Tuan Jono akhirnya sampai di rumah mertuanya. Dan ia melihat istrinya memang ada di situ. Ciblek sudah duduk jegrang pada dingklik (tempat duduk panjang yang terbuat dari kayu yang dibelah atau sisa kayu penggergajian yang tidak terpakai), yang terdapat di teras depan pada rumah yang terbuat dari anyaman bambu itu. Tentunya ditemani oleh ibu dan bapaknya. Mungkin saja tiga orang itu sedang membicarakan masalah pernikahan Ciblek dengan Tuan Jono. Namun tentunya, itu adalah kebiasaan dari keluarga Ciblek, karena memang mereka tidak punya pekerjaan yang penting di rumahnya.
"Kenapa kamu datang kemari? Mau menjemput anakku lagi?!" Tanya ayah Ciblek atau mertua laki-laki Tuan Jono, pastinya dengan suara ketus.
Kaget Tuan Jono yang baru sampai itu langsung ditanyai seperti itu oleh mertuanya, yang tentunya dengan nada tidak menyenangkan serta mimik yang tidak sedap untuk dilihat. Tuan Jono sudah menebak, pasti Ciblek sudah mengadu kepada ayahnya, yang tentunya dirinya minta makanan enak, tetapi tidak diberikan oleh suaminya. Dan pastinya apa yang dikatakan oleh Ciblek kalimatnya dijelek-jelekkan untuk meyakinkan pada orang tuanya.
"Iya, Pak. Sambil ini. Mau memberikan ini. Saya membelikan rujak untuk Adinda Ciblek." kata Tuan Jono agak takut-takut sambil menunjukkan bungkusan rujak yang sudah dibelinya dari pasar dekat kantornya.
"Rujak?! Memangnya siapa yang meminta rujak?!" kata Ciblek tak kalah ketus, yang tentunya menang kuasa kerena berada di rumah orang tuanya sendiri, apalagi ditunggui kedua orang tuanya yang pasti akan membela dirinya.
"Iya. Ini, rujak untuk kamu. Segar dan enak." kata Tuan Jono yang memberikan bungkusan rujak kepada istrinya.
"Tidak! Aku tidak mau!" sahut Ciblek yang langsung memalingkan mukanya. Tidak mau melihat suaminya. Ia menolak pemberian suaminya.
"Hlhoh?!" hati Jono langsung menciut. Pasti istrinya ngambek lagi. Tangan yang sudah terjulur mau memberikan bungkusan rujak itu kembali lemas karena kecewa.
"Nak Jono, kenapa orang tua kamu selalu marah-marah kepada Ciblek? Saya saja yang orang tuanya asli, bapak dan ibunya yang membesarkan Ciblek, tidak pernah memarahi anakku sendiri." kata ayah Ciblek yang langsung menusuk telinga Tuan Jono.
Tentu Tuan Jono langsung terkaget mendengar kata-kata mertuanya yang menuduh orang tuanya memarahi Ciblek. Kembali terbersit dalam pikiran Tuan Jono, pasti istrinya sudah memfitnah lagi orang tuanya. Padahal sepengetahuan Tuan Jono, orang tuanya tidak pernah memarahi.
"Marah?! Siapa yang memarahi Ciblek? Bapak atau Mamak?" tanya Tuan Jono yang tentu kaget dengan kata-kata mertua laki-lakinya itu. Ia pun ingin tahu siapa yang memarahi Ciblek.
"Nak Jono, saya izinkan kamu untuk memperistri Ciblek, itu bukan untuk dimarah-marahi, bukan untuk dibentak-bentak, bukan untuk disuruh masak, bukan untuk disuruh mencuci piring. Tetapi Ciblek itu hanya untuk menjadi istri kamu! Bukan untuk dijadikan babu! Saya tidak rela anak saya yang cantik ini disia-sia oleh mertuanya." kata ayahnya Ciblek yang justru berbalik memarahi Jono. Pastinya ayahnya Ciblek tersebut tidak rela kalau anaknya disuruh kerja. Ibarat kata disuruh mengurus rumah seperti babu di rumah mertuanya.
"Glegkht." Jono melenggong. Tidak bisa berkata apa-apa.
Tentu Jono bingung dengan kata-kata ayah mertuanya tersebut. Apakah benar yang dikatakan oleh mertuanya itu? Padahal selama ini, yang ia tahu, Ciblek, istrinya itu adalah perempuan pemalas. Tidak pernah memasak, tidak pernah mencuci piring, bahkan juga tidak pernah menyapu rumah maupun halamannya. Bahkan Mamak Jono sendiri sampai jengkel karena punya menantu yang kerjanya hanya tiduran di kamar. Tidak pernah membantu kerepotan mertuanya. Tetapi Tuan Jono yakin, kalau ibunya tidak pernah memarahi Ciblek. Apalagi bapaknya, yang lebih pendiam, pasti tidak akan memarahi menantunya. Benarkah kata-kata mertuanya itu? Apakah mungkin, ibunya atau bapaknya marah-marah kepada Ciblek saat Jono tidak berada di rumah?
Tentu antara percaya dan tidak percaya. Kalau memang orang tuanya marah-marah kepada istrinya, kenapa kedua orang tuanya tidak pernah memberitahu dirinya? Kalau orang tua Jono tidak pernah marah-marah kepada Ciblek, kenapa ayah mertuanya bisa menegur seperti itu?
Padahal kalau menyaksikan kesehariannya saja, saat ada Siti, pembantu rumah tangganya, yang anaknya sebenarnya sangat rajin dan baik, itu saja selalu dimarahi oleh Ciblek tanpa ada alasan apa-apa. Bahkan ibunya, Nenek Kosen, sangat senang dengan keberadaan Siti yang rajin membantu. Tetapi karena sering dimarahi oleh istrinya itulah maka Siti minta pulang. Tetapi kenapa sekarang justru berbalik seperti ini? Apakah itu benar, atau istrinya yang memutar balik fakta, dengan memfitnah orang tuanya?
"Maaf, Pak. Saya kira tidak seperti itu. Orang tua kami baik. Dan saya yakin orang tua saya tidak pernah memarahi Ciblek. Bahkan sebaliknya, orang tua saya sangat sayang pada Ciblek. Makanya saat ada pembantu, orang tua kami senang, karena pembantunya bisa melayani kami dengan baik. Bahkan Ciblek tidak kami suruh kerja apa-apa." kata Tuan Jono yang berusaha membela diri, dan menampik perkataan ayah mertuanya tersebut.
"Tidak marah, tapi nyindir-nyindir. Lantas kalau ngomongin orang malas juga dengan suara yang keras. Itu ditujukan ke siapa, kalau tidak ke aku?" sahut Ciblek yang rupanya merasa disindir oleh ibu mertuanya.
"Ah, saya kira tidak. Itu biasa saja. Kamunya saja yang baper. Memang suara Mamak itu keras. Tidak ada yang menyindir, tidak ada yang memarahi." bantah Tuan Jono yang tentunya membela ibunya. Dan memang menurut Jono, ibunya tidak memarahi istrinya, meski suaranya keras.
"Halaahh. Alasanmu saja." sangkal Ciblek yang terlihat jengkel. Bibirnya mencucu panjang.
"Ayo lah, Sayang. Kita pulang." rayu Tuan Jono yang meminta pada istrinya.
"Tidak!" tolak Ciblek yang langsung memalingkan muka.
"Pulang ya, Sayang. Kita kan sudah berkeluarga. Dan kita tinggal di rumah Pademangan. Apalagi kamu sedang hamil, harus hati-hati, harus menjaga kandunganmu. Ya, Sayang." kembali Jono merayu istrinya.
"Tidak mau! Pokoknya saya tidak mau pulang!!" kembali Ciblek membentak suaminya.
"Ayo lah. Pokoknya kamu mau minta apa saja, akan saya berikan. Mau pembantu lagi? Besok saya carikan. Tidak usah khawatir." kata Tuan Jono yang tentunya tetap ingin istrinya ikut pulang. Hal itu dilakukan agar keluarganya tidak malu kepada para tetangga yang dikarenakan Ciblek pulang ke orang tuanya.
Ya, memang hidup di kampung itu serba susah. Ada apa sedikit saja, orang se kampung tahu semua. Tentunya, Tuan Jono tidak ingin kemarahan istrinya, yang terus ngambek dan pulang ke rumah orang tuanya itu diketahui oleh tetangga-tetangganya. Ia tidak ingin malu dibicarakan para tetangganya, kalau istrinya pergi, kalau istrinya tidak betah tinggal di rumahnya. Apalagi kalau sampai tersebar fitnah seperti yang disampaikan oleh mertuanya tadi, yang mengatakan kalau Ciblek dimarahi oleh Nenek Kosen maupun Kakek Yan, pasti akan hancur martabat dan harga diri keluarganya. Tuan Jono tidak ingin itu semua terjadi. Makanya, sebisa mungkin ia harus merayu istrinya untuk diajak kembali pulang ke rumahnya.
"Aku mau pulang, kalau kita sudah punya rumah sendiri." begitu kata Ciblek. Dan kali ini permintaannya lebih mengagetkan Tuan Jono.
"Maksud kamu?!" tanya Jono yang kaget dan bingung.
"Aku tidak mau tinggal serumah bersama dengan mertua. Aku maunya hidup berdua sama kamu saja, tidak diganggu oleh mertua, tidak mau disindir-sindir oleh mertua. Pokoknya kita harus pisah dengan Mak dan Kakek." kata Ciblek yang meminta syarat pada suaminya.
"Gleghtk!" Tuan Jono menelan ludah. Kaget dengan kata-kata istrinya yang barusan diucapkan.
Ya, seperti yang dipinta oleh kedua orang tuanya dulu, sebelum menikah, setidaknya Tuan Jono ini bisa mengajak istrinya untuk hidup bersama dengan keluarga Kakek Yan. Setidaknya, Kakek Yan dan Nenek Kosen yang sudah tua-tua, akan pasrah dan meminta bantuan pada anaknya. Mereka berharap istri Jono nantinya, bisa membantu, bisa menolong dan bisa merawat orang tuanya. Harapan orang tuanya hanyalah pertolongan anak pada saat mereka sudah tua dan sudah tidak bisa apa-apa lagi.
Namun, ketika mendengar permintaan istrinya, alangkah sedihnya Tuan Jono. Pasti ia sangat takut untuk menyampaikan hal itu kepada kedua orang tuanya. Jika mendengar kata-kata ingin memisah dari rumah orang tuanya, ia pasti akan dimarahi oleh orang tuanya. Ia akan didamprat habis-habisan. Ia akan dicap sebagai anak yang kurang ajar. Anak yang durhaka.
Memang, di Kampung Pademangan, yang namanya anak bungsu biasanya akan mewarisi rumah keluarganya. Anak ragil biasanya digadang-gadang menjadi anak yang bisa meneruskan rumah tangga orang tuanya. Anak bungsu inilah yang diharapkan bisa menjadi tumpuan hidup bagi orang tuanya kelak kalau mereka sudah tidak sanggup lagi untuk bekerja atau berusaha. Makanya, seluruh warisan yang ditempati terakhir oleh orang tuanya itu, akan menjadi hak milik anak ragil yang hidup bersama dalam satu rumah dengan orang tuanya.
"Kok begitu?" tanya Tuan Jono yang kebingungan untuk memutuskan permintaan istrinya itu.
"Ya, kalau memang tidak mau, ya sudah. Jangan harap saya pulang ke rumah kamu." balas Ciblek yang sepertinya di atas angin untuk memenangkan perdebatan dengan suaminya itu. Ancaman yang tentu sangat menakutkan bagi Tuan Jono.
"Ya ampun, Ciblek. Membangun rumah sendiri itu butuh waktu lama. Dan biayanya juga tidak murah. Butuh uang banyak." kata Tuan Jono yang tentunya merasa hal itu sangat berat untuk dilaksanakan.
"Katanya orang tua kamu itu kaya raya, Nak Jono. Mosok hanya buat rumah untuk anaknya saja tidak bisa." ayah mertuanya ikut menimpali. Rupa-rupanya tidak jauh beda sifat antara anak dan ayahnya. Atau mungkin memang garis keturunannya, maka mewarisi sifat buruk dari orang tuanya.
"Iya, Pak. Tapi itu kan butuh waktu. Buat rumah itu tidak secepat menggoreng ikan asin, Pak. Dan lagi, ada hitungan-hitungan hari untuk mendirikan rumah. Tidak bisa sembarangan." jawab Jono yang tahu persis bagamana susahnya orang mendirikan rumah.
"Ya, sudah. Kalau memang tidak sanggup, biar saya tinggal di rumah orang tuaku saja. Saya tinggal di sini. Walaupun rumah ini jelek, tapi orang tuaku sayang sama aku. Tidak seperti orang tuamu." kata Ciblek yang terus mencari celah untuk memaksa suaminya membuatkan rumah sendiri.
"Baiklah, Ciblek. Nanti akan saya sampaikan kepada Bapak dan Mamak. Tapi pulang dulu ya. Kalau kamu tidak mau pulang, saya tidak akan meminta dibuatkan rumah. Pasti Pak dan Mak juga tidak mau membuatkan rumah karena tidak ada kamu. Saya akan pulang sendiri. Tidak ada kamu juga tidak apa-apa." kata Tuan Jono yang kembali mencoba untuk mengajak istrinya.
"Iya, Nduk. Sana pulang. Biar rumahnya cepat dibuatkan." ibu mertua Tuan Jono menimpal. Pastinya ia ingin besannya membangun rumah untuk anaknya.
"Tapi beneran ya. Besok pagi langsung dibuatkan rumah." sahut Ciblek masih memaksa.
"Iyaaa." jawab Tuan Jono mulai senang.
Akhirnya, dengan bibir yang masih menyucu, Ciblek pun berjalan pulang mengikuti suaminya. Tentunya ia berharap bisa memisahkan diri dari mertuanya. Tentu agar kebebasan dalam hidupnya tidak terganggu oleh kata-kata mertuanya yang dianggap memarahi dirinya. Yah, dasar perempuan yang tidak tahu diuntung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments