"Pagi Tante Ema," Tante Ema yang mendengar sapaan Ornado di meja makan langsung tersenyum, dipandangnya Ornado yang sudah terlihat rapi dan tampan dengan setelan jas biru tuanya. Ornado menarik salah satu kursi di meja makan, sengaja memilih untuk duduk berhadapan dengan Cladia, bukan duduk di sampingnya.
"Pagi Cla," Cladia yang hari itu tampak cantik dengan blazernya yang bewarna coklat muda tidak langsung menjawab mendengar sapaan Ornado.
"Pagi," Cladia akhirnya menjawab dengan ogah-ogahan tetap dengan posisi tidak memandang ke arah Ornado.
"Apa kesibukanmu hari ini Cla?" Ornado melipat kedua tangannya di atas meja makan, sambil menunggu pelayan menuangkan teh hangat ke cangkirnya.
"Masih seperti kemaren," Cladia menjawab cepat, tangannya meraih apel di atas meja dan mengupasnya, Ornado yang sudah mulai menikmati makanan di piringnya melirik sekilas.
"Cla, tidak makan dulu?" Tante Ema mendekatkan piring kosong di depan Cladia, sebentar Ornado menghentikan makannya, memandangi wajah Cladia.
"Tidak tante, aku tidak lapar," Cladia menyingkirkan piring itu dari hadapannya dan mulai memakan apelnya.
"Apa perlu pelayan menyiapkan makanan untuk bekalmu?" Ornado, menggerakkan tangannya, memberi tanda pada pelayan untuk mendekat.
"Tidak, aku tidak mau, kalau lapar aku akan mengajak Kak Jeremy untuk menemaniku makan," Mendengar perkataan Cladia, pelayan itu segera membungkuk dan berjalan mundur menjauhi meja makan.
"Pagi Al!" Ornado dan Tante Ema langsung menoleh mendengar suara Ola yang berjalan menuju meja makan diikuti Tante Yati di belakangnya, tumben sekali dia sudah bangun dan ke meja makan, biasanya lama sesudah Ornado berangkat ke kantor dia baru bangun.
Ola langsung mengambil posisi duduk di samping Ornado, sedang Tante Yati langsung mengambil duduk sebelah Tante Ema. Dengan pandangan sedikit meremehkan Ola dan Tante Yati memandang ke arah Cladia yang tampak tidak perduli dengan kehadiran mereka berdua.
"Gadis tidak tahu diri, Ornado sudah banyak melakukan hal baik padamu, tapi apa yang sudah kamu berikan untuk Ad? Ka..." Tante Ema langsung menendang kaki Tante Yati, memberi peringatan agar dia diam tidak meneruskna bicaranya. Cladia tetap dalam posisi menikmati apelnya, seolah-olah tidak mendengar apa yang dikatakan Tante Yati barusan. Ornado menghentikan gerakan sendok dan garpunya, dipandanginya Cladia sekilas, setelah itu matanya langsung mengarah ke arah Tante Yati, tapi tante Ema segera menggerakkan matanya dan sedikit menganggukkan kepalanya ke arah Ornado, berharap Ornado tenang, tidak membalas apa yang barusan terjadi. Ornado menghela nafas kecil, memutuskan untuk diam daripada memancing keributan yang lebih besar.
"Ad, hari ini aku pindah rumah, bisakah kamu mengantarku mencari beberapa kebutuhan rumah?" Ola meraih tangan Ornado, memegangnya dengan kedua tangannya. Ornado segera melepaskan tangan Ola.
"Kamu bisa pergi dengan Tante Yati, kalian yang lebih tau kebutuhan rumah kalian, Tante Ema akan mengatur uang belanja kalian," Ola memberengut manja.
"Tapi dia terlalu pelit Ad, dia tidak akan mengijinkan aku memilih apa yang aku suka," Tante Ema mendengus kesal.
"Uang tidak jatuh dari langit Ola," Ornado menjawab dengan nada dingin, Ola melempar serbet makannya.
"Kalau untuk dia, berapapun yang dia habiskan kamu tidak akan keberatan kan?" Ola mengarahkan jari telunjuk tangan kanannya ke arah wajah Cladia .
"Jaga bicaramu Ola! Cladia nyonya di rumah ini! Jangan lupa itu!" Tante Ema mulai terlihat tidak sabar, Ola bangkit dari duduknya dan mendekati Cladia yang baru menyelesaikan makan apelnya, Ola berjalan pelan di belakang kursi tempat Cladia duduk.
"Lihat dia Ad, memang cantik, tapi dia bukan istri yang baik, dia melihatmu seperti musuhnya, seperti singa yang siap menerkamnya, apa kamu sadar kamu tidak memiliki tempat di hatinya," Cladia tetap diam, dengan tenang dia mengambil gelas berisi air di hadapannya dan meminumnya pelan-pelan.
"Kamu sudah keterlaluan Ola!" Tante Ema bangkit berdiri dan menggebrak meja, Ola tertawa sinis.
"Tante Ema, jangan menutupi kenyatan, jangan berpura-pura bodoh! Lihat dia tante, mungkin sampai mati kelak biarpun dia sudah menikah akan tetap menjadi perawan," Mata Cladia sedikit terbeliak mendengar perkataan Ola.
Tar!!! Gelas yang dipegang Cladia terjatuh dan pecah berkeping-keping begitu mencapai lantai, Ornado langsung bangkit berdiri dan berlari ke mendekati Cladia. Dengan tetap diam Cladia meraih kain di atas meja dan membungkukkan badannya bermaksud untuk membereskannya, tapi tangan Tante Ema segera mencegahnya.
"Jangan Cla, biar pelayan yang membereskannya," Cladia bangkit dari duduknya, tetap dengan wajah tanpa ekspresi, tanpa suara.
"Terimakasih tante," Cladia berjalan menjauhi meja makan.
"Cla," Ornado berusaha mengejar langkah Cladia tapi tangan Ola segera mencekal tangannya.
"Ad, sadarlah! Dia bukan istri yang baik untukmu," Ornado segera melepaskan cekalan tangan Ola., tapi Ola kembali mencekal tangan Ornado lagi.
"Ola! Jangan mencoba batas kesabaranku! Jangan sampai aku lupa diri dan tidak lagi menganggapmu sebagai seorang wanita dan memukulmu!" Melihat kilatan kemarahan di mata biru Ornado Ola buru-buru melepaskan cekalan tangannya.
"Cla," Ketika Ornado berhasil mendekati Cladia, dia sudah membawa tasnya dan berjalan ke arah pintu keluar. Cladia tetap berjalan tanpa perduli dengan panggilan Ornado.
"Aku akan mengantarmu ke kantor," Ornado mengikuti langkah-langkah Cladia keluar rumah, begitu melihat tuannya, sopir Ornado dengan sigap membukakan pintu mobil bagian belakang. Pagi itu Cladia yang memilih untuk tidak memulai adu pendapat dengan Ornado segera masuk ke mobil diikuti Ornado. Begitu Ornado duduk di sebelahnya, secara reflek Cladia menggeser duduknya untuk menjauhi Ornado sambil memegang erat tas yang dibawanya.
"Cla, maaf untuk kemarin malam," Ornado berkata lirih sambil matanya melirik ke arah Cladia, menunggu tanggapan Cladia, tapi Cladia tetap diam seribu bahasa.
"Maaf juga untuk kejadian pagi ini," Cladia hanya menarik nafas dengan tetap berdiam diri, matanya memandang keluar jendela dengan tatapan kosong.
"Pagi ini terakhir Ola dan Tante Yati ada di rumah kita, hari-hari selanjutnya mereka tidak akan mengganggumu lagi," Cladia memalingkan wajahnya ke arah Ornado dan memandang wajah Ornado dalam-dalam.
"Al, kumohon, jangan bicarakan masalah ini lagi, saat ini aku benar-benar tidak ingin membahasnya," Ornado mengangguk pelan, kalau bisa rasanya ingin dipeluknya Cladia supaya dia merasa tenang, supaya Cladia tahu dia selalu siap melindungi Cladia tapi Ornado hanya bisa menarik nafas panjang, membiarkan keinginannya menguap.
©©©©©©©
"Aku akan membayarmu mahal kalau kamu berhasil," Ola memandang orang yang duduk di depannya di dalam cafenya. Laki-laki yang diajak berbicara Ola hanya tersenyum dengan wajah sedikit meremehkan.
"Yang terakhir kamu janjikan belum kamu tepati, kamu menjanjikan 100 juta untuk info tentang apa yang terjadi pada Nyonya Cladia 5 tahun lalu, sekarang kamu sudah minta info lainnya?" Ola tertawa, dia mengambil secarik kertas dari sakunya, lalu menarunya di atas meja, di depan laki-laki tersebut.
"Ini cek 150 juta, aku membayar di depan 50 juta untuk info yang belum kamu kerjakan," Mata laki-laki tersebut langsung berbinar dan meraih cek di depannya.
"Tapi ngomong-ngomong sebenarnya apakah info yang aku berikan kurang cukup? Aku sudah menceritakan secara detail kejadian yang menimpa sahabat Nyonya Cladia 5 tahun lalu, apalagi yang kamu inginkan?" Ola menatap tajam ke arah laki-laki itu.
"Kamu bilang 5 tahun lalu karena perbuatan anaknya kedua orang tua Edo tiba-tiba mengalami kebangkrutan, bahkan keluarga Edo yang seharusnya kaya karena usaha eksport import furniture saat itu untuk menyewa seorang pengacara untuk anaknya saja sudah tidak sanggup," Laki-laki di depan Ola mengangguk sambil mengelus jenggot tipis di dagunya.
"Info selanjutnya aku berani membayarmu 3 kali lipat lebih mahal, kamu bilang Edo memiliki saudara kembar, temukan dia dan bawa dia padaku," Laki-laki itu menaikkan ujung bibirnya, membentuk senyuman yang mengerikan.
Cladia, aku akan menghancurkanmu, kali ini aku akan pastikan kamu tidak akan bisa bangkit lagi. Ola berkata dalam hati sambil tersenyum sinis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
ENDAH_SULIS
melindungi??...sama Ola aja gak tegas Thor...lanjut siapa tau di akhir berubah jd tegas sm perempuan jadi jadian
2022-11-14
0
Nailott
dasar. ular jahat. kukutuk ksmu jafi uler beneran, jngn harap kamu bisa menghsncurkan clladia. bhkn ksmu srndiri yg akan hancur lebih dulu.
2022-08-14
0
Khoerun Nisa
kurang tegas sikap si ornado menurutku dibirkn aja tuh 2vnnek lmpir bicara yg ksar ky gtu
2022-03-05
1