Setelah Kakek Yan bersama istrinya berpindah rumah, menempati rumah yang baru saja didirikan, yang berada di belakang rumah utama, berada di sebelah kandang kerbau, rumah yang diangkat dari bagian belakang rumah utama, tentu kehidupan Nenek Kosen dan Kakek Yan harus dimulai dari awal lagi. Mulai menata segala macamnya. Karena semua perabot dan mebeler tidak ada yang dibawa. Kecuali tempat tidur Kakek Yan dan dipan tempat tidur para penggembala ternak yang ikut Kakek Yan. Bahkan peralatan masak saja, Nenek Kosen tidak membawa satu barang pun. Yah, semuanya ditinggalkan di rumah yang lama, di dapur yang masih gandeng dengan rumah lama. untuk anak kesayangannya, Jono bersama istrinya. Ya, rumah yang lama itu diberikan kepada Jono, untuk ditempati Jono dan istrinya. Setidaknya, Nenek Kosen sudah memberi peralatan masak untuk anaknya. Biar Jono tidak usah beli-beli lagi perabotan rumah tangga.
"Kok tidak ada perabot dapur yang di bawa?" Kakek Yan menanyakan kepada Nenek Kosen, setelah melihat ruang bagian belakang yang katanya untuk dapur, tetapi tidak apa apa-apanya.
"Tidak usah. Nanti beli sendiri lagi. Semuanya saya tinggalkan untuk menantuku yang paling cantik." begitu jawab Nenek Kosen yang pastinya sambil menyindir menantunya.
Makanya, saat para tetangga sambatan, saudara-saudaranya ikut membantu memasakkan makanan untuk orang-orang yang bergotong royong membantu memindahkan rumah, Nenek Kosen memesan kepada ibu-ibu yang membantu itu agar membawa peralatan masaknya dari rumah. Nenek Kosen sekalian pinjam kepada para tetangga yang ikut membantu masak. Termasuk Ani, anaknya yang pertama, yang sudah berumah tangga sendiri, yang tentunya membawa banyak peralatan dapur.
Rumah Kakek Yan yang merupakan pindahan dari gandok rumah induk memang belum sempurna. Belum ada gandok-gandok untuk dapur maupun untuk tempat menaruh barang-barang perkakas rumah tangga. Juga belum dibuatkan teras belakang yang biasa digunakan sebagai tempat untuk menaruh tumpukan kayu bakar, sebagai simpanan bahan bakar yang biasa digunakan untuk memasak. Namun setidaknya, rumah itu sudah lumayan besar dan sangat memadai. Sudah sangat nyaman untuk tidur dan istirahat.
Bagian ruang depan merupakan ruangan yang cukup luas, yang kemudian diberi dipan besar yang oleh masyarakat Pademangan biasa disebut dengan istilah "bale panjang" yang digunakan untuk tempat tidur para penggembala ternak. Bale panjang itu diambil dari rumah yang lama, karena memang dipan besar itu dulunya merupakan tempat tidur para penggembala sejak lama, bahkan jauh sebelum Tuan Jono menikah. Dan yang tidur, sebenarnya bukan hanya penggembala ternak yang ikut Kakek Yan saja, tetapi juga penggembala-penggembala lain dari para tetangga. Kadang-kadang jumlahnya sampai sepuluh orang. Meski begitu, Kakek Yan tetap senang, karena malah kebetulan bisa menjagakan ternak-ternaknya. Ya, rumah Kakek Yan yang baru saja didirikan itu benar-benar bergandeng dengan kandang ternaknya.
Di bagian ruang depan itu, selain terdapat bale panjang, juga ada kursi sederhana dari kayu jati besar yang cukup besar dan berat, yang biasa disebut dengan istilah bangku. Kursi bangku itu biasanya untuk menerima tamu dan juga biasa digunakan untuk tiduran. Tetapi di rumah Kakek Yan, tentunya biasa digunakan untuk menerima tamu seandainya ada tamu yang datang berkunjung.
Di bagian tengahnya, terdapat tiga sentong atau kamar. Kamar itu juga amat sederhana, hanya disekat papan kayu sengon saja dan di pintunya ditutup korden dari kain jarit. Yang jelas bisa digunakan untuk tidur oleh Kakek Yan dan Nenek Kosen. Sedangkan di bagian belakang dibuat sebagai tempat untuk memasak atau dapur. Ya, pastinya sambil menunggu saatnya Kakek Yan membuat gandok sendiri untuk dapur. Sudah ada tungku dari tanah liat yang dibuatkan oleh tetangganya. Nenek Kosen pun kalau pulang dari pasar, sedikit demi sedikit membeli perlengkapan dapur, seperti dandang, panci, piring, sendok, gelas dan lain sebagainya. Tentunya untuk mengisi kebutuhan peralatan dapurnya.
Rumah yang baru dipindah itu tentunya sudah sangat lumayan, yang bisa digunakan untuk berteduh. Yang penting bagi Kakek Yan maupun Nenek Kosen adalah bisa memisahkan diri dari anak dan menantunya, yang selalu meminta agar dibuatkan rumah baru. Setidaknya Nenek Kosen dan Kakek Yan telinganya tidak gatal mendengar teriakan menantunya.
Yah, karena kondisi dan keadaan yang memaksa harus melakukan pindah rumah secara cepat, maka langkah paling tepat adalah dengan cara memindahkan salah satu gandok rumah. Sedangkan rumah induk yang semula ditempati oleh Kakek Yan sebagai rumah warisan itu diserahkan kepada Jono, biar dikelola oleh anak bungsunya itu bersama istrinya. Biar mereka semua bisa belajar mandiri, mengatur rumah tangganya sendiri.
Pastinya, Kakek Yan masih terus memperbaiki rumahnya. Mulai dari menata halamannya, menata pinggiran rumahnya, dan juga menata tempat-tempat yang lain. Tentunya sambil menunggu rezeki yang datang, untuk dapat menambahi gandok dapur. Yang penting rumah itu sudah bisa ditempati dengan nyaman. Tidak bocor kalau kehujanan, dan tidak kepanasan saat musim kemarau.
Meskipun ditemani oleh dua orang pangon, yang setiap hari bekerja menggembalakan ternak-ternaknya. Bahkan kadang-kadang kalau malam hari para pangon dari tetangga juga ikut mengungsi tidur di tempatnya Kakek Yan, namun kenyataannya, Nenek Kosen masih merasa ada sesuatu yang kurang. Nenek Kosen merasa kesepian. Rumah itu seakan tidak ada orang yang bisa diajak bersenda gurau. Tidak ada orang yang bisa diajak ngobrol secara leluasa.
Ya namanya pekerja, para penggembala ternak itu biasanya sampai di rumah siang hari, saat membawa ternaknya pulang sebentar. Kemudian mereka makan. Istirahat sebentar, setelah itu pergi lagi untuk mencari rumput. Kemudian membawa kerbau dan sapinya ke padang rumput. Selanjutnya memandikan ternaknya di sungai. Begitu mereka pulang hari sudah sore. Habis makan malam, mereka langsung tidur. Tentu karena memang mereka pada kecapaian setelah seharian bekerja menggembalakan ternaknya serta mencari rumput sebagai makanan ternaknya.
Nenek Kosen pun tidak mau mengganggu mereka. Nenek Kosen tidak ingin anak-anak yang sudah kelelahan itu diajak bicara atau diajak ngobrol. Paling-paling hanya bicara sambil menasehati, di saat mereka makan. Itu pun tidak setiap hari, hanya kadang-kadang Nenek Kosen makan nimbrung bersama mereka. Itu pun hanya sebatas antara majikan dengan pembantunya, sehingga tentu tidak leluasa.
Beruntung Nenek Kosen punya anak perempuan. Kadang-kadang Ani, anak perempuannya, anak pertama Kakek Yan dan Nenek Kosen, yang sudah punya anak laki-laki bernama Totok, datang dan membantu pekerjaannya. Bahkan juga sering mengirimi makanan hasil masakannya untuk bapak dan mamaknya. Tentu Ani juga paham, kalau ibunya yang tinggal di rumah yang baru, belum baNenek perkakas dapurnya, maka Ani membantu memasakkan di rumahnya, lantas diantar ke rumah orang tuanya.
Memang, sebenarnya Ani juga agak kecewa dengan adik laki-lakinya, Jono. Permasalahannya seakan adiknya itu tergesa-gesa meminta dibuatkan rumah. Atau setidaknya adiknya itu pengin tinggal di rumah sendiri. Padahal dahulu, saat Kakek Yan membuatkan rumah untuk Ani, saat itu Ani sudah punya anak, yaitu Totok. Bahkan saat dibangunkan rumah, Totok sudah besar, sudah bisa jalan dan bermain.
Tapi Jono, belum apa-apa sudah minta rumah. Padahal rumah yang ditempati itu jelas-jelas akan diberikan kepada dirinya. Bahkan saat Kakek Yan memindah rumah, dan para tetangga ramai bergotong royong membantu Kakek Yan, Ciblek, istrinya Jono, tidak nongol sama sekali. Padahal di dapur banyak ibu-ibu para tetangga yang membantu masak. Memang dasar perempuan pemalas. Minta rumah tetapi tidak mau bersusah payah, bahkan tidak mau menyentuh pekerjaan sama sekali.
Makanya, Ani sebenarnya juga menyadari kalau orang tuanya memang harus segera memisahkan diri dengan menantunya itu, daripada sakit hati setiap hari. Akibatya, Kakek Yan pun seakan tergesa memindah rumah. Bukan membuat baru, tetapi hanya memindah saja. Ani tahu, itu semua gara-gara adiknya, yaitu Jono yang dituntut istrinya meminta dibuatkan rumah sendiri. Ani pun yakin, kalau ibunya agak kecewa. Maka untuk menghibur orang tuanya, Ani setiap kali setelah selesai masak, setelah selesai mengurusi rumahnya, Ani pun datang ke rumah orang tuanya, untuk menengok Kakek dan Nenek. Ya, tentu saja Ani membawakan masakan untuk orang tuanya. Meskipun boleh dikatakan, suami Ani hanya bekerja sebagai buruh, tetapi sebagai rasa sayangnya kepada orang tua, meski sedikit tetap selalu dibawakan masakan. Walau hanya sayur bayam, tempe goreng dan sambal terasi, tetapi itu sudah merupakan bukti cinta kepada orang tua.
Tidak ketinggalan, setiap kali berkunjung ke rumah orang tuanya, Ani selalu mengajak Totok, anak laki-laki pertamanya yang sudah bisa bermain sendiri. Totok itulah yang menyenangkan hati Nenek Kosen. Totok itulah yang bisa menghibur neneknya. Dan tentu Nenek Kosen maupun Kakek Yan, sangat senang manakala ia menyaksikan cucu pertamanya itu, yang selalu lincah, selalu ceria, dan selalu menggemaskan. Kakek dan neneknya sangat senang melihatnya. Ya, ketika ada Totok di rumahnya, langsung saja dua orang, kakek dan nenek itu menghentikan pekerjaannya, menghentikan aktifitasnya dan hanya bersendagurau dan memanjakan cucunya. Bahkan Nenek Kosen tidak membolehkan cucunya diajak pulang saat Ani mau pulang ke rumahnya. Nenek Kosen sengaja mencegah Totok agar tidak ikut pulang, sengaja membujuk cucunya yang masih kecil itu mau tidur di rumah nenek dan kakeknya.
Memang, bagi Kakek Yan dan Nenek Kosen, cucu adalah bocah yang bisa membahagiakan hidupnya manakala rumahnya terasa sepi. Totok adalah cucu yang bisa menghibur kesedihannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments