Musik mengalun lembut, dengan membawa buket bunga berisi berbagai warna bunga mawar Cladia berjalan memasuki pintu hall acara pernikahannya dengan tangan kanannya digandeng oleh Jeremy sebagai perwakilan dari orangtuanya yang sudah meninggal.
Di depannya, dua gadis kecil sambil membawa keranjang di tangan kirinya menari dengan sesekali melemparkan bunga mawar. Di belakang Cladia dua orang gadis, Niela dan Rena salah satu sepupu Cladia berjalan mengiringi Cladia. Di depan, dengan setelan jas bewarna hitam, Ornado yang hari itu nampak begitu tampan berdiri didampingi James Xanderson dan Afro Xanderson, adik laki-laki James.
Ornado berdiri menghadap ke arah pintu masuk menunggu kedatangan Cladia, dengan senyum yang selalu tersungging di bibir tipisnya.
Tanpa sadar beberapa kali Ornado menahan nafas untuk menutupi kegugupannya. Bagaimanapun, hari ini adalah hari yang sudah lama ditunggunya, hari dimana Cladia akan benar-benar menjadi miliknya, dan hanya miliknya.
Cladia menarik nafas dalam-dalam, dadanya terasa sedikit sesak membayangkan apa yang harus dijalaninya hari ini.
Dari jauh Cladia dapat melihat wajah tampan Ornado yang dihiasi senyuman, dengan mata birunya yang terus memandang ke arahnya tanpa berkedip.
Entah apakah tatapan mata itu merupakan tatapan mata rindu, bangga, cinta atau apa, Cladia tidak dapat mengartikannya, tapi bukan, bukan tidak dapat mengartikannya, tapi Cladia tidak berani mengartikannya.
Jeremy yang menggandeng Cladia dengan wajah bahagia memandang dan memberikan senyumnya pada para tamu yang berdiri di samping kanan kiri dimana mereka berjalan menuju Ornado. Begitu sampai di depan Ornado, Jeremy meraih tangan Ornado, dan menyatukannya dengan tangan Cladia.
Tanpa disadari Jeremy, tubuh Cladia sedikit tersentak dan menahan nafasnya, detik itu dia benar-benar menahan diri untuk tidak bereaksi saat tangan Ornado meraih tangannya.
Beruntung dengan banyaknya tamu undangan yang ada karena perayaaan besar pernikahan dari pewaris Grup Sanjaya dan Xanderson, mereka sudah sepakat untuk tidak mengadakan acara jabat tangan antara mempelai dan para tamu.
Setelah Ornado dan Cladia mengucapkan janji pernikahan, dengan lembut Ornado memasangkan cincin berlian di jari manis tangan kanan Cladia. Cincin yang benar-benar indah, lagi-lagi perhiasan yang di design spesial untuknya, bahkan dibuat hanya satu-satunya oleh Jeremy, dan sebagai owner Grup Sanjaya, Jeremy sudah mengeluarkan ketetapan agar design cincin itu hanya boleh dipergunakan untuk 1 cincin itu saja. Cladia menarik nafas panjang dengan hati-hati, berusaha agar orang lain tidak melihat ada yang aneh dari dirinya.
Paling tidak Cladia bersyukur di hari pernikahannya dia memakai sarung tangan, paling tidak tangan Ornado yang memasangkan cincin ke jarinya tidak bersentuhan langsung dengan kulitnya.
Penyiksaan terberat bagi Cladia justru setelah cincin berhasil disematkan di jari manisnya oleh Ornado, setelah seseorang berkata dengan semangat......
"Kalian dinyatakan sah sebagai suami istri, pengantin pria dipersilahkan mencium pengantin wanita," Jantung Cladia spontan berdetak dengan tidak teratur, tangan kirinya menggenggam dengan erat. Cladia berusaha mengendalikan nafasnya yang tiba-tiba terasa memburu, dan tanpa disadari Cladia menutup matanya rapat-rapat, berusaha mengendalikan ketakutannya, berharap kejadian berikutnya tidak membuatnya pingsan atau lebih buruk dia akan menendang atau memukul Ornado.
Sebentar Ornado menyadari ada perubahan pada Cladia, tapi dia tetap tersenyum dengan tenang, dengan lembut Ornado membuka cadar yang menutupi wajah Cladia, dan mencium kening Cladia sekilas, begitu lembut tapi cepat. Cladia benar-benar bersyukur Ornado tidak mencium bibirnya dan ciuman itu berlangsung sekilas saja, dia tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya jika Ornado tadi memutuskan untuk mencium bibirnya.
Setelah mencium kening Cladia sekilas, Ornado menundukkan wajahnya, mendekatkan bibirnya ke arah telinga Cladia.
"Mia moglie, ti amo," (Istriku, aku mencintaimu). Ornado berkata dengan lembut, dan tanpa sadar tangan kiri Cladia yang tadinya mengenggam dengan erat untuk menahan ketakutannya perlahan sedikit melonggar.
Melihat kejadian itu, Alberto Xanderson yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari Ornado berjalan mendekat, dan menepuk bahu anaknya.
"Tidakkah kamu berpikir ciuman pernikahanmu hari ini belum sempurna?" Sambil tersenyum Alberto memandang kedua pengantin itu. Ini pertama kalinya Alberto bertemu dengan Cladia setelah 15 tahun berpisah.
Tiga hari lalu dia sudah tiba di Indonesia, tapi dia memilih untuk menghabiskan waktunya dahulu untuk mengunjungi keluarga almarhum istrinya sebelum menghadiri acara besar pernikahan Ornado.
Melihat sosok menantunya, Alberto mengerti benar kenapa Ornado begitu mencintai gadis itu, toh, pada kenyataannya dia juga jatuh cinta dengan almarhum mama Ornado yang berdarah Indonesia juga, dan sampai detik ini tidak ada yang bisa menggantikan posisi wanita itu di hati Alberto.
Ornado tertawa kecil mendengar pertanyaan papanya.
"Papa, Bagian terbaik hanya milikku, tidak perlu kupamerkan kapada para tamu," Ornado berkata sambil tersenyum, setelah itu dia memeluk papanya dengan hangat, Alberto membalas pelukan Ornado sembari menepuk-nepuk punggung Ornado, seolah tindakan itu merupakan tindakan bersiap melepas anaknya untuk memulai kehidupan baru bersama menantunya.
Dan bagi Ornado, pelukan itu mewakili ucapan terima kasih Ornado yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata untuk papanya yang selama ini sudah merawatnya dengan baik.
"Selamat untuk penikahanmu Ad, semoga bahagia, dan jangan terlalu lama untuk memberiku cucu, aku sudah tidak sabar menunggu kabar baik dari kalian berdua," Alberto kembali menepuk pundak Ornado.
Dan jelas perkataan dari Alberto membuat Cladia merasa tidak nyaman, tapi dengan terpaksa dia tetap berusaha untuk tersenyum.
Setelah menyapa beberapa tamu penting yang merupakan teman-teman bisnis dan para anggota keluarga dekat, dengan senyumnya yang mengembang akrena bahagia, Jeremy mendekati Ornado dan Cladia.
"Sejak detik ini aku menyerahkan Cladia dalam penjagaanmu Ad, jangan pernah membuatnya tidak bahagia. Kalau tidak, aku akan mengambilnya kembali," Jeremy berkata sambil memeluk Ornado, mendengar perkataan Jeremy, Ornado kembali tertawa kecil.
"Terimakasih sudah menjaga harta paling berhargaku selama aku tidak disampingnya 15 tahun ini," Mendengar perkataan Ornado, Niela yang baru saja meyusul mendekati kedua mempelai ikut tertawa, tangannya langsung meraih tubuh Cladia, memeluknya dengan erat untuk waktu yang tidak sebentar.
"Cla, jadilah wanita paling bahagia bersama Ad," Dan tanpa terasa air mata Niela menitik, mengingat bagaimana Cladia berjuang untuk pulih dari masa-masa sulitnya sejak kejadian 5 tahun lalu. Mengingat juga perjuangan Jeremy untuk adik satu-satunya itu, dimana karena kejadian itu Niela belajar banyak tentang arti ikatan darah yang sebenarnya dalam persaudaraan mereka berdua.
Banyak kejadian walaupun saudara kandung karena harta, cinta, ataupun dendam melupakan ikatan persaudaraan itu, rela saling menyakiti, bahkan mampu menghilangkan nyawa orang yang harusnya dicintai, padahal mereka seharusnya saling mendukung, saling menguatkan, saling berbagi, bukan saling menjatuhkan.
Niela menyeka airmatanya, dengan tersenyum dia mencium kedua pipi Cladia, dalam hati berdoa untuk yang terbaik dan kebahagiaan untuk Cladia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Ibelmizzel
aku suka❤️❤️❤️❤️💪💪💪
2022-11-27
0
Susanti
seneng baca karya" kakak Author...
👍👍, cerita nya selalu bikin penasaran... 😁😁
2022-10-11
0
Nailott
cladia,selamat ya srmogq lqnggeng hinggq kjannah.srmoga bahagia srperti putri deanda dn pangeran alvero.
2022-08-14
0