Perempuan yang menjadi istri dari Tuan Jono itu bernama Ciblek. Ya, memang Ciblek itu wanita yang cantik. Walau perawakannya kecil, tetapi kulitnya putih. Boleh dikatakan Ciblek itu kembang desa kala itu. Namun ia merupakan anak gadis dari keluarga yang kurang mampu, bahkan boleh dikatakan keluarga tidak berada. Orang tuanya miskin. Bahkan rumahnya boleh dibilang lebih jelek dari kandang kerbaunya Kakek Yan. Tetapi bagi Tuan Jono yang masih muda dengan darah mudanya, ia tetap menentukan pilihannya kepada Ciblek. Memang cinta tidaklah memandang harta. Bahkan boleh dibilang cinta itu sangat dipengaruhi oleh mata. Maka wajar kalau Tuan Jono tergila-gila dengan paras cantik Ciblek.
Bahkan sebenarnya, Nenek Kosen, ibu dari Tuan Jono, tidak setuju anak laki-lakinya itu meminta ingin menikah dengan gadis pilihannya itu, yaitu Ciblek. Ya, tentu karena derajad kekayaannya yang jauh dibawah harapannya itu. Tetapi Tuan Jono yang memang saat itu sudah saatnya menggebu ingin menikah, terus merengek pada ibunya. Pokoknya harus dinikahkan dengan Ciblek.
Tentu Nenek Kosen kecewa. Sudah disarankan oleh ibunya untuk menikah dengan perempuan lain, yang tentu menurut pandangan orang tuanya lebih baik, tetapi kata-kata ibunya itu tidak digubris. Memang kala itu, orang tua yang akan menikahkan anaknya, masih punya pandangan tentang "bibit, bebet, bobot", yaitu melihat asal-usul keturunan, status sosialnya, serta harta kekayaan dan kepribadian calon menantunya. Ya, tentunya orang-orang jaman itu akan memilih menantu itu dengan cara menilai dari tiga hal tersebut. Yaitu bagamana asal muasal bibit keturunan atau silsilah keluarganya, apakah ia berasal dari orang tua yang baik-baik, atau ada renteten saudara-saudaranya yang kurang baik. Termasuk kalau sekiranya dari silsilah keluarganya itu ada yang mengidap penyakit aneh atau bahkan ada yang gila. Pasti silsilah ini akan digunakan untuk menelusur data keturunan dari seseorang yang akan diterima sebagai calon menantunya.
Sedangkan makna dari bebet adalah melihat calon menantu yang ditinjau dari status sosialnya, melihat kondisi kehidupan kesehariannya. Misalnya siapa saja teman pergaulannya, dan bagaimana pergaulan yang diikutinya di lingkungan dalam keseharian. Apakah temannya itu orang baik-baik, atau ia bergaul dengan orang yang kurang baik. Dengan mempertimbangkan bebet, maka akan diketahui apakah calon menantunya tersebut merupakan orang baik-baik atau memiliki latar belakang pergaulan yang buruk. Karena hal itu nantinya akan berpengaruh dalam keluarganya, termasuk dalam mendidik anak-anaknya kelak. Karena ada pepatah "buah jatuh tak jauh dari pohonnya", yang dapat diartikan kalau anak-anak itu tabiatnya, watak dan perilakunya tak jauh berbeda dengan orang tuanya.
Kalau bobot lebih mengarah pada harta kekayaan yang dimiliki oleh keluarganya. Yaitu cara melihat seseorang yang ditinjau melalui materi atau segi keduniawian lainnya. Salah satunya dengan melihat apakah calon istri yang dipilih berasal dari keluarga kaya atau miskin, memiliki pangkat atau tidak, dari keluarga berpendidikan tinggi atau rendah, hingga melihat kecantikan paras.
Memang, dari segi bibit, bebet dan bobot, Ciblek, perempuan yang dinikahi oleh Tuan Jono itu sangat jauh dari harapan orang tuanya. Oleh sebab itulah maka sangat wajar kalau Nenek Kosen berkali-kali menangis saat anak bungsunya itu meminta untuk dinikahkan dengan Ciblek. Ia tidak setuju. Ya, walau Ciblek itu memiliki paras yang cantik, tetapi dari segi yang lainnya, ia sangat jauh dari yang diharapkan. Adanya hanya kekurangan yang dimiliki oleh keluarga Ciblek. Tidak sekedar dari ukuran harta benda yang kurang, tetapi juga dari segi pendidikan serta lingkungan sosialnya yang kurang baik. Bahkan keluarganya betul-betul sangat memprihatinkan.
Padahal sebelumnya, Nenek Kosen sudah menyodorkan beberapa nama gadis kepada anak laki-lakinya itu, yang tentunya dari pertimbangan bibit, bebet dan bobot, jauh lebih baik dari pada perempuan yang menjadi pilihan anaknya itu. Setidaknya, orang tuanya ingin memberikan jodoh terbaik untuk anaknya. Misalnya saja gadis anak Pak Lurah, yang konon lebih cantik dan berpendidikan tinggi. Dan jika ditelusur, Neng Aya, anak Pak Lurah itu, secara silsilah keturunan berasal dari orang berada dan baik-baik semua.
Tetapi Tuan Jono beralasan, kalau Neng Aya itu masih saudara. Katanya kalau menikah dengan saudara, nanti anaknya bisa cacat. Memang, keluarga Neng Aya, orang tuanya yang jadi lurah itu masih saudara dengan Kakek Yan. Walau sebenarnya sudah sangat jauh ikatan darah kekeluargaannya. Namun secara garis keturunan, dari silsilah keluarga Kakek Yan dan orang tua Neng Aya, masih masuk dalam lingkaran garis tujuh turunan.
Tetapi saat disodorkan perempuan lain, yang benar-benar tidak ada hubungan kerabat kekeluargaan, seperti gadis bernama Sri, anak orang kaya yang tanahnya sangat luas, tetap saja Tuan Jono muda saat itu menolak, dan kukuh pada pendiriannya yang tetap memilih Ciblek. Katanya, cinta tidak bisa dipaksa-paksakan.
Apa boleh dikata, jika anaknya memaksa meminta, orang tua hanya bisa pasrah. Jika orang tua tidak mau menuruti kemauan anaknya, ancaman Tuan Jono mau minggat, tidak mau pulang ke rumah. Dan itu terbukti, saat malam berikutnya ternyata Tuan Jono yang masih berdarah muda, benar-benar tidak pulang rumah beberapa hari. Pasti hal itu membuat Nenek Kosen jadi sedih dan terus-terusan menangis karena anak kesayangannya tidak pulang rumah.
Itulah, akhirnya Kakek Yan dan Nenek Kosen melamarkan dan menikahkan anaknya dengan perempuan yang sebenarnya dari segi bibit, bebet dan bobot memang kurang disetujui. Namun untuk menepis itu semua, keluarga Kakek Yan merayakan acara pernikahan anaknya itu secara besar-besaran. Dan itu semua, segala urusan dan kebutuhan pesta pernikahan yang dilakukan oleh besannya, yaitu keluarga Ciblek, semua ditanggung oleh pihak Kakek Yan. Pesta pernikahan pun berlangsung sangat meriah.
Seperti adat yang berlaku saat itu, beberapa hari setelah menikah, Tuan Jono masih berada dan tinggal di rumah keluarga mempelai wanita. Memang adatnya seperti itu. Pengantin yang baru saja menikah tidak boleh keluar rumah sebelum genap sepasar lamanya saat pernikahan, yaitu lima hari. Jika pengantin baru keluar rumah, itu melanggar adat. Pamali. Tidak boleh. Dikhawatirkan akan terjadi petaka yang tidak dikehendaki oleh semua orang. Dan tentunya, Tuan Jono dan Ciblek, sebagai pengantin baru, tidak berani menentang aturan adat istiadat seperti itu.
Nenek Kosen pastinya sangat sedih. Nenek Kosen sangat mengkhawatirkan keadaan anaknya. Bagamana nanti tidur anaknya di rumah mertuanya. Meski saat pernikahan, sudah dibawakan tempat tidur. Namun bagi wanita yang biasa memanjakan anak laki-lakinya itu, tetap saja kepikiran dan tidak tega melihat anaknya tinggal di rumah yang sangat tidak layak untuk ditinggali sebagai rumah hunian bagi anaknya. Belum lagi memikirkan makanan apa yang akan dimakan oleh anaknya? Apakah bisa makan? Apakah masakannya enak? Ada lauknya apa tidak? Yah, maklum saja. Bayangan Nenek Kosen adalah kondisi setiap hari di rumahnya, yang ia bandingkan dengan keadaan rumah besannya yang jelas-jelas sangat jauh berbeda. Ibarat kata, keluarga dari kasta teratas mendapatkan orang dari kasta terbawah. Maka tidak heran kalau Nenek Kosen terus-terusan menangis, bersedih meratapi nasib anak kesayangannya.
Hingga akhirnya, tiba waktu yang dihitung oleh para tetua adat. Hari yang tepat untuk perhitungan untung rugi, baik buruk berdasarkan adat. Hari yang dinyatakan baik untuk melaksanakan pesta mantu. Kakek Yan ngunduh mantu. Keluarga Kakek Yan memboyong pengantin yang sudah genap hitungan harinya, dipestakan di rumah Kakek Yan. Ya, sebutan orang jawa ngunduh mantu, istilah pihak keluarga pengantin laki-laki yang memboyong kedua mempelai dari rumah orang tua pengantin wanita, atau dari rumah besannya.
Tentunya bukan hanya dua pengantin baru, Tuan Jono dan Ciblek saja yang pulang sendiri atau berangkat berpindah ke rumah orang tua pengantin laki-laki. Namun pihak besan atau keluarga dari pengantin perempuan juga ikut semua mengantarkan dua orang yang baru saja menikah tersebut. Tidak hanya keluarga atau saudara dari besan, bahkan para tetangga dari sang besan juga ikut mengantarkan menuju rumah orang tua pengantin laki-laki.
Meski istilahnya hanya mengunduh mantu, tetapi karena Kakek Yan itu orang kaya raya, orang terpandang di Kampung Pademangan, orang yang terkenal, tidak hayal kalau dalam acara penyambutan keluarga besan yang datang itu juga diselenggarakan pesta besar-besaran. Pestanya lebih meriah dari yang diselenggarakan oleh sang besan waktu mantu beberapa hari yang lalu. Bahkan yang diundang tidak hanya para tetangga satu kampung saja, tetapi hampir satu kecamatan. Maklum kolega dari Kakek Yan sangat banyak dan ada di mana-mana. Ya, Kakek Yan adalah blantik kerbau, sapi maupun kambing yang sangat terkenal. Tentunya kenalannya sangat banyak. Maka hari itu pun pesta ngunduh mantu di rumah Kakek Yan benar-benar sangat meriah, sangat ramai. Bahkan sebagai hiburannya, Kakek Yan menanggap joget tayub dengan penari-penari ledek yang sangat terkenal. Tentu biaya yang dikeluarkan tidak sedikit. Tetapi bagi Kakek Yan itu bukan persoalan.
Sebagai menu sajiannya, Kakek Yan menyembelih kerbau. Wajar saja karena hewan piaraan Kakek Yan ini sangat banyak. Mau pesta potong kerbau, sapi, kambing maupun ayam, semuanya tinggal ambil dari kandangnya sendiri. Bahkan saking banyaknya hewan piaraan itu, Kakek Yan sampai punya dua orang pangon, yaitu orang yang mencari rumput, memberi makan dan merawat hewan ternaknya.
Ya, kala itu Kakek Yan pesta besar-besaran untuk menyambut kehadiran anak bungsunya bersama dengan istrinya yang diiring oleh keluarga besan bersama sanak saudara dan para tetangganya. Pastinya Nenek Kosen senang dan gembira. Pasalnya ia tidak akan khawatir lagi dengan anak bungsunya yang harus tinggal bersama mertuanya serta adik-adik dari istrinya, yang pastinya sangat tidak nyaman berada di rumah yang kurang memadai. Apalagi dari segi makan, pasti sangat kekurangan.
"Waah, Nenek Kosen tersenyum terus. Gak kayak kemarin, yang bentar-bentar nangis." ledek tetangganya yang ikut membantu menyiapkan masakan di rumah Kakek Yan.
"Hehehe. Saya itu khawatir dengan Jono. Cuman khawatir saja kok." sahut Nenek Kosen yang tentu sambil tersenyum riang karena anaknya sudah akan kembali ke rumahnya.
"Istrinya Tuan Jono itu cantik, lho." kata tetangga yang lain, yang tentu memuji Ciblek.
"Iya, betul. Putih, mulus, cantik." sahut perempuan yang lainnya, yang ikut membantu memasak.
"Nhaa, kalau sekarang sudah ayem ya, Nenek Kosen. Anaknya sudah diboyong bersama istrinya yang cantik. Besok rumahnya Nenek Kosen tidak sepi lagi." sahut tetangga yang lain.
"Apalagi kalau nanti sudah punya cucu. Ramai, Nek." tambah yang lainnya.
"Hehehe." Nenek Kosen tersenyum bahagia.
Acara ngunduh mantu pun semakin ramai dengan datangnya para tamu yang sangat banyak jumlahnya. Terus dan terus berdatangan. Dan tentunya juga orang-orang yang ingin menyaksikan joget tayub yang dimainkan oleh penari-penari yang cantik-cantik dan pandai menari. Sehari semalam pesta ngunduh mantu itu berlangsung. Itu semua menjadi cerita tersendiri bagi orang-orang di Kampung Pademangan yang memang jarang mendapatkan hiburan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments