BAB 8: PUNYA PEMBANTU

    Akhirnya, pembantu rumah tangga yang diharapkan oleh Jono, datang juga. Pagi itu, saat Tuan Jono sampai di kantornya, Bu Yuli langsung menemuinya bersama dengan seorang anak perempuan, remaja kecil, kira-kira masih berumur dua belas tahun.

    "Mas Jono, ini anaknya yang mau jadi pembantu di rumah Mas Jono. Sana, diantar pulang dahulu."

    "Alhamdulillah. Terima kasih, Bu Yuli. Kok kelihatannya masih kecil, ya." sahut Jono yang tentunya senang sudah mendapat pembantu rumah tangga.

    "Iya. Yang mau jadi pembantu ya yang masih kecil, yang legan, yang belum punya tanggungan. Nanti besar sedikit, ya langsung jadi manten. Jadi, ndak mungkin bekerja, karena langsung mengurus suaminya, mengurus keluarganya, mengurus rumah tangganya sendiri. Ini lumayan, lho. meski kelihatan kecil begitu katanya sudah pernah sekolah, meski hanya sebentar. Dan kalau besaran dikit, nanti istrimu cemburu. Yang penting bisa mencuci, bisa menyapu, bisa memasak." kata Bu Yuli yang menjelaskan pada Jono. Memang, kala itu yang namanya sekolah bagi anak-anak kampung itu dirasa tidak penting. Apalagi untuk anak perempuan, yang penting bisa mencuci, menyambal dan memasak.

    "Ya, sudah, Bu Yuli. Terima kasih. Saya antar anak ini ke rumah dahulu. Semoga istriku cocok." kata Jono yang langsung mengajak perempuan cilik yang akan jadi pembantunya itu pulang ke rumahnya. Tentunya jalan kaki. Lumayan jauh.

    "Ya, ya. Hati-hati." kata Bu Yuli.

    "Ada apa, Bu Yuli?" tanya seorang laki-laki setengah baya, temannya yang baru saja datang ke kantor.

    "Itu, Mas Jono minta dicarikan pembantu rumah tangga." jawab Bu Yuli yang masih memandangi Jono yang pulang bersama pembantunya.

    "Pembantu rumah tangga? Jono mau punya pembantu rumah tangga?" laki-laki itu setengah keheranan.

    "Iya. Memangnya, gak boleh? Istrinya yang minta ada pembantu di rumahnya." sahut Bu Yuli.

    "Boleh boleh saja. Tetapi, orang itu kan mestinya bercermin. Kalau dia bawa pembantu, terus istrinya disuruh ngapain?! Istrinya mau disuruh dandan saja, pupuran tiap saat?! Mestinya Ciblek itu tahu diri." kata laki-laki itu.

    "Lhoh, memang kenapa?" tanya Bu Yuli.

    "Yah. Saya kan tetangga satu kampung dengan istrinya Jono. Saya tahu presis siapa istrinya Jono itu. Ciblek itu anak dari keluarga tidak mampu. Kehidupan orang tuanya sangat memprihatinkan. Jangankan untuk menyekolahkan anak-anaknya, untuk makan sehari-hari saja itu mereka kekurangan. Kalau Bu Yuli tahu rumahnya, pasti akan mengelus dada. Makanya, dulu sebenarnya orang tua Jono tidak setuju. Tetapi Jono ngambek, pokoknya hidup mati harus dapat Ciblek." kata lelaki itu yang menceritakan kondisi keluarga Ciblek.

    "Ooo, seperti itu?" gumam Bu Yuli yang tentunya keheranan.

    "Makanya, sebenarnya istrinya Jono itu juga tidak sekolah. Hanya dapat cantiknya saja. Kulitnya putih mulus. Tapi kalau kepribadiannya, sebenarnya. Ah, kok malah ngomongin keburukan orang. Sudah, Bu Yuli. Saya masuk duluan." kata laki-laki itu yang menghentikan ceritanya, dan meninggalkan rekannya, masuk ke ruangan kantor kecamatan.

    "Ee, Pak! Bagamana kelanjutannya?!" Bu Yuli yang penasaran ingin tahu, langsung ikut masuk mengejar laki-laki itu.

-------

Di Kampung Pademangan

    Jono berjalan bersama anak perempuan, yang sudah terlihat lumayan besar. Tidak kurus, tetapi juga tidak gemuk. Usia kira-kira dua belas tahun. Namanya Siti. Bagi orang desa, anak perempuan sebesar itu sudah layak bekerja. Bahkan sudah harus membantu pekerjaan-pekerjaan orang tuanya. Paling tidak ikut membantu bercocok tanam atau menghalau burung di sawah. Minimal harus sudah bisa membikin sambal.

    Dan memang, Siti ini sudah sangat terampil mengerjakan pekerjaan rumah tangga, khususnya pekerjaan dapur. Kala itu, anak perempuan seumuran Siti, sudah banyak yang menikah. Apalagi kalau perempuan itu anaknya orang berada atau orang kaya, pasti sudah banyak yang melamarnya. Makanya di kampung, kala itu banyak anak putus sekolah, banyak anak tidak berpendidikan, terutama yang perempuan, karena sudah dinikahkan oleh orang tuanya. Perempuan itu hanya sebagai pelengkap dalam berumah tangga. Tidak perlu berpendidikan, yang penting bisa memasak. Ada jargonnya, wanita itu ma lima, yaitu omah-omah (menikah), masak, macak (berdandan), manak (melahirkan anak), manut (menurut pada suaminya) .

    Seperti halnya perempuan-perempuan teman-temannya Siti, yang belum dilamar orang, atau belum menikah, daripada menganggur di rumah, mereka bekerja menjadi pembantu rumah tangga di kota. Setidaknya mereka bisa mendapatkan uang.

    Demikian halnya dengan anak laki-laki. Anak-anak yang menginjak remaja, yang tidak bersekolah, biasanya mereka ikut bekerja di tempat orang. Misalnya saja ada yang jadi pencari rumput untuk makan ternak, ada yang menunggui padi menghalau burung, bahkan juga ikut mencangkul di ladang maupun sawah. Setidaknya upah dari kerjanya itu bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup, membeli barang-barang kebutuhan rumah tangga. Malah ada juga yang orangnya rajin, sehingga hasil upah kerjanya bisa digunakan untuk membeli tanah. Sehingga pepatah yang berbunyi "rajin dan berhemat pangkal kaya" adalah benar adanya. Memang, kalau seseorang pengin kaya, maka ia harus rajin, harus mau bekerja keras, dan berhemat membelanjakan penghasilannya.

    Maka, seperti orang tua lainnya di kampung, orang tua Siti pun tentunya tidak akan keberatan kalau anaknya akan bekerja di daerah lain, walau hanya sekedar menjadi pembantu rumah tangga. Yang penting anaknya bisa mendapatkan uang untuk membantu kebutuhan orang tuanya. Dan kini, saat temannya pulang, akan mengajaknya untuk bekerja, Siti pun langsung berangkat. Itulah calon pembantu rumah tangga Jono, gadis remaja yang masih hijau, merantau di tempat jauh, demi untuk mendapatkan uang.

    "Istriku sayang, Ciblek! Mas Jono pulang!" teriak Tuan Jono yang baru saja sampai di rumah, memanggil istrinya untuk memberi kabar terbaiknya.

    Serta merta istrinya membuka pintu kamar, keluar dari kamarnya, dan langsung menuju pintu luar rumah, untuk menemui suaminya yang sudah memanggil dengan suara keras.

    "Iya, Mas Jono. Ada apa?" sahut Ciblek yang langsung keluar.

    "Ini. Saya sudah bawa anak, yang mau jadi pembantu rumah tangga di tempat kita. Namanya Siti, dari kabupaten timur." kata Jono sambil menunjukkan Siti, yang diajaknya.

    "Wah, ya. Ya, Mas. Nama kamu, Siti?" kata Ciblek yang langsung menanyai nama anak itu.

    "Iya, Bu." jawab Siti sambil menundukkan kepalanya serta dengan tangan yang digenggam pada bagian bawah perutnya, sebagai tanda hormat. Seorang pembantu harus tunduk dihadapan majikannya.

    "Kamu mau, jadi babu di sini?" tanya Ciblek lagi, yang menyebut kata "babu" untuk seorang pembantu rumah tangga.

    Tentunya Jono agak tidak nyaman mendengar kata-kata tersebut. Apalagi langsung ditujukan kepada anak yang bersangkutan. Tetapi mau apa lagi, memang istrinya mulutnya kasar. Padahal kalau misalnya ditelisik, belum tentu keluarganya Siti itu lebih miskin dari keluarga mertuanya. Bisa jadi keluarga Siti ini lebih mampu dan lebih berada. Hanya karena dari kampung pelosok saja, dan karena butuh pekerjaaan, maka ia mau menjadi pembantu.

    Namun bagi Siti sendiri, sebenarnya tidak mempermasalahkan dengan kata "babu" karena memang di kampungnya, rata-rata teman-temannya juga bekerja sebagai pembantu rumah tangga, dan pastinya sudah biasa dengan panggilan yang menggunakan kata sangat rendah tersebut. Tidak masalah mau disebut apa saja. Yang penting bekerja dapat uang.

    "Iya, Bu." jawab Siti yang tetap masih menundukkan kepalanya.

    "Kamu bisa masak?" tanya Ciblek kembali.

    "Bisa, Bu." jawab bocah yang akan jadi pembantunya itu.

    "Bisa mencuci?" tanya Ciblek lagi, yang seakan sedang mengadakan wawancara penerimaan pegawai.

    "Bisa, Bu." Siti menjawab dengan tenang, meski sebenarnya agak takut. Maklum, baru kali ini ia akan bekerja di tempat orang lain. Apalagi sebagai pembantu rumah tangga, yang harus menurut pada majikannya.

    "Bisa menyapu?" tanya Ciblek lagi, yang terus ingin tahu kebisaan anak itu.

    "Bisa, Bu." jawab Siti kembali.

    "Nah, kalau kamu bisa menyapu, sekarang ambil sapu, terus kamu bersihkan rumah, dari dalam, terus ke dapur, sampai seluruh halaman rumah. Cepat, ya." kata Ciblek yang langsung memerintah pembantunya untuk menyapu.

    "Iya, Bu, saya laksanakan." jawab Siti yang langsung tengak-tengok, pastinya mencari sapu lidi.

    "Sapunya di mana ya, Bu?" tanya Siti setelah beberapa saat tidak menemukan sapu.

    "Cari sendiri." jawab Ciblek ketus. Padahal sebenarnya perempuan yang layaknya sebagai istri seorang pemilik rumah itu tidak tahu di mana tempat sapu berada. Karena memang dirinya tidak pernah menyapu di rumah mertuanya tersebut.

    "Di dapur, Siti. Di pojok dapur. Sini, saya tunjukkan. Ini dapurnya, tempat masak. Itu perkakas-perkakasnya. Dan itu tempat mencuci piring dan peralatan masak. Nanti kalau Mamak sudah pulang, kamu bantu Mamak. Itu yang di pojok sana, sapunya. Kamu menyapu dahulu, bersihkan semua, ya. Nanti kotorannya ditaruh di pojok pekarangan sana, biar nanti sore dibakar sama Kakek." kata Jono yang menunjukkan pekerjaannya kepada Siti.

    Sedangkan istrinya, Ciblek, sudah kembali masuk kamar. Dasar perempuan pemalas.

Episodes
1 BAB I: PERNIKAHAN TUAN JONO
2 BAB 2: NGUNDUH MANTU
3 BAB 3: TINGGAL BERSAMA MERTUA
4 BAB 4: MEMARAHI ANAK KESAYANGAN
5 BAB 5: PENYESALAN
6 BAB 6: MINTA PEMBANTU
7 BAB 7: PUNYA PEMBANTU
8 BAB 8: PUNYA PEMBANTU
9 BAB 9: PEMBANTU BARU
10 BAB 10: CERITA SAAT MENCUCI
11 BAB 11: PEMBANTU MINTA PULANG
12 BAB 12: DIMARAHI ORANG TUA
13 BAB 13: NGAMBEK LAGI
14 BAB 14: KEMBALI MEMINTA SYARAT
15 BAB 15: MEMINTA RUMAH
16 BAB 16: MEMINDAH RUMAH
17 BAB 17: RUMAH YANG BUTUH KERAMAIAN
18 BAB 18: PENGGEMBALA CILIK
19 BAB 19: RUMAH YANG KOTOR
20 BAB 20: BERONTAK
21 BAB 21: KEGUGURAN
22 BAB 22: RUMAH POHON
23 BAB 23: MENJADI ANAK KAKEK DAN NENEK
24 BAB 24: ANAK PINTAR
25 BAB 25: PENCURI KAYU BAKAR
26 BAB 26: ANAK PERTAMA
27 BAB 27: PERUBAHAN ZAMAN
28 BAB 28: MURID TELADAN
29 BAB 29: SEKOLAH FAVORIT
30 BAB 30: BERAS DIMAKAN GERANDONG
31 BAB 31: MENYINGKIRKAN KELUARGA MERTUA
32 BAB 32: ADIK NAKAL
33 BAB 33: ANAK PINTAR
34 BAB 34: MEMBUKA WARUNG
35 BAB 35: INTERKOM
36 BAB 36: HARUS OPNAM
37 BAB 37: TELAH HILANG GIGI EMAS
38 BAB 38: DICARIKAN PACAR
39 BAB 39: PENCURI WARUNG
40 BAB 40: MAKLAR TANAH
41 BAB 41: MOTOR BARU
42 BAB 42: RUMAH GEDUNG
43 BAB 44: MINTA MOBIL
44 BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
45 BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
46 BAB 43: JIMAT PENUNGGU RUMAH
47 BAB 44: MINTA MOBIL
48 BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
49 BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
50 BAB 47: JADI GURU
51 BAB 48: SAYANG NENEK
52 BAB 49: PAMER GELANG
53 BAB 50: BERUBAH SIFAT
54 BAB 51: WATAK PUN BERUBAH
55 BAB 52: NAIK HAJI
56 BAB 53: PULANG HAJI
57 BAB 54: HAJI MABRUR
58 BAB 55: AGAMIS
59 BAB 56: KELUH KESAH SEORANG NENEK
60 BAB 57: PUSAKA LELUHUR
61 BAB 58: SEMAKIN MENYIMPANG
62 BAB 59: SEMUANYA BISA
63 BAB 60: JIKA ADA UANG JADI GAMPANG
64 BAB 61: PENGUSAHA HEBAT
65 BAB 62: PENGUSAHA GAGAL
66 BAB 63: JADI DOKTER
67 BAB 64: WANITA PELENGKAP
68 BAB 65: DEMO
69 BAB 66: NENEK SAKIT
70 BAB 67: KEHILANGAN ORANG-ORANG TERCINTA
71 BAB 68: SEMUA MENUNGGU
72 BAB 69: PENSIUNAN MENYUSAHKAN
73 BAB 70: TETAP MERASA HEBAT
74 BAB 71: MEMBAGI WARISAN
75 BAB 72: MENUNTUT LEBIH
76 BAB 73: SERANGAN JANTUNG
77 BAB 74: DOKTER SOMBONG
78 BAB 75: BAYANG HITAM
79 BAB 76: TUAN JONO MENINGGAL
80 BAB 77: LEBARAN KELABU
81 BAB 78: ORANG-ORANG SERAKAH
82 BAB 79: IKHLAS
83 BAB 80: INNA MA'AL USRI YUSRA
84 BAB 81: WARISAN TERKUTUK
85 BAB 82: KATA-KATA MENYAKITKAN
86 BAB 83: PENJAGA ITU TERNYATA ADA
87 BAB 84: TEROR PERTAMA
88 BAB 85: SIAPA YANG TIDAK PERCAYA HANTU?
89 BAB 86: TEROR KEDUA
90 BAB 87: PERINGATAN DOSA
91 BAB 88: PENANTANG SETAN
92 BAB 89: JANGAN GEGABAH
93 BAB 90: BANASPATI
94 BAB 91: DUKUN SAKTI
95 BAB 92: TAK PERNAH JERA
96 BAB 93: KEHILANGAN KAKI
97 BAB 94: MENANTANG SETAN
98 BAB 95: KEMARAHAN ISTRI
99 BAB 96: ANCAMAN ULAR
100 BAB 97: TATO KULIT ULAR
101 BAB 98: IKATAN NAGA GINI
Episodes

Updated 101 Episodes

1
BAB I: PERNIKAHAN TUAN JONO
2
BAB 2: NGUNDUH MANTU
3
BAB 3: TINGGAL BERSAMA MERTUA
4
BAB 4: MEMARAHI ANAK KESAYANGAN
5
BAB 5: PENYESALAN
6
BAB 6: MINTA PEMBANTU
7
BAB 7: PUNYA PEMBANTU
8
BAB 8: PUNYA PEMBANTU
9
BAB 9: PEMBANTU BARU
10
BAB 10: CERITA SAAT MENCUCI
11
BAB 11: PEMBANTU MINTA PULANG
12
BAB 12: DIMARAHI ORANG TUA
13
BAB 13: NGAMBEK LAGI
14
BAB 14: KEMBALI MEMINTA SYARAT
15
BAB 15: MEMINTA RUMAH
16
BAB 16: MEMINDAH RUMAH
17
BAB 17: RUMAH YANG BUTUH KERAMAIAN
18
BAB 18: PENGGEMBALA CILIK
19
BAB 19: RUMAH YANG KOTOR
20
BAB 20: BERONTAK
21
BAB 21: KEGUGURAN
22
BAB 22: RUMAH POHON
23
BAB 23: MENJADI ANAK KAKEK DAN NENEK
24
BAB 24: ANAK PINTAR
25
BAB 25: PENCURI KAYU BAKAR
26
BAB 26: ANAK PERTAMA
27
BAB 27: PERUBAHAN ZAMAN
28
BAB 28: MURID TELADAN
29
BAB 29: SEKOLAH FAVORIT
30
BAB 30: BERAS DIMAKAN GERANDONG
31
BAB 31: MENYINGKIRKAN KELUARGA MERTUA
32
BAB 32: ADIK NAKAL
33
BAB 33: ANAK PINTAR
34
BAB 34: MEMBUKA WARUNG
35
BAB 35: INTERKOM
36
BAB 36: HARUS OPNAM
37
BAB 37: TELAH HILANG GIGI EMAS
38
BAB 38: DICARIKAN PACAR
39
BAB 39: PENCURI WARUNG
40
BAB 40: MAKLAR TANAH
41
BAB 41: MOTOR BARU
42
BAB 42: RUMAH GEDUNG
43
BAB 44: MINTA MOBIL
44
BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
45
BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
46
BAB 43: JIMAT PENUNGGU RUMAH
47
BAB 44: MINTA MOBIL
48
BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
49
BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
50
BAB 47: JADI GURU
51
BAB 48: SAYANG NENEK
52
BAB 49: PAMER GELANG
53
BAB 50: BERUBAH SIFAT
54
BAB 51: WATAK PUN BERUBAH
55
BAB 52: NAIK HAJI
56
BAB 53: PULANG HAJI
57
BAB 54: HAJI MABRUR
58
BAB 55: AGAMIS
59
BAB 56: KELUH KESAH SEORANG NENEK
60
BAB 57: PUSAKA LELUHUR
61
BAB 58: SEMAKIN MENYIMPANG
62
BAB 59: SEMUANYA BISA
63
BAB 60: JIKA ADA UANG JADI GAMPANG
64
BAB 61: PENGUSAHA HEBAT
65
BAB 62: PENGUSAHA GAGAL
66
BAB 63: JADI DOKTER
67
BAB 64: WANITA PELENGKAP
68
BAB 65: DEMO
69
BAB 66: NENEK SAKIT
70
BAB 67: KEHILANGAN ORANG-ORANG TERCINTA
71
BAB 68: SEMUA MENUNGGU
72
BAB 69: PENSIUNAN MENYUSAHKAN
73
BAB 70: TETAP MERASA HEBAT
74
BAB 71: MEMBAGI WARISAN
75
BAB 72: MENUNTUT LEBIH
76
BAB 73: SERANGAN JANTUNG
77
BAB 74: DOKTER SOMBONG
78
BAB 75: BAYANG HITAM
79
BAB 76: TUAN JONO MENINGGAL
80
BAB 77: LEBARAN KELABU
81
BAB 78: ORANG-ORANG SERAKAH
82
BAB 79: IKHLAS
83
BAB 80: INNA MA'AL USRI YUSRA
84
BAB 81: WARISAN TERKUTUK
85
BAB 82: KATA-KATA MENYAKITKAN
86
BAB 83: PENJAGA ITU TERNYATA ADA
87
BAB 84: TEROR PERTAMA
88
BAB 85: SIAPA YANG TIDAK PERCAYA HANTU?
89
BAB 86: TEROR KEDUA
90
BAB 87: PERINGATAN DOSA
91
BAB 88: PENANTANG SETAN
92
BAB 89: JANGAN GEGABAH
93
BAB 90: BANASPATI
94
BAB 91: DUKUN SAKTI
95
BAB 92: TAK PERNAH JERA
96
BAB 93: KEHILANGAN KAKI
97
BAB 94: MENANTANG SETAN
98
BAB 95: KEMARAHAN ISTRI
99
BAB 96: ANCAMAN ULAR
100
BAB 97: TATO KULIT ULAR
101
BAB 98: IKATAN NAGA GINI

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!