BAB 12: DIMARAHI ORANG TUA

    Setelah Siti, sang pembantu itu pulang kampung, mau tidak mau Nenek Kosen kembali sibuk mengurusi rumah. Terutama saat masak. Baru dirasa oleh Nenek Kosen, betapa pentingnya seorang bocah yang bernama Siti, sebagai pembantu rumah tangga, yang mampu menyelesaikan banyak pekerjaan. Setidaknya bisa meringankan pekerjaan Nenek Kosen. Tetapi kini, setelah Siti tidak ada, kembali Nenek Kosen harus mengerjakan apa-apa sendiri lagi. Terutama untuk memasak dan mencuci perkakas dapur.

    Yah, aktivitas si nenek yang tiap pagi harus pergi ke pasar untuk membawa barang-barang hasil bumi yang harus dijual, terpaksa kembali kesiangan. Karena harus menyiapkan masakan dan mengurusi dapur sendirian lagi. Alih-alih dibantu oleh Ciblek, tingkah menantunya itu malah bikin kesal.  Akhirnya, setiap kali sampai pasar, barang-barang dagangan, seperti singkong, ubi-ubian, nangka muda, maupun sayuran yang dipetik dari pekarangannya sendiri itu, tidak habis terjual dan terpaksa dibawa pulang lagi, karena para pembeli di pasar sudah sepi, sudah pada belanja lebih awal. Akibatnya, Nenek Kosen pun hanya dapat uang sedikit, dan tentunya untuk berbelanja lauk pauk dan kebutuhan dapur lainnya dapatnya juga sedikit.

    Di tambah lagi, setiap hari menyaksikan menantunya yang tak kunjung berubah, tetapi seakan justru memanfaatkan kesempatan kehamilannya itu untuk lebih bermanja dan lebih bermalasan. Tentu hal itu menambah pahitnya pemandangan di rumah Nenek Kosen. Boleh dikata, punya menantu perempuan tidak semakin ringan beban pekerjaan dapurnya, tetapi justru bertambah berat. Alih-alih ada yang membantu menyelesaikan pekerjaan rumah, justru menambah emosi dan kejengkelan Nenek Kosen. Bahkan Jono sendiri, sebagai suaminya Ciblek, sudah merasakan susahnya meladeni istrinya itu. Namun setiap kali diberi tahu, diingatkan, dinasehati, Ciblek selalu mengatakan kalau itu hanyalah "gawan bayen" atau bawaan anaknya yang ada dalam kandungannya.

    "Mas, aku minta makan yang enak-enak!" pinta Ciblek pada suaminya di suatu pagi sebelum Tuan Jono berangkat kerja.

    "Mau makan apa?" tanya Jono yang tentunya tidak ingin mengecewakan istrinya. Takut kalau kelak anaknya ngiler atau ngeces (air liurnya keluar dari mulut) karena permintaannya tidak keturutan. Ya, kepercayaan orang-orang dulu, katanya kalau hamil dan mengidam, kalau yang dminta tidak keturutan maka kelak kalau bayinya lahir akan ngiler, air liurnya keluar terus dari mulut bayi itu.

    "Pokoknya yang enak-enak!" tukas Ciblek yang hanya menyebut makanan yang enak-enak.

    "Makanan yang enak itu kan banyak jenisnya." sahut Tuan Jono.

    "Pokoknya aku mau makanan yang enak-enak!" kembali Ciblek menyebut makanan yang enak-enak sambil bertingkah tidak karuan.

    "Ya, nanti kalau saya pulang kerja, saya belikan makanan yang enak-enak." kata Jono yang menenangkan istrinya.

    "Tidak mau! Maunya sekarang!" kembali Ciblek memaksa agar dicarikan makanan yang enak, sambil semakin berulah.

    "Ya ampun. Ini masih terlalu pagi. Dan kalau mencari makanan yang enak-enak itu mesti ke dekat kota atau pasar. Mestinya kamu itu ke dapur, bantu Mamak untuk memasak. Sokur kamu bilang ke Mamak, minta mau dimasakkan apa. Makanan enak apa yang kamu inginkan. Nanti kalau Mamak ke pasar, mungkin bisa dibelikan." kata Tuan Jono yang tentu tidak mungkin untuk mencarikan makanan enak yang belum tahu wujudnya seperti apa, namanya apa, dan yang jualan ada di mana. Tentu Tuan Jono juga bingung.

    "Tidak mau! Pokoknya saya minta makanan yang enak sekarang!" kata Ciblek yang kembali memaksa suaminya dengan nada marah.

    "Begini saja. Ayo kita jalan-jalan, kamu pengin apa, nanti aku belikan. Kamu yang pilih sendiri." kata Jono yang menawarkan mengajak istrinya mencari makanan yang dikehendaki sambil jalan-jalan ke luar.

    "Tidak mau! Pokoknya belikan!" Ciblek justru membentak suaminya.

    Tuan Jono menjadi bingung. Tidak tahu apa yang dikehendaki oleh istrinya. Bahkan juga bingung, mau mencari makanan yang diinginkan istrinya itu di mana. Maklum, zaman itu, sekitar tahun tujuh puluhan, Kampung Pademangan masih merupakan desa yang jauh dari pasar. Bahkan tidak ada masyarakat Pademangan yang menjual masakan siap saji di pagi hari. Warga kampungnya masih lugu dan masih tradisionil. Masak hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sendiri. Kalau pun ada yang membagikan ke tetangga, itu adalah rasa syukurnya karena punya makanan yang berlimpah. Kehidupan petani yang hanya mengandalkan lahan sawah, tegalan dan kebun, tidak memberikan uang berlebih bagi masyarakatnya. Sehingga tidak ada warga yang menghamburkan uang hanya untuk beli makanana atau sarapan. Untuk kebutuhan makan sehari-hari, semuanya disediakan sendiri dari hasil panennya, serta hasil pekarangan yang ada. Kalau pun ada hasil panen yang banyak, maka mereka jual ke pasar dan uangnya disimpan untuk keperluan yang sangat penting. Sehingga sudah sangat biasa kalau orang-orang di Kampung Pademangan hanya makan ubi-ubian yang direbus untuk sarapan paginya. Kalau pun ada yang makan nasi dari beras atau nasi jagung, itu hanya dikalangan warga yang mampu atau kaya.

    Karena istrinya marah melulu, dan saking bingungnya untuk memenuhi permintaan istrinya akhirnya Jono keluar kamar, dan menemui ibunya yang sedang memasak di dapur.

    "Mak, Mamak." begitu panggil Jono pada ibunya di pagi itu yang tentu masih sibuk masak di dapur.

    "Iya. Ada apa, Jono?" sahut ibunya tanpa memandangi anaknya.

    "Makanan yang enak-enak itu apa? Itu Ciblek, minta makanan yang enak-enak." tanya Jono pada ibunya.

    "Ya, makan nasi, sayurnya gudek gori (nangka muda), lauknya ikan asin, sama sambal korek. Itu, josss. Enak." jawab ibunya, yang memang pagi itu sudah menyiapkan masakan sayur gudek gori.

    "Alaah, Mamak, itu lho. Ditanyai beneran kok malah meledek." tentu Jono jengkel dengan jawaban ibunya, yang pastinya tidak sesuai dengan yang diinginkan istrinya.

    "Kamu itu gimana sih, Jono. Coba kamu lihat di dapurnya para tetangga. Tidak ada yang sanggup masak masakan seperti Mamak. Masakan Mamak ini sudah yang paling hebat. Paling enak. Sudah sangat istimewa. Ini gudeknya saja Mamak kasih balungan (tulang iga sapi yang sudah diambil dagingnya, hanya tingga daging yang tersisa menempel di tulang). Kemarin Mamak sengaja beli balungan untuk masak gudek. Lah, kalau kamu tahu di tempat para tetangga, paling-paling sarapannya nasi wadang (sisa nasi hari kemarin). Malah tidak jarang yang hanya sarapan singkong rebus. Banyak juga yang tidak bisa makan. Kok kamu masih meremehkan masakan Mamak. Istrimu itu sudah beruntung makan tiap hari. Kok masih macam-macam minta makanan enak-enak." kata ibunya yang tentu tidak senang kalau masakannya diremehkan oleh anaknya.

    Memang, pada masa itu, masakan sayur gudek dari nangka muda yang dikasih potongan-potongan tulang sapi yang sudah diiris dagingnya, atau yang oleh orang Kampung Pademangan disebut dengan istilah balungan, itu sudah merupakan masakan yang luar biasa enaknya. Dan biasanya, warga masyarakat Pademangan banyak yang hanya sarapan dengan nasi sisa hari kemarin, atau yang biasa disebut "sego wadang".

    "Kok setiap hari masaknya sayur gudek melulu sih, Mak?" sahut Jono.

    "Heh, Jono! Kita itu punyanya hanya nangka muda. Kalau memang mau yang lain, ya besok saya masakkan sayur daun singkong. Biar nanti diambilkan kelapa yang agak muda, untuk masak oblok-oblok. Nanti di pasar saya belikan krese (udang kering) biar sedap." jawab ibunya lagi yang tentunya memberi alternatif ganti masakan lain.

    Memang, Nenek Kosen ini sebenarnya sangat sayang terhadap anak bungsunya itu, yaitu Jono. Maka kalau anaknya itu mau minta apa saja, biasanya langsung dituruti kemauannya. Apalagi kalau hanya sekedar minta sayur daun singkong atau sayur bayam, semuanya pasti dibuatkan. Karena hanya tinggal memetik di pekarangan rumah. Semua sudah tersedia, tanpa harus beli, tanpa harus mengeluarkan uang. Bahkan saking banyaknya, maka biasanya dijual ke pasar.

    "Tapi, Mak. Itu. Ciblek minta makan, makanan yang enak-enak." kata Jono yang menyampaikan kemauan istrinya pada ibunya.

    "Lha, memang masakan Mamak, makanan-makanan yang disediakan oleh Mamak kurang enak?" kata ibunya yang tentu sambil menatap penuh tanda tanya kepada anaknya itu.

    "Bukan begitu, Mak. Ciblek minta makanan yang enak-enak. Dia kan sedang hamil, Mak. Ciblek ngidam." kata Jono yang ingin menegaskan kata-katanya.

    "Heh, Jono! Kalau memang istrimu itu tidak doyan masakan Mamak, kalau istri kamu itu maunya minta makanan yang enak-enak. Suruh masak sendiri! Saya bisanya masak seperti ini! Tidak bisa masak yang enak-enak!" tentu Nenek Kosen marah dan membentak mendengar kata-kata anaknya itu. Dasarnya Nenek Kosen memang sudah tidak senang dengan menantunya yang pemalas itu.

    "Lho, lho, lho. Mamak, kok marah?" kata Jono yang sadar kalau ibunya marah.

    "Ya, iya. Bagaimana saya tidak jengkel! Coba kamu lihat, sudah siang begini Mamak belum berangkat ke pasar. Ini semua gara-gara Mamak harus memasak dahulu! Menyiapkan makan untuk keluarga, untuk kamu dan untuk semuanya! Masih kurang enak?! Istri kamu kerja apa?! Apa pernah membantu pekerjaan rumah?! Apa istri kamu pernah pegang cucian gelas dan piring kotor?! Apa istri kamu pernah memasak?! Semuanya yang kerja Mamak! Mamak itu sudah repot, tapi kamu masih mengolok! Anak tidak tahu terima ksaih saya orang tua yang bersusah payah." tentu Nenek Kosen semakin emosi. Marah kepada Jono. Bahkan sudah berani mengungkapkan kejengkelannya terhadap sifat menantunya yang pemalas. Dan suaranya sengaja dikeraskan, yang tentunya agar Ciblek yang pemalas itu, yang hanya mendekam di kamar, mendengar keluhan mertuanya.

    "Mak, Mak, sabar, Mak." kata Jono yang menenangkan ibunya agar tidak marah.

    "Kurang sabar apa, saya ini! Punya menantu pemalas! Kerjanya molor melulu. Kalau mau makanan yang enak-enak, suruh masak sendiri! Saya sudah bosan melihat orang yang pemalas!" kata Nenek Kosen yang semakin marah dan emosi.

    "Ada apa, Nek?" tentu Kakek Yan yang mendengar kata-kata keras dari istrinya itu, langsung menghampiri ke dapur, dan ingin tahu apa yang terjadi.

    "Itu, anakmu sudah berani kurang ajar sama orang tua! Percuma kita membesarkan anak yang tidak tahu balas budi. Dibesarkan, disayang, disekolahkan, dicarikan kerja. Tahunya malah kurang ajar sama orang tua." kata Nenek Kosen yang kesal sambil menunjuk ke arah muka Jono.

    "Jono! Kenapa kamu itu?! Berani sama Mamak kamu. Kuwalat nanti kamu! Anak durhaka kamu itu!" kata Kakek Yan yang ikut memarahi anaknya. Tentu Kakek Yan sebenarnya juga memendam jengkel pada anak dan menantunya yang malas itu.

    Jono tertunduk takut. Tidak berani memandangi kedua orang tuanya. Ia merasa bersalah, sudah membuat orang tuanya marah-marah. Padahal selama ini, bapaknya sangat jarang memarahi dirinya. Demikian juga ibunya, yang sangat sayang kepada dirinya. Tetapi pagi itu, pagi yang masih segar, yang mestinya semua orang tersenyum dan bersyukur pada Yang Maha Kuasa, karena diberi kenikmatan hidup, namun ibunya dan bapaknya, mereka berdua justru marah kepada Jono. Ya, ini adalah kesalahan besar. Jono, anak yang sangat disayang, sudah mulai tidak patuh pada orang tuanya. Jono sudah tidak menaruh hormat pada ibunya. Padahal surga itu berada di bawah telapak kaki ibu. Dan ketika Jono durhaka kepada ibunya, maka pastinya ia tidak akan mendapatkan surga. Pasti Jono akan mendapat hukuman setimpal dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

    Jono pun pergi sambil menutup wajah yang sudah basah oleh air mata. Ia menangis karena dimarahi oleh orang tuanya. Dan tentunya menyesal dengan semua kesalahannya. Itu semua gara-gara Ciblek, istri Tuan Jono yang tidak tahu diri.

Episodes
1 BAB I: PERNIKAHAN TUAN JONO
2 BAB 2: NGUNDUH MANTU
3 BAB 3: TINGGAL BERSAMA MERTUA
4 BAB 4: MEMARAHI ANAK KESAYANGAN
5 BAB 5: PENYESALAN
6 BAB 6: MINTA PEMBANTU
7 BAB 7: PUNYA PEMBANTU
8 BAB 8: PUNYA PEMBANTU
9 BAB 9: PEMBANTU BARU
10 BAB 10: CERITA SAAT MENCUCI
11 BAB 11: PEMBANTU MINTA PULANG
12 BAB 12: DIMARAHI ORANG TUA
13 BAB 13: NGAMBEK LAGI
14 BAB 14: KEMBALI MEMINTA SYARAT
15 BAB 15: MEMINTA RUMAH
16 BAB 16: MEMINDAH RUMAH
17 BAB 17: RUMAH YANG BUTUH KERAMAIAN
18 BAB 18: PENGGEMBALA CILIK
19 BAB 19: RUMAH YANG KOTOR
20 BAB 20: BERONTAK
21 BAB 21: KEGUGURAN
22 BAB 22: RUMAH POHON
23 BAB 23: MENJADI ANAK KAKEK DAN NENEK
24 BAB 24: ANAK PINTAR
25 BAB 25: PENCURI KAYU BAKAR
26 BAB 26: ANAK PERTAMA
27 BAB 27: PERUBAHAN ZAMAN
28 BAB 28: MURID TELADAN
29 BAB 29: SEKOLAH FAVORIT
30 BAB 30: BERAS DIMAKAN GERANDONG
31 BAB 31: MENYINGKIRKAN KELUARGA MERTUA
32 BAB 32: ADIK NAKAL
33 BAB 33: ANAK PINTAR
34 BAB 34: MEMBUKA WARUNG
35 BAB 35: INTERKOM
36 BAB 36: HARUS OPNAM
37 BAB 37: TELAH HILANG GIGI EMAS
38 BAB 38: DICARIKAN PACAR
39 BAB 39: PENCURI WARUNG
40 BAB 40: MAKLAR TANAH
41 BAB 41: MOTOR BARU
42 BAB 42: RUMAH GEDUNG
43 BAB 44: MINTA MOBIL
44 BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
45 BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
46 BAB 43: JIMAT PENUNGGU RUMAH
47 BAB 44: MINTA MOBIL
48 BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
49 BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
50 BAB 47: JADI GURU
51 BAB 48: SAYANG NENEK
52 BAB 49: PAMER GELANG
53 BAB 50: BERUBAH SIFAT
54 BAB 51: WATAK PUN BERUBAH
55 BAB 52: NAIK HAJI
56 BAB 53: PULANG HAJI
57 BAB 54: HAJI MABRUR
58 BAB 55: AGAMIS
59 BAB 56: KELUH KESAH SEORANG NENEK
60 BAB 57: PUSAKA LELUHUR
61 BAB 58: SEMAKIN MENYIMPANG
62 BAB 59: SEMUANYA BISA
63 BAB 60: JIKA ADA UANG JADI GAMPANG
64 BAB 61: PENGUSAHA HEBAT
65 BAB 62: PENGUSAHA GAGAL
66 BAB 63: JADI DOKTER
67 BAB 64: WANITA PELENGKAP
68 BAB 65: DEMO
69 BAB 66: NENEK SAKIT
70 BAB 67: KEHILANGAN ORANG-ORANG TERCINTA
71 BAB 68: SEMUA MENUNGGU
72 BAB 69: PENSIUNAN MENYUSAHKAN
73 BAB 70: TETAP MERASA HEBAT
74 BAB 71: MEMBAGI WARISAN
75 BAB 72: MENUNTUT LEBIH
76 BAB 73: SERANGAN JANTUNG
77 BAB 74: DOKTER SOMBONG
78 BAB 75: BAYANG HITAM
79 BAB 76: TUAN JONO MENINGGAL
80 BAB 77: LEBARAN KELABU
81 BAB 78: ORANG-ORANG SERAKAH
82 BAB 79: IKHLAS
83 BAB 80: INNA MA'AL USRI YUSRA
84 BAB 81: WARISAN TERKUTUK
85 BAB 82: KATA-KATA MENYAKITKAN
86 BAB 83: PENJAGA ITU TERNYATA ADA
87 BAB 84: TEROR PERTAMA
88 BAB 85: SIAPA YANG TIDAK PERCAYA HANTU?
89 BAB 86: TEROR KEDUA
90 BAB 87: PERINGATAN DOSA
91 BAB 88: PENANTANG SETAN
92 BAB 89: JANGAN GEGABAH
93 BAB 90: BANASPATI
94 BAB 91: DUKUN SAKTI
95 BAB 92: TAK PERNAH JERA
96 BAB 93: KEHILANGAN KAKI
97 BAB 94: MENANTANG SETAN
98 BAB 95: KEMARAHAN ISTRI
99 BAB 96: ANCAMAN ULAR
100 BAB 97: TATO KULIT ULAR
101 BAB 98: IKATAN NAGA GINI
Episodes

Updated 101 Episodes

1
BAB I: PERNIKAHAN TUAN JONO
2
BAB 2: NGUNDUH MANTU
3
BAB 3: TINGGAL BERSAMA MERTUA
4
BAB 4: MEMARAHI ANAK KESAYANGAN
5
BAB 5: PENYESALAN
6
BAB 6: MINTA PEMBANTU
7
BAB 7: PUNYA PEMBANTU
8
BAB 8: PUNYA PEMBANTU
9
BAB 9: PEMBANTU BARU
10
BAB 10: CERITA SAAT MENCUCI
11
BAB 11: PEMBANTU MINTA PULANG
12
BAB 12: DIMARAHI ORANG TUA
13
BAB 13: NGAMBEK LAGI
14
BAB 14: KEMBALI MEMINTA SYARAT
15
BAB 15: MEMINTA RUMAH
16
BAB 16: MEMINDAH RUMAH
17
BAB 17: RUMAH YANG BUTUH KERAMAIAN
18
BAB 18: PENGGEMBALA CILIK
19
BAB 19: RUMAH YANG KOTOR
20
BAB 20: BERONTAK
21
BAB 21: KEGUGURAN
22
BAB 22: RUMAH POHON
23
BAB 23: MENJADI ANAK KAKEK DAN NENEK
24
BAB 24: ANAK PINTAR
25
BAB 25: PENCURI KAYU BAKAR
26
BAB 26: ANAK PERTAMA
27
BAB 27: PERUBAHAN ZAMAN
28
BAB 28: MURID TELADAN
29
BAB 29: SEKOLAH FAVORIT
30
BAB 30: BERAS DIMAKAN GERANDONG
31
BAB 31: MENYINGKIRKAN KELUARGA MERTUA
32
BAB 32: ADIK NAKAL
33
BAB 33: ANAK PINTAR
34
BAB 34: MEMBUKA WARUNG
35
BAB 35: INTERKOM
36
BAB 36: HARUS OPNAM
37
BAB 37: TELAH HILANG GIGI EMAS
38
BAB 38: DICARIKAN PACAR
39
BAB 39: PENCURI WARUNG
40
BAB 40: MAKLAR TANAH
41
BAB 41: MOTOR BARU
42
BAB 42: RUMAH GEDUNG
43
BAB 44: MINTA MOBIL
44
BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
45
BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
46
BAB 43: JIMAT PENUNGGU RUMAH
47
BAB 44: MINTA MOBIL
48
BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
49
BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
50
BAB 47: JADI GURU
51
BAB 48: SAYANG NENEK
52
BAB 49: PAMER GELANG
53
BAB 50: BERUBAH SIFAT
54
BAB 51: WATAK PUN BERUBAH
55
BAB 52: NAIK HAJI
56
BAB 53: PULANG HAJI
57
BAB 54: HAJI MABRUR
58
BAB 55: AGAMIS
59
BAB 56: KELUH KESAH SEORANG NENEK
60
BAB 57: PUSAKA LELUHUR
61
BAB 58: SEMAKIN MENYIMPANG
62
BAB 59: SEMUANYA BISA
63
BAB 60: JIKA ADA UANG JADI GAMPANG
64
BAB 61: PENGUSAHA HEBAT
65
BAB 62: PENGUSAHA GAGAL
66
BAB 63: JADI DOKTER
67
BAB 64: WANITA PELENGKAP
68
BAB 65: DEMO
69
BAB 66: NENEK SAKIT
70
BAB 67: KEHILANGAN ORANG-ORANG TERCINTA
71
BAB 68: SEMUA MENUNGGU
72
BAB 69: PENSIUNAN MENYUSAHKAN
73
BAB 70: TETAP MERASA HEBAT
74
BAB 71: MEMBAGI WARISAN
75
BAB 72: MENUNTUT LEBIH
76
BAB 73: SERANGAN JANTUNG
77
BAB 74: DOKTER SOMBONG
78
BAB 75: BAYANG HITAM
79
BAB 76: TUAN JONO MENINGGAL
80
BAB 77: LEBARAN KELABU
81
BAB 78: ORANG-ORANG SERAKAH
82
BAB 79: IKHLAS
83
BAB 80: INNA MA'AL USRI YUSRA
84
BAB 81: WARISAN TERKUTUK
85
BAB 82: KATA-KATA MENYAKITKAN
86
BAB 83: PENJAGA ITU TERNYATA ADA
87
BAB 84: TEROR PERTAMA
88
BAB 85: SIAPA YANG TIDAK PERCAYA HANTU?
89
BAB 86: TEROR KEDUA
90
BAB 87: PERINGATAN DOSA
91
BAB 88: PENANTANG SETAN
92
BAB 89: JANGAN GEGABAH
93
BAB 90: BANASPATI
94
BAB 91: DUKUN SAKTI
95
BAB 92: TAK PERNAH JERA
96
BAB 93: KEHILANGAN KAKI
97
BAB 94: MENANTANG SETAN
98
BAB 95: KEMARAHAN ISTRI
99
BAB 96: ANCAMAN ULAR
100
BAB 97: TATO KULIT ULAR
101
BAB 98: IKATAN NAGA GINI

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!