Setelah dimarahi oleh bapaknya, Jono pun menyampaikan apa yang dikatakan oleh bapaknya kepada isrtrinya, apa yang harusnya dilakukan oleh istrinya, sebagai seorang ibu rumah tangga. Jono berusaha menjadi suami yang bertanggung jawab dan dapat mengatur istrinya. Maka saat ia berbaring berdua di tempat tidur, Jono berusaha mengajak bicara istrinya.
"Sayang. Tadi siang aku dimarahi Bapak. Gara-gara rumah kita kotor, tidak pernah disapu." kata Jono pada istrinya, tentu sambil mengelus perut istrinya yang sudah mulai membesar.
"Apa urusannya?!" sahut Ciblek ketus. Tentu perempuan ini sudah tidak menganggap lagi mertuanya sebagai orang yang harus dihormati dan ditaati.
"Yah, rumah kita kelihatan jelek, Sayang. Dan kotor. Tidak nyaman dipandang mata. Itu nanti bisa jadi sarang penyakit." tambah Jono.
"Terus, kenapa memang?!" kembali Ciblek merasa tidak berkenan.
"Ya, mestinya disapu, Sayang." kata Jono selanjutnya.
"Ya, sana kamu sapu." jawab Ciblek yang malah menyuruh suaminya untuk menyapu.
"Lhoh. Yang menyapu ya kamu, Sayang." kata Jono yang mulai menegaskan kepada istrinya.
"Enak saja. Mau kotor, mau enggak, itu bukan urusan mereka. Ini rumah kita, bukan rumah mereka. Apa urusannya mereka memperhatikan sampah yang ada di rumah orang. Urusi sendiri saja rumahnya, jangan ikut campur urusan rumah tangga orang!" Ciblek justru marah-marah. tentu tidak senang dengan perintah-perintah orang.
"Bukan orang lain, Sayang. Yang menyuruh menyapu itu Kakek, bapak saya. Mertua kamu." kata Jono kembali menegaskan kepada istrinya.
Memang yang memarahi Tuan Jono adalah bapaknya sendiri. Dan pastinya, para tetangga walapun tahu keadaan halaman rumah Jono yang kotor, tentu tidak berani bilang ke Tuan Jono, Sungkan dengan Kakek Yan. Walaupun sebenarnya mereka juga risih menyaksikan halaman rumah orang lain yang kotor penuh dengan daun-daun yang berserakan.
"Apa urusannya?! Kita ini sudah berumah tangga sendiri. Yang ngurus rumah kita, ya kita sendiri. Bukan orang lain. Dan saya tidak senang kalau Mas Jono masih selalu didekte oleh orang tua kamu. Itu sama artinya dengan Mas Jono masih menetek ibumu. Terus, kapan kita bisa bebas dari orang tua?! Mas Jono harus tegas mengatakan bahwa kita sudah berumah tangga sendiri, tidak boleh diatur oleh orang lain ...!" kata Ciblek yang justru balik memarahi suaminya.
"Jdughtk! Nyut, nyut!"
Jantung Tuan Jono langsung berdegup keras. Hatinya seperti dipukul martil yang sangat besar. Sangat sakit tidak kepalang. Kaget dengan kata-kata istrinya yang justru menyalahkan dirinya. Bahkan menganggap mertuanya, yaitu orang tuanya Tuan Jono sebagai orang lain yang tidak boleh mencampuri urusan keluarganya. Padahal yang dibicarakan di depan tadi sudah jelas, kalau rumahnya kotor dan harus disapu agar kelihatan bersih dan tidak menjadi sarang penyakit. Niatan Tuan Jono untuk menyuruh istrinya menyapu halaman jadi sirna. Perkataannya yang menyampaikan perintah bapaknya, justru dibalik menjadi senjata untuk memarahi suaminya. Ciblek justru meminta agar suaminya tegas, jangan mau dipengaruhi orang lain. Lemas sekujur tubuh Tuan Jono.
Tentu Jono menangis dalam batin. Istrinya benar-benar keterlaluan. Mertuanya sendiri dianggap sebagai orang lain yang tidak boleh mencampuri urusan rumah tangganya. Kalau hal ini sampai didengar oleh bapak dan ibunya, pasti orang tuanya akan marah besar. Kakek Yan dan Nenek Kosen pasti akan tersinggung.
"Tapi, Sayang. Bukankah kewajiban kita salah satunya memang harus menyapu halaman, membersihkan pekarangan? Agar rumah kita terlihat bersih dan asri. Bahkan bila perlu ditanami bunga-bungaan, biar baunya harum." kata Tuan Jono yang mencoba memberi pengertian kepada istrinya.
"Kalau Mas Jono mau menuruti kata orang, silahkan saja turuti kata orang lain, lakukan saja sendiri. Kalau aku tidak sudi!" kilah istrinya yang seakan-akan menimpakan semua pekerjaan pada suaminya.
"Lhoh, kamu itu bagaimana sih, Ciblek? Yang menegur saya itu bapakku, mertua kamu. Bukan orang lain." bantah Tuan Jono yang tidak mau kalau orang tuanya itu disamakan dengan orang lain.
"Tetapi kita kan sudah berumah tangga sendiri, Mas!" bantah Ciblek.
"Kalau memang kita sudah berumah tangga sendiri, maka saya sebagai kepala keluarga, sebagai suami kamu, minta agar kamu menyapu halaman!" Jono membentak istrinya.
"Mas?!" Ciblek kaget, tentu kesal dengan suaminya yang tiba-tiba membentak.
"Kamu itu harus sadar, bahwa kamu di sini ikut saya. Kamu itu sitri saya. Saya sudah mengalah terus-terusan. Mencuci saya lakukan sendiri. Bahkan mencuci pakaianmu juga saya lakukan. Masak, sudah saya kerjakan. Apa yang kamu lakukan selama ini?! Disuruh menyapu saja masih tidak mau. Terus, kamu itu mau ngapain?!" Tuan Jono yang tentunya sudah mulai jengkel, akhirnya berani juga memarahi istrinya.
"Kalau Mas Jono tidak mau menerima saya di sini, pulangkan saja saya ke rumah orang tuaku!" kembali Ciblek mengancam suaminya.
"Kalau mau pulang ke rumah orang tuamu, pulang saja sendiri!" bentak Jono yang mulai berani menentang istrinya.
Ciblek terdiam. Duduk membelakangi suaminya di dipan tempat tidurnya. Wajahnya masam cemberut. Bibirnya mulai memoncong. Pertanda sangat tidak bisa menerima kata-kata suaminya. Apalagi saat dibentak disuruh pulang sendiri. Pasti Ciblek kaget. Ternyata suaminya tidak takut diancam.
Tuan Jono keluar dari kamarnya. Tentunya ia tidak mau berlarut dengan memarahi istrinya. Bahkan ia juga membuka pintu depan dan keluar rumah. Hatinya pengap, sumpek di dalam rumah yang menurutnya sedang ada api yang membara, yaitu api kemarahan istrinya.
"Hai, Jono!" tiba-tiba terdengar ada orang yang menyapanya dari jalan depan rumahnya.
Tuan Jono memperhatikan laki-laki yang memanggilnya dari jalanan depan rumahnya itu, mengamati secara seksama untuk memastikan orang yangmemanggilnya. Maklum kala itu listrik belum masuk ke Kampung Pademangan, sehingga belum ada penerangan jalan. Tentu agak sulit untuk memastikan orang yang berada di kegelapan.
"Ya! Wah, Man Jenggot, ya. Mau ke mana?" sahut Tuan Jono dari teras rumahnya, yang tahu kalau yang memanggilnya adalah teman sepermainannya dulu. Tentu sebelum Tuan Jono menikah, mereka sangat akrab. Bahkan sering berganti tidur mengungsi di rumah masing-masing teman. Biasa, kala itu yang namanya tidur mengungsi di rumah teman sering dilakukan oleh kebanyakan orang kampung, terutama remaja laki-laki.
"Ke rumah Bawor." jawab temannya yang dipanggil Man Jenggot tersebut.
"Aku ikut!" teriak Tuan Jono yang langsung berlari menyusul temannya yang masih berdiri di jalan depan rumahnya.
"Ayo." ajak Man Jenggot.
Selanjutnya, mereka berdua berjalan bersama menyusuri gelapnya malam, menuju rumah teman yang lainnya, yaitu Bawor. Tidak jauh. Hanya berselang beberapa rumah dari tempat kediaman Tuan Jono. Maka hanya dalam sekejap, mereka berdua sudah sampai di rumah Bawor.
"Waaaah. Nggak ada hujan, gak ada angin, ada tamu agung datang ke rumahku." kata Bawor yang menyindir Jono.
"Iya, gak tahu juga, nich. Tadi waktu aku lewat di depan rumahnya, kebetulan ia pas keluar pintu. Aku panggil. Eee, malah dianya ngikut." kata Man Jenggot pada Bawor.
"Nha, begitu Jono. Jangan sembunyi di ketiak istrimu terus. Mentang-mentang punya istri cantik, terus tidak mau keluar rumah." sahut Bawor mengejek Jono.
"Bukannya saya sembunyi. Tapi, saya kan sudah menikah. Saya harus menunggui istri saya. Kamu tahu sendiri, kan, istri saya penakut." jawab Jono yang mencari alasan.
"Halah. Itu alasanmu saja, Jono." bantah teman-temannya.
"Iya, Jono. Kamu itu sudah banyak dibicarakan orang. Terutama para teman kita. Setelah kamu menikah, sepertinya berubah jadi orang aneh. Dan istri kamu, juga tidak pernah kelihatan. Tidak pernah keluar rumah. Memang sengaja kamu sembunyikan, ya? Biar tambah putih?" kata Bawor yang sebenarnya juga sudah memerhatikan kehidupan Jono.
"Ah, siapa bilang? Kami baik-baik saja, kok." kata Jono membela diri.
"Kamu itu. Selalu saja mengelak. Semua orang tahu keadaanmu. Kemarin saja waktu Kakek Yan memindah rumahnya, kamu tidak kelihatan. Istrimu apalagi. Terus, kamu ke mana? Pak Yan tu orang tuamu, Jono. Masak kamu tega sama orang tua sendiri. Bapakmu itu orang yang mengukir jiwa ragamu. Bahkan semua harta yang kamu tempati itu, sudah pasti akan diberikan ke dirimu. Kamu anak yang tak tahu diri, Jono." kata Man Jenggot yang seakan memarahi sahabatnya.
"Kok, kalian malah memarahi saya?!" kata Jono yang merasa dimarahi temannya. Dan hal itu pastinya tidak disangka oleh Tuan Jono kalau kedatangannya di rumah temannya itu justru akan diungkit permasalahan keluarganya. Tentu Tuan Jono kecewa dengan sikap teman-temannya itu.
"Kami tidak marah, Jono. Tapi kami menasehati kamu. Itu kalau kamu mau. Kalau merasa keberatan, ya pulang saja sana." Sahut Man Jenggot.
"Ya, siapa juga yang nyuruh kamu datang ke rumahku?!" timpal Bawor.
Jono terdiam. Ia merasa keliru. Dan kata-kata temannya itu memang benar. Tentu ia tidak bisa protes. Dan pastinya juga tidak bisa menyalahkan teman-temannya. Apalagi memang, tingkah istrinya yang sangat keterlaluan sudah membuat Jono tidak bisa berbuat apa-apa. Pasti Jono langsung disorot oleh teman-temannya. Bahkan juga para tetangganya.
"Jono, sorga itu ada di telapak kaki ibu. Tetapi saya dengar, kamu juga sudah menyakiti hati ibumu. Kamu bisa kuwalat, Jono. Kamu dosa besar, bisa kena laknat dan masuk neraka. Istrimu jangan kamu jadikan alasan untuk mengusir orang tuamu. Kamu malah jadi anak durhaka yang berani mengusir orang tua sendiri. Apa kamu ingin jadi anak seperti Malin Kundang?" kata Man jenggot yang kembali menasehati temannya itu.
Namun tiba-tiba, wajah Jono berubah sedih, ia menunduk dan mengguguk menangis tersedu. Kata-kata temannya itu sudah menusuk hatinya, sudah menyibak tabir sanubarinya, sudah menunjukkan kesalahannya, sudah membuka mata hatinya untuk sadar dengan kekeliruannya selama ini.
"Terima kasih, teman-teman. Saya tahu, saya salah. Tapi terus terang, saya tidak bisa melepas persolan ini begitu saja. Sangat berat. Huhuhu." kata Jono yang mengungkapkan sambil menangis.
"Sabar, Jono Yang tabah. Jangan bersedih. Semua pasti ada jalan keluarnya." dua orang temannya itu mengelus punggung Jono yang menangis sesenggukan.
"Tapi bagamana? Saya bingung. Sebenarnya saya tidak menghendaki itu semua. Saya terus terang ingin jadi orang baik. Ingin berbakti kepada orang tua, tidak ingin menyakiti hati orang tua." Jono kembali menangis, kali ini ia memeluk dua orang tuanya.
"Jono! Kamu harus jadi laki-laki yang sebenarnya, yang seperti dulu. Pemberani dan tidak goyah dipengaruhi orang lain. Termasuk istri kamu. Kamu itu suami, harus bisa mengatur keluargamu. Kamu harus berani mengatur istrimu, selama itu adalah kebenaran. Jangan takut dengan istri." begitu saran teman-temannya kepada Jono.
Ya, tentu teman-temannya tahu kalau Tuan Jono selama ini kalah dengan istrinya. Oleh sebab itu, teman-temannya ingin mengingatkan Jono agar kembali pada sifat aslinya, pemuda yang selalu membela kebenaran, memajukan desanya, dan taat kepada orang tua.
"Jono! Kamu harus berani mengambil sikap, untuk mengatakan tidak pada istri kamu, manakala ia mencoba meminta hal yang tidak baik. Kasihan orang tua kamu. Dan sebenarnya, kami juga kasihan melihat dirimu yang seakan diinjak-injak oleh istrimu. Kenapa dirimu begitu lemah menghadapi istrimu yang sebenarnya, maaf, istrimu seharusnya sangat tunduk dan menurut denganmu. Kamu punya segala-galanya, Jono. Jangan takut. Orang tuamu kaya raya, kamu sudah menjadi pegawai pemerintahan, kamu tidak kurang apa-apa." tutur teman-temannya, yang tentu merasa kasihan melihat kehidupan Jono yang kalah dengan istrinya.
"Iya. Akan aku coba. Semoga saya bisa melakukannya." kata Jono yang mulai percaya diri, akan bisa mengatur rumah tangganya.
"Pulanglah. Tidak baik kamu berlama malam-malaman di sini." kata Bawor yang tentunya tidak ingin ada masalah di rumahnya.
"Tidak. Aku tidak akan pulang. Aku mau tidur di sini. Aku ingin tidur bersama kalian, seperti saat-saat kita remaja lajang dulu." jawab Jono yang tidak mau pulang.
Dan Jono, benar-benar tidak pulang. Ia sengaja ingin melawan kekerasan istrinya. Ia mencoba berontak pada istrinya yang selama ini sudah dibiarkan melintas di jalan yang salah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Vita Astroni bellis
Jono bisa menyelesaikan masalah rumah tangganya
2024-12-29
1