“Cla,” Panggilan lembut dari Ornado kembali mengejutkan Cladia untuk kesekian kalinya untuk hari itu.
Ah, kenapa kamu terus-terusan bersikap seperti hantu, tanpa suara tiba-tiba sudah ada di dekatku.
Cladia berkata dalam hati sambil menoleh ke arah Ornado yang sudah mengambil posisi duduk di sampingnya.
“Ck, ck, ck…benar-benar saat kamu konsentrasi di depan notebookmu, tampaknya gempa bumipun tidak akan bisa membuatmu bergeming,” Cladia sedikit tersenyum mendengar candaan Ornado kali ini.
“Siang ini aku tidak bisa menemanimu makan siang, aku ada janji makan siang dengan rekan bisnis, kamu bisa makan siang bersama Amalia dan team kami. Kamu mau makan dimana biar Fred booking tempatnya untukmu,” Cladia menggeleng, dia teringat pada grup wa yang baru dibentuk setelah perkenalan tadi pagi, beranggotakan dia, Amalia, dan 4 orang lain dari perusahaan Bumi Asia, yang pasti tidak ada nama Ornado disana, hanya James.
Mereka sengaja tidak memasukkan nama Ornado dalam grup supaya mereka merasa nyaman saat kadang mereka bercanda dan pembicaraan mereka sedikit melenceng dari pekerjaan, seperti janji makan siang bersama siang ini, dan James adalah orang yang dapat dipercaya untuk tidak membocorkan rahasianya di depan team.
Sejak pagi tadi setelah grup dibentuk mereka sudah berjanji makan sama-sama siang ini di cafe perusahaan. Untunglah, sebelum dia menginfokan itu ke Ornado, Ornado sudah punya acara siang ini.
“Tidak perlu repot-repot, kami sudah buat janji untuk makan sama-sama di café lantai atas,” Ornado sedikit mengernyitkan alisnya, café lantai atas? Baru sehari Cladia disini seolah-olah dia sudah tahu fasilitas apa saja yang ada di perusahaannya, padahal sejak pagi Cladia tidak tampak meninggalkan tempat duduknya.
“Apa kamu punya guide di perusahaan ini? Sepertinya baru sehari saja kamu sudah tahu banyak hal tentang perusahaan ini,” Cladia membuka hpnya, membukanya, dan mengarahkan ke wajah Ornado, disana dengan jelas Ornado membaca ada grup percakapan dengan nama “Bumi Asia Sanjaya”.
Melihat itu Ornado mengangguk-anggukan kepalanya, dengan alis yang sedikit terangkat dan bibir sedikit terbuka, sadar betul bahwa namanya tidak ada di grup itu karena sampai sekarang tidak ada invite dari siapapun untuk dia bergabung dalam grup yang baru dibentuk itu.
“Dimanapun orang bekerja, pasti ada grup yang tidak memasukkan CEO nya sebagai anggota grup, itu sudah biasa terjadi,” Seolah-olah tahu apa yang ada di pikiran Ornado, Cladia langsung menjelaskan kenapa dia tidak di undang menjadi anggota di grup itu.
Dengan santai Cladia menarik kembali hpnya dari pandangan Ornado dan meletakkannya kembali di atas meja, tanpa menyadari mata Ornado mengikuti arah kemana hp itu digerakkan.
“Apakah istri CEO tidak diakui sebagai perwakilan dari CEO juga?” Cladia langsung memandang ke arah Ornado.
“Hanya James yang tahu statusku, dan aku yakin James bukan tipe orang yang bocor mulut, tidak ada untungnya bagi dia membocorkan informasi pribadiku kepada orang di perusahaanmu,” Cladia bangkit berdiri.
“Aku mau ke toilet,” Cladia langsung berjalan menjauhi meja kerjanya, tidak memperdulikan mata Ornado yang masih terpaku pada hp nya.
Huh, kira-kira pembicaraan apa yang mereka tulis di grup itu?
Ornado berkata dalam hati, tangannya meraih hp Cladia yang tergeletak di atas meja dan dia hanya bisa memutar-mutarnya memainkannya, karena jelas-jelas dia tidak bisa membuka hp yang terkunci itu. Begitu mendengar suara langkah Cladia, Ornado langsung meletakkan hp itu kembali di atas meja di depannya.
“Kamu bukannya ada janji makan siang diluar? Kenapa masih disini? Aku ke atas dulu, yang lain pasti sudah menungguku disana,” Cladia meraih hpnya dan meninggalkan Ornado tanpa sadar dengan wajah tertekan Ornado karena tidak dapat melihat apa saja pembicaraan yang tertulis di grup itu.
Sejak kapan aku perduli dengan hal-hal sepele seperti itu, kenapa aku tidak bisa sedikitpun melepaskan hal sekecil apapun yang berhubungan denganmu.
Ornado berkata dalam hati sambil melemparkan punggungnya ke sandaran kursi dan menarik nafas dalam-dalam.
Ketika Cladia sampai di café itu, hanya Robi yang sudah datang disana, Cladia berjalan ke arahnya dan segera memesan makanan.
“Dimana yang lain?” Cladia mencari-cari Amalia dan 2 orang lainnya yang harusnya bersama mereka makan siang bersama.
“Mereka menyusul, mungkin sebentar lagi, tadi Amalia bilang harus mengirim email ke teman kerjanya di Sanjaya dulu,” Robi menjelaskan alasan teman-temannya yang lain belum ada disitu.
Di kesempatan makan siang itu, Robi langsung mengambil posisi duduk di sebelah Cladia, dengan spontan Cladia langsung menggeser kursinya untuk sedikit menjauh dari Robi.
Cladia sedikit bernafas lega karena siang itu James ikut bersama Ornado, jadi tidak bergabung dengan mereka untuk makan siang, kalau tidak sikap Robi yang sok akrab jika sampai di telinga Ornado, bisa jadi masalah, mengingat kejadian di saat mereka bertemu di acara wisuda beberapa waktu lalu sudah cukup untuk membuat Cladia waspada untuk tidak menimbulkan masalah baru antara dia dan Ornado.
“Apa kabarmu Cla, tadi kita masih sama-sama sibuk, aku belum sempat menyapamu. Aku senang sekali bisa bertemu denganmu lagi Cla,” Robi memandangi wajah Cladia sambil menyendok makanan di piringnya, Cladia hanya tersenyum tipis tanpa membalas pandangan dari Robi.
“Sepertinya karir Kak Robi cukup bagus disini, belum sampai 5 th aku dengar Kak Robi sudah mempunyai jabatan lumayan tinggi disini,” Cladia berusaha mengalihkan pembicaraan agar tidak mengarah ke hal-hal pribadi.
“Aku senang bekerja disini, benar-benar menjunjung tinggi profesionalisme, tidak perduli siapapun kamu dan berapa lama kamu bekerja, jika kamu berprestasi, karirmu akan naik dengan cepat. Tidak seperti perusahaan lain yang seringkali mengandalkan koneksi dan senioritas, tidak memberi kesempatan yang lebih muda dan berbakat untuk maju.” Cladia mengangguk-anggukan kepalanya, mata Robi sekilas melirik ke arah Cladia.
Kapanpun dan dimanapun aku bertemu kamu, kamu masih selalu membuat hatiku berdebar-debar. Kamu tetap cantik seperti pertama kali kita bertemu di kampus kita, sepertinya…..kamu bertambah cantik sekarang, Robi berkata dalam hati, sebentar kemudian dia mengalihkan pandangannya dari Cladia ke arah piring di depannya. Ada sesuatu yang sejak pertemuan mereka sebelumnya benar-benar mengganjal di hatinya.
“Maaf Cla. Pria yang pada waktu wisuda bersamamu waktu itu, apa benar dia adalah orang yang sama dengan CEO tempatku bekerja?” Cladia yang sedang menikmati minumnya tersedak mendengar pertanyaan Robi, dia baru ingat waktu bertemu di acara wisudanya Ornado mengenalkan diri kepada Robi sebagai calon suaminya.
Ah, aku lupa ada satu orang lagi yang tahu statusku dengan Ornado, Cladia berkata dalam hati sambil mengambil tisue untuk membersihkan wajahnya dari air yang barusan dia minum.
“Sebelumnya aku belum pernah bertemu dengan Bapak Ornado, hanya mendengar namanya saja, baru beberapa bulan lalu beliau datang di perusahaan ini. Aku dengar salah satu alasan Bapak Ornado pindah ke kantor di Indonesia karena akan menikahi seorang wanita kelahiran kota ini. Aku dengar berapa waktu lalu beliau sudah menikah, walaupun kami tidak tahu pasti siapa istrinya, apakah itu kamu Cla?” Cladia terdiam, bibirnya bersiap mengatakan tidak, tapi Robi sudah melihat ada cincin yang melingkar di jari manisnya, awalnya dia sengaja selalu memakai cincin itu supaya tidak ada pria yang mendekatinya karena dengan melihat cincin di jari manisnya pasti orang langsung tahu status pernikahannya. Cladia tersenyum dengan gugup.
“Tolong jangan beritahu siapa-siapa masalah ini ya, please…..,” Cladia mengatupkan kedua tangannya di dada, memberi tanda dia sungguh-sungguh memohon pada Robi yang langsung mengernyitkan dahinya menunjukkan rasa herannya.
“Memang kenapa? Ada masalah dengan pernikahanmu?” Cladia menarik nafasnya dalam-dalam.
“Situasiku sulit untuk aku jelaskan, tapi tolong, sementara ini aku tidak ingin orang lain tahu tentang penikahanku, yang aku sendiri tidak tahu apakah akan bertahan atau tidak,” Robi menatap Cladia dalam-dalam, dia tidak tahu apa yang terjadi dengan pernikahan Cladia, tapi dari jawaban dan wajah Cladia dia bisa menilai bahwa gadis cantik itu tidak bahagia dengan pernikahannya. Apakah pernikahan mereka adalah pernikahan yang dipaksakan? Apakah Ornado adalah pria brengsek yang memiliki banyak wanita? Atau Ornado seorang sosok suami yang penuh dengan kekerasan? Cladia yang selama ini dia kenal belum pernah terlihat dekat pria manapun, apakah sudah ada sosok pria lain yang dicintai Cladia? Banyak sekali pertanyaan yang berputar di kepala Robi, tapi apapun itu Robi hanya tersenyum, paling tidak, apapun alasannya, dia merasa keberuntungan masih berada di pihaknya, masih ada kesempatan baginya untuk mendapatkan Cladia.
“Jangan bersedih Cla, kapanpun kamu butuh bantuanku, aku siap membantu,” Cladia langsung menggerak-gerakkan telapak tangannya ke arah Robi.
“Tidak, tidak, tidak ada hubungannya dengan siapapun, aku bisa mengatasinya sendiri,” Robi tersenyum mendengar penolakan dari Cladia, yang baginya bukan sebuah penolakan tapi seperti kode yang menyatakan masih ada kesempatan baginya untuk merebut cinta Cladia. Yah, itulah harapan terbesar Robi saat ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Susanti
badai pasti akan berlalu Cla.. dan yakin kamu akan bahagia dengan Ornado.. bener ga thor.
😁😁😊😊😊
2022-10-13
0
Alexandra Juliana
Jgn sampai Bobi memegang motto Kutunggu Jandamu 🤭🤭😁😁
2022-10-10
0
Nailott
aduh robyjnhn mimpi deh robi,untukdapetin hstinya cladia.ornado tidsk aksn biarksn itu terjadi.
2022-08-14
0