Seperti biasanya, Ani mengajak Totok pergi ke rumah neneknya. Tentu sambil membawakan masakan hasil olahannya. Walaupun hanya sekedar sayur bayam, tetapi yang namanya cinta anak kepada orang tua, bakti anak kepada ayah dan ibunya adalah dilihat dari wujud persembahannya yang dilakukan oleh anak kepada orang tuanya. Termasuk seperti yang dilakukan oleh Ani, meski hanya memberikan sayur bayam dengan sambal terasi, tapi itu adalah masakan kegemaran bapaknya. Bayam yang disayur bening dengan bumbu brambang kunci, itu kesukaan Kakek Yan.
Totok, bocah kecil yang dasarnya periang dan cerdas, begitu sampai di depan rumah kakeknya, langsung berteriak memanggil kakek dan neneknya.
"Kakek Yan! Nenek Kosen!" begitu teriaknya.
"Totok! Hahahaha." tentunya begitu mendengar suara cucunya, Kakek Yan langsung keluar dan menyambut kedatangan cucunya yang pertama itu.
"Kakek Yan." Totok langsung menubruk kakeknya.
"Ini dia, jagoan Kakek." kata Kakek Yan yang tentu sambil mengangkat tubuh kecil si Totok. Bahkan Kakek Yan melemparkan tubuh cucunya itu ke atas, lalu ditangkapnya. Dilemparkan lagi, kemudian ditangkap lagi. Begitu dilakukan berkali-kali.
"Hahaha! Hehehehe!" Totok tidak takut. Tapi justru sebaliknya, ia sangat senang. Ia tertawa-tawa saking gembiranya. Bahkan setiap kali kakeknya berhenti, Totok justru meminta untuk dilempar-lempar lagi.
"Lagi, Kek. Ayo, lempar ke atas lagi Kek." begitu kata Totok yang merengek meminta pada Kakeknya untuk dilemparkan lagi.
"Eee, jangan Le. Nanti kalau jatuh, sakit." larang neneknya.
Tidak hanya senang dimanjakan oleh Kakek maupun Nenek. Tetapi Totok ini kalau di rumah Kakek Yan juga sangat akrab dengan dua anak remaja yang membantu menggembalakan ternak kakeknya. Totok memang pandai bergaul, dan tidak pernah menjaga jarak, tidak sungkan untuk mengajak bermain bersama para penggembala itu.
"Mas, Mas-e. Totok minta dinaikkan ke atas punggung kerbau." begitu pinta Totok kepada para penggembala, sesaat setelah pembantu-pembantu penggembala itu memasukkan hewan ternaknya di kandang.
"Apa kamu berani?" tanya si penggembala.
"Berani!" sahut Totok dengan tegas, terlihat tanpa rasa takut sedikit pun.
"Ayo. Kalau berani, sini." kata si penggembala itu, yang kemudian menaikkan Totok ke punggung kerbau yang sudah masuk di kandangnya.
Namun tiba-tiba, "Hee! Totok! Jangan! Kamu jangan naik kerbau! Nanti jatuh!" Kakek Yan berteriak khawatir saat menyaksikan cucunya yang dinaikkan ke atas punggung kerbau oleh penggembalanya.
"Bukan saya, Kek. Yang minta Totok sendiri. Maaf, Kek." kata si penggembala itu ketakutan dan khawatir kalau disalahkan, yang langsung menurunkan Totok dari punggung kerbau.
"Tuh, kan. Dimarahi sama Kakek." kata si penggembala itu menuturi Totok.
Totok yang sudah diturunkan dari kerbau, langsung berlari memeluk paha Kakeknya. Pastinya itu sebagai ungkapan minta maaf karena perbuatannya tidak berkenan oleh Kakeknya.
"Totok, kamu jangan naik ke punggung kerbau. Itu bahaya. Kalau jatuh, Totok bisa celaka. Sakit. Kalau keluar darahnya, bagamana?" kata Kakeknya yang sambil mengelus kepala Totok.
"Tapi Totok pengin naik kerbau seperti orang-orang yang menggembalakan ternak itu. Kata Bapak, biasanya anak yang menggembalakan kerbau itu naik di atas punggung kerbau sambil meniup seruling melantunkan lagu-lagu. Itu katanya asyik, Kek." kata Totok yang tentunya kepengin melakukan apa yang pernah diceritakan oleh bapaknya, saat dibuatkan gambar seorang penggembala kerbau naik di punggung kerbau, mengenakan caping topi dari bambu dan meniup seruling.
"Iya. Tapi itu orangnya sudah besar. Sudah bisa naik dan turun dari punggung kerbau sendiri. Kamu masih terlalu kecil untuk melakukan itu. Apa kamu sudah bisa meniup seruling?" kata kakeknya yang langsung mencari cara untuk mencegah cucunya itu naik kerbau.
"Bapaknya Totok pinter memainkan seruling. Kalau malam, Bapak sering menyanyi dengan meniup seruling." jawab Totok yang menceritakan bapaknya.
Memang, Pak Amin itu sebagai karyawan di perusahaan Cina, ia juga seorang seniman ketoprak. Ia pandai meniup seruling. Hampir setiap malam sehabis makan malam, sambil menunggu kantuk, Pak Amin ini selalu mendengungkan suara seruling dengan gending-gending jaman kuno. Semacam kidung kehidupan. Tentu memainkan seruling itu sebagai pelepas lelahnya setelah seharian bekerja sebagai buruh pabrik di kota. Ya, kala itu Pak Amin yang bekerja sebagai buruh di perusahaan milik RRT, Noyo Genggong, yang mengolah singkong menjadi spirtus. Rumahnya yang jauh dari tetangga, maka hiburan satu-satunya adalah berseruling.
Kakek Yan tentu merasa kasihan dengan menantunya itu, yang setiap hari naik sepeda, menempuh jarak yang lumayan jauh, demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Walau demikian, Kakek Yan juga bangga karena menantunya itu satu-satunya orang yang mau bekerja sebagai buruh di kota. Setidaknya setiap akhir pekan dapat bayaran yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Tidak seperti para tetangganya yang hanya mengangkat cangkul menjadi petani di sawah, yang kepanasan setiap hari. Pengalamannya pun pasti beda dengan yang bekerja di kota.
"Iya. Besok kalau sudah besar. Totok boleh naik kerbau sambil meniup seruling." kata Kakek Yan yang sangat sayang kepada Totok.
"Tapi Totok pengin ikut menggembalakan kerbau." kata Totok lagi, yang polos mengungkapkan keinginan seorang bocah. Tentunya ia ingin seperti anak-anak yang lain yang sering diajak oleh orang tuanya untuk memandikan ternaknya di sungai.
"Totok masih kecil. Mas-mas yang menggembalakan kerbau dan sapi tidak bisa ngawasi Totok. Kalau Totok ikut menggembala, nanti malah Mas-mas-e tidak bisa cari rumput." sahut Kakeknya.
"Kek. Kenapa anak kecil tidak boleh menggembala?" tanya Totok pada Kakeknya.
"Ya, belum boleh karena anak kecil belum bisa naik kerbau sendiri." jawab Kakek Yan.
"Tapi, tadi Totok bisa naik kerbau." bantah Totok.
"Itu tadi Totok dinaikkan sama orang lain. Dan tidak bisa turun sendiri, kan." bantah Kakeknya.
"Kek. Kalau naik kambing boleh, tidak?" tanya Totok yang tentu sangat ingin naik hewan ternak milik kakeknya.
"Nah, iya. Totok naik kambing saja. Besok kambingnya digembalakan Totok." kata kakeknya yang memberi solusi.
"Benar ya, Kek." kata Totok yang tidak ingin dibohongi oleh kakeknya.
"Ya, benar. Nanti Totok menggembalakan kambing di belakang rumahnya Kakek." sahut Kakek Yan.
Memang, di belakang rumah Kakek Yan masih ada pekarangan yang cukup luas. Milik saudara Kakek Yan. Tetapi yang merawat tanamannya Kakek Yan. Pastinya kambing-kambing Kakek Yan bisa digembalakan di pekarangan itu. Setidaknya ada rumput yang cukup banyak. Kalau kambing itu diikat di pekarangan tersebut, pasti akan memakan rumput yang ada di situ. Totok bisa bermain dengan kambing-kambing itu, tidak jauh dari rumah dan mudah untuk diawasi oleh kakek maupun neneknya.
Dan Kakek Yan pun mulai membuat patok dari bambu, yang akan digunakan untuk menaruh dadung tali pengikat kambingnya. Ada beberapa patok bambu. Pastinya nanti akan ada beberapa kambing yang akan diikatkan di sana, agar memakan rumput secara langsung yang ada di pekarangan. Ya, kambing Kakek Yan jumlahnya cukup banyak. Ada lima belas ekor yang besar-besar.
Memang, untuk membiarkan kambing-kambing maupun ternak yang lain mencari dan memakan rumput sendiri, harus diikat. Hal itu agar kambing-kambing itu tidak sampai memakan tanaman milik orang. Biasanya tanaman yang banyak dibudidayakan oleh warga Kampung Pademangan di pekarangannya adalah singkong. Dan tanaman singkong ini, daunnya sangat digemari oleh kambing. Sehingga kalau kembing itu tidak diikat, bisa memakan tanaman singkong milik tetangganya. Hal itu tentunya tidak baik, dan bisa jadi akan dimarahi oleh yang memikliki tanaman. Tentunya Kakek Yan, maupun warga yang lain, saling menghormati dalam menggembalakan ternaknya agar tidak memakan tanaman para tetangga. Makanya, tidak ada yang melepaskan kambingnya begitu saja di pekarangan.
Setelah Kakek Yan mengikat kambingnya di pekarangan belakang rumah, alangkah senangnya Totok menyaksikan kambing-kambing kakeknya yang bagus-bagus dan besar-besar. Tentu Totok langsung bermain di pekarangan itu, untuk menggembalakan kambing kakeknya.
Dasar anak pintar dan rajin, Totok pun berusaha mencari rumput, untuk diberikan kepada kambing-kambing yang diikat oleh kakeknya tersebut. Meskipun masih kecil, tetapi Totok sangat cekatan dan sangat sayang kepada hewan-hewan ternak yang dipiara oleh kakeknya.
"Kek. Kambingnya makan rumput!" teriak Totok yang senang bermain dengan kambing di pekarangan belakang rumah.
"Totok! Hati-hati! Nanti kamu bisa diseruduk kambing!" ibu dan neneknya yang sedang memasak di dapur berteriak mengingatkan Totok.
"Tidak apa-apa! Kambingnya baik-baik semua. Tidak ada yang nakal!" jawab Totok yang terus memberi makan ke kambing.
Totok terus, dan terus mengambil rumput, untuk diberikan kepada kambing-kambingnya. Hari itu, Totok belajar menjadi penggembala ternak yang hebat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments