Siti ternyata memang bocah yang bisa dan sudah terbiasa bekerja. Meski secara usia maupun secara fisik dia itu masih kategori anak-anak, kenyataannya Siti sanggup menyelesaikan pekerjaan menyapu dengan baik. Bersih dan cepat. Bahkan setelah selesai menyapu, ia langsung ke dapur, mencuci perkakas masak serta piring dan gelas yang berserakan di bagian belakang, di samping pintu belakang dapur.
Pastinya alat-alat masak seperti dandang, kukusan, panci, wajan dan peralatan lainnya, yang tadi pagi digunakan untuk memasak oleh Nenek Kosen, masih ditumpuk begitu saja di tanah, tempat yang biasa digunakan untuk mencuci. Di situ sudah ada kenceng, yaitu alat dapur yang mirip dengan baskom besar dan terbuat dari tembaga, biasanya digunakan untuk mengaru nasi yang ditanak dari kukusan. Kenceng itu berisi air. Pastilah air itu yang dipakai untuk mencuci perkakas dapur. Dan di dekat kenceng itu ada tempayan yang penuh berisi air.
Maka Siti langsung berjongkok di situ, dan langsung mencuci semua perkakas yang terletak di tempat itu. Dengan cekatan ia mencuci, sehingga dalam waktu singkat, semua barang kotor itu disulap menjadi bersih. Lantas ia menaruhnya di dipan kayu yang ada di ruang dapur, tentunya karena ia melihat ada barang-barang perkakas lainnya yang sudah menumpuk di situ. Jadi, Siti menganggap, itulah tempat menaruh perkakas dapur.
Memang sudah umum, bagi orang desa, biasa menaruh barang-barang perkakas rumah tangga di dapur. Ada juga pogo, yaitu semacam rak tempat perkakas dapur yang terbuat dari bambu atau kayu. Dan mungkin, di rumahnya Siti juga seperti itu. Sehingga cara kerja anak ini sangat kelihatan hafal dengan pekerjaannya, dan seakan-akan sudah tahu tempatnya.
"Lhoh? Siapa ini?" Nenek Kosen yang baru saja datang, tentunya kaget saat masuk di dapur dan melihat ada bocah yang duduk di dipan dapurnya.
"Saya Siti, Bu. Babu di sini." jawab Siti yang mungkin sedang istirahat karena kecapaian setelah menyapu dan mencuci perkakas dapur yang sangat banyak.
"Siti? Pembantu. Jangan menyebut babu. Kurang baik didengar." kata Nenek Kosen yang langsung menaruh keranjang dunak yang berisi belanjaan, dan terus duduk di samping Siti.
"Iya, Bu." kata Siti yang sudah menatap perempuan tua yang duduk di sampingnya itu.
"Jangan panggil saya Bu. Panggil Nenek. Nenek Kosen. Saya sudah punya cucu. Jono itu anak saya. Saya istrinya Kakek Yan, yang punya rumah ini. Kamu kalau ketemu laki-laki yang tua, suami Nenek, panggil Kakek Yan begitu saja. Anggap dia itu kakek kamu." kata Nenek Kosen yang menjelaskan kepada bocah yang mengaku sebagai pembantu tersebut.
"Iya, Nek." kata Siti yang tentunya terkejut, karena ia sekarang justru duduk berdempetan dengan yang punya rumah.
"Ini tadi, yang mencuci piring sama perkakas ini semua, kamu?" tanya Nenek Kosen yang tentunya juga kaget karena perkakas dapurnya sudah bersih semua.
"Iya, Nek. Maaf, kalau kurang bersih." jawab Siti.
"Ah, tidak. Sudah bersih kok. Saya senang ada yang membantu membersihkan dan mencuci perkakas dapur. Sudah bisa memasak apa belum?" kata Nenek Kosen, yang langsung menanyakan kebisaan memasak pada pembantu yang masih kecil tersebut.
"Sedikit-sedikit bisa, Nek. Masak nasi sudah bisa." jawab Siti yang tentunya menyampaikan kebisaannya.
"Hebat. Masih kecil begini sudah pinter masak. Nanti bantu Nenek untuk memasak, ya." kata Nenek Kosen kembali, yang memuji anak itu.
"Iya, Nek. Saya mau disuruh apa saja." jawab anak itu, yang memang bekal dari rumahnya, dipesan oleh orang tuanya harus mau disuruh apa saja oleh majikannya.
"Sudah makan apa belum?" tanya Nenek Kosen.
"Belum." jawab Siti kelihatan memelas.
"Ya ampun. Kalau begitu kita masak dulu. Pasti kamu kelaparan. " Nenek Kosen langsung bangkit berdiri, dan menuju ke tungku, akan menyalakan api di dapurnya.
Namun tiba-tiba, Siti juga ikut berdiri menyusul Nenek Kosen, dan langsung mengambil beberapa kayu bakar dan sobekan daun kelapa yang kering, lantas dimasukkan ke lubang tungku.
"Biar saya yang menyalakan apinya, Nek. " kata Siti yang sudah jongkok di depan tungku.
"Memang kamu bisa?" tanya Nenek Kosen.
"Bisa. Kalau di rumah, biasanya juga saya yang membuat perapian." jawab Siti.
"Wee. Lha kamu itu kok bisa semua. Pinter tenan kowe, Cah ayu." kata Nenek Kosen yang memuji pembantu kecil itu.
Dan ternyata, Siti memang sangat cekatan, cepat dan terampil. Dalam sekejap, api dalam tungku itu langsung menyala. Tentunya Nenek Kosen menaruh rasa senang dengan pembantu yang masih tergolong bocah tersebut. Selanjutnya, mereka berdua, nenek dan bocah yang layak menjadi cucunya itu, langsung memasak, untuk menyiapkan makan buat keluarga dan para penggembala ternak. Nenek Kosen mengambil barang-barang belanjaan dari pasar yang masih berada di dalam dunak, tentunya bahan masakan yang akan diolah hari itu. Siti pun dengan lihainya, ibarat seperti orang yang ahli memasak, langsung membantu si nenek. Tentu Nenek Kosen jadi senang dan tersenyum puas.
Hingga siang, akhirnya masakan pun selesai diolah dan siap disajikan.
"Yang ini, nasi di bakul ini sama sayur yang di mangkok itu, dan lauk yang di piring itu, kamu taruh di lemari makan, ya. Itu, yang ada di dalam dekat meja makan itu." kata Nenek Kosen yang mengatur makanannya.
"Iya, Nek." jawab Siti yang langsung mengangkat masakan yang ditunjukkan oleh si nenek tersebut.
"Yang ini, biar di sini saja. Tapi kamu tutupi tampah, biar tidak dimakan ayam. Nanti sebentar lagi anak-anak yang menggembalakan ternak dan mencari rumput akan datang. Ini untuk jatah makan anak-anak penggembala." kata Nenek Kosen yang menyuruh Siti untuk menata makanan di dipan tempat ia duduk. Dan tentunya juga ditutupi tampah, yaitu alat untuk menampi beras yang terbuat dari anyaman bambu.
"Iya, Nek." Siti pun menuruti seperti apa yang dikatakan Nenek Kosen.
"Nah. Yang di piring ini, satu untuk kamu, dan yang ini untuk saya. Ayo, kita makan. Tidak usah malu-malu. Kamu pasti kelaparan. Makan yang kenyang, nanti kalau sudah pada makan semua, piringnya ditaruh di kenceng, biar gampang dicuci." kata si nenek yang langsung mengangkat piringnya, dan makan tanpa menggunakan sendok alias menggunakan tangannya.
"Iya Nek." jawab Siti yang juga langsung mengangkat piringnya, dan makan seperti yang dilakukan majikannya. Muluk alias menggunakan tangannya.
Mereka berdua makan terlihat sangat nikmat. Tentu karena Nenek Kosen merasa senang sudah dibantu oleh anak yang pintar dan rajin itu. Apalagi Siti, yang memang dari pagi perutnya belum kemasukan apa-apa, tentunya perutnya sangat kelaparan. Maka makannya terlihat sangat lahap. Apalagi masakannya sangat cocok, pakai nasi putih masih hangat dengan sayur lodeh, lauknya ikan asin, ditambah sambal terasi.
"Enak, tidak?" tanya Nenek Kosen yang menoleh ke Siti, mengamati makannya anak itu.
"Enak. Sangat enak. Di rumah jarang makan seperti ini." jawab Siti yang tentu sangat menikmati makanan yang ada di piringnya.
"Memang, kalau di rumah kamu makannya apa?" tanya Nenek Kosen.
"Biasanya Simbok memasak nasi jagung. Kadang-kadang nasi dicampur aking. Sayurnya gudangan atau pecel. Lauknya, ya, sama. Pakai ikan asin." jawab Siti yang menceritakan kondisinya di rumah.
"Waah. Nasi jagung sama gudangan? Lauknya ikan asin? Pasti enak itu. Saya kalau kepingin, biasanya beli di pasar. Yah, di rumah tidak ada yang menumbuk jagung." sahut Nenek Kosen yang tentunya tergiur dengan makanan yang diceritakan oleh Siti.
"Saya juga senang di sini, bisa belajar masak macam-macam sama nenek." sambung Siti.
"Sitiiii!" terdengar teriakan dari dalam kamarnya Ciblek. Siti dipanggil oleh majikannya.
"Iya, saya, Bu." Situ berlari menuju kamar majikannya yang tadi pagi sempat banyak menanyainya. Tentu majikannya itu akan menyuruh-suruh.
Nenek Kosen yang mendengar teriakan keras panggilan itu, langsung mengelus dadanya. Suaranya memekikkan telinga. Dasar menantunya itu memang orang yang tidak punya sopan santun, tidak punya hati, tidak punya perasaan. Kenapa memanggil orang yang hanya berjarak lima meter saja harus berteriak keras. Dasar urakan.
"Saya, Bu. Ada apa, Bu?" tanya Siti yang sudah sampai di depan pintu kamar Ciblek.
"Sini! Semua pakaian kotor ini, nanti kamu cuci. Harus bersih!" kata majikannya, Ciblek, yang langsung menjatuhkan pakaian-pakaian kotor di depan pintunya, di lantai yang masih berupa tanah. Zaman itu masih sangat jarang orang punya lantai yang diplester semen ataupun mengenakan ubin, apalagi keramik. Plester semen dan ubin itu hanya terdapat di perkotaan.
"Iya, Bu." kata Siti yang langsung memunguti pakaian-pakaian kotor dari tanah, dan membawanya ke dapur dan ditaruh di ember.
Nenek Kosen yang tahu hal itu, kembali mengusap dadanya. Dan raut wajahnya pun langsung menciut, sangat sedih melihat kelakuan menantunya itu.
"Siti. Nanti kamu ke sendang bareng sama Nenek. Kita mencuci di sendang." kata Nenek Kosen yang lembut pada Siti, tidak tega melihat perlakuan menantunya yang tidak manusiawi itu. Tentunya ia akan menemani Siti untuk pergi mencuci di sendang, tempat embung air yang memang biasa digunakan oleh warga Pademangan untuk mencuci dan mandi.
"Iya, Nek." jawab Siti yang tetap nyaman, tanpa ada rasa sedih, walau sebenarnya juga ada rasa takut karena dibentak oleh majikan mudanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments