BAB 7: PUNYA PEMBANTU

    Sebenarnya Jono bingung. Ingin menyampaikan kemauan istrinya yang meminta pembantu kepada orang tuanya, tetapi takut. Pastinya orang tuanya tidak setuju. Apalagi ibunya. Nenek Kosen yang antipati dengan pembantu di rumahnya, pasti akan menolaknya. Masak istrinya menganggur di rumah kok malah minta pembantu. Terus istrinya itu di suruh kerja apa? Apa hanya berdandan saja? Kalau dandan terus, uang yang digunkan beli bedak dari siapa, habis berapa duit? Sementara itu, Tuan Jono dan Ciblek masih tinggal satu rumah dengan orang tuanya. Kalau ada pembantu, nanti bagaimana dengan yang dikerjakan pembantunya, apa tidak berbenturan dengan yang dikerjakan oleh ibunya?

    Namun saat di rumah mertuanya siang kemarin, ia sudah janji pada istrinya, bahkan juga disaksikan oleh mertuanya, kalau Tuan Jono akan mencarikan seorang pembantu di rumahnya, agar istrinya tidak repot-repot bekerja. Semua urusan rumah tangga dikerjakan oleh pembantunya.

    Pagi sekali Jono sudah bangun. Lantas menuju ke gandok dapur seperti kemarin. Pastinya akan menemui ibunya yang sudah sibuk memasak di dapur.

    "Mak!" panggil Jono pada ibunya.

    "Heh! Bikin kaget Mamak saja." bentak ibunya yang kaget dengan panggilan anaknya yang tiba-tiba muncul di belakangnya.

    "He, he, he." Jono tertawa kecil.

    "Ada apa? Mau bantu Mamak masak? Mana istrimu? Sudah bangun apa belum? Sini, suruh bantu masak. Atau nyuci gelas dan piring itu." kata ibunya yang tentunya langsung menanyakan istrinya.

    "Anu, Mak. Ciblek masih tidur. Biar saja, mungkin kecapaian." jawab Jono.

    "Kecapaian? Memangnya kerja apaan? Lembur?" tanya ibunya yang tetap saja masih sibuk mengurusi tungku yang apinya berkali-kali mati.

    "Lha, kemarin. Jalan dari rumahnya ke rumah kita. Jalan kaki lumayan jauh, Mak." jawab Jono yang melindungi istrinya.

    "Kalau sudah bangun nanti, kamu suruh nyuci pakaianmu. Jangan kamu yang nyuci pakaian istrimu. Itu kebalik, tidak baik." kata ibunya.

    "Iya, Mak. Tapi..." kata Jono yang terlihat ragu-ragu.

    "Tapi apa?" tanya ibunya.

    "Mak, bagaimana kalau saya cari pembantu?" kata Jono perlahan kepada ibunya.

    "Maksud kamu, apa?" tanya ibunya.

    "Saya cari pembantu rumah tangga, untuk membantu ngurusi pekerjaan di rumah kita. Biar Mamak juga tidak kecapaian. Saya kasihan melihat Mamak terus-terusan sibuk ngurusi dapur. Memasak, mencuci, bersih-bersih rumah. Masih lagi jualan di pasar. Mamak sudah tua. Tenaganya jangan terlalu dikuras terus. Nanti sakit. Kalau ada pembantu di rumah kita, setidaknya bisa mengurangi beban kerja Mamak." kata Jono yang mencoba merajuk ibunya.

    "Kamu kok malah mendoakan ibumu sakit. Itu tidak baik, Jono. Kamu tidak boleh berkata seperti itu. Itu sama artinya ngalup orang tua. Mendoakan yang jelek. Nanti kalau Mamak sakit beneran bagaimana?" sahut ibunya yang tentu mengingatkan anaknya agar menjaga kata-katanya.

    Ya, bagi orang zaman dulu, orang tua yang pemikirannya masih kuno, berkata-kata itu harus berhati-hati. Orang harus bisa menjaga perkataan yang keluar dari mulutnya. Karena kata-kata itu doa. Maka orang tidak boleh mengucapkan kata-kata yang tidak baik, yang nanti bisa berakibat buruk pada yang dibicarakannya. Maka tentu, Nenek Kosen tidak senang kalau anaknya mengatakan atau khawatir kalau ibunya sakit. Kata-kata itu bisa jadi beneran.

    "Bukan seperti itu, Mamak. Maksud saya, untuk meringankan pekerjaan Mamak. Biar Mamak fokus berjualan di pasar. Kan lumayan, duitnya bisa dapat lebih banyak." kata Jono kembali memperbaiki ucapannya.

    "Lhah, terus?" tanya ibunya ingin tahu maksud ucapan anaknya.

    "Makanya, Mak. Saya itu mau cari pembantu rumah tangga, yang nanti ngurusi masak, nyuci dan bersih-bersih. Jadi, Mamak bisa berangkat ke pasar lebih pagi, pulangnya lebih siang, dagangannya lebih banyak, dan pastinya dapat uang banyak. Dan Mamak tidak tergesa-gesa pulang untuk nyiapkan makan buat kita." tambah Jono yang menjelaskan pada ibunya.

    "Halah, Jono, Jono. Begini saja Mamak masih bisa, kok. Mamak masih sanggup. Dari pada uang kita dipakai untuk membayar pembantu, mending dicelengi. Ditabung. Bisa buat beli kerbau lagi." kata ibunya, yang tentu menasehati anaknya untuk bisa hidup berhemat.

    "Nanti yang membayar pembantu bukan Mamak, bukan Bapak. Tapi saya, Mak. Dengan uang saya. Tidak usah khawatir. Yang penting pekerjaan Mamak lebih ringan, lebih enak." kata Jono yang terus berusaha membujuk ibunya agar mau ada pembantu di rumahnya.

    "Terserah kamu, No." sahut ibunya sambil lalu. Dan terus mengurusi dapurnya sambil menata barang dagangannya yang akan dibawa ke pasar.

    "Asyiiik. Terima kasih, Mak." kata Jono yang tentu girang, karena dengan berkata seperti itu, artinya ibunya sudah menyetujui kalau dirinya akan mendatangkan seorang pembantu rumah tangga di rumahnya.

-------

Di tempat kerja, Jono langsung bertanya-tanya pada rekan-rekannya, bagaimana untuk mencari atau mendapatkan seorang pembantu rumah tangga. Memang yang namanya pembentu rumah tangga itu masih jarang dan asing bagi masyarakat di Kampung Pademangan. Dan Tuan Jono ingin segera mencari orang yang mau jadi pembantu. Pastinya Jono tidak sabar untuk menyenangkan hati istrinya. Ingin memenuhi permintaan istrinya. Agar istrinya senang dan tidak terus-terusan ngambek.

    "Maaf, Pak. Boleh tanya. Kalau mau cari pembantu rumah tangga, di mana ya, Pak?" tanya Jono pada temannya yang lebih senior di kantor pemerintahan kecamatan tempat ia bekerja.

    "Waduh. Saya tidak tahu, Mas Jono. Maaf, saya kan tidak punya pembantu rumah tangga. Tidak punya uang untuk membayar. Coba tanya ke Bu Yuli. Kelihatannya beliau tahu. Bu Yuli punya pembantu di rumahnya." jawab laki-laki yang agak lebih tua, teman kerja yang duduknya dekat dengan Tuan Jono.

    "Oh, ya, Bapak. Maaf, terima kasih." kata Jono, yang langsung berdiri dan melangkah maju menemui Bu Yuli, yang ada di sebrang tempat duduknya.

    "Ada apa, Mas pengantin baru?" tanya Bu Yuli yang didatangi Jono.

    "Maaf Bu Yuli, anu, Bu Yuli." kata Jono yang masih bingung cara bilangnya.

    "Anu, apa? Istrinya tidak mau di anu, ya?" seloroh Bu Yuli yang langsung membuat pipi Tuan Jono memerah karena malu.

    "Bukan, Bu. Mau tanya. Kalau saya mau mencari orang yang bisa membantu pekerjaan di rumah saya, di mana ya, Bu Yuli?" tanya Jono pada perempuan rekan kerjanya yang sudah agak tua itu.

    "Ooo. Lhah, cari orang yang mau membantu bekerja di rumah, ya bilang sama tetangga, kan rumahnya lebih dekat." jawab Bu Yuli yang ditanyai.

    "Bukan itu, Bu. Maksud saya pembantu rumah tangga. Rewang. Katanya Bu Yuli punya pembantu di rumah, barangkali tahu." tegas Jono yang yang memperjelas pertanyaannya.

    "Ooo, pembantu rumah tangga. Mau yang laki-laki apa perempuan? Yang tua apa yang masih muda?" Bu Yuli balik bertanya pada Jono.

    "Kalau bisa yang perempuan masih muda, Bu." jawab Jono.

    "Nanti istrimu cemburu. Biasanya pengantin baru itu sering cemburuan lho." sahut Bu Yuli yang meledek pada Jono.

    "Ah Tidak Bu, Bu Yuli itu ada-ada saja. Ya, dicarikan yang pantas lah, Bu." kata Jono.

    "Ya, coba. Nanti saya bilangkan ke pembantu saya, biar dicarikan. Tapi agak sabar menunggu, ya." jawab Bu Yuli.

    "Memang agak lama, Bu?" tanya Jono yang tentunya tidak sabar untuk segera punya pembantu rumah tangga.

    "Lhah, iya, lah. Nunggu rewang saya pulang dulu, mencarikan di kampungnya." jawab Bu Yuli.

    "Oo, begitu. Ya, Bu Yuli. Kalau bisa agak cepat. Karena istri saya minta segera.Bawaannya marah-marah melulu kalau disuruh bersih-bersih." timpal Jono yang memang menggebu.

    "Tenang Mas Jono. Nanti siang anaknya biar pulang mencarikan pembantu untuk Mas Jono. Besok pagi biar langsung kemari, bertemu Mas Jono." kata Bu Yuli yang menjanjikan untuk mencarikan pembantu pada Tuan Jono.

    "Ongkosnya berapa Bu?" tanya Tuan Jono.

    "Alaa, gampang. Itu nanti, Mas Jono. Yang penting dapat pembantu dulu." sahut Bu Yuli.

    Memang, pada masa tahun tujuh puluhan, mencari pembantu rumah tangga itu gampang-gampang susah. Karena perempuan di kampung atau di desa, biasanya membantu suaminya ikut bekerja sebagai petani, menggarap ladang dan sawah. Sehingga merasa repot kalau harus kerja dan tinggal di rumah majikannya. Orang yang mau menjadi pembantu biasanya mereka yang tidak punya lahan dan di kampungnya sudah tidak ada pekerjaan. Atau bisa juga perempuan dewasa yang sudah tidak punya tanggungan keluarga lagi, misalnya sudah menjadi janda dan tidak punya penghasilan apa-apa.

    Dan memang agak lucu juga didengar oleh Bu Yuli, tentang Tuan Jono yang ingin cari pembantu, bahkan oleh orang-orang di kampungnya Jono kalau mendengar ada orang cari pembantu, baru kali ini ada orang desa yang mau punya pembantu rumah tangga. Rasanya agak aneh ketika keluarga yang tinggal di pelosok desa dengan tanpa sentuhan moderinasai, bahkan rumahnya masih dari kayu dan lantainya tanah, serta dapurnya masih menggunakan tungku kayu bakar, mencuci pakaian juga masih di sendang (semacam kolam berisi air dari sumber mata air), setiap harinya masih harus mengangsu air untuk mengisi tempayan sebagai persediaan untuk memasak. Tentu hal semacam ini sangat jauh dari bayangan kehidupan masyarakat desa yang serba guyub rukun serta saling membantu dan tolong menolong. Jauh dari kata mempekerjakan pembantu rumah tangga.

    Tetapi itulah keiinginan Ciblek, istri Tuan Jono. Entah mendengar dari siapa, atau siapa yang mengajari untuk meminta pembantu rumah tangga di rumahnya. Padahal pembantu rumah tangga itu tidak gratis, harus membayar. Itu artinya Tuan Jono harus mengeluarkan uang untuk membayarnya. Padahal bayaran Jono sebagai pegawai kala itu hanya sekitar dua belas ribu. Beruntung makan dan macam-macam kebutuhan masih ikut nimbrung orang tua. Setidaknya untuk makan didapat dari hasil pekarangannya sendiri.

    Sebenarnya memang nasehat ibunya itu baik. Tidak usah cari pembantu, pekerjaan rumah dikerjakan sendiri, uangnya bisa ditabung. Pasti lebih untung dan bisa cepat kaya karena punya gaji pegawai.

    Namun memang sangat disayangkan, istri Tuan Jono ini dasarnya adalah perempuan pemalas dan tidak tahu pekerjaan sama sekali. Tidak bisa masak, tidak bisa mencuci, dan bahkan juga tidak bisa bersih-bersih rumah. Maunya menuntut apa saja, tetapi tidak mau kerja apa-apa. Perempuan yang hanya bisa duduk jegrang.

Episodes
1 BAB I: PERNIKAHAN TUAN JONO
2 BAB 2: NGUNDUH MANTU
3 BAB 3: TINGGAL BERSAMA MERTUA
4 BAB 4: MEMARAHI ANAK KESAYANGAN
5 BAB 5: PENYESALAN
6 BAB 6: MINTA PEMBANTU
7 BAB 7: PUNYA PEMBANTU
8 BAB 8: PUNYA PEMBANTU
9 BAB 9: PEMBANTU BARU
10 BAB 10: CERITA SAAT MENCUCI
11 BAB 11: PEMBANTU MINTA PULANG
12 BAB 12: DIMARAHI ORANG TUA
13 BAB 13: NGAMBEK LAGI
14 BAB 14: KEMBALI MEMINTA SYARAT
15 BAB 15: MEMINTA RUMAH
16 BAB 16: MEMINDAH RUMAH
17 BAB 17: RUMAH YANG BUTUH KERAMAIAN
18 BAB 18: PENGGEMBALA CILIK
19 BAB 19: RUMAH YANG KOTOR
20 BAB 20: BERONTAK
21 BAB 21: KEGUGURAN
22 BAB 22: RUMAH POHON
23 BAB 23: MENJADI ANAK KAKEK DAN NENEK
24 BAB 24: ANAK PINTAR
25 BAB 25: PENCURI KAYU BAKAR
26 BAB 26: ANAK PERTAMA
27 BAB 27: PERUBAHAN ZAMAN
28 BAB 28: MURID TELADAN
29 BAB 29: SEKOLAH FAVORIT
30 BAB 30: BERAS DIMAKAN GERANDONG
31 BAB 31: MENYINGKIRKAN KELUARGA MERTUA
32 BAB 32: ADIK NAKAL
33 BAB 33: ANAK PINTAR
34 BAB 34: MEMBUKA WARUNG
35 BAB 35: INTERKOM
36 BAB 36: HARUS OPNAM
37 BAB 37: TELAH HILANG GIGI EMAS
38 BAB 38: DICARIKAN PACAR
39 BAB 39: PENCURI WARUNG
40 BAB 40: MAKLAR TANAH
41 BAB 41: MOTOR BARU
42 BAB 42: RUMAH GEDUNG
43 BAB 44: MINTA MOBIL
44 BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
45 BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
46 BAB 43: JIMAT PENUNGGU RUMAH
47 BAB 44: MINTA MOBIL
48 BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
49 BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
50 BAB 47: JADI GURU
51 BAB 48: SAYANG NENEK
52 BAB 49: PAMER GELANG
53 BAB 50: BERUBAH SIFAT
54 BAB 51: WATAK PUN BERUBAH
55 BAB 52: NAIK HAJI
56 BAB 53: PULANG HAJI
57 BAB 54: HAJI MABRUR
58 BAB 55: AGAMIS
59 BAB 56: KELUH KESAH SEORANG NENEK
60 BAB 57: PUSAKA LELUHUR
61 BAB 58: SEMAKIN MENYIMPANG
62 BAB 59: SEMUANYA BISA
63 BAB 60: JIKA ADA UANG JADI GAMPANG
64 BAB 61: PENGUSAHA HEBAT
65 BAB 62: PENGUSAHA GAGAL
66 BAB 63: JADI DOKTER
67 BAB 64: WANITA PELENGKAP
68 BAB 65: DEMO
69 BAB 66: NENEK SAKIT
70 BAB 67: KEHILANGAN ORANG-ORANG TERCINTA
71 BAB 68: SEMUA MENUNGGU
72 BAB 69: PENSIUNAN MENYUSAHKAN
73 BAB 70: TETAP MERASA HEBAT
74 BAB 71: MEMBAGI WARISAN
75 BAB 72: MENUNTUT LEBIH
76 BAB 73: SERANGAN JANTUNG
77 BAB 74: DOKTER SOMBONG
78 BAB 75: BAYANG HITAM
79 BAB 76: TUAN JONO MENINGGAL
80 BAB 77: LEBARAN KELABU
81 BAB 78: ORANG-ORANG SERAKAH
82 BAB 79: IKHLAS
83 BAB 80: INNA MA'AL USRI YUSRA
84 BAB 81: WARISAN TERKUTUK
85 BAB 82: KATA-KATA MENYAKITKAN
86 BAB 83: PENJAGA ITU TERNYATA ADA
87 BAB 84: TEROR PERTAMA
88 BAB 85: SIAPA YANG TIDAK PERCAYA HANTU?
89 BAB 86: TEROR KEDUA
90 BAB 87: PERINGATAN DOSA
91 BAB 88: PENANTANG SETAN
92 BAB 89: JANGAN GEGABAH
93 BAB 90: BANASPATI
94 BAB 91: DUKUN SAKTI
95 BAB 92: TAK PERNAH JERA
96 BAB 93: KEHILANGAN KAKI
97 BAB 94: MENANTANG SETAN
98 BAB 95: KEMARAHAN ISTRI
99 BAB 96: ANCAMAN ULAR
100 BAB 97: TATO KULIT ULAR
101 BAB 98: IKATAN NAGA GINI
Episodes

Updated 101 Episodes

1
BAB I: PERNIKAHAN TUAN JONO
2
BAB 2: NGUNDUH MANTU
3
BAB 3: TINGGAL BERSAMA MERTUA
4
BAB 4: MEMARAHI ANAK KESAYANGAN
5
BAB 5: PENYESALAN
6
BAB 6: MINTA PEMBANTU
7
BAB 7: PUNYA PEMBANTU
8
BAB 8: PUNYA PEMBANTU
9
BAB 9: PEMBANTU BARU
10
BAB 10: CERITA SAAT MENCUCI
11
BAB 11: PEMBANTU MINTA PULANG
12
BAB 12: DIMARAHI ORANG TUA
13
BAB 13: NGAMBEK LAGI
14
BAB 14: KEMBALI MEMINTA SYARAT
15
BAB 15: MEMINTA RUMAH
16
BAB 16: MEMINDAH RUMAH
17
BAB 17: RUMAH YANG BUTUH KERAMAIAN
18
BAB 18: PENGGEMBALA CILIK
19
BAB 19: RUMAH YANG KOTOR
20
BAB 20: BERONTAK
21
BAB 21: KEGUGURAN
22
BAB 22: RUMAH POHON
23
BAB 23: MENJADI ANAK KAKEK DAN NENEK
24
BAB 24: ANAK PINTAR
25
BAB 25: PENCURI KAYU BAKAR
26
BAB 26: ANAK PERTAMA
27
BAB 27: PERUBAHAN ZAMAN
28
BAB 28: MURID TELADAN
29
BAB 29: SEKOLAH FAVORIT
30
BAB 30: BERAS DIMAKAN GERANDONG
31
BAB 31: MENYINGKIRKAN KELUARGA MERTUA
32
BAB 32: ADIK NAKAL
33
BAB 33: ANAK PINTAR
34
BAB 34: MEMBUKA WARUNG
35
BAB 35: INTERKOM
36
BAB 36: HARUS OPNAM
37
BAB 37: TELAH HILANG GIGI EMAS
38
BAB 38: DICARIKAN PACAR
39
BAB 39: PENCURI WARUNG
40
BAB 40: MAKLAR TANAH
41
BAB 41: MOTOR BARU
42
BAB 42: RUMAH GEDUNG
43
BAB 44: MINTA MOBIL
44
BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
45
BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
46
BAB 43: JIMAT PENUNGGU RUMAH
47
BAB 44: MINTA MOBIL
48
BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
49
BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
50
BAB 47: JADI GURU
51
BAB 48: SAYANG NENEK
52
BAB 49: PAMER GELANG
53
BAB 50: BERUBAH SIFAT
54
BAB 51: WATAK PUN BERUBAH
55
BAB 52: NAIK HAJI
56
BAB 53: PULANG HAJI
57
BAB 54: HAJI MABRUR
58
BAB 55: AGAMIS
59
BAB 56: KELUH KESAH SEORANG NENEK
60
BAB 57: PUSAKA LELUHUR
61
BAB 58: SEMAKIN MENYIMPANG
62
BAB 59: SEMUANYA BISA
63
BAB 60: JIKA ADA UANG JADI GAMPANG
64
BAB 61: PENGUSAHA HEBAT
65
BAB 62: PENGUSAHA GAGAL
66
BAB 63: JADI DOKTER
67
BAB 64: WANITA PELENGKAP
68
BAB 65: DEMO
69
BAB 66: NENEK SAKIT
70
BAB 67: KEHILANGAN ORANG-ORANG TERCINTA
71
BAB 68: SEMUA MENUNGGU
72
BAB 69: PENSIUNAN MENYUSAHKAN
73
BAB 70: TETAP MERASA HEBAT
74
BAB 71: MEMBAGI WARISAN
75
BAB 72: MENUNTUT LEBIH
76
BAB 73: SERANGAN JANTUNG
77
BAB 74: DOKTER SOMBONG
78
BAB 75: BAYANG HITAM
79
BAB 76: TUAN JONO MENINGGAL
80
BAB 77: LEBARAN KELABU
81
BAB 78: ORANG-ORANG SERAKAH
82
BAB 79: IKHLAS
83
BAB 80: INNA MA'AL USRI YUSRA
84
BAB 81: WARISAN TERKUTUK
85
BAB 82: KATA-KATA MENYAKITKAN
86
BAB 83: PENJAGA ITU TERNYATA ADA
87
BAB 84: TEROR PERTAMA
88
BAB 85: SIAPA YANG TIDAK PERCAYA HANTU?
89
BAB 86: TEROR KEDUA
90
BAB 87: PERINGATAN DOSA
91
BAB 88: PENANTANG SETAN
92
BAB 89: JANGAN GEGABAH
93
BAB 90: BANASPATI
94
BAB 91: DUKUN SAKTI
95
BAB 92: TAK PERNAH JERA
96
BAB 93: KEHILANGAN KAKI
97
BAB 94: MENANTANG SETAN
98
BAB 95: KEMARAHAN ISTRI
99
BAB 96: ANCAMAN ULAR
100
BAB 97: TATO KULIT ULAR
101
BAB 98: IKATAN NAGA GINI

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!