"Ini kamar kita Cla," Ornado membukakan pintu kamar mereka, Cladia memandang sekelilingnya. Kamar dengan interior mewah, didominasi warna biru gelap dan emas, bener-benar warna favorit Cladia, tapi rasanya untuk kali ini Cladia tidak akan menganggapnya sebagai tempat favoritnya. Untung saja Ornado mau menerima permintaannya untuk tidak mengadakan perjalanan bulan madu dengan alasan dia masih ingin beristirahat setelah minggu lalu acara wisuda yang melelahkan dan 7 hari setelah wisudanya mereka menikah.
Tempat tidur berukuran besar terletak di bagian utara ruangan, dengan posisi di tengah-tengah, di sebelah barat ada dua pintu, sedangkan di bagian selatan ada sebuah pintu juga. Di bagian timur tampak membentang jendela besar seluas dinding yang menghadap timur. Jujur saya Cladia penasaran dengan pintu-pintu itu, tapi dia memilih untuk diam daripada menanyakan itu ke Ornado. Tapi seolah-olah Ornado bisa membaca pikiran Cladia, dia segera menjelaskan pintu-pintu itu kepada Cladia.
"Itu pintu ke kamar mandi, ruangan di sebelahnya tempat kamu bisa mengambil dan membuat minuman yang kamu mau," Ornado mengarahkan tangannya ke arah barat, menunjuk ke arah dua pintu di bagian itu.
"Dibalik tirai jendela itu ada taman mawar, kamu bisa menikmati keindahannya besok pagi," Ornado memasukkan kedua tangannya di saku celananya, setelah itu Ornado berjalan ke arah pintu di bagian selatan dan membukanya, Cladia tidak bergerak dari tempatnya berdiri tapi badannya bergerak ke arah samping untuk melihat apa yang ada di balik pintu itu. Tampak kamar dengan design lembut bewarna pastel di balik pintu itu.
"Aku mendesign kamar ini untuk anak kita kelak, dengan pintu yang terhubung dengan kamar ini kita akan lebih mudah mengawasi anak-anak, aku tidak mau mereka terlalu banyak di tangan baby sister," Cladia tersentak kaget mendengar kata-kata Ornado, laki-laki itu benar-benar sudah menyiapkan banyak hal bagi masa depan mereka, keringat dingin Cladia mulai membasahi badannya lagi.
Cladia memilih untuk berjalan menuju sofa yang ada di bagian timur ruangan dan duduk disana sambil matanya masih mengamati sekelilingnya. Ornado melepaskan jasnya, meletakkannya di sofa dan duduk di samping Cladia, tidak terlalu dekat, tapi bagi Cladia itu sudah cukup membuat level ketakutannya bertambah.
"Cla, mau kupanggilkan pelayan untuk membantumu berganti pakaian?" Dengan kaget Cladia memandang Ornado yang tetap memasang senyum di wajahnya.
"Atau kamu lebih nyaman kalau aku yang membantumu mengganti pakaian?" Cladia membeliakkan matanya mendengar kata-kata Ornado, badannya langsung beringsut menjauhi Ornado, Ornado meletakkan tangan kanannya di mulutnya yang terkikik.
"Tidak, nanti saja, aku haus, aku akan mengambil minum," Cladia buru-buru bangkit dari duduknya.
"Mau kuambilkan?" Ornado ikut bangkit berdiri, Cladia segera melambaikan tangannya untuk menyatakan tidak perlu pada Ornado.
"Aku mau minum air hangat, mungkin kamu belum tahu seberapa hangat aku biasa minum, biar aku buat sendiri," Ornado mengangkat bahunya mendengar perkataan Cladia.
Dengan dada yang berdegup kencang Cladia menuangkan air hangat di dua gelas, dengan hati-hati Cladia menuangkan pil GABA (obat tidur) yang telah berupa serbuk di salah satu gelas yang dia pegang, rasanya itu satu-satunya jalan yang bisa dia pikirkan untuk malam itu, untuk kesulitan besok, dia akan memikirkan jalan lain, yang penting malam ini rencananya bisa berhasil.
"Al, aku membawakanmu minum," Ornado yang sedang melepas dasinya sambil duduk di sofa mengalihkan pandangannya ke arah Cladia sambil tersenyum, sejak pertemuan mereka hampir 3,5 bulan lalu rasanya baru kali ini Cladia bersikap manis padanya.
"Senang sekali mendengar kamu memanggilku Al. Dulu kamu sangat kesulitan memanggilku Ad, yang keluar dari bibirmu selalu Al," Cladia tertegun, dia baru ingat kenapa hanya dia yang memanggil Ornado Al, bukan Ad seperti yang lainnya.
" Aku letakkan disini ya, aku mau ke kamar mandi dulu," Cladia meletakkan kedua gelasnya di meja depan sofa dan buru-buru berjalan ke arah kamar mandi. Begitu dia menutup pintu kamar mandi Cladia menyandarkan badannya di pintu kamar mandi sambil tangannya memegang dadanya, rasanya nafasnya sedikit sesak, air matanya hampir tidak bisa ditahannya, rasanya benar-benar menyakitkan.
Ornado duduk sambil memainkan dua gelas yang ada di hadapannya, untuk menghabiskan waktunya Ornado memutar-mutar kedua gelas tersebut, gerakan tangannya baru berhenti setelah didengarnya pintu kamar mandi terbuka. Setelah Cladia semakin dekat ke arahnya mata Ornado sedikit terbeliak melihat mata Cladia yang agak memerah.
"Kamu baik-baik saja Cla?" tangan kanan Ornado menepuk-nepuk sofa di sebelah kanannya, memberi kode pada Cladia untuk duduk disitu. Dengan perlahan Cladia memberanikan diri untuk duduk di sebelah Ornado.
"Tidak apa-apa, mungkin karena lelah," Ornado tersenyum sambil menyodorkan gelas di sebelah kanannya.
"Minumlah dulu, keburu dingin," Dengan tangan sedikit bergetar Cladia meraih gelas dari tangan Ornado. Dengan santai Ornado meminum air dari gelas yang satunya. Dengan sedikit melirik ke arah Ornado, Cladia meminum air dari gelas yang di tangannya. Untuk beberapa saat mereka saling berdiam diri, akhirnya Cladia memberanikan diri untuk membuka percakapan sekaligus untuk mengulur-ulur waktu sampai obatnya bekerja.
"Al, aku tidak ingin bekerja di perusahaan Bumi Asia," Ornado sedikit mengernyitkan dahinya, beberapa waktu lalu dia memang meminta Cladia untuk membantunya bekerja di Bumi Asia setelah Cladia wisuda, karena untuk berapa lama sekali pasti dia akan ke perusahaannya di Itali, dengan Cladia membantunya di Bumi Asia dia akan merasa lebih tenang meninggalkan perusahaan, tapi memang Cladia belum memberinya jawaban sampai detik ini atas penawarannya.
"Kenapa? Ada yang membuatmu tidak nyaman bekerja disana?" Cladia menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku mau membantu Kak Jeremy dulu, aku mau belajar bekerja dengan kemampuanku sendiri dulu, tidak mau tergantung dengan koneksi,"
"Apa bedanya dengan kamu bekerja di Bumi Asia? di Sanjaya kamu adik dari Jeremy juga," Ornado memainkan air yang tinggal seperempat di gelasnya dengan menggoyang-goyangkan gelasnya.
"Tentu saja beda, di Sanjaya sedikit banyak orang akan menghargai kemampuanku, karena posisiku hanya adik Kak Jeremy, di Bumi Asia banyak orang akan menganggap aku memanfaatkan posisiku sebagai istrimu," Ornado menarik nafas sambil tersenyum mendengar penjelasan Cladia.
Terlalu lama aku membiarkan kamu sendirian, terlalu banyak waktu terbuang dan aku tidak disampingmu, sampai aku baru menyadari gadis kecilku yang dulu sudah menjadi gadis dewasa sekarang, Ornado bekata dalam hati, matanya memandang wajah Cladia tanpa berkedip, membuat Cladia kembali gugup, tiba-tiba Cladia memegang kepalanya.
"Kenapa Cla?"
"Aku mengantuk seka...." Belum sempat Cladia meneruskan bicaranya badannya ambruk, Ornado segera menangkapnya.
Dengan lembut Ornado menggendong tubuh Cladia dan meletakkannya di kasur, setelah itu tangannya segera meraih handphonenya.
"Tante Ema, minta tolong panggilkan 2 pelayan untuk membantu Cladia mengganti pakaiannya,"
Tidak berapa lama Orlando mendengar pintu kamarnya diketuk, dia segera bangkit berdiri dan membukakan pintu kamarnya.
"Masuklah, minta tolong ambil pakaian tidur nyonya di lemari, tolong ganti baju nyonya dengan hati-hati, aku akan mandi dulu," Ornado mengambil baju tidur dari lemarinya dan langsung berjalan ke arah kamar mandi. Begitu keluar dari akamr mandi, Ornado melihat pelayan sudah selesai mengganti baju Cladia, bersiap untuk keluar dari kamarnya.
"Terimakasih, kalian boleh kembali beristirahat," Ornado mempersilahkan mereka pergi.
Ornado duduk di tempat tidurnya, di sisi Cladia sambil memandangi wajah Cladia yang tertidur pulas.
"Sebenarnya apa yang kamu pikirkan sampai memberiku obat tidur?" Ornado bergumam pelan sambil tersenyum, tangannya mengelus wajah Cladia. Perlahan dia mendekatkan wajahnya ke wajah Cladia, dengan lembut diciumnya bibir istrinya.
"Aku harap aku dapat membahagiakanmu," Ornado menjauhkan wajahnya dari Cladia, menjauhkan tubuhnya dari tubuh Cladia, tapi tiba-tiba dalam tidurnya tanpa sadar Cladia mengangkat tangannya, menarik tubuh Ornado dan memeluknya dengan erat. Mata Ornado membeliak, jantungnya berdetak dengan kencang tanpa bisa dia kendalikan lagi, sedangkan tangan Cladia tetap memeluknya dengan erat seolah enggan melepaskannya.
"Cladia...." Ornado menyebut nama Cladia dengan suara berdesis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Susanti
lhaaaa.. Cladia kejebak sendiri.. 🤔🤔🙊🙊
2022-10-11
0
Nailott
cladia ,teganya sama sl,suamimu samgst memcintaimu sejk 15th lalu cla menjags hatinya hanya untukmu cla kok tega kadih obat tidur sih cla.
2022-08-14
0
rudy adji
😍😍😍
2022-03-02
0