Kini Ciblek sudah tinggal bersama suaminya, Tuan Jono. Tentu berada satu rumah bersama dengan Kakek Yan dan Nenek Kosen sebagai mertuanya. Namun hidup bersama mertua itu tentunya tidak mudah. Apalagi tinggal di rumah mertua yang hidup dalam disiplin kerja yang sangat tinggi, orang yang sudah mapan dari segi ekonomi yang bisa disebut sebagai orang kaya, pastinya bagi Ciblek sangatlah sulit untuk menyesuaikan diri. Ciblek mengalami kesulitan dalam beradaptasi tinggal di rumah mertuanya. Perbedaan kebiasaan hidup di rumahnya dengan di tempat mertuanya sangat jauh berbeda. Padahal segala sesuatu di rumah mertuanya ada semua. Ibarat kata butuh apa saja bisa dipenuhi. Apalagi suaminya, Tuan Jono, adalah seorang pegawai dengan gaji yang sangat tinggi kala itu. Pastinya sangat mampu untuk memenuhi kebutuhan istrinya. Untuk beli bedak, lipstik maupun untuk jajan, tidak akan kekurangan.
Namun rupanya, kebiasaan di rumahnya yang dulu, saat Ciblek tinggal bersama orang tua dan adik-adiknya, sangat jauh berbeda dengan kebiasaan yang ada dan dilakukan oleh keluarga suaminya. Mertua laki-lakinya, Kakek Yan, adalah seorang pedagang hewan ternak. Kerbau, sapi dan kambingnya sangat banyak. Meski sudah punya dua orang yang membantu merawat hewan-hewan ternaknya, tetapi Kakek Yan ini tidak pernah diam ongkang-ongkang kaki alias duduk jegrang begitu saja. Kakek Yan ini selalu bangun pagi sebelum matahari terbit. Bahkan tidak jarang di tengah malam, Kakak Yan datang ke kandang untuk mengontrol hewan-hewan piaraannya. Selalu mengontrol makanan ternaknya, dan juga kebersihan kandangnya. Kalau sampai ada kandang yang masih kotor atau makanan ternak yang habis, maka Kakek Yan pasti memarahi para perawat ternaknya. Memang Kakek Yan orangnya galak, tetapi sebenarnya sangat baik kepada siapapun.
Begitu juga dengan Nenek Kosen, yang selalu bangun paling pagi, sibuk menyiapkan masakan di dapur. Selanjutnya mengurusi dagangannya di pasar, pagi-pagi sekali sudah harus berangkat ke pasar. Tentunya tidak dapat mengurusi rumah tangganya secara maksimal. Masak seadanya, yang penting keluarga dan para penggembala ternaknya bisa makan.
Dan kini, tentunya Nenek Kosen merasa senang ketika anak bungsunya, yaitu Tuan Jono sudah ada yang mengurusi. Nenek Kosen sudah punya menantu, harapannya tentu ada yang membantu mengurus dapur. Keluarganya sudah ada yang memaksakan, sudah ada yang menyiapkan sarapan, sudah ada yang memasak untuk makan siang, yaitu istrinya Tuan Jono, Ciblek.
Ya, harapan dari Nenek Kosen, perempuan menantunya itu bisa menyiapkan segala macam kebutuhan suaminya, dan mengurus rumah tangganya. Sehingga Tuan Jono akan lebih betah, lebih krasan dan nyaman tinggal di rumah. Tidak perlu jajan ke warung untuk sarapan pagi. Setidaknya setiap kali bangun pagi, atau mau berangkat kerja, di meja makan sudah tersaji teh hangat dan masakan yang lezat. Dan nanti kalau siang hari, saat Tuan Jono pulang dari kantor, di rumah pun sudah tersedia makan siang. Sehingga Nenek Kosen tidak perlu repot-repot bangun sebelum fajar untuk menyiapkan makanan untuk suaminya dan anak bungsunya lagi. Begitu juga dengan baju atau pakaian Tuan Jono, sudah ada yang mencuci dan menyeterika.
Namun kenyataannya, ketika Nenek Kosen pulang dari pasar, dan sampai di rumah, ternyata di tempat makan, baik itu di meja maupun di almari makanan (jaman kuno namanya gledeg), belum ada masakan, belum ada minuman, belum ada apa-apa. Dapurnya tempat memasak yang terbuat dari tungku, belum berbau perapian yang dinyalakan. Bahkan rumah yang ditinggalkan pergi ke pasar, masih saja kotor, tidak ada yang menyapu, tidak ada yang membersihkannya. Dan tentu Nenek Kosen kaget menyaksikan hal yang tidak sesuai dengan harapannya tersebut. Ia langsung melempar keranjang tempat barang dagangan yang tadi digendongnya, dilemparkan ke atas dipan yang terbuat dari kayu yang ada di dapur.
"Glodhaaaghk!" suaranya cukup keras dan memekakkan telinga orang yang mendengarnya.
"Kakek Yan!" Nenek Kosen berteriak kencang dengan nada marah memanggil suaminya.
"Ada apa? Baru pulang dari pasar kok berteriak tidak karuan. Kenapa di pasar? Apa di copet orang?" Kakek Yan yang mendengar panggilan dengan teriakan yang keras dari istrinya, bergegas langsung menemui Nenek Kosen di dapur yang memang merupakan bangunan serumah sendiri, meski gandeng dengan rumah induk. Dan di belakangnya lagi gendeng dengan kandang kambing dan ayam. Dan di tempat dapur itu Nenek Kosen setiap hari menaruh barang dagangan yang dibawa pergi maupun pulang dari pasar. Walau namanya dapur, tetapi bangunan itu besarnya satu rumah sendiri. Maklum orang desa zaman dulu masih besar-besar. Meski namanya dapur, tetapi di ruang itu ada bermacam barang yang ditaruh. Seperti cangkul, sabit, bahkan benih-benih tanaman.
Di dapur itu terdapat dipan besar, yaitu semacam tempat tidur terbuat dari bambu dan kayu yang cukup besar, yang biasa digunakan untuk meracik masakan maupun menaruh bahan-bahan makanan. Termasuk menaruh beberapa perkakas masak yang besar-besar, seperti dandang, wajan besar, kenceng, panci dan lain-lainnya.
Di dipan dapur itu, Kakek Yan yang tergopoh-gopoh lari dari kandang kambing, mendapati Nenek Kosen sedang menangis sesenggukan. Meski suara tangisan itu tidak keras, tetap saja Kakek Yan tahu kalau istrinya sedang menangis. Sontak hati Kakek Yan yang sangat lembut langsung bersedih menyaksikan istrinya yang menangis.
"Ada apa, Nek? Kecopetan, ya?" tanya Kakek Yan lembut pada istrinya, yang tentunya bingung telah terjadi apa, sehingga membuat istrinya menangis.
"Huhuhu, hu, huuu .... Kakek, kok nasib kita seperti ini." kata Nenek Kosen yang masih saja menangis. Panggilan Kakek dan Nenek itu karena kebiasaan untuk memanggilkan cucunya yang selalu bermanja dengan kakek neneknya.
"Ada apa? Nasib apa, Nek?" tanya Kakek Yan dengan menyebut "Nek" dari kata Nenek. Ya, panggilan untuk cucu pertamanya, si Totok yang selalu digadang-gadang kalau pas datang ke rumahnya.
"Kakek sudah makan apa belum? Ketiwasan. Maafkan saya Kek. Saya tadi kok juga tidak beli makanan dari pasar. Pikir saya di rumah sudah ada makanan. Ternyata, Kek .... Huuu, hu, hu, hu...." kembali Nenek Kosen menangis sambil memukuli lengan suaminya.
Ya, pastinya Nenek Kosen kecewa, karena saat pulang ke rumah, di rumah tidak ada makanan apa-apa. Bahkan minuman saja juga tidak ada. Dapur itu tidak berubah. Tidak ada yang menyentuh sama sekali sejak ditinggal Nenek Kosen pergi ke pasar.
"Tidak usah menangis. Tidak apa-apa. Kalau mau makan, kita masak dulu. Tadi pagi saya sudah sarapan gendar pecel. Saya suruh belikan si Timin sebelum berangkat menggembalakan kerbaunya." kata Kakek Yan yang ingin menenangkan istrinya.
"Ya ampun, Kek. Kok begini nasibku?! Ciblek! Ciblek, Kek. Ciblek keterlaluan!" Rupanya Nenek Kosen sudah tidak bisa menahan kendali dirinya. Ia langsung berteriak menyebut nama menantunya.
"Iya, saya, Bu. Ada apa?" perempuan menantunya yang sedari tadi pagi berada dalam kamar, yang seakan mendengar kalau namanya dipanggil oleh mertua perempuannya, langsung mendekat ke mertuanya yang masih ada di dapur.
Menyaksikan menantunya datang, Nenek Kosen gemas, semakin jengkel, bahkan ingin menampar perempuan yang katanya cantik itu. Matanya melotot menatap menantunya, dengan mulut mengatup kuat menahan emosi. Bahkan tangannya sudah mengepal kuat, pertanda sangat marah. Namun Kakek Yan sudah memegangi tangan istriya. Ia tidak ingin ada keributan dalam keluarganya.
"Kamu itu di rumah ngapain saja?! Kok sampai siang belum ada masakan itu, gimana sih?! Terus, suami kamu tadi sarapan apa?! Nanti kalau pulang mau makan apa?! Hah?!" tentu Nenek Kosen langsung memarahi menantu barunya itu.
Ciblek diam. Tidak menjawab. Bahkan ia langsung berlari masuk ke dalam kamarnya. Lantas menutup pintu kamarnya.
"Jdaaarrr!" suara pintu yang dibanting Ciblek.
"Ciblek!" kembali Nenek Kosen meneriaki menantunya yang tidak sopan itu.
"Sudah, Nek. Jangan bikin ribut. Dia itu kan pengantin baru. Dan di rumah kita juga baru tiga hari. Mungkin belum berani untuk ini itu." sahut Kakek Yan yang berusaha menenangkan istrinya.
"Tapi dia itu sudah menjadi istri Jono. Mestinya harus mengurusi semua urusan rumah tangga. Mana coba?Bahkan tempat jemuran di samping rumah saja masih kosong. Berarti dia belum mencuci pakaian. Perempuan macam apa itu?" sahut Nenek Kosen yang merasa sangat kecewa dengan menantunya yang tidak tahu dengan tanggung jawabnya.
"Ya. Pelan-pelan. Hidup berumah tangga itu kan perlu latihan. Sabar." kata Kakek Yan yang kembali menyabarkan istrinya.
"Tidak seperti Ani. Ibunya Totok itu prigel. Kerjanya cak-cek. Cepat dan cekatan. Masak segala macam bisa. Kalau ibunya pulang dari pasar, sudah siap aneka macam masakan. Nggak seperti saat ini, orang tuanya kelaparan. Kasihan juga itu, anak-anak yang ngurusi ternak. Bagaimana nanti mereka makan. Gak ada apa-apa. Gak ada yang bisa dimakan." gerutu Nenek Kosen yang tentu sangat jengkel dengan menantunya itu.
"Yang sabar. Ani kan sudah ikut suaminya. Sekarang, Nenek segera masak. Siapkan makan untuk kita." kata Kakek Yan pada istrinya, yang meminta untuk segera masak.
"Nggak! Saya mau ke rumah Ani saja. Saya mau minta makan di rumah Ani. Saya males masak di sini." kata Nenek Kosen yang justru mengambil beberapa jajan dari keranjang bakulnya, yang akan dibawa ke rumah anak pertamanya, dan setidaknya akan memberikan jajan itu untuk cucu pertamanya, si Totok.
"Nek." Kakek Yan berusaha mencegah istrinya yang akan pergi ke rumah anak perempuannya yang sudah berumah tangga sendiri.
Namun Nenek Kosen, neneknya Totok itu sudah berjalan ke luar rumah. Pergi meninggalkan rumah tanpa menggubris larangan suaminya. Kakek Yan tidak memaksa mencegahnya. Biarlah istrinya menyampaikan keluahannya pada anak perempuannya, biar hati dan pikirannya lega bisa melepas kejengkelennya.
Tak berselang lama dari kepergian Nenek Kosen, Tuan Jono pulang dari kantor kerjanya. Langsung masuk ke rumah. Niatnya pasti akan makan siang. Maka ia pun langsung membuka lemari makan yang berada di samping meja makan. Tetapi, matanya melolok. Tidak ada makanan apapun di dalam lemari itu.
Tuan Jono langsung menuju dapur. Tengak-tengok ke seluruh ruang dapur yang besar tersebut. Namun tak juga menemukan ada tanda-tanda tersaji makanan di tempat itu.
"Lhoh, Pak?!" kata Tuan Jono yang seakan kaget saat memandangi dipan besar di dapur tersebut, dan melihat bapaknya yang tengah duduk dan seakan melamun.
"Kamu sudah pulang, Jono?" tanya bapaknya, Kakek Yan.
"Iya, Pak. Lapar. Mau makan. Kok, tidak ada masakan, Pak? Mamak belum pulang?" kata Tuan Jono yang langsung menanyakan makanan dan ibunya.
"Coba tanya istrimu. Bapak juga baru saja masuk sini, kok." kata Kakek Yan, yang tentunya tidak mau menceritakan masalahnya.
"Istriku, di mana?" tanya Tuan Jono.
"Mungkin di kamar." jawab bapaknya.
Tuan Jono pun langsung bergegas masuk ke kamarnya. Tentu ingin menemui istrinya. Meski tidak ada masakan, setidaknya bisa melepas rindu sejenak. Maklum pengantin baru.
"Mas, aku mau pulang!" tiba-tiba saja kata Ciblek dengan suara keras, saat melihat suaminya masuk kamar.
"Hlhoh? Kenapa? Ada apa?" tentu Tuan Jono kaget mendengar kata-kata istrinya.
"Pokoknya aku minta pulang! Antarkan aku pulang sekarang! Kalau tidak mau ngantar, aku mau pulang sendiri!" jawab Ciblek dengan nada marah.
Mendengar teriakan suara istrinya seperti itu, yang marah-marah meminta pada suaminya untuk diantar pulang ke rumahnya, maka dengan sangat terpaksa Tuan Jono mengantarkan istrinya. Tanpa berpamitan bapaknya. Pergi begitu saja.
Yah, itulah bumbunya orang berumah tangga. Apalagi keluarga yang baru menikah. Tuan Jono harus belajar dari semua kejadian itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments