Ciblek memang perempuan yang tak tahu diuntung. Perempuan yang tidak mengerti dengan keberadaannya. Perempuan yang ibaratnya diangkat dari kesengsaraan kemiskinan oleh Tuan Jono, dan diterima oleh keluarga Kakek Yan, sehingga perempuan miskin itu bisa menikmati hidup dengan bergelimang harta dan kekayaan. Namun rupanya, Ciblek tidak mau memahami bagaimana susahnya proses untuk menjadi kaya. Ciblek tidak menghargai bagimana keringat yang terkucur dari seseorang yang bekerja untuk mencari uang.
Mungkin memang karakternya, yang terbentuk dari keluarga miskin yang kurang pendidikan, sehingga Ciblek tidak punya perasaan, kalau sebenarnya dirinya itu sangat beruntung bisa diterima oleh keluarga Tuan Jono. Tetapi alih-alih mau bekerja mengurusi dapur atau rumahnya, berterima kasih saja tidak, malah memfitnah mertuanya.
Yah, ibarat pepatah yang sering dikatakan orang jawa, "kere munggah bale". Yaitu sebuah gambaran tentang bagaimana sikap dan perilaku dari seseorang yang tadinya hidup miskin, kemudian secara tiba-tiba diangkat oleh orang yang kaya raya. Dia tidak tahu balas budi, bahkan ucapan terima kasih saja tidak pernah keluar dari mulutnya. Lantas ia menjadi sombong. Anggapannya bahwa kekayaan itu adalah miliknya. Meski hidupnya sebenarnya bergantung pada suaminya. Sikapnya angkuh dan sombong. Seolah dirinya adalah orang yang paling kaya. Padahal, semua harta kekayaan yang sekarang ia nikmati adalah hasil kerja keras dari Kakek Yan dan Nenek Kosen, yang mengumpulkan harta sedikit demi sedikit, dari hasil jerih payah memeras keringat dan membanting tulang setiap hari.
Tetapi kini tiba-tiba perempuan miskin itu berlagak seperti pemiliknya. Ingin mengatur semuanya dan tidak mau diatur oleh siapa saja. Begitu tidak keturutan kemauannya, maka Ciblek langsung ngambek, lantas pulang ke rumah orang tuanya.
"Mak, Ciblek mau pulang ke sini, kalau di rumah ada pembantu yang mengerjakan pekerjaan rumah di sini." kata Tuan Jono pada ibunya di dapur, pagi sebelum ibunya berangkat ke pasar untuk berjualan.
Seperti biasanya, Nenek Kosen selalu memasak menyiapkan makanan, menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga dan para penggembala ternaknya. Maka sejak sebelum subuh, Nenek Kosen pasti sudah berada di dapur untuk memasak. Dan itu sudah umum dilakukan oleh masyarakat Kampung Pademangan. Sehingga kepul asap kayu bakar sudah memberi kehangatan kampung yang berbasis pertanian itu.
Mendengar kata-kata anaknya yang membuntuti ibunya di dapur itu, Nenek Kosen diam tidak menjawab. Bahkan tidak memperhatikan anaknya yang terus mengikuti di belakangnya. Malah beberapa kali Nenek Kosen berjongkok dan membungkuk di depan tungku, meniup api yang kadang-kadang mengecil. Bahkan juga pura-pura membuka penutup kukusan, alat pemasak nasi zaman kuno yang terbuat dari anyaman bambu, menengok nasi yang ditanaknya.
"Mak,Ciblek tidak mau pulang ke sini." kata si Jono lagi. Tetap saja masih membuntuti ibunya.
Nenek Kosen menoleh anaknya, menatap dengan pandangan sinis. Masih ada rasa jengkel dengan anak yang sudah dibesarkan dan disayangi itu. Seakan-akan ia marah, membenci anak bungsunya yang biasanya selalu disayang dan dituruti segala permintaannya itu. Nenek Kosen hanya diam dan tidak menjawab sama sekali. Dan sesaat kemudian, sudah kembali meninggalkan anaknya. Sibuk dengan urusan dapurnya. Fokus menyiapkan masakan untuk Kakek Yan dan para penggembala ternak.
"Mak...." kata Jono kembali memanggil ibunya dan berharap akan mendapat jawaban.
Dan ibunya tetap saja tak bergeming. Tidak menjawab kata-kata anaknya. Bahkan sudah tidak mempedulikan lagi anaknya yang mengikuti dirinya terus-terusan itu.
Pasti Jono berpikiran, kalau ibunya sangat marah kepadanya. Atau setidaknya, ibunya jengkel dengan istrinya yang ternyata tidak bisa mengurusi rumah tangga.
Akhirnya Jono pasrah. Tidak lagi membututi ibunya yang masih sibuk memasak. Dan Jono hanya bisa duduk di dipan dapur itu, tempat ibunya meracik bahan-bahan masakan. Ia hanya bisa diam memandangi ibunya yang terus sibuk memasak, dan sesekali diselingi menata barang dagangan dalam keranjang yang akan dibawa ke pasar.
Disaat menyaksikan ibunya yang sibuk memasak, bahkan kadang-kadang harus membungkuk meniup bara api, agar apinya tetap menyala, Jono mulai terbuka hatinya, betapa susahnya seorang ibu yang mengurusi rumah tangga.
Jono pun merasa kasihan menyaksikan ibunya seperti itu. Ternyata mengurus dapur bukanlah pekerjaan mudah. Itu baru memasak, belum lagi kalau nanti harus mencuci piring dan perangkat masak lainnya. Masih juga harus mencuci pakaian keluarganya. Lalu ibunya itu harus pergi ke pasar, tentu untuk menjual hasil kebun dan ladangnya. Hasil jualannya ditukarkan barang-barang lain, seperti bumbu dapur, gula serta lauk pauk. Kalau ada sisa uang, ditabung. Dan semuanya itu pasti untuk keluarganya. Untuk menyekolahkan anak-anaknya. Untuk sumbangan-sumbangan orang punya kerja. Termasuk untuk membangun rumah.
Dan sampai besar, ketika Tuan Jono sudah bekerja menjadi pegawai, bahkan sudah menikah, Jono belum pernah membalas jasa-jasa orang tuanya. Bahkan saat gajian pun tidak pernah membelikan jajanan atau sesuatu untuk orang tuanya. Apa balasannya? Malah ia marah pada orang tuanya. Rasa sesal pun keluar dari hati Jono.
Tanpa terasa, air mata menetes dari pelupuk mata Jono. Ia merasa terharu, merasa iba, dan merasa menyesal sudah berbuat kurang menyenangkan pada ibunya. Bahkan Jono menyesal sudah menyakiti hati ibunya. Termasuk saat memaksakan diri untuk punya istri dengan perempuan yang ibunya tidak setuju. Bahkan menolak jodoh yang dipilihkan oleh ibunya. Dan kenyataannya, istrinya sekarang, Ciblek, perempuan yang menjadi pilihannya sendiri, justru mulai menampakkan kejelekkannya. Sudah memfitnah orang tua yang membesarkan dan mendidiknya. Istrinya tidak seperti yang diharapkan oleh ibunya. Bahkan mungkin juga oleh bapaknya.
Dan air mata yang mengalir ke pipi Jono, semakin deras. Bahkan ia mulai mengguguk menahan tangis. Menyesali semua kesalahannya.
"Heh, Jono, kenapa kamu menangis? Apa yang kamu tangisi?" tanya ibunya yang melihat anaknya yang duduk di tempat meracik bumbu sedang menangis.
"Maafkan Jono, Mak. Saya sudah mengecewakan Mamak. Huhuhu." jawab Jono yang justru tangisnya semakin mengencang.
"We alah. Syukurlah kalau kamu sadar. Ya sudah, sini bantu Mamak. Biar pekerjaan Mamak cepat selesai. Ini, kamu masuk-masukkan ke lemari makan. Biar cepet beres. Ini Mamak sudah kesiangan. Nanti pasarnya keburu habis pembeli, dagangannya tidak ada yang beli. Tidak dapat uang." kata ibunya yang langsung minta dibantu.
"Maafkan Jono, ya, Mak." kata anaknya lagi sambil mengusap air mata, yang tentu masih menyesali kekeliruannya.
"Sudah, cepet. Ini lho, kalau kamu mau tahu, seorang ibu rumah tangga itu pekerjaannya banyak. Tidak ringan. Makanya jangan dicemooh. Ini Mamak juga belum nyuci pakaian." gerutu ibunya, yang tentu sambil menasihati anaknya.
"Iya, Mak. Saya paham." jawab Jono.
"Nhaaa. Makanya, istri kamu diajari ngurus rumah tangga begini. Setidaknya yang nyuci pakaian kamu itu bukan Mamak lagi. Sokur kalau ia bisa masak, menyiapkan sarapan dan makan siang buat kamu. Ya, setidaknya menyapu halaman rumah. Lihat itu, daun-daun kering berserakan. Apa kamu tidak kasihan sama Bapak kamu, yang setiap hari membersihkannya?" tambah ibunya. Tentunya Nenek Kosen tidak mau kembali memarahi anaknya, khawatir nanti Jono akan ngambek dan pergi lagi.
Jono kembali tersentuh hatinya. Berarti selama ini dirinya tidak pernah melihat bagaimana orang tuanya pontang-panting bekerja keras untuk bisa hidup layak, dan bahkan boleh dikatakan sebagai keluarga yang mapan.
"Orang hidup itu tidak seperti sulapan. Tiba-tiba saja langsung jadi kaya. Orang hidup kalau ingin mendapatkan penghasilan yang cukup, ya harus berusaha. Harus bekerja. Harus rajin. Jangan dianggap seperti mimpi. Enak terus. Begitu bangun tidur, kaget. Yang diimpikan tidak sesuai dengan kenyataan. Bapakmu, Mamak kamu, pontang-panting begini ini untuk siapa? Untuk kamu. Supaya apa? Agar kita ini kecukupan. Agar kita tidak kekurangan. Tidak hidup miskin. Makanya, kamu itu harus rajin, kalau ingin jadi orang kaya. Ajarkan juga pada istrimu. Jangan jadi pemalas. Tidak ada rejeki turun dari langit begitu saja tanpa kita berusaha." kata Nenek Kosen, panjang lebar menasehati anaknya.
"Iya, Mak. Tapi, pelan-pelan ya, Mak. Saya juga khawatir dengan Ciblek." jawab Jono yang masih mencoba membantu ibunya.
Lantas Nenek Kosen mengambil piring dari seng, mengambil nasi serta sayur nangka muda, kemudian mengambil ikan asin dan sambal korek. Lantas duduk di dipan kayu yang ada di dapur itu, makan dengan lahapnya. Kelihatan tergesa, karena memang sudah kesiangan untuk berangkat ke pasar.
Selesai makan di pagi buta itu, Nenek Kosen langsung mengangkat dunak, keranjang yang terbuat dari anyaman bambu, yang penuh berisi nangka muda, singkong, dan daun singkong muda, ditaruh di pinggang belakangnya, lalu digendong dengan menggunakan kain selendang. Walau sebenarnya berat, tetapi terlihat ringan bagi perempuan yang sudah biasa menggendong barang-barang dagangan itu.
"Pak! Saya berangkat ke pasar!" teriak Nenek Kosen memberi tahu suaminya, yang tentunya Kakek Yan sudah berada di kandang belakang rumah.
Lantas tanpa menunggu jawaban dari suaminya, perempuan setengah baya itu langsung berangkat. Tentu berjalan kaki dan tanpa alas kaki, dari rumah sampai pasar yang jaraknya lumayan jauh. Di masa itu, belum banyak kendaraan, belum ada angkutan dari tempatnya. Angkutan masih jarang. Bahkan orang satu kampung di Pademangan pun belum ada yang punya kendaraan. Makanya orang-orang zaman itu sehat-sehat, karena berolah raga setiap hari tanpa disadari.
Jono menyaksikan kepergian ibunya, dengan rasa haru dan iba. Ada penyesalan yang sangat besar, manakala ia belum pernah membahagiakan ibunya, bahkan selalu menyakiti hati ibunya. Dan tanpa terasa, mata Jono kembali mengucurkan air mata. Ya, air mata penyesalan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments