Setelah peristiwa malam itu, saat Tuan Jono menyampaikan permintaan istrinya untuk dibuatkan rumah sendiri, berhari-hari Nenek Kosen diam. Di rumah tidak pernah bicara. Apalagi dengan anaknya. Bahkan terlihat seperti orang yang sedang sakit. Boleh dikata Nenek Kosen tampak murung, seperti kurang sehat. Tidak seperti biasanya yang cekatan dan gesit dalam bekerja. Tapi belakangan ini, Nenek Kosen nampak kurang bersemangat. Seakan berubah jadi pendiam. Sering melamun dan murung. Bahkan sudah dua hari Nenek Kosen juga tidak beraktivitas di dapur. Tidak seperti biasanya yang selalu bangun pagi untuk memasak dan menyiapkan makanan untuk keluarganya. Pokoknya terlihat aneh, beda dengan hari-hari sebelumnya.
Itu semua terjadi gara-gara Jono, anak bungsunya yang mengatakan ingin meminta dibuatkan rumah sendiri. Sejak malam itulah, sejak Jono meminta rumah sendiri kepada orang tuanya, Nenek Kosen sudah tidak lagi semangat dalam hidupnya. Nenek Kosen terlihat malas untuk bekerja. Bahkan beberapa hari ia tidak pergi ke pasar. Barang-barang dagangan yang sudah diambilkan oleh anak-anak tukang penggembala ternaknya, terpaksa hanya ditimbun, diletakkan begitu saja di sudut ruangan dapur. Seperti halnya nangka, kelapa, bahkan singkong yang sudah dicabut dari pekarangan, tergeletak begitu saja tidak disentuh oleh Nenek Kosen. Jadinya membusuk sia-sia.
Tidak hanya Nenek Kosen, begitu juga dengan suaminya, Kakek Yan. Pekarangan rumahnya, halaman rumah, jalan depan rumah, yang sudah dua hari tidak disapu oleh Kakek Yan. Sehingga tempat tersebut terlihat kotor dengan daun-daun kering yang berserakan. Tidak seperti biasanya yang dilakukan setiap hari oleh Kakek Yan, yang selalu menyapu membersihkan halaman setiap sore, lantas daun-daun kering itu biasanya dibakar di pojok sudut pekarangan. Katanya untuk pupuk organik. Tapi kali ini benar-benar berubah.
Ya, Kakek Yan maupun Nenek Kosen memang sedang sedih. Mereka sedang jengkel dengan anak dan menantunya. Dan yang lebih membingungkan lagi, sebenarnya mereka memikirkan jalan keluar, bagaimana agar anak dan menantunya itu bisa hidup tentram dan nyaman. Tentunya mencari solusi caranya untuk membuatkan rumah anaknya. Karena anaknya menuntut untuk dibuatkan rumah sendiri, atas permintaan istrinya. Padahal harapan orang tuanya, anak dan menantunya itu, Jono dan istrinya, bisa dijadikan tempat pengayoman saat orang tuanya sudah tua. Jono dan Ciblek bisa merawat orang tuanya saat nanti kedua orang tuanya itu sudah tidak bisa apa-apa.
Memang sebenarnya ada benarnya juga, seperti yang dikatakan oleh anaknya, si Jono yang ingin berpisah dari orang tuanya. Pastinya agar mereka, Jono dan Ciblek, dapat hidup tentram nyaman tanpa ada campur tangan dari kedua orang tuanya. Istrinya tidak ingin dimarahi oleh mertuanya. Tidak disuruh-suruh dan tidak disindir-sindir. Mereka berdua bisa melakukan apa saja sesuai dengan kemauannya, tanpa ada yang mengharu biru. Dan tentunya mereka akan mengurus rumahnya sendiri sesuai dengan keinginan dan kehendaknya. Tidak ada orang lain yang mengaturnya.
Tetapi yang namanya membuat rumah, mendirikan rumah, bukanlah hal yang gampang. Membangun rumah itu bukan hal yang bisa dilaksanakan dalam waktu cepat. Setidaknya walaupun Kakek Yan ini tergolong orang kaya, tetapi untuk mendirikan rumah harus menyiapkan bahan-bahannya lebih dulu, harus menyiapkan tempat yang akan didirikan rumah lebih dahulu, dan tentunya juga harus mempunyai uang yang cukup untuk membelanjakan berbagai macam material kebutuhan dalam mendirikan sebuah rumah. Misalnya saja harus menyiapkan dan membeli kayu-kayu dan genteng serta berbagai kebutuhan lainnya.
Namun setelah dipikir, setelah direnungkan dan setelah dibicarakan antara Kakek Yan dan Nenek Kosen, memang sebaiknya mereka berdua yang sudah tua itu mengalah pada anaknya. Memberi kesempatan kepada anaknya untuk belajar mandiri. Memberi kesempatan kepada anak dan menantunya untuk mengatur rumah tangganya sendiri. Memberi kesempatan kepada anak dan menantunya untuk menentukan keuangan dan belanja keluarganya tanpa diatur oleh orang tuanya. Apalagi mendengar kata-kata besannya yang disampaikan oleh Jono, yang seolah menantang Kakek Yan, kalau memang orang kaya kenapa tidak sanggup membuatkan rumah untuk anaknya. Panas hati Kakek Yan.
Padahal sebelumnya, dua orang tua itu, Kakek Yan dan Nenek Kosen, tentunya akan memberikan semua warisan yang saat ini ditempati bersama dengan anaknya. Rumah dan seluruh tanahnya mestinya akan diberikan kepada Jono sebagai anak bungsunya. Namun tentunya dua orang itu ingin ikut tinggal bersama mereka sampai sisa usianya.
Tetapi kenyataan, Jono sudah mengatakan ingin meminta dibuatkan rumah sendiri. Tentunya Kakek Yan juga prihatin memikirkan permintaan anaknya itu. Itu artinya Kakek Yan akan kembali memecah warisan, yaitu rumah dan tanah yang akan ditempati oleh Jono dan rumah yang ditempati Kakek Yan bersama Nenek Kosen. Seperti halnya, dulu ketika anaknya yang pertama, Ani dan suaminya, Pak Amin, sudah dibuatkan rumah sendiri, Itu artinya rumah dan tanah yang ditempati Ani menjadi warisan miliknya.
Pastinya Jono juga iri dengan rumah untuk kakak perempuannya itu, yang dilihat kakaknya bisa bebas mengatur rumah tangganya sendiri. Dan kini, Jono meminta dibuatkan rumah, walau oleh orang tuanya jelas-jelas akan diberi rumah yang ditempatinya saat ini.
Kakek Yan pun mulai berpikir, memang sebaiknya hidupnya harus berpisah dengan anak dan menantunya itu. Apalagi menantunya yang tidak bisa diajak tinggal bersama dengan mertuanya itu, sudah seharusnya untuk memisahkan diri dengan menantunya tersebut. Apalagi Nenek Kosen, yang sudah kesal dengan tingkal laku menantunya itu. Tentu lebih baik berpisah, tidak tinggal bersamanya. Kasihan Nenek Kosen yang selalu bersungut-sungut menahan kejengkelan terhadap menantunya yang tidak mau membantu apa-apa.
Lain lagi dengan Jono. Sebagai anak kesayangan Kakek Yan dan Nenek Kosen, melihat bapak dan ibunya tidak mau bicara, terlihat murung, sedih, dan seakan tidak sehat, Jono merasa bersalah. Ia merasa yang menyebabkan semua itu. Walau sebenarnya semua itu bersumber dari Ciblek. Ada rasa berdosa yang amat besar dalam diri Jono.
"Kakek, mestinya kita yang mengalah saja. Saya kasihan juga dengan Jono. Mungkin mereka juga iri dengan Ani yang sudah hidup dan tinggal di rumah sendiri, yang dilihatnya mungkin lebih enak. Mereka iri karena kita sudah membangunkan rumah untuk Ani, mungkin Jono juga kepingin hidup dengan istrinya tidak tinggal bersama orang tuanya. Seperti saat ini, kita masih ada di dalam keluarganya, sehingga dia tidak mau belajar untuk mandiri. Coba Kakek lihat. Dari pagi sampai malam, semua pekerjaan siapa yang melakukan? Semua masih saja dibiarkan, mamaknya yang bekerja sendirian. Saya juga sudah capek, Kek." kata Nenek Kosen kepada Kakek Yan, saat malam hari, mereka makan di pinggir kandang kerbau. Sengaja Nenek Kosen tidak memasakkan anaknya. Hatinya masih jengkel. Ia tidak mau tahu anak dan menantunya makan apa. Yang jelas lemari makanan kosong. Kalau Jono dan Ciblek mau makan, biar masak sendiri atau beli di warung makan.
"Iya, betul juga katamu, Nek. Mungkin memang seharusnya kita tidak jadi satu rumah dengan Jono maupun istrinya. Biar Jono belajar arti hidup yang sebenarnya. Biar mereka belajar membangun rumah tangga yang sesungguhnya. Setidaknya, biar dia tahu bahwa hidup itu tidak gampang. Termasuk istrinya. Biar dia bisa masak, bisa cuci piring, dan juga bisa menghitung berapa uang yang harus dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan belanja rumah tangganya." kata Kakek Yan pada Nenek Kosen, sambil menikmati makan di dekat kandang, sambil mengamati penggembala ternaknya.
"Betul, Kek. Tapi terus terang, uang saya sudah habis. Membuat rumah itu kan butuh biaya. Saya juga malu kalau nanti kita membuat rumah untuk Jono, rumahnya kurang bagus. Bisa diomong orang." tambah Nenek Kosen yang memberi gambaran bagaimana keadaan uangnya kalau mereka harus mendirikan rumah untuk anaknya. Maklum, uang mereka baru saja digunakan untuk pesta menikahkan Jono. Bahkan pesta dua kali, yaitu di tempat Ciblek yang semua biayanya ditanggung oleh Kakek Yan, dan saat ngunduh mantu.
"Iya. Tetapi mau berapa lama kita seperti ini. Selalu jengkel. Selalu marah-marah. Selalu emosi. Nanti tekanan darah kita bisa tinggi. Apalagi saya juga tidak tega melihat Jono yang selalu dimarahi istrinya, dituntut istrinya, bahkan mertuanya juga ikut campur menuntut macam-macam. Ini tidak baik. Apalagi ka;au sampai didengar tetangga, malah tambah semakin buruk." begitu kata Kakek Yan yang tentunya juga prihatin menyaksikan kehidupan keluarga anaknya. Rumah tangga baru yang belum mapan.
"Yah, bagamana Kek? Saya juga tidak bisa berpikir." timpal Nenek Kosen.
Pagi harinya, sepeninggal Nenek Kosen pergi ke pasar, akhirnya Kakek Yan mulai mengangkat cangkul untuk membuat baturan, yaitu tanah sebagai tempat yang akan digunakan untuk membangun rumah. Seperti biasanya, orang kampung kalau akan mendirikan sebuah rumah, selalu diawali dengan menata tempat yang didirikan rumah. Bangunan rumahnya dari kayu, sehingga tidak perlu membuat pondasi. Tanah yang sudah ditata dan diratakan itu dinamakan baturan.
Kakek Yan sudah mulai menata tanah pekarangan miliknya, yang ada di belakang rumah yang ditempati, berada dekat kandang kerbau. Kakek Yan mulai membuat patok dengan potongan bambu. Kemudian menarik tali tambang yang diikatkan pada patok-patok itu. Setelah ditarik tambang, terlihat tempat itu berbentuk kotak persagi. Ya, itulah rencana tempat akan didirikan rumah.
Kemudian setelah terlihat petak tanah berbentuk persagi itu, Kakek Yan mulai menebangi pohon-pohon yang ada dalamtanah calon tempat rumah itu. Untung di situ hanya ada beberapa pohon yang masih kecil. Hanya ada pohon jeruk dan jambu. Tidak terlalu besar sehingga mudah untuk ditebang. Sedangkan tanaman lainnya hanyalah empon-empon, seperti kunir dan laos. Sehingga sangat mudah untuk dibersihkan.
Setelah itu, Kakek Yan mulai meninggikan tanah yang sudah ditata itu, diratakan dan dihaluskan. Kemudian Kakek Yan juga mengangkat batu-batu yang lumayan besar untuk ditempatkan pada tanah yang sudah rata, batuan itu adalah calon tempat menaruh tiang-tiang rumah yang akan didirikan. Zaman itu, membangun rumah tidak menggunakan tembok, tetapi masih dari kayu. Tiang-tiangnya semua dari kayu. Pagarnya juga dari bilah-bilah papan yang terbuat dari kayu. Hanya genteng saja yang tidak dari kayu.
Kakek Yan terus bekerja dari pagi hingga sore. Bahkan sering juga dibantu oleh para penggembala ternak, kalau mereka senggang dan sudah pulang membawa ternak-ternak piaraannya. Ada dua orang pangon yang turut membantu pekerjaan Kakek Yan ditambah dua orang penggembala yang bekerja di tetangga. Dan pastinya, mereka tahu kalau Kakek Yan akan mendirikan rumah lagi. Setidaknya, empat anak itu nanti bisa tinggal dengan nyaman. Karena tanpa diketahui oleh Kakek Yan maupun Nenek Kosen, sebenarnya empat anak itu pun telinganya juga risih mendengar kata-kata bentakan atau marahan dari Ciblek yang memang kurang beradab tersebut.
"Mau membangun rumah ya, Kek?" tanya salah seorang penggembala ternak yang ikut bersamanya dan membantu Kakek Yan yang sedang menata tanahnya.
"Ya." jawab Kakek Yan singkat dan terus saja mengayunkan cangkulnya menguruk tempat yang ditata.
"Yang di sini nanti, untuk Kakek apa untuk Tuan Jono?" tanya anak penggembala ternak yang lainnya, yang juga sudah membantu Kakek Yan meratakan tanah tempat mendirikan rumah.
"Belum tahu. Saya juga belum punya uang. Kayu-kayu dan papan-papan juga belum punya. Besok kalau sudah ada rezeki. Yang penting tempatnya siap dulu." jawab Kakek Yan pada para penggembala yang membantunya itu.
"Sebaiknya yang sini untuk Kakek Yan saja. Nanti saya ikut tidurnya di sini sama Kakek." sahut yang lainnya.
"Kalau memang belum ada kayunya ..., itu rumah gandok yang di belakang itu, ditaruh di sini saja, Kek. Itu kan jarang dimanfaatkan. Dan rumah gandok itu bagus, Kek. Saya senang ikut tidur di sini. Bisa jadi lebih nyaman dan asyik, Kek. Setidaknya dekat dengan kandang, sambil mengamati kerbau maupun sapi-sapi Kakek." papar salah seorang pangon.
Kakek Yan terdiam sejenak. Ia mulai berpikir, rupa-rupanya memang benar apa yang dikatakan oleh para penggembala ternak itu, yang sudah lebih dari dua tahun ikut bersamanya, bahkan sudah dianggap seperti anaknya sendiri. Dan rupanya Kakek Yan pun sangat setuju dengan usulan bocah itu. Setidaknya untuk lebih cepat bisa memindahkan rumah yang ada di belakang. Atau mungkin juga dapur yang biasa dipakai masak dan menyimpan hasil bumi, juga bisa dipindahkan. Atau paling tidak, kandang kambing yang berada di samping dapur, bisa diperbaiki kayunya, bisa dimanfaatkan semua. Sehingga tidak butuh waktu yang lama dan tidak butuh biaya yang besar. Hanya memindahkan saja, maka rumah itu akan segera jadi. Toh nanti untuk memindahkan dengan kerja bakti, hanya mengasih makan orang-orang yang membantu. Sehingga tidak butuh banyak biaya.
Ya, akhirnya Kakek Yan mengambil keputusan untuk memindah salah satu gandok rumah, yaitu bangunan tambahan yang ada di belakang bangunan rumah utama, untuk dijadikan rumah yang sekarang sedang dibangun tempatnya tersebut. Toh gandok rumah itu saat ini hanya untuk tempat tidur Kakek Yan bersama Nenek Kosen. Jadi kalau dipindah, itu artinya hanya memindah tempat tidur saja.
Malam hari, setelah berembuk dengan istrinya, yaitu Nenek Kosen, ternyata setuju. Dan istrinya juga senang seperti yang diusulkan oleh anak-anak penggembala itu, kalau Kakek Yan akan mengajak mereka ikut tinggal di tempat yang sedang dipersiapkan. Rencana memindahkan gandok belakang untuk dijadikan rumah baru, langsung dipersiapkan dengan cepat. Setelah mencari hari baik berdasarkan hitungan adat Jawa, Kakek Yan langsung mendatangi para tetangga untuk diminta gotong royong memindah rumah. Tentu warga Kampung Pademangan yang masih sangat kental dengan tradisi tgotong royong, tolong menolong, bantu membantu, tentu langsung siap.
Dan tentunya para penggembala juga ikut membantu. Kalau rumah Kakek Yan yang dipindah itu cepat selesai, mereka akan tinggal di sana bersama para penggembala ternak yang merasa senang kalau bisa tidur bersama-sama.
Sesuai dengan hari yang sudah dihitung untuk memindah rumah, para tetangga bergotong royong membantu Kakek Yan, memindah rumah. Hampir warga satu kampung berdatangan ikut menggotong rumah. Makanya dalam waktu yang tidak begitu lama, rumah gandok yang dipindah pun langsung jadi. Rumah yang berdiri kokoh sebagai tempat tinggal Kakek Yan dan Nenek Kosen yang baru, yang tentunya akan lebih nyaman dan menyenangkan. Walau hanya bekas gandok, meski tidak terlalu besar, tetapi setidaknya sudah berpisah dengan anak dan menantunya yang minta tinggal sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments