Setelah Siti, sang pembantu itu pulang kampung, mau tidak mau Nenek Kosen kembali sibuk mengurusi rumah. Terutama saat masak. Baru dirasa oleh Nenek Kosen, betapa pentingnya seorang bocah yang bernama Siti, sebagai pembantu rumah tangga, yang mampu menyelesaikan banyak pekerjaan. Setidaknya bisa meringankan pekerjaan Nenek Kosen. Tetapi kini, setelah Siti tidak ada, kembali Nenek Kosen harus mengerjakan apa-apa sendiri lagi. Terutama untuk memasak dan mencuci perkakas dapur.
Yah, aktivitas si nenek yang tiap pagi harus pergi ke pasar untuk membawa barang-barang hasil bumi yang harus dijual, terpaksa kembali kesiangan. Karena harus menyiapkan masakan dan mengurusi dapur sendirian lagi. Alih-alih dibantu oleh Ciblek, tingkah menantunya itu malah bikin kesal. Akhirnya, setiap kali sampai pasar, barang-barang dagangan, seperti singkong, ubi-ubian, nangka muda, maupun sayuran yang dipetik dari pekarangannya sendiri itu, tidak habis terjual dan terpaksa dibawa pulang lagi, karena para pembeli di pasar sudah sepi, sudah pada belanja lebih awal. Akibatnya, Nenek Kosen pun hanya dapat uang sedikit, dan tentunya untuk berbelanja lauk pauk dan kebutuhan dapur lainnya dapatnya juga sedikit.
Di tambah lagi, setiap hari menyaksikan menantunya yang tak kunjung berubah, tetapi seakan justru memanfaatkan kesempatan kehamilannya itu untuk lebih bermanja dan lebih bermalasan. Tentu hal itu menambah pahitnya pemandangan di rumah Nenek Kosen. Boleh dikata, punya menantu perempuan tidak semakin ringan beban pekerjaan dapurnya, tetapi justru bertambah berat. Alih-alih ada yang membantu menyelesaikan pekerjaan rumah, justru menambah emosi dan kejengkelan Nenek Kosen. Bahkan Jono sendiri, sebagai suaminya Ciblek, sudah merasakan susahnya meladeni istrinya itu. Namun setiap kali diberi tahu, diingatkan, dinasehati, Ciblek selalu mengatakan kalau itu hanyalah "gawan bayen" atau bawaan anaknya yang ada dalam kandungannya.
"Mas, aku minta makan yang enak-enak!" pinta Ciblek pada suaminya di suatu pagi sebelum Tuan Jono berangkat kerja.
"Mau makan apa?" tanya Jono yang tentunya tidak ingin mengecewakan istrinya. Takut kalau kelak anaknya ngiler atau ngeces (air liurnya keluar dari mulut) karena permintaannya tidak keturutan. Ya, kepercayaan orang-orang dulu, katanya kalau hamil dan mengidam, kalau yang dminta tidak keturutan maka kelak kalau bayinya lahir akan ngiler, air liurnya keluar terus dari mulut bayi itu.
"Pokoknya yang enak-enak!" tukas Ciblek yang hanya menyebut makanan yang enak-enak.
"Makanan yang enak itu kan banyak jenisnya." sahut Tuan Jono.
"Pokoknya aku mau makanan yang enak-enak!" kembali Ciblek menyebut makanan yang enak-enak sambil bertingkah tidak karuan.
"Ya, nanti kalau saya pulang kerja, saya belikan makanan yang enak-enak." kata Jono yang menenangkan istrinya.
"Tidak mau! Maunya sekarang!" kembali Ciblek memaksa agar dicarikan makanan yang enak, sambil semakin berulah.
"Ya ampun. Ini masih terlalu pagi. Dan kalau mencari makanan yang enak-enak itu mesti ke dekat kota atau pasar. Mestinya kamu itu ke dapur, bantu Mamak untuk memasak. Sokur kamu bilang ke Mamak, minta mau dimasakkan apa. Makanan enak apa yang kamu inginkan. Nanti kalau Mamak ke pasar, mungkin bisa dibelikan." kata Tuan Jono yang tentu tidak mungkin untuk mencarikan makanan enak yang belum tahu wujudnya seperti apa, namanya apa, dan yang jualan ada di mana. Tentu Tuan Jono juga bingung.
"Tidak mau! Pokoknya saya minta makanan yang enak sekarang!" kata Ciblek yang kembali memaksa suaminya dengan nada marah.
"Begini saja. Ayo kita jalan-jalan, kamu pengin apa, nanti aku belikan. Kamu yang pilih sendiri." kata Jono yang menawarkan mengajak istrinya mencari makanan yang dikehendaki sambil jalan-jalan ke luar.
"Tidak mau! Pokoknya belikan!" Ciblek justru membentak suaminya.
Tuan Jono menjadi bingung. Tidak tahu apa yang dikehendaki oleh istrinya. Bahkan juga bingung, mau mencari makanan yang diinginkan istrinya itu di mana. Maklum, zaman itu, sekitar tahun tujuh puluhan, Kampung Pademangan masih merupakan desa yang jauh dari pasar. Bahkan tidak ada masyarakat Pademangan yang menjual masakan siap saji di pagi hari. Warga kampungnya masih lugu dan masih tradisionil. Masak hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sendiri. Kalau pun ada yang membagikan ke tetangga, itu adalah rasa syukurnya karena punya makanan yang berlimpah. Kehidupan petani yang hanya mengandalkan lahan sawah, tegalan dan kebun, tidak memberikan uang berlebih bagi masyarakatnya. Sehingga tidak ada warga yang menghamburkan uang hanya untuk beli makanana atau sarapan. Untuk kebutuhan makan sehari-hari, semuanya disediakan sendiri dari hasil panennya, serta hasil pekarangan yang ada. Kalau pun ada hasil panen yang banyak, maka mereka jual ke pasar dan uangnya disimpan untuk keperluan yang sangat penting. Sehingga sudah sangat biasa kalau orang-orang di Kampung Pademangan hanya makan ubi-ubian yang direbus untuk sarapan paginya. Kalau pun ada yang makan nasi dari beras atau nasi jagung, itu hanya dikalangan warga yang mampu atau kaya.
Karena istrinya marah melulu, dan saking bingungnya untuk memenuhi permintaan istrinya akhirnya Jono keluar kamar, dan menemui ibunya yang sedang memasak di dapur.
"Mak, Mamak." begitu panggil Jono pada ibunya di pagi itu yang tentu masih sibuk masak di dapur.
"Iya. Ada apa, Jono?" sahut ibunya tanpa memandangi anaknya.
"Makanan yang enak-enak itu apa? Itu Ciblek, minta makanan yang enak-enak." tanya Jono pada ibunya.
"Ya, makan nasi, sayurnya gudek gori (nangka muda), lauknya ikan asin, sama sambal korek. Itu, josss. Enak." jawab ibunya, yang memang pagi itu sudah menyiapkan masakan sayur gudek gori.
"Alaah, Mamak, itu lho. Ditanyai beneran kok malah meledek." tentu Jono jengkel dengan jawaban ibunya, yang pastinya tidak sesuai dengan yang diinginkan istrinya.
"Kamu itu gimana sih, Jono. Coba kamu lihat di dapurnya para tetangga. Tidak ada yang sanggup masak masakan seperti Mamak. Masakan Mamak ini sudah yang paling hebat. Paling enak. Sudah sangat istimewa. Ini gudeknya saja Mamak kasih balungan (tulang iga sapi yang sudah diambil dagingnya, hanya tingga daging yang tersisa menempel di tulang). Kemarin Mamak sengaja beli balungan untuk masak gudek. Lah, kalau kamu tahu di tempat para tetangga, paling-paling sarapannya nasi wadang (sisa nasi hari kemarin). Malah tidak jarang yang hanya sarapan singkong rebus. Banyak juga yang tidak bisa makan. Kok kamu masih meremehkan masakan Mamak. Istrimu itu sudah beruntung makan tiap hari. Kok masih macam-macam minta makanan enak-enak." kata ibunya yang tentu tidak senang kalau masakannya diremehkan oleh anaknya.
Memang, pada masa itu, masakan sayur gudek dari nangka muda yang dikasih potongan-potongan tulang sapi yang sudah diiris dagingnya, atau yang oleh orang Kampung Pademangan disebut dengan istilah balungan, itu sudah merupakan masakan yang luar biasa enaknya. Dan biasanya, warga masyarakat Pademangan banyak yang hanya sarapan dengan nasi sisa hari kemarin, atau yang biasa disebut "sego wadang".
"Kok setiap hari masaknya sayur gudek melulu sih, Mak?" sahut Jono.
"Heh, Jono! Kita itu punyanya hanya nangka muda. Kalau memang mau yang lain, ya besok saya masakkan sayur daun singkong. Biar nanti diambilkan kelapa yang agak muda, untuk masak oblok-oblok. Nanti di pasar saya belikan krese (udang kering) biar sedap." jawab ibunya lagi yang tentunya memberi alternatif ganti masakan lain.
Memang, Nenek Kosen ini sebenarnya sangat sayang terhadap anak bungsunya itu, yaitu Jono. Maka kalau anaknya itu mau minta apa saja, biasanya langsung dituruti kemauannya. Apalagi kalau hanya sekedar minta sayur daun singkong atau sayur bayam, semuanya pasti dibuatkan. Karena hanya tinggal memetik di pekarangan rumah. Semua sudah tersedia, tanpa harus beli, tanpa harus mengeluarkan uang. Bahkan saking banyaknya, maka biasanya dijual ke pasar.
"Tapi, Mak. Itu. Ciblek minta makan, makanan yang enak-enak." kata Jono yang menyampaikan kemauan istrinya pada ibunya.
"Lha, memang masakan Mamak, makanan-makanan yang disediakan oleh Mamak kurang enak?" kata ibunya yang tentu sambil menatap penuh tanda tanya kepada anaknya itu.
"Bukan begitu, Mak. Ciblek minta makanan yang enak-enak. Dia kan sedang hamil, Mak. Ciblek ngidam." kata Jono yang ingin menegaskan kata-katanya.
"Heh, Jono! Kalau memang istrimu itu tidak doyan masakan Mamak, kalau istri kamu itu maunya minta makanan yang enak-enak. Suruh masak sendiri! Saya bisanya masak seperti ini! Tidak bisa masak yang enak-enak!" tentu Nenek Kosen marah dan membentak mendengar kata-kata anaknya itu. Dasarnya Nenek Kosen memang sudah tidak senang dengan menantunya yang pemalas itu.
"Lho, lho, lho. Mamak, kok marah?" kata Jono yang sadar kalau ibunya marah.
"Ya, iya. Bagaimana saya tidak jengkel! Coba kamu lihat, sudah siang begini Mamak belum berangkat ke pasar. Ini semua gara-gara Mamak harus memasak dahulu! Menyiapkan makan untuk keluarga, untuk kamu dan untuk semuanya! Masih kurang enak?! Istri kamu kerja apa?! Apa pernah membantu pekerjaan rumah?! Apa istri kamu pernah pegang cucian gelas dan piring kotor?! Apa istri kamu pernah memasak?! Semuanya yang kerja Mamak! Mamak itu sudah repot, tapi kamu masih mengolok! Anak tidak tahu terima ksaih saya orang tua yang bersusah payah." tentu Nenek Kosen semakin emosi. Marah kepada Jono. Bahkan sudah berani mengungkapkan kejengkelannya terhadap sifat menantunya yang pemalas. Dan suaranya sengaja dikeraskan, yang tentunya agar Ciblek yang pemalas itu, yang hanya mendekam di kamar, mendengar keluhan mertuanya.
"Mak, Mak, sabar, Mak." kata Jono yang menenangkan ibunya agar tidak marah.
"Kurang sabar apa, saya ini! Punya menantu pemalas! Kerjanya molor melulu. Kalau mau makanan yang enak-enak, suruh masak sendiri! Saya sudah bosan melihat orang yang pemalas!" kata Nenek Kosen yang semakin marah dan emosi.
"Ada apa, Nek?" tentu Kakek Yan yang mendengar kata-kata keras dari istrinya itu, langsung menghampiri ke dapur, dan ingin tahu apa yang terjadi.
"Itu, anakmu sudah berani kurang ajar sama orang tua! Percuma kita membesarkan anak yang tidak tahu balas budi. Dibesarkan, disayang, disekolahkan, dicarikan kerja. Tahunya malah kurang ajar sama orang tua." kata Nenek Kosen yang kesal sambil menunjuk ke arah muka Jono.
"Jono! Kenapa kamu itu?! Berani sama Mamak kamu. Kuwalat nanti kamu! Anak durhaka kamu itu!" kata Kakek Yan yang ikut memarahi anaknya. Tentu Kakek Yan sebenarnya juga memendam jengkel pada anak dan menantunya yang malas itu.
Jono tertunduk takut. Tidak berani memandangi kedua orang tuanya. Ia merasa bersalah, sudah membuat orang tuanya marah-marah. Padahal selama ini, bapaknya sangat jarang memarahi dirinya. Demikian juga ibunya, yang sangat sayang kepada dirinya. Tetapi pagi itu, pagi yang masih segar, yang mestinya semua orang tersenyum dan bersyukur pada Yang Maha Kuasa, karena diberi kenikmatan hidup, namun ibunya dan bapaknya, mereka berdua justru marah kepada Jono. Ya, ini adalah kesalahan besar. Jono, anak yang sangat disayang, sudah mulai tidak patuh pada orang tuanya. Jono sudah tidak menaruh hormat pada ibunya. Padahal surga itu berada di bawah telapak kaki ibu. Dan ketika Jono durhaka kepada ibunya, maka pastinya ia tidak akan mendapatkan surga. Pasti Jono akan mendapat hukuman setimpal dari Tuhan Yang Maha Kuasa.
Jono pun pergi sambil menutup wajah yang sudah basah oleh air mata. Ia menangis karena dimarahi oleh orang tuanya. Dan tentunya menyesal dengan semua kesalahannya. Itu semua gara-gara Ciblek, istri Tuan Jono yang tidak tahu diri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments