“Papa dengar mulai besok kamu akan bekerja mewakili perusahaan Sanjaya di kantor Bumi Asia Cla?” Cladia mengangguk pelan mendengar pertanyaan Alberto, Ornado sekilas melirik ke arah Cladia sebelum mengambil cangkir di depannya dan mulai meminum tehnya.
“Awalnya papa pikir begitu menikah kamu akan langsung bergabung dengan kami, apakah kamu takut di tempat kerja Ornado akan memonopolimu waktumu seperti di rumah?” Ornado sedikit tersedak dari minumnya mendengar perkataan papanya, sedang James langsung tersenyum geli melihatnya.
Paman Alberto benar-benar mengerti karakter Ornado.
James berkata dalam hati. James betul-betul tahu bagaimana selama 5 tahun terakhir sebelum pernikahannya dengan Cladia, setiap ada kesempatan Ornado akan mencari info tentang Cladia. Secara fisik dia tidak ada disamping Cladia, tapi hati dan pikirannya selalu ada pada gadis itu.
Andaikata Cladia pernah mengunjungi mansion mewah keluarga Ornado di Itali, James berani bertaruh Cladia akan terbeliak terkaget-kaget ketika memasuki kamar Ornado yang dipenuhi dengan foto-foto Cladia berukuran besar, belum lagi banyaknya foto Cladia yang berjajar rapi menghiasi meja kerjanya di sana, sikapnya benar-benar seperti fans berat seorang artis terkenal.
James memandang Ornado dan Cladia bergantian dengan senyum geli masih menghias bibirnya, mengingat seorang Ornado yang dikenal sebagai CEO muda yang tampan, berbakat, diakui kepemimpinan dan kejeniusannya dalam dunia bisnis, dimana dengan tatapan matanya yang tajam bisa membuat orang menggigil ternyata dapat berbuat apapun bahkan sesuatu yang konyol untuk gadis yang dicintainya.
“Tidak pa, bukan karena itu, aku masih ingin membantu kak Jeremy mengembangkan usahanya, bagaimanapun itu usaha yang ditinggalkan orangtua kami, aku ikut bertanggung jawab juga,” Wajah Cladia sedikit memerah begitu mendengar pertanyaan mertuanya barusan, dan berusaha memberikan jawaban yang terbaik.
Ornado meletakkan kembali cangkir di tangannya, mengambil tissue dan membersihkan bibirnya, dengan matanya sedikit melirik ke arah Cladia.
Cantik sekali melihat rona merah wajahmu, Ornado berbisik dalam hati, tapi buru-buru dia berdehem kecil untuk menutupi jatungnya yang saat ini tiba-tiba berdetak lebih kencang dari biasanya.
“Beberapa hari ini papa akan tinggal di rumah ini, papa harap kamu bisa siapkan kamar yang biasa papa tempati. Masih boleh kan papa tempati selama cucu papa belum memakainya?” Ornado langsung mengarahkan pandangannya kepada Cladia.
“Boleh kan Cla?” Melihat tatapan Ornado dan pertanyaannya dengan cepat Cladia mengerti bahwa yang dimaksud mertuanya adalah kamar yang saat ini dia tempati. Cladia langsung bangkit berdiri.
“Iya, tentu saja boleh, aku akan minta pelayan membereskannya sekarang.” Dengan sedikit terburu-buru Cladia melangkah meninggalkan ruang tamu, mata Ornado mengamatinya sampai tubuh Cladia menghilang dari pandangannya.
Cladia buru-buru mengambil semua pakaiannya di lemari, barang-barangnya di atas meja rias dan kamar mandi dibantu oleh 2 orang pelayan.
“Nyonya, barang-barang ini mau diletakkan dimana?” Cladia menoleh mendengar pertanyaan pelayannya, tertegun sebentar, jika dia menyuruh mereka meletakkannya di kamar lain, jika dilihat oleh mertuanya atau James akan timbul banyak pertanyaan, satu-satunya jalan adalah….
“Untuk sementara, letakkan di kamar Tuan Ornado,” Cladia segera membuka pintu kamar penghubung kamar mereka, kedua pelayan itu dengan sigap merapikan seluruh pakaian Cladia ke dalam lemari sebelah utara bagian kanan, karena mereka tahu lemari di sebelah kiri adalah milik Ornado.
Cladia menoleh mendengar suara ketukan pintu kamar, begitu pintu kamar terbuka seorang pelayan sedikit membungkukkan badannya memberi hormat pada Cladia.
“Maaf mengganggu nyonya, tuan dan tuan besar sedang menunggu anda untuk makan malam bersama di meja makan,” Cladia menggangguk dan segera berjalan meninggalkan kamar Ornado.
“Ayo Cla, kami sudah menunggumu,” Tante Ema segera menggerakkan tangannya ke arah Cladia, memberi tanda untuk segera datang ke meja makan. Cladia melirik ke arah kursi kosong di sebelah Ornado.
Tanpa lama menunggu Cladia segera mengambil posisi di samping Ornado, bagaimanapun dia tidak ingin mertuanya bertanya-tanya jika dia duduk berjauhan dengan Ornado di meja makan.
“Ah, sebaiknya aku beristirahat sekarang, dengan umur semakin tua rasanya aku butuh istirahat lebih cepat setelah perjalanan jauh. Ok, selamat malam semua,” Tanpa menunggu jawaban dari yang lainnya Alberto segera melangkah menaiki tangga dan masuk ke kamar.
“Aku juga harus pergi, Amadea barusan mengirim pesan, malam ini aku harus menemaninya melihat suasana malam kota ini,” Ornado menepuk bahu James.
“Ok, hati-hati di jalan, sampaikan salamku pada Amadea, selamat bersenang-senang,” James segera meninggalkan rumah Ornado, Cladia yang masih berdiri di samping Ornado setelah kepergian James terlihat gelisah, Ornado memandanginya dengan wajah heran.
“Kamu kenapa Cla?” Cladia yang sebelumnya sedikit menunduk mengangkat kepalanya, mendongak memandang ke arah wajah Ornado.
“Al, untuk malam ini, apa boleh aku tidur di kamarmu?” Mata Ornado terbeliak kaget, tangan kanannya menutupi bibirnya untuk menahan tawanya.
“Bukan, bukan itu maksudku, jangan salah paham,” Cladia langsung melipat kedua tangannya dengan gugup.
“Tentu saja aku tahu maksudmu. Terimakasih kamu sudah memikirkan untuk menjaga perasaan papa. Tentu saja kamu boleh tidur di kamarku selama papa disini, kalaupun setelah papa kembali kamu tetap mau di sana, dengan senang hati aku memberi ijin,” Ornado tersenyum dengan wajah menggoda dan langsung berjalan meninggalkan Cladia yang langsung membeliakkan matanya mendengar kata-kata terakhir Ornado.
Saat Ornado keluar dari kamar mandi dengan mengenakan piyamanya, dilihatnya Cladia sedang sibuk dengan selimut dan meletakkannya di sofa, membuat Ornado mengernyitkan dahinya melihat apa yang dilakukan Cladia.
“Kamu sedang apa Cla?” Cladia langsung menoleh mendengar suara Ornado.
“Malam ini aku akan tidur di sofa Al. Ini kamarmu, aku yang menumpang disini, biar aku tidur disini supaya kamu tidak terganggu,” Mata Ornado sedikit terbeliak mendengar perkataan Cladia dan buru-buru berjalan ke arah sofa, merebut selimut dari tangan Cladia.
“Aku tidak mungkin membiarkan istriku tidur di sofa,” Cladia tersentak kaget, tanpa sadar kakinya mundur beberapa langkah menjauhi Ornado. Ornado menghentikan gerakannya.
“Tenang Cla, aku tidak akan memaksamu berbagi tempat tidur denganku, tapi hargai aku sebagai laki-laki. Mana mungkin aku membiarkan wanita yang adalah istriku mengalah padaku. Malam ini, aku yang akan tidur di sofa,” Ornado meletakkan selimut yang ada di tangannya di sofa.
“Tapi Al…” Ornado mengerakkan kepalanya ke arah Cladia, memandangnya dalam-dalam.
“Aku beri kamu 2 pilihan, aku tidur di sofa atau kita sama-sama tidur di tempat tidur itu.” Telunjuk Ornado terarah pada tempat tidurnya sementara matanya menatap tajam ke arah Cladia.
Melihat tatapan tajam Ornado yang jelas-jelas tidak bisa lagi dibantah, Cladia memilih untuk berjalan menjauhi Ornado dan mendekati tempat tidur dan langsung menarik selimut untuk menutupi seluruh badannya begitu dia merebahkan badannya, diliriknya Ornado yang juga telah merebahkan badannya dan sebentar kemudian bergerak membelakanginya.
Cladia menarik nafas panjang pelan-pelan karena tidak ingin Ornado mendengar helaan nafasnya, matanya masih melirik ke arah punggung Ornado di sofa.
Kamu benar-benar pria yang baik Al.
Cladia berkata dalam hati, sebentar kemudian dia memejamkan matanya, walaupun untuk berapa lama kemudian dia baru benar-benar tertidur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Susanti
yaaa kan...kan... ada rasa yg tersimpan dihati Cladia....😊😊😁😁
2022-10-12
0
Nailott
ide jeremy. bsgus jdiksn perwakilwn ssnjaya.tinngal bumi asia ,agr cladia berdekatsn dg ornado
2022-08-14
0
♈⛎♎ chann💫💫
nadia mulai merasakan manisnya sikap ad
2021-08-10
1