Tuan Jono yang baru saja dimarahi oleh kedua orang tuanya, dengan linangan air mata yang membasahi pipinya, meski harus sambil menahan isak tangis, kembali masuk ke kamarnya. Tentunya ia akan menemui istrinya yang masih saja menggeletak di tempat tidur. Paling tidak Tuan Jono akan mengatakan kepada istrinya untuk bisa menerima masakan ibunya. Untuk tidak meminta makanan yang aneh-aneh yang tidak diketahui namanya dan tempat orang menjualnya.
"Sayangku. Kita makan apa adanya saja. Kita makan masakan Mamak. Hidup di desa itu tidak seperti di kota, yang mau apa-apa mudah untuk mencarinya. Tapi kita ini di pelosok yang jauh dari keramaian kota, tidak mudah untuk mencari makanan yang enak-enak. Kita syukuri saja yang ada." kata Tuan Jono kepada istrinya, dengan suara perlahan dan memelas, dan tentunya sambil menahan keluarnya isak tangis, meski beberapa kali harus menyeka air mata yang membasahi pipinya.
"Tidak! Pokoknya aku mau makan yang enak-enak!" tukas istrinya yang masih saja bersikeras untuk meminta makanan yang enak. Dan pasti wajah perempuan bernama Ciblek itu nampak tidak menyenangkan karena marah.
"Iya. Nanti saya carikan. Tapi sekarang makan dahulu masakan Mamak, sarapan dahulu, biar perutnya tidak kosong. Kasihan bayi yang ada di dalam kandungan kalau sampai kelaparan." kata Tuan Jono lagi yang meminta istrinya agar mau sarapan.
"Tidak! Saya tidak mau masakan Mamak kamu!" tegas Ciblek yang sambil memalingkan muka membelakangi suaminya.
"Terus maunya apa?" tanya Jono dengan suara mendayu, ia berharap istrinya bisa luluh dengan kata-katanya.
Berkali-kali Jono merayu istrinya. Namun, Ciblek sudah tidak memperhatikan suaminya. Ia duduk di tempat tidur dan membelakangi suaminya. Sudah tidak mau bicara lagi dengan Jono. Bahkan bibirnya sudah memoncong ke depan. Kalau ada karet bisa dikuncir. Ciblek ngambek.
Tuan Jono sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Tentu ia tidak ingin terjadi masalah dengan keluarganya. Maka lebih baik ia mengalah. Pagi itu dirasa sangat berat baginya. Sudah dimarahi oleh orang tuanya, dan kini dicuekin oleh istrinya. Dan Tuan Jono pun harus meninggalkan istrinya, untuk bersiap berangkat kerja. Bahkan tanpa berpamitan dengan istrinya, khawatir kalau Ciblek bertambah marah.
Di kantor kecamatan, Tuan Jono langsung menemui Bu Yuli. Perempuan yang sering dicurhati dan dimintai solusi masalah keluarganya. Tentu karena Bu Yuli dianggap yang paling dewasa dan bisa membantu Tuan Jono.
"Eh, maaf, Bu Yuli. Boleh tanya?" kata Jono pada temannya di kantor.
"Tanya apa lagi?" sahut Bu Yuli, perempuan sekitar empat puluh lima tahun itu menoleh ke arah Jono yang sudah berjongkok di samping kursinya.
"Anu, Bu Yuli. Makanan yang enak-enak itu apa, ya?" tanya Jono yang tentunya ingin mencarikan makanan untuk istrinya.
"Ya, banyak. Macam-macam. Mau sate? Apa ayam goreng? Apa opor bebek? Memangnya mau mentraktir saya?" kata Bu Yuli yang gede rasa.
"Bukan mentraktir, Bu Yuli. Istri saya itu minta makanan enak-enak. Tetapi setiap saya tanya apa, dia tidak menjawab. Bahkan malah marah-marah. Saya jadi bingung, Bu Yuli." jawab Tuan Jono.
"Istri kamu, hamil?" taya Bu Yuli.
"Iya, Bu. Bawaannya marah-marah melulu. Minta ini, minta itu. Bingung, saya." Jawab Tuan Jono yang terlihat memelas.
"Walah. Lhah, kalau cuman nuruti istri hamil kok bingung. Belikan rujak. Itu di depan pasar, ada yang jualan. Segar, pedas, enak. Jangan lupa, saya dibelikan satu bungkus ya. Hehehe." sahut Bu Yuli yang dengan mudahnya memberi solusi.
"Rujak?! Yang bener, Bu Yuli?!" Jono heran dengan jawaban temannya yang seakan gampang banget itu.
"Ya iya, lah. Orang hamil itu bawaannya ingin makan yang seger-seger. Pengin makan yang masam-masam. Orang ngidam itu sukanya makan rujak. Sudah, sana, cepetan dibelikan. Keburu ngambek nanti." kata Bu Yuli yang menyuruh Tuan Jono.
"Iya, iya Bu Yuli. Terima kasih." sahut Tuan Jono yang langsung berlari menuju pasar.
Ya, di bagian samping agak ke belakang, di sisi utara dari kantor kecamatan adalah pasar. Meskipun pasar krempyeng, yang hanya ramai pada pagi hari saja, siang sedikit sudah tidak ada pembeli, tetapi barang dagangannya lumayan komplit. Terutama barang-barang kebutuhan dapur dan rumah tangga.
Di bagian depan, dekat dengan jalan keluar masuk ke kampung, ada simbok (sebutan ibu-ibu yang sudah agak tua di kampung Pademangan dan sekitarnya) yang duduk menunggui tambir yang diletakkan di atas dunak, berjualan rujak dan pecel.
"Simbok, saya beli rujaknya dua bungkus." kata Tuan Jono pada penjual rujak tersebut.
"Ya. Pedas apa tidak?" tanya simbok penjual itu.
"Padas." jawab Tuan Jono.
Simbok penjual rujak itu pun langsung membungkuskan rujak pesanan Tuan Jono. Dan selanjutnya, setelah selesai dilayani, Tuan Jono langsung kembali ke kantor. Memberikan satu bungkus rujak yang barusan dibelinya kepada Bu Yuli teman kantornya. Mungkin seperti yang tadi dikatakan oleh Bu Yuli, minta ditraktir.
"Bu Yuli, ini rujak untuk Ibu. Dan saya mohon izin, mau pulang dulu. Mau ngantar rujak untuk istri saya." kata Tuan Jono sambil memberikan bungkusan rujak untuk temannya itu.
"Walah, iya. Terima kasih, Mas Jono." sahut Bu Yuli yang menerima bungkusan rujak dari Tuan Jono.
Tuan Jono pun bergegas pulang. Ia ingin segera memberikan rujak kepada istrinya, yang dikatakan makanan yang enak-enak bagi perempuan hamil, seperti yang dikatakan Bu Yuli. Dengan berjalan tergesa, hampir setengah berlari, saking-sakingnya ingin segera menyerahkan rujak kepada istrinya yang sedang mengidam. Maka dalam waktu kurang dari setengah jam, Tuan Jono sudah sampai di rumah. Tergesa ia masuk ke rumahnya.
"Ciblek, istriku sayang. Mas Jono datang. Membawa makanan yang enak-enak." kata Tuan Jono begitu masuk ke rumah.
Tidak ada suara yang menyahut. Mungkin istrinya masih marah, sehingga tidak mempedulikan suara suaminya yang memanggilnya, bahkan sambil mengatakan membawa makanan enak. Maka Jono yang sudah sampai di depan kamar, langsung membuka pintu kamarnya. Ingin segera memberikan rujak yang dibawanya.
"Sayang. Oo, oo. Kok sepi? Kok tidak ada orang?" Tuan Jono melenggong. Di kamarnya sepi. Kosong tidak ada orang. Istrinya tidak ada di dakam kamar.
"Ciblek! Ciblek! Ciblek!" Tuan Jono berteriak-teriak memanggil istrinya.
Namun berkali-kali Jono memanggil istrinya, tidak ada jawaban sama sekali. Berkali-kali Jono keluar masuk kamar, bahkan membuka lemari dan menengok kolong bawah tempat tidur. Siapa tahu istrinya bersembunyi. Kenyataannya, istrinya tidak ditemukan juga dalam kamarnya.
Lantas Jono ke dapur. Mencoba mencari Ciblek di dapur. Siapa tahu istrinya sedang masak di dapur.
"Ciblek! Ciblek!" kembali Tuan Jono berteriak-teriak memanggil istrinya. Dicari ke dapur. Tetapi tidak juga menemukan istrinya. Selanjutnya Tuan Jono keluar pintu belakang dapur, tempat biasanya ibunya mencuci peralatan dapur di sana. Anggapannya, mungkin istrinya sedang mencuci piring atau gelas kotor. Namun kenyataannya, Tuan Jono juga tidak menyakada istrinya di sana.
"Ciblek! Ciblek!" Tuan Jono kembali berteriak-teriak, memanggil dan mencari istrinya. Bahkan berkeliling rumah. Tetapi tidak juga menemukan Ciblek.
"Istrimu pergi. Mungkin pulang ke rumah orang tuanya." tiba-tiba Kakek Yan datang, memberi tahu anaknya yang sedang mencari istrinya.
"Hah? Pulang ke rumah orang tuanya? Waduh. Ngambek lagi." tentu Tuan Jono langsung kecewa. Niatnya yang akan memberikan rujak sebagai makanan enak kepada istrinya, jauh-jauh pulang pergi dari kantornya hanya ingin memenuhi permintaan istrinya, namun ternyata istrinya sudah tidak berada di rumah, istrinya sudah pergi, dan istrinya pasti ngambek lagi.
"Cepat kamu susul ke rumah mertuamu. Ajak kembali pulang kemari. Bagaimanapun juga kalian itu sudah menikah, sudah berumah tangga, sudah berkeluarga, maka harus bisa membangun, membina keluarga yang bahagia, tentram dan damai, selamat dunia maupun akherat. Jangan ada prasangka, jangan ada marah-marah. Kamu harus ingat, bahwa istrimu itu adalah pilihanmu sendiri. Yang ingin punya istri itu kamu. Maka kamu harus bisa tunjukkan bahwa perempuan yang kamu pilih itu orang baik." kata bapaknya yang tentunya menasehati Jono.
"Iya, Pak. Saya akan berusaha untuk berbuat dan melakukan yang terbaik. Saya akan menjemput kembali istri saya." sahut Jono sambil menunduk, yang tentunya akan berusaha untuk menjemput istrinya yang dipastikan ngambek tersebut. Dan pastinya Tuan Jono malu dan merasa bersalah sudah ditohok kata-kata yang sangat menusuk hatinya.
"Ingat, Jono. Kamu itu laki-laki. Sebagai seorang suami, kamu harus bisa membina, membimbing, dan menuntun istrimu. Suami itu imam, panutan bagi istrinya. Istri itu seharusnya menurut pada suaminya. Jadi, tolong kamu harus bisa bersikap bijak untuk mengatur rumah tangga kamu sendiri. Baik buruknya keluargamu itu urusan kamu. Menurut atau membangkangnya istri kamu, itu juga tanggung jawab kamu. Seharusnya Bapak dan Mamak kamu, sudah tidak punya kewajiban mengatur rumah tangga kamu. Tetapi saya sebagai orang tua, sudah semestinya menasehati anaknya. Itu pun kalau kamu mau dinasehati." kata Kakek Yan, yang biasanya diam, tapi kali ini terpaksa menasehati anaknya.
"Iya, Pak. Saya mohon doanya, saya akan menjemput Ciblek." begitu jawab Jono yang terus menunduk, pertanda ia sangat menyesal sudah mengecewakan orang tuanya.
Langsung jalan menuju rumah mertuanya, Tuan Jono menerabas jalan utama kampung, melalui lintasan pematang sawah dan perladangan. Tentu harapannya akan lebih cepat sampai ke rumah mertuanya. Dan pastinya, walau ia memikirkan istrinya, tentu Tuan Jono masih terngiang dengan kata-kata bapaknya. Seorang bapak yang jarang marah, jarang memberi wejangan, jarang berkata-kata.Tetapi tadi, kata-kata bapaknya jelas sangat menusuk perasaannya.
Yah, istrinya yang selalu ngambek, itu sebagai pertanda kalau dirinya tidak bisa membimbing dan mendidik istrinya. Lagi pula Tuan Jono tidak sanggup mengatur istrinya. Ia kalah dengan istrinya. Padahal yang namanya suami, harus menjadi orang yang dihormati oleh istrinya. Tetapi kenyataannya, Ciblek tidak seperti yang diharapkan oleh Tuan Jono.
"Ciblek, Ciblek. Kenapa sih, kamu kok ngambek melulu?" gumam Tuan Jono di sepanjang perjalanannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments