Sebenarnya Jono bingung. Ingin menyampaikan kemauan istrinya yang meminta pembantu kepada orang tuanya, tetapi takut. Pastinya orang tuanya tidak setuju. Apalagi ibunya. Nenek Kosen yang antipati dengan pembantu di rumahnya, pasti akan menolaknya. Masak istrinya menganggur di rumah kok malah minta pembantu. Terus istrinya itu di suruh kerja apa? Apa hanya berdandan saja? Kalau dandan terus, uang yang digunkan beli bedak dari siapa, habis berapa duit? Sementara itu, Tuan Jono dan Ciblek masih tinggal satu rumah dengan orang tuanya. Kalau ada pembantu, nanti bagaimana dengan yang dikerjakan pembantunya, apa tidak berbenturan dengan yang dikerjakan oleh ibunya?
Namun saat di rumah mertuanya siang kemarin, ia sudah janji pada istrinya, bahkan juga disaksikan oleh mertuanya, kalau Tuan Jono akan mencarikan seorang pembantu di rumahnya, agar istrinya tidak repot-repot bekerja. Semua urusan rumah tangga dikerjakan oleh pembantunya.
Pagi sekali Jono sudah bangun. Lantas menuju ke gandok dapur seperti kemarin. Pastinya akan menemui ibunya yang sudah sibuk memasak di dapur.
"Mak!" panggil Jono pada ibunya.
"Heh! Bikin kaget Mamak saja." bentak ibunya yang kaget dengan panggilan anaknya yang tiba-tiba muncul di belakangnya.
"He, he, he." Jono tertawa kecil.
"Ada apa? Mau bantu Mamak masak? Mana istrimu? Sudah bangun apa belum? Sini, suruh bantu masak. Atau nyuci gelas dan piring itu." kata ibunya yang tentunya langsung menanyakan istrinya.
"Anu, Mak. Ciblek masih tidur. Biar saja, mungkin kecapaian." jawab Jono.
"Kecapaian? Memangnya kerja apaan? Lembur?" tanya ibunya yang tetap saja masih sibuk mengurusi tungku yang apinya berkali-kali mati.
"Lha, kemarin. Jalan dari rumahnya ke rumah kita. Jalan kaki lumayan jauh, Mak." jawab Jono yang melindungi istrinya.
"Kalau sudah bangun nanti, kamu suruh nyuci pakaianmu. Jangan kamu yang nyuci pakaian istrimu. Itu kebalik, tidak baik." kata ibunya.
"Iya, Mak. Tapi..." kata Jono yang terlihat ragu-ragu.
"Tapi apa?" tanya ibunya.
"Mak, bagaimana kalau saya cari pembantu?" kata Jono perlahan kepada ibunya.
"Maksud kamu, apa?" tanya ibunya.
"Saya cari pembantu rumah tangga, untuk membantu ngurusi pekerjaan di rumah kita. Biar Mamak juga tidak kecapaian. Saya kasihan melihat Mamak terus-terusan sibuk ngurusi dapur. Memasak, mencuci, bersih-bersih rumah. Masih lagi jualan di pasar. Mamak sudah tua. Tenaganya jangan terlalu dikuras terus. Nanti sakit. Kalau ada pembantu di rumah kita, setidaknya bisa mengurangi beban kerja Mamak." kata Jono yang mencoba merajuk ibunya.
"Kamu kok malah mendoakan ibumu sakit. Itu tidak baik, Jono. Kamu tidak boleh berkata seperti itu. Itu sama artinya ngalup orang tua. Mendoakan yang jelek. Nanti kalau Mamak sakit beneran bagaimana?" sahut ibunya yang tentu mengingatkan anaknya agar menjaga kata-katanya.
Ya, bagi orang zaman dulu, orang tua yang pemikirannya masih kuno, berkata-kata itu harus berhati-hati. Orang harus bisa menjaga perkataan yang keluar dari mulutnya. Karena kata-kata itu doa. Maka orang tidak boleh mengucapkan kata-kata yang tidak baik, yang nanti bisa berakibat buruk pada yang dibicarakannya. Maka tentu, Nenek Kosen tidak senang kalau anaknya mengatakan atau khawatir kalau ibunya sakit. Kata-kata itu bisa jadi beneran.
"Bukan seperti itu, Mamak. Maksud saya, untuk meringankan pekerjaan Mamak. Biar Mamak fokus berjualan di pasar. Kan lumayan, duitnya bisa dapat lebih banyak." kata Jono kembali memperbaiki ucapannya.
"Lhah, terus?" tanya ibunya ingin tahu maksud ucapan anaknya.
"Makanya, Mak. Saya itu mau cari pembantu rumah tangga, yang nanti ngurusi masak, nyuci dan bersih-bersih. Jadi, Mamak bisa berangkat ke pasar lebih pagi, pulangnya lebih siang, dagangannya lebih banyak, dan pastinya dapat uang banyak. Dan Mamak tidak tergesa-gesa pulang untuk nyiapkan makan buat kita." tambah Jono yang menjelaskan pada ibunya.
"Halah, Jono, Jono. Begini saja Mamak masih bisa, kok. Mamak masih sanggup. Dari pada uang kita dipakai untuk membayar pembantu, mending dicelengi. Ditabung. Bisa buat beli kerbau lagi." kata ibunya, yang tentu menasehati anaknya untuk bisa hidup berhemat.
"Nanti yang membayar pembantu bukan Mamak, bukan Bapak. Tapi saya, Mak. Dengan uang saya. Tidak usah khawatir. Yang penting pekerjaan Mamak lebih ringan, lebih enak." kata Jono yang terus berusaha membujuk ibunya agar mau ada pembantu di rumahnya.
"Terserah kamu, No." sahut ibunya sambil lalu. Dan terus mengurusi dapurnya sambil menata barang dagangannya yang akan dibawa ke pasar.
"Asyiiik. Terima kasih, Mak." kata Jono yang tentu girang, karena dengan berkata seperti itu, artinya ibunya sudah menyetujui kalau dirinya akan mendatangkan seorang pembantu rumah tangga di rumahnya.
-------
Di tempat kerja, Jono langsung bertanya-tanya pada rekan-rekannya, bagaimana untuk mencari atau mendapatkan seorang pembantu rumah tangga. Memang yang namanya pembentu rumah tangga itu masih jarang dan asing bagi masyarakat di Kampung Pademangan. Dan Tuan Jono ingin segera mencari orang yang mau jadi pembantu. Pastinya Jono tidak sabar untuk menyenangkan hati istrinya. Ingin memenuhi permintaan istrinya. Agar istrinya senang dan tidak terus-terusan ngambek.
"Maaf, Pak. Boleh tanya. Kalau mau cari pembantu rumah tangga, di mana ya, Pak?" tanya Jono pada temannya yang lebih senior di kantor pemerintahan kecamatan tempat ia bekerja.
"Waduh. Saya tidak tahu, Mas Jono. Maaf, saya kan tidak punya pembantu rumah tangga. Tidak punya uang untuk membayar. Coba tanya ke Bu Yuli. Kelihatannya beliau tahu. Bu Yuli punya pembantu di rumahnya." jawab laki-laki yang agak lebih tua, teman kerja yang duduknya dekat dengan Tuan Jono.
"Oh, ya, Bapak. Maaf, terima kasih." kata Jono, yang langsung berdiri dan melangkah maju menemui Bu Yuli, yang ada di sebrang tempat duduknya.
"Ada apa, Mas pengantin baru?" tanya Bu Yuli yang didatangi Jono.
"Maaf Bu Yuli, anu, Bu Yuli." kata Jono yang masih bingung cara bilangnya.
"Anu, apa? Istrinya tidak mau di anu, ya?" seloroh Bu Yuli yang langsung membuat pipi Tuan Jono memerah karena malu.
"Bukan, Bu. Mau tanya. Kalau saya mau mencari orang yang bisa membantu pekerjaan di rumah saya, di mana ya, Bu Yuli?" tanya Jono pada perempuan rekan kerjanya yang sudah agak tua itu.
"Ooo. Lhah, cari orang yang mau membantu bekerja di rumah, ya bilang sama tetangga, kan rumahnya lebih dekat." jawab Bu Yuli yang ditanyai.
"Bukan itu, Bu. Maksud saya pembantu rumah tangga. Rewang. Katanya Bu Yuli punya pembantu di rumah, barangkali tahu." tegas Jono yang yang memperjelas pertanyaannya.
"Ooo, pembantu rumah tangga. Mau yang laki-laki apa perempuan? Yang tua apa yang masih muda?" Bu Yuli balik bertanya pada Jono.
"Kalau bisa yang perempuan masih muda, Bu." jawab Jono.
"Nanti istrimu cemburu. Biasanya pengantin baru itu sering cemburuan lho." sahut Bu Yuli yang meledek pada Jono.
"Ah Tidak Bu, Bu Yuli itu ada-ada saja. Ya, dicarikan yang pantas lah, Bu." kata Jono.
"Ya, coba. Nanti saya bilangkan ke pembantu saya, biar dicarikan. Tapi agak sabar menunggu, ya." jawab Bu Yuli.
"Memang agak lama, Bu?" tanya Jono yang tentunya tidak sabar untuk segera punya pembantu rumah tangga.
"Lhah, iya, lah. Nunggu rewang saya pulang dulu, mencarikan di kampungnya." jawab Bu Yuli.
"Oo, begitu. Ya, Bu Yuli. Kalau bisa agak cepat. Karena istri saya minta segera.Bawaannya marah-marah melulu kalau disuruh bersih-bersih." timpal Jono yang memang menggebu.
"Tenang Mas Jono. Nanti siang anaknya biar pulang mencarikan pembantu untuk Mas Jono. Besok pagi biar langsung kemari, bertemu Mas Jono." kata Bu Yuli yang menjanjikan untuk mencarikan pembantu pada Tuan Jono.
"Ongkosnya berapa Bu?" tanya Tuan Jono.
"Alaa, gampang. Itu nanti, Mas Jono. Yang penting dapat pembantu dulu." sahut Bu Yuli.
Memang, pada masa tahun tujuh puluhan, mencari pembantu rumah tangga itu gampang-gampang susah. Karena perempuan di kampung atau di desa, biasanya membantu suaminya ikut bekerja sebagai petani, menggarap ladang dan sawah. Sehingga merasa repot kalau harus kerja dan tinggal di rumah majikannya. Orang yang mau menjadi pembantu biasanya mereka yang tidak punya lahan dan di kampungnya sudah tidak ada pekerjaan. Atau bisa juga perempuan dewasa yang sudah tidak punya tanggungan keluarga lagi, misalnya sudah menjadi janda dan tidak punya penghasilan apa-apa.
Dan memang agak lucu juga didengar oleh Bu Yuli, tentang Tuan Jono yang ingin cari pembantu, bahkan oleh orang-orang di kampungnya Jono kalau mendengar ada orang cari pembantu, baru kali ini ada orang desa yang mau punya pembantu rumah tangga. Rasanya agak aneh ketika keluarga yang tinggal di pelosok desa dengan tanpa sentuhan moderinasai, bahkan rumahnya masih dari kayu dan lantainya tanah, serta dapurnya masih menggunakan tungku kayu bakar, mencuci pakaian juga masih di sendang (semacam kolam berisi air dari sumber mata air), setiap harinya masih harus mengangsu air untuk mengisi tempayan sebagai persediaan untuk memasak. Tentu hal semacam ini sangat jauh dari bayangan kehidupan masyarakat desa yang serba guyub rukun serta saling membantu dan tolong menolong. Jauh dari kata mempekerjakan pembantu rumah tangga.
Tetapi itulah keiinginan Ciblek, istri Tuan Jono. Entah mendengar dari siapa, atau siapa yang mengajari untuk meminta pembantu rumah tangga di rumahnya. Padahal pembantu rumah tangga itu tidak gratis, harus membayar. Itu artinya Tuan Jono harus mengeluarkan uang untuk membayarnya. Padahal bayaran Jono sebagai pegawai kala itu hanya sekitar dua belas ribu. Beruntung makan dan macam-macam kebutuhan masih ikut nimbrung orang tua. Setidaknya untuk makan didapat dari hasil pekarangannya sendiri.
Sebenarnya memang nasehat ibunya itu baik. Tidak usah cari pembantu, pekerjaan rumah dikerjakan sendiri, uangnya bisa ditabung. Pasti lebih untung dan bisa cepat kaya karena punya gaji pegawai.
Namun memang sangat disayangkan, istri Tuan Jono ini dasarnya adalah perempuan pemalas dan tidak tahu pekerjaan sama sekali. Tidak bisa masak, tidak bisa mencuci, dan bahkan juga tidak bisa bersih-bersih rumah. Maunya menuntut apa saja, tetapi tidak mau kerja apa-apa. Perempuan yang hanya bisa duduk jegrang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments