BAB 9: PEMBANTU BARU

    Siti ternyata memang bocah yang bisa dan sudah terbiasa bekerja. Meski secara usia maupun secara fisik dia itu masih kategori anak-anak, kenyataannya Siti sanggup menyelesaikan pekerjaan menyapu dengan baik. Bersih dan cepat. Bahkan setelah selesai menyapu, ia langsung ke dapur, mencuci perkakas masak serta piring dan gelas yang berserakan di bagian belakang, di samping pintu belakang dapur.

    Pastinya alat-alat masak seperti dandang, kukusan, panci, wajan dan peralatan lainnya, yang tadi pagi digunakan untuk memasak oleh Nenek Kosen, masih ditumpuk begitu saja di tanah, tempat yang biasa digunakan untuk mencuci. Di situ sudah ada kenceng, yaitu alat dapur yang mirip dengan baskom besar dan terbuat dari tembaga, biasanya digunakan untuk mengaru nasi yang ditanak dari kukusan. Kenceng itu berisi air. Pastilah air itu yang dipakai untuk mencuci perkakas dapur. Dan di dekat kenceng itu ada tempayan yang penuh berisi air.

    Maka Siti langsung berjongkok di situ, dan langsung mencuci semua perkakas yang terletak di tempat itu. Dengan cekatan ia mencuci, sehingga dalam waktu singkat, semua barang kotor itu disulap menjadi bersih. Lantas ia menaruhnya di dipan kayu yang ada di ruang dapur, tentunya karena ia melihat ada barang-barang perkakas lainnya yang sudah menumpuk di situ. Jadi, Siti menganggap, itulah tempat menaruh perkakas dapur.

    Memang sudah umum, bagi orang desa, biasa menaruh barang-barang perkakas rumah tangga di dapur. Ada juga pogo, yaitu semacam rak tempat perkakas dapur yang terbuat dari bambu atau kayu. Dan mungkin, di rumahnya Siti juga seperti itu. Sehingga cara kerja anak ini sangat kelihatan hafal dengan pekerjaannya, dan seakan-akan sudah tahu tempatnya.

    "Lhoh? Siapa ini?" Nenek Kosen yang baru saja datang, tentunya kaget saat masuk di dapur dan melihat ada bocah yang duduk di dipan dapurnya.

    "Saya Siti, Bu. Babu di sini." jawab Siti yang mungkin sedang istirahat karena kecapaian setelah menyapu dan mencuci perkakas dapur yang sangat banyak.

    "Siti? Pembantu. Jangan menyebut babu. Kurang baik didengar." kata Nenek Kosen yang langsung menaruh keranjang dunak yang berisi belanjaan, dan terus duduk di samping Siti.

    "Iya, Bu." kata Siti yang sudah menatap perempuan tua yang duduk di sampingnya itu.

    "Jangan panggil saya Bu. Panggil Nenek. Nenek Kosen. Saya sudah punya cucu. Jono itu anak saya. Saya istrinya Kakek Yan, yang punya rumah ini. Kamu kalau ketemu laki-laki yang tua, suami Nenek, panggil Kakek Yan begitu saja. Anggap dia itu kakek kamu." kata Nenek Kosen yang menjelaskan kepada bocah yang mengaku sebagai pembantu tersebut.

    "Iya, Nek." kata Siti yang tentunya terkejut, karena ia sekarang justru duduk berdempetan dengan yang punya rumah.

    "Ini tadi, yang mencuci piring sama perkakas ini semua, kamu?" tanya Nenek Kosen yang tentunya juga kaget karena perkakas dapurnya sudah bersih semua.

    "Iya, Nek. Maaf, kalau kurang bersih." jawab Siti.

    "Ah, tidak. Sudah bersih kok. Saya senang ada yang membantu membersihkan dan mencuci perkakas dapur. Sudah bisa memasak apa belum?" kata Nenek Kosen, yang langsung menanyakan kebisaan memasak pada pembantu yang masih kecil tersebut.

    "Sedikit-sedikit bisa, Nek. Masak nasi sudah bisa." jawab Siti yang tentunya menyampaikan kebisaannya.

    "Hebat. Masih kecil begini sudah pinter masak. Nanti bantu Nenek untuk memasak, ya." kata Nenek Kosen kembali, yang memuji anak itu.

    "Iya, Nek. Saya mau disuruh apa saja." jawab anak itu, yang memang bekal dari rumahnya, dipesan oleh orang tuanya harus mau disuruh apa saja oleh majikannya.

    "Sudah makan apa belum?" tanya Nenek Kosen.

    "Belum." jawab Siti kelihatan memelas.

    "Ya ampun. Kalau begitu kita masak dulu. Pasti kamu kelaparan. " Nenek Kosen langsung bangkit berdiri, dan menuju ke tungku, akan menyalakan api di dapurnya.

    Namun tiba-tiba, Siti juga ikut berdiri menyusul Nenek Kosen, dan langsung mengambil beberapa kayu bakar dan sobekan daun kelapa yang kering, lantas dimasukkan ke lubang tungku.

    "Biar saya yang menyalakan apinya, Nek. " kata Siti yang sudah jongkok di depan tungku.

    "Memang kamu bisa?" tanya Nenek Kosen.

    "Bisa. Kalau di rumah, biasanya juga saya yang membuat perapian." jawab Siti.

    "Wee. Lha kamu itu kok bisa semua. Pinter tenan kowe, Cah ayu." kata Nenek Kosen yang memuji pembantu kecil itu.

    Dan ternyata, Siti memang sangat cekatan, cepat dan terampil. Dalam sekejap, api dalam tungku itu langsung menyala. Tentunya Nenek Kosen menaruh rasa senang dengan pembantu yang masih tergolong bocah tersebut. Selanjutnya, mereka berdua, nenek dan bocah yang layak menjadi cucunya itu, langsung memasak, untuk menyiapkan makan buat keluarga dan para penggembala ternak. Nenek Kosen mengambil barang-barang belanjaan dari pasar yang masih berada di dalam dunak, tentunya bahan masakan yang akan diolah hari itu. Siti pun dengan lihainya, ibarat seperti orang yang ahli memasak, langsung membantu si nenek. Tentu Nenek Kosen jadi senang dan tersenyum puas.

    Hingga siang, akhirnya masakan pun selesai diolah dan siap disajikan.

    "Yang ini, nasi di bakul ini sama sayur yang di mangkok itu, dan lauk yang di piring itu, kamu taruh di lemari makan, ya. Itu, yang ada di dalam dekat meja makan itu." kata Nenek Kosen yang mengatur makanannya.

    "Iya, Nek." jawab Siti yang langsung mengangkat masakan yang ditunjukkan oleh si nenek tersebut.

    "Yang ini, biar di sini saja. Tapi kamu tutupi tampah, biar tidak dimakan ayam. Nanti sebentar lagi anak-anak yang menggembalakan ternak dan mencari rumput akan datang. Ini untuk jatah makan anak-anak penggembala." kata Nenek Kosen yang menyuruh Siti untuk menata makanan di dipan tempat ia duduk. Dan tentunya juga ditutupi tampah, yaitu alat untuk menampi beras yang terbuat dari anyaman bambu.

    "Iya, Nek." Siti pun menuruti seperti apa yang dikatakan Nenek Kosen.

    "Nah. Yang di piring ini, satu untuk kamu, dan yang ini untuk saya. Ayo, kita makan. Tidak usah malu-malu. Kamu pasti kelaparan. Makan yang kenyang, nanti kalau sudah pada makan semua, piringnya ditaruh di kenceng, biar gampang dicuci." kata si nenek yang langsung mengangkat piringnya, dan makan tanpa menggunakan sendok alias menggunakan tangannya.

    "Iya Nek." jawab Siti yang juga langsung mengangkat piringnya, dan makan seperti yang dilakukan majikannya. Muluk alias menggunakan tangannya.

    Mereka berdua makan terlihat sangat nikmat. Tentu karena Nenek Kosen merasa senang sudah dibantu oleh anak yang pintar dan rajin itu. Apalagi Siti, yang memang dari pagi perutnya belum kemasukan apa-apa, tentunya perutnya sangat kelaparan. Maka makannya terlihat sangat lahap. Apalagi masakannya sangat cocok, pakai nasi putih masih hangat dengan sayur lodeh, lauknya ikan asin, ditambah sambal terasi.

    "Enak, tidak?" tanya Nenek Kosen yang menoleh ke Siti, mengamati makannya anak itu.

    "Enak. Sangat enak. Di rumah jarang makan seperti ini." jawab Siti yang tentu sangat menikmati makanan yang ada di piringnya.

    "Memang, kalau di rumah kamu makannya apa?" tanya Nenek Kosen.

    "Biasanya Simbok memasak nasi jagung. Kadang-kadang nasi dicampur aking. Sayurnya gudangan atau pecel. Lauknya, ya, sama. Pakai ikan asin." jawab Siti yang menceritakan kondisinya di rumah.

    "Waah. Nasi jagung sama gudangan? Lauknya ikan asin? Pasti enak itu. Saya kalau kepingin, biasanya beli di pasar. Yah, di rumah tidak ada yang menumbuk jagung." sahut Nenek Kosen yang tentunya tergiur dengan makanan yang diceritakan oleh Siti.

    "Saya juga senang di sini, bisa belajar masak macam-macam sama nenek." sambung Siti.

    "Sitiiii!" terdengar teriakan dari dalam kamarnya Ciblek. Siti dipanggil oleh majikannya.

    "Iya, saya, Bu." Situ berlari menuju kamar majikannya yang tadi pagi sempat banyak menanyainya. Tentu majikannya itu akan menyuruh-suruh.

    Nenek Kosen yang mendengar teriakan keras panggilan itu, langsung mengelus dadanya. Suaranya memekikkan telinga. Dasar menantunya itu memang orang yang tidak punya sopan santun, tidak punya hati, tidak punya perasaan. Kenapa memanggil orang yang hanya berjarak lima meter saja harus berteriak keras. Dasar urakan.

    "Saya, Bu. Ada apa, Bu?" tanya Siti yang sudah sampai di depan pintu kamar Ciblek.

    "Sini! Semua pakaian kotor ini, nanti kamu cuci. Harus bersih!" kata majikannya, Ciblek,  yang langsung menjatuhkan pakaian-pakaian kotor di depan pintunya, di lantai yang masih berupa tanah. Zaman itu masih sangat jarang orang punya lantai yang diplester semen ataupun mengenakan ubin, apalagi keramik. Plester semen dan ubin itu hanya terdapat di perkotaan.

    "Iya, Bu." kata Siti yang langsung memunguti pakaian-pakaian kotor dari tanah, dan membawanya ke dapur dan ditaruh di ember.

    Nenek Kosen yang tahu hal itu, kembali mengusap dadanya. Dan raut wajahnya pun langsung menciut, sangat sedih melihat kelakuan menantunya itu.

    "Siti. Nanti kamu ke sendang bareng sama Nenek. Kita mencuci di sendang." kata Nenek Kosen yang lembut pada Siti, tidak tega melihat perlakuan menantunya yang tidak manusiawi itu. Tentunya ia akan menemani Siti untuk pergi mencuci di sendang, tempat embung air yang memang biasa digunakan oleh warga Pademangan untuk mencuci dan mandi.

    "Iya, Nek." jawab Siti yang tetap nyaman, tanpa ada rasa sedih, walau sebenarnya juga ada rasa takut karena dibentak oleh majikan mudanya.

Episodes
1 BAB I: PERNIKAHAN TUAN JONO
2 BAB 2: NGUNDUH MANTU
3 BAB 3: TINGGAL BERSAMA MERTUA
4 BAB 4: MEMARAHI ANAK KESAYANGAN
5 BAB 5: PENYESALAN
6 BAB 6: MINTA PEMBANTU
7 BAB 7: PUNYA PEMBANTU
8 BAB 8: PUNYA PEMBANTU
9 BAB 9: PEMBANTU BARU
10 BAB 10: CERITA SAAT MENCUCI
11 BAB 11: PEMBANTU MINTA PULANG
12 BAB 12: DIMARAHI ORANG TUA
13 BAB 13: NGAMBEK LAGI
14 BAB 14: KEMBALI MEMINTA SYARAT
15 BAB 15: MEMINTA RUMAH
16 BAB 16: MEMINDAH RUMAH
17 BAB 17: RUMAH YANG BUTUH KERAMAIAN
18 BAB 18: PENGGEMBALA CILIK
19 BAB 19: RUMAH YANG KOTOR
20 BAB 20: BERONTAK
21 BAB 21: KEGUGURAN
22 BAB 22: RUMAH POHON
23 BAB 23: MENJADI ANAK KAKEK DAN NENEK
24 BAB 24: ANAK PINTAR
25 BAB 25: PENCURI KAYU BAKAR
26 BAB 26: ANAK PERTAMA
27 BAB 27: PERUBAHAN ZAMAN
28 BAB 28: MURID TELADAN
29 BAB 29: SEKOLAH FAVORIT
30 BAB 30: BERAS DIMAKAN GERANDONG
31 BAB 31: MENYINGKIRKAN KELUARGA MERTUA
32 BAB 32: ADIK NAKAL
33 BAB 33: ANAK PINTAR
34 BAB 34: MEMBUKA WARUNG
35 BAB 35: INTERKOM
36 BAB 36: HARUS OPNAM
37 BAB 37: TELAH HILANG GIGI EMAS
38 BAB 38: DICARIKAN PACAR
39 BAB 39: PENCURI WARUNG
40 BAB 40: MAKLAR TANAH
41 BAB 41: MOTOR BARU
42 BAB 42: RUMAH GEDUNG
43 BAB 44: MINTA MOBIL
44 BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
45 BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
46 BAB 43: JIMAT PENUNGGU RUMAH
47 BAB 44: MINTA MOBIL
48 BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
49 BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
50 BAB 47: JADI GURU
51 BAB 48: SAYANG NENEK
52 BAB 49: PAMER GELANG
53 BAB 50: BERUBAH SIFAT
54 BAB 51: WATAK PUN BERUBAH
55 BAB 52: NAIK HAJI
56 BAB 53: PULANG HAJI
57 BAB 54: HAJI MABRUR
58 BAB 55: AGAMIS
59 BAB 56: KELUH KESAH SEORANG NENEK
60 BAB 57: PUSAKA LELUHUR
61 BAB 58: SEMAKIN MENYIMPANG
62 BAB 59: SEMUANYA BISA
63 BAB 60: JIKA ADA UANG JADI GAMPANG
64 BAB 61: PENGUSAHA HEBAT
65 BAB 62: PENGUSAHA GAGAL
66 BAB 63: JADI DOKTER
67 BAB 64: WANITA PELENGKAP
68 BAB 65: DEMO
69 BAB 66: NENEK SAKIT
70 BAB 67: KEHILANGAN ORANG-ORANG TERCINTA
71 BAB 68: SEMUA MENUNGGU
72 BAB 69: PENSIUNAN MENYUSAHKAN
73 BAB 70: TETAP MERASA HEBAT
74 BAB 71: MEMBAGI WARISAN
75 BAB 72: MENUNTUT LEBIH
76 BAB 73: SERANGAN JANTUNG
77 BAB 74: DOKTER SOMBONG
78 BAB 75: BAYANG HITAM
79 BAB 76: TUAN JONO MENINGGAL
80 BAB 77: LEBARAN KELABU
81 BAB 78: ORANG-ORANG SERAKAH
82 BAB 79: IKHLAS
83 BAB 80: INNA MA'AL USRI YUSRA
84 BAB 81: WARISAN TERKUTUK
85 BAB 82: KATA-KATA MENYAKITKAN
86 BAB 83: PENJAGA ITU TERNYATA ADA
87 BAB 84: TEROR PERTAMA
88 BAB 85: SIAPA YANG TIDAK PERCAYA HANTU?
89 BAB 86: TEROR KEDUA
90 BAB 87: PERINGATAN DOSA
91 BAB 88: PENANTANG SETAN
92 BAB 89: JANGAN GEGABAH
93 BAB 90: BANASPATI
94 BAB 91: DUKUN SAKTI
95 BAB 92: TAK PERNAH JERA
96 BAB 93: KEHILANGAN KAKI
97 BAB 94: MENANTANG SETAN
98 BAB 95: KEMARAHAN ISTRI
99 BAB 96: ANCAMAN ULAR
100 BAB 97: TATO KULIT ULAR
101 BAB 98: IKATAN NAGA GINI
Episodes

Updated 101 Episodes

1
BAB I: PERNIKAHAN TUAN JONO
2
BAB 2: NGUNDUH MANTU
3
BAB 3: TINGGAL BERSAMA MERTUA
4
BAB 4: MEMARAHI ANAK KESAYANGAN
5
BAB 5: PENYESALAN
6
BAB 6: MINTA PEMBANTU
7
BAB 7: PUNYA PEMBANTU
8
BAB 8: PUNYA PEMBANTU
9
BAB 9: PEMBANTU BARU
10
BAB 10: CERITA SAAT MENCUCI
11
BAB 11: PEMBANTU MINTA PULANG
12
BAB 12: DIMARAHI ORANG TUA
13
BAB 13: NGAMBEK LAGI
14
BAB 14: KEMBALI MEMINTA SYARAT
15
BAB 15: MEMINTA RUMAH
16
BAB 16: MEMINDAH RUMAH
17
BAB 17: RUMAH YANG BUTUH KERAMAIAN
18
BAB 18: PENGGEMBALA CILIK
19
BAB 19: RUMAH YANG KOTOR
20
BAB 20: BERONTAK
21
BAB 21: KEGUGURAN
22
BAB 22: RUMAH POHON
23
BAB 23: MENJADI ANAK KAKEK DAN NENEK
24
BAB 24: ANAK PINTAR
25
BAB 25: PENCURI KAYU BAKAR
26
BAB 26: ANAK PERTAMA
27
BAB 27: PERUBAHAN ZAMAN
28
BAB 28: MURID TELADAN
29
BAB 29: SEKOLAH FAVORIT
30
BAB 30: BERAS DIMAKAN GERANDONG
31
BAB 31: MENYINGKIRKAN KELUARGA MERTUA
32
BAB 32: ADIK NAKAL
33
BAB 33: ANAK PINTAR
34
BAB 34: MEMBUKA WARUNG
35
BAB 35: INTERKOM
36
BAB 36: HARUS OPNAM
37
BAB 37: TELAH HILANG GIGI EMAS
38
BAB 38: DICARIKAN PACAR
39
BAB 39: PENCURI WARUNG
40
BAB 40: MAKLAR TANAH
41
BAB 41: MOTOR BARU
42
BAB 42: RUMAH GEDUNG
43
BAB 44: MINTA MOBIL
44
BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
45
BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
46
BAB 43: JIMAT PENUNGGU RUMAH
47
BAB 44: MINTA MOBIL
48
BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
49
BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
50
BAB 47: JADI GURU
51
BAB 48: SAYANG NENEK
52
BAB 49: PAMER GELANG
53
BAB 50: BERUBAH SIFAT
54
BAB 51: WATAK PUN BERUBAH
55
BAB 52: NAIK HAJI
56
BAB 53: PULANG HAJI
57
BAB 54: HAJI MABRUR
58
BAB 55: AGAMIS
59
BAB 56: KELUH KESAH SEORANG NENEK
60
BAB 57: PUSAKA LELUHUR
61
BAB 58: SEMAKIN MENYIMPANG
62
BAB 59: SEMUANYA BISA
63
BAB 60: JIKA ADA UANG JADI GAMPANG
64
BAB 61: PENGUSAHA HEBAT
65
BAB 62: PENGUSAHA GAGAL
66
BAB 63: JADI DOKTER
67
BAB 64: WANITA PELENGKAP
68
BAB 65: DEMO
69
BAB 66: NENEK SAKIT
70
BAB 67: KEHILANGAN ORANG-ORANG TERCINTA
71
BAB 68: SEMUA MENUNGGU
72
BAB 69: PENSIUNAN MENYUSAHKAN
73
BAB 70: TETAP MERASA HEBAT
74
BAB 71: MEMBAGI WARISAN
75
BAB 72: MENUNTUT LEBIH
76
BAB 73: SERANGAN JANTUNG
77
BAB 74: DOKTER SOMBONG
78
BAB 75: BAYANG HITAM
79
BAB 76: TUAN JONO MENINGGAL
80
BAB 77: LEBARAN KELABU
81
BAB 78: ORANG-ORANG SERAKAH
82
BAB 79: IKHLAS
83
BAB 80: INNA MA'AL USRI YUSRA
84
BAB 81: WARISAN TERKUTUK
85
BAB 82: KATA-KATA MENYAKITKAN
86
BAB 83: PENJAGA ITU TERNYATA ADA
87
BAB 84: TEROR PERTAMA
88
BAB 85: SIAPA YANG TIDAK PERCAYA HANTU?
89
BAB 86: TEROR KEDUA
90
BAB 87: PERINGATAN DOSA
91
BAB 88: PENANTANG SETAN
92
BAB 89: JANGAN GEGABAH
93
BAB 90: BANASPATI
94
BAB 91: DUKUN SAKTI
95
BAB 92: TAK PERNAH JERA
96
BAB 93: KEHILANGAN KAKI
97
BAB 94: MENANTANG SETAN
98
BAB 95: KEMARAHAN ISTRI
99
BAB 96: ANCAMAN ULAR
100
BAB 97: TATO KULIT ULAR
101
BAB 98: IKATAN NAGA GINI

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!