BAB 17: RUMAH YANG BUTUH KERAMAIAN

    Setelah Kakek Yan bersama istrinya berpindah rumah, menempati rumah yang baru saja didirikan, yang berada di belakang rumah utama, berada di sebelah kandang kerbau, rumah yang diangkat dari bagian belakang rumah utama, tentu kehidupan Nenek Kosen dan Kakek Yan harus dimulai dari awal lagi. Mulai menata segala macamnya. Karena semua perabot dan mebeler tidak ada yang dibawa. Kecuali tempat tidur Kakek Yan dan dipan tempat tidur para penggembala ternak yang ikut Kakek Yan. Bahkan peralatan masak saja, Nenek Kosen tidak membawa satu barang pun. Yah, semuanya ditinggalkan di rumah yang lama, di dapur yang masih gandeng dengan rumah lama. untuk anak kesayangannya, Jono bersama istrinya. Ya, rumah yang lama itu diberikan kepada Jono, untuk ditempati Jono dan istrinya. Setidaknya, Nenek Kosen sudah memberi peralatan masak untuk anaknya. Biar Jono tidak usah beli-beli lagi perabotan rumah tangga.

    "Kok tidak ada perabot dapur yang di bawa?" Kakek Yan menanyakan kepada Nenek Kosen, setelah melihat ruang bagian belakang yang katanya untuk dapur, tetapi tidak apa apa-apanya.

    "Tidak usah. Nanti beli sendiri lagi. Semuanya saya tinggalkan untuk menantuku yang paling cantik." begitu jawab Nenek Kosen yang pastinya sambil menyindir menantunya.

    Makanya, saat para tetangga sambatan, saudara-saudaranya ikut membantu memasakkan makanan untuk orang-orang yang bergotong royong membantu memindahkan rumah, Nenek Kosen memesan kepada ibu-ibu yang membantu itu agar membawa peralatan masaknya dari rumah. Nenek Kosen sekalian pinjam kepada para tetangga yang ikut membantu masak. Termasuk Ani, anaknya yang pertama, yang sudah berumah tangga sendiri, yang tentunya membawa banyak peralatan dapur.

    Rumah Kakek Yan yang merupakan pindahan dari gandok rumah induk memang belum sempurna. Belum ada gandok-gandok untuk dapur maupun untuk tempat menaruh barang-barang perkakas rumah tangga. Juga belum dibuatkan teras belakang yang biasa digunakan sebagai tempat untuk menaruh tumpukan kayu bakar, sebagai simpanan bahan bakar yang biasa digunakan untuk memasak. Namun setidaknya, rumah itu sudah lumayan besar dan sangat memadai. Sudah sangat nyaman untuk tidur dan istirahat.

    Bagian ruang depan merupakan ruangan yang cukup luas, yang kemudian diberi dipan besar yang oleh masyarakat Pademangan biasa disebut dengan istilah "bale panjang" yang digunakan untuk tempat tidur para penggembala ternak. Bale panjang itu diambil dari rumah yang lama, karena memang dipan besar itu dulunya merupakan tempat tidur para penggembala sejak lama, bahkan jauh sebelum Tuan Jono menikah. Dan yang tidur, sebenarnya bukan hanya penggembala ternak yang ikut Kakek Yan saja, tetapi juga penggembala-penggembala lain dari para tetangga. Kadang-kadang jumlahnya sampai sepuluh orang. Meski begitu, Kakek Yan tetap senang, karena malah kebetulan bisa menjagakan ternak-ternaknya. Ya, rumah Kakek Yan yang baru saja didirikan itu benar-benar bergandeng dengan kandang ternaknya.

    Di bagian ruang depan itu, selain terdapat bale panjang, juga ada kursi sederhana dari kayu jati besar yang cukup besar dan berat, yang biasa disebut dengan istilah bangku. Kursi bangku itu biasanya untuk menerima tamu dan juga biasa digunakan untuk tiduran. Tetapi di rumah Kakek Yan, tentunya biasa digunakan untuk menerima tamu seandainya ada tamu yang datang berkunjung.

    Di bagian tengahnya, terdapat tiga sentong atau kamar. Kamar itu juga amat sederhana, hanya disekat papan kayu sengon saja dan di pintunya ditutup korden dari kain jarit. Yang jelas bisa digunakan untuk tidur oleh Kakek Yan dan Nenek Kosen. Sedangkan di bagian belakang dibuat sebagai tempat untuk memasak atau dapur.  Ya, pastinya sambil menunggu saatnya Kakek Yan membuat gandok sendiri untuk dapur. Sudah ada tungku dari tanah liat yang dibuatkan oleh tetangganya. Nenek Kosen pun kalau pulang dari pasar, sedikit demi sedikit membeli perlengkapan dapur, seperti dandang, panci, piring, sendok, gelas dan lain sebagainya. Tentunya untuk mengisi kebutuhan peralatan dapurnya.

    Rumah yang baru dipindah itu tentunya sudah sangat lumayan, yang bisa digunakan untuk berteduh. Yang penting bagi Kakek Yan maupun Nenek Kosen adalah bisa memisahkan diri dari anak dan menantunya, yang selalu meminta agar dibuatkan rumah baru. Setidaknya Nenek Kosen dan Kakek Yan telinganya tidak gatal mendengar teriakan menantunya.

    Yah, karena kondisi dan keadaan yang memaksa harus melakukan pindah rumah secara cepat, maka langkah paling tepat adalah dengan cara memindahkan salah satu gandok rumah. Sedangkan rumah induk yang semula ditempati oleh Kakek Yan sebagai rumah warisan itu diserahkan kepada Jono, biar dikelola oleh anak bungsunya itu bersama istrinya. Biar mereka semua bisa belajar mandiri, mengatur rumah tangganya sendiri.

    Pastinya, Kakek Yan masih terus memperbaiki rumahnya. Mulai dari menata halamannya, menata pinggiran rumahnya, dan juga menata tempat-tempat yang lain. Tentunya sambil menunggu rezeki yang datang, untuk dapat menambahi gandok dapur. Yang penting rumah itu sudah bisa ditempati dengan nyaman. Tidak bocor kalau kehujanan, dan tidak kepanasan saat musim kemarau.

    Meskipun ditemani oleh dua orang pangon, yang setiap hari bekerja menggembalakan ternak-ternaknya. Bahkan kadang-kadang kalau malam hari para pangon dari tetangga juga ikut mengungsi tidur di tempatnya Kakek Yan, namun kenyataannya, Nenek Kosen masih merasa ada sesuatu yang kurang. Nenek Kosen merasa kesepian. Rumah itu seakan tidak ada orang yang bisa diajak bersenda gurau. Tidak ada orang yang bisa diajak ngobrol secara leluasa.

    Ya namanya pekerja, para penggembala ternak itu biasanya sampai di rumah siang hari, saat membawa ternaknya pulang sebentar. Kemudian mereka makan. Istirahat sebentar, setelah itu pergi lagi untuk mencari rumput. Kemudian membawa kerbau dan sapinya ke padang rumput. Selanjutnya memandikan ternaknya di sungai. Begitu mereka pulang hari sudah sore. Habis makan malam, mereka langsung tidur. Tentu karena memang mereka pada kecapaian setelah seharian bekerja menggembalakan ternaknya serta mencari rumput sebagai makanan ternaknya.

    Nenek Kosen pun tidak mau mengganggu mereka. Nenek Kosen tidak ingin anak-anak yang sudah kelelahan itu diajak bicara atau diajak ngobrol. Paling-paling hanya bicara sambil menasehati, di saat mereka makan. Itu pun tidak setiap hari, hanya kadang-kadang Nenek Kosen makan nimbrung bersama mereka. Itu pun hanya sebatas antara majikan dengan pembantunya, sehingga tentu tidak leluasa.

    Beruntung Nenek Kosen punya anak perempuan. Kadang-kadang Ani, anak perempuannya, anak pertama Kakek Yan dan Nenek Kosen, yang sudah punya anak laki-laki bernama Totok, datang dan membantu pekerjaannya. Bahkan juga sering mengirimi makanan hasil masakannya untuk bapak dan mamaknya.  Tentu Ani juga paham, kalau ibunya yang tinggal di rumah yang baru, belum baNenek perkakas dapurnya, maka Ani membantu memasakkan di rumahnya, lantas diantar ke rumah orang tuanya.

   Memang, sebenarnya Ani juga agak kecewa dengan adik laki-lakinya, Jono. Permasalahannya seakan adiknya itu tergesa-gesa meminta dibuatkan rumah. Atau setidaknya adiknya itu pengin tinggal di rumah sendiri. Padahal dahulu, saat Kakek Yan membuatkan rumah untuk Ani, saat itu Ani sudah punya anak, yaitu Totok. Bahkan saat dibangunkan rumah, Totok sudah besar, sudah bisa jalan dan bermain.

    Tapi Jono, belum apa-apa sudah minta rumah. Padahal rumah yang ditempati itu jelas-jelas akan diberikan kepada dirinya. Bahkan saat Kakek Yan memindah rumah, dan para tetangga ramai bergotong royong membantu Kakek Yan, Ciblek, istrinya Jono, tidak nongol sama sekali. Padahal di dapur banyak ibu-ibu para tetangga yang membantu masak. Memang dasar perempuan pemalas. Minta rumah tetapi tidak mau bersusah payah, bahkan tidak mau menyentuh pekerjaan sama sekali.

    Makanya, Ani sebenarnya juga menyadari kalau orang tuanya memang harus segera memisahkan diri dengan menantunya itu, daripada sakit hati setiap hari. Akibatya, Kakek Yan pun seakan tergesa memindah rumah. Bukan membuat baru, tetapi hanya memindah saja. Ani tahu, itu semua gara-gara adiknya, yaitu Jono yang dituntut istrinya meminta dibuatkan rumah sendiri. Ani pun yakin, kalau ibunya agak kecewa. Maka untuk menghibur orang tuanya, Ani setiap kali setelah selesai masak, setelah selesai mengurusi rumahnya, Ani pun datang ke rumah orang tuanya, untuk menengok Kakek dan Nenek. Ya, tentu saja Ani membawakan masakan untuk orang tuanya. Meskipun boleh dikatakan, suami Ani hanya bekerja sebagai buruh, tetapi sebagai rasa sayangnya kepada orang tua, meski sedikit tetap selalu dibawakan masakan. Walau hanya sayur bayam, tempe goreng dan sambal terasi, tetapi itu sudah merupakan bukti cinta kepada orang tua.

    Tidak ketinggalan, setiap kali berkunjung ke rumah orang tuanya, Ani selalu mengajak Totok,  anak laki-laki pertamanya yang sudah bisa bermain sendiri. Totok itulah yang menyenangkan hati Nenek Kosen. Totok itulah yang bisa menghibur neneknya. Dan tentu Nenek Kosen maupun Kakek Yan, sangat senang manakala ia menyaksikan cucu pertamanya itu, yang selalu lincah, selalu ceria, dan selalu menggemaskan. Kakek dan neneknya sangat senang melihatnya. Ya, ketika ada Totok di rumahnya, langsung saja dua orang, kakek dan nenek itu menghentikan pekerjaannya, menghentikan aktifitasnya dan hanya bersendagurau dan memanjakan cucunya. Bahkan Nenek Kosen tidak membolehkan cucunya diajak pulang saat Ani mau pulang ke rumahnya. Nenek Kosen sengaja mencegah Totok agar tidak ikut pulang, sengaja membujuk cucunya yang masih kecil itu mau tidur di rumah nenek dan kakeknya.

    Memang, bagi Kakek Yan dan Nenek Kosen, cucu adalah bocah yang bisa membahagiakan hidupnya manakala rumahnya terasa sepi. Totok adalah cucu yang bisa menghibur kesedihannya.

Episodes
1 BAB I: PERNIKAHAN TUAN JONO
2 BAB 2: NGUNDUH MANTU
3 BAB 3: TINGGAL BERSAMA MERTUA
4 BAB 4: MEMARAHI ANAK KESAYANGAN
5 BAB 5: PENYESALAN
6 BAB 6: MINTA PEMBANTU
7 BAB 7: PUNYA PEMBANTU
8 BAB 8: PUNYA PEMBANTU
9 BAB 9: PEMBANTU BARU
10 BAB 10: CERITA SAAT MENCUCI
11 BAB 11: PEMBANTU MINTA PULANG
12 BAB 12: DIMARAHI ORANG TUA
13 BAB 13: NGAMBEK LAGI
14 BAB 14: KEMBALI MEMINTA SYARAT
15 BAB 15: MEMINTA RUMAH
16 BAB 16: MEMINDAH RUMAH
17 BAB 17: RUMAH YANG BUTUH KERAMAIAN
18 BAB 18: PENGGEMBALA CILIK
19 BAB 19: RUMAH YANG KOTOR
20 BAB 20: BERONTAK
21 BAB 21: KEGUGURAN
22 BAB 22: RUMAH POHON
23 BAB 23: MENJADI ANAK KAKEK DAN NENEK
24 BAB 24: ANAK PINTAR
25 BAB 25: PENCURI KAYU BAKAR
26 BAB 26: ANAK PERTAMA
27 BAB 27: PERUBAHAN ZAMAN
28 BAB 28: MURID TELADAN
29 BAB 29: SEKOLAH FAVORIT
30 BAB 30: BERAS DIMAKAN GERANDONG
31 BAB 31: MENYINGKIRKAN KELUARGA MERTUA
32 BAB 32: ADIK NAKAL
33 BAB 33: ANAK PINTAR
34 BAB 34: MEMBUKA WARUNG
35 BAB 35: INTERKOM
36 BAB 36: HARUS OPNAM
37 BAB 37: TELAH HILANG GIGI EMAS
38 BAB 38: DICARIKAN PACAR
39 BAB 39: PENCURI WARUNG
40 BAB 40: MAKLAR TANAH
41 BAB 41: MOTOR BARU
42 BAB 42: RUMAH GEDUNG
43 BAB 44: MINTA MOBIL
44 BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
45 BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
46 BAB 43: JIMAT PENUNGGU RUMAH
47 BAB 44: MINTA MOBIL
48 BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
49 BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
50 BAB 47: JADI GURU
51 BAB 48: SAYANG NENEK
52 BAB 49: PAMER GELANG
53 BAB 50: BERUBAH SIFAT
54 BAB 51: WATAK PUN BERUBAH
55 BAB 52: NAIK HAJI
56 BAB 53: PULANG HAJI
57 BAB 54: HAJI MABRUR
58 BAB 55: AGAMIS
59 BAB 56: KELUH KESAH SEORANG NENEK
60 BAB 57: PUSAKA LELUHUR
61 BAB 58: SEMAKIN MENYIMPANG
62 BAB 59: SEMUANYA BISA
63 BAB 60: JIKA ADA UANG JADI GAMPANG
64 BAB 61: PENGUSAHA HEBAT
65 BAB 62: PENGUSAHA GAGAL
66 BAB 63: JADI DOKTER
67 BAB 64: WANITA PELENGKAP
68 BAB 65: DEMO
69 BAB 66: NENEK SAKIT
70 BAB 67: KEHILANGAN ORANG-ORANG TERCINTA
71 BAB 68: SEMUA MENUNGGU
72 BAB 69: PENSIUNAN MENYUSAHKAN
73 BAB 70: TETAP MERASA HEBAT
74 BAB 71: MEMBAGI WARISAN
75 BAB 72: MENUNTUT LEBIH
76 BAB 73: SERANGAN JANTUNG
77 BAB 74: DOKTER SOMBONG
78 BAB 75: BAYANG HITAM
79 BAB 76: TUAN JONO MENINGGAL
80 BAB 77: LEBARAN KELABU
81 BAB 78: ORANG-ORANG SERAKAH
82 BAB 79: IKHLAS
83 BAB 80: INNA MA'AL USRI YUSRA
84 BAB 81: WARISAN TERKUTUK
85 BAB 82: KATA-KATA MENYAKITKAN
86 BAB 83: PENJAGA ITU TERNYATA ADA
87 BAB 84: TEROR PERTAMA
88 BAB 85: SIAPA YANG TIDAK PERCAYA HANTU?
89 BAB 86: TEROR KEDUA
90 BAB 87: PERINGATAN DOSA
91 BAB 88: PENANTANG SETAN
92 BAB 89: JANGAN GEGABAH
93 BAB 90: BANASPATI
94 BAB 91: DUKUN SAKTI
95 BAB 92: TAK PERNAH JERA
96 BAB 93: KEHILANGAN KAKI
97 BAB 94: MENANTANG SETAN
98 BAB 95: KEMARAHAN ISTRI
99 BAB 96: ANCAMAN ULAR
100 BAB 97: TATO KULIT ULAR
101 BAB 98: IKATAN NAGA GINI
Episodes

Updated 101 Episodes

1
BAB I: PERNIKAHAN TUAN JONO
2
BAB 2: NGUNDUH MANTU
3
BAB 3: TINGGAL BERSAMA MERTUA
4
BAB 4: MEMARAHI ANAK KESAYANGAN
5
BAB 5: PENYESALAN
6
BAB 6: MINTA PEMBANTU
7
BAB 7: PUNYA PEMBANTU
8
BAB 8: PUNYA PEMBANTU
9
BAB 9: PEMBANTU BARU
10
BAB 10: CERITA SAAT MENCUCI
11
BAB 11: PEMBANTU MINTA PULANG
12
BAB 12: DIMARAHI ORANG TUA
13
BAB 13: NGAMBEK LAGI
14
BAB 14: KEMBALI MEMINTA SYARAT
15
BAB 15: MEMINTA RUMAH
16
BAB 16: MEMINDAH RUMAH
17
BAB 17: RUMAH YANG BUTUH KERAMAIAN
18
BAB 18: PENGGEMBALA CILIK
19
BAB 19: RUMAH YANG KOTOR
20
BAB 20: BERONTAK
21
BAB 21: KEGUGURAN
22
BAB 22: RUMAH POHON
23
BAB 23: MENJADI ANAK KAKEK DAN NENEK
24
BAB 24: ANAK PINTAR
25
BAB 25: PENCURI KAYU BAKAR
26
BAB 26: ANAK PERTAMA
27
BAB 27: PERUBAHAN ZAMAN
28
BAB 28: MURID TELADAN
29
BAB 29: SEKOLAH FAVORIT
30
BAB 30: BERAS DIMAKAN GERANDONG
31
BAB 31: MENYINGKIRKAN KELUARGA MERTUA
32
BAB 32: ADIK NAKAL
33
BAB 33: ANAK PINTAR
34
BAB 34: MEMBUKA WARUNG
35
BAB 35: INTERKOM
36
BAB 36: HARUS OPNAM
37
BAB 37: TELAH HILANG GIGI EMAS
38
BAB 38: DICARIKAN PACAR
39
BAB 39: PENCURI WARUNG
40
BAB 40: MAKLAR TANAH
41
BAB 41: MOTOR BARU
42
BAB 42: RUMAH GEDUNG
43
BAB 44: MINTA MOBIL
44
BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
45
BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
46
BAB 43: JIMAT PENUNGGU RUMAH
47
BAB 44: MINTA MOBIL
48
BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
49
BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
50
BAB 47: JADI GURU
51
BAB 48: SAYANG NENEK
52
BAB 49: PAMER GELANG
53
BAB 50: BERUBAH SIFAT
54
BAB 51: WATAK PUN BERUBAH
55
BAB 52: NAIK HAJI
56
BAB 53: PULANG HAJI
57
BAB 54: HAJI MABRUR
58
BAB 55: AGAMIS
59
BAB 56: KELUH KESAH SEORANG NENEK
60
BAB 57: PUSAKA LELUHUR
61
BAB 58: SEMAKIN MENYIMPANG
62
BAB 59: SEMUANYA BISA
63
BAB 60: JIKA ADA UANG JADI GAMPANG
64
BAB 61: PENGUSAHA HEBAT
65
BAB 62: PENGUSAHA GAGAL
66
BAB 63: JADI DOKTER
67
BAB 64: WANITA PELENGKAP
68
BAB 65: DEMO
69
BAB 66: NENEK SAKIT
70
BAB 67: KEHILANGAN ORANG-ORANG TERCINTA
71
BAB 68: SEMUA MENUNGGU
72
BAB 69: PENSIUNAN MENYUSAHKAN
73
BAB 70: TETAP MERASA HEBAT
74
BAB 71: MEMBAGI WARISAN
75
BAB 72: MENUNTUT LEBIH
76
BAB 73: SERANGAN JANTUNG
77
BAB 74: DOKTER SOMBONG
78
BAB 75: BAYANG HITAM
79
BAB 76: TUAN JONO MENINGGAL
80
BAB 77: LEBARAN KELABU
81
BAB 78: ORANG-ORANG SERAKAH
82
BAB 79: IKHLAS
83
BAB 80: INNA MA'AL USRI YUSRA
84
BAB 81: WARISAN TERKUTUK
85
BAB 82: KATA-KATA MENYAKITKAN
86
BAB 83: PENJAGA ITU TERNYATA ADA
87
BAB 84: TEROR PERTAMA
88
BAB 85: SIAPA YANG TIDAK PERCAYA HANTU?
89
BAB 86: TEROR KEDUA
90
BAB 87: PERINGATAN DOSA
91
BAB 88: PENANTANG SETAN
92
BAB 89: JANGAN GEGABAH
93
BAB 90: BANASPATI
94
BAB 91: DUKUN SAKTI
95
BAB 92: TAK PERNAH JERA
96
BAB 93: KEHILANGAN KAKI
97
BAB 94: MENANTANG SETAN
98
BAB 95: KEMARAHAN ISTRI
99
BAB 96: ANCAMAN ULAR
100
BAB 97: TATO KULIT ULAR
101
BAB 98: IKATAN NAGA GINI

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!