Akhirnya, pembantu rumah tangga yang diharapkan oleh Jono, datang juga. Pagi itu, saat Tuan Jono sampai di kantornya, Bu Yuli langsung menemuinya bersama dengan seorang anak perempuan, remaja kecil, kira-kira masih berumur dua belas tahun.
"Mas Jono, ini anaknya yang mau jadi pembantu di rumah Mas Jono. Sana, diantar pulang dahulu."
"Alhamdulillah. Terima kasih, Bu Yuli. Kok kelihatannya masih kecil, ya." sahut Jono yang tentunya senang sudah mendapat pembantu rumah tangga.
"Iya. Yang mau jadi pembantu ya yang masih kecil, yang legan, yang belum punya tanggungan. Nanti besar sedikit, ya langsung jadi manten. Jadi, ndak mungkin bekerja, karena langsung mengurus suaminya, mengurus keluarganya, mengurus rumah tangganya sendiri. Ini lumayan, lho. meski kelihatan kecil begitu katanya sudah pernah sekolah, meski hanya sebentar. Dan kalau besaran dikit, nanti istrimu cemburu. Yang penting bisa mencuci, bisa menyapu, bisa memasak." kata Bu Yuli yang menjelaskan pada Jono. Memang, kala itu yang namanya sekolah bagi anak-anak kampung itu dirasa tidak penting. Apalagi untuk anak perempuan, yang penting bisa mencuci, menyambal dan memasak.
"Ya, sudah, Bu Yuli. Terima kasih. Saya antar anak ini ke rumah dahulu. Semoga istriku cocok." kata Jono yang langsung mengajak perempuan cilik yang akan jadi pembantunya itu pulang ke rumahnya. Tentunya jalan kaki. Lumayan jauh.
"Ya, ya. Hati-hati." kata Bu Yuli.
"Ada apa, Bu Yuli?" tanya seorang laki-laki setengah baya, temannya yang baru saja datang ke kantor.
"Itu, Mas Jono minta dicarikan pembantu rumah tangga." jawab Bu Yuli yang masih memandangi Jono yang pulang bersama pembantunya.
"Pembantu rumah tangga? Jono mau punya pembantu rumah tangga?" laki-laki itu setengah keheranan.
"Iya. Memangnya, gak boleh? Istrinya yang minta ada pembantu di rumahnya." sahut Bu Yuli.
"Boleh boleh saja. Tetapi, orang itu kan mestinya bercermin. Kalau dia bawa pembantu, terus istrinya disuruh ngapain?! Istrinya mau disuruh dandan saja, pupuran tiap saat?! Mestinya Ciblek itu tahu diri." kata laki-laki itu.
"Lhoh, memang kenapa?" tanya Bu Yuli.
"Yah. Saya kan tetangga satu kampung dengan istrinya Jono. Saya tahu presis siapa istrinya Jono itu. Ciblek itu anak dari keluarga tidak mampu. Kehidupan orang tuanya sangat memprihatinkan. Jangankan untuk menyekolahkan anak-anaknya, untuk makan sehari-hari saja itu mereka kekurangan. Kalau Bu Yuli tahu rumahnya, pasti akan mengelus dada. Makanya, dulu sebenarnya orang tua Jono tidak setuju. Tetapi Jono ngambek, pokoknya hidup mati harus dapat Ciblek." kata lelaki itu yang menceritakan kondisi keluarga Ciblek.
"Ooo, seperti itu?" gumam Bu Yuli yang tentunya keheranan.
"Makanya, sebenarnya istrinya Jono itu juga tidak sekolah. Hanya dapat cantiknya saja. Kulitnya putih mulus. Tapi kalau kepribadiannya, sebenarnya. Ah, kok malah ngomongin keburukan orang. Sudah, Bu Yuli. Saya masuk duluan." kata laki-laki itu yang menghentikan ceritanya, dan meninggalkan rekannya, masuk ke ruangan kantor kecamatan.
"Ee, Pak! Bagamana kelanjutannya?!" Bu Yuli yang penasaran ingin tahu, langsung ikut masuk mengejar laki-laki itu.
-------
Di Kampung Pademangan
Jono berjalan bersama anak perempuan, yang sudah terlihat lumayan besar. Tidak kurus, tetapi juga tidak gemuk. Usia kira-kira dua belas tahun. Namanya Siti. Bagi orang desa, anak perempuan sebesar itu sudah layak bekerja. Bahkan sudah harus membantu pekerjaan-pekerjaan orang tuanya. Paling tidak ikut membantu bercocok tanam atau menghalau burung di sawah. Minimal harus sudah bisa membikin sambal.
Dan memang, Siti ini sudah sangat terampil mengerjakan pekerjaan rumah tangga, khususnya pekerjaan dapur. Kala itu, anak perempuan seumuran Siti, sudah banyak yang menikah. Apalagi kalau perempuan itu anaknya orang berada atau orang kaya, pasti sudah banyak yang melamarnya. Makanya di kampung, kala itu banyak anak putus sekolah, banyak anak tidak berpendidikan, terutama yang perempuan, karena sudah dinikahkan oleh orang tuanya. Perempuan itu hanya sebagai pelengkap dalam berumah tangga. Tidak perlu berpendidikan, yang penting bisa memasak. Ada jargonnya, wanita itu ma lima, yaitu omah-omah (menikah), masak, macak (berdandan), manak (melahirkan anak), manut (menurut pada suaminya) .
Seperti halnya perempuan-perempuan teman-temannya Siti, yang belum dilamar orang, atau belum menikah, daripada menganggur di rumah, mereka bekerja menjadi pembantu rumah tangga di kota. Setidaknya mereka bisa mendapatkan uang.
Demikian halnya dengan anak laki-laki. Anak-anak yang menginjak remaja, yang tidak bersekolah, biasanya mereka ikut bekerja di tempat orang. Misalnya saja ada yang jadi pencari rumput untuk makan ternak, ada yang menunggui padi menghalau burung, bahkan juga ikut mencangkul di ladang maupun sawah. Setidaknya upah dari kerjanya itu bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup, membeli barang-barang kebutuhan rumah tangga. Malah ada juga yang orangnya rajin, sehingga hasil upah kerjanya bisa digunakan untuk membeli tanah. Sehingga pepatah yang berbunyi "rajin dan berhemat pangkal kaya" adalah benar adanya. Memang, kalau seseorang pengin kaya, maka ia harus rajin, harus mau bekerja keras, dan berhemat membelanjakan penghasilannya.
Maka, seperti orang tua lainnya di kampung, orang tua Siti pun tentunya tidak akan keberatan kalau anaknya akan bekerja di daerah lain, walau hanya sekedar menjadi pembantu rumah tangga. Yang penting anaknya bisa mendapatkan uang untuk membantu kebutuhan orang tuanya. Dan kini, saat temannya pulang, akan mengajaknya untuk bekerja, Siti pun langsung berangkat. Itulah calon pembantu rumah tangga Jono, gadis remaja yang masih hijau, merantau di tempat jauh, demi untuk mendapatkan uang.
"Istriku sayang, Ciblek! Mas Jono pulang!" teriak Tuan Jono yang baru saja sampai di rumah, memanggil istrinya untuk memberi kabar terbaiknya.
Serta merta istrinya membuka pintu kamar, keluar dari kamarnya, dan langsung menuju pintu luar rumah, untuk menemui suaminya yang sudah memanggil dengan suara keras.
"Iya, Mas Jono. Ada apa?" sahut Ciblek yang langsung keluar.
"Ini. Saya sudah bawa anak, yang mau jadi pembantu rumah tangga di tempat kita. Namanya Siti, dari kabupaten timur." kata Jono sambil menunjukkan Siti, yang diajaknya.
"Wah, ya. Ya, Mas. Nama kamu, Siti?" kata Ciblek yang langsung menanyai nama anak itu.
"Iya, Bu." jawab Siti sambil menundukkan kepalanya serta dengan tangan yang digenggam pada bagian bawah perutnya, sebagai tanda hormat. Seorang pembantu harus tunduk dihadapan majikannya.
"Kamu mau, jadi babu di sini?" tanya Ciblek lagi, yang menyebut kata "babu" untuk seorang pembantu rumah tangga.
Tentunya Jono agak tidak nyaman mendengar kata-kata tersebut. Apalagi langsung ditujukan kepada anak yang bersangkutan. Tetapi mau apa lagi, memang istrinya mulutnya kasar. Padahal kalau misalnya ditelisik, belum tentu keluarganya Siti itu lebih miskin dari keluarga mertuanya. Bisa jadi keluarga Siti ini lebih mampu dan lebih berada. Hanya karena dari kampung pelosok saja, dan karena butuh pekerjaaan, maka ia mau menjadi pembantu.
Namun bagi Siti sendiri, sebenarnya tidak mempermasalahkan dengan kata "babu" karena memang di kampungnya, rata-rata teman-temannya juga bekerja sebagai pembantu rumah tangga, dan pastinya sudah biasa dengan panggilan yang menggunakan kata sangat rendah tersebut. Tidak masalah mau disebut apa saja. Yang penting bekerja dapat uang.
"Iya, Bu." jawab Siti yang tetap masih menundukkan kepalanya.
"Kamu bisa masak?" tanya Ciblek kembali.
"Bisa, Bu." jawab bocah yang akan jadi pembantunya itu.
"Bisa mencuci?" tanya Ciblek lagi, yang seakan sedang mengadakan wawancara penerimaan pegawai.
"Bisa, Bu." Siti menjawab dengan tenang, meski sebenarnya agak takut. Maklum, baru kali ini ia akan bekerja di tempat orang lain. Apalagi sebagai pembantu rumah tangga, yang harus menurut pada majikannya.
"Bisa menyapu?" tanya Ciblek lagi, yang terus ingin tahu kebisaan anak itu.
"Bisa, Bu." jawab Siti kembali.
"Nah, kalau kamu bisa menyapu, sekarang ambil sapu, terus kamu bersihkan rumah, dari dalam, terus ke dapur, sampai seluruh halaman rumah. Cepat, ya." kata Ciblek yang langsung memerintah pembantunya untuk menyapu.
"Iya, Bu, saya laksanakan." jawab Siti yang langsung tengak-tengok, pastinya mencari sapu lidi.
"Sapunya di mana ya, Bu?" tanya Siti setelah beberapa saat tidak menemukan sapu.
"Cari sendiri." jawab Ciblek ketus. Padahal sebenarnya perempuan yang layaknya sebagai istri seorang pemilik rumah itu tidak tahu di mana tempat sapu berada. Karena memang dirinya tidak pernah menyapu di rumah mertuanya tersebut.
"Di dapur, Siti. Di pojok dapur. Sini, saya tunjukkan. Ini dapurnya, tempat masak. Itu perkakas-perkakasnya. Dan itu tempat mencuci piring dan peralatan masak. Nanti kalau Mamak sudah pulang, kamu bantu Mamak. Itu yang di pojok sana, sapunya. Kamu menyapu dahulu, bersihkan semua, ya. Nanti kotorannya ditaruh di pojok pekarangan sana, biar nanti sore dibakar sama Kakek." kata Jono yang menunjukkan pekerjaannya kepada Siti.
Sedangkan istrinya, Ciblek, sudah kembali masuk kamar. Dasar perempuan pemalas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments