BAB 14: KEMBALI MEMINTA SYARAT

    Tuan Jono akhirnya sampai di rumah mertuanya. Dan ia melihat istrinya memang ada di situ. Ciblek sudah duduk jegrang pada dingklik (tempat duduk panjang yang terbuat dari kayu yang dibelah atau sisa kayu penggergajian yang tidak terpakai), yang terdapat di teras depan pada rumah yang terbuat dari anyaman bambu itu. Tentunya ditemani oleh ibu dan bapaknya. Mungkin saja tiga orang itu sedang membicarakan masalah pernikahan Ciblek dengan Tuan Jono. Namun tentunya, itu adalah kebiasaan dari keluarga Ciblek, karena memang mereka tidak punya pekerjaan yang penting di rumahnya.

    "Kenapa kamu datang kemari? Mau menjemput anakku lagi?!" Tanya ayah Ciblek atau mertua laki-laki Tuan Jono, pastinya dengan suara ketus.

    Kaget Tuan Jono yang baru sampai itu langsung ditanyai seperti itu oleh mertuanya, yang tentunya dengan nada tidak menyenangkan serta mimik yang tidak sedap untuk dilihat. Tuan Jono sudah menebak, pasti Ciblek sudah mengadu kepada ayahnya, yang tentunya dirinya minta makanan enak, tetapi tidak diberikan oleh suaminya. Dan pastinya apa yang dikatakan oleh Ciblek kalimatnya dijelek-jelekkan untuk meyakinkan pada orang tuanya.

    "Iya, Pak. Sambil ini. Mau memberikan ini. Saya membelikan rujak untuk Adinda Ciblek." kata Tuan Jono agak takut-takut sambil menunjukkan bungkusan rujak yang sudah dibelinya dari pasar dekat kantornya.

    "Rujak?! Memangnya siapa yang meminta rujak?!" kata Ciblek tak kalah ketus, yang tentunya menang kuasa kerena berada di rumah orang tuanya sendiri, apalagi ditunggui kedua orang tuanya yang pasti akan membela dirinya.

    "Iya. Ini, rujak untuk kamu. Segar dan enak." kata Tuan Jono yang memberikan bungkusan rujak kepada istrinya.

    "Tidak! Aku tidak mau!" sahut Ciblek yang langsung memalingkan mukanya. Tidak mau melihat suaminya. Ia menolak pemberian suaminya.

    "Hlhoh?!" hati Jono langsung menciut. Pasti istrinya ngambek lagi. Tangan yang sudah terjulur mau memberikan bungkusan rujak itu kembali lemas karena kecewa.

    "Nak Jono, kenapa orang tua kamu selalu marah-marah kepada Ciblek? Saya saja yang orang tuanya asli, bapak dan ibunya yang membesarkan Ciblek, tidak pernah memarahi anakku sendiri." kata ayah Ciblek yang langsung menusuk telinga Tuan Jono.

    Tentu Tuan Jono langsung terkaget mendengar kata-kata mertuanya yang menuduh orang tuanya memarahi Ciblek. Kembali terbersit dalam pikiran Tuan Jono, pasti istrinya sudah memfitnah lagi orang tuanya. Padahal sepengetahuan Tuan Jono, orang tuanya tidak pernah memarahi.

    "Marah?! Siapa yang memarahi Ciblek? Bapak atau Mamak?" tanya Tuan Jono yang tentu kaget dengan kata-kata mertua laki-lakinya itu. Ia pun ingin tahu siapa yang memarahi Ciblek.

    "Nak Jono, saya izinkan kamu untuk memperistri Ciblek, itu bukan untuk dimarah-marahi, bukan untuk dibentak-bentak, bukan untuk disuruh masak, bukan untuk disuruh mencuci piring. Tetapi Ciblek itu hanya untuk menjadi istri kamu! Bukan untuk dijadikan babu! Saya tidak rela anak saya yang cantik ini disia-sia oleh mertuanya." kata ayahnya Ciblek yang justru berbalik memarahi Jono. Pastinya ayahnya Ciblek tersebut tidak rela kalau anaknya disuruh kerja. Ibarat kata disuruh mengurus rumah seperti babu di rumah mertuanya.

    "Glegkht." Jono melenggong. Tidak bisa berkata apa-apa.

    Tentu Jono bingung dengan kata-kata ayah mertuanya tersebut. Apakah benar yang dikatakan oleh mertuanya itu? Padahal selama ini, yang ia tahu, Ciblek, istrinya itu adalah perempuan pemalas. Tidak pernah memasak, tidak pernah mencuci piring, bahkan juga tidak pernah menyapu rumah maupun halamannya. Bahkan Mamak Jono sendiri sampai jengkel karena punya menantu yang kerjanya hanya tiduran di kamar. Tidak pernah membantu kerepotan mertuanya. Tetapi Tuan Jono yakin, kalau ibunya tidak pernah memarahi Ciblek. Apalagi bapaknya, yang lebih pendiam, pasti tidak akan memarahi menantunya. Benarkah kata-kata mertuanya itu? Apakah mungkin, ibunya atau bapaknya marah-marah kepada Ciblek saat Jono tidak berada di rumah?

    Tentu antara percaya dan tidak percaya. Kalau memang orang tuanya marah-marah kepada istrinya, kenapa kedua orang tuanya tidak pernah memberitahu dirinya? Kalau orang tua Jono tidak pernah marah-marah kepada Ciblek, kenapa ayah mertuanya bisa menegur seperti itu?

    Padahal kalau menyaksikan kesehariannya saja, saat ada Siti, pembantu rumah tangganya, yang anaknya sebenarnya sangat rajin dan baik, itu saja selalu dimarahi oleh Ciblek tanpa ada alasan apa-apa. Bahkan ibunya, Nenek Kosen, sangat senang dengan keberadaan Siti yang rajin membantu. Tetapi karena sering dimarahi oleh istrinya itulah maka Siti minta pulang. Tetapi kenapa sekarang justru berbalik seperti ini? Apakah itu benar, atau istrinya yang memutar balik fakta, dengan memfitnah orang tuanya?

    "Maaf, Pak. Saya kira tidak seperti itu. Orang tua kami baik. Dan saya yakin orang tua saya tidak pernah memarahi Ciblek. Bahkan sebaliknya, orang tua saya sangat sayang pada Ciblek. Makanya saat ada pembantu, orang tua kami senang, karena pembantunya bisa melayani kami dengan baik. Bahkan Ciblek tidak kami suruh kerja apa-apa." kata Tuan Jono yang berusaha membela diri, dan menampik perkataan ayah mertuanya tersebut.

    "Tidak marah, tapi nyindir-nyindir. Lantas kalau ngomongin orang malas juga dengan suara yang keras. Itu ditujukan ke siapa, kalau tidak ke aku?" sahut Ciblek yang rupanya merasa disindir oleh ibu mertuanya.

    "Ah, saya kira tidak. Itu biasa saja. Kamunya saja yang baper. Memang suara Mamak itu keras. Tidak ada yang menyindir, tidak ada yang memarahi." bantah Tuan Jono yang tentunya membela ibunya. Dan memang menurut Jono, ibunya tidak memarahi istrinya, meski suaranya keras.

    "Halaahh. Alasanmu saja." sangkal Ciblek yang terlihat jengkel. Bibirnya mencucu panjang.

    "Ayo lah, Sayang. Kita pulang." rayu Tuan Jono yang meminta pada istrinya.

    "Tidak!" tolak Ciblek yang langsung memalingkan muka.

    "Pulang ya, Sayang. Kita kan sudah berkeluarga. Dan kita tinggal di rumah Pademangan. Apalagi kamu sedang hamil, harus hati-hati, harus menjaga kandunganmu. Ya, Sayang." kembali Jono merayu istrinya.

    "Tidak mau! Pokoknya saya tidak mau pulang!!" kembali Ciblek membentak suaminya.

    "Ayo lah. Pokoknya kamu mau minta apa saja, akan saya berikan. Mau pembantu lagi? Besok saya carikan. Tidak usah khawatir." kata Tuan Jono yang tentunya tetap ingin istrinya ikut pulang. Hal itu dilakukan agar keluarganya tidak malu kepada para tetangga yang dikarenakan Ciblek pulang ke orang tuanya.

    Ya, memang hidup di kampung itu serba susah. Ada apa sedikit saja, orang se kampung tahu semua. Tentunya, Tuan Jono tidak ingin kemarahan istrinya, yang terus ngambek dan pulang ke rumah orang tuanya itu diketahui oleh tetangga-tetangganya. Ia tidak ingin malu dibicarakan para tetangganya, kalau istrinya pergi, kalau istrinya tidak betah tinggal di rumahnya. Apalagi kalau sampai tersebar fitnah seperti yang disampaikan oleh mertuanya tadi, yang mengatakan kalau Ciblek dimarahi oleh Nenek Kosen maupun Kakek Yan, pasti akan hancur martabat dan harga diri keluarganya. Tuan Jono tidak ingin itu semua terjadi. Makanya, sebisa mungkin ia harus merayu istrinya untuk diajak kembali pulang ke rumahnya.

    "Aku mau pulang, kalau kita sudah punya rumah sendiri." begitu kata Ciblek. Dan kali ini permintaannya lebih mengagetkan Tuan Jono.

    "Maksud kamu?!" tanya Jono yang kaget dan bingung.

    "Aku tidak mau tinggal serumah bersama dengan mertua. Aku maunya hidup berdua sama kamu saja, tidak diganggu oleh mertua, tidak mau disindir-sindir oleh mertua. Pokoknya kita harus pisah dengan Mak dan Kakek." kata Ciblek yang meminta syarat pada suaminya.

    "Gleghtk!" Tuan Jono menelan ludah. Kaget dengan kata-kata istrinya yang barusan diucapkan.

    Ya, seperti yang dipinta oleh kedua orang tuanya dulu, sebelum menikah, setidaknya Tuan Jono ini bisa mengajak istrinya untuk hidup bersama dengan keluarga Kakek Yan. Setidaknya, Kakek Yan dan Nenek Kosen yang sudah tua-tua, akan pasrah dan meminta bantuan pada anaknya. Mereka berharap istri Jono nantinya, bisa membantu, bisa menolong dan bisa merawat orang tuanya. Harapan orang tuanya hanyalah pertolongan anak pada saat mereka sudah tua dan sudah tidak bisa apa-apa lagi.

    Namun, ketika mendengar permintaan istrinya, alangkah sedihnya Tuan Jono. Pasti ia sangat takut untuk menyampaikan hal itu kepada kedua orang tuanya. Jika mendengar kata-kata ingin memisah dari rumah orang tuanya, ia pasti akan dimarahi oleh orang tuanya. Ia akan didamprat habis-habisan. Ia akan dicap sebagai anak yang kurang ajar. Anak yang durhaka.

    Memang, di Kampung Pademangan, yang namanya anak bungsu biasanya akan mewarisi rumah keluarganya. Anak ragil biasanya digadang-gadang menjadi anak yang bisa meneruskan rumah tangga orang tuanya. Anak bungsu inilah yang diharapkan bisa menjadi tumpuan hidup bagi orang tuanya kelak kalau mereka sudah tidak sanggup lagi untuk bekerja atau berusaha. Makanya, seluruh warisan yang ditempati terakhir oleh orang tuanya itu, akan menjadi hak milik anak ragil yang hidup bersama dalam satu rumah dengan orang tuanya.

    "Kok begitu?" tanya Tuan Jono yang kebingungan untuk memutuskan permintaan istrinya itu.

    "Ya, kalau memang tidak mau, ya sudah. Jangan harap saya pulang ke rumah kamu." balas Ciblek yang sepertinya di atas angin untuk memenangkan perdebatan dengan suaminya itu. Ancaman yang tentu sangat menakutkan bagi Tuan Jono.

    "Ya ampun, Ciblek. Membangun rumah sendiri itu butuh waktu lama. Dan biayanya juga tidak murah. Butuh uang banyak." kata Tuan Jono yang tentunya merasa hal itu sangat berat untuk dilaksanakan.

    "Katanya orang tua kamu itu kaya raya, Nak Jono. Mosok hanya buat rumah untuk anaknya saja tidak bisa." ayah mertuanya ikut menimpali. Rupa-rupanya tidak jauh beda sifat antara anak dan ayahnya. Atau mungkin memang garis keturunannya, maka mewarisi sifat buruk dari orang tuanya.

    "Iya, Pak. Tapi itu kan butuh waktu. Buat rumah itu tidak secepat menggoreng ikan asin, Pak. Dan lagi, ada hitungan-hitungan hari untuk mendirikan rumah. Tidak bisa sembarangan." jawab Jono yang tahu persis bagamana susahnya orang mendirikan rumah.

    "Ya, sudah. Kalau memang tidak sanggup, biar saya tinggal di rumah orang tuaku saja. Saya tinggal di sini. Walaupun rumah ini jelek, tapi orang tuaku sayang sama aku. Tidak seperti orang tuamu." kata Ciblek yang terus mencari celah untuk memaksa suaminya membuatkan rumah sendiri.

    "Baiklah, Ciblek. Nanti akan saya sampaikan kepada Bapak dan Mamak. Tapi pulang dulu ya. Kalau kamu tidak mau pulang, saya tidak akan meminta dibuatkan rumah. Pasti Pak dan Mak juga tidak mau membuatkan rumah karena tidak ada kamu. Saya akan pulang sendiri. Tidak ada kamu juga tidak apa-apa." kata Tuan Jono yang kembali mencoba untuk mengajak istrinya.

    "Iya, Nduk. Sana pulang. Biar rumahnya cepat dibuatkan." ibu mertua Tuan Jono menimpal. Pastinya ia ingin besannya membangun rumah untuk anaknya.

    "Tapi beneran ya. Besok pagi langsung dibuatkan rumah." sahut Ciblek masih memaksa.

    "Iyaaa." jawab Tuan Jono mulai senang.

    Akhirnya, dengan bibir yang masih menyucu, Ciblek pun berjalan pulang mengikuti suaminya. Tentunya ia berharap bisa memisahkan diri dari mertuanya. Tentu agar kebebasan dalam hidupnya tidak terganggu oleh kata-kata mertuanya yang dianggap memarahi dirinya. Yah, dasar perempuan yang tidak tahu diuntung.

Episodes
1 BAB I: PERNIKAHAN TUAN JONO
2 BAB 2: NGUNDUH MANTU
3 BAB 3: TINGGAL BERSAMA MERTUA
4 BAB 4: MEMARAHI ANAK KESAYANGAN
5 BAB 5: PENYESALAN
6 BAB 6: MINTA PEMBANTU
7 BAB 7: PUNYA PEMBANTU
8 BAB 8: PUNYA PEMBANTU
9 BAB 9: PEMBANTU BARU
10 BAB 10: CERITA SAAT MENCUCI
11 BAB 11: PEMBANTU MINTA PULANG
12 BAB 12: DIMARAHI ORANG TUA
13 BAB 13: NGAMBEK LAGI
14 BAB 14: KEMBALI MEMINTA SYARAT
15 BAB 15: MEMINTA RUMAH
16 BAB 16: MEMINDAH RUMAH
17 BAB 17: RUMAH YANG BUTUH KERAMAIAN
18 BAB 18: PENGGEMBALA CILIK
19 BAB 19: RUMAH YANG KOTOR
20 BAB 20: BERONTAK
21 BAB 21: KEGUGURAN
22 BAB 22: RUMAH POHON
23 BAB 23: MENJADI ANAK KAKEK DAN NENEK
24 BAB 24: ANAK PINTAR
25 BAB 25: PENCURI KAYU BAKAR
26 BAB 26: ANAK PERTAMA
27 BAB 27: PERUBAHAN ZAMAN
28 BAB 28: MURID TELADAN
29 BAB 29: SEKOLAH FAVORIT
30 BAB 30: BERAS DIMAKAN GERANDONG
31 BAB 31: MENYINGKIRKAN KELUARGA MERTUA
32 BAB 32: ADIK NAKAL
33 BAB 33: ANAK PINTAR
34 BAB 34: MEMBUKA WARUNG
35 BAB 35: INTERKOM
36 BAB 36: HARUS OPNAM
37 BAB 37: TELAH HILANG GIGI EMAS
38 BAB 38: DICARIKAN PACAR
39 BAB 39: PENCURI WARUNG
40 BAB 40: MAKLAR TANAH
41 BAB 41: MOTOR BARU
42 BAB 42: RUMAH GEDUNG
43 BAB 44: MINTA MOBIL
44 BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
45 BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
46 BAB 43: JIMAT PENUNGGU RUMAH
47 BAB 44: MINTA MOBIL
48 BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
49 BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
50 BAB 47: JADI GURU
51 BAB 48: SAYANG NENEK
52 BAB 49: PAMER GELANG
53 BAB 50: BERUBAH SIFAT
54 BAB 51: WATAK PUN BERUBAH
55 BAB 52: NAIK HAJI
56 BAB 53: PULANG HAJI
57 BAB 54: HAJI MABRUR
58 BAB 55: AGAMIS
59 BAB 56: KELUH KESAH SEORANG NENEK
60 BAB 57: PUSAKA LELUHUR
61 BAB 58: SEMAKIN MENYIMPANG
62 BAB 59: SEMUANYA BISA
63 BAB 60: JIKA ADA UANG JADI GAMPANG
64 BAB 61: PENGUSAHA HEBAT
65 BAB 62: PENGUSAHA GAGAL
66 BAB 63: JADI DOKTER
67 BAB 64: WANITA PELENGKAP
68 BAB 65: DEMO
69 BAB 66: NENEK SAKIT
70 BAB 67: KEHILANGAN ORANG-ORANG TERCINTA
71 BAB 68: SEMUA MENUNGGU
72 BAB 69: PENSIUNAN MENYUSAHKAN
73 BAB 70: TETAP MERASA HEBAT
74 BAB 71: MEMBAGI WARISAN
75 BAB 72: MENUNTUT LEBIH
76 BAB 73: SERANGAN JANTUNG
77 BAB 74: DOKTER SOMBONG
78 BAB 75: BAYANG HITAM
79 BAB 76: TUAN JONO MENINGGAL
80 BAB 77: LEBARAN KELABU
81 BAB 78: ORANG-ORANG SERAKAH
82 BAB 79: IKHLAS
83 BAB 80: INNA MA'AL USRI YUSRA
84 BAB 81: WARISAN TERKUTUK
85 BAB 82: KATA-KATA MENYAKITKAN
86 BAB 83: PENJAGA ITU TERNYATA ADA
87 BAB 84: TEROR PERTAMA
88 BAB 85: SIAPA YANG TIDAK PERCAYA HANTU?
89 BAB 86: TEROR KEDUA
90 BAB 87: PERINGATAN DOSA
91 BAB 88: PENANTANG SETAN
92 BAB 89: JANGAN GEGABAH
93 BAB 90: BANASPATI
94 BAB 91: DUKUN SAKTI
95 BAB 92: TAK PERNAH JERA
96 BAB 93: KEHILANGAN KAKI
97 BAB 94: MENANTANG SETAN
98 BAB 95: KEMARAHAN ISTRI
99 BAB 96: ANCAMAN ULAR
100 BAB 97: TATO KULIT ULAR
101 BAB 98: IKATAN NAGA GINI
Episodes

Updated 101 Episodes

1
BAB I: PERNIKAHAN TUAN JONO
2
BAB 2: NGUNDUH MANTU
3
BAB 3: TINGGAL BERSAMA MERTUA
4
BAB 4: MEMARAHI ANAK KESAYANGAN
5
BAB 5: PENYESALAN
6
BAB 6: MINTA PEMBANTU
7
BAB 7: PUNYA PEMBANTU
8
BAB 8: PUNYA PEMBANTU
9
BAB 9: PEMBANTU BARU
10
BAB 10: CERITA SAAT MENCUCI
11
BAB 11: PEMBANTU MINTA PULANG
12
BAB 12: DIMARAHI ORANG TUA
13
BAB 13: NGAMBEK LAGI
14
BAB 14: KEMBALI MEMINTA SYARAT
15
BAB 15: MEMINTA RUMAH
16
BAB 16: MEMINDAH RUMAH
17
BAB 17: RUMAH YANG BUTUH KERAMAIAN
18
BAB 18: PENGGEMBALA CILIK
19
BAB 19: RUMAH YANG KOTOR
20
BAB 20: BERONTAK
21
BAB 21: KEGUGURAN
22
BAB 22: RUMAH POHON
23
BAB 23: MENJADI ANAK KAKEK DAN NENEK
24
BAB 24: ANAK PINTAR
25
BAB 25: PENCURI KAYU BAKAR
26
BAB 26: ANAK PERTAMA
27
BAB 27: PERUBAHAN ZAMAN
28
BAB 28: MURID TELADAN
29
BAB 29: SEKOLAH FAVORIT
30
BAB 30: BERAS DIMAKAN GERANDONG
31
BAB 31: MENYINGKIRKAN KELUARGA MERTUA
32
BAB 32: ADIK NAKAL
33
BAB 33: ANAK PINTAR
34
BAB 34: MEMBUKA WARUNG
35
BAB 35: INTERKOM
36
BAB 36: HARUS OPNAM
37
BAB 37: TELAH HILANG GIGI EMAS
38
BAB 38: DICARIKAN PACAR
39
BAB 39: PENCURI WARUNG
40
BAB 40: MAKLAR TANAH
41
BAB 41: MOTOR BARU
42
BAB 42: RUMAH GEDUNG
43
BAB 44: MINTA MOBIL
44
BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
45
BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
46
BAB 43: JIMAT PENUNGGU RUMAH
47
BAB 44: MINTA MOBIL
48
BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
49
BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
50
BAB 47: JADI GURU
51
BAB 48: SAYANG NENEK
52
BAB 49: PAMER GELANG
53
BAB 50: BERUBAH SIFAT
54
BAB 51: WATAK PUN BERUBAH
55
BAB 52: NAIK HAJI
56
BAB 53: PULANG HAJI
57
BAB 54: HAJI MABRUR
58
BAB 55: AGAMIS
59
BAB 56: KELUH KESAH SEORANG NENEK
60
BAB 57: PUSAKA LELUHUR
61
BAB 58: SEMAKIN MENYIMPANG
62
BAB 59: SEMUANYA BISA
63
BAB 60: JIKA ADA UANG JADI GAMPANG
64
BAB 61: PENGUSAHA HEBAT
65
BAB 62: PENGUSAHA GAGAL
66
BAB 63: JADI DOKTER
67
BAB 64: WANITA PELENGKAP
68
BAB 65: DEMO
69
BAB 66: NENEK SAKIT
70
BAB 67: KEHILANGAN ORANG-ORANG TERCINTA
71
BAB 68: SEMUA MENUNGGU
72
BAB 69: PENSIUNAN MENYUSAHKAN
73
BAB 70: TETAP MERASA HEBAT
74
BAB 71: MEMBAGI WARISAN
75
BAB 72: MENUNTUT LEBIH
76
BAB 73: SERANGAN JANTUNG
77
BAB 74: DOKTER SOMBONG
78
BAB 75: BAYANG HITAM
79
BAB 76: TUAN JONO MENINGGAL
80
BAB 77: LEBARAN KELABU
81
BAB 78: ORANG-ORANG SERAKAH
82
BAB 79: IKHLAS
83
BAB 80: INNA MA'AL USRI YUSRA
84
BAB 81: WARISAN TERKUTUK
85
BAB 82: KATA-KATA MENYAKITKAN
86
BAB 83: PENJAGA ITU TERNYATA ADA
87
BAB 84: TEROR PERTAMA
88
BAB 85: SIAPA YANG TIDAK PERCAYA HANTU?
89
BAB 86: TEROR KEDUA
90
BAB 87: PERINGATAN DOSA
91
BAB 88: PENANTANG SETAN
92
BAB 89: JANGAN GEGABAH
93
BAB 90: BANASPATI
94
BAB 91: DUKUN SAKTI
95
BAB 92: TAK PERNAH JERA
96
BAB 93: KEHILANGAN KAKI
97
BAB 94: MENANTANG SETAN
98
BAB 95: KEMARAHAN ISTRI
99
BAB 96: ANCAMAN ULAR
100
BAB 97: TATO KULIT ULAR
101
BAB 98: IKATAN NAGA GINI

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!