya, jadi orang itu harus berusaha. Harus bekerja, jangan malas. Soal rezeki, semuanya kita pasrahkan pada Yang Maha Kuasa. Kalau kita rajin, pasti Tuhan juga tahu dan akan melimpahkan rezeki kepada kita. Memberi rezeki yang banyak dalam hidup kita. Tapi kalau kita malas, Tuhan juga akan menjauhkan rezeki-Nya. Sebaik-baik orang itu, kalau ia mau berusaha, mau bekerja, mau mengeluarkan keringat. Itu artinya, ia sudah beribadah menurut pada ajaran Tuhan. Seperti ada sebuah cerita, ada seorang majikan yang akan pergi jauh, lantas ia memanggil tiga orang pembantunya. Kemudian tiga orang pembantu itu diberi uang yang cukup banyak dan dipesan untuk menjaga hartanya. Setelah cukup lama sang majikan itu pergi, lantas kembali ke rumahnya. Ia pun memanggil para pembantunya dan menanyakan untuk apa saja uang yang pernah ia berikan kepada mereka. Pembantu yang pertama laporan kalau uangnya disembunyikan biar aman. Dasn memamng uangnya tetap utuh. Lantas pembantu yang kedua juga ditanyai. Ia menjawab kalau uangnya sudah dipakai beli macam-macam barang yang ia senangi dan uang itu sudah habis. Lantas pembantunya yang ketiga menceritakan, kalau uangnya ia buat belanja barang-barang dagangan, kemudian dijual lagi, sehingga ia mendapat untung yang lumayan. Sang majikan itu membenci pembantunya yang hanya bisa foya-foya menghambur-hamburkan uang dan pembantu yang tidak bisa memanfaatkan uang hanya menyimpan saja. Tetapi majikan itu sangat senang dan langsung menambah uang lagi untuk modal usaha pada pembantunya yang ketiga. Tentunya keuntungan dari pembantu yang ketiga itu sangat banyak dan usaha dagangnya semakin besar." kata si nenek itu menceritakan kisah baik kepada Siti.

    "Waah. Pembantu yang ketiga itu, pasti orang yang pintar dan gigih." sahut Siti.

    "Betul. Makanya, ketika kita diberi rezeki yang cukup dari Tuhan, jangan dibuat foya-foya saja. Tetapi kita harus lebih bekerja keras, supaya Tuhan nanti menambahi rezeki kepada kita. Bisa saja nanti rezeki yang kamu dapat itu untuk beli kambing atau beli kerbau, biar bisa beranak pinak. Nenek juga begitu, ketika diberi rezeki berupa buah-buahan, singkong, sayuran, saya bawa ke pasar, saya jual, bisa ditukarkan garam dan lauk-pauk." tambah Nenek Kosen yang senang menasehati anak yang cerdas itu. Walaupun hanya berasal dari pelosok kampung, sebagai seorang pembantu rumah tangga, tetapi latar belakang keluarga Siti itu sebenarnya cukup berada. Bahkan Siti juga sudah menyelesaikan sekolah di kampungnya.

    "Iya, Nek. Besok kalau saya sudah dapat bayaran, akan saya berikan kepada Pak-e, agar dibelikan kambing." sahut Siti yang sangat terinspirasi dengan cerita si nenek itu.

    "Ee, jangan kambing. Kerbau. Belikan kerbau saja." tegas si nenek.

    "Lhah, uangnya kurang, Nek." sahut Siti yang tentunya tahu harga kerbau itu sangat mahal.

    "Caranya, uang kamu disuruh nambahi bapakmu. Kambingnya dijual sebagian untuk ditukarkan kerbau. Besok kalau kerbaunya sudah beranak pinak, dijual dibelikan sawah. Begitu caranya." jelas si nenek itu yang seakan menasehati cucunya sendiri.

    "Iya, Nek." sahut Siti yang tersenyum senang. Pastinya dapat ilmu yang sangat bermanfaat dari orang yang sangat ia hormati itu.

    "Cucian Nenek sudah rampung. Cepetan. Nanti sebentar lagi orang-orang kampung pada datang. Ini sudah mau sore, saatnya orang-orang mau mandi." kata Nenek Kosen yang selanjutnya mandi di sendang itu.

    Demikian juga Siti, yang meskipun tergolong masih bocah, tetapi ia sanggup menyelesaikan cuciannya yang jumlahnya sangat banyak.

    Hari itu, Siti, bocah perempuan yang harus menjadi pembantu rumah tangga di tempat Tuan Jono, benar-benar merasa senang bisa bersama dengan Nenek Kosen yang baik hati dan selalu menasehati dirinya tersebut.

Episodes
1 BAB I: PERNIKAHAN TUAN JONO
2 BAB 2: NGUNDUH MANTU
3 BAB 3: TINGGAL BERSAMA MERTUA
4 BAB 4: MEMARAHI ANAK KESAYANGAN
5 BAB 5: PENYESALAN
6 BAB 6: MINTA PEMBANTU
7 BAB 7: PUNYA PEMBANTU
8 BAB 8: PUNYA PEMBANTU
9 BAB 9: PEMBANTU BARU
10 BAB 10: CERITA SAAT MENCUCI
11 BAB 11: PEMBANTU MINTA PULANG
12 BAB 12: DIMARAHI ORANG TUA
13 BAB 13: NGAMBEK LAGI
14 BAB 14: KEMBALI MEMINTA SYARAT
15 BAB 15: MEMINTA RUMAH
16 BAB 16: MEMINDAH RUMAH
17 BAB 17: RUMAH YANG BUTUH KERAMAIAN
18 BAB 18: PENGGEMBALA CILIK
19 BAB 19: RUMAH YANG KOTOR
20 BAB 20: BERONTAK
21 BAB 21: KEGUGURAN
22 BAB 22: RUMAH POHON
23 BAB 23: MENJADI ANAK KAKEK DAN NENEK
24 BAB 24: ANAK PINTAR
25 BAB 25: PENCURI KAYU BAKAR
26 BAB 26: ANAK PERTAMA
27 BAB 27: PERUBAHAN ZAMAN
28 BAB 28: MURID TELADAN
29 BAB 29: SEKOLAH FAVORIT
30 BAB 30: BERAS DIMAKAN GERANDONG
31 BAB 31: MENYINGKIRKAN KELUARGA MERTUA
32 BAB 32: ADIK NAKAL
33 BAB 33: ANAK PINTAR
34 BAB 34: MEMBUKA WARUNG
35 BAB 35: INTERKOM
36 BAB 36: HARUS OPNAM
37 BAB 37: TELAH HILANG GIGI EMAS
38 BAB 38: DICARIKAN PACAR
39 BAB 39: PENCURI WARUNG
40 BAB 40: MAKLAR TANAH
41 BAB 41: MOTOR BARU
42 BAB 42: RUMAH GEDUNG
43 BAB 44: MINTA MOBIL
44 BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
45 BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
46 BAB 43: JIMAT PENUNGGU RUMAH
47 BAB 44: MINTA MOBIL
48 BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
49 BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
50 BAB 47: JADI GURU
51 BAB 48: SAYANG NENEK
52 BAB 49: PAMER GELANG
53 BAB 50: BERUBAH SIFAT
54 BAB 51: WATAK PUN BERUBAH
55 BAB 52: NAIK HAJI
56 BAB 53: PULANG HAJI
57 BAB 54: HAJI MABRUR
58 BAB 55: AGAMIS
59 BAB 56: KELUH KESAH SEORANG NENEK
60 BAB 57: PUSAKA LELUHUR
61 BAB 58: SEMAKIN MENYIMPANG
62 BAB 59: SEMUANYA BISA
63 BAB 60: JIKA ADA UANG JADI GAMPANG
64 BAB 61: PENGUSAHA HEBAT
65 BAB 62: PENGUSAHA GAGAL
66 BAB 63: JADI DOKTER
67 BAB 64: WANITA PELENGKAP
68 BAB 65: DEMO
69 BAB 66: NENEK SAKIT
70 BAB 67: KEHILANGAN ORANG-ORANG TERCINTA
71 BAB 68: SEMUA MENUNGGU
72 BAB 69: PENSIUNAN MENYUSAHKAN
73 BAB 70: TETAP MERASA HEBAT
74 BAB 71: MEMBAGI WARISAN
75 BAB 72: MENUNTUT LEBIH
76 BAB 73: SERANGAN JANTUNG
77 BAB 74: DOKTER SOMBONG
78 BAB 75: BAYANG HITAM
79 BAB 76: TUAN JONO MENINGGAL
80 BAB 77: LEBARAN KELABU
81 BAB 78: ORANG-ORANG SERAKAH
82 BAB 79: IKHLAS
83 BAB 80: INNA MA'AL USRI YUSRA
84 BAB 81: WARISAN TERKUTUK
85 BAB 82: KATA-KATA MENYAKITKAN
86 BAB 83: PENJAGA ITU TERNYATA ADA
87 BAB 84: TEROR PERTAMA
88 BAB 85: SIAPA YANG TIDAK PERCAYA HANTU?
89 BAB 86: TEROR KEDUA
90 BAB 87: PERINGATAN DOSA
91 BAB 88: PENANTANG SETAN
92 BAB 89: JANGAN GEGABAH
93 BAB 90: BANASPATI
94 BAB 91: DUKUN SAKTI
95 BAB 92: TAK PERNAH JERA
96 BAB 93: KEHILANGAN KAKI
97 BAB 94: MENANTANG SETAN
98 BAB 95: KEMARAHAN ISTRI
99 BAB 96: ANCAMAN ULAR
100 BAB 97: TATO KULIT ULAR
101 BAB 98: IKATAN NAGA GINI
Episodes

Updated 101 Episodes

1
BAB I: PERNIKAHAN TUAN JONO
2
BAB 2: NGUNDUH MANTU
3
BAB 3: TINGGAL BERSAMA MERTUA
4
BAB 4: MEMARAHI ANAK KESAYANGAN
5
BAB 5: PENYESALAN
6
BAB 6: MINTA PEMBANTU
7
BAB 7: PUNYA PEMBANTU
8
BAB 8: PUNYA PEMBANTU
9
BAB 9: PEMBANTU BARU
10
BAB 10: CERITA SAAT MENCUCI
11
BAB 11: PEMBANTU MINTA PULANG
12
BAB 12: DIMARAHI ORANG TUA
13
BAB 13: NGAMBEK LAGI
14
BAB 14: KEMBALI MEMINTA SYARAT
15
BAB 15: MEMINTA RUMAH
16
BAB 16: MEMINDAH RUMAH
17
BAB 17: RUMAH YANG BUTUH KERAMAIAN
18
BAB 18: PENGGEMBALA CILIK
19
BAB 19: RUMAH YANG KOTOR
20
BAB 20: BERONTAK
21
BAB 21: KEGUGURAN
22
BAB 22: RUMAH POHON
23
BAB 23: MENJADI ANAK KAKEK DAN NENEK
24
BAB 24: ANAK PINTAR
25
BAB 25: PENCURI KAYU BAKAR
26
BAB 26: ANAK PERTAMA
27
BAB 27: PERUBAHAN ZAMAN
28
BAB 28: MURID TELADAN
29
BAB 29: SEKOLAH FAVORIT
30
BAB 30: BERAS DIMAKAN GERANDONG
31
BAB 31: MENYINGKIRKAN KELUARGA MERTUA
32
BAB 32: ADIK NAKAL
33
BAB 33: ANAK PINTAR
34
BAB 34: MEMBUKA WARUNG
35
BAB 35: INTERKOM
36
BAB 36: HARUS OPNAM
37
BAB 37: TELAH HILANG GIGI EMAS
38
BAB 38: DICARIKAN PACAR
39
BAB 39: PENCURI WARUNG
40
BAB 40: MAKLAR TANAH
41
BAB 41: MOTOR BARU
42
BAB 42: RUMAH GEDUNG
43
BAB 44: MINTA MOBIL
44
BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
45
BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
46
BAB 43: JIMAT PENUNGGU RUMAH
47
BAB 44: MINTA MOBIL
48
BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
49
BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
50
BAB 47: JADI GURU
51
BAB 48: SAYANG NENEK
52
BAB 49: PAMER GELANG
53
BAB 50: BERUBAH SIFAT
54
BAB 51: WATAK PUN BERUBAH
55
BAB 52: NAIK HAJI
56
BAB 53: PULANG HAJI
57
BAB 54: HAJI MABRUR
58
BAB 55: AGAMIS
59
BAB 56: KELUH KESAH SEORANG NENEK
60
BAB 57: PUSAKA LELUHUR
61
BAB 58: SEMAKIN MENYIMPANG
62
BAB 59: SEMUANYA BISA
63
BAB 60: JIKA ADA UANG JADI GAMPANG
64
BAB 61: PENGUSAHA HEBAT
65
BAB 62: PENGUSAHA GAGAL
66
BAB 63: JADI DOKTER
67
BAB 64: WANITA PELENGKAP
68
BAB 65: DEMO
69
BAB 66: NENEK SAKIT
70
BAB 67: KEHILANGAN ORANG-ORANG TERCINTA
71
BAB 68: SEMUA MENUNGGU
72
BAB 69: PENSIUNAN MENYUSAHKAN
73
BAB 70: TETAP MERASA HEBAT
74
BAB 71: MEMBAGI WARISAN
75
BAB 72: MENUNTUT LEBIH
76
BAB 73: SERANGAN JANTUNG
77
BAB 74: DOKTER SOMBONG
78
BAB 75: BAYANG HITAM
79
BAB 76: TUAN JONO MENINGGAL
80
BAB 77: LEBARAN KELABU
81
BAB 78: ORANG-ORANG SERAKAH
82
BAB 79: IKHLAS
83
BAB 80: INNA MA'AL USRI YUSRA
84
BAB 81: WARISAN TERKUTUK
85
BAB 82: KATA-KATA MENYAKITKAN
86
BAB 83: PENJAGA ITU TERNYATA ADA
87
BAB 84: TEROR PERTAMA
88
BAB 85: SIAPA YANG TIDAK PERCAYA HANTU?
89
BAB 86: TEROR KEDUA
90
BAB 87: PERINGATAN DOSA
91
BAB 88: PENANTANG SETAN
92
BAB 89: JANGAN GEGABAH
93
BAB 90: BANASPATI
94
BAB 91: DUKUN SAKTI
95
BAB 92: TAK PERNAH JERA
96
BAB 93: KEHILANGAN KAKI
97
BAB 94: MENANTANG SETAN
98
BAB 95: KEMARAHAN ISTRI
99
BAB 96: ANCAMAN ULAR
100
BAB 97: TATO KULIT ULAR
101
BAB 98: IKATAN NAGA GINI

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!