Siapa orangnya yang tidak ingin hidup kaya? Siapa orang yang tidak ingin hidup bahagia? Siapapun manusia di muka bumi ini, tentunya mengharapkan hidup kaya raya dengan bergelimang harta kemewahan, hidup yang menyenangkan, hidup yang serba tercukupi semua kebutuhannya, tidak kekurangan suatu apapun, hidup yang bahagia. Dan bila perlu tidak hanya bahagia di dunia, tetapi juga bahagia di akhirat. Ya, itulah konsep hidup manusia yang umumnya memang seperti itu. Bahkan ada yang membuat jargon "muda kaya raya, tua leha-leha, mati masuk surga".
Seperti halnya keluarga Tuan Jono, yang dari pertama kali membangun rumah tangga, memang sudah berasal dari keluarga yang kaya raya. Modal hidup keluarga Tuan Jono memang berasal dari keturunan orang yang berada, dari keturunan orang yang serba memiliki apa saja yang dibutuhkan dalam hidupnya. Ya, Tuan Jono memang memiliki peninggalan harta kekayaan yang cukup berlimpah dari orang tuanya.
Oleh sebab itulah dalam kehidupannya yang serba berkelimpahan harta kekayaan, Tuan Jono bersama istrinya, dan tentu bersama dengan anak-anaknya, menanamkan cara hidup yang serba mewah. Tiga orang anaknya, yaitu Eni, Moko dan Manto, sejak kecil sudah dimanja dengan harta benda dan kekayaan yang tidak terhitung jumlahnya. Tentu anak-anaknya sangat senang bisa menikmati kemewahan dalam hidupnya, meski itu harta dari orang tuanya. Apalagi istrinya, Nyonya Ciblek, yang tentunya sangat menikmati kekayaan suaminya.
Keluarga Tuan Jono merupakan keluarga yang sangat terpandang di kampung halamannya. Bahkan tidak hanya orang-orang sekampungnya, tetapi juga kampung-kampung di sekelilingnya. Bahkan boleh dikatakan, orang satu kecamatan kenal dengan orang yang bernama Tuan Jono. Keluarga Tuan Jono sangat disegani oleh para tetangga. Keluarga Tuan Jono sangat dihormati, bahkan mendapat tempat tersendiri dalam posisi kehidupan bermasyarakat, yaitu sebagai orang terpandang, orang yang berada di kelompok atas dalam sebuah kehidupan bermasyarakat. Ya, itulah enaknya menjadi orang kaya, selalu mendapatkan best position atau special place di masyarakat.
Sebenarnya Tuan Jono bukanlah satu-satunya keturunan dari orang tuanya, yaitu pasangan Kakek Yan dan Nenek Kosen. Tetapi Tuan Jono masih punya saudara kakak perempuan yang bernama Rose. Namun kakak perempuan dari Tuan Jono ini setelah menikah ikut serta bersama suaminya tinggal di tempat lain yang agak jauh dari orang tuanya. Memang, biasanya seorang perempuan kalau sudah menikah, apalagi sebagai anak pertama yang masih punya adik, ia akan tinggal bersama suaminya, ikut suaminya. Setidaknya ke tempat tinggal yang baru yang disiapkan oleh suaminya.
Memang biasanya seorang laki-laki yang menikah dengan perempuan dari keluarga yang masih memliki adik dan adiknya belum menikah, akan memilih untuk tinggal di tempat yang baru atau berpindah dari rumah mertuanya. Tentu hal itu karena mereka berpendapat tidak mau dianggap hanya bergantung pada mertua. Setidaknya seorang laki-laki akan membawa istrinya untuk membangun rumah tangganya sendiri tanpa mengganggu mertuanya atau orang tua dari istrinya. Orang-orang di kampung Kakek Yan dan Nenek Kosen, akan menganggap laki-laki yang berani menikah dan memberi rumah baru pada istrinya, akan dikatakan sebagai laki-laki yang bertanggung jawab, laki-laki yang hebat, laki-laki yang akan membahagiakan istri dan keluarganya.
Tentu sangat berbeda dengan Tuan Jono. Sebagai anak ragil atau anak bungsu dari keluarga Kakek Yan dan Nenek Kosen, walaupun dia seorang laki-laki, tetapi menurut adat setempat, ia berhak menempati rumah warisan dari orang tuanya. Anak bungsu diharapkan akan menemani orang tuanya di saat renta. Anak bungsu yang tinggal bersama di rumah warisan itu, akan merawat kedua orang tuanya jika orang tuanya sakit atau sudah tidak sanggup apa-apa lagi. Setidaknya, anak bungsu inilah yang diharapkan bisa menopang hidup orang tuanya, saat kedua orang tuanya sudah tidak bisa apa-apa lagi.
Itulah sebabnya, maka Tuan Jono kelak berhak mendapatkan banyak warisan dari orang tuanya. Pastinya, Kakek Yan dan Nenek Kosen yang kala hidupnya sangat jaya dengan berbagai macam usaha, memiliki harta kekayaan yang tidak sedikit jumlahnya, sebagai orang yang kaya raya, dan itu semua akan diberikan kepada Tuan Jono sebagai pewaris kekayaannya.
Lebih enaknya lagi, Tuan Jono ini tidak hanya mewarisi tanah-tanah warisan yang diberikan oleh orang tuanya, melainkan juga mendapat kemudahan dalam bekerja di pemerintahan sebagai seorang pegawai negeri. Ya, setidaknya Kakek Yan kala itu masih memiliki pengaruh dan dipercaya oleh para pejabat di daerahnya. Maka tidak heran kalau Kakek Yan menitipkan Tuan Jono yang saat itu masih muda dan belum berumah tangga, untuk bisa diterima sebagai pegawai negeri. Dan waktu itu, sekitar lima puluh tahun yang lalu, untuk menjadi pegawai negeri masih mudah. Setidaknya saingannya tidak terlalu banyak. Paling-paling hanya dibutuhkan ijazah yang sesuai dengan posisinya. Kalaupun Kakek Yan harus mengeluarkan uang sebagai ucapan terima kasih, pastinya tidak terlalu banyak. Bagi Kakek Yan itu semua sangat gampang.
Dan kenyataannya, kala itu, Tuan Jono yang masih muda dan belum berumah tangga, langsung menjadi pegawai di pemerintahan. Tentu itu menjadi kebanggaan, tidak hanya bagi Tuan Jono yang masih lajang, tetapi juga bagi Kakek Yan dan Nenek Kosen. Bahkan bagi saudara-saudara dari keluarga Kakek Yan yang tentunya senang ada salah satu keluarganya yang menjadi pegawai negeri. Ya, setidaknya Kakek Yan sudah bisa menempatkan anaknya menjadi seorang pegawai di pemerintahan, sehingga Tuan Jono tidak lagi menjadi pemuda yang lontang-lantung.
Hingga akhirnya, Tuan Jono yang masih muda itu harus menikah. Ia harus memilih perempuan untuk mendampingi hidupnya. Tuan Jono muda itu harus mencari gadis untuk dijadikan istrinya dalam melangsungkan hidup berumah tangga. Tentu seleranya tidak rendahan. Dasar anak orang kaya dan sudah menjadi pegawai di pemerintahan, maka ia pun akan mencari gadis tercantik untuk dijadikan pendamping dalam hidupnya. Tuan Jono berkeliling ke kampung-kampung tetangga, untuk mencari gadis yang cocok untuk dijadikan pendamping hidupnya.
Kampung Pademangan, tempat tinggal Kakek Yan dan Nenek Kosen bersama dengan anaknya, pada tahun 1970 masih merupakan perkampungan yang jauh dari perkotaan dan sangat jauh dari kemajuan zaman. Tidak aneh kalau kampung yang mayoritas penduduknya adalah petani itu masih sangat ketinggalan. Bahkan kehidupannya masih boleh dikatakan primitif. Namun anehnya, jika ada berita sekecil apapun, orang se kampung langsung mendengar dan mengetahuinya. Termasuk berita kalau Tuan Jono Muda itu ingin mencari gadis yang akan dijadikan pendaping hidupnya.
Anak polah bopo kepradah. Pepatah bahasa Jawa yang mengibaratkan kalau seorang anak menginginkan sesuatu maka bapaknya harus menuruti keinginan anaknya itu. Ketika anak meminta untuk dinikahkan, maka orang tuanya pun harus menuruti apa yang menjadi kehendak anaknya. Tuan Jono muda sudah mendapatkan gadis idaman. Walau sebenarnya ibunya sudah menyodorkan beberapa gadis yang oleh orang tuanya dipandang cocok untuk mendampingi Tuan Jono, namun pilihan Tuan Jono dipandang yang paling cocok untuk dirinya. Sedangkan pilihan orang tuanya, banyak saja alasan dari tuan Jono untuk menolak gadis yang ditawarkan. Bahkan Tuan Jono harus marah untuk menolak calon istri yang disodorkan oleh ibunya.
Untuk menghindari kemarahan Tuan Jono, tentu orang tuanya mengalah. Maka, Tuan Jono muda itu pun langsung dilamarkankan dengan perempuan yang ditaksirnya. Gadis dari kampung sebelah. Pernikahan pun segera dilangsungkan. Pesta pernikahan pun sangat ramai dan meriah.
Tidak sekedar ramai dengan hiburan wayang kulit semalam suntuk, tetapi para pengiring pengantin kala itu benar-benar sangat meriah. Orang satu kampung ikut mengarak pengantin, dari rumah Kakek Yan menuju ke kediaman mempelai wanita. Kala itu, mengiring pengantin belum naik mobil atau kendaraan karena memang belum ada orang di kampungnya yang punya mobil atau motor, tetapi jalan kaki dari rumah pengantin pria menuju ke rumah mempelai wanita.
Pengantin laki-laki dirias dengan mengenakan pakaian beskap kebesaran serta mahkota, seperti layaknya seorang raja, dan dinaikkan kuda. Kuda pengantin itu pun juga dirias, setidaknya ada hiasan kembang manggar di kepala kuda, serta roncean bunga warna-warni di badan kuda itu. Kuda yang dinaiki pengantin pria dengan dandanan ala seorang raja itu pun berjalan paling depan yang dituntun oleh pemilik kuda.
Lantas di belakang pengantin pria yang diikuti oleh Kakek Yan dan Nenek Kosen, berbaris kerabat keluarganya serta pengiring perempuan, yang rata-rata masih muda, kalau pun ada yang sudah berumah tangga pasti masih ibu muda, yang jumlahnya sangat banyak. Para perempuan ini berdandan semua, memakai kain kebaya dan dirias oleh para perias pengantin. Pasti kelihatan cantik-cantik. Namun tentunya, para perempuan yang berjalan itu tidak sekadar berjalan mengiring pengantin saja, tetapi mereka semua membawa barang-barang bawaan sebagai tanda mata dan penghormatan bagi sang besan ataupun pengantin wanita.
Ya, barang-barang yang dibawa itu macam-macam. Memang biasanya banyaknya dan macamnya barang-barang itu tergantung dari kemampuan pihak keluarga laki-laki. Tetapi kali ini yang membesan adalah keluarga Kakek Jani, yang terkenal kaya raya. Maka pastinya, Kakek Janitidak mau malu dengan orang-orang di kampungnya atau pun di kampung-kampung sebelah yang dilalui oleh arak-arakan pengiring pengantin tersebut. Keluarga Kakek Janiakan memberikan yang terbaik. Karena barang bawaan itu adalah lambang kehormatan, lambang kelas sosial, lambang yang menempatkan kedudukan dan kekayaan seseorang. Tentu Kakek Janitidak mau pelit untuk membawa barang bawaannya tersebut. Barang-barang yang dibawa itu meliputi seperangkat pakaian wanita lengkap, dari atas kepala hingga ujung kaki. Mulai kerudung, baju, kain jarit, kain untuk bahan pakaian, aneka pakaian dalam, sendal hingga tas wanita. Termasuk ada perlengkapan rias wajah dan tubuh. Bahkan tampak juga perempuan yang berada paling depan, membawa berbagai perhiasan dari emas permata. Ada kalung, gelang, anting-anting dan cincin. Semuanya terlihat indah. Masing-masing barang itu dibawa oleh perempuan yang nampak cantik dengan senyum riangnya.
Kemudian di bagian belakang perempuan yang membawa perhiasan dan perlengkapan pakaian itu, masih ada perempuan-perempuan yang membawa aneka jajanan. Ada yang membawa jenang, wajik, jadah, berbagai macam makanan tradisional, dan juga roti atau kue-kue. Pastinya semua itu akan diserahkan kepada pihak keluarga pengantin perempuan.
Selanjutnya, di belakang barisan perempuan itu, tampak sekitar sepuluh orang laki-laki perkasa. Mereka juga membawa barang-barang bawaan . Tetapi tentunya barang yang dibawa bebannya lebih berat. Ya, ada yang memikul bekawah, istilah kuno dari sebuah tatanan barang yang berisi perlangkapan rumah tangga, khususnya perkakas dapur. Isinya ada gelas, piring, sendok, siwur, irus, panci, dandang, ceret, ember, wajan dan lain sebagainya. Barang-barang itu ditata sedemikian eloknya pada pikulan bambu, hingga terlihat sangat menarik. Yah, itu jaman lima puluh tahun yang lalu. Kalau untuk saat ini, mungkin akan terlihat aneh di mata anak-anak jaman sekarang.
Tidak hanya perabot rumah tangga yang dibawa dengan pikulan. Tetapi ada lagi, dua orang bergotongan mengusung buah kelapa yang ditata rapi, ditumpuk-tumpuk hingga menyerupai gunungan. Jumlahnya ada lebih dari seratus buah kelapa.
Ada juga jodang, berupa kotak besar yang terbuat dari kayu, yang tentunya sangat berat. Maka jodang itu harus dipikul oleh dua orang laki-laki. Isinya berupa aneka macam makanan jajanan orang mantu. Tentunya semakin banyak jajanan yang dibawa, semakin banyak jodang yang dipikul.
Di belakang orang-orang yang memikul kotak kayu besar itu, rombongan laki-laki dengan pakaian adat muslim, mebawa terbang atau rebana. Suara rebana yang ditabuh para penerbang itu, serta lagu-lagu solawatan, terdengar bertalu-talu mengiringi perjalanan orang-orang yang mengarak pengantin.
Di sela-sela barisan itu, tentu anak-anak ikut berbaur memeriahkan arak-arakan pengantin. Empat orang laki-laki gagah, membawa tiang bambu yang di bagian atasnya terdapat hiasan kembang manggar, yaitu hiasan dari kertas warna-warni yang dililitkan pada lidi daun kelapa. Berkali-kali orang yang membawa kembang manggar itu merendahkan tiangnya, lantas kembang manggarnya menjadi rebutan orang-orang yang menonton.
Selanjutnya ada laki-laki dengan pakaian serba hitam serta mengenakan ikat kepala kain yang warnanya hitam. Ia menggendong ayam jago dengan selendang wulung. Dan yang berjalan paling belakang adalah dua orang laki-laki separo baya. Mereka menuntun dua ekor kambing yang juga dihias dengan berbagai pernak-pernik yang sangat menarik. Kambing itu pun tak luput menjadi perhatian warga yang menontonnya.
Pastinya, di kanan kiri jalan, sangat ramai orang yang menonton arak-arakan pengantin tersebut. Warga masyarakat dari kampung yang dilaluinya, pada menyaksikan kebolehan Kakek Yan menikahkan anaknya, yaitu Tuan Jono. Kemeriahan mengarak pengantin itu, merupakan bagian dari penilaian kelas sosial di masyarakat. Ramainya arak-arakan itu menunjukkan kalau keluarga Kakek Yan adalah keluarga yang sangat kaya raya.
Ya, orang kaya selalu menjadi sorotan warga masyarakat.
Perempuan yang menjadi istri dari Tuan Jono itu bernama Ciblek. Ya, memang Ciblek itu wanita yang cantik. Walau perawakannya kecil, tetapi kulitnya putih. Boleh dikatakan Ciblek itu kembang desa kala itu. Namun ia merupakan anak gadis dari keluarga yang kurang mampu, bahkan boleh dikatakan keluarga tidak berada. Orang tuanya miskin. Bahkan rumahnya boleh dibilang lebih jelek dari kandang kerbaunya Kakek Yan. Tetapi bagi Tuan Jono yang masih muda dengan darah mudanya, ia tetap menentukan pilihannya kepada Ciblek. Memang cinta tidaklah memandang harta. Bahkan boleh dibilang cinta itu sangat dipengaruhi oleh mata. Maka wajar kalau Tuan Jono tergila-gila dengan paras cantik Ciblek.
Bahkan sebenarnya, Nenek Kosen, ibu dari Tuan Jono, tidak setuju anak laki-lakinya itu meminta ingin menikah dengan gadis pilihannya itu, yaitu Ciblek. Ya, tentu karena derajad kekayaannya yang jauh dibawah harapannya itu. Tetapi Tuan Jono yang memang saat itu sudah saatnya menggebu ingin menikah, terus merengek pada ibunya. Pokoknya harus dinikahkan dengan Ciblek.
Tentu Nenek Kosen kecewa. Sudah disarankan oleh ibunya untuk menikah dengan perempuan lain, yang tentu menurut pandangan orang tuanya lebih baik, tetapi kata-kata ibunya itu tidak digubris. Memang kala itu, orang tua yang akan menikahkan anaknya, masih punya pandangan tentang "bibit, bebet, bobot", yaitu melihat asal-usul keturunan, status sosialnya, serta harta kekayaan dan kepribadian calon menantunya. Ya, tentunya orang-orang jaman itu akan memilih menantu itu dengan cara menilai dari tiga hal tersebut. Yaitu bagamana asal muasal bibit keturunan atau silsilah keluarganya, apakah ia berasal dari orang tua yang baik-baik, atau ada renteten saudara-saudaranya yang kurang baik. Termasuk kalau sekiranya dari silsilah keluarganya itu ada yang mengidap penyakit aneh atau bahkan ada yang gila. Pasti silsilah ini akan digunakan untuk menelusur data keturunan dari seseorang yang akan diterima sebagai calon menantunya.
Sedangkan makna dari bebet adalah melihat calon menantu yang ditinjau dari status sosialnya, melihat kondisi kehidupan kesehariannya. Misalnya siapa saja teman pergaulannya, dan bagaimana pergaulan yang diikutinya di lingkungan dalam keseharian. Apakah temannya itu orang baik-baik, atau ia bergaul dengan orang yang kurang baik. Dengan mempertimbangkan bebet, maka akan diketahui apakah calon menantunya tersebut merupakan orang baik-baik atau memiliki latar belakang pergaulan yang buruk. Karena hal itu nantinya akan berpengaruh dalam keluarganya, termasuk dalam mendidik anak-anaknya kelak. Karena ada pepatah "buah jatuh tak jauh dari pohonnya", yang dapat diartikan kalau anak-anak itu tabiatnya, watak dan perilakunya tak jauh berbeda dengan orang tuanya.
Kalau bobot lebih mengarah pada harta kekayaan yang dimiliki oleh keluarganya. Yaitu cara melihat seseorang yang ditinjau melalui materi atau segi keduniawian lainnya. Salah satunya dengan melihat apakah calon istri yang dipilih berasal dari keluarga kaya atau miskin, memiliki pangkat atau tidak, dari keluarga berpendidikan tinggi atau rendah, hingga melihat kecantikan paras.
Memang, dari segi bibit, bebet dan bobot, Ciblek, perempuan yang dinikahi oleh Tuan Jono itu sangat jauh dari harapan orang tuanya. Oleh sebab itulah maka sangat wajar kalau Nenek Kosen berkali-kali menangis saat anak bungsunya itu meminta untuk dinikahkan dengan Ciblek. Ia tidak setuju. Ya, walau Ciblek itu memiliki paras yang cantik, tetapi dari segi yang lainnya, ia sangat jauh dari yang diharapkan. Adanya hanya kekurangan yang dimiliki oleh keluarga Ciblek. Tidak sekedar dari ukuran harta benda yang kurang, tetapi juga dari segi pendidikan serta lingkungan sosialnya yang kurang baik. Bahkan keluarganya betul-betul sangat memprihatinkan.
Padahal sebelumnya, Nenek Kosen sudah menyodorkan beberapa nama gadis kepada anak laki-lakinya itu, yang tentunya dari pertimbangan bibit, bebet dan bobot, jauh lebih baik dari pada perempuan yang menjadi pilihan anaknya itu. Setidaknya, orang tuanya ingin memberikan jodoh terbaik untuk anaknya. Misalnya saja gadis anak Pak Lurah, yang konon lebih cantik dan berpendidikan tinggi. Dan jika ditelusur, Neng Aya, anak Pak Lurah itu, secara silsilah keturunan berasal dari orang berada dan baik-baik semua.
Tetapi Tuan Jono beralasan, kalau Neng Aya itu masih saudara. Katanya kalau menikah dengan saudara, nanti anaknya bisa cacat. Memang, keluarga Neng Aya, orang tuanya yang jadi lurah itu masih saudara dengan Kakek Yan. Walau sebenarnya sudah sangat jauh ikatan darah kekeluargaannya. Namun secara garis keturunan, dari silsilah keluarga Kakek Yan dan orang tua Neng Aya, masih masuk dalam lingkaran garis tujuh turunan.
Tetapi saat disodorkan perempuan lain, yang benar-benar tidak ada hubungan kerabat kekeluargaan, seperti gadis bernama Sri, anak orang kaya yang tanahnya sangat luas, tetap saja Tuan Jono muda saat itu menolak, dan kukuh pada pendiriannya yang tetap memilih Ciblek. Katanya, cinta tidak bisa dipaksa-paksakan.
Apa boleh dikata, jika anaknya memaksa meminta, orang tua hanya bisa pasrah. Jika orang tua tidak mau menuruti kemauan anaknya, ancaman Tuan Jono mau minggat, tidak mau pulang ke rumah. Dan itu terbukti, saat malam berikutnya ternyata Tuan Jono yang masih berdarah muda, benar-benar tidak pulang rumah beberapa hari. Pasti hal itu membuat Nenek Kosen jadi sedih dan terus-terusan menangis karena anak kesayangannya tidak pulang rumah.
Itulah, akhirnya Kakek Yan dan Nenek Kosen melamarkan dan menikahkan anaknya dengan perempuan yang sebenarnya dari segi bibit, bebet dan bobot memang kurang disetujui. Namun untuk menepis itu semua, keluarga Kakek Yan merayakan acara pernikahan anaknya itu secara besar-besaran. Dan itu semua, segala urusan dan kebutuhan pesta pernikahan yang dilakukan oleh besannya, yaitu keluarga Ciblek, semua ditanggung oleh pihak Kakek Yan. Pesta pernikahan pun berlangsung sangat meriah.
Seperti adat yang berlaku saat itu, beberapa hari setelah menikah, Tuan Jono masih berada dan tinggal di rumah keluarga mempelai wanita. Memang adatnya seperti itu. Pengantin yang baru saja menikah tidak boleh keluar rumah sebelum genap sepasar lamanya saat pernikahan, yaitu lima hari. Jika pengantin baru keluar rumah, itu melanggar adat. Pamali. Tidak boleh. Dikhawatirkan akan terjadi petaka yang tidak dikehendaki oleh semua orang. Dan tentunya, Tuan Jono dan Ciblek, sebagai pengantin baru, tidak berani menentang aturan adat istiadat seperti itu.
Nenek Kosen pastinya sangat sedih. Nenek Kosen sangat mengkhawatirkan keadaan anaknya. Bagamana nanti tidur anaknya di rumah mertuanya. Meski saat pernikahan, sudah dibawakan tempat tidur. Namun bagi wanita yang biasa memanjakan anak laki-lakinya itu, tetap saja kepikiran dan tidak tega melihat anaknya tinggal di rumah yang sangat tidak layak untuk ditinggali sebagai rumah hunian bagi anaknya. Belum lagi memikirkan makanan apa yang akan dimakan oleh anaknya? Apakah bisa makan? Apakah masakannya enak? Ada lauknya apa tidak? Yah, maklum saja. Bayangan Nenek Kosen adalah kondisi setiap hari di rumahnya, yang ia bandingkan dengan keadaan rumah besannya yang jelas-jelas sangat jauh berbeda. Ibarat kata, keluarga dari kasta teratas mendapatkan orang dari kasta terbawah. Maka tidak heran kalau Nenek Kosen terus-terusan menangis, bersedih meratapi nasib anak kesayangannya.
Hingga akhirnya, tiba waktu yang dihitung oleh para tetua adat. Hari yang tepat untuk perhitungan untung rugi, baik buruk berdasarkan adat. Hari yang dinyatakan baik untuk melaksanakan pesta mantu. Kakek Yan ngunduh mantu. Keluarga Kakek Yan memboyong pengantin yang sudah genap hitungan harinya, dipestakan di rumah Kakek Yan. Ya, sebutan orang jawa ngunduh mantu, istilah pihak keluarga pengantin laki-laki yang memboyong kedua mempelai dari rumah orang tua pengantin wanita, atau dari rumah besannya.
Tentunya bukan hanya dua pengantin baru, Tuan Jono dan Ciblek saja yang pulang sendiri atau berangkat berpindah ke rumah orang tua pengantin laki-laki. Namun pihak besan atau keluarga dari pengantin perempuan juga ikut semua mengantarkan dua orang yang baru saja menikah tersebut. Tidak hanya keluarga atau saudara dari besan, bahkan para tetangga dari sang besan juga ikut mengantarkan menuju rumah orang tua pengantin laki-laki.
Meski istilahnya hanya mengunduh mantu, tetapi karena Kakek Yan itu orang kaya raya, orang terpandang di Kampung Pademangan, orang yang terkenal, tidak hayal kalau dalam acara penyambutan keluarga besan yang datang itu juga diselenggarakan pesta besar-besaran. Pestanya lebih meriah dari yang diselenggarakan oleh sang besan waktu mantu beberapa hari yang lalu. Bahkan yang diundang tidak hanya para tetangga satu kampung saja, tetapi hampir satu kecamatan. Maklum kolega dari Kakek Yan sangat banyak dan ada di mana-mana. Ya, Kakek Yan adalah blantik kerbau, sapi maupun kambing yang sangat terkenal. Tentunya kenalannya sangat banyak. Maka hari itu pun pesta ngunduh mantu di rumah Kakek Yan benar-benar sangat meriah, sangat ramai. Bahkan sebagai hiburannya, Kakek Yan menanggap joget tayub dengan penari-penari ledek yang sangat terkenal. Tentu biaya yang dikeluarkan tidak sedikit. Tetapi bagi Kakek Yan itu bukan persoalan.
Sebagai menu sajiannya, Kakek Yan menyembelih kerbau. Wajar saja karena hewan piaraan Kakek Yan ini sangat banyak. Mau pesta potong kerbau, sapi, kambing maupun ayam, semuanya tinggal ambil dari kandangnya sendiri. Bahkan saking banyaknya hewan piaraan itu, Kakek Yan sampai punya dua orang pangon, yaitu orang yang mencari rumput, memberi makan dan merawat hewan ternaknya.
Ya, kala itu Kakek Yan pesta besar-besaran untuk menyambut kehadiran anak bungsunya bersama dengan istrinya yang diiring oleh keluarga besan bersama sanak saudara dan para tetangganya. Pastinya Nenek Kosen senang dan gembira. Pasalnya ia tidak akan khawatir lagi dengan anak bungsunya yang harus tinggal bersama mertuanya serta adik-adik dari istrinya, yang pastinya sangat tidak nyaman berada di rumah yang kurang memadai. Apalagi dari segi makan, pasti sangat kekurangan.
"Waah, Nenek Kosen tersenyum terus. Gak kayak kemarin, yang bentar-bentar nangis." ledek tetangganya yang ikut membantu menyiapkan masakan di rumah Kakek Yan.
"Hehehe. Saya itu khawatir dengan Jono. Cuman khawatir saja kok." sahut Nenek Kosen yang tentu sambil tersenyum riang karena anaknya sudah akan kembali ke rumahnya.
"Istrinya Tuan Jono itu cantik, lho." kata tetangga yang lain, yang tentu memuji Ciblek.
"Iya, betul. Putih, mulus, cantik." sahut perempuan yang lainnya, yang ikut membantu memasak.
"Nhaa, kalau sekarang sudah ayem ya, Nenek Kosen. Anaknya sudah diboyong bersama istrinya yang cantik. Besok rumahnya Nenek Kosen tidak sepi lagi." sahut tetangga yang lain.
"Apalagi kalau nanti sudah punya cucu. Ramai, Nek." tambah yang lainnya.
"Hehehe." Nenek Kosen tersenyum bahagia.
Acara ngunduh mantu pun semakin ramai dengan datangnya para tamu yang sangat banyak jumlahnya. Terus dan terus berdatangan. Dan tentunya juga orang-orang yang ingin menyaksikan joget tayub yang dimainkan oleh penari-penari yang cantik-cantik dan pandai menari. Sehari semalam pesta ngunduh mantu itu berlangsung. Itu semua menjadi cerita tersendiri bagi orang-orang di Kampung Pademangan yang memang jarang mendapatkan hiburan.
Kini Ciblek sudah tinggal bersama suaminya, Tuan Jono. Tentu berada satu rumah bersama dengan Kakek Yan dan Nenek Kosen sebagai mertuanya. Namun hidup bersama mertua itu tentunya tidak mudah. Apalagi tinggal di rumah mertua yang hidup dalam disiplin kerja yang sangat tinggi, orang yang sudah mapan dari segi ekonomi yang bisa disebut sebagai orang kaya, pastinya bagi Ciblek sangatlah sulit untuk menyesuaikan diri. Ciblek mengalami kesulitan dalam beradaptasi tinggal di rumah mertuanya. Perbedaan kebiasaan hidup di rumahnya dengan di tempat mertuanya sangat jauh berbeda. Padahal segala sesuatu di rumah mertuanya ada semua. Ibarat kata butuh apa saja bisa dipenuhi. Apalagi suaminya, Tuan Jono, adalah seorang pegawai dengan gaji yang sangat tinggi kala itu. Pastinya sangat mampu untuk memenuhi kebutuhan istrinya. Untuk beli bedak, lipstik maupun untuk jajan, tidak akan kekurangan.
Namun rupanya, kebiasaan di rumahnya yang dulu, saat Ciblek tinggal bersama orang tua dan adik-adiknya, sangat jauh berbeda dengan kebiasaan yang ada dan dilakukan oleh keluarga suaminya. Mertua laki-lakinya, Kakek Yan, adalah seorang pedagang hewan ternak. Kerbau, sapi dan kambingnya sangat banyak. Meski sudah punya dua orang yang membantu merawat hewan-hewan ternaknya, tetapi Kakek Yan ini tidak pernah diam ongkang-ongkang kaki alias duduk jegrang begitu saja. Kakek Yan ini selalu bangun pagi sebelum matahari terbit. Bahkan tidak jarang di tengah malam, Kakak Yan datang ke kandang untuk mengontrol hewan-hewan piaraannya. Selalu mengontrol makanan ternaknya, dan juga kebersihan kandangnya. Kalau sampai ada kandang yang masih kotor atau makanan ternak yang habis, maka Kakek Yan pasti memarahi para perawat ternaknya. Memang Kakek Yan orangnya galak, tetapi sebenarnya sangat baik kepada siapapun.
Begitu juga dengan Nenek Kosen, yang selalu bangun paling pagi, sibuk menyiapkan masakan di dapur. Selanjutnya mengurusi dagangannya di pasar, pagi-pagi sekali sudah harus berangkat ke pasar. Tentunya tidak dapat mengurusi rumah tangganya secara maksimal. Masak seadanya, yang penting keluarga dan para penggembala ternaknya bisa makan.
Dan kini, tentunya Nenek Kosen merasa senang ketika anak bungsunya, yaitu Tuan Jono sudah ada yang mengurusi. Nenek Kosen sudah punya menantu, harapannya tentu ada yang membantu mengurus dapur. Keluarganya sudah ada yang memaksakan, sudah ada yang menyiapkan sarapan, sudah ada yang memasak untuk makan siang, yaitu istrinya Tuan Jono, Ciblek.
Ya, harapan dari Nenek Kosen, perempuan menantunya itu bisa menyiapkan segala macam kebutuhan suaminya, dan mengurus rumah tangganya. Sehingga Tuan Jono akan lebih betah, lebih krasan dan nyaman tinggal di rumah. Tidak perlu jajan ke warung untuk sarapan pagi. Setidaknya setiap kali bangun pagi, atau mau berangkat kerja, di meja makan sudah tersaji teh hangat dan masakan yang lezat. Dan nanti kalau siang hari, saat Tuan Jono pulang dari kantor, di rumah pun sudah tersedia makan siang. Sehingga Nenek Kosen tidak perlu repot-repot bangun sebelum fajar untuk menyiapkan makanan untuk suaminya dan anak bungsunya lagi. Begitu juga dengan baju atau pakaian Tuan Jono, sudah ada yang mencuci dan menyeterika.
Namun kenyataannya, ketika Nenek Kosen pulang dari pasar, dan sampai di rumah, ternyata di tempat makan, baik itu di meja maupun di almari makanan (jaman kuno namanya gledeg), belum ada masakan, belum ada minuman, belum ada apa-apa. Dapurnya tempat memasak yang terbuat dari tungku, belum berbau perapian yang dinyalakan. Bahkan rumah yang ditinggalkan pergi ke pasar, masih saja kotor, tidak ada yang menyapu, tidak ada yang membersihkannya. Dan tentu Nenek Kosen kaget menyaksikan hal yang tidak sesuai dengan harapannya tersebut. Ia langsung melempar keranjang tempat barang dagangan yang tadi digendongnya, dilemparkan ke atas dipan yang terbuat dari kayu yang ada di dapur.
"Glodhaaaghk!" suaranya cukup keras dan memekakkan telinga orang yang mendengarnya.
"Kakek Yan!" Nenek Kosen berteriak kencang dengan nada marah memanggil suaminya.
"Ada apa? Baru pulang dari pasar kok berteriak tidak karuan. Kenapa di pasar? Apa di copet orang?" Kakek Yan yang mendengar panggilan dengan teriakan yang keras dari istrinya, bergegas langsung menemui Nenek Kosen di dapur yang memang merupakan bangunan serumah sendiri, meski gandeng dengan rumah induk. Dan di belakangnya lagi gendeng dengan kandang kambing dan ayam. Dan di tempat dapur itu Nenek Kosen setiap hari menaruh barang dagangan yang dibawa pergi maupun pulang dari pasar. Walau namanya dapur, tetapi bangunan itu besarnya satu rumah sendiri. Maklum orang desa zaman dulu masih besar-besar. Meski namanya dapur, tetapi di ruang itu ada bermacam barang yang ditaruh. Seperti cangkul, sabit, bahkan benih-benih tanaman.
Di dapur itu terdapat dipan besar, yaitu semacam tempat tidur terbuat dari bambu dan kayu yang cukup besar, yang biasa digunakan untuk meracik masakan maupun menaruh bahan-bahan makanan. Termasuk menaruh beberapa perkakas masak yang besar-besar, seperti dandang, wajan besar, kenceng, panci dan lain-lainnya.
Di dipan dapur itu, Kakek Yan yang tergopoh-gopoh lari dari kandang kambing, mendapati Nenek Kosen sedang menangis sesenggukan. Meski suara tangisan itu tidak keras, tetap saja Kakek Yan tahu kalau istrinya sedang menangis. Sontak hati Kakek Yan yang sangat lembut langsung bersedih menyaksikan istrinya yang menangis.
"Ada apa, Nek? Kecopetan, ya?" tanya Kakek Yan lembut pada istrinya, yang tentunya bingung telah terjadi apa, sehingga membuat istrinya menangis.
"Huhuhu, hu, huuu .... Kakek, kok nasib kita seperti ini." kata Nenek Kosen yang masih saja menangis. Panggilan Kakek dan Nenek itu karena kebiasaan untuk memanggilkan cucunya yang selalu bermanja dengan kakek neneknya.
"Ada apa? Nasib apa, Nek?" tanya Kakek Yan dengan menyebut "Nek" dari kata Nenek. Ya, panggilan untuk cucu pertamanya, si Totok yang selalu digadang-gadang kalau pas datang ke rumahnya.
"Kakek sudah makan apa belum? Ketiwasan. Maafkan saya Kek. Saya tadi kok juga tidak beli makanan dari pasar. Pikir saya di rumah sudah ada makanan. Ternyata, Kek .... Huuu, hu, hu, hu...." kembali Nenek Kosen menangis sambil memukuli lengan suaminya.
Ya, pastinya Nenek Kosen kecewa, karena saat pulang ke rumah, di rumah tidak ada makanan apa-apa. Bahkan minuman saja juga tidak ada. Dapur itu tidak berubah. Tidak ada yang menyentuh sama sekali sejak ditinggal Nenek Kosen pergi ke pasar.
"Tidak usah menangis. Tidak apa-apa. Kalau mau makan, kita masak dulu. Tadi pagi saya sudah sarapan gendar pecel. Saya suruh belikan si Timin sebelum berangkat menggembalakan kerbaunya." kata Kakek Yan yang ingin menenangkan istrinya.
"Ya ampun, Kek. Kok begini nasibku?! Ciblek! Ciblek, Kek. Ciblek keterlaluan!" Rupanya Nenek Kosen sudah tidak bisa menahan kendali dirinya. Ia langsung berteriak menyebut nama menantunya.
"Iya, saya, Bu. Ada apa?" perempuan menantunya yang sedari tadi pagi berada dalam kamar, yang seakan mendengar kalau namanya dipanggil oleh mertua perempuannya, langsung mendekat ke mertuanya yang masih ada di dapur.
Menyaksikan menantunya datang, Nenek Kosen gemas, semakin jengkel, bahkan ingin menampar perempuan yang katanya cantik itu. Matanya melotot menatap menantunya, dengan mulut mengatup kuat menahan emosi. Bahkan tangannya sudah mengepal kuat, pertanda sangat marah. Namun Kakek Yan sudah memegangi tangan istriya. Ia tidak ingin ada keributan dalam keluarganya.
"Kamu itu di rumah ngapain saja?! Kok sampai siang belum ada masakan itu, gimana sih?! Terus, suami kamu tadi sarapan apa?! Nanti kalau pulang mau makan apa?! Hah?!" tentu Nenek Kosen langsung memarahi menantu barunya itu.
Ciblek diam. Tidak menjawab. Bahkan ia langsung berlari masuk ke dalam kamarnya. Lantas menutup pintu kamarnya.
"Jdaaarrr!" suara pintu yang dibanting Ciblek.
"Ciblek!" kembali Nenek Kosen meneriaki menantunya yang tidak sopan itu.
"Sudah, Nek. Jangan bikin ribut. Dia itu kan pengantin baru. Dan di rumah kita juga baru tiga hari. Mungkin belum berani untuk ini itu." sahut Kakek Yan yang berusaha menenangkan istrinya.
"Tapi dia itu sudah menjadi istri Jono. Mestinya harus mengurusi semua urusan rumah tangga. Mana coba?Bahkan tempat jemuran di samping rumah saja masih kosong. Berarti dia belum mencuci pakaian. Perempuan macam apa itu?" sahut Nenek Kosen yang merasa sangat kecewa dengan menantunya yang tidak tahu dengan tanggung jawabnya.
"Ya. Pelan-pelan. Hidup berumah tangga itu kan perlu latihan. Sabar." kata Kakek Yan yang kembali menyabarkan istrinya.
"Tidak seperti Ani. Ibunya Totok itu prigel. Kerjanya cak-cek. Cepat dan cekatan. Masak segala macam bisa. Kalau ibunya pulang dari pasar, sudah siap aneka macam masakan. Nggak seperti saat ini, orang tuanya kelaparan. Kasihan juga itu, anak-anak yang ngurusi ternak. Bagaimana nanti mereka makan. Gak ada apa-apa. Gak ada yang bisa dimakan." gerutu Nenek Kosen yang tentu sangat jengkel dengan menantunya itu.
"Yang sabar. Ani kan sudah ikut suaminya. Sekarang, Nenek segera masak. Siapkan makan untuk kita." kata Kakek Yan pada istrinya, yang meminta untuk segera masak.
"Nggak! Saya mau ke rumah Ani saja. Saya mau minta makan di rumah Ani. Saya males masak di sini." kata Nenek Kosen yang justru mengambil beberapa jajan dari keranjang bakulnya, yang akan dibawa ke rumah anak pertamanya, dan setidaknya akan memberikan jajan itu untuk cucu pertamanya, si Totok.
"Nek." Kakek Yan berusaha mencegah istrinya yang akan pergi ke rumah anak perempuannya yang sudah berumah tangga sendiri.
Namun Nenek Kosen, neneknya Totok itu sudah berjalan ke luar rumah. Pergi meninggalkan rumah tanpa menggubris larangan suaminya. Kakek Yan tidak memaksa mencegahnya. Biarlah istrinya menyampaikan keluahannya pada anak perempuannya, biar hati dan pikirannya lega bisa melepas kejengkelennya.
Tak berselang lama dari kepergian Nenek Kosen, Tuan Jono pulang dari kantor kerjanya. Langsung masuk ke rumah. Niatnya pasti akan makan siang. Maka ia pun langsung membuka lemari makan yang berada di samping meja makan. Tetapi, matanya melolok. Tidak ada makanan apapun di dalam lemari itu.
Tuan Jono langsung menuju dapur. Tengak-tengok ke seluruh ruang dapur yang besar tersebut. Namun tak juga menemukan ada tanda-tanda tersaji makanan di tempat itu.
"Lhoh, Pak?!" kata Tuan Jono yang seakan kaget saat memandangi dipan besar di dapur tersebut, dan melihat bapaknya yang tengah duduk dan seakan melamun.
"Kamu sudah pulang, Jono?" tanya bapaknya, Kakek Yan.
"Iya, Pak. Lapar. Mau makan. Kok, tidak ada masakan, Pak? Mamak belum pulang?" kata Tuan Jono yang langsung menanyakan makanan dan ibunya.
"Coba tanya istrimu. Bapak juga baru saja masuk sini, kok." kata Kakek Yan, yang tentunya tidak mau menceritakan masalahnya.
"Istriku, di mana?" tanya Tuan Jono.
"Mungkin di kamar." jawab bapaknya.
Tuan Jono pun langsung bergegas masuk ke kamarnya. Tentu ingin menemui istrinya. Meski tidak ada masakan, setidaknya bisa melepas rindu sejenak. Maklum pengantin baru.
"Mas, aku mau pulang!" tiba-tiba saja kata Ciblek dengan suara keras, saat melihat suaminya masuk kamar.
"Hlhoh? Kenapa? Ada apa?" tentu Tuan Jono kaget mendengar kata-kata istrinya.
"Pokoknya aku minta pulang! Antarkan aku pulang sekarang! Kalau tidak mau ngantar, aku mau pulang sendiri!" jawab Ciblek dengan nada marah.
Mendengar teriakan suara istrinya seperti itu, yang marah-marah meminta pada suaminya untuk diantar pulang ke rumahnya, maka dengan sangat terpaksa Tuan Jono mengantarkan istrinya. Tanpa berpamitan bapaknya. Pergi begitu saja.
Yah, itulah bumbunya orang berumah tangga. Apalagi keluarga yang baru menikah. Tuan Jono harus belajar dari semua kejadian itu.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!