BAB 13: NGAMBEK LAGI

    Tuan Jono yang baru saja dimarahi oleh kedua orang tuanya, dengan linangan air mata yang membasahi pipinya, meski harus sambil menahan isak tangis, kembali masuk ke kamarnya. Tentunya ia akan menemui istrinya yang masih saja menggeletak di tempat tidur. Paling tidak Tuan Jono akan mengatakan kepada istrinya untuk bisa menerima masakan ibunya. Untuk tidak meminta makanan yang aneh-aneh yang tidak diketahui namanya dan tempat orang menjualnya.

    "Sayangku. Kita makan apa adanya saja. Kita makan masakan Mamak. Hidup di desa itu tidak seperti di kota, yang mau apa-apa mudah untuk mencarinya. Tapi kita ini di pelosok yang jauh dari keramaian kota, tidak mudah untuk mencari makanan yang enak-enak. Kita syukuri saja yang ada." kata Tuan Jono kepada istrinya, dengan suara perlahan dan memelas, dan tentunya sambil menahan keluarnya isak tangis, meski beberapa kali harus menyeka air mata yang membasahi pipinya.

    "Tidak! Pokoknya aku mau makan yang enak-enak!" tukas istrinya yang masih saja bersikeras untuk meminta makanan yang enak. Dan pasti wajah perempuan bernama Ciblek itu nampak tidak menyenangkan karena marah.

    "Iya. Nanti saya carikan. Tapi sekarang makan dahulu masakan Mamak, sarapan dahulu, biar perutnya tidak kosong. Kasihan bayi yang ada di dalam kandungan kalau sampai kelaparan." kata Tuan Jono lagi yang meminta istrinya agar mau sarapan.

    "Tidak! Saya tidak mau masakan Mamak kamu!" tegas Ciblek yang sambil memalingkan muka membelakangi suaminya.

    "Terus maunya apa?" tanya Jono dengan suara mendayu, ia berharap istrinya bisa luluh dengan kata-katanya.

    Berkali-kali Jono merayu istrinya. Namun, Ciblek sudah tidak memperhatikan suaminya. Ia duduk di tempat tidur dan membelakangi suaminya. Sudah tidak mau bicara lagi dengan Jono. Bahkan bibirnya sudah memoncong ke depan. Kalau ada karet bisa dikuncir.  Ciblek ngambek.

    Tuan Jono sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Tentu ia tidak ingin terjadi masalah dengan keluarganya. Maka lebih baik ia mengalah. Pagi itu dirasa sangat berat baginya. Sudah dimarahi oleh orang tuanya, dan kini dicuekin oleh istrinya. Dan Tuan Jono pun harus meninggalkan istrinya, untuk bersiap berangkat kerja. Bahkan tanpa berpamitan dengan istrinya, khawatir kalau Ciblek bertambah marah.

    Di kantor kecamatan, Tuan Jono langsung menemui Bu Yuli. Perempuan yang sering dicurhati dan dimintai solusi masalah keluarganya. Tentu karena Bu Yuli dianggap yang paling dewasa dan bisa membantu Tuan Jono.

    "Eh, maaf, Bu Yuli. Boleh tanya?" kata Jono pada temannya di kantor.

    "Tanya apa lagi?" sahut Bu Yuli, perempuan sekitar empat puluh lima tahun itu menoleh ke arah Jono yang sudah berjongkok di samping kursinya.

    "Anu, Bu Yuli. Makanan yang enak-enak itu apa, ya?" tanya Jono yang tentunya ingin mencarikan makanan untuk istrinya.

    "Ya, banyak. Macam-macam. Mau sate? Apa ayam goreng? Apa opor bebek? Memangnya mau mentraktir saya?"  kata Bu Yuli yang gede rasa.

    "Bukan mentraktir, Bu Yuli. Istri saya itu minta makanan enak-enak. Tetapi setiap saya tanya apa, dia tidak menjawab. Bahkan malah marah-marah. Saya jadi bingung, Bu Yuli." jawab Tuan Jono.

    "Istri kamu, hamil?" taya Bu Yuli.

    "Iya, Bu. Bawaannya marah-marah melulu. Minta ini, minta itu. Bingung, saya." Jawab Tuan Jono yang terlihat memelas.

    "Walah. Lhah, kalau cuman nuruti istri hamil kok bingung. Belikan rujak. Itu di depan pasar, ada yang jualan. Segar, pedas, enak. Jangan lupa, saya dibelikan satu bungkus ya. Hehehe." sahut Bu Yuli yang dengan mudahnya memberi solusi.

    "Rujak?! Yang bener, Bu Yuli?!" Jono heran dengan jawaban temannya yang seakan gampang banget itu.

    "Ya iya, lah. Orang hamil itu bawaannya ingin makan yang seger-seger. Pengin makan yang masam-masam. Orang ngidam itu sukanya makan rujak. Sudah, sana, cepetan dibelikan. Keburu ngambek nanti." kata Bu Yuli yang menyuruh Tuan Jono.

    "Iya, iya Bu Yuli. Terima kasih." sahut Tuan Jono yang langsung berlari menuju pasar.

    Ya, di bagian samping agak ke belakang, di sisi utara dari kantor kecamatan adalah pasar. Meskipun pasar krempyeng, yang hanya ramai pada pagi hari saja, siang sedikit sudah tidak ada pembeli, tetapi barang dagangannya lumayan komplit. Terutama barang-barang kebutuhan dapur dan rumah tangga.

    Di bagian depan, dekat dengan jalan keluar masuk ke kampung, ada simbok (sebutan ibu-ibu yang sudah agak tua di kampung Pademangan dan sekitarnya) yang duduk menunggui tambir yang diletakkan di atas dunak, berjualan rujak dan pecel.

    "Simbok, saya beli rujaknya dua bungkus." kata Tuan Jono pada penjual rujak tersebut.

    "Ya. Pedas apa tidak?" tanya simbok penjual itu.

    "Padas." jawab Tuan Jono.

    Simbok penjual rujak itu pun langsung membungkuskan rujak pesanan Tuan Jono. Dan selanjutnya, setelah selesai dilayani, Tuan Jono langsung kembali ke kantor. Memberikan satu bungkus rujak yang barusan dibelinya kepada Bu Yuli teman kantornya. Mungkin seperti yang tadi dikatakan oleh Bu Yuli, minta ditraktir.

    "Bu Yuli, ini rujak untuk Ibu. Dan saya mohon izin, mau pulang dulu. Mau ngantar rujak untuk istri saya." kata Tuan Jono sambil memberikan bungkusan rujak untuk temannya itu.

    "Walah, iya. Terima kasih, Mas Jono." sahut Bu Yuli yang menerima bungkusan rujak dari Tuan Jono.

    Tuan Jono pun bergegas pulang. Ia ingin segera memberikan rujak kepada istrinya, yang dikatakan makanan yang enak-enak bagi perempuan hamil, seperti yang dikatakan Bu Yuli. Dengan berjalan tergesa, hampir setengah berlari, saking-sakingnya ingin segera menyerahkan rujak kepada istrinya yang sedang mengidam. Maka dalam waktu kurang dari setengah jam, Tuan Jono sudah sampai di rumah. Tergesa ia masuk ke rumahnya.

    "Ciblek, istriku sayang. Mas Jono datang. Membawa makanan yang enak-enak." kata Tuan Jono begitu masuk ke rumah.

    Tidak ada suara yang menyahut. Mungkin istrinya masih marah, sehingga tidak mempedulikan suara suaminya yang memanggilnya, bahkan sambil mengatakan membawa makanan enak. Maka Jono yang sudah sampai di depan kamar, langsung membuka pintu kamarnya. Ingin segera memberikan rujak yang dibawanya.

    "Sayang. Oo, oo. Kok sepi? Kok tidak ada orang?" Tuan Jono melenggong. Di kamarnya sepi. Kosong tidak ada orang. Istrinya tidak ada di dakam kamar.

    "Ciblek! Ciblek! Ciblek!" Tuan Jono berteriak-teriak memanggil istrinya.

    Namun berkali-kali Jono memanggil istrinya, tidak ada jawaban sama sekali. Berkali-kali Jono keluar masuk kamar, bahkan membuka lemari dan menengok kolong bawah tempat tidur. Siapa tahu istrinya bersembunyi. Kenyataannya, istrinya tidak ditemukan juga dalam kamarnya.

    Lantas Jono ke dapur. Mencoba mencari Ciblek di dapur. Siapa tahu istrinya sedang masak di dapur.

    "Ciblek! Ciblek!" kembali Tuan Jono berteriak-teriak memanggil istrinya. Dicari ke dapur. Tetapi tidak juga menemukan istrinya. Selanjutnya Tuan Jono keluar pintu belakang dapur, tempat biasanya ibunya mencuci peralatan dapur di sana. Anggapannya, mungkin istrinya sedang mencuci piring atau gelas kotor. Namun kenyataannya, Tuan Jono juga tidak menyakada istrinya di sana.

    "Ciblek! Ciblek!" Tuan Jono kembali berteriak-teriak, memanggil dan mencari istrinya. Bahkan berkeliling rumah. Tetapi tidak juga menemukan Ciblek.

    "Istrimu pergi. Mungkin pulang ke rumah orang tuanya." tiba-tiba Kakek Yan datang, memberi tahu anaknya yang sedang mencari istrinya.

    "Hah? Pulang ke rumah orang tuanya? Waduh. Ngambek lagi." tentu Tuan Jono langsung kecewa. Niatnya yang akan memberikan rujak sebagai makanan enak kepada istrinya, jauh-jauh pulang pergi dari kantornya hanya ingin memenuhi permintaan istrinya, namun ternyata istrinya sudah tidak berada di rumah, istrinya sudah pergi, dan istrinya pasti ngambek lagi.

    "Cepat kamu susul ke rumah mertuamu. Ajak kembali pulang kemari. Bagaimanapun juga kalian itu sudah menikah, sudah berumah tangga, sudah berkeluarga, maka harus bisa membangun, membina keluarga yang bahagia, tentram dan damai, selamat dunia maupun akherat. Jangan ada prasangka, jangan ada marah-marah. Kamu harus ingat, bahwa istrimu itu adalah pilihanmu sendiri. Yang ingin punya istri itu kamu. Maka kamu harus bisa tunjukkan bahwa perempuan yang kamu pilih itu orang baik." kata bapaknya yang tentunya menasehati Jono.

    "Iya, Pak. Saya akan berusaha untuk berbuat dan melakukan yang terbaik. Saya akan menjemput kembali istri saya." sahut Jono sambil menunduk, yang tentunya akan berusaha untuk menjemput istrinya yang dipastikan ngambek tersebut. Dan pastinya Tuan Jono malu dan merasa bersalah sudah ditohok kata-kata yang sangat menusuk hatinya.

    "Ingat, Jono. Kamu itu laki-laki. Sebagai seorang suami, kamu harus bisa membina, membimbing, dan menuntun istrimu. Suami itu imam, panutan bagi istrinya. Istri itu seharusnya menurut pada suaminya. Jadi, tolong kamu harus bisa bersikap bijak untuk mengatur rumah tangga kamu sendiri. Baik buruknya keluargamu itu urusan kamu. Menurut atau membangkangnya istri kamu, itu juga tanggung jawab kamu. Seharusnya Bapak dan Mamak kamu, sudah tidak punya kewajiban mengatur rumah tangga kamu. Tetapi saya sebagai orang tua, sudah semestinya menasehati anaknya. Itu pun kalau kamu mau dinasehati." kata Kakek Yan, yang biasanya diam, tapi kali ini terpaksa menasehati anaknya.

    "Iya, Pak. Saya mohon doanya, saya akan menjemput Ciblek." begitu jawab Jono yang terus menunduk, pertanda ia sangat menyesal sudah mengecewakan orang tuanya.

    Langsung jalan menuju rumah mertuanya, Tuan Jono menerabas jalan utama kampung, melalui lintasan pematang sawah dan perladangan. Tentu harapannya akan lebih cepat sampai ke rumah mertuanya. Dan pastinya, walau ia memikirkan istrinya, tentu Tuan Jono masih terngiang dengan kata-kata bapaknya. Seorang bapak yang jarang marah, jarang memberi wejangan, jarang berkata-kata.Tetapi tadi, kata-kata bapaknya jelas sangat menusuk perasaannya.

    Yah, istrinya yang selalu ngambek, itu sebagai pertanda kalau dirinya tidak bisa membimbing dan mendidik istrinya. Lagi pula Tuan Jono tidak sanggup mengatur istrinya. Ia kalah dengan istrinya. Padahal yang namanya suami, harus menjadi orang yang dihormati oleh istrinya. Tetapi kenyataannya, Ciblek tidak seperti yang diharapkan oleh Tuan Jono.

    "Ciblek, Ciblek. Kenapa sih, kamu kok ngambek melulu?" gumam Tuan Jono di sepanjang perjalanannya.

Episodes
1 BAB I: PERNIKAHAN TUAN JONO
2 BAB 2: NGUNDUH MANTU
3 BAB 3: TINGGAL BERSAMA MERTUA
4 BAB 4: MEMARAHI ANAK KESAYANGAN
5 BAB 5: PENYESALAN
6 BAB 6: MINTA PEMBANTU
7 BAB 7: PUNYA PEMBANTU
8 BAB 8: PUNYA PEMBANTU
9 BAB 9: PEMBANTU BARU
10 BAB 10: CERITA SAAT MENCUCI
11 BAB 11: PEMBANTU MINTA PULANG
12 BAB 12: DIMARAHI ORANG TUA
13 BAB 13: NGAMBEK LAGI
14 BAB 14: KEMBALI MEMINTA SYARAT
15 BAB 15: MEMINTA RUMAH
16 BAB 16: MEMINDAH RUMAH
17 BAB 17: RUMAH YANG BUTUH KERAMAIAN
18 BAB 18: PENGGEMBALA CILIK
19 BAB 19: RUMAH YANG KOTOR
20 BAB 20: BERONTAK
21 BAB 21: KEGUGURAN
22 BAB 22: RUMAH POHON
23 BAB 23: MENJADI ANAK KAKEK DAN NENEK
24 BAB 24: ANAK PINTAR
25 BAB 25: PENCURI KAYU BAKAR
26 BAB 26: ANAK PERTAMA
27 BAB 27: PERUBAHAN ZAMAN
28 BAB 28: MURID TELADAN
29 BAB 29: SEKOLAH FAVORIT
30 BAB 30: BERAS DIMAKAN GERANDONG
31 BAB 31: MENYINGKIRKAN KELUARGA MERTUA
32 BAB 32: ADIK NAKAL
33 BAB 33: ANAK PINTAR
34 BAB 34: MEMBUKA WARUNG
35 BAB 35: INTERKOM
36 BAB 36: HARUS OPNAM
37 BAB 37: TELAH HILANG GIGI EMAS
38 BAB 38: DICARIKAN PACAR
39 BAB 39: PENCURI WARUNG
40 BAB 40: MAKLAR TANAH
41 BAB 41: MOTOR BARU
42 BAB 42: RUMAH GEDUNG
43 BAB 44: MINTA MOBIL
44 BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
45 BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
46 BAB 43: JIMAT PENUNGGU RUMAH
47 BAB 44: MINTA MOBIL
48 BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
49 BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
50 BAB 47: JADI GURU
51 BAB 48: SAYANG NENEK
52 BAB 49: PAMER GELANG
53 BAB 50: BERUBAH SIFAT
54 BAB 51: WATAK PUN BERUBAH
55 BAB 52: NAIK HAJI
56 BAB 53: PULANG HAJI
57 BAB 54: HAJI MABRUR
58 BAB 55: AGAMIS
59 BAB 56: KELUH KESAH SEORANG NENEK
60 BAB 57: PUSAKA LELUHUR
61 BAB 58: SEMAKIN MENYIMPANG
62 BAB 59: SEMUANYA BISA
63 BAB 60: JIKA ADA UANG JADI GAMPANG
64 BAB 61: PENGUSAHA HEBAT
65 BAB 62: PENGUSAHA GAGAL
66 BAB 63: JADI DOKTER
67 BAB 64: WANITA PELENGKAP
68 BAB 65: DEMO
69 BAB 66: NENEK SAKIT
70 BAB 67: KEHILANGAN ORANG-ORANG TERCINTA
71 BAB 68: SEMUA MENUNGGU
72 BAB 69: PENSIUNAN MENYUSAHKAN
73 BAB 70: TETAP MERASA HEBAT
74 BAB 71: MEMBAGI WARISAN
75 BAB 72: MENUNTUT LEBIH
76 BAB 73: SERANGAN JANTUNG
77 BAB 74: DOKTER SOMBONG
78 BAB 75: BAYANG HITAM
79 BAB 76: TUAN JONO MENINGGAL
80 BAB 77: LEBARAN KELABU
81 BAB 78: ORANG-ORANG SERAKAH
82 BAB 79: IKHLAS
83 BAB 80: INNA MA'AL USRI YUSRA
84 BAB 81: WARISAN TERKUTUK
85 BAB 82: KATA-KATA MENYAKITKAN
86 BAB 83: PENJAGA ITU TERNYATA ADA
87 BAB 84: TEROR PERTAMA
88 BAB 85: SIAPA YANG TIDAK PERCAYA HANTU?
89 BAB 86: TEROR KEDUA
90 BAB 87: PERINGATAN DOSA
91 BAB 88: PENANTANG SETAN
92 BAB 89: JANGAN GEGABAH
93 BAB 90: BANASPATI
94 BAB 91: DUKUN SAKTI
95 BAB 92: TAK PERNAH JERA
96 BAB 93: KEHILANGAN KAKI
97 BAB 94: MENANTANG SETAN
98 BAB 95: KEMARAHAN ISTRI
99 BAB 96: ANCAMAN ULAR
100 BAB 97: TATO KULIT ULAR
101 BAB 98: IKATAN NAGA GINI
Episodes

Updated 101 Episodes

1
BAB I: PERNIKAHAN TUAN JONO
2
BAB 2: NGUNDUH MANTU
3
BAB 3: TINGGAL BERSAMA MERTUA
4
BAB 4: MEMARAHI ANAK KESAYANGAN
5
BAB 5: PENYESALAN
6
BAB 6: MINTA PEMBANTU
7
BAB 7: PUNYA PEMBANTU
8
BAB 8: PUNYA PEMBANTU
9
BAB 9: PEMBANTU BARU
10
BAB 10: CERITA SAAT MENCUCI
11
BAB 11: PEMBANTU MINTA PULANG
12
BAB 12: DIMARAHI ORANG TUA
13
BAB 13: NGAMBEK LAGI
14
BAB 14: KEMBALI MEMINTA SYARAT
15
BAB 15: MEMINTA RUMAH
16
BAB 16: MEMINDAH RUMAH
17
BAB 17: RUMAH YANG BUTUH KERAMAIAN
18
BAB 18: PENGGEMBALA CILIK
19
BAB 19: RUMAH YANG KOTOR
20
BAB 20: BERONTAK
21
BAB 21: KEGUGURAN
22
BAB 22: RUMAH POHON
23
BAB 23: MENJADI ANAK KAKEK DAN NENEK
24
BAB 24: ANAK PINTAR
25
BAB 25: PENCURI KAYU BAKAR
26
BAB 26: ANAK PERTAMA
27
BAB 27: PERUBAHAN ZAMAN
28
BAB 28: MURID TELADAN
29
BAB 29: SEKOLAH FAVORIT
30
BAB 30: BERAS DIMAKAN GERANDONG
31
BAB 31: MENYINGKIRKAN KELUARGA MERTUA
32
BAB 32: ADIK NAKAL
33
BAB 33: ANAK PINTAR
34
BAB 34: MEMBUKA WARUNG
35
BAB 35: INTERKOM
36
BAB 36: HARUS OPNAM
37
BAB 37: TELAH HILANG GIGI EMAS
38
BAB 38: DICARIKAN PACAR
39
BAB 39: PENCURI WARUNG
40
BAB 40: MAKLAR TANAH
41
BAB 41: MOTOR BARU
42
BAB 42: RUMAH GEDUNG
43
BAB 44: MINTA MOBIL
44
BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
45
BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
46
BAB 43: JIMAT PENUNGGU RUMAH
47
BAB 44: MINTA MOBIL
48
BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
49
BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
50
BAB 47: JADI GURU
51
BAB 48: SAYANG NENEK
52
BAB 49: PAMER GELANG
53
BAB 50: BERUBAH SIFAT
54
BAB 51: WATAK PUN BERUBAH
55
BAB 52: NAIK HAJI
56
BAB 53: PULANG HAJI
57
BAB 54: HAJI MABRUR
58
BAB 55: AGAMIS
59
BAB 56: KELUH KESAH SEORANG NENEK
60
BAB 57: PUSAKA LELUHUR
61
BAB 58: SEMAKIN MENYIMPANG
62
BAB 59: SEMUANYA BISA
63
BAB 60: JIKA ADA UANG JADI GAMPANG
64
BAB 61: PENGUSAHA HEBAT
65
BAB 62: PENGUSAHA GAGAL
66
BAB 63: JADI DOKTER
67
BAB 64: WANITA PELENGKAP
68
BAB 65: DEMO
69
BAB 66: NENEK SAKIT
70
BAB 67: KEHILANGAN ORANG-ORANG TERCINTA
71
BAB 68: SEMUA MENUNGGU
72
BAB 69: PENSIUNAN MENYUSAHKAN
73
BAB 70: TETAP MERASA HEBAT
74
BAB 71: MEMBAGI WARISAN
75
BAB 72: MENUNTUT LEBIH
76
BAB 73: SERANGAN JANTUNG
77
BAB 74: DOKTER SOMBONG
78
BAB 75: BAYANG HITAM
79
BAB 76: TUAN JONO MENINGGAL
80
BAB 77: LEBARAN KELABU
81
BAB 78: ORANG-ORANG SERAKAH
82
BAB 79: IKHLAS
83
BAB 80: INNA MA'AL USRI YUSRA
84
BAB 81: WARISAN TERKUTUK
85
BAB 82: KATA-KATA MENYAKITKAN
86
BAB 83: PENJAGA ITU TERNYATA ADA
87
BAB 84: TEROR PERTAMA
88
BAB 85: SIAPA YANG TIDAK PERCAYA HANTU?
89
BAB 86: TEROR KEDUA
90
BAB 87: PERINGATAN DOSA
91
BAB 88: PENANTANG SETAN
92
BAB 89: JANGAN GEGABAH
93
BAB 90: BANASPATI
94
BAB 91: DUKUN SAKTI
95
BAB 92: TAK PERNAH JERA
96
BAB 93: KEHILANGAN KAKI
97
BAB 94: MENANTANG SETAN
98
BAB 95: KEMARAHAN ISTRI
99
BAB 96: ANCAMAN ULAR
100
BAB 97: TATO KULIT ULAR
101
BAB 98: IKATAN NAGA GINI

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!