Matahari sudah mulai lengser ke langit barat. Siti pergi ke sendang bersama Nenek Kosen. Tentunya akan mencuci pakaian majikannya, yang jumlahnya sangat banyak. Sehingga tidak muat saat dimasukkan ke dalam ember. Mungkin itu pakaian kotor satu minggu yang ditumpuk di kamar Ciblek. Maka Siti harus membawa dunak keranjang milik Nenek Kosen yang lumayan besar sebagai wadahnya. Dunak berisi pakaian kotor itu pun ia gendong di punggungnya. Sedangkan tangan kanannya menyangking ember yang berisi sabun colek serta handuk dan pakaian ganti untuk dirinya.
Demikian juga Nenek Kosen, selain mengantar dan menunjukkan sendang sebagai tempat mandi dan mencuci kepada Siti, ia juga akan mencuci dan sakalian mandi. Yang tentunya membawa ember dan dunak, seperti halnya Siti. Namun cucian Nenek Kosen hanya sedikit. Paling satu stel pakaian Kakek Yan dan satu stel pakaian Nenek Kosen sendiri. Dan di embernya yang dicangking, juga terdapat sabun colek yang masih baru, tempatnya berupa gelas. Biasa, promosi perusahaan sabun colek agar laris, maka diberi hadiah gelas sebagai tempat kemasannya. Ya, orang desa pasti senang dengan hadiah gelas dan semacamnya, karena memang sangat bermanfaat.
Dua orang yang ibaratnya seperti nenek dan cucunya itu pun mulai melaksanakan tugasnya masing-masing, mencuci pakaian di sendang. Kebetulan sendangnya masih sepi, belum banyak orang berdatangan untuk mandi. Maka Nenek Kosen dan Siti bisa santai dan leluasa mencuci di sendang.
"Kalau di rumah, kamu juga sering mencuci pakaian?" tanya Nenek Kosen pada Siti.
"Iya, Nek. Mencuci pakaian Pak-e, Simbok-e, dan adik-adik. Nyucinya juga di belik seperti ini. Seperti sendang tetapi kecil." jawab Siti yang tentu sudah terbiasa melaksanakan kewajibannya di rumah.
"Weh. Berarti Siti ini memang anak rajin dan pinter. Kamu kok kerja di sini, apa tidak sekolah?" tanya Nenek Kosen lagi.
"Tidak, Nek. Di kampung kami, sekolah itu paling-paling sampai kelas tiga SD. Saya juga sudah selesai kelas tiga. Yang penting bisa membaca dan menulis. Karena untuk kelas yang tinggi, harus pergi ke kampung lain. Tempatnya jauh. Sehingga hanya anak laki-laki yang melanjutkan sekolah ke kampung yang ada sekolahnya. Sedangkan anak perempuan membantu orang tuanya bekerja. Paling tidak ikut masak di dapur." jawab Siti yang mengisahkan sekolah di kampungnya.
Ya, zaman itu yang namanya sekolah memang masih terbatas di tempat-tempat tertentu. Biasanya untuk sekolah filial, memang ada di beberapa kampung. Namun hanya sampai di kelas tiga SD saja. Itu pun sekolahnya mendompleng di rumah perangkat desa. Ada yang sekolah di rumah Pak Lurah, Pak Carik, Pak Bekel, maupun di tempat warga yang punya rumah besar. Untuk melanjutkan ke kelas yang lebih tinggi, maka anak yang mau sekolah itu harus ke sekolah induk, yang terdapat di kampung yang agak dekat dengan kecamatan. Untuk lima atau enam desa, paling-paling hanya ada satu sekolah induk yang bisa meluluskan sampai kelas enam SD. Biasanya yang mau melanjutkan hanya anak-anak dari keluarga mampu, yang orang tuanya tidak terlalu menuntut anaknya membantu pekerjaannya di ladang atau sawah, seperti anaknya Pak Lurah, Pak Carik, Pak Bayan dan orang yang kaya.
Seperti halnya Siti, anak perempuan dari keluarga biasa saja, maka orang tuanya pasti lebih memilih kalau anaknya lebih baik membantu pekerjaan orang tuanya daripada harus sekolah ke tempat yang jauh. Dan umumnya, anak perempuan saat itu, memang tidak melanjutkan sekolah. Kata orang-orang tua, percuma nersekolah tinggi-tinggi. Karena kelak kalau sudah besar, anak perempuannya pasti akan dilamar orang, diambil istri orang, dan hanya bertugas mengurusi rumah. Katanya, tidak ada gunanya sekolah tinggi-tinggi. Yang penting bisa masak dan mengurus anak.
"Lhah, bapak kamu kerja apa?" tanya Nenek Kosen kembali, yang pastinya juga ingin tahu keadaan orang tuanya Siti.
"Mencangkul." jawab Siti lugas.
"Mencangkul sawah apa ladang?" Nenek Kosen penasaran.
"Ya, kadang-kadang sawah. Kadang-kadang ladang. Biasanya kalau habis tanam di sawah, habis itu menanam jagung atau kacang, atau singkong di ladang. Kalau pulang sambil membawa rambanan, untuk makan kambing." jawab Siti menjelaskan pekerjaan ayahnya. Rambanan itu daun-daunan pakan kambing.
"Walah. Berarti sawah bapak kamu luas. Ladangnya juga luas. Kambingnya berapa?" tanya Nenek Kosen lagi.
"Kata Pak-e, yang penting bisa untuk makan keluarga. Kalau kambingnya ada lima ekor." jawab Siti yang tentunya sangat jujur. Itulah sifat orang desa. Kejujuran itu penting. Tidak mau berbohong, apalagi hanya untuk menutupi kekurangan.
"Lhah, ini kamu kok malah cari kerja di sini, apa tidak membantu orang tua kamu menunggu padi di sawah?" tanya Nenek Kosen yang ingin tahu alasannya.
"Sawahnya baru saja selesai tanam. Nanti kalau sudah mratak (istilah padi mulai keluar buahnya) saya akan pulang, membantu orang tua menunggu padi sampai menuai padi. Ini saya ikut kerja daripada menganggur di rumah, makanya saat diajak teman yang katanya bekerja di kota, saya ikut teman kerja jadi babu di sini." jawab Siti polos.
"Ooo, jadi kamu ini hanya memanfaatkan waktu menganggur saja, to." sahut Nenek Kosen.
"Iya, Nek. Semua orang di kampung saya, begitu. Kalau habis tanam padi, mereka semua pada cari rezeki di luar daerah. Banyak yang ke kota. Lumayan dapat uang." kata Siti yang menceritakan kebiasaan orang-orang di kampungnya.
"Bagus, itu. Jadi orang itu jangan pemalas. Tidak mau bekerja. Maunya menganggur. Ongkang-ongkang duduk jigrang. Harapannya dapat uang segudang. Padahal yang namanya rezeki, uang, harta, kekayaan, itu semua harus dicari dengan usaha, dengan kerja keras, dengan banting tulang peras keringat. Itu saja kadang-kadang dapatnya cuman sedikit. Bagamana kalau ia tidak mau bekerja? Apa yang akan didapat? Begitu kok minta jadi orang kaya. Mana mungkin bisa kaya? Kecuali ngrampok." kata Nenek Kosen yang sebenarnya melampiaskan kekesalannya terhadap menantunya yang pemalas itu.
"Ih, Nenek. Ngrampok itu dilarang Tuhan, Nek. Tidak boleh. Dosa." sahut Siti yang juga tahu tentang ajaran agama.
"Iya. Kamu itu anak baik. Besok kalau kamu dapat uang, ditabung. Kalau sudah banyak, dibuat beli kerbau, atau dibuat beli tanah. Jangan untuk foya-foya, nanti uangnya musnah tanpa dapat apa-apa. Tidak ada gunanya." kata Nenek Kosen yang menasehati Siti.
"Iya, Nek. Katanya Pak-e, nanti kalau sudah punya uang untuk membuat gandok belakang, sama buat kandang. Katanya Pak-e mau beli kerbau." jawab Siti.
"Wah, bagus itu. Bapak kamu pinter. Pasti Bapak kamu itu orangnya rajin bekerja. Besok bisa jadi orang kaya." sahut Nenek Kosen.
"Engkong sama Nenek ya orang kaya. Kerbaunya banyak. Sapinya banyak. Kambingnya juga banyak. Yang membantu jadi penggembala saja ada dua orang. Sawah dan kebun Nenek juga luas, ya?" kata Siti yang tentu juga memuji Nenek Kosen yang kaya raya itu.
"Itu usaha keras Kakek Yan." jawab si nenek.
"Nenek juga masih jualan di pasar. Pasti uangnya banyak." tambah Siti.
"Ya, jadi orang itu harus berusaha. Harus bekerja, jangan malas. Soal rezeki, semuanya kita pasrahkan pada Yang Maha Kuasa. Kalau kita rajin, pasti Tuhan juga tahu dan akan melimpahkan rezeki kepada kita. Memberi rezeki yang banyak dalam hidup kita. Tapi kalau kita malas, Tuhan juga akan menjauhkan rezeki-Nya. Sebaik-baik orang itu, kalau ia mau berusaha, mau bekerja, mau mengeluarkan keringat. Itu artinya, ia sudah beribadah menurut pada ajaran Tuhan. Seperti ada sebuah cerita, ada seorang majikan yang akan pergi jauh, lantas ia memanggil tiga orang pembantunya. Kemudian tiga orang pembantu itu diberi uang yang cukup banyak dan dipesan untuk menjaga hartanya. Setelah cukup lama sang majikan itu pergi, lantas kembali ke rumahnya. Ia pun memanggil para pembantunya dan menanyakan untuk apa saja uang yang pernah ia berikan kepada mereka. Pembantu yang pertama laporan kalau uangnya disembunyikan biar aman. Dasn memamng uangnya tetap utuh. Lantas pembantu yang kedua juga ditanyai. Ia menjawab kalau uangnya sudah dipakai beli macam-macam barang yang ia senangi dan uang itu sudah habis. Lantas pembantunya yang ketiga menceritakan, kalau uangnya ia buat belanja barang-barang dagangan, kemudian dijual lagi, sehingga ia mendapat untung yang lumayan. Sang majikan itu membenci pembantunya yang hanya bisa foya-foya menghambur-hamburkan uang dan pembantu yang tidak bisa memanfaatkan uang hanya menyimpan saja. Tetapi majikan itu sangat senang dan langsung menambah uang lagi untuk modal usaha pada pembantunya yang ketiga. Tentunya keuntungan dari pembantu yang ketiga itu sangat banyak dan usaha dagangnya semakin besar." kata si nenek itu menceritakan kisah baik kepada Siti.
"Waah. Pembantu yang ketiga itu, pasti orang yang pintar dan gigih." sahut Siti.
"Betul. Makanya, ketika kita diberi rezeki yang cukup dari Tuhan, jangan dibuat foya-foya saja. Tetapi kita harus lebih bekerja keras, supaya Tuhan nanti menambahi rezeki kepada kita. Bisa saja nanti rezeki yang kamu dapat itu untuk beli kambing atau beli kerbau, biar bisa beranak pinak. Nenek juga begitu, ketika diberi rezeki berupa buah-buahan, singkong, sayuran, saya bawa ke pasar, saya jual, bisa ditukarkan garam dan lauk-pauk." tambah Nenek Kosen yang senang menasehati anak yang cerdas itu. Walaupun hanya berasal dari pelosok kampung, sebagai seorang pembantu rumah tangga, tetapi latar belakang keluarga Siti itu sebenarnya cukup berada. Bahkan Siti juga sudah menyelesaikan sekolah di kampungnya.
"Iya, Nek. Besok kalau saya sudah dapat bayaran, akan saya berikan kepada Pak-e, agar dibelikan kambing." sahut Siti yang sangat terinspirasi dengan cerita si nenek itu.
"Ee, jangan kambing. Kerbau. Belikan kerbau saja." tegas si nenek.
"Lhah, uangnya kurang, Nek." sahut Siti yang tentunya tahu harga kerbau itu sangat mahal.
"Caranya, uang kamu disuruh nambahi bapakmu. Kambingnya dijual sebagian untuk ditukarkan kerbau. Besok kalau kerbaunya sudah beranak pinak, dijual dibelikan sawah. Begitu caranya." jelas si nenek itu yang seakan menasehati cucunya sendiri.
"Iya, Nek." sahut Siti yang tersenyum senang. Pastinya dapat ilmu yang sangat bermanfaat dari orang yang sangat ia hormati itu.
"Cucian Nenek sudah rampung. Cepetan. Nanti sebentar lagi orang-orang kampung pada datang. Ini sudah mau sore, saatnya orang-orang mau mandi." kata Nenek Kosen yang selanjutnya mandi di sendang itu.
Demikian juga Siti, yang meskipun tergolong masih bocah, tetapi ia sanggup menyelesaikan cuciannya yang jumlahnya sangat banyak.
Hari itu, Siti, bocah perempuan yang harus menjadi pembantu rumah tangga di tempat Tuan Jono, benar-benar merasa senang bisa bersama dengan Nenek Kosen yang baik hati dan selalu menasehati dirinya tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments