BAB 18: PENGGEMBALA CILIK

    Seperti biasanya, Ani mengajak Totok pergi ke rumah neneknya. Tentu sambil membawakan masakan hasil olahannya. Walaupun hanya sekedar sayur bayam, tetapi yang namanya cinta anak kepada orang tua, bakti anak kepada ayah dan ibunya adalah dilihat dari wujud persembahannya yang dilakukan oleh anak kepada orang tuanya. Termasuk seperti yang dilakukan oleh Ani, meski hanya memberikan sayur bayam dengan sambal terasi, tapi itu adalah masakan kegemaran bapaknya. Bayam yang disayur bening dengan bumbu brambang kunci, itu kesukaan Kakek Yan.

    Totok, bocah kecil yang dasarnya periang dan cerdas, begitu sampai di depan rumah kakeknya, langsung berteriak memanggil kakek dan neneknya.

    "Kakek Yan! Nenek Kosen!" begitu teriaknya.

    "Totok! Hahahaha." tentunya begitu mendengar suara cucunya, Kakek Yan langsung keluar dan menyambut kedatangan cucunya yang pertama itu.

    "Kakek Yan." Totok langsung menubruk kakeknya.

    "Ini dia, jagoan Kakek." kata Kakek Yan yang tentu sambil mengangkat tubuh kecil si Totok. Bahkan Kakek Yan melemparkan tubuh cucunya itu ke atas, lalu ditangkapnya. Dilemparkan lagi, kemudian ditangkap lagi. Begitu dilakukan berkali-kali.

    "Hahaha! Hehehehe!" Totok tidak takut. Tapi justru sebaliknya, ia sangat senang. Ia tertawa-tawa saking gembiranya. Bahkan setiap kali kakeknya berhenti, Totok justru meminta untuk dilempar-lempar lagi.

    "Lagi, Kek. Ayo, lempar ke atas lagi Kek." begitu kata Totok yang merengek meminta pada Kakeknya untuk dilemparkan lagi.

    "Eee, jangan Le. Nanti kalau jatuh, sakit." larang neneknya.

    Tidak hanya senang dimanjakan oleh Kakek maupun Nenek. Tetapi Totok ini kalau di rumah Kakek Yan juga sangat akrab dengan dua anak remaja yang membantu menggembalakan ternak kakeknya. Totok memang pandai bergaul, dan tidak pernah menjaga jarak, tidak sungkan untuk mengajak bermain bersama para penggembala itu.

    "Mas, Mas-e. Totok minta dinaikkan ke atas punggung kerbau." begitu pinta Totok kepada para penggembala, sesaat setelah pembantu-pembantu penggembala itu memasukkan hewan ternaknya di kandang.

    "Apa kamu berani?" tanya si penggembala.

    "Berani!" sahut Totok dengan tegas, terlihat tanpa rasa takut sedikit pun.

    "Ayo. Kalau berani, sini." kata si penggembala itu, yang kemudian menaikkan Totok ke punggung kerbau yang sudah masuk di kandangnya.

    Namun tiba-tiba, "Hee! Totok! Jangan! Kamu jangan naik kerbau! Nanti jatuh!" Kakek Yan berteriak khawatir saat menyaksikan cucunya yang dinaikkan ke atas punggung kerbau oleh penggembalanya.

    "Bukan saya, Kek. Yang minta Totok sendiri. Maaf, Kek." kata si penggembala itu ketakutan dan khawatir kalau disalahkan, yang langsung menurunkan Totok dari punggung kerbau.

    "Tuh, kan. Dimarahi sama Kakek." kata si penggembala itu menuturi Totok.

    Totok yang sudah diturunkan dari kerbau, langsung berlari memeluk paha Kakeknya. Pastinya itu sebagai ungkapan minta maaf karena perbuatannya tidak berkenan oleh Kakeknya.

    "Totok, kamu jangan naik ke punggung kerbau. Itu bahaya. Kalau jatuh, Totok bisa celaka. Sakit. Kalau keluar darahnya, bagamana?" kata Kakeknya yang sambil mengelus kepala Totok.

    "Tapi Totok pengin naik kerbau seperti orang-orang yang menggembalakan ternak itu. Kata Bapak, biasanya anak yang menggembalakan kerbau itu naik di atas punggung kerbau sambil meniup seruling melantunkan lagu-lagu. Itu katanya asyik, Kek." kata Totok yang tentunya kepengin melakukan apa yang pernah diceritakan oleh bapaknya, saat dibuatkan gambar seorang penggembala kerbau naik di punggung kerbau, mengenakan caping topi dari bambu dan meniup seruling.

    "Iya. Tapi itu orangnya sudah besar. Sudah bisa naik dan turun dari punggung kerbau sendiri. Kamu masih terlalu kecil untuk melakukan itu. Apa kamu sudah bisa meniup seruling?" kata kakeknya yang langsung mencari cara untuk mencegah cucunya itu naik kerbau.

    "Bapaknya Totok pinter memainkan seruling. Kalau malam, Bapak sering menyanyi dengan meniup seruling." jawab Totok yang menceritakan bapaknya.

    Memang, Pak Amin itu sebagai karyawan di perusahaan Cina, ia juga seorang seniman ketoprak. Ia pandai meniup seruling. Hampir setiap malam sehabis makan malam, sambil menunggu kantuk, Pak Amin ini selalu mendengungkan suara seruling dengan gending-gending jaman kuno. Semacam kidung kehidupan. Tentu memainkan seruling itu sebagai pelepas lelahnya setelah seharian bekerja sebagai buruh pabrik di kota. Ya, kala itu Pak Amin yang bekerja sebagai buruh di perusahaan milik RRT, Noyo Genggong, yang mengolah singkong menjadi spirtus. Rumahnya yang jauh dari tetangga, maka hiburan satu-satunya adalah berseruling.

    Kakek Yan tentu merasa kasihan dengan menantunya itu, yang setiap hari naik sepeda, menempuh jarak yang lumayan jauh, demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Walau demikian, Kakek Yan juga bangga karena menantunya itu satu-satunya orang yang mau bekerja sebagai buruh di kota. Setidaknya setiap akhir pekan dapat bayaran yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Tidak seperti para tetangganya yang hanya mengangkat cangkul menjadi petani di sawah, yang kepanasan setiap hari. Pengalamannya pun pasti beda dengan yang bekerja di kota.

    "Iya. Besok kalau sudah besar. Totok boleh naik kerbau sambil meniup seruling." kata Kakek Yan yang sangat sayang kepada Totok.

    "Tapi Totok pengin ikut menggembalakan kerbau." kata Totok lagi, yang polos mengungkapkan keinginan seorang bocah. Tentunya ia ingin seperti anak-anak yang lain yang sering diajak oleh orang tuanya untuk memandikan ternaknya di sungai.

    "Totok masih kecil. Mas-mas yang menggembalakan kerbau dan sapi tidak bisa ngawasi Totok. Kalau Totok ikut menggembala, nanti malah Mas-mas-e tidak bisa cari rumput." sahut Kakeknya.

    "Kek. Kenapa anak kecil tidak boleh menggembala?" tanya Totok pada Kakeknya.

    "Ya, belum boleh karena anak kecil belum bisa naik kerbau sendiri." jawab Kakek Yan.

    "Tapi, tadi Totok bisa naik kerbau." bantah Totok.

    "Itu tadi Totok dinaikkan sama orang lain. Dan tidak bisa turun sendiri, kan." bantah Kakeknya.

    "Kek. Kalau naik kambing boleh, tidak?" tanya Totok yang tentu sangat ingin naik hewan ternak milik kakeknya.

    "Nah, iya. Totok naik kambing saja. Besok kambingnya digembalakan Totok." kata kakeknya yang memberi solusi.

    "Benar ya, Kek." kata Totok yang tidak ingin dibohongi oleh kakeknya.

    "Ya, benar. Nanti Totok menggembalakan kambing di belakang rumahnya Kakek." sahut Kakek Yan.

    Memang, di belakang rumah Kakek Yan masih ada pekarangan yang cukup luas. Milik saudara Kakek Yan. Tetapi yang merawat tanamannya Kakek Yan. Pastinya kambing-kambing Kakek Yan bisa digembalakan di pekarangan itu. Setidaknya ada rumput yang cukup banyak. Kalau kambing itu diikat di pekarangan tersebut, pasti akan memakan rumput yang ada di situ. Totok bisa bermain dengan kambing-kambing itu, tidak jauh dari rumah dan mudah untuk diawasi oleh kakek maupun neneknya.

    Dan Kakek Yan pun mulai membuat patok dari bambu, yang akan digunakan untuk menaruh dadung tali pengikat kambingnya. Ada beberapa patok bambu. Pastinya nanti akan ada beberapa kambing yang akan diikatkan di sana, agar memakan rumput secara langsung yang ada di pekarangan. Ya, kambing Kakek Yan jumlahnya cukup banyak. Ada lima belas ekor yang besar-besar.

    Memang, untuk membiarkan kambing-kambing maupun ternak yang lain mencari dan memakan rumput sendiri, harus diikat. Hal itu agar kambing-kambing itu tidak sampai memakan tanaman milik orang. Biasanya tanaman yang banyak dibudidayakan oleh warga Kampung Pademangan di pekarangannya adalah singkong. Dan tanaman singkong ini, daunnya sangat digemari oleh kambing. Sehingga kalau kembing itu tidak diikat, bisa memakan tanaman singkong milik tetangganya. Hal itu tentunya tidak baik, dan bisa jadi akan dimarahi oleh yang memikliki tanaman. Tentunya Kakek Yan, maupun warga yang lain, saling menghormati dalam menggembalakan ternaknya agar tidak memakan tanaman para tetangga. Makanya, tidak ada yang melepaskan kambingnya begitu saja di pekarangan.

    Setelah Kakek Yan mengikat kambingnya di pekarangan belakang rumah, alangkah senangnya Totok menyaksikan kambing-kambing kakeknya yang bagus-bagus dan besar-besar. Tentu Totok langsung bermain di pekarangan itu, untuk menggembalakan kambing kakeknya.

    Dasar anak pintar dan rajin, Totok pun berusaha mencari rumput, untuk diberikan kepada kambing-kambing yang diikat oleh kakeknya tersebut. Meskipun masih kecil, tetapi Totok sangat cekatan dan sangat sayang kepada hewan-hewan ternak yang dipiara oleh kakeknya.

    "Kek. Kambingnya makan rumput!" teriak Totok yang senang bermain dengan kambing di pekarangan belakang rumah.

    "Totok! Hati-hati! Nanti kamu bisa diseruduk kambing!" ibu dan neneknya yang sedang memasak di dapur berteriak mengingatkan Totok.

    "Tidak apa-apa! Kambingnya baik-baik semua. Tidak ada yang nakal!" jawab Totok yang terus memberi makan ke kambing.

    Totok terus, dan terus mengambil rumput, untuk diberikan kepada kambing-kambingnya. Hari itu, Totok belajar menjadi penggembala ternak yang hebat.

Episodes
1 BAB I: PERNIKAHAN TUAN JONO
2 BAB 2: NGUNDUH MANTU
3 BAB 3: TINGGAL BERSAMA MERTUA
4 BAB 4: MEMARAHI ANAK KESAYANGAN
5 BAB 5: PENYESALAN
6 BAB 6: MINTA PEMBANTU
7 BAB 7: PUNYA PEMBANTU
8 BAB 8: PUNYA PEMBANTU
9 BAB 9: PEMBANTU BARU
10 BAB 10: CERITA SAAT MENCUCI
11 BAB 11: PEMBANTU MINTA PULANG
12 BAB 12: DIMARAHI ORANG TUA
13 BAB 13: NGAMBEK LAGI
14 BAB 14: KEMBALI MEMINTA SYARAT
15 BAB 15: MEMINTA RUMAH
16 BAB 16: MEMINDAH RUMAH
17 BAB 17: RUMAH YANG BUTUH KERAMAIAN
18 BAB 18: PENGGEMBALA CILIK
19 BAB 19: RUMAH YANG KOTOR
20 BAB 20: BERONTAK
21 BAB 21: KEGUGURAN
22 BAB 22: RUMAH POHON
23 BAB 23: MENJADI ANAK KAKEK DAN NENEK
24 BAB 24: ANAK PINTAR
25 BAB 25: PENCURI KAYU BAKAR
26 BAB 26: ANAK PERTAMA
27 BAB 27: PERUBAHAN ZAMAN
28 BAB 28: MURID TELADAN
29 BAB 29: SEKOLAH FAVORIT
30 BAB 30: BERAS DIMAKAN GERANDONG
31 BAB 31: MENYINGKIRKAN KELUARGA MERTUA
32 BAB 32: ADIK NAKAL
33 BAB 33: ANAK PINTAR
34 BAB 34: MEMBUKA WARUNG
35 BAB 35: INTERKOM
36 BAB 36: HARUS OPNAM
37 BAB 37: TELAH HILANG GIGI EMAS
38 BAB 38: DICARIKAN PACAR
39 BAB 39: PENCURI WARUNG
40 BAB 40: MAKLAR TANAH
41 BAB 41: MOTOR BARU
42 BAB 42: RUMAH GEDUNG
43 BAB 44: MINTA MOBIL
44 BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
45 BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
46 BAB 43: JIMAT PENUNGGU RUMAH
47 BAB 44: MINTA MOBIL
48 BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
49 BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
50 BAB 47: JADI GURU
51 BAB 48: SAYANG NENEK
52 BAB 49: PAMER GELANG
53 BAB 50: BERUBAH SIFAT
54 BAB 51: WATAK PUN BERUBAH
55 BAB 52: NAIK HAJI
56 BAB 53: PULANG HAJI
57 BAB 54: HAJI MABRUR
58 BAB 55: AGAMIS
59 BAB 56: KELUH KESAH SEORANG NENEK
60 BAB 57: PUSAKA LELUHUR
61 BAB 58: SEMAKIN MENYIMPANG
62 BAB 59: SEMUANYA BISA
63 BAB 60: JIKA ADA UANG JADI GAMPANG
64 BAB 61: PENGUSAHA HEBAT
65 BAB 62: PENGUSAHA GAGAL
66 BAB 63: JADI DOKTER
67 BAB 64: WANITA PELENGKAP
68 BAB 65: DEMO
69 BAB 66: NENEK SAKIT
70 BAB 67: KEHILANGAN ORANG-ORANG TERCINTA
71 BAB 68: SEMUA MENUNGGU
72 BAB 69: PENSIUNAN MENYUSAHKAN
73 BAB 70: TETAP MERASA HEBAT
74 BAB 71: MEMBAGI WARISAN
75 BAB 72: MENUNTUT LEBIH
76 BAB 73: SERANGAN JANTUNG
77 BAB 74: DOKTER SOMBONG
78 BAB 75: BAYANG HITAM
79 BAB 76: TUAN JONO MENINGGAL
80 BAB 77: LEBARAN KELABU
81 BAB 78: ORANG-ORANG SERAKAH
82 BAB 79: IKHLAS
83 BAB 80: INNA MA'AL USRI YUSRA
84 BAB 81: WARISAN TERKUTUK
85 BAB 82: KATA-KATA MENYAKITKAN
86 BAB 83: PENJAGA ITU TERNYATA ADA
87 BAB 84: TEROR PERTAMA
88 BAB 85: SIAPA YANG TIDAK PERCAYA HANTU?
89 BAB 86: TEROR KEDUA
90 BAB 87: PERINGATAN DOSA
91 BAB 88: PENANTANG SETAN
92 BAB 89: JANGAN GEGABAH
93 BAB 90: BANASPATI
94 BAB 91: DUKUN SAKTI
95 BAB 92: TAK PERNAH JERA
96 BAB 93: KEHILANGAN KAKI
97 BAB 94: MENANTANG SETAN
98 BAB 95: KEMARAHAN ISTRI
99 BAB 96: ANCAMAN ULAR
100 BAB 97: TATO KULIT ULAR
101 BAB 98: IKATAN NAGA GINI
Episodes

Updated 101 Episodes

1
BAB I: PERNIKAHAN TUAN JONO
2
BAB 2: NGUNDUH MANTU
3
BAB 3: TINGGAL BERSAMA MERTUA
4
BAB 4: MEMARAHI ANAK KESAYANGAN
5
BAB 5: PENYESALAN
6
BAB 6: MINTA PEMBANTU
7
BAB 7: PUNYA PEMBANTU
8
BAB 8: PUNYA PEMBANTU
9
BAB 9: PEMBANTU BARU
10
BAB 10: CERITA SAAT MENCUCI
11
BAB 11: PEMBANTU MINTA PULANG
12
BAB 12: DIMARAHI ORANG TUA
13
BAB 13: NGAMBEK LAGI
14
BAB 14: KEMBALI MEMINTA SYARAT
15
BAB 15: MEMINTA RUMAH
16
BAB 16: MEMINDAH RUMAH
17
BAB 17: RUMAH YANG BUTUH KERAMAIAN
18
BAB 18: PENGGEMBALA CILIK
19
BAB 19: RUMAH YANG KOTOR
20
BAB 20: BERONTAK
21
BAB 21: KEGUGURAN
22
BAB 22: RUMAH POHON
23
BAB 23: MENJADI ANAK KAKEK DAN NENEK
24
BAB 24: ANAK PINTAR
25
BAB 25: PENCURI KAYU BAKAR
26
BAB 26: ANAK PERTAMA
27
BAB 27: PERUBAHAN ZAMAN
28
BAB 28: MURID TELADAN
29
BAB 29: SEKOLAH FAVORIT
30
BAB 30: BERAS DIMAKAN GERANDONG
31
BAB 31: MENYINGKIRKAN KELUARGA MERTUA
32
BAB 32: ADIK NAKAL
33
BAB 33: ANAK PINTAR
34
BAB 34: MEMBUKA WARUNG
35
BAB 35: INTERKOM
36
BAB 36: HARUS OPNAM
37
BAB 37: TELAH HILANG GIGI EMAS
38
BAB 38: DICARIKAN PACAR
39
BAB 39: PENCURI WARUNG
40
BAB 40: MAKLAR TANAH
41
BAB 41: MOTOR BARU
42
BAB 42: RUMAH GEDUNG
43
BAB 44: MINTA MOBIL
44
BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
45
BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
46
BAB 43: JIMAT PENUNGGU RUMAH
47
BAB 44: MINTA MOBIL
48
BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
49
BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
50
BAB 47: JADI GURU
51
BAB 48: SAYANG NENEK
52
BAB 49: PAMER GELANG
53
BAB 50: BERUBAH SIFAT
54
BAB 51: WATAK PUN BERUBAH
55
BAB 52: NAIK HAJI
56
BAB 53: PULANG HAJI
57
BAB 54: HAJI MABRUR
58
BAB 55: AGAMIS
59
BAB 56: KELUH KESAH SEORANG NENEK
60
BAB 57: PUSAKA LELUHUR
61
BAB 58: SEMAKIN MENYIMPANG
62
BAB 59: SEMUANYA BISA
63
BAB 60: JIKA ADA UANG JADI GAMPANG
64
BAB 61: PENGUSAHA HEBAT
65
BAB 62: PENGUSAHA GAGAL
66
BAB 63: JADI DOKTER
67
BAB 64: WANITA PELENGKAP
68
BAB 65: DEMO
69
BAB 66: NENEK SAKIT
70
BAB 67: KEHILANGAN ORANG-ORANG TERCINTA
71
BAB 68: SEMUA MENUNGGU
72
BAB 69: PENSIUNAN MENYUSAHKAN
73
BAB 70: TETAP MERASA HEBAT
74
BAB 71: MEMBAGI WARISAN
75
BAB 72: MENUNTUT LEBIH
76
BAB 73: SERANGAN JANTUNG
77
BAB 74: DOKTER SOMBONG
78
BAB 75: BAYANG HITAM
79
BAB 76: TUAN JONO MENINGGAL
80
BAB 77: LEBARAN KELABU
81
BAB 78: ORANG-ORANG SERAKAH
82
BAB 79: IKHLAS
83
BAB 80: INNA MA'AL USRI YUSRA
84
BAB 81: WARISAN TERKUTUK
85
BAB 82: KATA-KATA MENYAKITKAN
86
BAB 83: PENJAGA ITU TERNYATA ADA
87
BAB 84: TEROR PERTAMA
88
BAB 85: SIAPA YANG TIDAK PERCAYA HANTU?
89
BAB 86: TEROR KEDUA
90
BAB 87: PERINGATAN DOSA
91
BAB 88: PENANTANG SETAN
92
BAB 89: JANGAN GEGABAH
93
BAB 90: BANASPATI
94
BAB 91: DUKUN SAKTI
95
BAB 92: TAK PERNAH JERA
96
BAB 93: KEHILANGAN KAKI
97
BAB 94: MENANTANG SETAN
98
BAB 95: KEMARAHAN ISTRI
99
BAB 96: ANCAMAN ULAR
100
BAB 97: TATO KULIT ULAR
101
BAB 98: IKATAN NAGA GINI

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!