BAB 5: PENYESALAN

    Ciblek memang perempuan yang tak tahu diuntung. Perempuan yang tidak mengerti dengan keberadaannya. Perempuan yang ibaratnya diangkat dari kesengsaraan kemiskinan oleh Tuan Jono, dan diterima oleh keluarga Kakek Yan, sehingga perempuan miskin itu bisa menikmati hidup dengan bergelimang harta dan kekayaan. Namun rupanya, Ciblek tidak mau memahami bagaimana susahnya proses untuk menjadi kaya. Ciblek tidak menghargai bagimana keringat yang terkucur dari seseorang yang bekerja untuk mencari uang.

    Mungkin memang karakternya, yang terbentuk dari keluarga miskin yang kurang pendidikan, sehingga Ciblek tidak punya perasaan, kalau sebenarnya dirinya itu sangat beruntung bisa diterima oleh keluarga Tuan Jono. Tetapi alih-alih mau bekerja mengurusi dapur atau rumahnya, berterima kasih saja tidak, malah memfitnah mertuanya.

    Yah, ibarat pepatah yang sering dikatakan orang jawa, "kere munggah bale". Yaitu sebuah gambaran tentang bagaimana sikap dan perilaku dari seseorang yang tadinya hidup miskin, kemudian secara tiba-tiba diangkat oleh orang yang kaya raya. Dia tidak tahu balas budi, bahkan ucapan terima kasih saja tidak pernah keluar dari mulutnya. Lantas ia menjadi sombong. Anggapannya bahwa kekayaan itu adalah miliknya. Meski hidupnya sebenarnya bergantung pada suaminya. Sikapnya angkuh dan sombong. Seolah dirinya adalah orang yang paling kaya. Padahal, semua harta kekayaan yang sekarang ia nikmati adalah hasil kerja keras dari Kakek Yan dan Nenek Kosen, yang mengumpulkan harta sedikit demi sedikit, dari hasil jerih payah memeras keringat dan membanting tulang setiap hari.

    Tetapi kini tiba-tiba perempuan miskin itu berlagak seperti pemiliknya. Ingin mengatur semuanya dan tidak mau diatur oleh siapa saja. Begitu tidak keturutan kemauannya, maka Ciblek langsung ngambek, lantas pulang ke rumah orang tuanya.

    "Mak, Ciblek mau pulang ke sini, kalau di rumah ada pembantu yang mengerjakan pekerjaan rumah di sini." kata Tuan Jono pada ibunya di dapur, pagi sebelum ibunya berangkat ke pasar untuk berjualan.

    Seperti biasanya, Nenek Kosen selalu memasak menyiapkan makanan, menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga dan para penggembala ternaknya. Maka sejak sebelum subuh, Nenek Kosen pasti sudah berada di dapur untuk memasak. Dan itu sudah umum dilakukan oleh masyarakat Kampung Pademangan. Sehingga kepul asap kayu bakar sudah memberi kehangatan kampung yang berbasis pertanian itu.

    Mendengar kata-kata anaknya yang membuntuti ibunya di dapur itu, Nenek Kosen diam tidak menjawab. Bahkan tidak memperhatikan anaknya yang terus mengikuti di belakangnya. Malah beberapa kali Nenek Kosen berjongkok dan membungkuk di depan tungku, meniup api yang kadang-kadang mengecil. Bahkan juga pura-pura membuka penutup kukusan, alat pemasak nasi zaman kuno yang terbuat dari anyaman bambu, menengok nasi yang ditanaknya.

    "Mak,Ciblek tidak mau pulang ke sini." kata si Jono lagi. Tetap saja masih membuntuti ibunya.

    Nenek Kosen menoleh anaknya, menatap dengan pandangan sinis. Masih ada rasa jengkel dengan anak yang sudah dibesarkan dan disayangi itu. Seakan-akan ia marah, membenci anak bungsunya yang biasanya selalu disayang dan dituruti segala permintaannya itu. Nenek Kosen hanya diam dan tidak menjawab sama sekali. Dan sesaat kemudian, sudah kembali meninggalkan anaknya. Sibuk dengan urusan dapurnya. Fokus menyiapkan masakan untuk Kakek Yan dan para penggembala ternak.

    "Mak...." kata Jono kembali memanggil ibunya dan berharap akan mendapat jawaban.

    Dan ibunya tetap saja tak bergeming. Tidak menjawab kata-kata anaknya. Bahkan sudah tidak mempedulikan lagi anaknya yang mengikuti dirinya terus-terusan itu.

    Pasti Jono berpikiran, kalau ibunya sangat marah kepadanya. Atau setidaknya, ibunya jengkel dengan istrinya yang ternyata tidak bisa mengurusi rumah tangga.

    Akhirnya Jono pasrah. Tidak lagi membututi ibunya yang masih sibuk memasak. Dan Jono hanya bisa duduk di dipan dapur itu, tempat ibunya meracik bahan-bahan masakan. Ia hanya bisa diam memandangi ibunya yang terus sibuk memasak, dan sesekali diselingi menata barang dagangan dalam keranjang yang akan dibawa ke pasar.

    Disaat menyaksikan ibunya yang sibuk memasak, bahkan kadang-kadang harus membungkuk meniup bara api, agar apinya tetap menyala, Jono mulai terbuka hatinya, betapa susahnya seorang ibu yang mengurusi rumah tangga.

    Jono pun merasa kasihan menyaksikan ibunya seperti itu. Ternyata mengurus dapur bukanlah pekerjaan mudah. Itu baru memasak, belum lagi kalau nanti harus mencuci piring dan perangkat masak lainnya. Masih juga harus mencuci pakaian keluarganya. Lalu ibunya itu harus pergi ke pasar, tentu untuk menjual hasil kebun dan ladangnya. Hasil jualannya ditukarkan barang-barang lain, seperti bumbu dapur, gula serta lauk pauk. Kalau ada sisa uang, ditabung. Dan semuanya itu pasti untuk keluarganya. Untuk menyekolahkan anak-anaknya. Untuk sumbangan-sumbangan orang punya kerja. Termasuk untuk membangun rumah.

    Dan sampai besar, ketika Tuan Jono sudah bekerja menjadi pegawai, bahkan sudah menikah, Jono belum pernah membalas jasa-jasa orang tuanya. Bahkan saat gajian pun tidak pernah membelikan jajanan atau sesuatu untuk orang tuanya. Apa balasannya? Malah ia marah pada orang tuanya. Rasa sesal pun keluar dari hati Jono.

    Tanpa terasa, air mata menetes dari pelupuk mata Jono. Ia merasa terharu, merasa iba, dan merasa menyesal sudah berbuat kurang menyenangkan pada ibunya. Bahkan Jono menyesal sudah menyakiti hati ibunya. Termasuk saat memaksakan diri untuk punya istri dengan perempuan yang ibunya tidak setuju. Bahkan menolak jodoh yang dipilihkan oleh ibunya. Dan kenyataannya, istrinya sekarang, Ciblek, perempuan yang menjadi pilihannya sendiri, justru mulai menampakkan kejelekkannya. Sudah memfitnah orang tua yang membesarkan dan mendidiknya. Istrinya tidak seperti yang diharapkan oleh ibunya. Bahkan mungkin juga oleh bapaknya.

    Dan air mata yang mengalir ke pipi Jono, semakin deras. Bahkan ia mulai mengguguk menahan tangis. Menyesali semua kesalahannya.

    "Heh, Jono, kenapa kamu menangis? Apa yang kamu tangisi?" tanya ibunya yang melihat anaknya yang duduk di tempat meracik bumbu sedang menangis.

    "Maafkan Jono, Mak. Saya sudah mengecewakan Mamak. Huhuhu." jawab Jono yang justru tangisnya semakin mengencang.

    "We alah. Syukurlah kalau kamu sadar. Ya sudah, sini bantu Mamak. Biar pekerjaan Mamak cepat selesai. Ini, kamu masuk-masukkan ke lemari makan. Biar cepet beres. Ini Mamak sudah kesiangan. Nanti pasarnya keburu habis pembeli, dagangannya tidak ada yang beli. Tidak dapat uang." kata ibunya yang langsung minta dibantu.

    "Maafkan Jono, ya, Mak." kata anaknya lagi sambil mengusap air mata, yang tentu masih menyesali kekeliruannya.

    "Sudah, cepet. Ini lho, kalau kamu mau tahu, seorang ibu rumah tangga itu pekerjaannya banyak. Tidak ringan. Makanya jangan dicemooh. Ini Mamak juga belum nyuci pakaian." gerutu ibunya, yang tentu sambil menasihati anaknya.

    "Iya, Mak. Saya paham." jawab Jono.

    "Nhaaa. Makanya, istri kamu diajari ngurus rumah tangga begini. Setidaknya yang nyuci pakaian kamu itu bukan Mamak lagi. Sokur kalau ia bisa masak, menyiapkan sarapan dan makan siang buat kamu. Ya, setidaknya menyapu halaman rumah. Lihat itu, daun-daun kering berserakan. Apa kamu tidak kasihan sama Bapak kamu, yang setiap hari membersihkannya?" tambah ibunya. Tentunya Nenek Kosen tidak mau kembali memarahi anaknya, khawatir nanti Jono akan ngambek dan pergi lagi.

    Jono kembali tersentuh hatinya. Berarti selama ini dirinya tidak pernah melihat bagaimana orang tuanya pontang-panting bekerja keras untuk bisa hidup layak, dan bahkan boleh dikatakan sebagai keluarga yang mapan.

    "Orang hidup itu tidak seperti sulapan. Tiba-tiba saja langsung jadi kaya. Orang hidup kalau ingin mendapatkan penghasilan yang cukup, ya harus berusaha. Harus bekerja. Harus rajin. Jangan dianggap seperti mimpi. Enak terus. Begitu bangun tidur, kaget. Yang diimpikan tidak sesuai dengan kenyataan. Bapakmu, Mamak kamu, pontang-panting begini ini untuk siapa? Untuk kamu. Supaya apa? Agar kita ini kecukupan. Agar kita tidak kekurangan. Tidak hidup miskin. Makanya, kamu itu harus rajin, kalau ingin jadi orang kaya. Ajarkan juga pada istrimu. Jangan jadi pemalas. Tidak ada rejeki turun dari langit begitu saja tanpa kita berusaha." kata Nenek Kosen, panjang lebar menasehati anaknya.

    "Iya, Mak. Tapi, pelan-pelan ya, Mak. Saya juga khawatir dengan Ciblek." jawab Jono yang masih mencoba membantu ibunya.

    Lantas Nenek Kosen mengambil piring dari seng, mengambil nasi serta sayur nangka muda, kemudian mengambil ikan asin dan sambal korek. Lantas duduk di dipan kayu yang ada di dapur itu, makan dengan lahapnya. Kelihatan tergesa, karena memang sudah kesiangan untuk berangkat ke pasar.

    Selesai makan di pagi buta itu, Nenek Kosen langsung mengangkat dunak, keranjang yang terbuat dari anyaman bambu, yang penuh berisi nangka muda, singkong, dan daun singkong muda, ditaruh di pinggang belakangnya, lalu digendong dengan menggunakan kain selendang. Walau sebenarnya berat, tetapi terlihat ringan bagi perempuan yang sudah biasa menggendong barang-barang dagangan itu.

    "Pak! Saya berangkat ke pasar!" teriak Nenek Kosen memberi tahu suaminya, yang tentunya Kakek Yan sudah berada di kandang belakang rumah.

    Lantas tanpa menunggu jawaban dari suaminya, perempuan setengah baya itu langsung berangkat. Tentu berjalan kaki dan tanpa alas kaki, dari rumah sampai pasar yang jaraknya lumayan jauh. Di masa itu, belum banyak kendaraan, belum ada angkutan dari tempatnya. Angkutan masih jarang. Bahkan orang satu kampung di Pademangan pun belum ada yang punya kendaraan. Makanya orang-orang zaman itu sehat-sehat, karena berolah raga setiap hari tanpa disadari.

    Jono menyaksikan kepergian ibunya, dengan rasa haru dan iba. Ada penyesalan yang sangat besar, manakala ia belum pernah membahagiakan ibunya, bahkan selalu menyakiti hati ibunya. Dan tanpa terasa, mata Jono kembali mengucurkan air mata. Ya, air mata penyesalan.

Episodes
1 BAB I: PERNIKAHAN TUAN JONO
2 BAB 2: NGUNDUH MANTU
3 BAB 3: TINGGAL BERSAMA MERTUA
4 BAB 4: MEMARAHI ANAK KESAYANGAN
5 BAB 5: PENYESALAN
6 BAB 6: MINTA PEMBANTU
7 BAB 7: PUNYA PEMBANTU
8 BAB 8: PUNYA PEMBANTU
9 BAB 9: PEMBANTU BARU
10 BAB 10: CERITA SAAT MENCUCI
11 BAB 11: PEMBANTU MINTA PULANG
12 BAB 12: DIMARAHI ORANG TUA
13 BAB 13: NGAMBEK LAGI
14 BAB 14: KEMBALI MEMINTA SYARAT
15 BAB 15: MEMINTA RUMAH
16 BAB 16: MEMINDAH RUMAH
17 BAB 17: RUMAH YANG BUTUH KERAMAIAN
18 BAB 18: PENGGEMBALA CILIK
19 BAB 19: RUMAH YANG KOTOR
20 BAB 20: BERONTAK
21 BAB 21: KEGUGURAN
22 BAB 22: RUMAH POHON
23 BAB 23: MENJADI ANAK KAKEK DAN NENEK
24 BAB 24: ANAK PINTAR
25 BAB 25: PENCURI KAYU BAKAR
26 BAB 26: ANAK PERTAMA
27 BAB 27: PERUBAHAN ZAMAN
28 BAB 28: MURID TELADAN
29 BAB 29: SEKOLAH FAVORIT
30 BAB 30: BERAS DIMAKAN GERANDONG
31 BAB 31: MENYINGKIRKAN KELUARGA MERTUA
32 BAB 32: ADIK NAKAL
33 BAB 33: ANAK PINTAR
34 BAB 34: MEMBUKA WARUNG
35 BAB 35: INTERKOM
36 BAB 36: HARUS OPNAM
37 BAB 37: TELAH HILANG GIGI EMAS
38 BAB 38: DICARIKAN PACAR
39 BAB 39: PENCURI WARUNG
40 BAB 40: MAKLAR TANAH
41 BAB 41: MOTOR BARU
42 BAB 42: RUMAH GEDUNG
43 BAB 44: MINTA MOBIL
44 BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
45 BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
46 BAB 43: JIMAT PENUNGGU RUMAH
47 BAB 44: MINTA MOBIL
48 BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
49 BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
50 BAB 47: JADI GURU
51 BAB 48: SAYANG NENEK
52 BAB 49: PAMER GELANG
53 BAB 50: BERUBAH SIFAT
54 BAB 51: WATAK PUN BERUBAH
55 BAB 52: NAIK HAJI
56 BAB 53: PULANG HAJI
57 BAB 54: HAJI MABRUR
58 BAB 55: AGAMIS
59 BAB 56: KELUH KESAH SEORANG NENEK
60 BAB 57: PUSAKA LELUHUR
61 BAB 58: SEMAKIN MENYIMPANG
62 BAB 59: SEMUANYA BISA
63 BAB 60: JIKA ADA UANG JADI GAMPANG
64 BAB 61: PENGUSAHA HEBAT
65 BAB 62: PENGUSAHA GAGAL
66 BAB 63: JADI DOKTER
67 BAB 64: WANITA PELENGKAP
68 BAB 65: DEMO
69 BAB 66: NENEK SAKIT
70 BAB 67: KEHILANGAN ORANG-ORANG TERCINTA
71 BAB 68: SEMUA MENUNGGU
72 BAB 69: PENSIUNAN MENYUSAHKAN
73 BAB 70: TETAP MERASA HEBAT
74 BAB 71: MEMBAGI WARISAN
75 BAB 72: MENUNTUT LEBIH
76 BAB 73: SERANGAN JANTUNG
77 BAB 74: DOKTER SOMBONG
78 BAB 75: BAYANG HITAM
79 BAB 76: TUAN JONO MENINGGAL
80 BAB 77: LEBARAN KELABU
81 BAB 78: ORANG-ORANG SERAKAH
82 BAB 79: IKHLAS
83 BAB 80: INNA MA'AL USRI YUSRA
84 BAB 81: WARISAN TERKUTUK
85 BAB 82: KATA-KATA MENYAKITKAN
86 BAB 83: PENJAGA ITU TERNYATA ADA
87 BAB 84: TEROR PERTAMA
88 BAB 85: SIAPA YANG TIDAK PERCAYA HANTU?
89 BAB 86: TEROR KEDUA
90 BAB 87: PERINGATAN DOSA
91 BAB 88: PENANTANG SETAN
92 BAB 89: JANGAN GEGABAH
93 BAB 90: BANASPATI
94 BAB 91: DUKUN SAKTI
95 BAB 92: TAK PERNAH JERA
96 BAB 93: KEHILANGAN KAKI
97 BAB 94: MENANTANG SETAN
98 BAB 95: KEMARAHAN ISTRI
99 BAB 96: ANCAMAN ULAR
100 BAB 97: TATO KULIT ULAR
101 BAB 98: IKATAN NAGA GINI
Episodes

Updated 101 Episodes

1
BAB I: PERNIKAHAN TUAN JONO
2
BAB 2: NGUNDUH MANTU
3
BAB 3: TINGGAL BERSAMA MERTUA
4
BAB 4: MEMARAHI ANAK KESAYANGAN
5
BAB 5: PENYESALAN
6
BAB 6: MINTA PEMBANTU
7
BAB 7: PUNYA PEMBANTU
8
BAB 8: PUNYA PEMBANTU
9
BAB 9: PEMBANTU BARU
10
BAB 10: CERITA SAAT MENCUCI
11
BAB 11: PEMBANTU MINTA PULANG
12
BAB 12: DIMARAHI ORANG TUA
13
BAB 13: NGAMBEK LAGI
14
BAB 14: KEMBALI MEMINTA SYARAT
15
BAB 15: MEMINTA RUMAH
16
BAB 16: MEMINDAH RUMAH
17
BAB 17: RUMAH YANG BUTUH KERAMAIAN
18
BAB 18: PENGGEMBALA CILIK
19
BAB 19: RUMAH YANG KOTOR
20
BAB 20: BERONTAK
21
BAB 21: KEGUGURAN
22
BAB 22: RUMAH POHON
23
BAB 23: MENJADI ANAK KAKEK DAN NENEK
24
BAB 24: ANAK PINTAR
25
BAB 25: PENCURI KAYU BAKAR
26
BAB 26: ANAK PERTAMA
27
BAB 27: PERUBAHAN ZAMAN
28
BAB 28: MURID TELADAN
29
BAB 29: SEKOLAH FAVORIT
30
BAB 30: BERAS DIMAKAN GERANDONG
31
BAB 31: MENYINGKIRKAN KELUARGA MERTUA
32
BAB 32: ADIK NAKAL
33
BAB 33: ANAK PINTAR
34
BAB 34: MEMBUKA WARUNG
35
BAB 35: INTERKOM
36
BAB 36: HARUS OPNAM
37
BAB 37: TELAH HILANG GIGI EMAS
38
BAB 38: DICARIKAN PACAR
39
BAB 39: PENCURI WARUNG
40
BAB 40: MAKLAR TANAH
41
BAB 41: MOTOR BARU
42
BAB 42: RUMAH GEDUNG
43
BAB 44: MINTA MOBIL
44
BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
45
BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
46
BAB 43: JIMAT PENUNGGU RUMAH
47
BAB 44: MINTA MOBIL
48
BAB 45: SUSAHNYA KULIAH
49
BAB 46: KAKEK YAN MENINGGAL
50
BAB 47: JADI GURU
51
BAB 48: SAYANG NENEK
52
BAB 49: PAMER GELANG
53
BAB 50: BERUBAH SIFAT
54
BAB 51: WATAK PUN BERUBAH
55
BAB 52: NAIK HAJI
56
BAB 53: PULANG HAJI
57
BAB 54: HAJI MABRUR
58
BAB 55: AGAMIS
59
BAB 56: KELUH KESAH SEORANG NENEK
60
BAB 57: PUSAKA LELUHUR
61
BAB 58: SEMAKIN MENYIMPANG
62
BAB 59: SEMUANYA BISA
63
BAB 60: JIKA ADA UANG JADI GAMPANG
64
BAB 61: PENGUSAHA HEBAT
65
BAB 62: PENGUSAHA GAGAL
66
BAB 63: JADI DOKTER
67
BAB 64: WANITA PELENGKAP
68
BAB 65: DEMO
69
BAB 66: NENEK SAKIT
70
BAB 67: KEHILANGAN ORANG-ORANG TERCINTA
71
BAB 68: SEMUA MENUNGGU
72
BAB 69: PENSIUNAN MENYUSAHKAN
73
BAB 70: TETAP MERASA HEBAT
74
BAB 71: MEMBAGI WARISAN
75
BAB 72: MENUNTUT LEBIH
76
BAB 73: SERANGAN JANTUNG
77
BAB 74: DOKTER SOMBONG
78
BAB 75: BAYANG HITAM
79
BAB 76: TUAN JONO MENINGGAL
80
BAB 77: LEBARAN KELABU
81
BAB 78: ORANG-ORANG SERAKAH
82
BAB 79: IKHLAS
83
BAB 80: INNA MA'AL USRI YUSRA
84
BAB 81: WARISAN TERKUTUK
85
BAB 82: KATA-KATA MENYAKITKAN
86
BAB 83: PENJAGA ITU TERNYATA ADA
87
BAB 84: TEROR PERTAMA
88
BAB 85: SIAPA YANG TIDAK PERCAYA HANTU?
89
BAB 86: TEROR KEDUA
90
BAB 87: PERINGATAN DOSA
91
BAB 88: PENANTANG SETAN
92
BAB 89: JANGAN GEGABAH
93
BAB 90: BANASPATI
94
BAB 91: DUKUN SAKTI
95
BAB 92: TAK PERNAH JERA
96
BAB 93: KEHILANGAN KAKI
97
BAB 94: MENANTANG SETAN
98
BAB 95: KEMARAHAN ISTRI
99
BAB 96: ANCAMAN ULAR
100
BAB 97: TATO KULIT ULAR
101
BAB 98: IKATAN NAGA GINI

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!